total ping

Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2010

SG: Last Day and Miscellaneous

Last Day
Hari terakhir di negara ini. Kami hanya memiliki sisa waktu 3 jam untuk berkeliling. Dengan ransel yang beratnya bertambah beberapa kilo tersanding di bahu, kami melangkahkan kaki menuju Bugis. 

Bye Geylang

Sebagian toko di daerah Bugis Street masih banyak yang tutup, tapi Nenes sudah kembali kalap belanja kaos bergambar Merlion untuk oleh-oleh. Sebagian kaos itu berbunyi “I Love Singapore” dan rasanya saya akan sangat berdosa pada Tanah Air jika tega membeli dan memakai kaos tersebut (haha, rasa nasionalisme sedang di titik puncak). Bugis Street memang menyediakan berbagai souvenir sebagai oleh-oleh, tapi harga yang ditawarkan masih kalah murah dibanding dengan Mustafa Centre. Saya dan Sagi lebih kalap di toko yang menjual berbagai aksesoris, harga yang ditawarkan lumayan miring. Sagi menghabiskan hampir SGD 50 selama di Bugis, saya sendiri (untungnya) masih bisa menahan hasrat berbelanja mengingat ransel yang sudah penuh dan berat. Rasanya saya sudah tidak sanggup menambah beban bawaan lagi.

 Kalap belanja (lagi)

Aroma makanan dari food court yang berjejer di sepanjang Bugis Street mengingatkan kami akan perut yang belum sempat diisi sejak pagi, tapi sayang kehalalan masakannya lumayan diragukan. Tanpa disadari, kaki ini telah melangkah memasuki kawasan Bugis Junction. Kombinasi kaki dan bahu yang pegal plus perut kelaparan membuat kami melakukan kesalahan besar dalam menentukan tempat makan. Sebal rasanya menghabiskan SGD 8 hanya untuk sebuah bento hambar minus air minum.

Masih tersisa satu jam untuk berkeliling, tapi kelelahan yang terakumulasi sejak dua hari terakhir membuat kami tidak berselera untuk kembali menjelajah tempat ini. Akhirnya kami pergi ke stasiun MRT untuk kemudian menuju bandara.
 
 Ngembaliin Singapore Tourist Card (I just love that card)

 
 Straight to airport

Bawaan yang semakin bertambah

Saya hanya terdiam di bandara, meresapi semua kelelahan, keriaan dan pengalaman selama tiga hari di negara ini. Sampai akhirnya panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun membahana di dalam ruang tunggu. Bye SG, thanks for being the first country in my backpacking journey.

Backpacking Miscellaneous

Peta, flyer, tiket

Budgeting
Day 1:
Beli Cemilan di Changi: SGD 1.2
MRT Changi – Kellang: SGD 1.6
MRT Kallang – City Hall: SGD 1
MINT: SGD 15
National Museum of Singapore: SGD 10
Lunch di Makansutra: SGD 5
Minuman dingin di belakang Espalande: SGD 1.2
MRT City Hall – Kallang: SGD 1

Day 2
MRT Kallang – City Hall: SGD 1
Singapore Tourist Pass for one day: SGD 8
Science Centre: SGD 6
Lunch di Little India (Sup tulang merah, roti prata, dan teh tarik) hanya SGD 5.6 saja
Beli oleh-oleh di Mustafa Center: SGD 42.7
Sentosa Express: SGD 3
Song of The Sea: SGD 10
Softdrink sekalian (norak) nyoba mesin penjual minuman: SGD 1

Day 3
MRT Kellang – Bugis: SGD 1
Belanja-belenji di Bugis: SGD 30
Makan ngga enak di Bugis Junction: SGD 8
MRT Bugis – Changi: SGD 1.6

Pengeluaran selama tiga hari: SGD 163.90 (ambil contoh kurs Rp 6.500) = Rp. 1.065.350
Tiket PP plus hotel 3 hari Rp. 850.000
Airport tax Rp. 150.000

Pengeluaran saya yang paling besar adalah untuk membeli oleh-oleh: SGD 72.7 atau sekitar RP. 472.550.
Jadi kalau dihitung-hitung, pengeluaran inti (tiket MRT, bus, museum, makan, minum) hanya SGD 91.20 = Rp. 592.800

Total pengeluaran untuk backpacking pertama: Rp. 2.065.350
Termasuk murah atau mahal? Itu semua tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat.

 Teman sejati selama perjanan: ransel, tas tangan, Singapore Tourist Pass, purple shoes

From Indonesia?
Dari hari pertama menjejakkan kaki di SG, ada saja orang yang bertanya “From Indonesia?” kepada kami. Sebal dan risih rasanya karena saya ngga suka dipandang sebagai turis. Iseng-iseng kami bertanya dengan orang-orang tersebut, darimana bisa menebak negara asal kami.

Tempat: National Museum of Singapore
Saat misuh-misuh cari orang yang bersedia mengambil foto kami bertiga, seorang security menawarkan bantuannya. Setelah selesai kami pun mengucapkan terimakasih dan petugas tersebut bertanya:
“Indonesia?”
“Yes, how do you know that?”
“Kalimat kalian, ‘bagaimana’ kalian sebut ‘gimana’“, jawab petugas dalam bahasa Malay
“Aaahh yaaa.....”
Ternyata dia ngeh dengan bahasa Indonesia non baku yang kami gunakan.

Tempat: Geylang Road
Semangat menggebu-gebu untuk mengeksplor SG di hari pertama dan ditanya sama penduduk lokal:
“From Indonesia?”
“Yes”
Dan dia bisa nebak itu dari wajah khas Indonesia kami.

Tempat: Mustafa Centre
Lagi sibuk milih souvenir, ditanya sama orang India lokal:
“Indonesia right?”
“Yes”
“I know it from your veil. You are a moslem” jawab si India kepada Sagi
Bangga rasanya, Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas muslim disini.

Perjuangan untuk mengambil foto bertiga (kenapa saya selalu jadi bagian dokumentasi sih)

My beloved camera and tripod

Another Little India's Story
Masih inget dong dengan parnonya saya dengan orang India. Parahnya lagi logat India mereka terbawa saat berbicara dalam bahasa Inggris. Mau nga mau saya harus mendengarkan ucapan mereka dengan seksama. Jangan sampai gara-gara salah ngerti petunjuk arah dari mereka saya musti tanya orang India lagi.
Selesai bertanya, saya menyampaikan petunjuk arah yang didapat pada Sagi dan Nenes. Dengan tidak sopannya Sagi berkata:
“Ros, lo nyadar ngga? Orang India itu kalo ngomong kepala ikut goyang-goyang loh”
“Mana gw sadar Sagiiiiiii...... Gw tuh udah stress ngertiin bahasa Inggris logat India. Belom lagi gw parno banget sama mereka. Mana sempet gw merhatiin kepala yang goyang-goyang sambil ngomong”
Bukannya bantuin saya nerjemahin bahasa Inggris yang terdengar aneh di kuping, mereka malah merhatiin bahasa tubuh orang India. Benar-benar tega pangkat lima.

Turis atau backpacker?
Selama perjalanan kemarin, saya hanya membawa satu ransel dan satu tas tangan. Sagi bawa ransel yang bisa didorong plus satu tas tangan, sedangkan Nenes memakai tas selempang dan satu tas tangan. Di hari akhir, barang belanjaan Nenes ngga bisa masuk ke tas dan akhirnya dia harus menenteng satu kantong plastik besar sebagai tambahan.

Biar berat dan ribet yang penting gaya :p

Tujuan utama kami selama di SG adalah museum atau monumen khas negara tersebut dan daerah yang kental dengan budayanya, sedikit mencicipi pengalaman jadi turis dengan mengunjungi Sentosa Island. Tidak terbersit niat sedikitpun untuk belanja gila-gilaan di Orchard, kami hanya khilaf di Little India dan Bugis Street.

Salah seorang teman mempertanyakan seberapa backpacknya perjalanan saya, “Ransel aja ngga ada, bawa tas dorong malah. Masa berani bilang bakcpackeran”, kurang lebih seperti itu dia bilang. Untuk saya tidak penting, apakah sebuah perjalan murni backpack atau tidak. Mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman dari perjalanan ini jauh lebih berharga dibanding menyombongkan diri siapa yang paling berbackpack dan menghabiskan dana paling murah. Dan yang pasti, dari semua perjalanan yang sudah dan akan dilakukan, pada akhirnya akan membuat kita lebih mencintai negeri sendiri. 

In The End.......
Ayoooo nabung lagi :)
 
Mengumpulkan sisa-sisa recehan

And see you again in Thailand for next journey gals (cant wait cant wait).

Minggu, 07 Maret 2010

Round SG Round

"Cha, Gi, mau bangun jam berapa?" tanya Nenes sambil mengeringkan rambutnya.
"Hhhmm...jam 7 ya" jawab saya dengan suara bantal.
"Ini udah jam 7 sayaaaang" kata Nenes tenang.
"WHAT?????" saya dan Sagi langsung terbangun dari mimpi masing-masing
"Ampuuuunn...gw lupa majuin jam. HP gw masih jam 6, makanya gw tenang-tenang aja" saya mulai panik
"Hhmm...yaudah Ros, lo mandi duluan gih" dan Sagi mulai menarik selimut kembali.

Kami memang berencana meninggalkan hotel pukul 09.30 dan kembali menjelajahi negara ini. Tapi perbedaan waktu Indonesia-Singapura yang lupa saya tambahkan pada alarm HP hampir mengacaukan semuanya. Dan entah mengapa, dalam waktu 2 jam kami bertiga dapat menyelesaikan rutinitas mandi-sarapan-dandan dengan suksesnya dan berangkat tepat waktu. Aaahh...I love being on time.

Foto di kamar sebelum berangkat

Tujuan pertama untuk hari ini adalah Science centre, kalau di Indonesia mungkin seperti PP IPTEK. Sebenarnya agak malas kesana, jaraknya jauuuuhhh banget dan harus berganti beberapa MRT. Tapi Sagi meyakinkan kami bahwa Science centre itu keren dan worth it banget untuk dikunjungi. Baiklah, kembali menjalankan itinerary yang telah dibuat.

Untuk hari kedua ini kami akan menjelajahi banyak tempat di Singapura dan (pastinya) akan menggunakan banyak moda transportasi. Untuk menghemat pengeluaran kami sepakat menggunakan Singapore Tourist Pass, tiket ini memungkinkan kami mengelilingi Singapura tanpa harus bayar apa-apa lagi. Harga tiket SGD 8 per hari dan SGD 10 untuk deposit (deposit akan dikembalikan saat mengembalikan kartu). Senangnya menggunakan kartu ini, saya tidak perlu bolak-balik ke mesin penjual tiket untuk membeli dan mengembalikan tiket, ngga ketahuan lagi deh kalau saya ini turis :p

Busnya mirip bus gandeng Trans Jakarta :p

Bukaaann...ini bukan lagi ngantri di Dufan

Inside the bus 

Science centre terletak di daerah Jurong East, dari stasiun MRT naik bis sekali lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Thanks God kami punya Singapore Tourist Pass, ngga bingung lagi musti bayar pake apa waktu naik bis :p

In front of Science Centre

 
Eeeerr...Mathematics everyone?

  
The Mind's Eye

 
Hall Atrium Science Centre

Harga tiket SGD 6 saja, museumnya besar dan dibagi ke dalam beberapa bagian, The Minds Eye, Mathematics Exhibition, DNA, Sound Exhibition, Discovery Zone, The Human Body, World of Energy, Kinetic Garden, dan masih banyak lagi (ngga sanggup untuk ditulis satu-satu disini). Hall pertama yang kami masuki adalah The Minds Eye, quite fun to figure out how our eye can be treat by the pictures. Sedikit mikir, tapi setelah dapet maksud dari alat peraga tersebut rasanya fun banget. Ini diantaranya:

Gambar diatas, jika dibalik menjadi seperti ini:
 
Looks alike eh?

 
Dari hamparan gambar yang abstrak, tertangkap satu refleksi wajah di dalam tiang

Dari The Minds Eye kami berlanjut ke Mathematics Exhibition. To be honest, saya takut memasukinya, I'm not good in math. Tapi desain ruangan yang menarik dan cerah menarik kami untuk melihat bagian ini.

'Lil bit scary :p

Ternyata cukup menyenangkan disini, bahkan kami berlomba untuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Ahahahaha...

 
Phi = .......................(somebody, please answer that)

  
Cara berhitung di segitiga pascal, masih inget?

  
Race to finish the puzzle (and its quite hard I think)

 
Iseng mencoba permainan ini, dan terperangkap ngga bisa membebaskan diri :(

Beranjak ke beberapa bagian lain, dan cukup merinding di bagian Human Body. Hiiiyy...ngga sanggup ngeliat bentuk virus, mikroba dan kawan-kawannya, makanya saya memilih untuk menunggu di luar dan....foto-foto :D

Dinding bergambar Genom dan DNA yang ditampilkan secara menarik

Ukuran bangunan yang besar, koleksi yang lengkap dan menarik, belum lagi ada beberapa peragaan oleh pihak Science Center, membuat kami benar-benar lupa waktu. Jatah waktu 2 jam rasanya belum cukup dan molor sampai 3 jam lebih. Benar-benar tempat yang menyenangkan, tanpa disadari kami telah mengulang berbagai pelajaran dari masa SMP disini.

Penasaran pengen nyelesein soal-soalnya

The demo

Kinetic Garden

Keluar dari Science Center kami sedikit kesulitan menentukan tujuan selanjutnya: Little India, Orchard, atau Chinatown dulu karena ketiga tempat ini cukup berpencar. Dan sekali lagi, kami mengerahkan kemampuan dalam membaca peta Singapura, jalur MRT serta bus, dan flyer dari Visitor Information. Hasilnya, kami akan ke Orchard terlebih dahulu, dari Orchard naik bus ke Little India sekalian makan siang, lalu lanjut ke Chinatown. Bye Science Center, really having a great time in there.

Untuk urusan panas, Jakarta punya saingan

Satu hal yang kami pelajari dari perjalanan ini: karena kami bertiga buta arah dan tidak tahu harus melangkah kemana saat keluar dari MRT, maka kami mengikuti rombongan orang terbayak. Kemana orang-orang berduyun-duyun pergi, disana pasti ada tempat yang menarik. Dan teori ini selalu berhasil ;)

Orchard

Orchard Road. Salah satu top destination di Singapura. Ramai, penuh, hedon, tapi entah, untuk kami bertiga tempat ini doesn't make any sense. Tempat kaya gini sih di Jakarta juga banyak, bahkan masih kalah gede dibanding sama GI. Semua orang hilir mudik keluar masuk mall yang dipenuhi label Pucci, LV, Guess, Mango, dan berbagai label desain kenamaan lain. Kami? Cuma bengong dan ngga tau mau kemana. Masuk mall? Ngapain juga, ngga ada yang dibeli, mahal juga yaaaa.... Jadi, kami hanya menyusuri Orchard Road tersebut, dan mencari halte bus terdekat yang akan mengantar ke Little India.

Gone with the bus :p


Bis dua tingkat ini mengingatkan saya dengan Jakarta tahun 90-an, dari atas bis kami dapat melihat ritme dan dinamika hidup warga Singapura. Tapi kacaunya, ngga ada penunjuk arah dalam bus, bahkan nama halte pun tidak terlihat dari atas bus. Akankah kami nyasar lagi? Walau punya Singapore Tourism Card (ngga masalah nyasar sampe mana juga) tapi itu hanya akan membuang-buang waktu kami yang hanya sedikit ini. Mulailah kami membentangkan peta dan mencocokkan nama jalan di peta dengan yang terlewati (sepertinya kami makin jago dalam urusan ini), dan sampailah di Tekka market daerah Little India.

Aroma rempah dan pemandangan wanita dengan kain sari menyambut kami saat turun dari bus. Kaki ini pun langsung melangkah ke dalam Tekka market, entah apa yang dituju, kami hanya berjalan. Banyak food court di dalam Tekka market, kami pun memutuskan untuk makan siang dulu, paling tidak disini kami tidak kesulitan mencari makanan halal. Saat kebingungan memilih menu makan siang,Sagi mengusulkan ide brilian, sup tulang merah.

 
 Dont judge the food from its look

 

Sup tulang merah, roti prata, dan teh tarik menjadi menu makan siang saat itu.

Setelah perut kenyang, kami kembali menjelajah tempat ini. Tujuan pertama adalah Little India Arcade yang terletak persis di depan Tekka market. Pusat belanja ini tidak terlalu ramai, entah karena tokonya yang sedang tutup atau memang jumlah toko hanya segitu, jalan-jalannya juga tidak dipadati turis. Kebanyakan toko menawarkan untuk tatto henna seharga SGD 5, yey jauh-jauh kesini cuma bikin henna, di Bogor juga banyak. Ngga dapat apa-apa di Little India Arcade, maka kami beranjak ke Mustafa centre.

Musik India mengalun riang sepanjang kami menyusuri daerah ini, duh kalau ada pohon pasti saya udah nari-nari sambil muterin pohon, berhubung cuma ada tiang listrik niat itu saya batalkan. Sudah jauh berjalan, kami tak kunjung menemukan Mustafa Centre, bahkan tidak ada petunjuk sama sekali kemana arah Mustafa Centre, ini artinya kami harus bertanya lagi.

Contoh perawakan orang India di sebelah kiri Sagi

"Ros, ayo dong tanya sama orang Indianya" kata Sagi.
"Hiiiyyy....ngga deeehh...orang Indianya serem-serem" kata saya sambil bergidik.

Untuk urusan menanyakan jalan, Sagi dan Nenes memang khusus menyerahkannya untuk saya. Tapi, ada satu fakta penting, orang-orang India di Lillte India ini syerem-syerem semua. Perawakan mereka tinggi, gede, item, syerem. Ya, mungkin ini stereotipe saya saja, tapi saya ngga berani berhadapan langsung dengan mereka.

"Ayooo dong Cha, tanya sama orang. Gw udah cape jalan nih" kata Nenes.
"Serem gw....takut. Kok ngga ada cewe India ya, daritadi gw nemunya cowo mulu. Serem ah" jawab saya.
"Ayo Rossa, keluarkan kemampuan dan pesonamu untuk bertanya sama mereka" Sagi menyemangati saya.
"Tega lo ya. Emang lo pada ngga serem apa ngeliat mereka?" saya mulai sewot.
"Yaaaa....serem juga sih. Tapi kita udah muter-muter ngga jelas arahnya nih"

Dan saya pun menyerah. Saya memilih orang India yang lagi jalan sendiri, menghadapi satu orang saja saya udah cukup takut, jadi pilihan untuk bertanya pada gerombolan orang India saya buang jauh-jauh.

"Excuse me Sir. Could you tell me where's Mustafa Centre?"
"Oh, right there" jawab si India menunjukkan supaya kita jalan terus
"Nooo....Mustafa centre? It's right there" sambung seseorang (sepertinya backpacker juga) yang jalan di belakang kami dan tak sengaja mencuri dengar.

Saya, Sagi dan Nenes bingung, where sould we go????

"Right there" kata si India
"No, mustafa centre right? Turn left from here" kata si backpacker
"Ok Sir, thank you. Both of you" jawab saya meninggalkan mereka

Sayup-sayup ketika berjalan kami mendengar si India dan si backpacker masih berdebat kemana arah Mustafa Centre. Yah, biarkanlah mereka berantem, kami ngga mau dilibatkan ;) dan kami memilih jalan yang ditunjukkan si backpacker. Sepertinya kami ada di jalan yang benar, karena banyak turis hilir mudik di jalan yang kami lewati (teori pinter-pinteran ala kami bertiga). Sampai akhirnya...

"Duh Ros, kayaknya kita nyasar lagi deh. Tanya sama orang India lagi gih" kata Sagi
"WHAT??????" crap.

Mustafa Centre, us, and the shopping bag

Jika dibandingkan dengan mall, Mustafa Centre lebih mirip supermarket bagi saya. Saya agak shock juga karena bayangan saya tentang Mustafa Centre berbeda jauh dengan kenyataannya. Semua kebutuhan rumah tangga ada disini, mulai dari kebutuhan pokok, makanan, pakaian, alat elektronik, semua numplek jadi satu. Tujuan kami memang untuk mencari oleh-oleh (saya selalu benci bagian ini) dan harga yang ditawarkan di tempat ini lebih murah.

Sagi dan Nenes mulai bersemangat mencari souvenir, saya masih malas-malasan, mereka bingung memilih coklat, saya malah bertanya "Ngapain bawa coklat ke Indonesia". Sagi dan Nenes memang menganggarkan dana khusus untuk oleh-oleh. Di awal saya sudah menyebutkan betapa saya sangat mencintai persamaan kami bertiga dalam menghargai waktu, tapi saat di Mustafa Centre, saya sangat membenci persamaan kami bertiga dalam hal gila belanja. Menghabiskan waktu hampir 2 jam disana hanya untuk mencari oleh-oleh.

Farrer Park shelter, bye Little India.

Dari Mustafa Centre kami berpindah ke Chinatown melalui stasiun MRT terdekat. Barang bawaan terasa semakin berat, Sagi dan Nenes yang menghabiskan lebih dari SGD 60 saat belanja tadi harus menenteng kantong belanjaan mereka yang cukup besar, kantong belanjaan saya sih cukup masuk ke dalam tas. 

Sesampainya di Chinatown, bingung lagi harus kemana. Ini Chinatown kan, bukan Glodok? Kebanyakan isinya mall yang mewarkan barang elektronik. Berhubung masih dalam suasana perayaan imlek, maka tempat ini dihias dengan berbagai ornamen Imlek yang cantik.


 

 

Dari chinatown kami menuju Sentosa Island untuk menonton Song of The Sea. Sepertinya cuaca tidak mendukung niatan kami ini, hujan turun dengan derasnya. Kami hanya gambling, membeli tiket untuk pertunjukan pukul 20.40 dan berharap hujan dapat berhenti.

Ki-ka: Sagi, saya, Nenes (bisa lihat plester di kaki Sagi dan Nenes ngga?)

 
 Waiting for the rain

 
Ticket

Pulang dari Sentosa Island jam 10 malem. Sepanjang perjalanan dari Sentosa ke Kallang suasanya udah sepi banget. No wonder, besok udah hari senin. Time to get back to work. Sigh.

 Sentosa's MRT

 
 Sagi yang udah ngga sanggup pake sepatu

 
Sooooo thirsty.

Malam terakhir kami di SG, dan puas bisa mengelilingi banyak tempat hari ini :)

Rabu, 03 Maret 2010

SG: Exploring City Hall

Kami tiba di Changi jam 10.00 waktu Singapura. Tak mau membuang waktu, kami pun mulai menjelajah salah satu bandara tercanggih ini. Setelah mengurus imigrasi kami bingung...musti kemana sekarang? Ya cari stasiun MRT terdekat dan berangkat ke hotel dong, ransel saya berat banget negh. Tanya ke bagian informasi ternyata stasiun MRt ada di terminal2, dan kami dapat menggunakan shuttle train dari terminal1. Huff...lega??? Belum. Karena ada satu masalah: tiket MRT.

 The imigration thing.

 
Mengumpulkan peta, brosur, dan flyer.

Inilah kedodolan pertama yang dialami, kami kira bakal beli tiket di loket dan dilayani oleh mba atau mas yang baik hati (jiaahh...ini Singapura non, bukan Indonesia), ternyata kami harus menghadapi sebuah mesin. Masalahnya tidak terletak pada si mesin, tetapi pada uang SGD yang kami bawa. Pecahan terkecil yang kami miliki adalah SGD 50, sedangkan mesin hanya menerima pecahan uang paling besar SGD 10. Kemana kami harus menukarkan uang ini? Tanya sama rombongan Indonesia lain dengan penampilan yang sangat high maintenance (jadi minder sama penampilan kami yang "menggembel" ini) ternyata mereka sudah bawa pecahan uang SGD 2 dari Indonesia. Hhhmmpphh...lemeess rasanya lutut ini.

MRT station

Lantai bandara yang terletak jauh dari stasiun MRT mau tak mau harus kami jelajahi kembali, rencananya kami akan membelanjakan uang yang ada sehingga kami mendapat uang receh. Tidak sengaja, kami melewati shelter bus dan mendapat ide untuk menggunakan bus saja, dan pertanyaan itu kembali berulang: beli tiket dimana? Hasil bertanya dengan pengemudi bis, kami dapat menggunakan kartu atau membayar sesuai tarif. Duuuhh Pa, kita ngga punya uang pas untuk bayar ongkos. Bahu mulai terasa pegal dan kaki ini sulit untuk berkompromi, perjalanan ke shelter bus ternyata hanya membuang-buang waktu. Akhirnya kami kembali ke rencana awal, mencari mini market. Sialnya, saat membayar dan kami meminta uang receh, Ibu kasir malah menjawab dengan entah-bahasa-apa dan menunjuk-nunjuk kami. Doh, dia ngomong apa sih? Mana volume suaranya kenceng banget lagi. Lumayan shock juga diperlakuin kaya gitu di negara orang.

Passenger Service

Balik lagi ke stasiun MRT dan langsung beli tiket. Ngobrol-ngobrol sama orang India di antrian dan mereka ngasih tau kalau ternyata kita bisa nukerin uang di Passenger Service yang letaknya cuma beberapa meter dari mesin tiket MRT. Doooohhh...dodolnyaaaa....Cape-cape muterin Changi, nyasar ke halte bus, diomelin Ibu-ibu kasir, dan ternyata semua itu ngga perlu dilakuin kalau kita nanya ke Passenger service. Total waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari Changi  pake MRT: 2jam. Crap.

Gaya jumawa. Akhirnya bisa naek MRT jugaaa....

Halte transit, dan ngecengin bule sebelah :D ahahaha...

Dari Changi kami langsung menuju hotel untuk menyimpan ransel. Turun di halte Kallang dan tanya-tanya sama petugas tentang alamat hotel. Jam 12.00 dan cuaca Singapura panas banget, kami semangat berjalan menuju hotel. Eeerr...perasaan kok ngga nyampe-nyampe ke hotel ya. Nenes mulai ngeluh "Duh, hotelnya dimana sih". Kedodolan kedua: ngga ngeprint peta menuju hotel. Somehow, dengan modal tanya-tanya lagi, akhirnya kami berhasil menemukan hotel tersebut: Fragrance Hotel, Lorong 6 Geylang. Kamarnya kecil, tapi bersih dan nyaman. Kami cuma sebentar di hotel, merapikan barang bawaan, ganti baju, dan pergi lagi untuk menjelajah kota ini. Ahh...finally we've made it :)

Lorong 1 Geylang. Heyy...hotel kita di Lorong 6 Geylang ya.

Tujuan pertama dalam itinerary kami adalah mengunjungi Bugis street, tapi kami cukup lelah dan sebal dengan kejadian di Changi, selain itu waktu yang kami miliki untuk hari ini sudah terbuang cukup banyak. Akhirnya kami membatalkan acara ke Bugis dan langsung menuju City Hall. Terdapat beberapa tujuan wisata yang terpusat disana, sehingga kami cukup berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Hari pertama ini akan kami habiskan dengan menjelajah daerah City Hall.

Hhmm...Where we supposed to go?

Sampai di halte City Hall yang penuh dan sibuk, kami berencana untuk mengunjungi National Museum of Singapore terlebih dahulu. Namun saat keluar dari stasiun MRT, kami membaca papan petunjuk arah menuju Raffles Hotel dan rencana pun berganti lagi. Kami pergi ke Raffles Hotel yang tarif menginapnya bisa menghabiskan gaji selama satu setengah bulan kerja :p

Yaii...Raffles Hotel

 Love that place

WAW...pose di dalam Raffles Hotel :p

Hotel yang menarik: tua, antik, kolosal, tapi juga modern. Akhirnya saya bisa mengunjungi hotel terkenal ini juga :) Puas mengelilingi Raffles hotel, kami pun bersiap menuju National Museum of Singapore dan lagi-lagi tidak sengaja melihat MINT. Sagi yang dari awal perencanaan itinerary sangat-ingin-mengunjungi MINT langsung girang dan masuk ke dalamnya. Saya sih sedikit heran, untuk ukuran museum mainan pertama di dunia, MINT tergolong kecil dan tidak eye cathing, hanya berupa ruko empat tingkat kalau di Indonesia. Tiket masuk MINT tergolong mahal SGD 15, dan bagi saya ini adalah doesn't make any sense museum. Cuma gitu doang? Itu pikiran saya. Rada nyesel juga udah ngeluarin uang sebanyak itu hanya untuk melihat koleksi mainan dari seluruh dunia yang tersimpan rapi di dalam lemari kaca. Dan kebanyakan saya tidak kenal dengan tokoh dari mainan tersebut (sangking lama dan tuanya umur sang mainan). Saya sih sangat tidak merekomendasikan untuk datang kesini, kecuali kalian memang penggila action figur, robot-robotan dan mobil-mobilan Jepang, serta Star Wars atau Astro Boy freak.

MINT

Inside MINT. It's confy actually

 Lelahnyaa... :)

Selesai menjelajah MINT, kami kembali mencari National Museum of Singapore mengandalkan peta yang didapat di Visitor Information. Dan kami pun mengasah kemampuan dalam membaca peta. Sudah muter-muter kesana-sini tapi sang museum masih tidak ditemukan sementara kaki ini sudah pegal bukan main. Peta menunjukkan kalau National Museum of Singapore tidak jauh dari SMU (Singapore Management University). Perasaan daritadi kami udah ngelewatin lebih dari tiga gedung SMU, tapi museumnya mana? Nyasar kah kami? Duh, kaki pegel, tenggorokan kering, dan nyasar di negara orang bukanlah kombinasi yang baik. Setelah bertanya dengan salah satu mahasiswa SMU, ternyata kami berada di jalan yang benar dan National Museum of Singapore terletak beberapa blok di depan. Ah, praise the Lord.

SMU, yups we're in right direction.

 So tired eh.

Hawa dingin AC menyambut kami saat masuk dalam museum ini. Saya cukup terpesona dengan bangunan museum yang antik namun modern. Tiket masuk SGD 10, namun sebelum masuk ke dalam museum ada satu hal penting yang harus kami lakukan: minum. Hahaha...dari Indonesia kami memang hanya membawa tempat minum tanpa air (dilarang membawa cairan lebih dari 100ml dalam penerbangan) dan dari berita di internet, air keran di Singapura cukup steril dan dapat langsung diminum. Ya, kami akan membuktikan teori itu. Sorry Gi, I have to broke our promise not to mentioned this story in my own blog. Hahaha, Sagi memang mengancam saya untuk tidak menceritakan hal memalukan ini di dalam blog, tapi rasanya semua backpackers lain melakukannya, jadi untuk apa malu :D Setelah tempat minum kami penuh, kami saling berpandangan "Yakin nih kita bakal minum air ini?". Yasudahlah, tenggorokan yang kering memaksa kami untuk menenggak air tersebut dalam hitungan ketiga (dan selama tiga hari di Singapura kami mengkonsumsi air keran).

Inside National Museum of Singapore

 
National Museum of Singapore

 
1st floor, 2nd floor, or 3rd floor?

 
Get the headset before go into the gallery

Kami dibekali headset sebelum memasuki galeri National Museum of Singapore, headset ini dilengkapi beberapa tombol: volume, setting bahasa, peta museum, dan angka-angka. Jika ingin mengetahui lebih jauh sejarah mengenai benda di dalam museum, tinggal memasukkan kode angka yang terpampang di sebelah benda tersebut ke dalam headset. Museum ini cukup besar dan memuat sejarah Singapura dari masa penjajahan sampai kemerdekaan, yang cukup menggelitik adalah beberapa artifak merupakan warisan dari kerajaan Majapahit, bahkan lagu Anak Kambing Saya asal provisi Nusa Tenggara juga diputar disini. Agak sedikit ngenes sih, tapi ini yang terjadi jika memiliki budaya serumpun bukan?

Headset

In front of National Museum of Singapore

Judul yang paling tepat: ngarep dot com

Waktu yang kami targetkan untuk mengelilingi National Museum of Singapore adalah 1.5jam, berhubung ukuran museum yang besar dan koleksi yang sangat banyak, akhirnya molor menjadi 2jam lebih. Selesai dari National Museum of Singapore, kami kembali ke City Hall menuju Esplanade. Jam sudah menunjukkan pukul 5sore tetapi kami belum makan siang. Heran, dengan kondisi perut kelaparan dan kaki pegal karena letih berjalan seharian, kami masih bersemangat untuk berfoto. Makan siang yang terlambat (plus merapel makan malam) kami lakukan di food court Makansutra, tepat di belakang Esplanade. Menu yang kami pilih? Nasi goreng. Ahahahaha...jauh-jauh ke Singapura makannya nasi goreng juga. Nasi goreng paling mahal dan paling hambar yang pernah kami makan.

Laper...tapi tetep niat foto :p

Lookin' for Makansutra food court

Sisa sore kami habiskan dengan berfoto di depan Esplanade dan Merlion, pengen ke Singapore Flyer tapi lokasinya lumayan jauh dan rasanya kami sudah ngga sanggup untuk berjalan sejauh itu.

Foto bareng Singapore flyer nya dari sini aja ya :D

 
Esplanade, Singapore flyer


Ituu Merlionnya di sebelah kiri bawah :p

  
Merlion Park: turn left

 
Yaahh...pose bareng Merlion juga

Saat malam menjelang, Sagi dan Nenes masih bersemangat berpose di depan Merlion. Saya yang sudah sangat lelah hanya duduk-duduk di Merlion Park dan memandang city view kota ini. Dunno why, I felt that this journey doesn't make any sense at all. Jauh-jauh saya datang dari Jakarta hanya untuk ini? Untuk foto di depan Merlion, mendapat pose terbaik untuk kemudian dipamerkan kepada teman-teman? Lihat saja city view Singapore yang saya tangkap dalam foto berikut, pemandangan Jakarta di malam hari masih jauh lebih bagus. Coba saja kalian berdiri di jembatan busway di halte Bundaran HI dan resapi pemandangan disana. Singapura sih belum ada apa-apanya.

Singapore's city view

Benar kata para backpackers pendahulu saya, bepergian ke berbagai negara akan membuat kita lebih mencintai negara sendiri. Walau Indonesia tidak senyaman, sebersih, dan seaman Singapura, tapi saya lebih bangga menjadi warga negara Indonesia. Hm, baru hari pertama di negri orang dan saya sudah kangen dengan negara sendiri.

Hari sudah semakin malam, kami bertiga juga sudah teramat lelah, apalagi kalau mengingat jarak hotel yang jauh, duhh...cuma bisa berharap di negara ini ada ojeknya. Tapi ada satu festival yang sayang untuk dilewatkan, Festival Hang Bao yang diadakan untuk menyambut Imlek.

Hmm...replika apakah itu.

All made by spoon, bowl, and cup.

Sudah terlalu lelah hari ini. Baterai kamera saya juga sudah habis (padahal udah prepare 2 baterai, dasar photoholic) dan hanya bermodalkan kamera HP untuk mengabadikan festival ini.

Balik lagi ke stasiun MRT City Hall menuju Kellang, dari Kellang jalan kaki ke hotel selama 15menit (Duh Gusti, besok apa jadinya kaki saya ya). Sepanjang jalan dari stasiun Kellang ke hotel kami baru menyadari kalau daerah ini didominasi dengan tempat makan kaum Chinese, hiiiyy saya cuma bisa bergidik melihat kodok ukuran jumbo yang dipamerkan untuk dimasak. Belum lagi pub-pub yang letaknya terpencil dengan tangga menuju bawah tanah, dan satu lagi yang paling fenomenal : Gay World.

 Jalan menuju hotel

 Gay World (apa isinya ya?)

"Sagi Nenes, jalannya cepetan doooong...horor nih gw ada disini".