
Kemarin malam, saya mencetak klise pas foto ke dua anak saya di kedai pas foto langganan kami. Sejak saya menikah, di kedai itulah kami selalu membuat pas foto untuk berbagai keperluan. Lho kok manual? Katanya tukang poto sekarang sudah beralih ke digital? Tidak tau kenapa, ekspresi wajah pas foto kami kok rasanya lebih pas justru yang dibuat dengan kamera analog atau menggunakan klise. Jadilah kami pelanggan setia dari kedai pas foto tersebut.Kata istri saya, kedai tersebut sudah ada semenjak dia masih kanak-kanak dan memang kedai tersebut terkenal karena spesialisasinya di bidang pas foto. Pas foto kok spesialisasi? Maksudnya lebih banyak orang datang karena memang sengaja ingin membuat pas foto daripada membeli bingkai misalnya.
Tadinya saya juga tidak begitu peduli, tapi karena sekarang saya menulis artikel atau ngeblog tepatnya, makanya saya mulai memperhatikan lebih jauh. Bapak pemilik kedai tersebut sudah mulai memutih rambutnya di sana-sini, tapi masih sigap ketika melayani pelanggannya. Menggunakan sebuah kamera SLR film yang dikokang, 1 buah lampu flash slave unit ditambah sebuah tripod dan reflektor payung, background standar berwarna merah dan biru plus layanan kilat, foto selesai dalam 1 jam.
Berarti sekarang terbukti, teori yang mengatakan bahwa jika ada teknologi yang baru, tidak serta-merta yang lama langsung mati. Seperti ketika televisi ditemukan, tidak secara otomatis radio tersingkirkan, ketika mobil mulai berseliweran, sepeda dan delman masih tetap setia melayani penggemarnya. Demikian pula ketika fotografi digital mulai memasyarakat, yang analog, walaupun relatif sedikit, masih tetap punya penggemar, saya salah satunya.
Sumber foto