total ping

Tampilkan postingan dengan label BestFriendForever. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BestFriendForever. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Dari Satu Jadi Banyak

Senangnya, di Stockholm ternyata ada seorang blogger asal Indonesia juga. Dia adalah Damar, pemilik blog lupaDiri. Ketemu blognya lumayan dadakan, sebulan sebelum berangkat pas saya googling info tentang Stockholm. Dari email-emailan akhirnya ketemuan pas mampir ke Stockholm kemarin. Gaya beneeerr.. Kopdarannya di luar negeri :p

Hari pertama nyampe Eropa, setelah landing dan check in hostel, langsung diajak jalan. Kebetulan lagi ada festival A Taste Of Stockholm. Semua jenis makanan, baik dari Swedia maupun Asia ada disini. Tapi bukan makanannya yang penting, semua penduduk Stockholm tumplek blek di Kungstragarden yang jadi venue acara. Kolam yang biasanya diisi air dikeringkan dan sekarang penuh dengan orang yang makan dan minum-minum sambil menikmati matahari yang bersinar hangat. Yeah, saya yang baru sampai di Eropa sampai takjub. Beginilah kelakuan masyarakat Stockholm kalau ketemu matahari.

Beberapa teman Damar sudah berkumpul di Kungstragarden. Surprisingly semuanya orang Indonesia. Horeee... nambah lagi temen dari Indonesia selama di Stockholm. Rasanya seneeng banget pas ketemu temen 'sekampung' di negara orang. As usual, orang Indonesia selalu lekat dengan keramah-tamahan mereka, apalagi kalau ketemu orang sekampung, pasti bawaannya pengen bantuin aja. Dan akhirnya, mereka nemenin saya di sisa sore itu ke beberapa tempat di sekitar Kungstragarden, sekaligus nawarin saya ngerasain Lakris, permen panjang khas Swedia.

Berawal dari Kungstragarden :)

Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya juga diajak barbeque bareng pas hari minggu. Too bad, saya di Stockholm cuma sampai hari Sabtu dan Minggu sudah ada di Gothenburg, kota terbesar kedua di Swedia setelah Stockholm. Dan inilah hebatnya dari rasa kekeluargaan penduduk Indonesia di negara orang, mereka ngundang saya dinner besok. Horeee... makan malam gratis di negara semahal Swedia? Siapa yang nolak. Alhamdulillah, Tuhan tau aja kalo dana saya selama di Eropa terbatas banget.

Apartemen Andri dan Gunar letaknya lumayan jauh dari Stockholm. Kalau kata Damar sih ini termasuk Stockholm coret karena letaknya yang di ujung Stockholm. Saya sendiri nggak berharap banyak dari tempat tersebut karena cuman konsen dengan makan malam gratis (belum sempet makan layak dari tadi pagi). Ternyata Liljeholmen cantik banget. Daerah pemukiman yang halaman belakangnya adalah garis pantai dalam yang memisahkan Liljeholmen dengan pulau-pulau sekitarnya. Sebelum mulai dinner Andri dan Gunar ngajak saya jalan-jalan ke sekitar apartemen mereka. Saya cuma bisa ternganga dengan keindahan halaman belakang mereka dan iri abis-abisan. Pasti betah ngabisin setiap sore disana.

Pemukiman penduduk di Liljeholmen

Halaman belakang yang fotogenik untuk bernarsis ria

Berasa lagi trekking di hutan

Saya, Andri dan Gunar di halaman belakang apartemen mereka

Kalau udah beneran summer dan air nggak terlalu dingin, halal banget buat berenang disini

Pohon pembawa kapas halus. Bagi saya sih romantis, bagi penduduk annoying karena bikin kotor balkon apartemen.

Etiket untuk menghadiri undangan dinner di Stockholm adalah bawa bunga atau buah. Sebenernya Damar nggak terlalu ambil pusing musti bawa apa ke apartemen Andri dan Gunar, maklum dia udah sering banget main kesitu. Tapi saya nggak mau dateng dengan tangan kosong. Di Stockholm sendiri ada flea market yang buka dari senin - minggu, biasanya mereka jualan bunga dan buah. Yang seru, makin sore mereka makin banting harga supaya jualan mereka laris dan nggak perlu dibawa pulang lagi. Heboh banget deh, setiap kios berlomba-lomba pasang harga paling murah dan ber-'Hej-hej'-ria (sapaan khas Sweden) untuk menyambut pembeli yang datang. Kalau ditanya pilih bawa bunga atau buah, saya jelas pilih buah. Kenapa? Karena bunga nggak bisa saya makan, sedangkan stoberi segar yang saya dan Damar bawa langsung diolah jadi smoothies segar oleh Chef Gunar. Yum!

Fresh flowers

Fresh fruits

Tadaa.. Dari Stoberi berubah jadi smoothies

Makin sore angin Stockholm makin menggigit. Kita semua masuk lagi ke apartemen untuk mulai barbeque. Gunar yang bertugas masak, dia pernah jadi chef di salah satu hotel termewah di Stockholm. Asik, saya dimasakin sama chef. Rasa kangen dan kehilangan karena nggak bisa liat Chef Juna di MasterChef Indonesia bisa terobati deh (lho?). Setiap orang sibuk dengan bagiannya masing-masing; Gunar masak, Damar bakar daging, Andri menata piring dan meja. Saya? Bengong doangan karena seluruh tugas telah diambil alih. Yasudah, saya jadi seksi dokumentasi sajalah sambil main dengan Mii Chan, anggota keluarga nomor tiga di apartemen ini.

Mii Chan

Tiga cowok sibuk di dapur

Nongkrong di balkon apartemen Andri dan Gunar bareng Damar 

 
Ready for dinner?

 Aromanya enak!

Hungry hungry....

And here comes the dinner... Sepotong besar daging sapi, tiga potong daging kambing, salad, manisan mangga dan kentang. Mau nasi juga ada karena Andri tipe orang yang nggak bisa hidup tanpa nasi. Hiihh... piring saya penuh banget. Kenyang. Besok bisa skip sarapan nih (again, masih mikirin budget buat makan besok). Selesai makan mereka langsung kompak beresin meja dan cuci piring. Saya bengong lagi karena semua pekerjaan habis disikat. For the last, mereka nawarin kopi atau teh untuk menemani obrolan santai setelah makan. Tapi akhirnya semangkuk ice cream hadir di depan saya, melengkapi kebahagiaan hari itu. 

My plate :)

Pengalaman super menyenangkan di hari kedua saya di Eropa. Saya kira bakal seorang-diri-sebatang-kara di negara orang. Bisa ketemu temen sekampung yang baik banget rasanya udah berkah banget. Kenalan sama temen sekampung lain dan diundang dinner itu anugerah berlipat ganda. Seneng bisa tambah temen disini, bahagia punya kesempatan melihat bagian lain dari keramaian Stockholm, kenyang ditraktir makan di apartemen mereka. Dan mereka yang membuat saya mupeng untuk memperpanjang kunjungan di Stockholm. "Tiga hari doangan di Stockholm sih kurang", ujar mereka semakin memanas-manasi saya. I wish... Tapi jadwal saya selama dua minggu di Eropa cukup padat. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke tempat ini. Bersama-sama menikmati matahari sore yang hangat di pinggir taman sebelah garis batas laut dalam. 


Untuk semua malaikat-tak-bersayap saya selama di Stockholm. Terimakasih telah menyambut saya dengan keramahan khas Indonesia sehingga saya yakin, saya bisa bertahan di benua ini :)

Selasa, 24 Mei 2011

Pejuang Mimpi

Pejuang mimpi no. 1: Mama

Sekarang mama punya kegiatan baru: belajar ngaji. "HAH.. mamanya Ocha belum bisa ngaji?", pasti itu ya pertanyaan yang langsung terlintas saat membaca kalimat barusan. Iya, mama saya memang belum bisa ngaji. Tapi menurut saya, ibadah seseorang atau hubungan seseorang dengan Tuhan tidak ditentukan dengan kemampuan mengajinya.

Mama tidak sempat mendapat pelajaran mengaji di bangku sekolah. Dulu sekolah beliau masih merupakan sekolah kristen sehinggan pelajaran agama Islam ditiadakan, malah terkadang mama harus ikut berdoa dengan jemaat gereja. Setelah lulus sekolah, menikah, punya anak, dan bla-bla-bla, dengan segala kesibukannya mama semakin tidak punya kesempatan untuk belajar ngaji. Kendala umur yang 'tidak lagi muda' juga menyulitkan beliau untuk mendapat guru ngaji dan metode belajar yang sesuai. Yah, rasanya sudah jamak di masyarakat kita kalau setiap orang Islam pasti bisa mengaji, jadi akan sangat aneh jika orang seusia mama baru belajar mengaji di usianya yang sekarang.

Walau mama tidak bisa mengaji, beliau tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Beliau menekankan pentingnya pendidikan agama dan mewajibkan saya dan adik untuk ikut kelas mengaji setelah jam sekolah. Terkadang mama melihat buku Iqro milik saya atau adik dengan pandangan penasaran dan kerinduan yang mendalam. Mama juga terkadang meminta saya untuk mengajarinya mengaji, tetapi selalu menyerah di tengah jalan karena merasa kesulitan untuk mengingat berbagai huruf arab yang asing di matanya.

Jadi bagaimana cara mama beribadah jika beliau tidak bisa mengaji? Mama menggunakan bacaan latin yang sering dituliskan di bawah tulisan arab. Beliau menghafalkan bermacam surat dan doa lewat bacaan latin tersebut. Mama tidak pernah menceritakan perasaannya karena tidak mampu mengaji, tapi tanpa dia bilang pun saya tahu kalau beliau sedih. Sangat sedih.

Seperti mama yang lain, mama saya juga rajin beribadah. Pagi - siang - malam dia selalu beribadah dan mendoakan kami sekeluarga. Tuhan menjadi temannya yang paling dekat saat mama memiliki masalah, Tuhan menjadi pelariannya saat beliau merasa sedih, Tuhan adalah tempat mama mencurahkan tangis, doa, syukur, dan harapan. Mama memang tidak bisa mengaji, tapi selalu melakukan perintahNya dan berusaha menjadi umat yang taat. Lihatlah saya yang bisa mengaji tetapi sering menunda salat, lalai dalam menjalankan perintahNya, bahkan Al-Quran sepertinya hanya menjadi hiasan di atas rak buku. Apalah gunanya pintar mengaji jika tidak bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Apa hebatnya pintar mengaji jika kemampuan tersebut tidak pernah digunakan?


Mama sekarang belajar mengaji dengan beberapa temannya yang ternyata juga belum bisa mengaji. Buku Iqro kecil menjadi temannya yang paling setia. Malam minggu kemarin, setelah saya pulang bermain dengan teman-teman, mama meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Sembari menyimak pelafalan abjad arab yang masih patah-patah, saya jadi merasa sangat berdosa. Dosa kepada mama karena kurang meluangkan waktu untuk mengurus dan menjaga beliau. Dosa kepada Tuhan karena saya sering melupakanNya, karena saya lebih sering meminta dan meminta daripada bersyukur.

Apa motivasi mama sehingga mau susah payah belajar ngaji? "Supaya pas berangkat haji nanti mama bisa baca ayat-ayat Al-Quran tanpa pakai terjemahan", jawab beliau setelah menyudahi pelajarannya malam itu.

Ya Allah, Kau sudah 'menamparku' dengan cara yang paling halus. Saya malu dengan diri sendiri. Malu sama mama, malu kepadaMu...

Mama tidak perlu malu dengan lingkungan sekitar yang mencemooh ketidakmampuannya mengaji, mama tidak perlu takut pembaca tulisan ini akan menjelek-jelekkan saya dan mama, mama tidak perlu minder karena tidak bisa mengaji. Yang harusnya malu justru saya dan orang-orang yang tidak bisa beribadah sebaik mama, yang tidak atau jarang mengaji padahal memiliki kemampuan membaca tulisan arab. Mama hanya boleh takut dengan Allah.

Untuk mamaku sayang yang sekarang sudah naik ke tingkat 2, terimakasih selalu menjadi inspirasi hidup dalam segala perbuatan dan perkataanmu. Love you mom.

Pejuang mimpi no. 2: Pusti

Manusia konyol yang mampu melumerkan suasana disekitarnya ini sudah menjadi office mate saya sejak dari kantor cabang. Pusti adalah tipe orang yang bisa membuat suasana menjadi meriah. Celetukan segar dan banyolan konyol yang tidak pernah terlintas di kepala saya bisa keluar dari mulutnya. Dia adalah orang yang mudah berbaur dengan lingkungan baru dan disukai banyak orang. Yang paling membuat saya salut, Pusti bisa menjadi orang yang melakukan suatu kecerobohan, ditertawai dan diolok-olok seisi kantor sampai mau mati, tapi tetap bisa tertawa dan bahkan menambahkan olok-olokan tersebut. Suatu kondisi yang tidak akan mampu saya hadapi dengan cara sesantai dia.

Saat ini kantor kami mengadakan kompetisi menyanyi yang melibatkan seluruh grup perusahaan yang tersebar di empat negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapore. Nominal hadiahnya menggiurkan plus kompetisi grand final dan final dilakukan di negara yang berbeda (dengan kata lain bisa jalan-jalan ke negara tetangga gratis). Tahun lalu teman-teman kantor cabang merekomendasikan Pusti untuk ikut mendaftar, sayangnya dia sibuk dengan persiapan pernikahan. Tahun ini, di kantor baru dengan teman-teman yang sama sekali baru, saya merekomendasikan Pusti untuk ikut berkompetisi.

To be honest, saya tidak tahu kalau Pusti bisa menyanyi dengan baik. 'Tantangan' saya agar dia ikut berkompetisi membuat saya mendengarkan salah satu rekaman suaranya. Nggak nyangka, si manusia konyol ini suaranya bagus juga, "You've got the talent Pus, go for the competition" saya makin semangat menyemangati. Sambil nyengir nggak keruan karena berhasil membuat saya terpesona dengan bakat terpendamnya dia menjawab, "Pengen sih, tapi gue nggak PD Cha".

Hah?! Orang seperti Pusti nggak PD-an? Dengan segala kegilaan yang telah dilakukan dia masih kurang PD menghadapi juri dan bernyanyi di depan banyak orang? Mustahil! "Gue belum pernah nyanyi di depan banyak orang" salah satu alasan ini terlontar saat kami istirahat makan siang. "Lagian kan badan gue masih melar abis ngelahirin". Ya ampun, bener-bener bukan Pusti yang saya kenal. Makin gemas dan kesal kalau dia sampai tidak ikut kompetisi ini, "Just try it Pus. Paling nggak lo pernah nyoba. Urusan menang atau kalah sih belakangan, yang penting lo udah berani nyoba". Saya sudah di tahap nekat, kalau Pusti masih kekeuh tidak mau ikutan, maka saya yang akan mengisi formulir atas nama dia dan mengirimkannya.

Ternyata Pusti termakan omongan saya juga. Dua hari sebelum penutupan pendaftaran dia mengirim formulirnya. "Paling nggak gue pernah nyoba", dia mengulang kalimat yang saya ucapkan untuk meneguhkan niat. Just try it. Life is about taking chances and challenges. Make a rhyme on your life, make a splash. Rasanya sia-sia jika masa muda dilewatkan begitu saja dengan hal-hal yang monoton. Buat ritme, cari kegiatan baru, tantang diri untuk melakukan hal yang baru, make a splash on your life.




Hari minggu kemarin kompetisi diselenggarakan. Saya yang bertanggung jawab 'menjerumuskan' pusti merasa perlu untuk menemani dia. Yah, Pusti harus gagal di seleksi kedua, tapi dia menang melawan ketakutan, kepesimisan dan segala pikiran negatif yang menghadang untuk mengikuti kompetisi ini. "Maaf ya Cha gue kalah", ucap Pusti selesai acara. "Nooo, don't feel sorry because you're not win the competition. Lo udah menang melawan diri sendiri lagi dan gue sangat menghargai itu. You must proud of it". Sambil mengemasi barang bawaan tiba-tiba bijaknya saya kumat, "Lagian, kalo nggak pernah nyicipin kalah mana bisa menghargai kemenangan". Yeah, kadang saya bisa amat bijak terhadap orang lain, namun tidak untuk diri sendiri.


Pejuang mimpi no. 3: Saya

Saya. Eerr... Bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa dengan segudang mimpi. Mimpi yang kalau saya bagi dengan orang lain pasti akan mendapat tanggapan "Muluk amat sih mimpi lo". Saya? Saya hanyalah seorang newbie di dunia blogging, menulis dan jalan-jalan. Mimpi saya yang paling gila: jalan-jalan ke Eropa dan nulis buku sendiri. Muluk kan? 

Dengan semua ucapan yang pernah saya keluarkan untuk menyemangati orang lain untuk mengejar mimpinya, ternyata saya seringkali keteteran juga untuk mengisi penuh baterai semangat dalam mengejar mimpi ini. Mimpi bukan sekedar khayalan atau angan-angan belaka, tetapi dia menunggu untuk diwujudkan. Butuh semangat, kerja keras dan usaha pantang menyerah untuk memperjuangkannya. Memperjuangkan mimpi. Apakah kita bersedia berjuang sepenuh hati untuk mewujudkannya atau membiarkan mimpi tersebut selalu menjadi imaji dalam kepala, it's your choice.

Si Muluk

PS: Belum ada ending untuk cerita yang terakhir, orangnya masih berusaha mewujudkan mimpinya :)

Rabu, 09 Februari 2011

Early Birthday Present

Awal Februari ini sebuah paket mampir ke kantor saya. Isinya kado ulang tahun dari Felicity, seorang teman blogger yang sekarang berdomisili di Oslo, Norwegia. 












Sebuah 'proyek' yang melibatkan Norwegia membuat saya dan Feli menjadi dekat. Berbekal alamat email Feli pemberian Cipu akhirnya saya merasakan persahabatan tanpa batas berkat teknologi bernama internet. Jarak Oslo - Jakarta yang separuh lingkaran bumi terasa tidak berarti. Saya dan Feli dapat berdiskusi dan berusaha bersama agar 'proyek' yang nyaris tidak mungkin ini dapat menjadi sebuah tiket yang dapat mengubah hidup saya (hopefully).

Banyak hal yang terjadi selama kami mengerjakan 'proyek' tersebut. Mulai dari begadang sampai lewat tengah malam selama beberapa minggu, saya diomelin mama karena kurang tidur sedangkan Feli kena tegur T, curi-curi kirim email di sela-sela waktu kerja, browsing gila-gilaan demi mendapatkan data yang cukup dan beberapa insiden culture shock serta miskomunikasi yang terkadang membuat saya kena tegur Feli. Kalaupun 'proyek' ini tidak berhasil tapi saya sudah belajar banyak lewat semua proses yang melelahkan dan menyita waktu ini.

Untuk saya pribadi, waktu yang Feli luangkan untuk membantu saya adalah lebih dari cukup. Ungkapan rasa terimakasih saja tidak pernah terasa cukup. Kado ulang tahun yang 'kepagian' ini tambah membuat saya terharu. Ah, bagaimana sebuah persahabatan yang dimulai di dunia maya dapat terjalin sedemikian kuatnya di dunia nyata. 

Feli... Hm, saya selalu stuck saat akan menjabarkan kepribadiannya dan betapa saya mengagumi dia. Saya kenal Feli tentu dari hasil blogwalking yang ternyata beberapa teman Feli terkait juga dalam link blogroll saya. Mudah untuk jatuh cinta pada setiap tulisan Feli, saya suka dengan caranya menulis dan mengekspresikan perasaan lewat kata-kata. Walau ngeblog sebagai sarana curcol, tapi selalu ada pesan yang terselip dalam setiap postingannya. 

Hal lain yang saya suka dari seorang Feli adalah passion dalam hidupnya dan bagaimana dia mengejar passion tersebut. Pekerjaan yang dipilih adalah di bidang non-profit atau humanitarian yang pasti membuat dia bertemu dengan banyak orang yang berbeda dan belajar banyak tentang kehidupan. Dan umh, siapa yang sangka ternyata mempertemukan dia juga dengan T yang sekarang menjadi suaminya. 

Dari tema yang berat tentang pekerjaan atau hasil kontemplasinya dengan lingkungan sekitar sampai beberapa tema ringan tentang kehidupannya di Oslo dan ceritan tentang hubungan dengan suami tercintanya T, membuat saya selalu ketagihan dan menanti postingan Feli yang berikutnya. Feli membawa saya berjalan-jalan ke Norwegia dengan tulisannya, tertawa dengan cerita konyol tentang culture shock selama di Oslo dan ikut merenung dan berpikir lewat tulisannya tentang kehidupan. 

Sekarang Feli sedang sibuk bolak-balik menembus rimba Papua. Walau berada di Indonesia tapi jadwalnya padat bukan main, akan sulit rasanya meluangkan waktu untuk sekedar kopdar. Semoga suatu hari nanti saya bisa mampir ke Oslo dan kopdaran disana, sekalian mampir ke rumah barunya Feli. Amiiinnn :)








Thanks a lot untuk kadonya Fel. Semoga agendanya bisa diisi dengan pengalaman saya selama di Eropa *makin kenceng bilang Amiiinnn*  :)

PS: Ultah saya masih beberapa hari lagi kok. Kiriman kado berikutnya masih ditunggu ya :)

Rabu, 08 Desember 2010

This Should Be...

This should be our first trip

This should be the first time we've met as a good friends

We should be enjoyed this moment

Share a lot...

Laugh a lot...

and I'm quite sure

This would be fun....


but, the most important is...

This should be your birthday present. 

Selasa, 02 November 2010

Menggila di Car Free Day

Rasanya car free day Jakarta telah diadakan rutin dua kali setiap bulannya, sayang saya belum pernah merasakan ambiance nya secara langsung. Berhubung flashmob kemarin diadakan tepat di hari car free day, akhirnya saya bisa 'mencicipi' Jakarta dengan rasa yang lain. Sudirman - Thamrin yang selalu macet dan penuh dengan kendaraan ternyata bisa kosong melompong. Jakarta jadi lebih sejuk rasanya.




Satu-satunya moda transportasi yang bisa melewati kawasan Sudirman - Thamrin di car free day adalah bus TransJakarta. Berhubung tanggal 10.10.10 kemarin bertepatan dengan World Walk Day, otomatis bus TransJakarta pun tidak bisa melewati daerah ini. Bukan hanya karena banyaknya masyarakat yang berpartisipasi dalam acara tersebut, tetapi karena RI2 juga ikut meresmikan World Walk Day (coba RI2 ikutan flashmob juga ya). Jalur busway yang kosong melompong ini ternyata bisa menjadi spot foto yang sangaaaattt menyenangkan :D




Beberapa hari sebelumnya saya menghubungi Exort untuk menginformasikan event flashmob. Exort sih udah pasti nyerah untuk bergabung dalam flashmob, 'Gerakannya banyak bangeet, ngga sanggup gue'. Tapi dia menolak untuk melewatkan event ini begitu saja. Akhirnya Exort memilih untuk berperan sebagai reporter dadakan untuk mendokumentasikan flashmob terbesar di Indonesia ini. Di akhir flashmob, Exort menghampiri saya dan Nenes dengan wajah bersalah, 'Duh, sori ya gue ngga sempet ngambil video kalian berdua. Rame banget tadi, gue sampe kedorong-dorong', Exort tambah ngerasa ngga enak ngeliat saya dan Nenes yang (sedikit) kecewa, 'Sini deh gue foto-fotoin kalian berdua'. Deeuu.... nggak segitunya kali :p

Eerr... Akhirnya Exort memang menjadi fotografer dadakan yang sabaaaarrr banget menghadapi berbagai permintaan foto dengan pose aneh dari 'kliennya'. FYI, semua foto yang dipajang disini adalah jepretan Exort dan Nenes. Saya sih hanya menjadi model yang baik saja ;) 
 
Judul Foto: Korban Kopdar  


Judul Foto: Cie..cieee Exort....


Dari seluruh tempat di Jakarta, saya paling suka Bunderan HI. Terletak di jantung kota Jakarta, dikelilingi gedung pencakar langit, air mancur besar yang menyala sempurna, patung selamat datang yang seolah-olah menyambut seluruh warga Jakarta; Ya, saya cinta tempat ini. Dan akhirnya, di car free day kemarin saya bisa 'mendekat' ke bunderan HI. Soooo happy :D






Ayo... Berikan dukunganmu untuk Hari Bebas Kendaraan Bermotor.




Iiiihhh... Ada yang lagi syuting.

 kyakyakyaa... ada Raditya Dika :p


Cuaca cerah, car free day, bunderan HI, teman-teman yang baik dan menyenangkan, flashmob, ketemu Raditya Dika, membuat saya bersorak dalam hati, Yay I love Jakarta. 

Special thanks untuk Nenes dan Exort. Ayo kita hunting foto lagi. LOL.