total ping

Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DRAMA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: FAST FIVE















































"You only live once, lets do this!"

Perlu diakui kalau franchise film ini memang selalu menarik untuk dijadikan tontonan hiburan. Para lelaki terhibur dengan mobil-mobil keren dan para wanita cantik nan sexy yang selalu hadir disini. Lalu wanita juga tentunya terhibur dengan para pria macho yang hobi ngebut. Belum lagi ditambah soundtrack yang selalu bersemangat dan asik untuk didengar. Saya pribadi paling suka dengan film pertama yakni The Fast and The Furious (2001). Waktu itu yang ada dalam benak saya, 'Filmnya keren banget!'. Selanjutnya 2 Fast 2 Furious, ohh well..tidak ada Vin Diesel dalam jajaran cast, tentu saja penonton kecewa, filmnya sendiri pun menurut saya memang mengecewakan. Berlanjut lagi dengan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) yang memangkas semua para pemain lama, digantikan dengan pemain baru. Kali ini menurut saya lumayan saja, namun kehadiran sosok Han yang diperankan oleh aktor Korea; Sung Kang, cukup mencuri perhatian. Terakhir Fast & Furious (2009) boleh ditonton, jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Namun, siapa sangka kalau Fast Five kali ini merupakan yang terbaik dari semua yang ada, at least ini menurut pendapat saya.

Fast Five bercerita tentang Brian O'Connor (Paul Walker) dan pacarnya yang juga adik Dom, Mia (Jordana Brewster) sedang berada di Rio de Janiero, Brazil, untuk bertemu dengan teman lama mereka, Vince (Matt Schulze). Disana juga akhirnya mereka bertemu lagi dengan Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru melarikan diri dan berstatus buronan. Mereka bertiga akhirnya setuju dengan tugas baru yang diberikan oleh Vince, yakni membantu mafia no.1 di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida). Namun ada sesuatu yang janggal dalam misi itu, sampai akhirnya Dom memutuskan untuk melakukan misi 'bunuh diri' yang apabila berhasil dapat merubah hidup mereka semua. Untuk merealisasikan misi ini mereka tidak bisa hanya bertiga saja, mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama untuk membantu dan nantinya hasil yang didapatkan akan dibagi rata. Tentu saja jumlah yang mereka incar sangat amat besar, namun itu juga dibarengi dengan konsekuensi yang luar biasa besar pula. Apalagi Dom dan kawan-kawan sedang dicari FBI yang mengutus orang terbaik mereka, Luke Hobbs (Dwayne Johnson).

Apa sebenarnya alasan saya berani mengatakan kalau Fast Five adalah film terbaik dari keseluruhan franchise ini? Senang sekali rasanya melihat para pemain yang berkesan muncul dan reuni bersama dalam film ini. Jalan cerita yang ditawarkan kali ini memang bisa dibilang tidak istimewa, namun selipan humor yang ada sangat menghibur! Kehadiran 'The Rock' dalam film ini juga membuat keseluruhan isi film semakin meriah. Fast Five hadir pure sebagai entertainment movie, tidak perlu berfikir pada saat menonton, nikmati saja aliran adegan aksi yang ada. Banyak dialog yang membuat penonton tertawa, ini juga semakin menambah nilai plus. Mungkin ada beberapa orang, terutama para pria pecinta otomotif yang kecewa karena dalam Fast Five kali ini tidak menyajikan mobil-mobil super keren seperti sebelumnya. Namun bagi orang yang memang tidak terlalu mempermasalah itu, Fast Five benar-benar sebuah tontonan yang memuaskan apalagi jika disaksikan dalam layar lebar. Jadi tidak sabar menunggu sekuel selanjutnya, kabarnya Eva Mendes akan kembali bergabung, begitu juga dengan karakter Letty yang diperankan oleh Michelle Rodriguez yang sepertinya akan diceritakan ternyata belum atau tidak jadi mati. Well, we'll see..











REVIEW: HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 2















































"It all ends."

Usai sudah franchise yang luar biasa sukses selama hampir 14 tahun terakhir ini dan disukai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menjadi film Harry Potter ke-8 sekaligus menjadi film penghabisan. Bagi para penggemar setianya, sudah pasti ini membawa kesedihan yang luar biasa. Apalagi bagi mereka yang merasa 'tumbuh' bersama dengan Harry, Ron, dan Hermione. Meskipun saya bukan penggemar fanatik, saya pun merasa sedih karena tahun depan sudah tidak ada lagi hype Harry Potter yang seketika membuat bioskop penuh sesak. Tapi saya juga senang, karena film ini ditutup dengan sedemikian memuaskan oleh David Yates. Big thanks to him! Berhubung saya bukan pembaca novelnya, jadi saya tidak berhak memberikan komentar mengenai adaptasi yang ada, tapi saya puas sekali dengan apa yang saya tonton. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 merupakan salah satu film Harry Potter terbaik dari yang ada.

Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) melanjutkan misi terakhir dan yang paling menentukan guna mengalahkan Lord Voldermort (Ralph Fiennes). Hanya tinggal tiga buah Horcruxes yang belum diketemukan, apabila mereka bisa menemukan sisanya maka sudah pasti rencana akan berjalan lancar. Namun misi mereka menemukan letak Horcruxes diketahui oleh Voldertmort dan tentu saja pertempuran besar pun tak terhindari lagi. seluruh kekuatan dan pendukung Voldermort melawan para pendukung Harry Potter dari Hogwarts bertempur habis-habisan. Namun, yang pada akhirnya dapat mengalahkan Voldertmort hanyalah Harry seorang.

Diantara semua film Harry Potter yang ada, saya berani mengatakan kalau film ini lah yang memiliki visual efek paling jempolan. Luar biasa halus dan memanjakan mata! Part 2 juga merupakan film Harry Potter dengan adegan pertempuran yang paling intens dan menegangkan. Memang plot dari Part 2 ini tidak terlalu istimewa, namun adegan action tanpa henti yang disajikan disini sungguh membuat jantung berdetak lebih cepat, penonton seakan tidak sabar melihat Harry Potter vs. Lord Voldertmort, setelah menunggu sampai delapan film! Fiuhh..finally. Karakter Neville Longbottom (Matthew Lewis) merupakan karakter yang paling saya sukai dari film ini. Begitu juga pada saat terungkapnya asal usul Professor Severus Snape (Alan Rickman), menurut saya scene tersebut digambarkan dengan baik sekali, sangat menyentuh namun tidak cengeng.

Para pemain utama seperti Daniel, Rupert, dan Emma terlihat sekali memberikan performa yang juga 'habis-habisan'. Disamping penampilan mereka yang terlihat lebih mature, kualitas akting yang ada dalam Part 2 juga terasa lebih matang dan prima. Bukan hanya mereka, menurut saya seluruh cast yang terlibat dalam film ini sepertinya memang berusaha mati-matian membuat film ini menjadi film penutup yang baik. Dan mereka berhasil! Apalagi yang penonton harapkan? Ini sudah lebih dari cukup dan menurut saya David Yates sudah mampu memenuhi ekspektasi para penggemar. Saya pribadi sangat puas dengan film ini. Sedih juga rasanya menerima kenyataan kalau film ini akhirnya sudah selesai. Tapiii..well done! Overall, sangat amat memuaskan! :)











Selasa, 09 Agustus 2011

REVIEW: SOMETHING BORROWED















































"I thought guy like you would never like girl like me."

Something Borrowed diangkat dari sebuah novel percintaan karya Emily Giffin dengan judul yang sama. Layaknya sebuah film romantic comedy yang ringan, Something Borrowed juga tidak bermodalkan script luar biasa ataupun twist yang rumit, melainkan hanya menjadi sebuah tontonan yang manis. Saya pribadi sangat menyukai film ini, saya rasa para wanita lainnya juga akan menikmati alur cerita yang disuguhkan. Simple story, predictable ending, but very sweet and touching at the same time! Kehadiran Kate Hudson dan John Krasinski dengan kualitas akting mereka yang jempolan dalam film ini juga sangat membantu menambah poin plus pada keseluruhan film. Saya yang belum pernah membaca novelnya malah jadi ingin segera beli! :)

Rachel (Ginnifer Goodwin), seorang wanita yang biasa-biasa saja. Saat kuliah di jurusan hukum ia bertemu dengan seorang pria tampan bernama Dex (Colin Egglesfield). Mereka akrab satu sama lain dan diam-diam Rachel memendam perasaannya terhadap Dex. Akibat tidak percaya diri, Rachel hanya bisa pasrah ketika Dex 'direbut' oleh sahabatnya yang cantik dan sexy, Darcy (Kate Hudson). Sampai pada saat Dex dan Darcy sudah akan mempersiapkan pernikahan, Rachel malah tidak sengaja mengungkapkan perasaannya kepada Dex. Tidak disangka, Dex juga merasakan hal yang sama. Namun, Rachel berada pada keputusan yang sulit, apa ia harus memilih untuk memperjuangkan pria yang dicintainya namun menyakiti sahabat terbaiknya atau mundur agar sahabatnya bahagia namun dirinya lah yang menderita?

Beruntung Rachel memiliki sahabat yang baik dan sangat perduli dengannya. Ethan (John Krasinski) selalu memberikan masukan dan motivasi kepada Rachel, ia berharap kalau Rachel dapat mendorong Dex untuk membuat pilihan secepatnya karena Ethan tidak suka melihat sahabatnya seperti dipermainkan perasaannya oleh Dex. Namun, situasi yang terjadi memang rumit. Apalagi Rachel dan Darcy sudah bersahabat sejak kecil, meskipun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang tapi mereka sudah jelas sayang satu sama lain. Sulit memang ketika harus memilih antara cinta atau persahabatan.

Something Borrowed ternyata berhasil menjadi sebuah film romcom yang jauh lebih baik dari bayangan saya. Setiap karakter yang ada dalam film ini dimainkan dengan pas sekali oleh para aktor dan aktris yang ada. Saya sangat menikmati menonton film ini. Menurut saya cerita yang disajikan terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit apabila kita membayangkan ada di posisi sang pemeran utama. Secara keseluruhan menurut saya film ini lumayan berhasil menyajikan sebuah tontonan yang mudah dicerna namun tidak menjadi sebuah tontonan 'sampah'. Sisi komedi dan romantis didalamnya tersaji dengan seimbang. Satu hal lagi yang penting, John Krasinski semakin membuktikan kalau ia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Two tumbs up untuk aktingnya dalam film ini! Ohh well, mungkin saya tidak akan mengingat film ini sampai jangka waktu yang lama, namun saya tidak perduli karena saya sangat terkesan ketika selesai menontonnya. I enjoyed it so much! :)











Rabu, 20 Juli 2011

REVIEW: X-MEN FIRST CLASS
























"Before he was Professor X, he was Charles. Before he was Magneto, he was Erik."

X-Men First Class adalah awal dari semua film X-Men yang ada. Film ini digarap oleh sutradara terbaru favorit saya, Matthew Vaughn! Ini dia calon sutradara yang genius! Walau baru menyutradai empat judul film, tapi semuanya bagus. Kick-Ass (2010) tahun lalu menjadi salah satu film favorit saya. I really loveee that movie! Begitu tau kalau Vaughn yang menyutradarai X-Men dalam versi quasi-reboot (setengah reboot dan setengah prequel), tidak heran kalau saya langsung menaruh ekspektasi yang tinggi. Menunggu dan berharap kalau film ini akan tayang di Indonesia, namun sayang sekali tidak terwujud. Padahal saya sudah membayangkan akan melihat James McAvoy di layar lebar. Arghh! Sekarang saya dan para pecinta film lainnya harus berterima kasih kepada koneksi internet yang cepat dan dvd bajakan yang bikin kita tetap bisa menonton film-film terbaru Hollywood. Nanti kalau dvd original film ini sudah keluar pasti saya beli untuk masuk kedalam koleksi-koleksi saya.

Film ini bercerita tentang Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Leshnerr (Michael Fassbender) saat masih muda. Mereka adalah dua orang mutant yang memiliki kehidupan berbeda. Masa lalu Erik kelam, ketika ia masih kecil ibunya dibunuh didepan matanya oleh Sebastian Shaw (Kevin Bacon) guna memaksa Erik mengeluarkan kekuatan uniknya dalam mengendalikan besi. Erik tumbuh dalam suasana hati yang penuh amarah dan dendam pada Shaw. Berbeda dengan Charles sang telepatis yang tumbuh dengan baik di sebuah rumah besar, pada saat masih kecil ia bertemu dengan Raven (Jennifer Lawrence), seorang mutant yang bisa berubah-rubah bentuk. Mereka tumbuh bersama layaknya kakak beradik.

Setelah Charles menyandang gelar sebagai professor dalam bidang gen manusia, seorang detektif CIA bernama Moira (Rose Byrne) datang mencarinya dan meminta bantuannya mengungkap keanehan yang baru saja terjadi. Ternyata dalang dari masalah ini adalah Shaw, ia ingin mengaktifkan nuklir dan membuat peperangan terjadi. Dari misi ini Charles berkenalan dengan Erik yang sedang ingin membalas dendam pada Shaw. Mereka pun akhirnya akrab dan menjadi teman yang saling menolong. Para mutant muda pun dikumpulkan agar misi ini berjalan dengan sukses, karena Shaw juga didukung oleh para mutant hebat seperti Emma Frost (January Jones) dan Azazel (Jason Flemyng). Lalu mutant-mutant muda ini dilatih agar kekuatan mereka maksimal. Masing-masing juga mencari nama mutant yang cocok. Charles - Professor X, Erik - Magneto, Raven - Mystique, Hank – Beast (Nicholas Hoult), dan lain-lain.

Seru sekali rasanya melihat awal mula X-Men terbentuk. Kita bisa melihat bahwa ternyata sebelum menjadi musuh bebuyutan, Professor X dan Magneto dulunya bersahabat. Saya sudah menonton keempat film sebelumnya dan saya bisa mengatakan kalau X-Men First Class adalah yang terbaik diantara semua. Tidak mudah membuat sebuah reboot, apalagi dalam film besar yang memiliki fanbase dimana-mana seperti X-Men. Tetapi Matthew Vaughn canggih sekali meramu First Class menjadi tontonan 'first class'. Meskipun semua pemainnya bukanlah para pemain lawas X-Men seperti Hugh Jackman, Patrick Stewart, Ian McKellen, Halle Berry, dan Anna Paquin, namun X-Men First Class malah terasa lebih fresh dengan kehadiran pemeran baru yang menurut saya sangat pas dengan karakter yang diperankan. Pemilihan James McAvoy sebagai Professor X dan Michael Fassbender sebagai Magneto muda benar-benar sebuah keputusan yang sempurna. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain lagi yang bisa berperan sebagus dan secocok mereka.

Terus terang saya menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini. Namun siapa sangka kalau X-Men First Class berhasil melaju jauh melampaui ekspektasi saya. Film ini sangat menghibur dan seru! Sayang sekali kita tidak bisa menyaksikan di layar lebar, padahal entertaining movie seperti ini paling pas kalau disaksikan di bioskop. Gaya Vaughn dengan tempo cepat namun alur yang jelas serta selipan humor di sela film sangat asik untuk ditonton. Bahkan bagi yang belum pernah menonton film X-Men sebelumnya saya yakin juga pasti bisa sangat menikmati. Film yang memiliki durasi sekitar 132menit ini sama sekali tidak terasa panjang, mungkin karena saya terlalu excited! Haha.. Ohh yaa..kehadiran Hugh Jackman sebagai cameo dalam film ini lumayan konyol dan mengundang tawa! Saya sudah pasti tidak sabar menunggu film-film Matthew Vaughn selanjutnya. Two tumbs up!






Selasa, 19 Juli 2011

REVIEW: HELLO GHOST / HELLOWOO GOSEUTEU (헬로우 고스트)
























"Laugh and cry at the same time."

Cha Tae Hyun merupakan aktor Korea favorit saya! Memang sih wajahnya memang tidak setampan aktor Korea lainnya, namun justru tampang 'biasa' itulah yang menjadi daya tarik bagi saya. Apalagi kemampuan akting Cha Tae Hyun sudah tidak perlu diragukan lagi. Saya pertama kali mulai menyukai Tae Hyun sejak menonton film My Sassy Girl (2001), disana ia dipasangkan dengan aktris super cantik Korea, Jun Ji Hyun. Setelah itu saya selalu tertarik untuk menonton film-film yang dibintanginya seperti A Prince's First Love (TC Series - 2004), Sad Movie (2005), My Girl and I (2005), dan Speed Scandal (2008). I love this guy!

Melihat poster Hello Ghost saya sudah bisa menerka kalau film ini pasti komedi. Lihat saja wajah hantu-hantu yang lucu itu, tidak menyeramkan sama sekali. Memang rata-rata film yang dibintangi Tae Hyun sangat indentik dengan komedi dan sedikit sentuhan drama di dalamnya. Tipikal film Korea lainnya lah. Namun saya sungguh tidak menyangka kalau ending film ini mampu membuat saya menangis. Jadi siap-siap saja begitu mulai mencapai ending, saran saya siapkan tissue sebelum menonton. :)

Kang Sang Man (Cha Tae Hyun) hidup sendirian. Tidak ada orangtua. Tidak ada saudara. Tidak ada teman. Tidak ada siapapun. Sejauh yang bisa ia ingat, ia memang lahir di panti asuhan. Tidak ada yang mengadopsinya. Sampai ia dewasa seperti sekarang pun ia tetap sendirian, sepi. Ia berfikir kalau ia sudah tidak sanggup lagi dan jalan keluar terbaik dari permasalahannya adalah bunuh diri. Namun, Tuhan mungkin berkehendak lain. Setiap usaha bunuh diri yang dilakukannya pasti tidak berhasil. Ia selalu selamat, entah bagaimana caranya.

Suatu hari ia terbangun di rumah sakit setelah selamat dari pencobaan bunuh diri terakhir yang dilakukannya. Ia merasa ada yang aneh karena dirinya bisa mendengarkan suara-suara hantu. Parahnya lagi, ada 4 orang hantu yang mengikutinya kemanapun! Bahkan sampai pulang ke rumahnya. Hantu-hantu itu meminjam badan Sang Man untuk melakukan aktivitas yang ingin mereka lakukan. Seperti misalnya, hantu kedua seorang bapak-bapak berumur paruh baya yang adalah seorang maniak rokok. Sang Man yang bukan perokok menjadi merokok akibat pengaruh dari hantu yang meminjam fisiknya tersebut.

Tidak mudah bagi Sang Man untuk membantu para hantu itu serta memenuhi semua keinginan mereka. Sang Man merasa menderita. Namun sebenarnya dibalik kesengsaraan yang ia jalani kali ini, ia juga merasa hidupnya lebih berwarna dan seolah memiliki keluarga lengkap yang tidak pernah ia miliki selama ini. Apalagi ia juga mulai merasa jatuh cinta pada seorang perawat rumah sakit bernama Jung Yun Soo (Kang Hye Won).

Saya ingin sekali menceritakan isi film ini secara detail, namun tentu saja saya tidak boleh begitu. Saya ingin anda menonton film ini dan mendapatkan surprise yang saya maksud di akhir film. Percaya deh, kalau anda sudah tahu duluan bagaimana akhirnya, pasti tidak akan seru. I hate spoilers. Film ini membuat saya menangis dan teringat akan almarhum ayah saya. Bisa dibilang saya memang sangat sensitif dengan film yang bertemakan kehilangan dan kematian. Saya tidak bisa menahan emosi apabila menonton film-film seperti itu. Tapi Hello Ghost memang sebuah film yang seimbang. Porsi humor di sepanjang film dan porsi drama yang hanya secuil di akhir terasa sangat seimbang. Ahh..I miss my Dad.. :')






Selasa, 14 Juni 2011

REVIEW: BEASTLY
























"You have a year to make someone love you, or stay like this forever."

Beastly adalah sebuah cerita modern dari dongeng klasik 'Beauty and the Beast'. Sayangnya, kalau anda mengharapkan film ini seindah kartun versi Disney, anda akan kecewa. Sebetulnya ketika tahu bahwa kisah si cantik dan si buruk rupa ini akan dibuat versi live-action modern saya agak skeptis, satu hal yang tetap membuat saya penasaran ingin menonton film ini hanya Alex Pettyfer. Hehe.. Namun menurut saya para remaja mungkin masih akan terhibur dengan film ini, karena film ini termasuk ringan apalagi menyangkut cinta-cintaan remaja. Saya sendiri lumayan terhibur dengan adanya deretan soundtrack-nya yang memang bagus-bagus dan tentu saja lelucon Neil Patrick Harris, meskipun itu semua tidak terlalu membantu memberikan poin lebih pada keseluruhan film ini.

Kyle (Alex Pettyfer) adalah seorang pemuda yang tampan, kaya, dan populer, namun ia juga sombong dan banyak mengganggu anak-anak di sekolahnya. Ketika si penyihir, Kendra (Mary-Kate Olsen), merasa tersinggung dengan ejekan dari Kyle, ia akhirnnya menaruh mantra jahat pada Kyle yang membuatnya menjadi buruk rupa. Satu-satunya cara agak ketampanannya kembali seperti semula adalah menemukan cinta sejati dalam waktu satu tahun. Jika Kyle tidak dapat menemukan perempuan yang betul-betul menerima dan mencintainya apa adanya dalam kurun waktu tersebut, ia akan selamanya menjadi buruk rupa.

Ketika sang ayah tahu kalau wajah anaknya menjadi seperti itu dan malu kalau sampai diketahui orang lain akhirnya Kyle diasingkan ke sebuah rumah terpencil bersama seorang guru privat yang buta (Neil Patrick Harris) dan pembantu rumah tersebut (Lisa Gay Hamilton). Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan Lindy (Vanessa Hudgens), teman sekelasnya yang tidak populer. Lindy yang mempunyai masalah keluarga kemudian mulai menarik perhatian Kyle dan perlahan Kyle mulai jatuh cinta padanya. Lindy sebetulnya juga mempunyai perasaan khusus pada Kyle. namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Lindy mau menerima Kyle yang buruk rupa seperti sekarang?

Beastly sebetulnya memang dibuat Daniel Barnz sesuai dengan cerita dongengnya, lengkap dengan nuansa modern dan soundtrack anak muda yang 'in'. Namun entah kenapa script film ini sangat biasa. Alex Pettyfer sebagai salah satu aktor yang namanya sedang cemerlang di kancah Hollywood memang bermain lumayan baik dalam film ini, namun sayang tidak adanya chemistry dengan Vanessa Hudgens menjadi masalah utama film ini. Film bergenre romance ini memang semestinya menceritakan sebuah cerita cinta klasik adaptasi dongeng fantasi, namun apa yang dihasilkan Beastly terasa kurang romantis karena tidak adanya chemistry antara pasangan pemeran utamanya itu. Satu hal lagi, Alex Pettyfer didandani jelek seperti itu saja masih tetap terlihat keren tuh! Haha.. Kalau sekedar untuk menonton iseng karena tidak ada lagi film bagus di bioskop atau mau melihat Alex Pettyfer/Vanessa Hudgens di layar lebar yaa tidak masalah, tapi menurut saya nonton di DVD juga sudah cukup. :)






Sabtu, 09 April 2011

REVIEW: LOVE & OTHER DRUGS
























"You meet thousands of people and none of them really touch you. And then you meet one person and your life is changed forever."

Love & Other Drugs disutradarai oleh Edward Zwick. Salah satu film karya Zwick sebelumnya yang saya suka adalah Blood Diamond (2006), diperankan Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou. Selain itu, Zwick juga pernah menyutradai film The Last Samurai (2003) dan Defiance (2008). Sepertinya kali ini Edward Zwick putar haluan dan memilih untuk menggarap film bergenre komedi romantis. Menggandeng pasangan Hollywood yang sedap dipandang mata dan sedang naik daun, Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway. Pilihan yang tepat sekali menurut saya. Sewaktu pertama kali melihat promo film ini; poster dan trailer, saya langsung menyimpulkan dengan tiga kata: 'Hot. Hot. Hot.'!

Ya, Love & Other Drugs memang menyuguhkan banyak adegan seks, bahkan Anne Hathaway pun tampil nude beberapa kali dalam film ini. Saya sendiri sudah tidak heran dengan penampilan 'polos' Anne, karena sebelumnya memang ia sudah sering begitu. Tapi, trust my words girls; Jake Gylenhaal kelihatan ganteng banget disini! Beda! Adil sekali, para cowok bisa puas cuci mata melihat Anne Hathaway yang super sexy, cewek pun puas lihat si charming Jake Gylenhaal. Semua senang. Hehe.. Tapi dibalik semua unsur-unsur yang menonjolkan sisi vulgar, sebetulnya film ini memang bagus juga untuk ukuran sebuah romantic comedy. Tidak istimewa sih, tapi lumayan sebagai tontonan waktu luang. Sweet. Sexy.

Jamie Randall (Jake Gylenhaal) adalah seorang playboy yang baru saja pindah pekerjaan dari seorang sales di toko elektronik menjadi sales obat Viagra keluaran perusahaan farmasi besar, Pfizer. Bermodalkan ketampanan dan kharismanya tentu saja Jamie dengan mudah merayu para perawat di rumah sakit agar mengizinkannya menaruh sample obat. Ia bahkan berhasil membujuk Dr. Stan Knight (Hank Azaria) agar mau membantunya. Tidak disengaja pada saat menemani Dr. Knight praktek, Jamie bertemu dengan Maggie Murdock (Anne Hathaway). Maggie adalah gadis muda cantik yang menderita penyakit parkinson stage I. Jamie pun langsung suka pada Maggie dan mengejarnya mati-matian. Sebelumnya, menggaet wanita bukanlah hal sulit bagi Jamie, bahkan para wanita gampang saja diajaknya 'tidur'. Mendekati Maggie tidak mudah, namun dengan sedikit usaha akhirnya mereka pun berujung di 'ranjang'.

Awalnya hubungan Jamie dan Maggie murni hanya sebatas partner seks saja, mereka berdua pun telah menyepakati hal itu. Namun lambat laun perasaan mulai timbul di hati Jamie, ia yang selama ini tidak pernah perduli dengan siapapun merasa terlanjur perduli dengan Maggie, ia jatuh cinta pada gadis itu. Maggie yang tidak percaya diri karena penyakit parkinson yang dideritanya ketakutan ketika tahu kalau Jamie mulai jatuh cinta padanya, ia malah bertingkah aneh dan menjauh. Sebelumnya memang Maggie pernah punya pengalaman buruk dalam percintaan, jadi bisa dibilang ia takut untuk memulai lagi. Jamie tentu tidak putus asa, rasa yang sudah terlanjur ada dalam hatinya tidak mungkin ia hapus begitu saja. Ia pun berusaha mengambil hati Maggie dan menyakinkannya kalau ia menerima Maggie apa adanya, meski Maggie sakit sekalipun.

Kalau membaca sinopsisnya memang terkesan klise, tapi Love & Other Drugs beruntung punya Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway yang bermain lepas tanpa beban. Adegan-adegan intim dalam film ini pun mereka lewati dengan chemistry yang terjalin dengan sangat baik, tidak kaku sama sekali. Para pemeran lainnya seperti Hank Azaria, Josh Gad, Oliver Platt, dll juga bermain baik. Beberapa komedi yang diselipkan pada scenes kakak beradik Jamie dan Josh Randall juga sangat lucu dan membuat saya tertawa. Saya tidak membanggakan jalan ceritanya, menurut saya terlalu biasa. Tapi saya lumayan senang dengan penggarapan film ini yang menurut saya 'unik', menggabungkan sebuah sisi romantisme dengan erotisme tapi tanpa terkesan menjijikkan atau murahan. Hal ini berhubungan dengan poin yang tadi telah saya sebutkan, pemeran utama dalam film ini memang jempolan. Tidak ada salahnya menonton film ini sebagai hiburan semata, atau paling tidak cuci mata. :p