total ping

Tampilkan postingan dengan label FANTASY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FANTASY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 2















































"It all ends."

Usai sudah franchise yang luar biasa sukses selama hampir 14 tahun terakhir ini dan disukai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menjadi film Harry Potter ke-8 sekaligus menjadi film penghabisan. Bagi para penggemar setianya, sudah pasti ini membawa kesedihan yang luar biasa. Apalagi bagi mereka yang merasa 'tumbuh' bersama dengan Harry, Ron, dan Hermione. Meskipun saya bukan penggemar fanatik, saya pun merasa sedih karena tahun depan sudah tidak ada lagi hype Harry Potter yang seketika membuat bioskop penuh sesak. Tapi saya juga senang, karena film ini ditutup dengan sedemikian memuaskan oleh David Yates. Big thanks to him! Berhubung saya bukan pembaca novelnya, jadi saya tidak berhak memberikan komentar mengenai adaptasi yang ada, tapi saya puas sekali dengan apa yang saya tonton. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 merupakan salah satu film Harry Potter terbaik dari yang ada.

Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) melanjutkan misi terakhir dan yang paling menentukan guna mengalahkan Lord Voldermort (Ralph Fiennes). Hanya tinggal tiga buah Horcruxes yang belum diketemukan, apabila mereka bisa menemukan sisanya maka sudah pasti rencana akan berjalan lancar. Namun misi mereka menemukan letak Horcruxes diketahui oleh Voldertmort dan tentu saja pertempuran besar pun tak terhindari lagi. seluruh kekuatan dan pendukung Voldermort melawan para pendukung Harry Potter dari Hogwarts bertempur habis-habisan. Namun, yang pada akhirnya dapat mengalahkan Voldertmort hanyalah Harry seorang.

Diantara semua film Harry Potter yang ada, saya berani mengatakan kalau film ini lah yang memiliki visual efek paling jempolan. Luar biasa halus dan memanjakan mata! Part 2 juga merupakan film Harry Potter dengan adegan pertempuran yang paling intens dan menegangkan. Memang plot dari Part 2 ini tidak terlalu istimewa, namun adegan action tanpa henti yang disajikan disini sungguh membuat jantung berdetak lebih cepat, penonton seakan tidak sabar melihat Harry Potter vs. Lord Voldertmort, setelah menunggu sampai delapan film! Fiuhh..finally. Karakter Neville Longbottom (Matthew Lewis) merupakan karakter yang paling saya sukai dari film ini. Begitu juga pada saat terungkapnya asal usul Professor Severus Snape (Alan Rickman), menurut saya scene tersebut digambarkan dengan baik sekali, sangat menyentuh namun tidak cengeng.

Para pemain utama seperti Daniel, Rupert, dan Emma terlihat sekali memberikan performa yang juga 'habis-habisan'. Disamping penampilan mereka yang terlihat lebih mature, kualitas akting yang ada dalam Part 2 juga terasa lebih matang dan prima. Bukan hanya mereka, menurut saya seluruh cast yang terlibat dalam film ini sepertinya memang berusaha mati-matian membuat film ini menjadi film penutup yang baik. Dan mereka berhasil! Apalagi yang penonton harapkan? Ini sudah lebih dari cukup dan menurut saya David Yates sudah mampu memenuhi ekspektasi para penggemar. Saya pribadi sangat puas dengan film ini. Sedih juga rasanya menerima kenyataan kalau film ini akhirnya sudah selesai. Tapiii..well done! Overall, sangat amat memuaskan! :)











Selasa, 14 Juni 2011

REVIEW: BEASTLY
























"You have a year to make someone love you, or stay like this forever."

Beastly adalah sebuah cerita modern dari dongeng klasik 'Beauty and the Beast'. Sayangnya, kalau anda mengharapkan film ini seindah kartun versi Disney, anda akan kecewa. Sebetulnya ketika tahu bahwa kisah si cantik dan si buruk rupa ini akan dibuat versi live-action modern saya agak skeptis, satu hal yang tetap membuat saya penasaran ingin menonton film ini hanya Alex Pettyfer. Hehe.. Namun menurut saya para remaja mungkin masih akan terhibur dengan film ini, karena film ini termasuk ringan apalagi menyangkut cinta-cintaan remaja. Saya sendiri lumayan terhibur dengan adanya deretan soundtrack-nya yang memang bagus-bagus dan tentu saja lelucon Neil Patrick Harris, meskipun itu semua tidak terlalu membantu memberikan poin lebih pada keseluruhan film ini.

Kyle (Alex Pettyfer) adalah seorang pemuda yang tampan, kaya, dan populer, namun ia juga sombong dan banyak mengganggu anak-anak di sekolahnya. Ketika si penyihir, Kendra (Mary-Kate Olsen), merasa tersinggung dengan ejekan dari Kyle, ia akhirnnya menaruh mantra jahat pada Kyle yang membuatnya menjadi buruk rupa. Satu-satunya cara agak ketampanannya kembali seperti semula adalah menemukan cinta sejati dalam waktu satu tahun. Jika Kyle tidak dapat menemukan perempuan yang betul-betul menerima dan mencintainya apa adanya dalam kurun waktu tersebut, ia akan selamanya menjadi buruk rupa.

Ketika sang ayah tahu kalau wajah anaknya menjadi seperti itu dan malu kalau sampai diketahui orang lain akhirnya Kyle diasingkan ke sebuah rumah terpencil bersama seorang guru privat yang buta (Neil Patrick Harris) dan pembantu rumah tersebut (Lisa Gay Hamilton). Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan Lindy (Vanessa Hudgens), teman sekelasnya yang tidak populer. Lindy yang mempunyai masalah keluarga kemudian mulai menarik perhatian Kyle dan perlahan Kyle mulai jatuh cinta padanya. Lindy sebetulnya juga mempunyai perasaan khusus pada Kyle. namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Lindy mau menerima Kyle yang buruk rupa seperti sekarang?

Beastly sebetulnya memang dibuat Daniel Barnz sesuai dengan cerita dongengnya, lengkap dengan nuansa modern dan soundtrack anak muda yang 'in'. Namun entah kenapa script film ini sangat biasa. Alex Pettyfer sebagai salah satu aktor yang namanya sedang cemerlang di kancah Hollywood memang bermain lumayan baik dalam film ini, namun sayang tidak adanya chemistry dengan Vanessa Hudgens menjadi masalah utama film ini. Film bergenre romance ini memang semestinya menceritakan sebuah cerita cinta klasik adaptasi dongeng fantasi, namun apa yang dihasilkan Beastly terasa kurang romantis karena tidak adanya chemistry antara pasangan pemeran utamanya itu. Satu hal lagi, Alex Pettyfer didandani jelek seperti itu saja masih tetap terlihat keren tuh! Haha.. Kalau sekedar untuk menonton iseng karena tidak ada lagi film bagus di bioskop atau mau melihat Alex Pettyfer/Vanessa Hudgens di layar lebar yaa tidak masalah, tapi menurut saya nonton di DVD juga sudah cukup. :)






Jumat, 18 Maret 2011

REVIEW: HEREAFTER
























"What happen after we die?"

Ketika Clint Eastwood mengarahkan sebuah film, ia bukan hanya sekedar membuat film, ia membuat karya seni. Ia mempersiapkan strategi khusus pada setiap aspek dalam proses pembuatan filmnya: pemandangan, musik, akting, dan cerita. Ini sangat jelas bahwa setiap detail dirancang dengan seksama. Film terbarunya, Hereafter, mengeksplorasi tentang kematian dan apa yang terjadi setelah kita binasa. Di tangan sutradara lain yang standarnya dibawah Eastwood, mungkin materi film ini akan divisualisasinya menjadi sebuah film yang cheesy. Tapi tidak di tangan Eastwood, meskipun ini merupakan tema baru baginya, film ini menjadi bermakna apalagi didukung kualitas akting aktor sekelas Matt Damon.

Hereafter bercerita tentang tiga individu berbeda yang masing-masing sedang memiliki masalah yang berhubungan dengan kematian. Pertama, George (Matt Damon) yang mampu berbicara dengan orang mati. Mungkin di atas kertas kemampuannya itu terbilang keren, namun cukup sulit bagi George untuk memiliki hubungan normal karena hal itu. Dia sekarang malah memilih untuk menjadi buruh pabrik dengan gaji yang kecil. Dalam pikirannya, pekerjaannya saat ini lebih baik dan tidak membebani dirinya. Ada juga seorang wanita Perancis, Marie Lelay (Cecile de France) yang entah bagaimana terselamatkan dari Tsunami. Ia memiliki 'penglihatan' setelah bencana itu, namun teman kerjanya malah tidak percaya dan menganggapnya gegar otak atau bicara omong kosong. Kita juga diperkenalkan dengan sepasang anak kembar, Marcus dan Jason (Frankie dan George McLaren) yang mencoba untuk menjaga diri mereka sendiri karena ibu mereka pemabuk dan tidak dapat diandalkan.

Ketiganya menceritakan tiga kisah yang berbeda, tetapi benang merahnya adalah kematian. Marie berhasil lolos dari kematian dan semenjak saat itu ia malah melihat hal-hal aneh. Si kembar malah secara langsung melihat kematian karena ibu mereka yang pemabuk. George memiliki karunia berbicara dengan orang mati, atau ia lebih suka menyebutnya, kutukan. Orang selalu mengetuk pintu dan mengganggu dia untuk membacanya. Dia selalu harus memberitahukan pada mereka kalau ia sudah tidak melakukan hal itu lagi. Bagi George, ia ingin hidup normal dengan manusia, bukan dikelilingi oleh banyaknya orang yang sudah mati.

Clint Eastwood berurusan dengan topik berat disini, namun Hereafter tidak terkesan murahan, dipaksakan, atau menggurui. Jika mengangkut kematian, terserah pada individu yang menonton, bagaimana mereka menganggap film ini. Apa yang mereka percayai atau tidak. Meskipun Matt Damon adalah bintang utama dalam film ini, namun secara keseluruhan film ini bukan hanya tentang dirinya. Ini lebih tentang beberapa karakter kuat dalam film dan bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Hereafter lebih minitikberatkan pada karakter-karakter kuat didalamnya, emosi, dan harapan. Jadi jangan berharap anda akan melihat hantu atau menduga-duga kapan hantu-hantu itu akan muncul. Ini bukan film horror, ini drama. Saya pribadi menyukai film ini. Memang tidak lebih bagus dari The Sixth Sense (1999), tapi cukup berhasil jika dibandingkan film sejenis lainnya. Opening scene tentang Tsunami di Thailand berhasil membuat saya sedikit bergidik ngeri.






Kamis, 13 Januari 2011

REVIEW: LET ME IN
























Owen: Are you a vampire?
Abby:
I need blood to live.

Film ini merupakan sebuah adaptasi dari film horror sukses asal Swedia 'Let The Right One In' (2008) karya Thomas Aldredson. Kali ini sang sutradara Matt Reeves (Cloverfield) dinyatakan banyak pihak berhasil membuat sebuah adaptasi yang baik dan setia pada versi aslinya. Saya sendiri belum menonton 'Let The Right One In', jadi saya tidak bisa berkomentar tentang hal tersebut. Namun, terus terang saja yang awalnya membuat saya sangat tertarik untuk menonton adalah pasangan pemeran utama dalam film ini, Chloe Moretz dan Kodi Smit-McPhee! Saya suka keduanya, menurut saya dua aktor cilik yang beranjak remaja ini karirnya di Hollywood akan bertambah cemerlang tahun demi tahun. Dari segi cerita menurut saya 'Let Me In' bisa dibilang berbeda dari horror kebanyakan. Sisi romantika sangat kental disini, jadi penonton tidak akan terlalu ditakuti tapi disuguhkan sebuah jalan cerita yang lebih berbobot untuk ukuran horror.

Bertempat di sebuah kota kecil di New Mexico pada sekitar tahun 1983. Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah seorang anak laki-laki yang hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah kompleks apartemen sederhana. Ibu dan ayahnya sedang berjuang melalui perceraian yang buruk. Di sekolah nasib Owen lebih buruk, Kenny (Dylan Minnette) dan gerombolannya selalu mengganggu Owen, bahkan dengan cara yang keterlaluan. Mungkin dengan apa yang dialaminya di rumah dan sekolah, Owen tumbuh menjadi bocah yang sedikit 'aneh'. Tiba-tiba Owen kedatangan tetangga di apartemennya, seorang gadis seumurannya bernama Abby (Chloe Moretz) yang pindah ke tempat itu bersama ayahnya (Richard Jenkins). Abby juga tak kalah aneh dengan Owen, ia mempunyai bau khas yang menurut Owen 'lucu', ia juga lebih sering muncul pada malam hari; itu pun tanpa mengenakan alas kaki. Mungkin karena sama-sama 'aneh', dengan cepat Owen dan Abby menjadi akrab satu sama lain. Namun semakin berjalannya waktu, Owen menyadari kalau teman barunya ini bukanlah manusia biasa, ia pun sadar betul kalau perasaannya pada Abby yang sudah mulai bertambah kuat ini sangat mungkin akan mengancam nyawanya.

Tentu bukan spoiler kalau saya mengatakan kalau Abby adalah vampire. Kebanyakan orang pasti ingin menyaksikan 'Let Me In' dengan harapan akan menyaksikan sebuah film horror tentang vampire yang menegangkan. Saya hanya ingin memperjelas, 'Let Me In' memang lumayan menegangkan, tapi ini tidak seperti film horror yang biasanya. Jalan cerita sangat diperhatikan dan sisi romantisme sangat terasa disini, sehingga kalau anda mengharapkan banyak dikagetkan dan akan takut setengah mati pastinya anda akan kecewa. Film seperti ini bukanlah film favorit saya, karena entah kenapa menurut saya tema ceritanya agakcheesy. Tapi saya tetap memberikan jempol kepada dua bintangnya, Moretz dan Smit-McPhee yang tampil sangat baik dalam film ini. Setelah terakhir tampil sangat mengesankan sebagai Hit Girl dalam film 'Kick-Ass' (2010), Moretz tampil apik lagi dalam film ini. Begitu juga dengan Smit-McPhee yang terakhir kalau saya sangat terkesan dengan aktingnya yang luar biasa dalam 'The Road' (2009). Menurut saya mereka adalah kombinasi yang sempurna dalam 'Let Me In', yang berhasil membuat saya sebagai seseorang yang kurang menyukai genre seperti ini pun paling tidak masih bisa menikmati dari awal hingga akhir film. Intinya, film ini bukanlah film vampire biasa. Hehehe..





Kamis, 09 Desember 2010

REVIEW: TANGLED 3D




























"I know not who you are, nor how I came to find you, but may I just say... Hi. How you doin'?"


Disney's back with their classic CGI animation! Yayyy! Akhirnya Disney kembali membuat film animasi klasik yang sudah dirindukan banyak orang. Tidak hanya anak kecil saja yang menyukai animasi seperti ini, orang dewasa pun pasti akan terhibur dengan jalan cerita unik, kisah yang manis, lelucon-lelucon lucu, gambar nan indah, serta alunan lagu sepanjang film yang enak didengar. Menurut saya Tangled sukses menyembuhkan kerinduan penonton akan film animasi musikal yang dulu sangat diminati seperti Beauty and the Beast, Cinderella, Snow White, dll. Putri Rapunzel mungkin belum seterkenal Putri Salju, tapi saya yakin karakternya akan gampang disukai anak-anak perempuan. Dengan rambut pirang super panjang, serta wajah cantik dan suara indah, pastinya Putri Rapunzel akan menjadi idola baru.


Pada suatu hari, seorang nenek tua jahat bernama Mother Gothel (Donna Murphy) memiliki tanaman ajaib yang dapat membuatnya tetap terlihat awet muda dan cantik. Namun, tanaman tersebut berhasil ditemukan dan digunakan untuk menyembuhkan sang Ratu dan sihir tersebut meresap ke anaknya yang belum lahir. Gothel lalu mencuri bayi tersebut dan mengangkatnya menjadi anaknya sendiri, memanggilnya dengan nama Rapunzel (Mandy Moore) dan menempatkanya dalam sebuah tempat rahasia dan tidak memperbolehkan Rapunzel meninggalkan tempat tersebut sama sekali. Setiap tahun pada hari ulang tahunnya, orang tua Rapunzel selalu menyalakan lentera dan menerbangkannya ke langit. Rapunzel selalu melihat dari kamarnya dan sangat ingin melihat secara langsung. Pada ulang tahun ke-18, ia meminta izin pada Mother Gothel untuk pergi ke dunia luar, namun tidak diizinkan. Tiba-tiba Flynn Rider (Zachary Levi) tidak sengaja menemukan tempat rahasia Rapunzel saat sedang melarikan diri. Mereka pun berteman dan mempunyai kesepakatan untuk saling membantu satu sama lain sampai akhirnya jatuh cinta.


Sebuah animasi yang sangat baik. Saya menonton versi 3D, akan tetapi menurut saya efek 3D-nya tidak terlalu istimewa. Menonton versi 2D-nya pun rasanya sudah bagus karena memang latar belakang pemandangan dan warna dalam animasi ini indah sekali. Terlebih pada adegan lentera terbang, WOW ~ sangat amat indah! Magical moment! Soundtrack disini juga asik untuk dinikmati apalagi didukung dengan suara Mandy Moore yang merdu. Tangled adalah sebuah animasi yang cocok untuk ditonton anak-anak, tentu saja orang dewasa yang memang menyukai animasi boleh menonton film ini. Beberapa lelucon dan karakter disini; seperti si kuda dan si bunglon, sungguh membuat saya terbahak-bahak. Secara keseluruhan, Disney berhasil membawa kembali nuansa animasi klasik yang sepertinya sekarang sudah mulai terlupakan. Great classic musical animation from Disney! :)






Selasa, 07 Desember 2010

12th JIFFEST 2010 - REVIEW: SCOTT PILGRIM VS. THE WORLD




























Scott Pilgrim vs. The World - USA


Thank you so much JiFFest for showing this movie!!! Senang sekali rasanya begitu tahu kalau film Scott Pilgrim vs. The World ditayangkan di JiFFest tahun ini, sekaligus bangga karena ini adalah penayangan perdana di Asia setelah sebelumnya hanya tayang di Amerika. Film ini merupakan salah satu film tahun ini yang saya tunggu-tunggu, setelah melihat trailernya saya tertarik karena sepertinya akan sangat fun sekali menyaksikan film yang dikemas seperti video game ini di layar lebar. Tetapi harapan untuk menyaksikan di bioskop sempat pupus karena memang film seperti ini penontonnya sangat segmented dan tentu saja sedikit kemungkinan untuk dapat ditayangkan disini. Maka, terima kasih untuk JiFFest yang telah berhasil menayangkannya, beruntung rasanya saya bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan di layar lebar. Memang ternyata setelah saya tonton, ini bukanlah film terhebat tahun ini, bukan juga film terfavorit saya, tetapi sensasi yang terjadi pada saat saya menonton film ini terasa begitu unik dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Unique! Seru!


Diangkat dari enam segmen graphic novel Scott Piglrim karya Bryan Lee O'Malley, ceritanya sangat simple dan to the point. Seorang lelaki bertemu dengan wanita impiannya, lalu ia berusaha keras untuk mendapatkan wanita tersebut. Lelaki itu adalah Scott Pilgrim (Michael Cera), seorang gitaris dari band Sex Bob-Omb yang berpenampilan ala kutu buku alias nerd. Ia sedang berpacaran dengan gadis remaja keturunan Cina, Knives Chau (Ellen Wong). Scott terlihat sangat santai dan menikmati hidupnya sampai suatu hari ia bertemu dengan Ramona Flowers (Mary Elizabeth Winstead), gadis berambut ungu yang selama ini ada di mimpinya. Scott menjadi terobsesi dan mengandalkan segala cara untuk dapat berkenalan dengan Ramona. Ia berhasil, mereka menjadi sangat dekat. Tapi untuk berpacaran dengan Ramona, ia harus berduel dengan ketujuh mantan pacar Ramona. Mau tidak mau Scott Pilgrim pun harus meladeni duel tersebut agar bisa mendapatkan kekasih yang diimpikannya. Tapi selain enam mantan pacar Ramona tersebut, ia juga masih harus berurusan dengan pacarnya sendiri, Knives Chau.


Sang sutradara, Edgar Wright (Shaun of the Dead, Hot Fuzz) berhasil membawa sesuatu yang sangat orisinil ke dalam film ini. Para comic books lover dan gamers pasti akan terpesona dengan film ini. Edgar sangat konsisten dengan apa yang dibuatnya, banyak sekali aspek-aspek komikal di setiap scene, begitu juga dengan aspek dalam game yang sepertinya sangat kental sekali. Sebuah resiko yang berani diambil oleh Edgar Wright, karena dengan dibuat setia seperti komik dan game, Scott Pilgrim vs. The World tentu saja bukalah sebuah film yang dapat dinikmati semua pihak. Pastinya akan ada yang memuji setengah mati, tapi ada juga yang akan mencerca habis-habisan. Para pemain dalam film ini cocok dengan karakter masing-masing. Michael Cera terlihat seperti ..well.. Michael Cera. Saya penasaran juga kapan Cera akan mengambil peran-peran lain yang berbeda dengan film yang pernah ia mainkan sebelumnya, karena sepertinya selama ini Cera selalu mengambil peran dengan karakter itu-itu saja. Btw, seperti yang sudah saya tulis diatas, Scott Pilgrim vs. The World bukanlah film terfavorit saya tahun ini, tetapi tidak mungkin kalau saya tidak memuji ide orisinil yang dibawa Edgar Wright dalam film ini. Visual efek terlihat mengagumkan, soundtrack juga asik sekali, jokes yang ada sangat menghibur, belum lagi para cameo seperti Chris Evans, Kieran Culkin, Brandon Routh, Alison Pill, Mark Webber, Jason Schwartzman, dll yang sangat menyegarkan mata. Menonton film ini saya seperti sedang menonton pertandingan seru dalam sebuah video game sambil sesekali membaca komik. :)







Kamis, 01 Juli 2010

REVIEW: THE TWILIGHT SAGA: ECLIPSE
























"You wouldn't have to change for me Bella. I'm in love with you, and I want you to pick me instead of him."


Sekuel ketiga dari The Twilight Saga pastinya sudah ditunggu-tunggu oleh para Twi-Hards; sebutan untuk para fans berat Twilight. Buktinya di hari pertama kemarin, film ini berhasil membuat tiket di hampir seluruh bioskop sold out sejak siang. Mungkin akan berlangsung sampai dua minggu kedepan. Tidak heran, karena para Twi-Hards memang sangat loyal dan akan membela mati-matian semua kritik buruk tentang film dari franchise ini. Novelnya memang sangat menempel di hati para penggemarnya, begitu pula bagi saya. Novel Twilight series yang ditulis oleh Stephenie Meyer bisa dikatakan novel gabungan percintaan dan action yang sempurna. Akan tetapi, saya bukan fans dari film-film Twilight, entah kenapa semua visualisasinya hancur di mata saya. Film pertama tidak sesuai dengan ekspektasi tinggi saya, film kedua mengecewakan, kali ini, Eclipse yang diangkat dari buku ketiga ternyata memberikan surprise disaat saya sudah jenuh dengan film-film Twilight. Eclipse selangkah lebih baik jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya.

Cerita Eclipse masih berputar-putar antara Isabella Swan (Kristen Stewart), Edward Cullen (Robert Pattinson), dan Jacob Black (Taylor Lautner). Semua menjadi rumit bagi Bella karena dalam film ini diceritakan kalau ia mulai menyadari kalau ia juga mencintai Jacob. Akan tetapi ia merasa kalau rasa cintanya pada Edward lebih besar. Seperti seorang wanita yang sedang kebingungan karena mencintai dua pria sekaligus, Bella pun gusar dan tidak ingin kehilangan keduanya. Di lain pihak, keselamatan Bella sedang terancam karena vampir Victoria (Bryce Dallas Howard) masih sakit hati akan kematian kekasihnya James yang dulu dimusnahkan Edward. Ia ingin membunuh Bella guna membalas dendam, ia ingin Edward merasakan sakitnya ditinggal oleh orang yang dicintainya. Segerombolan tentara vampir baru yang diketuai Riley (Xavier Samuel) juga berencana untuk menghabisi keluarga Cullen. Kisah hidup Jasper (Jackson Rathbone) dan Rosalie Hale (Nikki Reed) juga mulai terungkap.

Sutradara Eclipse, David Slade pernah menyutradarai film 30 Days of Night (2007) yang juga bertemakan vampir. Mungkin itulah sebabnya Eclipse terlihat ada kemajuan dalam segi action. Segi CGI pun terlihat lebih baik, transformasi para manusia serigala terlihat lebih nyata. Namun sangat disayangkan karena film ini terasa sangat bertele-tele, banyak dialog tidak penting yang terkesan dipanjang-panjangkan. Saya merasa sedikit bosan ketika menonton. Untungnya banyak juga diselipkan dialog-dialog yang lumayan mengundang tawa. Kristen Stewart terlihat lebih cantik dalam film ini, padahal ia menggunakan rambut palsu selama proses syuting karena rambutnya sekarang pendek sehabis syuting film The Runaways bersama Dakota Fanning. Robert Pattinson terlihat sama saja, putih seperti memakai tepung di wajah, bahkan ada satu scene dimana bagian leher bawah masih berwarna kecoklatan, oppsss..bagian make-up sepertinya kurang teliti. Taylor Lautner masih memamerkan badan sixpacknya dan seperti tidak takut masuk angin. Dakota Fanning hanya muncul sebentar dan tidak terlalu istimewa dalam Eclipse. Secara keseluruhan film ketiga dari Twilight ini memang menunjukkan sedikit kemajuan dibandingkan dua film sebelumnya. Mungkin fans beratnya akan sangat menyukai film ini, apalagi didalamnya ada banyak adegan ciuman antara Jacob - Bella - Edward (which was sooo weird for me). Jadi kalau anda termasuk Twi-Hards dan mencintai novel serta menikmati film pertama dan keduanya, silahkan tonton Eclipse, I bet you will love it! Namun jika anda bukan fans Twilight, mungkin sebaiknya lewatkan saja film ini. Cukup sewa dvd atau tidak usah menonton sama sekali. :)





Kamis, 17 Juni 2010

REVIEW: TOY STORY 3




























"What are you going to do with these old toys?"

Pixar never ever dissapointed you! Tanpa keraguan, Toy Story 3 sangat amat akan menjadi 3 besar film favorit saya tahun ini. Saya tumbuh dewasa dengan animasi ini, menyaksikan Toy Story (1995) pada waktu saya berumur 7 tahun dan Toy Story 2 (1999) di usia 11 tahun membuat animasi Toy Story menjadi bagian dalam masa kecil saya dan juga merupakan satu-satunya animasi yang menempel lekat dalam ingatan saya. Membayangkan mainan kesayangan kita ternyata bisa 'hidup' dan bermain selama kita tidak ada sangat menyenangkan sekali! Saya berangkat menonton film ini di hari pertama penayangannya dengan ekspektasi yang tinggi, sampai-sampai saya rela membeli tiket lebih mahal di premiere studio agar merasa lebih nyaman. Saya berharap banyak pada sekuel ketiga Woody dan kawan-kawan ini. Menunggu 10 tahun untuk menyaksikan sekuel ketiganya bukanlah waktu yang singkat. Namun penantian itu tidak sia-sia, ekspektasi saya yang tinggi ternyata mampu terpuaskan dan Toy Story 3 was a perfect conclusion to one of the best animation trilogies of all time!













Diceritakan kalau Andy (John Morris) sekarang sudah akan masuk kuliah. Ia juga sudah lama tidak pernah bermain lagi dengan mainan-mainan kesayangannya dulu seperti Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), Mr.Potato Head (Don Rickles), Mrs.Potato Head (Estelle Harris), Rex (Wallace Shawn), dan lainnya. Andy juga harus bersiap untuk pindah ke asrama dan mengosongkan kamarnya yang akan ditempati sang adik. Itu berarti ia juga harus membereskan mainan-mainannya tersebut. Para mainan Andy ini sedih dan bingung apakah mereka akan dibuang atau ditempatkan di loteng. Mereka lebih memilih untuk ditempatkan di loteng, dimana mereka masih tetap bisa bersama dan bermain. Akan tetapi ternyata Andy memilih membawa Woody untuk ikut dengannya dan menempatkan sisanya di loteng. Keadaan menjadi kacau ketika kantung plastik berisi mainan yang akan dibawa ke loteng ternyata tidak sengaja dibuang oleh sang ibu! Woody akhirnya berhasil menyelamatkan teman-temannya, namun semuanya menjadi semakin rumit karena ternyata mereka ngambek dan memilih untuk masuk ke kardus yang akan disumbangkan ke tempat penitipan anak, Sunnyside. Di Sunnyside mereka bertemu dengan teman-teman baru sesama mainan, tempatnya nyaman, dan banyak anak-anak yang akan mengajak mereka bermain. Akan tetapi apakah ternyata Sunnyside lebih baik daripada di rumah Andy?













Animasi buatan Pixar memang selalu indah. Gambarnya berwarna-warni dan sedap dipandang. Karakter-karakternya sangat memorable. Jalan cerita yang disajikan sering penuh dengan kejutan yang tidak pernah kita sangka. Itulah Pixar! Toy Story 3 merupakan sebuah film animasi yang sempurna di mata saya, sempurna sebagai film baru bagi yang pertama menyaksikan dan juga sempurna sebagai sebuah lanjutan dari kedua film terdahulu. Untuk yang mempunyai pengalaman sama seperti saya; tumbuh dewasa bersama karakter Andy dalam film ini, anda pastinya akan merasa seakan-akan anda mengenal semua karakter mainan didalamnya. Meskipun banyak sekali karakter mainan baru yang muncul kali ini, namun semua dapat membaur dengan baik dengan karakter-karakter lama. Barbie (Jodi Benson) dan Ken (Michael Keaton) langsung mencuri perhatian dengan tingkahnya yang konyol dan super-fashionable. Begitu juga dengan tingkah Mr.Potato Head di salah satu scene. Dijamin sangat menghibur!












Pada 15 menit menjelang film usai, emosi anda akan dicampur-aduk. Hebat sekali, emosi kita seakan seperti diajak menaiki rollercoaster yang naik turun sejak awal film dan memuncak klimaks ketika akhir. Scene yang disajikan di akhir ini sangat mengharukan, terlebih juga didukung dengan musik score yang luar biasa pas. Saya menangis terharu menyaksikannya, begitu juga dengan 10 teman saya sesama reviewers lainnya. Padahal mereka semua lelaki, namun itulah hebatnya animasi Pixar. Mungkin jika ini adalah kali pertama anda menyaksikan Toy Story, anda tidak akan seharu itu. Jangan bayangkan adegan sedih, adegan akhir ini lebih mengharukan sekaligus menggembirakan sampai-sampai membuat penonton yang sudah mengikuti film ini dari yang pertama mengeluarkan air mata. Susah menuliskan perasaannya dengan kata-kata, tetapi yang punya ikatan kuat dan tumbuh bersama animasi ini pasti akan mengerti. Trilogi Toy Story ditutup dengan sangat baik bahkan kelewat istimewa. Dengan kembali membawa moral yang baik dalam ceritanya kali ini yaitu ada saatnya kita memang harus melepaskan sesuatu yang kita sayangi, meskipun itu berat tapi mungkin itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Definitely ... A-MUST-SEE!!!