total ping

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

Pejuang Mimpi

Pejuang mimpi no. 1: Mama

Sekarang mama punya kegiatan baru: belajar ngaji. "HAH.. mamanya Ocha belum bisa ngaji?", pasti itu ya pertanyaan yang langsung terlintas saat membaca kalimat barusan. Iya, mama saya memang belum bisa ngaji. Tapi menurut saya, ibadah seseorang atau hubungan seseorang dengan Tuhan tidak ditentukan dengan kemampuan mengajinya.

Mama tidak sempat mendapat pelajaran mengaji di bangku sekolah. Dulu sekolah beliau masih merupakan sekolah kristen sehinggan pelajaran agama Islam ditiadakan, malah terkadang mama harus ikut berdoa dengan jemaat gereja. Setelah lulus sekolah, menikah, punya anak, dan bla-bla-bla, dengan segala kesibukannya mama semakin tidak punya kesempatan untuk belajar ngaji. Kendala umur yang 'tidak lagi muda' juga menyulitkan beliau untuk mendapat guru ngaji dan metode belajar yang sesuai. Yah, rasanya sudah jamak di masyarakat kita kalau setiap orang Islam pasti bisa mengaji, jadi akan sangat aneh jika orang seusia mama baru belajar mengaji di usianya yang sekarang.

Walau mama tidak bisa mengaji, beliau tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Beliau menekankan pentingnya pendidikan agama dan mewajibkan saya dan adik untuk ikut kelas mengaji setelah jam sekolah. Terkadang mama melihat buku Iqro milik saya atau adik dengan pandangan penasaran dan kerinduan yang mendalam. Mama juga terkadang meminta saya untuk mengajarinya mengaji, tetapi selalu menyerah di tengah jalan karena merasa kesulitan untuk mengingat berbagai huruf arab yang asing di matanya.

Jadi bagaimana cara mama beribadah jika beliau tidak bisa mengaji? Mama menggunakan bacaan latin yang sering dituliskan di bawah tulisan arab. Beliau menghafalkan bermacam surat dan doa lewat bacaan latin tersebut. Mama tidak pernah menceritakan perasaannya karena tidak mampu mengaji, tapi tanpa dia bilang pun saya tahu kalau beliau sedih. Sangat sedih.

Seperti mama yang lain, mama saya juga rajin beribadah. Pagi - siang - malam dia selalu beribadah dan mendoakan kami sekeluarga. Tuhan menjadi temannya yang paling dekat saat mama memiliki masalah, Tuhan menjadi pelariannya saat beliau merasa sedih, Tuhan adalah tempat mama mencurahkan tangis, doa, syukur, dan harapan. Mama memang tidak bisa mengaji, tapi selalu melakukan perintahNya dan berusaha menjadi umat yang taat. Lihatlah saya yang bisa mengaji tetapi sering menunda salat, lalai dalam menjalankan perintahNya, bahkan Al-Quran sepertinya hanya menjadi hiasan di atas rak buku. Apalah gunanya pintar mengaji jika tidak bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Apa hebatnya pintar mengaji jika kemampuan tersebut tidak pernah digunakan?


Mama sekarang belajar mengaji dengan beberapa temannya yang ternyata juga belum bisa mengaji. Buku Iqro kecil menjadi temannya yang paling setia. Malam minggu kemarin, setelah saya pulang bermain dengan teman-teman, mama meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Sembari menyimak pelafalan abjad arab yang masih patah-patah, saya jadi merasa sangat berdosa. Dosa kepada mama karena kurang meluangkan waktu untuk mengurus dan menjaga beliau. Dosa kepada Tuhan karena saya sering melupakanNya, karena saya lebih sering meminta dan meminta daripada bersyukur.

Apa motivasi mama sehingga mau susah payah belajar ngaji? "Supaya pas berangkat haji nanti mama bisa baca ayat-ayat Al-Quran tanpa pakai terjemahan", jawab beliau setelah menyudahi pelajarannya malam itu.

Ya Allah, Kau sudah 'menamparku' dengan cara yang paling halus. Saya malu dengan diri sendiri. Malu sama mama, malu kepadaMu...

Mama tidak perlu malu dengan lingkungan sekitar yang mencemooh ketidakmampuannya mengaji, mama tidak perlu takut pembaca tulisan ini akan menjelek-jelekkan saya dan mama, mama tidak perlu minder karena tidak bisa mengaji. Yang harusnya malu justru saya dan orang-orang yang tidak bisa beribadah sebaik mama, yang tidak atau jarang mengaji padahal memiliki kemampuan membaca tulisan arab. Mama hanya boleh takut dengan Allah.

Untuk mamaku sayang yang sekarang sudah naik ke tingkat 2, terimakasih selalu menjadi inspirasi hidup dalam segala perbuatan dan perkataanmu. Love you mom.

Pejuang mimpi no. 2: Pusti

Manusia konyol yang mampu melumerkan suasana disekitarnya ini sudah menjadi office mate saya sejak dari kantor cabang. Pusti adalah tipe orang yang bisa membuat suasana menjadi meriah. Celetukan segar dan banyolan konyol yang tidak pernah terlintas di kepala saya bisa keluar dari mulutnya. Dia adalah orang yang mudah berbaur dengan lingkungan baru dan disukai banyak orang. Yang paling membuat saya salut, Pusti bisa menjadi orang yang melakukan suatu kecerobohan, ditertawai dan diolok-olok seisi kantor sampai mau mati, tapi tetap bisa tertawa dan bahkan menambahkan olok-olokan tersebut. Suatu kondisi yang tidak akan mampu saya hadapi dengan cara sesantai dia.

Saat ini kantor kami mengadakan kompetisi menyanyi yang melibatkan seluruh grup perusahaan yang tersebar di empat negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapore. Nominal hadiahnya menggiurkan plus kompetisi grand final dan final dilakukan di negara yang berbeda (dengan kata lain bisa jalan-jalan ke negara tetangga gratis). Tahun lalu teman-teman kantor cabang merekomendasikan Pusti untuk ikut mendaftar, sayangnya dia sibuk dengan persiapan pernikahan. Tahun ini, di kantor baru dengan teman-teman yang sama sekali baru, saya merekomendasikan Pusti untuk ikut berkompetisi.

To be honest, saya tidak tahu kalau Pusti bisa menyanyi dengan baik. 'Tantangan' saya agar dia ikut berkompetisi membuat saya mendengarkan salah satu rekaman suaranya. Nggak nyangka, si manusia konyol ini suaranya bagus juga, "You've got the talent Pus, go for the competition" saya makin semangat menyemangati. Sambil nyengir nggak keruan karena berhasil membuat saya terpesona dengan bakat terpendamnya dia menjawab, "Pengen sih, tapi gue nggak PD Cha".

Hah?! Orang seperti Pusti nggak PD-an? Dengan segala kegilaan yang telah dilakukan dia masih kurang PD menghadapi juri dan bernyanyi di depan banyak orang? Mustahil! "Gue belum pernah nyanyi di depan banyak orang" salah satu alasan ini terlontar saat kami istirahat makan siang. "Lagian kan badan gue masih melar abis ngelahirin". Ya ampun, bener-bener bukan Pusti yang saya kenal. Makin gemas dan kesal kalau dia sampai tidak ikut kompetisi ini, "Just try it Pus. Paling nggak lo pernah nyoba. Urusan menang atau kalah sih belakangan, yang penting lo udah berani nyoba". Saya sudah di tahap nekat, kalau Pusti masih kekeuh tidak mau ikutan, maka saya yang akan mengisi formulir atas nama dia dan mengirimkannya.

Ternyata Pusti termakan omongan saya juga. Dua hari sebelum penutupan pendaftaran dia mengirim formulirnya. "Paling nggak gue pernah nyoba", dia mengulang kalimat yang saya ucapkan untuk meneguhkan niat. Just try it. Life is about taking chances and challenges. Make a rhyme on your life, make a splash. Rasanya sia-sia jika masa muda dilewatkan begitu saja dengan hal-hal yang monoton. Buat ritme, cari kegiatan baru, tantang diri untuk melakukan hal yang baru, make a splash on your life.




Hari minggu kemarin kompetisi diselenggarakan. Saya yang bertanggung jawab 'menjerumuskan' pusti merasa perlu untuk menemani dia. Yah, Pusti harus gagal di seleksi kedua, tapi dia menang melawan ketakutan, kepesimisan dan segala pikiran negatif yang menghadang untuk mengikuti kompetisi ini. "Maaf ya Cha gue kalah", ucap Pusti selesai acara. "Nooo, don't feel sorry because you're not win the competition. Lo udah menang melawan diri sendiri lagi dan gue sangat menghargai itu. You must proud of it". Sambil mengemasi barang bawaan tiba-tiba bijaknya saya kumat, "Lagian, kalo nggak pernah nyicipin kalah mana bisa menghargai kemenangan". Yeah, kadang saya bisa amat bijak terhadap orang lain, namun tidak untuk diri sendiri.


Pejuang mimpi no. 3: Saya

Saya. Eerr... Bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa dengan segudang mimpi. Mimpi yang kalau saya bagi dengan orang lain pasti akan mendapat tanggapan "Muluk amat sih mimpi lo". Saya? Saya hanyalah seorang newbie di dunia blogging, menulis dan jalan-jalan. Mimpi saya yang paling gila: jalan-jalan ke Eropa dan nulis buku sendiri. Muluk kan? 

Dengan semua ucapan yang pernah saya keluarkan untuk menyemangati orang lain untuk mengejar mimpinya, ternyata saya seringkali keteteran juga untuk mengisi penuh baterai semangat dalam mengejar mimpi ini. Mimpi bukan sekedar khayalan atau angan-angan belaka, tetapi dia menunggu untuk diwujudkan. Butuh semangat, kerja keras dan usaha pantang menyerah untuk memperjuangkannya. Memperjuangkan mimpi. Apakah kita bersedia berjuang sepenuh hati untuk mewujudkannya atau membiarkan mimpi tersebut selalu menjadi imaji dalam kepala, it's your choice.

Si Muluk

PS: Belum ada ending untuk cerita yang terakhir, orangnya masih berusaha mewujudkan mimpinya :)

Kamis, 21 April 2011

Kartini Masa Kini

Hari Kartini. Jalanan Jakarta mulai semrawut dan saya sedikit tergesa menuju halte busway. Sekilas saya melihat busway yang berdatangan dan mata ini langsung tertarik ke sebuah pemandangan menarik. Pramudi busway itu mengenakan pakaian daerah. Bukan kebaya simpel yang kebanyakan wanita Jakarta kenakan pada hari itu sebagai solidaritas untuk merayakan Hari Kartini, tetapi sebuah pakaian adat Minang berwarna merah cerah lengkap dengan kain sarung berhias benang emas sebagai bawahan. Tidak lupa tambahan aksesori selendang kain songket plus sunting (hiasan kepala) Minang yang ukurannya tidak kecil. 

Saya terpesona.... Speechless. Busana yang cantik. Sang pramudi dengan badannya yang sedikit besar berada di belakang kemudi bus TransJakarta, mencoba menembus keruwetan Jakarta. Kartini pasti bangga jika punya kesempatan melihat hal seperti ini. Sejenak kemudian saya dan pramudi bus sempat beradu pandang, mungkin dia menyadari tatapan kagum saya yang terus mengekor dia. Saya tersenyum lebar sembari mengacungkan jempol untuk memuji penampilannya pagi itu. Dia membalas senyum saya, menularkan semangat Hari Kartini dan melanjutkan pekerjaannya. Sunting emas di kepalanya bergoyang dinamis mengikuti ritme bus. 
Selamat Hari Kartini. Bukankah menyenangkan jika semua perempuan di Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapat pendidikan layak dan kesempatan kerja yang sama dengan kaum lelaki.  

Rabu, 09 Februari 2011

Early Birthday Present

Awal Februari ini sebuah paket mampir ke kantor saya. Isinya kado ulang tahun dari Felicity, seorang teman blogger yang sekarang berdomisili di Oslo, Norwegia. 












Sebuah 'proyek' yang melibatkan Norwegia membuat saya dan Feli menjadi dekat. Berbekal alamat email Feli pemberian Cipu akhirnya saya merasakan persahabatan tanpa batas berkat teknologi bernama internet. Jarak Oslo - Jakarta yang separuh lingkaran bumi terasa tidak berarti. Saya dan Feli dapat berdiskusi dan berusaha bersama agar 'proyek' yang nyaris tidak mungkin ini dapat menjadi sebuah tiket yang dapat mengubah hidup saya (hopefully).

Banyak hal yang terjadi selama kami mengerjakan 'proyek' tersebut. Mulai dari begadang sampai lewat tengah malam selama beberapa minggu, saya diomelin mama karena kurang tidur sedangkan Feli kena tegur T, curi-curi kirim email di sela-sela waktu kerja, browsing gila-gilaan demi mendapatkan data yang cukup dan beberapa insiden culture shock serta miskomunikasi yang terkadang membuat saya kena tegur Feli. Kalaupun 'proyek' ini tidak berhasil tapi saya sudah belajar banyak lewat semua proses yang melelahkan dan menyita waktu ini.

Untuk saya pribadi, waktu yang Feli luangkan untuk membantu saya adalah lebih dari cukup. Ungkapan rasa terimakasih saja tidak pernah terasa cukup. Kado ulang tahun yang 'kepagian' ini tambah membuat saya terharu. Ah, bagaimana sebuah persahabatan yang dimulai di dunia maya dapat terjalin sedemikian kuatnya di dunia nyata. 

Feli... Hm, saya selalu stuck saat akan menjabarkan kepribadiannya dan betapa saya mengagumi dia. Saya kenal Feli tentu dari hasil blogwalking yang ternyata beberapa teman Feli terkait juga dalam link blogroll saya. Mudah untuk jatuh cinta pada setiap tulisan Feli, saya suka dengan caranya menulis dan mengekspresikan perasaan lewat kata-kata. Walau ngeblog sebagai sarana curcol, tapi selalu ada pesan yang terselip dalam setiap postingannya. 

Hal lain yang saya suka dari seorang Feli adalah passion dalam hidupnya dan bagaimana dia mengejar passion tersebut. Pekerjaan yang dipilih adalah di bidang non-profit atau humanitarian yang pasti membuat dia bertemu dengan banyak orang yang berbeda dan belajar banyak tentang kehidupan. Dan umh, siapa yang sangka ternyata mempertemukan dia juga dengan T yang sekarang menjadi suaminya. 

Dari tema yang berat tentang pekerjaan atau hasil kontemplasinya dengan lingkungan sekitar sampai beberapa tema ringan tentang kehidupannya di Oslo dan ceritan tentang hubungan dengan suami tercintanya T, membuat saya selalu ketagihan dan menanti postingan Feli yang berikutnya. Feli membawa saya berjalan-jalan ke Norwegia dengan tulisannya, tertawa dengan cerita konyol tentang culture shock selama di Oslo dan ikut merenung dan berpikir lewat tulisannya tentang kehidupan. 

Sekarang Feli sedang sibuk bolak-balik menembus rimba Papua. Walau berada di Indonesia tapi jadwalnya padat bukan main, akan sulit rasanya meluangkan waktu untuk sekedar kopdar. Semoga suatu hari nanti saya bisa mampir ke Oslo dan kopdaran disana, sekalian mampir ke rumah barunya Feli. Amiiinnn :)








Thanks a lot untuk kadonya Fel. Semoga agendanya bisa diisi dengan pengalaman saya selama di Eropa *makin kenceng bilang Amiiinnn*  :)

PS: Ultah saya masih beberapa hari lagi kok. Kiriman kado berikutnya masih ditunggu ya :)

Kamis, 07 Oktober 2010

Fake Luxury

Pernah membeli barang imitasi? Barang aspal alias asli tapi palsu? Atau yang sedang tren sekarang adalah barang KW, mulai dari KW super, KW1, dan KW2. Kualitas yang disingkat menjadi KW ini biasanya menunjukkan derajat kemiripan barang palsu dengan yang asli, semakin rendah tingkatan KW maka kualitasnya akan semakin jelek dan harganya pun lebih murah. Barang imitasi, aspal, atau KW biasanya menjiplak habis sebuah model dari suatu brand terkenal. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga meng-emboss barang palsu dengan logo dari brand yang dijiplak. Dengan demikian, untuk mata orang awam tidak akan terlihat bedanya, mana yang asli dan palsu.

Rasanya sekarang masyarakat sudah tidak malu lagi memakai barang KW ini, penjualannya pun dilakukan secara terang-terangan. Pemalsuan brand sudah tentu merugikan banyak pihak: pemegang lisensi resmi atas brand yang bersangkutan, designer yang susah payah merancang, dan merugikan negara karena kita tidak membayar pajak atas barang tersebut. Yang pasti, memakai barang KW mencerminkan mental kita sebagai mental pembajak.

Untuk kalangan sosialita, adalah haram hukumnya jika memakai barang palsu. Sekali ketahuan memakai barang KW, maka untuk selamanya dia akan dicap sebagai pemakai barang imitasi. Tidak akan dipercaya lagi walau ia memakai barang asli sekalipun. Tetapi saya, anda, dan kita, bukanlah sosialita dari kalangan jetset. Tetap saja, alasan ini tidak bisa dijadikan pembenaran untuk ikut-ikutan memakai barang KW.

Saya pribadi sudah pasti tidak mampu membeli tas merk LV, Guess, atau Chanel yang harganya berpuluh-ratusan juta. Jika saya memakai tas palsu yang meng-emboss brand tersebut, bukankah saya sudah membohongi diri sendiri? Masyarakat pun bisa menilai kalau karyawan-kantoran-yang-setiap-hari-naik-bus-dan-gajinya-pas-pasan seperti saya tidak mungkin memakai tas dari brand yang asli. Jadi untuk apa saya tetap memakai tas dengan emboss brand terkenal tersebut? Yang pasti, saya malu mengenakan benda yang terang-terangan menempelkan brand super-wah yang pastinya tidak terjangkau kocek saya.

Percaya atau tidak, harga tas dan sepatu KW dengan brand terkenal ini harganya pun tidak murah. Kalau begitu, mengapa tetap mengeluarkan uang banyak untuk sebuah barang palsu? Mengapa tidak membeli barang asli dari brand lain yang tidak kalah bagus tapi tetap terjangkau, dengan begitu kita bisa menghindari pembajakan dan tidak membohongi diri sendiri. Dengan status yang notabenene memang bukan sosialita dan bukan anak dari orangtua super-tajir-melintir-lintir, untuk apa memaksakan diri memakai benda bermerk. Akui saja kalau kita saya memang tidak mampu.

Saya pribadi, sudah menempelkan stigma negatif terhadap orang yang dengan bangganya memakai barang KW tanpa merasa bersalah. Pasti terdengar arogan bagi kalian, kesannya saya orang suci yang tidak pernah memakai barang palsu, selalu membeli barang asli yang lebih mahal dari barang asli, dan tidak mau memakai barang murah. Tidak juga tuh...

Jaman kuliah dulu, saya punya satu tas yang mengemboss sebuah merk terkenal. Sayangnya, tas tersebut tidak sempat go public terlalu lama karena saya malu telah membohongi diri sendiri. Saya juga tahu, 40% siswa di kelas saya termasuk golongan anak-tajir-melintir yang mampu membeli barang dengan merk asli.  Rasanya tidak rela kalau harus dihujani tatapan 'You're wearing the fake one right?'. Lebih baik memakai tas biasa tanpa merk daripada terlihat begitu memaksakan diri untuk tampil 'mewah'.

Sekarang, setelah memiliki penghasilan sendiri, saya memilih untuk memakai produk sebuah brand  dalam negeri dengan model dan kualitas yang tidak kalah dengan brand terkenal (sstt, I recommended Capriasi for alternate). Tapi jangan salah, saya juga cinta berbelanja di Ambassador, sebuah surga belanja bagi karyawan kere untuk mencari outfit kantor yang bagus tapi affordable. Bayangkan, rata-rata sebuah tas dibandrol dengan harga 50ribu saja, tapi saya langsung ilfil begitu melihat berbagai logo brand kelas atas yang menghiasi tas tersebut. Sebagai perempuan normal, saya masih cinta barang bagus dengan harga miring, namun saya lebih memilih barang yang tidak memiliki merk atau bermerk independen. Sekarang saya lebih sadar diri untuk tidak menggunakan barang yang menempelkan logo brand terkenal.

Mau memakai barang asli, palsu, imitasi, atau KW adalah pilihan Anda. Yang pasti, ada berbagai alternatif cara yang bisa diambil untuk menghindari penggunaan barang imitasi. Jangan bangga jika Anda memakai barang imitasi karena Anda sedang membohongi diri sendiri, karena Anda secara tidak langsung mendukung pembajakan hak cipta. Seperti mengutip dari Bazaar Indonesia:


Notes: Judul Fake Luxury diambil dari tema Bazaar Style (diputar di O Channel 12 September 2010) yang juga merupakan kampanye Harper’s Bazaar untuk memerangi merk palsu yang marak beredar.

Kamis, 16 September 2010

What Is Normal?


Jangan harap Anda akan melihat peran cemerlang Sandra Bullock sebagai Tuohy dalam The Blind Side yang berhasil mengantarkan dia meraih Oscar pertamanya, jangan juga berpikir Anda dapat tertawa puas melihat akting Sandra seperti dalam film The Proposal, karena Anda hanya akan mengerutkan kening saat menonton perannya di film All About Steve.

Sandra Bullock memang artis spesialis film komedi romantis. Dia seringkali tampil sebagai perempuan single yang harus terlibat permasalahan dengan seorang lelaki dan kelak lelaki ini akan menjadi pasangannya. Tidak jauh berbeda dalam All About Steve dimana Sandra berperan sebagai Mary Horowitz, seorang perempuan single yang bekerja sebagai pembuat teka-teki silang untuk koran setempat.

Mary tidak memiliki banyak penghasilan dari pekerjaan ini sehingga dia tetap tinggal bersama orang tuanya. Karena Mary tidak memiliki teman bergaul, maka orang tua Mary berinisiatif untuk mengadakan kencan buta untuk anak perempuan mereka. Seperti bisa ditebak lewat judul film ini, yang beruntung menjadi pasangan Mary dalam kencan buta tersebut adalah Steve Mueller (Bradley Cooper). Mary yang jarang berkencan dengan lelaki setampan Steve tentu langsung jatuh cinta, sebaliknya Steve menganggap Mary sebagai perempuan yang aneh dan berusaha menghidar darinya. Konflik terjadi saat Mary memutuskan untuk mengejar-ngejar Steve kemana pun lelaki itu pergi.

Sandra Bullock selalu mampu menjiwai peran-perannya sehingga dia dapat menjelma menjadi Annie Porter yang berani namun panikan dalam film Speed (1994), menjadi seorang Lucy yang serba salah untuk menentukan orang yang benar-benar dia cintai dalam While You Were Sleeping (1995), dan siapa yang bisa melupakan peran Sandra sebagai Gracie Hart di Miss Congeniality (2000) yang berhasil melejitkan namanya. Maka siap-siaplah Anda kecewa dan hilang rasa terhadap Sandra saat melihat perannya dalam All About Steve. Untuk mewujudkan tokoh Mary Horowitz, Sandra tampil dengan rambut pirang (yang sangat tidak cocok dengan dirinya), terlalu kurus, terlalu banyak bicara, dan terlalu polos mengartikan sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sepertinya Sandra terlalu sukses memerankan tokoh Mary sehingga secara tidak langsung citra Sandra yang sebenarnya tertutupi oleh tokoh Mary.

Bagi saya, kegagalan utama All About Steve terletak pada cerita dan plot yang tidak cukup kuat sehingga seluruh jalinan cerita terasa terlalu dipaksakan. Tokoh Mary Horowitz yang seharusnya tampil sebagai perempuan posesif malah terlihat sebagai perempuan yang aneh. Hal ini juga yang membuat Sandra Bullock dianugrahi Razzie Award untuk kategori aktris terburuk. Sandra sendiri santai saja menanggapi hal tersebut, baginya membuat film bukan hanya untuk mendapatkan uang. Saya jadi berpikir ulang, apa yang menyebabkan Sandra nekat mengambil peran yang ujungnya malah menjatuhkan namanya sendiri. Aktris lain belum tentu mau mempertaruhkan namanya untuk film yang sudah pasti tidak laku di pasaran.

What is normal? Mungkin inilah premis dari film All About Steve. Ketika Mary terus-terusan mengejar Steve yang sedang meliput sebuah tambang yang longsor, tanpa disengaja dia jatuh ke dalam lubang tambang yang longsor. Media kemudian menelusuri asal-usul Mary dan menyimpulkan bahwa Mary depresi dan hendak bunuh diri. Mengapa? Karena pekerjaan Mary tidak dapat menunjang kebutuhan hidupnya dan fakta bahwa sampai saat ini Mary masih tinggal bersama orang tuanya. Bukan sebuah kondisi yang 'normal' bagi masyarakat barat. Kesimpulan ini dibantah orang tua Mary dan Steve sendiri. Mary hanya melakukan hal yang dia cintai; bekerja sebagai pembuat teka-teki silang merupakan kesukaan Mary. Sebenarnya Mary adalah wanita baik, hanya saja dia terlalu pintar sehingga membuatnya terlihat berbeda dengan wanita kebanyakan.

What is normal? Setiap orang dilahirkan unik dan berbeda-beda, setiap manusia memiliki pilihan hidup dan cara berpikir yang berbeda, tetapi masyarakat menetapkan norma dan aturan tidak baku yang harus dituruti agar mereka terlihat sama. Derajat kenormalan seseorang ditentukan oleh masyarakat, lingkungan sekitar, dan aturan tidak tertulis. Sedikit saja seseorang melanggar aturan normal ini, maka dia akan di cap aneh dan berbeda. Tidak banyak orang yang memilih untuk melawan arus kenormalan, mereka lebih memilih untuk berjalan sesuai dengan arus yang ada.

What is normal? Salahkah jika saya tampil sebagai diri sendiri, tanpa topeng yang melekat di wajah, untuk menunjukkan ke semua orang inilah saya yang sebenarnya. Saya yang ceplas-ceplos dan mengungkapkan pikiran jujur apa adanya, bukannya diam dan bersikap nerimo. Saya yang lebih sering tertawa lepas, bukan hanya senyum malu-malu untuk menunjukkan kegembiraan yang sebenarnya. Saya yang sering sinis terhadap lingkungan karena merasa mereka terlalu kolot. Salahkah jika saya tidak tampil seperti perempuan 'manis' kebanyakan? 

Mungkin ini juga alasan Sandra Bullock memilih peran Mary. Tidak semua artis sekaliber Sandra berani mengambil peran aneh ini, tetapi Sandra berani untuk menunjukkan tidak apa menjadi berbeda dari orang lain lewat lakon Mary. Justru dengan menjadi diri sendiri, Mary bisa mengetahui dan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, bukan sekedar kebahagian yang semu dan palsu. Esensi dari kehidupan manusia adalah untuk hidup bahagia, apapun pilihan mereka. Dan tidak ada yang salah dari pilihan hidup seseorang, walaupun terkadang pilihan itu melenceng dari kaidah normal masyarakat. 

Jadi, beranikah kita untuk menjadi 'tidak normal'?

Minggu, 25 Juli 2010

Raditya Dika?

Siapa yang tidak kenal Raditya Dika. Saya yakin semua warga Indonesia pasti kenal makhluk absurb satu ini, paling tidak pernah mendengar namanya. Tapi siapa yang tidak tahu hebatnya tulisan-tulisan Radith? Well, saya salah satunya. Siapa yang tidak tertarik membaca bukunya sampai selesai kecuali tidak ada bacaan lain? Hm, itu saya. Siapa yang tidak mengakui kalau Radith adalah penulis kocak yang mampu membuat pembacanya tertawa dan setia menanti buku-buku dia yang selanjutnya? Ya, itu saya lagi.

Mari kita bicara tentang Kambingjantan, buku pertama Radith. Sejak pertama kali launching, buku ini memenuhi rak di toko buku ternama, termasuk di bagian Bestseller. Ok, saya mulai membaca profile Radita Dika dan pikiran yang pertama tercetus di kepala saya adalah; "Hm, blogger ya. Baiklah... Beruntung banget dia, bisa nerbitin buku yang diangkat dari blog. Mungkin karena sekarang belum banyak yang pake blog, terus Radith itu orang yang aktif nulis di blog, tulisannya dinilai lucu, konsep blog diangkat jadi buku juga belum pernah kejadian di Indonesia, akhirnya blog dia dipilih buat diterbitin dalam bentuk buku deh. Ah, kalau sekarang sudah banyak blogger juga belum tentu Radith bisa membukukan kisah hidupnya. He's just a lucky guy". Kemudian saya mulai membaca Kambingjantan secara random.

Cerita pertama yang saya baca adalah saat Radith memasukkan usus ayam yang kelindes mobil atau apa gitu, kembali ke tubuh si ayam. Hoo... teriakan CIAAAPPP si ayam cukup membuat saya ngenes. Lalu saya loncat ke halaman lain dan membaca cerita saat Radith memburu tikus dengan pembantunya. Cerita si tikus berakhir setelah disemprot pakai parfum karena dia bau, lalu dibakar. Duduuuhh... ini orang punya masalah sama binatang kali ya.

Kambingjantan memang laris manis dan banyak diomongin orang-orang, termasuk temen kuliah saya. Saat itu seorang teman dengan semangat menggebu bilang gini, "Cha, lo udah baca Kambingjantan belom? Ih, itu lucu banget ya. Ternyata temen gw itu temennya Radith. Itutuh, nama penulisnya. Kemaren gw dikenalin sama dia, dan si Radith itu beneran lucu banget. Gila deh anaknya. Keren juga sih Cha, dia bolak-balik Aussie-Indonesia gitu, kan dia kuliah disana. Terus...bla.. bla... bla...". Yea, temen itu nyerocos terus tanpa memberi saya kesempatan untuk bicara. Saya cuma manggut-manggut-marmut, pura-pura tertarik dan antusias dengan semua yang dia omongin. Dalem hati saya cuma bisa nanggepin, "Whatever, kaya gw tertarik sama Kambingjantan ato si Radith penulisnya itu".

Saya kira Radith akan seperti penulis kacangan lain yang hanya mampu menerbitkan satu karya kemudian mati tenggelam. Tapi keberuntungan dia sepertinya tidak berhenti sampai Kambingjantan saja. Buku karya Raditya Dika selanjutnya terbit bertubi-tubi (Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot) secara konsisten hampir setiap tahunnya. "Pasti penulis ini memiliki basis fans yang cukup besar sehingga mampu menerbitkan buku lagi dan tetap laris di pasaran". Paling tidak itulah penjelasan logis yang sayangnya cukup jahat yang diberikan otak saya.

Setahun yang lalu, saya bergabung dengan blogspot. Sebagai newbie blogger, kewajiban utama saya tentu saja blogwalking. Hampir semua blog yang saya kunjungi memasang link ke blog Raditya Dika. Yah, saya juga seperti merasa berkewajiban mampir ke tempat yang sudah meracuni pikiran banyak orang untuk ikut ngeblog ini, Radith semacam mbah di dunia perbloggingan menurut saya. Sebenarnya ada satu alasan lagi dan ini adalah alasan terkuat: saya penasaran, siapa sih Raditya Dika itu?

Sebenarnya cukup gampang menjawab pertanyaan ini. Saya tinggal browsing dan berderet-deret informasi dan artikel tentang Raditya Dika akan bermunculan. Bukan itu yang saya butuhkan. Saya perlu tahu, kenapa dia sedemikian menginspirasinya, kenapa bukunya selalu masuk dalam bestseller, kenapa dia jadi panutan beberapa penulis yang baru memulai karirnya, dan yang paling terpenting, sehebat apa tulisannya. Ya saya tahu, mustinya saya mulai membaca semua buku Radith jika mau semua pertanyaan itu terjawab. Tapi kesan pertama saya terhadap Kambingjantan membuat saya enggan untuk membaca karya Radith yang lain. Mungkin tulisannya di blog dapat memberi saya persepsi lain tentang seorang Raditya Dika.

Postingan Radith yang pertama saya baca di radityadika.com menceritakan beberapa hal yang telah dan belum sempat tercapai di tahun 2009. Hoo.. lagi-lagi pikiran jahat saya muncul 'Gila, ni anak beruntung banget. Let me see: film Kambingjantan, pacaran sama Sherina, punya segmen tetap di TV'. Yap, I still don't get the point who is Raditya Dika. Di mata saya dia hanyalah seseorang yang super-duper-beruntung. Setelah kunjungan tersebut saya sibuk mengelola Merry go Round dan pertanyaan besar di kepala tentang Raditya Dika sedikit terkesampingkan.

Kegiatan blogwalking tak jarang membuat saya mampir kembali ke blog Raditya Dika. Dari beberapa kunjungan tersebut, Radith hanya menulis kesibukannya dalam menerbitkan buku terbarunya, dan tetap saja, pertanyaan utama saya tidak terjawab. Seorang teman saya begitu tergila-gila dengan Radith, dia rela ikutan sebuah workshop karena Radith adalah pembicaranya. Dia membawa semua buku Radith, lengkap, disampul plastik, dan meminta Radith menandatanganinya. Mengobrol sedikit dengan Radith, dan tambah menggila-gilainya.

"Lo ngapain ikutan workshop begituan? Sejak kapan lo tertarik sama blog" tanya saya penasaran.

Dengan ketawa ngikik-ngikik-kegirangan-karena-baru-ketemu-Raditya-Dika, dia jawab nyaring "Soalnya Radith jadi pembicaranyaaaa....."

"Teruuuss... emang setelah ikutan workshop itu lo mau ikutan jadi blogger gitu? Ngikutin jejaknya Radith?" saya skeptis ngelontarin pertanyaan ini ke dia.

"Ya engga siiihh... Tapi ya gw seneng aja gitu Cha. Gw. Ketemu. Raditya Dika."

Still, I don't get the point.

Kemudian buku terbaru Raditya Dika, Marmut Merah Jambu (MMJ) terbit. Topik ini memang cukup menghangat, betapa semua penggemar Radith telah menantikan buku ini 2 tahun lamanya. Teman saya yang sangat-tergila-gila-Raditya-Dika ini memesan khusus di toko buku agar dia tidak kehabisan MMJ dan bisa mendapat cetakan pertama. Oke, disini saya tidak mengerti pentingnya mendapat cetakan pertama dari sebuah buku. Selesai membaca MMJ, dia mengupdate status Facebooknya:

This book is killing me... Berasa ditabokin baca buku ini.. 

Hoo... Sedikit menyeramkan, buku bisa membunuh dan nabokin orang. What is the maksud? Dan penjelasan dia adalah "Bukunya baguuuuuuuuuuuuuuuuuuusss bgt Chaa, banyak ngena nya di gw. Huhuhu, makanya berasa ditampar berkali-kali gw baca tuh buku. Hehehe". Eerr, sepertinya saya bisa ngerasa bagaimana bagusnya buku itu dengan banyaknya huruf U yang digunakan.

Saya masih tidak tergerak untuk membaca buku Raditya Dika sampai kunjungan saya beberapa minggu kemarin ke sebuah toko buku. Disana MMJ memenuhi hampir seperempat bagian toko; bagian buku laris, buku pendatang baru, di belakang kasir, intinya di semua titik nadi dari sebuah toko buku. Seketika euforia di dalam toko buku tersebut menjadi euforia MMJ. Semua pengunjung yang datang langsung disodori pemandangan Radith bergaya marmut, lalu mengobrol santai tentang buku-buku Radith sambil memegang MMJ, buka-buka beberapa halaman MMJ, dan akhirnya membawa buku tersebut ke kasir. Saya? Masih tidak tertarik dan sibuk mencari buku yang cocok untuk menemani di hari minggu ini. Selesai mencari, saat kaki akan melangkah keluar dari toko, saya tergelitik untuk membaca MMJ sedikit. Sekedar penasaran dengan cerita Radith-Sherina yang dia tulis disitu.

Buku langsung saya buka di bagian daftar isi, mencari-cari judul yang tepat, dan pergi ke halaman yang dituju. Rileks, tarik napas, and here we go... Baiklah, saya suka dengan cara menulisnya, ringan, personal, menggunakan perumpamaan yang berbeda dengan pasaran. Hm, lumayan. Balik ke halaman berikutnya, disini Radith mengambil contoh pertemuan seseorang di sebuah adegan sinetron dan saya mulai menahan tawa dan menggigit-gigit bibir agar tawa ini tidak meledak. Satu cerita selesai. Respon saya? Hmm, mungkin kata menarik dapat mewakili. Saya suka cara Radith menyampaikan ide 'semesta berkonspirasi saat mempertemukan kita dengan seseorang'. Saya bahkan belum pernah memikirkan konsep ini secara mendalam sebelumnya. Cerita yang cukup manis, tapi tidak berlebihan.

Satu cerita mungkin sudah cukup. Tapi cerita selanjutnya berjudul 'Buku Harian Alfa' membuat saya ingin membaca MMJ lebih jauh. Untuk cerita ini, walau bibir sudah digigit sekencang mungkin, walau napas sudah ditahan sedalam mungkin, saya tetap tidak bisa menahan tawa yang meluncur manis dari bibir ini. Saya menyerah, berjalan menuju kasir, dan membawa MMJ untuk diajak pulang.

Seorang teman blogger mengatakan, inti terpenting saat kita menulis adalah 'untuk apa?' Untuk apa sih kita nulis, apa yang akan kita sampaikan ke pembaca, paling tidak selesai membaca sebuah tulisan ,seseorang bisa mendapatkan sesuatu dari sana. Harus ada pesan yang jelas saat kita menulis, ini akan menjadikan tulisan kita lebih bermakna dan berbobot. Untuk apa nulis panjang-lebar-kali-tinggi kalau intinya cuma 'Hari ini gw ditraktir temen makan bakso dan gw seneng banget'. Itu sih ngga perlu niat nulis di blog, update aja di Facebook atau Twitter. 

Sedikit banyak hal inilah yang saya harapkan dari MMJ, dari seorang Raditya Dika. Apakah dia mampu memberikan tujuan 'untuk apa' dalam bukunya atau isi MMJ hanya tulisan tidak bermutu yang cuma ditujukan untuk membuat orang tertawa. Rasa skeptis itu masih menempel di kepala saya.

Cerita pertama: Orang Yang Jatuh Cinta Diam-diam. Kisah cinta Dika di SMP dimana dia hanya bisa mengagumi orang yang dicintai tanpa berani mendekati dan menyampaikan perasaannya. Konsep yang sederhana, tapi Radith meraciknya dengan cara yang benar-benar berbeda sehingga menghasilkan cara penyampaian yang berbeda pula. Kepolosan anak SMP, gap sosial antara geng populer dan geng cupu, naksir-naksiran, semua yang mengalami masa SMP pasti tau bagaimana rasanya. Itu dia, semua orang pernah merasakan apa yang Radith tuliskan sehingga setiap cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, kekuatan utama dari buku ini karena pengalaman personal pembuatnya. Tidak ada yang lebih mengerti bagaimana rasanya cinta terpendam, ditolak, sampai jadian selain diri sendiri. Novel lain yang bercerita tentang seorang cewek nyomblangin sahabatnya dengan seorang cowok, kemudian mereka nikah, padahal cowok ini adalah selingkuhan cewek ini, dan dia nyatuin selingkuhan dan sahabatnya dalam ikatan pernikahan supaya suaminya ngga curiga (sebuah cerita rumit untuk dipilih) terlihat tidak terlalu masuk akal dan pasti tidak semua orang pernah mengalaminya (ada gitu yang ngalamin kejadian kaya gini di dunia nyata). Penulisnya juga mungkin hanya merangkai sebuah cerita tanpa pernah merasakan perasaan yang sesungguhnya tertuang di dalam buku (atau mungkin itu memang pengalaman pribadi dia?). Yah, itu lah intinya. Ngerti kan? Saya juga lumayan bingung sih (kenapa saya jadi dodol gini ya).

Sama persis dengan teman-saya-yang-ngefans-abis-sama-Raditya-Dika bilang, saya juga ngerasa ditamparin pas baca buku ini. Plus ngos-ngosan juga sih. Cerita Radith mungkin biasa, endingnya juga paling ketebak, tapi cara dia menulis, menyampaikan perasaannya, mengungkapkan apa yang dia rasakan, bikin saya lupa bagaimana caranya bernapas. Saya ngga pernah bisa menduga apalagi yang akan Radith rasakan, cerita seperti apa yang akan terjalin setelah hubungan ini, dan konsep apalagi yang akan Radith gunakan untuk tulisan selanjutnya. 

Satu hal yang tidak saya harapkan dari MMJ. Radith menuliskan beberapa permainan psikologis antara laki-laki dan perempuan, menggambarkan dengan sederhana bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda, dan bagaimana cara menghadapinya. MMJ juga membuat saya mengerti, bagaimana laki-laki memandang dan menyikapi cinta, melihat arti cinta dari sudut pandang laki-laki. Tulisan seperti ini membuat seri lengkap buku Mars vs Venus yang ngejelimet terasa tidak ada artinya. Bravo Radith!

Kebanyakan inti cerita, ide, konsep, atau apa yang teman blogger saya sebut 'untuk apa' terletak di akhir cerita. Dengan kata lain, punching line diletakkan di akhir dan membuat cerita berasa lebih 'nendang'. Loh, kalau gitu mustinya saya ngerasa ditendangin dong setelah baca MMJ, bukan ditamparin. Tapi arti punching itu sendiri kan meninju. Yah, sepertinya kata ditamparin lebih bisa diterima daripada ditendang atau ditinju. Harap diinget ya, ini konteksnya saat membaca sebuah cerita atau buku, bukan di kehidupan nyata. Saya jelas-jelas menolak semua bentuk kekerasan yang terjadi di dunia nyata (halah).

Lalu pertanyaan itu akan kembali ke saya, untuk apa saya nulis segini panjang tentang Raditya Dika. Akan saya jawab. Tulisan ini saya buat untuk mengapreasiasi seorang Raditya Dika. Lewat MMJ, pertanyaan saya selama ini tentang 'siapa sih Raditya Dika' akhirnya terjawab. Saya dapat mengerti mengapa seorang Raditya Dika begitu menginspirasi, saya bisa lihat hebatnya tulisan dia sehingga tak heran buku Radith betah nongkrong di rak bestseller. Kemudian saya membaca ulang blog Radith dan menemukan petuah bijak tentang menulis, salah satu yang selalu saya pegang dari pesan di tulisan itu adalah KISS, Keep It Simple Stupid. 

Saya juga merasa harus meminta maaf atas semua pikiran negatif saya terhadap Raditya Dika sejak Kambingjantan terbit melalui tulisan ini. Memang, Radith tidak akan membaca tulisan ini, dia juga tidak pernah tahu kan kalau saya pernah memiliki pikiran segitu jeleknya tentang dia, tapi saya merasa perlu untuk membuat satu tulisan khusus Raditya Dika. Mungkin ada orang lain di luar sana yang masih memiliki pemikiran seperti saya dulu, atau skeptis dengan buku ringan seperti MMJ, atau merasa tidak level baca buku sejenis MMJ. Saya tidak mau berkomentar banyak. Hanya coba saja dulu baca, mungkin pikiran kalian akan berubah :)


Foto jijaybajay saya sama MMJ:
- Mata beler karena mulai baca tengah malem dan ngga bisa berenti sampe jam 3 pagi.
- Baju tidur gambar beruang dan lope-lope (sori, saya masuk angin kalo pake lingerie doang).
- Kacamata minus yang tebel banget karena mata udah kering ditempelin softlense seharian.
- Kamar berantakan, lengkap dengan sebuah boneka tak berdosa yang ngga sengaja saya dudukin.

Trust me, butuh keberanian besar untuk memasang foto ini disini.

Selasa, 08 Juni 2010

Life For Passion

Salah satu hal penting yang saya tangkap dari film Julie and Julia adalah life for passion. Di film itu Julie berusaha menekuni passion dalam hidupnya, memasak dan menulis, di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai petugas call center. Dengan menjalankan passion, Julie merasa lebih hidup dan bersemangat dalam menjalani hari dan menghadapi pekerjaannya yang menyebalkan.

 

Berbicara tentang passion, ada tiga hal di dunia ini yang mampu mengembalikan semangat dan merefresh otak saya: film, musik, dan buku. Seperti pendeskripsian saya di halaman muka blog ini, I’m movie freak, music holic, and books worm. Travel juga masuk dalam daftar passion saya, hanya saja travel membutuhkan perencanaan, waktu dan biaya lebih, jadi tidak bisa saya lakukan semaunya saja. Ketika sebagian besar wanita memasukkan belanja dalam passion hidup mereka, saya hanya menganggap belanja sebagai ‘pelarian’. Bagaimana dengan blogging, hmm kegiatan ini sudah masuk dalam kategori pengaktualisasian diri, dan bagi saya kedudukannya lebih tinggi dibanding passion.

Passion pertama dalam hidup saya: film. Cukup cari saya di bioskop pada hari libur, saya pasti beredar disana untuk menonton film terbaru. Jika tidak ada film yang menarik, maka saya akan berada di kamar, sibuk memutar keping DVD berbagai genre film.


Dengan sebuah film, baik fiksi maupun kisah nyata, saya dapat melihat kisah hidup seseorang, mencoba memahami perasaan mereka, belajar tentang kebudayaan negara lain, plus dimanjakan dengan visualisasi melalui setting sebuah film. Berhubung jenis film di Indonesia kebanyakan didominasi film produksi Hollywood, jadi saya selalu menantikan dan menikmati berbagai festival film. Sangat menyenangkan dapat menjelajahi berbagai tempat di dunia ini dan mempelajari kebudayaannya melalui sebuah film.

Passion saya pada musik sejalan dengan kecintaan saya dengan radio. Sejak SMP saya bercita-cita menjadi penyiar radio. Pasti menyenangkan jika dapat mengetahui perkembangan musik terbaru, setiap hari bisa memutar musik favorit, dan bekerja sesuai minat, begitu pikir saya. Tidak mudah memang menjadi penyiar, tapi saya beruntung dapat mencicipi pengalaman itu di bangku kuliah. Bagi saya, tidak ada pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain bekerja sesuai passion yang dimiliki.

Setiap musik memiliki sebuah cerita hidup dan kenangan di dalamnya. Melalui sebuah musik, saya dapat menyusun garis waktu dan bercerita banyak dari memori yang secara langsung terputar ulang. Saat mendengar lagu Sheila on 7 misalnya, saya langsung teringat masa-masa SMU dan kekonyolan teman-teman yang mengidolakan personilnya. Jadi jangan salahkan saya jika sering senyum-senyum sendiri atau tiba-tiba termenung saat mendengarkan sebuah musik.


Musik dapat mempengaruhi mood dengan hebatnya. Sejenuh dan sebosan apapun, saya cukup mendengarkan musik kesukaan, ikut menyanyikan beberapa lirik, tersenyum saat mengingat beberapa cerita hidup yang bermunculan, dan beberapa menit kemudian perasaan menjadi lebih baik. Karena itu, saya selalu mengawali hari dengan mendengarkan radio, cara ampuh menyemangati diri sendiri untuk bekerja seharian.

Saya cinta buku, hanya saja saya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Belum lagi sifat saya yang detail oriented dan perfeksionis ikut mempengaruhi. Saya ingin mempunyai waktu khusus untuk membaca, tanpa gangguan. Mood saya juga harus bagus, jadi saya dapat merasakan mood yang ingin disampaikan dari buku tersebut. Belum lagi saya ingin membaca kata per kata dari sebuah buku, tidak cukup rasanya kalau membaca cepat atau skimming saja. Hal-hal kecil dan tidak penting ini akhirnya membuat beberapa buku menjadi tertunda untuk dibaca.  


Banyaknya kalimat yang dibaca dalam sebuah buku membuat otak saya terasa hidup kembali. Saya sudah teramat bosan dihadapkan dengan deretan angka dari Senin - Jumat, jadi saya butuh limpahan kalimat untuk menyeimbangkannya. Penggunaan kata dan kalimat yang ditulis dalam buku memperkaya kosa kata saya saat menulis blog. Sayangnya beberapa bulan ini saya belum membaca satu buku pun, jadi pilihan kata saya di blog sedikit monoton dan membosankan :(


Tiga passion dalam hidup saya dan membuat hari-hari lebih berwarna, bermakna, dan menyenangkan. Apa passion kalian? Share sama saya ya :)

Kamis, 03 Juni 2010

Movie Review: Julie and Julia

Baru kali ini saya menulis review sebuah film dalam satu postingan khusus. Entahlah, saya seperti memiliki ikatan khusus dengan film Julie and Julia. Setelah membaca tulisan ini, mungkin kalian juga akan merasakan chemistry yang sama :)

Julie and Julia mengisahkan kehidupan dua orang wanita di dua masa yang berbeda. Diangkat dari kisah nyata, film ini diadaptasi dari autobiografi Julia Child, My Life in France, dan buku yang ditulis Julie Powell sendiri, Julie & Julia.


Julia Child (Meryl Streep) pindah ke Paris di tahun 1950 untuk mengikuti suaminya yang bekerja di kedutaan. Julia yang tidak betah duduk diam di rumah memutuskan untuk mengambil kursus, hanya saja dia bingung akan minat yang dapat ditekuninya. Satu-satunya hal yang sangat digemari Julia adalah makan, karena itu dia memutuskan untuk mengambil kursus memasak. 

Setting berpindah ke tahun 2002 ketika Julie Powell (Amy Adams) pindah ke Queens bersama suaminya Eric Powell (Chris Messina). Julie bekerja sebagai call center yang melayani komplain seputar tragedi 11 September, dan jujur saja, Julie sangat membenci pekerjaannya. Sebenarnya, Julie adalah seorang penulis, hanya saja tulisan-tulisan Julie tidak pernah selesai dan tidak dapat dipublikasikan. Ketika Julie menghadapi satu titik jenuh dalam hidupnya, Eric menyarankan Julie untuk membuat blog. "Itulah hebatnya blog, tidak perlu penerbitan. Tinggal pakai internet, tekan enter, dan beres" kata Eric. Julie terinspirasi untuk membuat blog tentang masakan yang diambil dari buku Julia Child berjudul Mastering the Art of French Cooking. Dia membuat target akan menyelesaikan 524 resep dalam waktu satu tahun.

 Julia memotong bawang paling cepat dan banyak, mengalahkan rivalnya yang semuanya laki-laki

 Julia yang tidak tega merebus udang

Dari sini, cerita bergulir bergantian antara Julie dan Julia. Untuk menjaga kesatuan cerita, ditampilkan beberapa kisah Julie yang mirip dengan cerita Julia. Seperti perjuangan Julia untuk memotong bawang dengan cepat, sedangkan Julie tidak tega membunuh udang untuk dapat memasaknya.  Kedua wanita ini juga mendapat dukungan penuh dari suami mereka, hanya saja Eric sempat menyerah karena Julie terlalu sibuk dan fokus untuk mencapai targetnya. Dan persamaan utama mereka adalah perjuangan untuk mempublikasikan karya masing-masing dalam bentuk buku. Julia yang memiliki keahlian masak di atas rata-rata harus kecewa saat naskahnya ditolak karena dinilai terlalu tebal dan tidak memiliki nilai jual. Sedangkan Julie yang memiliki banyak pembaca dan pendukung di blognya tidak kunjung dilirik wartawan untuk diwawancara atau ditawari agar blognya diterbitkan dalam bentuk buku.

Julia and Husband

Julie and Eric

Saya cinta film ini karena merasa memiliki persamaan dengan Julie. Terkadang saya bosan dengan rutinitas harian dan pekerjaan kantor yang hanya itu-itu saja. Saya butuh sarana untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri sendiri. Saat menulis blog, sepertinya saya memiliki pelarian dari rutinitas sehari-hari. Di awal ngeblog, Julie sempat merasa down dan bertanya adakah yang membaca tulisannya. Saya juga seperti itu, merasa kegiatan ngeblog saya sia-sia. Dan perasaan saya juga sama seperti Julie yang mendapat 53 komen untuk tulisannya. Memang, tulisan saya belum pernah memecahkan rekor seperti itu, tetapi ketika ada yang mengomentari postingan saya dan merasa tulisan saya berguna untuk orang lain, that's priceless!!!


Ada kalanya masakan Julie gagal dan dia bingung bagaimana menuliskan hal tersebut di blog, Eric menyarankan agar Julie berbohong saja, untungnya Julie tetap pada pendiriannya dan tidak mau membohongi pembaca. Kadang Julie kehilangan mood untuk menulis, kesulitan untuk membagi waktu antara pekerjaan, memasak, dan menulis blog. Saya juga mengalami hal seperti itu. Tulisan saya tidak melulu cerita bahagia, terkadang saya mengeluh lewat media ini, dan rasanya itu wajar saja. Bagi saya, blog adalah wadah untuk berbagi pengalaman dan cerita hidup, baik itu indah, manis, pahit, sedih, pasti ada pelajaran yang dapat diambil, jadi untuk apa menutupi sesuatu dan memberikan cerita palsu. Mood berpengaruh besar ketika saya menulis. Sepertinya lebih baik cuti menulis daripada menulis dengan tidak berselera. Mood yang kurang baik akan tertangkap dari tulisan itu sendiri. Dan tentu saja, pekerjaan yang menggila membuat saya tidak bisa mengupdate blog dengan rutin dan kegiatan blogwalking pun jadi terhambat.

Julie "mengunjungi" Julia di Smithsonian museum dan berfoto bersama

Di akhir cerita, Julia Child berhasil menerbitkan buku yang hingga saat ini sudah 49 kali dicetak ulang. Julie Powell sendiri akhirnya dapat menerbitkan buku yang diangkat dari blognya, The Julie/Julia Project, di tahun 2005, dan bukunya sudah diangkat menjadi sebuah film. Keberhasilan Julie membuat saya teringat  akan Raditya Dika dengan Kambing Jantannya, Trinity dengan The Naked Travelernya, Andrei Budiman dengan Travellousnya, Kerani dengan My Stupid Boss, dan beberapa penulis blog lain yang berhasil mempublikasikan blog mereka dalam bentuk buku. Butuh perjuangan panjang tapi mereka berhasil. Perjuangan Julie di film ini membuat saya merinding, bagaimana kecintaannya pada memasak dan menulis akhirnya membuat dia menghasilkan sebuah karya yang sangat mencengangkan.

Sebagai Julia Child, Meryl Streep bermain sangat cemerlang. Dia mampu mengucapkan percakapan dengan logat Perancis. Tak heran jika Meryl Streep dinominasikan dalam banyak penghargaan film bergengsi dan memenangkan Golden Globe 2010 sebagai artis terbaik kategori film musical/komedi. Amy Adams yang melakonkan Julie Powell tak kalah hebat dalam mempermainkan emosi penonton, mulai dari tingkah laku konyol dan polosnya, hingga saat Julie merasa down karen wawancara perdananya harus dibatalkan. Di balik layar, tangan dingin Nora Ephron semakin membuktikan eksistensinya sebagai sutradara spesialis film komedi romantis melalui film ini.

Meryl Streep total dalam memerankan tokoh Julia

Untuk semua teman blogger, saya sangat merekomendasikan film Julie and Julia. Kalian akan merasakan semangat Julie dan mendapatkan inspirasi dari semua masalah dan keberhasilan yang dia raih selama menulis blog. Jika harus memilih dari skala 1 - 10, saya akan memberikan peringkat 11 untuk film ini. Outstanding!!!

For the last


Bon appétit  :)

Kamis, 29 April 2010

Catatan aRa


Buat Kamu

Bapak pernah bilang ke saya, “Ara, hargailah wanita karena tanpanya hidup kamu akan sepi, karena ianya bagai pelengkap kakimu, yang mampu membuatmu berdiri tegak, membuatmu yang terjatuh mampu bangun untuk kembali melanjutkan cerita hidupmu, suatu saat nanti jika kamu menemukan “pelengkapmu” hanya satu yang Bapak minta, kamu jaga dia, dengan hati, tak apa jika hatimu kamu bagi tiga. Satu buat Ibu dan Bapak, dan satu lagi buat dia.

Saya bertemu dengan si Dia, si gadis manis dengan senyum indah bernama Alaya. Menemukannya dalam rindang pohon saat kita berteduh dari hujan yang jatuh. Panjang rambutmu yang tergerai, kamu ikat dengan satu gerakan elok, dan saya tersadar jika kamu benar-benar perempuan yang manis, tidak cantik seperti kebanyakan, tapi kamu punya senyum dengan lesung yang mampu membuat siapa saja setuju untuk mengatakan kamu lebih anggun daripada perempuan yang cantik sekalipun.

Setahun delapan bulan sudah mengenalnya dalam riang masa muda yang tak tertahan, dalam malam langit di atas lesehan tikar penjual gudeg, lampu kota dan bangunan tua cantik yang kamu foto dengan kamera lomo kesayanganmu, sampai kamu yang meminjam bahuku hanya sekedar bercerita sedihmu.

Kamu Alaya, tahukah kamu jika saya mencintaimu, dengan sumpah saya pada Bapak saya untuk menghormatimu setinggi-tingginya, bukan hanya karena kamu wanita, namun kamu yang menyimpan sebelah hati saya.

Kamu Alaya, baik-baik ya disana, jangan cemas saya punya sahabat-sahabat yang selalu menghibur saya. Aaah, sampai hari ini pun saya merasa kamu tetap mencemaskan saya, hidup dengan satu ginjal memang berat tapi saya berani bersumpah atas nama pemegang langit, jika saya bahagia sekali bagian diri saya ada ditempat kamu, kamu yang memiliki pasangannya. Seandainya kamu memintanya dari dahulu, semuanya ini tidak akan terjadi…

Maaf ya Al, bahkan demi waktu yang sudah berjalan, saya masih menangis jika saya berlutut di depan pusaramu ini.

Tahun baru tinggal menghitung hari, artinya kamu ulang tahun lagi. Nanti saya kesini ya, kamu mau saya melakukan apa? 

Oh ya Al, disana kamu bisa baca blog saya gak?


-Ara-



Diambil dari blog seorang teman yang sayangnya hanya sempat menuliskan dua postingan. Blog dapat dilihat disini.

Sabtu, 17 April 2010

Menang Itu Bonus


Jumat malam di chat room Yahoo Messenger ditemani siaran langsung Indonesian Idol.

Saya: Congratz ya keterima d Melbourne univ. Ikut seneng dengernya. tapi jadi sedih pas baca km bakal berangkat akhir mei ini. Well, all the best for you. Saya cuma bisa bantu doa.

Teman: Iyah makasih cha

Saya: Idol?

Teman: Oh iya, malem ini yah? 
Ica udah belom?

Saya: Huuu...ica mulu.

Teman: Hehe...abis suaranya bagus.

Pengen banget ikut ini.
Tapi takuuuuuttt. 

Teman: Ikut aja lagi.

Saya: Takut.

Teman: ikut juga toh gak didenda kan kalo gak menang?

Saya: Takuuuutt...
Soalnya itu akan menjadi tolak ukur pribadi

Teman: Oh Ok, selamat takut :)

Saya: Pengen nangis rasanya.
Kesel sama diri sendiri.
Padahal tangan gw udah gatel bgt pengen nulis.
Tapi selalu jiper saat baca tulisan peserta laen.

Teman: Write ur own.
Kenapa tulisan orang lain yang jadi acuan.
Every body has their own style.
And to me, ur writing is easy to read and fun to read.

Saya: Sampe sekarang belum dapet ide segar untuk ikutan kompetisi itu.
Otak gw rasanya mentok.
Makanya gw kesel.
Buntu banget.
Rasanya gw bego banget sampe sekarang belum nemu tema besarnya.

Teman: Jangan paksa nulis kalo emang lagi gak mood.
U have time.
Take time to think.

(Jeda sejenak, saya tidak tahu harus berkata apa).

Teman: dont let others intimidate you

Saya: They are already intimidate me

(Jeda lagi, saya bingung harus berkata apa lagi untuk menjelaskan keadaan saya).

Saya: Temen kuliah gw ada yg ikutan juga.
Postingannya full in English.
Jipeeeeeeeeerrrrrrrr.....

Teman: Hehe...kalo mikir kaya gitu ya gak usah daftar aja.
Kalo seseorang udah takut duluan, gua yakin orang itu gak akan menang.
I would prefer a stupid person who give a shot
than a smart person but do nothing
banyak yang nanya ke gw Cha
"Kok bisa dapet beasiswa sih"
gw cuma punya satu jawaban: karena gw daftar
sama
coba deh tanya pemenangnya: dulu pernah jiper ga??
pasti mereka bilang iya
cuman masalahnya: mereka tidak menjadikan jiper itu sebagai alasan untuk tidak mendaftar.

(Hegh...saya merasa tertohok dengan semua kata-kata yang bermunculan di chat room dan mau tidak mau menjadi panas dan tertantang untuk membuktikan kepada orang yang berada di ruang chat room yang sama ini kalau saya bisa).

Saya: Uufff...
Baiklaaaahhh...
Gw akan ikut KompetiBlog 2010

Teman: Good....
First step is done *yessssssssssss*

Saya: Untuk membuktikan kepada **** bahwa saya bukan seorang pengecut

Teman: nope to me dear
but to yourself.

(Ya, untuk saya dan untuk membuktikan sama kamu juga kalau saya bisa.......)

Saya: bahwa gw punya keberanian untuk mengejar mimpi2 gw

Teman: yeah
You rock
maksudnya rossa pake rok

Saya: hahahaha....

Teman: gitu dong
jangan down duluan.

Saya: gw yakiiiiiiiiiiiinnnnnnnn...
gw bisa bikin tulisan yang bagus
menang itu bonus
yang penting gw udah menantang diri gw sendiri untuk maju lebih jauh

Teman: u learn from experience
gw jiper cha pas tau siapa aja yang dipanggil untuk wawancara beasiswa ini

Saya: but u did it

Teman: yup
coz I dont wanna that feeling block my way
I start to think that I am not an ordinary person 
I am an extra ordinary one
(but not in arrogant way yah)
I know I have something that distinguish me from anybody else

Saya: did I already wrote bout ur extra ordinary in my post?
I know u are an extraordinary one.

k_matari9 offline.


Dan sebelum beranjak tidur setelah menonton Idol (mungkin lebih tepat mendengar idol, karena saya tidak melepaskan tatapan ini sedikitpun dari layar laptop), saya pun mendaftarkan diri untuk ikut kompetisi ini. Menang itu bonus, yang penting saya berani untuk menerima tantangan, dan belajar lebih banyak lagi dari setiap hal yang akan terjadi dari tantangan yang telah kita ambil.

PS: semoga percakapan ini dapat menginspirasi kalian yang mengalami hal yang sama seperti saya. 
Just give it a shot, like he (and I) say :) 

Untuk kamu: terimakasih atas 'pencerahan' dan semangat yang langsung menular seketika ;)