|
|
total ping |
|---|
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Juli 2011
Kolak tape ibu
Kuingat ibu
sebagai orang yang mengantar
langkah pertamaku ke dunia
yang selalu memberi jajan
minum jamu beras kencur
atau sebungkus kwetiau goreng
setiap aku ikut ke pasar
yang selalu membuatkan makanan kesukaanku
jasa dan pengorbananmu
yang sudah menjadikan raga ini
Selamat ulang tahun ibu
selamat jalan
tersenyumlah
sampai kita bertemu kembali
Menjelang Ramadhan ini
kangenku akan kolak tape buatanmu...
Kredit foto : saya digendong ibu, umur 2 bulan, 21 06 1973
di Kampung Tanjung, Bandung.
Labels:
pengalaman
Selasa, 17 Mei 2011
Esensi jalan kaki
Waktu minggu lalu setelah menyelesaikan sebuah assignment pemotretan di rumah seorang klien yang cukup berada, seorang rekan kerja sempat berpikiran bahwa untung saya bisa menumpang kendaraan rekan kami yang satu lagi sehingga tidak kehilangan gengsi jika kelihatan harus berjalan kaki keluar komplek kemudian dilanjutkan dengan naik kendaraan umum.Saya memang seorang fotografer penikmat jalan kaki, bukan karena memang belum diberi kemampuan untuk memiliki kendaraan sendiri, tapi dengan berjalan kaki selain menyehatkan saya bisa meresapi suasana sekitar, juga kadang bisa sambil berpikir sendiri mencari inspirasi. Dan ya, jika sedang ada order pemotretan juga saya mulai dengan berjalan kaki.
Seperti ketika seorang anak kecil yang tadinya hanya merangkak kemudian beranjak berjalan di atas kedua kakinya, pasti momen ini dirayakan oleh kedua orang tuanya, diumumkan ke seluruh sanak saudara, difoto lalu di share lewat Facebook agar seluruh jagad mengetahui.
Tapi kenapa sekarang jalan kaki bisa kalah gengsi dengan yang naik turun mobil pribadi, padahal kita tau bagi para orang kaya tersebut kegiatan berolahraga yang menyehatkan macam jalan kaki malah merupakan sebuah kemewahan yang mungkin hanya bisa mereka lakukan di akhir pekan. Ironis?
Menurut hemat saya, esensi dari jalan kaki itu sendiri adalah fitrah manusia yang merupakan karunia Allah agar kita dapat beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain menyehatkan, hemat dan dapat menginspirasi.
Jadi, apakah dengan berjalan kaki kita akan kehilangan gengsi di mata klien?
Biar keprofesionalan dan hasil kerja kita yang berbicara!
* Tips sehat jalan kaki, klik di sini.
Labels:
pengalaman
Selasa, 15 Maret 2011
Waktu rehat
Waktu rehat atau waktu istirahat sangat diperlukan oleh tubuh manusia untuk menjaga kesehatan metabolisme jiwa raganya. Ibarat sebuah mesin, pasti sesekali harus diistirahatkan dari waktu operasionalnya demi menjaga agar umur pemakaiannya bisa lebih panjang.
Bagi kami, kuli studio foto, waktu istirahat ini selalu kami gunakan untuk melakukan katarsis serta merestorasi bangunan imajinasi agar keindahan yang kami hasilkan di dalam studio tidak terlalu monoton layaknya seorang 'pengrajin' terhadap buah tangannya, dan bisa sedikit memberikan ledakan kreatifitas yang akan membuat ritme kerja menjadi lebih bergairah.
Kegiatan yang biasa kami lakukan sewaktu istirahat siang atau waktu rehat, diantaranya :
-Around the mall, ini karena studio kami seringnya bertempat di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Biasanya sih kami hanya jalan-jalan sambil window shoping melihat barang-barang yang hanya bisa kami beli di dalam mimpi..he he.
-Makan siang dari katering rantangan yang kadang lauknya tidak sesuai dengan hasrat kuliner pada hari itu dan jatah nasinya yang tidak sesuai dengan kapasitas perut para kuli studio seperti kami toh harus tetap bersyukur karena masih bisa makan.
-Ikutan ngopi, merokok dan ngemplok gorengan di warung kopi yang ada di seberang mall dengan atmosfir yang lebih guyub penuh canda tawa jauh berbeda dengan mall yang penuh dengan kesan hedonisme dan kapitalis.
Begitulah sekelumit keseharian kami para kuli studio ketika waktu rehat tiba.
I really miss those days...
Bagi kami, kuli studio foto, waktu istirahat ini selalu kami gunakan untuk melakukan katarsis serta merestorasi bangunan imajinasi agar keindahan yang kami hasilkan di dalam studio tidak terlalu monoton layaknya seorang 'pengrajin' terhadap buah tangannya, dan bisa sedikit memberikan ledakan kreatifitas yang akan membuat ritme kerja menjadi lebih bergairah.
Kegiatan yang biasa kami lakukan sewaktu istirahat siang atau waktu rehat, diantaranya :
-Around the mall, ini karena studio kami seringnya bertempat di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Biasanya sih kami hanya jalan-jalan sambil window shoping melihat barang-barang yang hanya bisa kami beli di dalam mimpi..he he.
-Makan siang dari katering rantangan yang kadang lauknya tidak sesuai dengan hasrat kuliner pada hari itu dan jatah nasinya yang tidak sesuai dengan kapasitas perut para kuli studio seperti kami toh harus tetap bersyukur karena masih bisa makan.
-Ikutan ngopi, merokok dan ngemplok gorengan di warung kopi yang ada di seberang mall dengan atmosfir yang lebih guyub penuh canda tawa jauh berbeda dengan mall yang penuh dengan kesan hedonisme dan kapitalis.
Begitulah sekelumit keseharian kami para kuli studio ketika waktu rehat tiba.
I really miss those days...
Labels:
pengalaman
Senin, 24 Januari 2011
Hantu studio foto
Sore itu, gerimis mulai turun diterpa oleh angin sepoi yang membuat cuaca menjadi sejuk. Seperti biasanya kami para pekerja studio bercengkrama ngobrol ngalor-ngidul mengenai berbagai topik sambil sesekali diselingi oleh canda yang membuat semuanya berderai tawa. Kami bisa menikmati rehat sejenak karena tau bahwa tidak ada jadwal appointment atau klien yang janji foto sore itu di Royal Princess.Setelah usai, saya pun pamit, mencegat Metromini B-91 yang selanjutnya membawa saya menuju Roxi, daerah tempat tinggal saya. Aneh, tiba-tiba badan rasanya berat sekali, padahal hanya cuma sebentar diterpa gerimis. Ah, mungkin hanya flu biasa, besok juga sembuh. Setelah mengisi perut, minum Panadol, saya pun beristirahat.
Keesokan harinya, rasa berat di badan ini tidak juga sembuh. Rasanya aneh, suhu badan tidak panas, kepala tidak pusing, hidung tidak pilek, tapi badan ini seperti orang yang masuk angin. Inginnya rebahan terus, seperti orang yang lelah setelah bekerja seharian.
Suatu sore, setelah dua hari merasakan 'nggak enak' di badan ini, anak sulung saya Maharani, yang memang diberi kelebihan bisa melihat 'alam lain', membisiki saya bahwa ada 'wanita' yang 'nggendong' di punggung saya. Digambarkan olehnya bahwa 'wanita' itu berambut panjang menutupi wajahnya, berbaju putih, dan berkuku jari tangan panjang. Wah, pantas saja, terjawab semua tanya tentang anehnya kondisi badan ini.
Esok harinya kami menghubungi pak Ujang, tetangga kami yang memang bisa 'mengusir' atau meminta untuk pergi hal-hal seperti yang terjadi pada saya. Selesai 'penyembuhan', pak Ujang berkata bahwa 'wanita' itu tinggal di seberang studio Royal Princess, tepatnya di pohon besar yang ada di depan Alfamart. 'Wanita' itu tidak melakukan apa-apa hanya menggantung di belakang punggung saya seperti anak kecil yang digendong belakang. Mungkin ada ucapan atau tindakan saya yang tidak berkenan sehingga ia memutuskan untuk 'nggandul'.
Saya jadi teringat cerita film horror Thailand yang bernuansa fotografi, Shutter.
* Kisah ini nyata terjadi pada diri saya sewaktu bekerja di studio Royal Princess, Tanjung Duren.
Bukan mengajak sahabat untuk percaya takhyul, tapi setidaknya untuk menyadari akan
keberadaan alam lain.
Percaya atau tidak, tergantung bagaimana sahabat menyikapinya.
Foto di atas hanya sebagai ilustrasi, diambil dari sini.
Labels:
pengalaman
Sabtu, 18 Desember 2010
Ume bridal mengecewakan
Namanya Ume Bridal & Photography ( dibaca yumi ) bertempat di wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya menyanggupinya, karena siapa tau ada pelajaran serta pengalaman baru yang nanti bakal didapat.
Selling point yang mereka tawarkan adalah pada bidang make up dan gaun pengantin yang mereka klaim lebih unggul dan menawarkan sesuatu yang baru. Tapi kalo menurut saya sih tidak terlalu istimewa lagipula euforia 'imported from Taiwan' sudah melewati masa keemasannya kecuali bagi mereka yang memang Taiwan minded.
Hari pertama masuk kerja, saya disuruh bos Taiwan berbelanja ke Carrefour untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga. Oh, sudah lama nggak kerja serabutan, lumayanlah buat sekedar refreshing.
Menurut bos Taiwan, karyawan mereka di sana juga begitu, tidak hanya mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas utama mereka, tapi diharapkan juga cakap untuk mengerjakan bidang tugas yang lain.
Seharusnya mereka lebih tau, mereka sedang cari makan di Indonesia dan sudah sepantasnya mengikuti cara yang sudah lazim dilakukan di sini. Usaha bridal dan studio foto membutuhkan keprofesionalan di dalam pengelolaan dan bukan dilakukan dengan karyawan yang bekerja secara multitasking sebagaimana layaknya komputer dual core.
Setelah sebulan merasakan banyak ketidaksesuaian di hati, sudah saatnya bagi saya untuk mengundurkan diri guna mencari sesuatu yang bisa lebih memberikan benefit bagi masa depan jasa fotografi saya.
* Artikel ini merupakan pandangan subyektif dari saya, jika ada sahabat yang merasa keberatan mohon disampaikan melalui kolom komentar. Terima kasih.
model : Nurhayatilah
foto : tukangpoto
Labels:
pengalaman
Jumat, 03 September 2010
Maaf pak, saya butuh buru-buru...
Sudah beberapa kali ini saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan dari klien karena alasan di atas. Butuh cepat, buru-buru, sudah ditunggu hasil cetaknya dan sebagainya.Sejak pertama kali klien menelpon saya dan mendeskripsikan kebutuhan fotografi mereka, secara otomatis langsung terbayang akan seperti apa komposisi fotonya, pencahayaan yang akan digunakan sekaligus dengan rencana olah digitalnya. Tapi ketika klien memberikan tengat waktu yang mepet untuk mengerjakannya, luntur sudah bingkai ideal yang tadi sudah terimajinasikan.
Untuk memulai sebuah pekerjaan atau assignment pastinya para klien itu sudah memperhitungkan jangka waktu penyelesaiannya. Begitu juga dengan bagian yang menyangkut kerja fotografi. Seharusnya mereka mengerti bahwa fotografi adalah kerja seni yang membutuhkan olah rasa akan keindahan. Dan pekerja fotonya butuh waktu untuk merenungkan serta mengaplikasikan keindahan tersebut.
Pekerjaan yang terburu-buru hanya akan merugikan kedua belah pihak. Pertama, bagi pihak klien; karena tidak mendapatkan hasil pekerjaan yang maksimal. Kedua, bagi pihak fotografer; karena tidak bisa memberikan hasil kerja yang maksimal dan citra yang kurang baik bagi portfolionya jika hasil foto tersebut kelak dipublikasikan.
Mudah-mudahan pemahaman kita akan kerja fotografi jadi bertambah dengan adanya pengalaman ini.
foto : Karib Munajat
Labels:
pengalaman
Jumat, 16 Juli 2010
Hari-hari terakhir bersama bapak
Bapak sudah pergi. Bapak sudah tidak bersama kami lagi. Hari-hari terakhir bersama bapak saya rasakan sebagai hari yang meninggalkan kesan begitu mendalam di hati saya.Bapak sakit. Bapak hanya terbaring tidak berdaya. Ketika saya merasa direpotkan oleh kehadirannya, kembali saya tatap foto kenangan di atas. Bapak dulu pernah menggendong saya, mengganti popok saya, membimbing langkah pertama saya, dengan sabar menyahuti setiap panggilan saya. Tak terhitung yang telah bapak lakukan buat saya, sementara yang saya dapat lakukan hanyalah memberi sedikit kenyamanan menjelang hari-hari terakhirnya.
Sekarang bapak sudah bisa tersenyum kembali.
Bapak sudah lepas dari penderitaannya.
Selamat jalan, pak.
Sampai kita berjumpa lagi.
Kredit foto : bapak bersama saya ketika berumur 1,5 tahun di atas Jembatan Ampera, Palembang, tahun 1974.
Labels:
pengalaman
Jumat, 09 Juli 2010
Jasa fotografi
Dalam dunia jasa fotografi, sebagaimana dunia penyedia jasa-jasa lainnya, juga tak luput dari suka dan duka.Imej glamour dan 'wah' memang sering melingkupi dunia jasa fotografi, tapi itu hanya mewakili lingkup kecil saja, selebihnya adalah kerja keras.
Kisah ini dialami oleh seorang sahabat saya yang juga berprofesi sebagai fotografer. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan pelajaran bagi sahabat fotografer khususnya dan para sahabat pekerja penyedia jasa pada umumnya.
Masalah krusial yang sering menjadi batu sandungan adalah soal pembayaran. Sahabat saya mengambil order seorang klien dengan kesepakatan pembayaran di muka sebesar 50% dan 50% lagi setelah pekerjaan selesai. Di dalam dunia kami, rasanya tidak etis jika tidak menyerahkan seluruh hasil pekerjaan jika sudah selesai. Apalagi sudah mendapat fee di muka. Sayangnya sang klien mangkir untuk membayar sisa fee yang 50% lagi. Kalimat klasik yang sering dilontarkan ketika ditagih adalah ' nanti pasti saya transfer'.
Hal seperti ini memang lebih sering terjadi pada penyedia jasa yang bekerja secara perorangan atau pribadi.
Karena suka mengalami hal ini, seorang sahabat dari penyedia jasa lainnya menerapkan pembayaran order 75% di muka, untuk antisipasi agar tidak terlalu nyesek jika kliennya mangkir dalam pembayaran sisa order fee-nya.
Apapun alasannya, saya sebagai pekerja di bidang jasa hanya ingin menghimbau para pengguna jasa agar dapat menghormati kesepakatan yang sudah disetujui sebelumnya, demi kelancaran pekerjaan dan bisnis bersama.
Bagaimana dengan sahabat pembaca, punya pengalaman serupa?
Foto : Karib Munajat
Labels:
pengalaman
Jumat, 25 Juni 2010
Foto close up
Pada tahun 90 an, gaya foto close up atau foto yang diambil dari batas pinggang ke atas mulai dikenal di masyarakat. Hal ini mungkin juga dipicu oleh kejenuhan masyarakat akan pose seluruh badan yang selalu diterapkan ketika mereka menggunakan jasa studio foto untuk berbagai keperluan.Apalagi didukung dengan menjamurnya studio-studio foto yang terkenal karena memiliki spesialisasi di bidang foto close up.
Saya sendiri memiliki banyak memori tentang foto close up ini. Karena memang di awal profesi saya sebagai fotografer, saya pernah bekerja di beberapa studio yang terkenal dengan gaya foto-foto close up nya.
Sebenarnya dengan kondisi seperti ini, kita sebagai fotografer jadi harus belajar lagi untuk mengkreasikan pose atau gaya yang bisa diterapkan untuk foto close up tersebut agar hasilnya bisa lebih memuaskan para klien.
Ada sedikit tips untuk foto close up :
- Gunakan lensa paling sedikit 80 mm ke atas untuk memotret close up agar terhindar dari efek distorsi.
- Berikan pose seluruh badan pada sang model kemudian shot dengan komposisi close up. Hal ini bertujuan agar pose sang model bisa lebih luwes jatuhnya.
- Gunakan elemen yang ada di studio untuk menciptakan pose-pose yang lebih variatif. Misalnya; elemen dari pakaian, aksesoris, properti studio dan lain-lain.
Foto : Tukangpoto
Labels:
pengalaman
Rabu, 05 Mei 2010
Pengalaman belajar memotret model
Ketika pertama kali belajar memotret manusia sebagai model, saya jadi teringat senior saya yang pernah mengatakan bahwa jika ingin belajar memotret model sebaiknya menggunakan model yang tidak berhubungan atau awam dengan dunia fotografi, tidak cantik atau tidak tampan, tidak luwes atau dengan kata lain pilihlah yang tidak fotogenic.Jika belum apa-apa kita sudah menggunakan model yang fotogenic, berarti kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dasar-dasar dari memotret model itu sendiri.
Bagaimana membuat model yang tadinya kaku menjadi terbiasa di depan kamera, yang disuruh tersenyum saja susahnya minta ampun sampai akhirnya bisa tertawa lepas, mencari angle-angle yang menjadi kelebihan seseorang dan menutupi kekurangannya, sampai akhirnya belajar mengarahkan seseorang hingga ia bisa menjadi dirinya sendiri dan menghasilkan sebuah foto yang layak.
Komunikasi memang menjadi hal yang penting di sini. Bagaimana kita berkomunikasi kepada seorang anak kecil, remaja, orang yang lebih tua, semuanya itu mempunyai cara pendekatan yang berbeda-beda hingga akhirnya bisa menghasilkan foto yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Dari pengalaman ini saya jadi belajar bahwa ternyata fotografi itu tidak hanya sekedar senyum dan jepret saja. Semakin kita mendalami semakin banyak hal-hal yang harus kita pelajari, sebagaimana bidang-bidang ilmu lainnya.
Tapi selama kita mencintai dan menikmati apa yang kita pelajari, semuanya tidak menjadi masalah.
Salam jepret!
sumber foto : facebook.com/Chusnul Khairuddin
Labels:
pengalaman
Minggu, 11 April 2010
Kesalahpahaman fotografer pemula
Saat pertama kali menekuni bidang fotografi sebagai hobi sampai akhirnya menjadi ladang pengisi periuk nasi, saya banyak sekali menemukan hal-hal, mitos-mitos atau kesalahpahaman di bidang fotografi yang dapat menghambat atau mempengaruhi kemajuan para fotografer pemula.Inilah hal-hal yang biasanya menjadi penghambat dan mudah-mudahan kita yang sedang menekuni fotografi bisa menghindarinya :
1 . Hasil foto saya tidak bagus.
Tidak ada keberhasilan yang instan, semua harus dimulai dari yang kecil. Ada ratusan foto yang kita hasilkan, tapi hanya beberapa saja yang bagus. Jalan tidak selalu mulus, dan itu memang alamiah ketika kita sedang mempelajari sesuatu. Dengan berjalannya waktu, kemampuan dan ketrampilan kita akan bertambah baik.
2 . Kamera saya kurang canggih.
Kamera yang mahal tidak akan menghasilkan foto yang baik jika kita tidak tau cara menggunakannya. Manfaatkan kamera yang ada, pelajari kemampuannya secara optimal dan tingkatkan ketrampilan memotret anda dengan kamera tersebut. Kamera bukan faktor penentu utama, tapi ketrampilan memotret andalah yang menentukan.
3 . Kamera merk tertentu lebih bagus dari merk yang lain.
Semua merk kamera DSLR saat ini sudah dibuat dengan standar yang sama untuk menghasilkan gambar yang baik. Faktor yang membedakan adalah fasilitas, harga serta selera dari masing-masing pemakai merk kamera.
4 . Sekolah lebih baik dari otodidak.
Banyak fotografer terkenal mengenyam pendidikan S1 jurusan fotografi tapi banyak juga yang mengembangkan ketrampilan mereka secara otodidak dan bisa sukses. Jadi keberhasilan seorang fotografer tidak tergantung dari faktor mereka kuliah atau otodidak tapi komitmen dan keinginan untuk maju dari masing-masing individulah yang menentukan.
Mungkin ada yang ingin menambahkan?
Labels:
pengalaman
Jumat, 19 Maret 2010
Serunya memotret yearbook SMA Santa Ursula
Seminggu kemarin saya mendapat job untuk memotret yearbook SMA Santa Ursula untuk lulusan tahun 2010. Job memotret yearbook memang kadang saya lakukan, tapi selama ini terbatas pada SMA yang memiliki murid laki-laki dan perempuan, jadi kesempatan ini adalah pengalaman pertama saya memotret untuk yearbook di sekolah yang muridnya perempuan semua.Pertama kali menginjakan kaki di SMA yang berada di Jalan Pos no.2, Jakarta ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Bangunan sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1931, kalau tidak salah, tetap mempertahankan ciri khas bangunan jaman Belanda walaupun telah memiliki pula gedung yang baru di bagian yang lain. Jadi suasana klasik masih terasa sekali, malah diperkokoh dan dilestarikan.
Saya mengira akan menjumpai gadis-gadis yang kaku dan serius, tapi ternyata dugaan saya salah sama sekali. Lewat pengamatan seminggu berada di sana ternyata mereka adalah murid-murid SMA yang hangat dan ceria layaknya gadis-gadis seusia mereka. Walaupun terlihat pula disiplin serta orientasi belajar mereka yang tinggi. Selain ramah dan santun, mereka juga sarat akan prestasi baik akademis maupun non akademis.
Pada pemotretan yearbook kali ini mereka sudah menyiapkan tema-tema yang akan membuat penampilan foto kelas mereka berbeda yang satu dengan yang lainnya. Tema yang mereka pilih pun beragam. Ada back to 60, underwater, candy girl, musical dan lain-lain. Properti-properti yang akan mendukung penampilan mereka pun tak lupa mereka siapkan. Lalu soal gaya dan ekspresi ketika difoto nanti juga sudah direncanakan secara detil. Ada yang akan berpose seperti The Beatles ketika berjalan di Abbey Road, bergaya ala rockstar, sambil membawa hewan peliharaanya, gaya mafia tahun 30 an, malah ada yang minta difoto ketika mereka nge-dance.
Sebuah pengalaman baru buat saya dan sebuah perspektif yang ceria dan menyegarkan. Walaupun cerita roman ala 'Gita Cinta Dari SMA' yang dapat memompa hormon asmara para gadis di sekolah itu tidak mungkin terjadi, tapi bagi saya, Sanurians, you're rocks!
N.B. Sayang foto-fotonya belum boleh diupload karena yearbooknya belum resmi terbit.
Labels:
pengalaman
Rabu, 06 Januari 2010
Makan siang yang tertunda

Sudah waktunya makan siang, tapi klien belum selesai paket fotonya. Perut sudah kriuk-kriuk minta diisi, tapi pemotretan masih menggantung 20 shot lagi. Masih harus tersenyum dihadapan klien agar yang bersangkutan tetap merasa nyaman, masih harus ke sana ke mari mengatur pose, memindahkan posisi letak lampu studio agar tepat jatuh cahayanya, membetulkan penempatan aksesoris agar sesuai dengan tema yang diminta, kemudian sudah menanti klien berikutnya yang siap umtuk difoto.
Begitulah sekelumit keseharian tukang foto, ketika keadaan studio sedang ramai-ramainya. Disuguhi wajah-wajah cantik yang siap untuk difoto dan diarahkan. Tidak bisa menolak, karena mereka adalah sumber pendapatan utama dari studio. Meskipun harus menunda makan siang, menahan hati agar tak sampai emosi sampai seluruh foto session dalam satu hari itu selesai dikerjakan.
Beruntung saya tidak mempunyai penyakit maag, dan sudah terbiasa untuk memindahkan jam makan siang semenjak bekerja menjadi tukang foto. Asal sudah minum kopi manis dan sarapan sekerat roti di pagi harinya, maka siap sudah badan ini untuk diajak 'bertempur' seharian itu. Apalagi jika bekerja sambil ditemani oleh secangkir coffemix, maka rasa lapar itupun bisa ditunda sampai sore hari.
Tidak seperti rekan-rekan yang bekerja di kantoran yang memiliki jam makan siang dan istirahat yang sudah pasti, kami yang bekerja di bidang jasa potret-memotret kadang harus menundanya dan rela jika harus tidak libur pada hari Minggu. Tapi ini semua memang sudah menjadi resiko profesi. Dan sebagai rakyat yang dewasa, kita tetap harus menjalankan tugas dan pekerjaan kita secara profesional dan bertanggung jawab.
Lalu bagaimana suasana bekerja di tempat anda?
Sumber foto
Labels:
pengalaman
Kamis, 17 Desember 2009
Sexy itu indah
Menjadi kegembiraan tersendiri bagi fotografer ketika harus melayani klien yang masuk dalam definisi sexy tadi. Mengapa?
1 . Ketertarikan yang alami pada hal-hal yang bagus, cantik, indah, sexy sudah ada dalam diri tiap manusia.
2 . Eksplorasi bisa lebih dimaksimalkan. Ingin diberi pose yang bagaimanapun, teknik lighting sedramatis apapun, klien sexy pasti selalu enak dilihat.
3 . Kemungkinan lain. Jika memang sesuai dengan kriteria sang fotografer klien sexy tersebut bisa di beri tawaran untuk menjadi model di proyek pribadinya atau menjadi model untuk display foto studio yang bersangkutan.
Tapi sebagai fotografer yang profesional, kita tetap haruslah menjunjung tinggi keprofesionalan kita dalam bekerja dengan tidak mencampuradukan hasrat pribadi dan tetap melayani berbagai tipe klien dengan sopan serta menghormati tujuan utama seorang klien yang datang ke studio kita yaitu untuk membuat foto yang terbaik bagi dirinya.
Foto : tukangpoto
Labels:
pengalaman
Resign
Ketika resign dari studio foto tempat saya bekerja semenjak saya masih bujangan, menikah, sampai punya anak 2 selama 8 tahun bekerja, pada tahun 2004 kemarin, hati saya masih tetap diliputi tanda tanya. Di satu sisi saya senang bisa mendapat tanggung jawab yang lebih besar di tempat kerja saya yang baru, di sisi lain saya bertanya-tanya sepertinya tempat kerja saya yang lama dengan senang hati dan sukarela melepaskan saya.Selidik punya selidik ternyata di studio konsep baru yang sedang mereka persiapkan saya tidak akan diikut sertakan dalam jajaran tukang fotonya. Mengapa ? Karena saya selalu saja mempertanyakan soal kesejahteraan karyawan pada atasan saya. Kita yang sudah dengan loyal menjadi karyawan selama 8 tahun dan menyumbang kekayaan kepada pemilik studio tentunya berhak dong atas tunjangan kesejahteraan yang lebih baik. Jadi sebuah kebetulan yang menguntungkan mereka saya resign dengan sukarela.
Kabarnya juga nanti karyawan studio konsep baru tersebut akan terikat kontrak selama 2 tahun. Bahkan teman-teman yang sudah lama menjadi karyawan tetap ya mau-maunya jadi terikat kontrak pula. Pernah saya membaca draft ikatan kontrak kerja milik seorang karyawan baru yang isinya tentu saja lebih menguntungkan pihak perusahaan. Selama ini saya belum pernah membaca surat ikatan kontrak kerja yang mendudukan karyawan sebagai mitra kerja yang saling menguntungkan. Apakah memang seperti itu ya kondisi di kebanyakan perusahaan di Indonesia?
Saya sih bisa maklum, mungkin ini hanya sebuah keputusan bisnis semata, tidak lebih tidak kurang. Lagipula manajemen studio foto ini masih menerapkan manajemen keluarga, walaupun bisnis studio foto mereka merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Tapi yang sudah ya sudahlah, saya hanya ingin berbagi pengalaman di sini. Dan tentunya masih banyak jalan lain menuju Roma,bukan?
Labels:
pengalaman
Senin, 14 Desember 2009
Fotografi bukan mie instan
Artikel ini adalah sebuah cerita lucu tentang Pakde saya yang mencoba menguasai fotografi hanya dalam waktu satu malam.Waktu itu Pakde sekeluarga menginap di rumah kami karena akan menghadiri acara pelantikan Taruna AKABRI di Istana Negara, sementara rumahnya Pakde sendiri berada di Bandung. Betapa gembiranya Pakde karena anaknya ada yang mengikuti jejaknya menjadi anggota angkatan bersenjata. Kami sekeluarga memang memiliki darah veteran mengalir dalam tubuh kami.
Sehari sebelum pelantikan, datang lagi kerabat kami yang lain sambil membawa kamera SLR analog berlensa tele dan menyarankan agar Pakde menggunakan kamera tersebut untuk memotret acara pelantikan anaknya besok. Jadilah Pakde diajari cara menggunakan kamera tersebut melalui metode SKS ( Sistem Kebut Semalam ). Saya sendiri yang waktu itu belum mendalami fotografi sangsi apakah Pakde bisa menjalankan tugas tersebut.
Esoknya, pagi-pagi kami serombongan sudah tiba di Istana Negara. Hanya kedua orang tua Taruna AKABRI yang akan dilantik yang diperbolehkan masuk. Dengan gagah sambil mencangklong kamera SLR telefoto, Pakde dan Bude masuk ke dalam istana. Kami, para sanak saudara menunggu di pelataran MONAS sambil leyeh-leyeh melepaskan penat. Setelah acara pelantikan usai, kamipun diperkenankan masuk melalui sisi istana untuk acara ramah tamah dan foto-foto. Kami juga membawa kamera saku yang dipergunakan untuk dokumentasi keluarga.
Sesampai di rumah, kamera dibawa ke tukang cuci cetak untuk diproses. Betapa kagetnya kami ketika diberitahu bahwa filmnya blank, belum terpakai. Menurut analisa tukang cuci cetak ada kemungkinan filmnya ' tidak nyangkut '. Dari sini saya jadi belajar bahwa jika ingin memperoleh hasil yang baik, semua harus dijalani melalui proses. Tidak bisa instan seperti kita membuat mie instan, tinggal rebus lalu nikmati.
Sumber gambar
Labels:
pengalaman
Rabu, 09 Desember 2009
Pas foto

Kemarin malam, saya mencetak klise pas foto ke dua anak saya di kedai pas foto langganan kami. Sejak saya menikah, di kedai itulah kami selalu membuat pas foto untuk berbagai keperluan. Lho kok manual? Katanya tukang poto sekarang sudah beralih ke digital? Tidak tau kenapa, ekspresi wajah pas foto kami kok rasanya lebih pas justru yang dibuat dengan kamera analog atau menggunakan klise. Jadilah kami pelanggan setia dari kedai pas foto tersebut.Kata istri saya, kedai tersebut sudah ada semenjak dia masih kanak-kanak dan memang kedai tersebut terkenal karena spesialisasinya di bidang pas foto. Pas foto kok spesialisasi? Maksudnya lebih banyak orang datang karena memang sengaja ingin membuat pas foto daripada membeli bingkai misalnya.
Tadinya saya juga tidak begitu peduli, tapi karena sekarang saya menulis artikel atau ngeblog tepatnya, makanya saya mulai memperhatikan lebih jauh. Bapak pemilik kedai tersebut sudah mulai memutih rambutnya di sana-sini, tapi masih sigap ketika melayani pelanggannya. Menggunakan sebuah kamera SLR film yang dikokang, 1 buah lampu flash slave unit ditambah sebuah tripod dan reflektor payung, background standar berwarna merah dan biru plus layanan kilat, foto selesai dalam 1 jam.
Berarti sekarang terbukti, teori yang mengatakan bahwa jika ada teknologi yang baru, tidak serta-merta yang lama langsung mati. Seperti ketika televisi ditemukan, tidak secara otomatis radio tersingkirkan, ketika mobil mulai berseliweran, sepeda dan delman masih tetap setia melayani penggemarnya. Demikian pula ketika fotografi digital mulai memasyarakat, yang analog, walaupun relatif sedikit, masih tetap punya penggemar, saya salah satunya.
Sumber foto
Labels:
pengalaman
Sabtu, 05 Desember 2009
5 kebiasaan buruk dalam fotografi
Selama saya menjadi fotografer banyak hal-hal yang menjadi kebiasaan buruk para juru potret yang sebenarnya dapat dihindari jika mau memulainya sedari dini untuk menghindari kerugiannya lebih lanjut. Kebiasaan buruk itu biasanya :1 . Tidak memeriksa kelengkapan peralatan.
Memang biasanya perlengkapan fotografi tersimpan dalam satu tas, tidak ada salahnya untuk men-cek kembali jika keesokan harinya ingin digunakan untuk pemotretan. Yang paling sering tertinggal adalah kartu memori yang lupa dikembalikan setelah mentransfer gambar ke komputer dan batere kamera yang sedang direcharge.
2 . Tidak memeriksa kembali setting di kamera.
Pernah suatu ketika kamera saya dipinjam seorang teman, beberapa jam sebelum acara pemotretan dimulai, saya iseng-iseng men-cek kembali settingannya, wuih ternyata berbeda 180 derajat dengan settingan yang saya pakai. Untung saya sempat men-cek nya kembali, coba kalau tidak...
3 . Terlalu bergantung pada Photoshop.
Saya tidak anti pada Photoshop, malah banyak terbantu karena kahadirannya. Tapi jangan sampai kemajuan teknologi digital menghapuskan kebiasaan baik kita untuk selalu teliti pada detail obyek foto kita dan tidak mentang-mentang semuanya dapat diperbaiki di Photoshop. Misalnya; pemasangan dasi yang kurang proporsional, sisiran rambut yang belum sempurna, lem bulu mata palsu yang copot pada ujungnya.
Lebih teliti pada saat pemotretan tentu akan menghemat waktu dan tenaga pada bagian editing.
4 . Mudah terpesona pada kamera baru.
Memang sesuatu yang wajar jika ada kamera baru dirilis, kita jadi ingin ikut memiliki. Tapi seperti kita tahu, dalam teknologi digital pasti nanti selalu saja ada yang baru menggantikan yang lama. Dalam hal ini tentunya lebih bijaksana jika kita menginvestasikannya pada peralatan yang lebih awet, variasi lensa misalnya.
5 . Menyalahkan peralatan,obyek foto atau keadaan.
Ketika kita memotret sebuah obyek dan hasilnya tidak seperti yang kita inginkan, biasanya dengan mudahnya kita menyalahkan peralatan, obyeknya atau situasi. Ah, si modelnya mahal senyumnya, kalau saja lensa saya lebih tele, langitnya gelap karena kemarin motretnya keburu sore. Ingatlah teman, bahwa semuanya tergantung dari sang fotografer, the man behind the camera, dan bukan yang lain.
Sumber foto
Labels:
pengalaman
Senin, 30 November 2009
"...ya angkat sedikit.....wow sexy!...."
Tanpa bermaksud untuk melecehkan kaum hawa, sekumpulan kata-kata di atas adalah kata-kata yang sering saya gunakan untuk mengarahkan klien di studio agar berpose sesuai seperti yang saya inginkan. Secara lengkapnya pernah saya uraikan pada artikel terkait.
Bermacam-macam cara yang dilakukan oleh seorang fotografer dalam mengarahkan kliennya. Ada yang terus-menerus berteriak menyemangati, ada yang suka memperagakan sendiri pose yang diinginkannya untuk diikuti sang model, ada yang senang sambil menyentuh...., ada yang senang mengarahkan dari jauh sambil sedikit bicara.
Begitu pula respon dari seorang klien, ada yang malu-malu, ada yang cerewet, ada yang nggak percaya diri sampai salah tingkah, yang luwes seperti yang diinginkan sang fotografer, atau malah yang menawarkan diri untuk berpose atau bergaya sendiri. Ini yang biasanya disukai fotografer.
Senang rasanya bisa bertemu berbagai macam karakter orang dan belajar sesuatu yang baru dari mereka, serta terus mencoba berpikir kreatif bagaimana caranya agar photo session yang mereka jalani ini bisa berlangsung dengan menyenangkan.
Foto : Tukangpoto
Labels:
pengalaman
Jumat, 20 November 2009
Fotografer, sebuah intermezzo
Sebagai seorang fotografer, tidak setiap harinya saya melakukan tugas dari seorang juru potret. Kadang jika jadwal pemotretan studio benar-benar kosong, saya suka bingung mau melakukan apa. Bersih-bersih studio sudah, membersihkan kamera beserta peralatan fotografi lainnya sudah dilakukan. Untungnya studio tempat saya bekerja dulu berada di dalam sebuah mall.Sebuah mall merupakan sumber referensi maupun inspirasi yang tidak ada habisnya bagi seorang fotografer yang selalu haus akan rangsangan imajinasi visual. Indra penglihatan kita akan terpuaskan dengan melihat berbagai bentuk desain showcase dari sebuah outlet, berbagai macam foto-foto display, penampilan para pengunjungnya yang modis dan toko buku. Sebagai seorang pembaca, keberadaan toko buku ini bagai sebuah oase di padang gurun, walaupun kadang hanya numpang baca, yang penting ada inputan yang masuk mengenai hal-hal yang baru.
Suatu hari, ketika jadwal pemotretan sedang kosong, saya memutuskan untuk menjadi asisten dari aktifitas office boy kami; Wawan Alwani, yang sekarang sudah sukses dengan bisnis DBS nya, seharian itu. Setelah minta ijin pada bagian customer service, maka dimulailah petualangan 'around the mall' kami. Membayar rekening listrik di kantor administrasi mall, membelikan jajan pesanan anak-anak studio, menelusuri ' jalan-jalan tikus ' di dalam mall yang sebelumnya tidak saya ketahui, mengantarkan paket foto milik klien yang sudah selesai ke apartemen di atas, malah kami sempat diberi uang ' lelah ' alias tip. Lumayan.
Fotografer bagi saya hanya sebatas jabatan di studio, kebersamaan dan kekompakkan dengan rekan kerja itulah yang lebih penting. Sebab sehari-harinya dengan merekalah kita saling bekerja sama bahu-membahu dalam mencari nafkah.
Foto : Andre Leonardo
Labels:
pengalaman
Langganan:
Postingan (Atom)
