total ping

Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Pungutan liar di spot fotografi

Pungutan liar di spot fotografi makin lama makin meresahkan teman-teman fotografer yang lebih sering bermain di fotografi luar ruangan atau outdoor. Khususnya yang saat ini lebih sering menangani job foto-foto prewedding outdoor.

Dulu ketika orang mulai beralih ke tempat-tempat di luar studio untuk mencari suasana baru sebagai tempat foto-fotonya, mereka dan para fotografer masih leluasa untuk beraksi dan berkreasi memanfaatkan spot fotografi pilihan mereka. Tapi lama-kelamaan muncullah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan momentum ini sebagai ladang mendapatkan uang 'mudah' tanpa memikirkan efek negatif dari perbuatannya dengan menarik 'uang retribusi' tak resmi yang nantinya masuk kantong sendiri.

Para fotografer ini sudah ikut mempromosikan keindahan spot fotografi di suatu daerah secara tidak langsung, ketika hasil foto-foto mereka dilihat turis lokal atau manca negara serta vendor fotografi lainnya lalu ikut tertarik untuk memanfaatkannya, sudah tentu menjadi pemasukkan pendapatan yang lumayan bagi pemda setempat.

Saya lebih rela jika uang retribusi tersebut dikelola oleh pemda setempat dan digunakan kembali untuk merawat spot fotografi tadi sekalian menjadi sumber tambahan bagi uang kas daerah tersebut.

Ayo, gimana nih para pemda?


Foto : Andre Leonardo

Selasa, 08 Februari 2011

Pujian kosong di Facebook

Ketika menjalani ritual pagi di dunia maya, seperti biasa saya memeriksa inbox di email utama saya. Wah, cukup banyak surat yang masuk pagi itu, tapi setelah dibuka ternyata 'hanya' dari Facebook. Lalu setelah diperiksa satu persatu isinya hanyalah pujian terhadap sebuah foto sederhana karya sahabat fotografer yang telah men-tag banyak nama teman-temannya.

"Mantap, gan..", "Nice shot, bro..", "Keren, Oom..", begitulah kata-kata pujian yang sering dilontarkan pada kolom komentarnya. Hanya sekedar pujian basa-basi dan mencoba bersikap sopan untuk menghargai usaha sahabat yang telah mengunggah hasil karya fotonya dan dengan harapan agar fotonya balik dikomentari lalu merasa eksis.

Pernah sekali waktu saya memberi masukkan dan kritikan tajam pada sebuah foto, tapi si empunya meminta untuk tidak mengkritik terlalu tajam karena Facebook ia gunakan juga sebagai sarana promosi bagi jasa fotografinya dan nggak enak rasanya kalau sampai dilihat oleh calon klien atau malah ada yang bernada ofensif dengan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi saya untuk mengatakan bahwa karya fotonya istimewa.

Jika menurut saya memang bagus, saya akan bilang bagus. Lalu jika ada yang ingin saya beri masukkan, maka akan saya sampaikan dengan sopan. Sungguh saya tidak merasa sudah jago atau mumpuni di bidang fotografi ini. Saya hanya merasa bahwa jaringan sosial media online semacam Facebook dapat kita manfaatkan untuk saling memberi masukkan dan kritik yang membangun demi kemajuan bersama.

Memang kritik terkadang terasa pedas, tapi daripada hanya mendapat pujian kosong yang hanya sekedar basa-basi terus menjadi sebuah kebanggaan palsu...

Bagaimana pendapat sahabat?

Senin, 17 Januari 2011

Tukangpoto di Koran Kontan

Sabtu sore kemarin, ketika sedang browsing cari ide untuk update blog, ada telpon masuk dari Mbak Oca; wartawan koran Kontan. Mbak Oca mengkonfirmasi ingin mewawancarai Tukangpoto melalui sambungan telepon jika bersedia.

Padahal saya merasa masih ecek-ecek dan belum mempunyai prestasi apa-apa di bidang fotografi. Tapi karena korannya sedang menulis artikel mengenai fotografer makanan dan peluang bisnisnya, lalu kebetulan ia baca Fotografer Jurnal pernah membahas tentang pemotretan makanan, jadi ingin sekedar sharing mengenai tips dan pengalaman saya sebagai fotografer makanan.

Oh, kalo soal pengalaman sih ada walaupun masih sedikit dan mengenai tips fotografi juga mudah-mudahan bisa bermanfaat karena masih sangat sederhana dan pastinya masih kalah jauh dibanding mas-mas fotografer yang lebih profesional.

Karena Koran Kontan juga merupakan e-paper atau koran online, maka jadilah foto nyengir kuda saya nampang secara online maupun offline di Koran Kontan edisi January 17th 2011.

Terima kasih banyak kepada Mbak Oca dan Harian Kontan yang telah sudi menulis profil Tukangpoto serta para sahabat pembaca yang telah setia mengunjungi fotografer jurnal selama ini.

Bagi sahabat yang ingin baca artikelnya, klik di sini.


Foto : copyright pada Harian Kontan

Rabu, 12 Januari 2011

Fotografer karbitan

Istilah fotografer karbitan sebenarnya lebih tepat bila ditujukan kepada orang yang tadinya tidak mendalami bidang fotografi tapi karena sesuatu hal dengan terpaksa profesi 'tukang foto' mereka jalani. Sebagai contoh; seorang desainer grafis yang ditugaskan untuk mendokumentasikan sebuah acara oleh tempatnya bekerja dikarenakan ketiadaan tenaga fotografer. Dan seterusnya menjadi tugas dia jika ada hal yang menyangkut soal jepret-menjepret. Padahal hanya bermodalkan ilmu komposisi gambar, menguasai Photoshop dan tentunya menguntungkan bagi perusahaan tempat dia bekerja.

Akan lebih baik bila sang 'fotografer' ini menyadari ketertinggalannya dan mulai mempelajari dasar-dasar ilmu fotografi baik secara teori maupun aplikasi sehingga lebih dapat mempertanggungjawabkan 'profesi' barunya tersebut.

Seperti contoh dalam seni lukis, seorang pelukis aliran ekspresionis almarhum Afandi ternyata sangat menguasai dasar-dasar menggambar berbagai macam obyek menggunakan medium pensil. Jadi beliau nggak asal memencet tube cat minyak dan corat-coret di atas kanvas melainkan sudah memiliki dasar-dasar untuk menjadi maestro seni lukis.

Apalagi di jaman digitalisasi seperti sekarang ini di mana segala sesuatunya jadi lebih 'dimudahkan', semangat untuk mempelajari sesuatu yang esensial harusnya tidak boleh padam.

Saya hanya ingin mengajak para sahabat untuk tidak setengah-setengah dan karbitan di dalam mencintai dan menekuni suatu bidang agar dapat lebih berhasil guna bagi kita atau mungkin malah dapat menginspirasi yang lainnya hingga hasilnya bisa lebih nyata bagi kebaikan bersama.

Selamat mencoba.


Sumber foto

Selasa, 04 Januari 2011

Desain grafis dalam fotografi

Masih jelas dalam ingatan ketika saya dan teman-teman membuat variasi untuk album pernikahan pada jaman fotografi analog dulu. Lembar demi lembar foto disusun dan ditempel sesuai dengan urutan dalam acara resepsi pernikahan yang sudah kami dokumentasikan.

Kadang susunan foto dalam satu halaman album dibuat condong ke kiri lalu di halaman sebelahnya gantian condong ke kanan, kadang sebuah caption foto dicetak beberapa lembar lalu disusun seperti bentuk kipas tangan. Tak lupa pada pinggir halamannya dihiasi dengan benang emas biar kesannya lebih tegas.

Desain grafis dalam fotografi benar-benar telah merubah semua itu dan jalannya dimudahkan ketika proses digitalisasi merambah seluruh aspek kehidupan kita seperti saat ini. Simbiosis mutualisme pun terjadi. Penyajian hasil pekerjaan seorang fotografer jadi lebih profesional di hadapan kliennya. Visualisasi yang dulunya hanya dapat dilakukan oleh redaksional sebuah majalah kini mampu dilakukan oleh siapapun dengan bekal kemampuan pengoperasian software digital imaging dan sebuah komputer desktop.

Desain dan tampilan seperti 'barang jadi' dapat diterapkan pada presentasi hasil pekerjaan bidang fotografi. Desain-desain album wedding menjadi lebih bervariasi dan banyak pilihan. Tentunya hal ini sangat menguntungkan pihak konsumen pengguna jasa fotografi pada umumnya karena jadi memiliki banyak opsi dalam menentukan budget dan kualitas untuk keperluan fotografinya.

Hal ini juga membuka peluang usaha bagi mereka yang memang berminat untuk menekuni bidang editing digital fotografi. Baik itu sebagai mata pencaharian utama ataupun usaha sampingan. Malah di studio foto tempat saya dulu bekerja bagian edit fotonya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa desain grafis yang sedang magang sambil mengumpulkan komisi dari tiap lembar foto yang mereka kerjakan. Jadi outputnya benar-benar positif.


Model : Qeqe
Desain grafis : Donny
Foto : tukangpoto

Minggu, 26 Desember 2010

Selamat tahun baru


SELAMAT TAHUN BARU
2011
bagi seluruh sahabat fotografer jurnal
semoga impian kita dapat tercapai



Foto : tukangpoto

Selasa, 14 Desember 2010

Dreamer

Sometimes fantasy

can be more powerfull

than reality

So guys,

keep your dream alive!

Minggu, 12 Desember 2010

Pasrah

Ya Allah..

kami kembali lagi kepada titik ketiadaan

walau doa dan ikhtiar tak henti kami lakukan

kehendakMulah yang terjadi

amin

Kamis, 21 Oktober 2010

Olah digital


SEBELUM
SESUDAH

Ketika fotografi digital mulai marak pada awal tahun 2000 an, olah digital pada hasil karya fotografinya menjadi sebuah keharusan jika tidak ingin karya fotonya tampil hanya apa adanya. Dengan sendirinya kegiatan olah digital ini menjadi dekat dengan keseharian masyarakat karena hanya dengan berbekal sebuah PC seseorang sudah dapat melakukan 'rekayasa' terhadap hasil karya foto yang pada jaman fotografi analog dulu hanya dapat dilakukan oleh seorang operator lab.studio foto.

Sebagai tukang foto, saya sendiri merasa sangat terbantu secara positif dengan kemampuan yang tidak terbatas dari adanya kemudahan olah digital. Dapat mengkomposisi ulang sebuah foto, memaksimalkan terang gelapnya, memperbaiki tampilan warna sesuai selera, mengaburkan latar belakang, menghapus elemen yang tidak diinginkan, yang jelas segala kemungkinan untuk memaksimalkan sebuah hasil karya foto dapat dilakukan.

Jadi tidak murni fotografi lagi dong?
Sebenarnya sejak fotografi analog dulu hasil karya foto kita sudah direkayasa oleh tukang cetak atau operator lab studio foto. Entah itu terang gelapnya, koreksi warnanya biar lebih kinclong, atau sekedar soal cropping untuk komposisi ulang.

Awalnya saya juga sedikit ragu, apakah dengan kemungkinan yang tidak terbatas dari olah digital dalam 'mengacak-acak' sebuah karya foto masih dapat disebut fotografi?

Paradigma di dalam memandang sebuah karya fotografi di era digital sekarang ini memang sudah saatnya untuk dirubah. Jika hanya melakukan olah digital untuk memperbaiki penampilan sebuah foto mungkin masih bisa dianggap wajar dan bisa diterima, asal tidak mengubah unsur yang substansial secara ekstrim.

Saya sendiri lebih cenderung menyebut karya fotografi saat ini sebagai digital imaging, bagaimana dengan pendapat sahabat?


foto : tukangpoto, media.volvocars.com
digital imaging : ANDRE LEONARDO 081318530630
client : INDORENT

Selasa, 14 September 2010

Branding dalam fotografi

Ketika sebagian besar masyarakat kita mengasosiasikan merek 'aqua' untuk menunjuk kepada umumnya air mineral dalam kemasan, berarti merek tersebut telah berhasil dalam usaha brandingnya.

Secara umum, branding berarti sebuah cara untuk membuat masyarakat atau konsumen agar tertarik, mengingat lalu setia untuk menggunakan sebuah merek atau brand, malah kalau bisa menjadi fanatik dan dapat mempengaruhi orang lain untuk ikut menggunakannya.

Pada ranah fotografipun begitu, Pak Darwis Triadi contohnya. Setiap ada produsen kamera digital yang mengeluarkan produk barunya selalu saja menggunakan Pak Darwis sebagai duta produknya. Padahal di Indonesia ada banyak fotografer yang nggak kalah hebat karya serta dedikasinya. Tapi kenapa kalau soal menjadi duta gadget fotografi produk baru selalu saja Pak Darwis yang dipilih? Karena nama Darwis Triadi sendiri tidak hanya dikenal oleh kalangan fotografi saja tapi kalangan awampun sudah banyak yang mengetahuinya.

Jadi secara branding, nama Pak Darwis sudah sukses dikenal dan meraih kepercayaan akan jaminan mutu di bidang fotografi oleh berbagai kalangan.

Lalu bagi kita, sebagai insan penikmat dan penggelut fotografi, apakah kegiatan branding ini perlu dilakukan? Jawabannya tentu kembali berpulang kepada; sebagai media apakah kegiatan fotografi ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai sarana pendokumentasian biasa, hobi yang dapat menghilangkan stres, atau malah sebagai sarana pengisi periuk nasi?


Foto : tukangpoto

Rabu, 21 Juli 2010

Foto human interest

Tentunya foto-foto dengan obyek manusia sudah tidak asing lagi di mata para sahabat. Apalagi foto-foto ini bisa dengan mudahnya kita jumpai setiap hari di koran-koran, majalah, media internet dan media lainnya.

Foto-foto dengan tema manusia biasanya tercantum sebagai gambar ilustrasi penguat sebuah artikel. Karena seperti dikatakan bahwa sebuah foto bisa lebih kuat maknanya daripada ribuan kata.

Foto yang menggambarkan manusia yang sedang beraktifitas lengkap dengan ekspresinya yang tergambar secara detail biasa disebut dengan foto human interest.

Dan biasanya foto-foto human interest yang dapat menggambarkan ekspresi obyeknya dengan kuat selalu disajikan dalam warna hitam putih. Mengapa? Karena foto hitam putih dapat membawa pemirsanya untuk memusatkan perhatian langsung pada ekspresi obyek utamanya tanpa terganggu oleh kehadiran warna-warna.



Foto : Menik

Selasa, 22 Juni 2010

Peribahasa fotografi

peribahasa :
Bagai menggantung potret mentari pagi

artinya :
Orang yang selalu percaya akan adanya harapan yang lebih baik di esok hari


gambar : Maharani Laksmi Dewi

Ikut memeriahkan acara Kontes Menulis Peribahasa nya Pakde Cholik

Jumat, 18 Juni 2010

Fashion fotografi

Konsep dari fashion fotografi jaman sekarang sudah berbeda jauh dari jaman sebelumnya. Pada era tahun 70 an dan 80 an, seorang fotografer begitu mendominasi jalannya sebuah sesi pemotretan foto fashion. Karena pada waktu itu para klien begitu mempercayakan imej visual produk fashion mereka di tangan seorang fotografer.

Ketika jaman sudah berganti, target konsumen sebuah produk fashion pun lebih tersegmentasi. Sasaran pasarnya menjadi begitu beragam sehingga membutuhkan lebih banyak orang yang terspesialisasi pada bidangnya masing-masing untuk bekerja sama dalam satu tim agar dapat membidik segmen konsumen yang tepat melalui konsep visual imej yang sesuai dengan produk fashion yang akan dipasarkan.

Orang-orang kreatif di balik sebuah pemotretan fashion fotografi biasanya terdiri dari :

- Fashion stylist atau pengarah gaya
Seorang fashion stylist bertugas untuk membuat konsep pembentukkan imej secara visual, menyelaraskan dengan elemen produk fashion yang dijual dengan target segmen pasarnya.

- Fotografer
Seorang fotografer bertugas untuk menghasilkan atau menterjemahkan konsep imej dari produk fashion yang akan dijual ke dalam bentuk visual.

- Make up artist dan hair stylist
Seorang make up artist dan hair stylist bertugas untuk membentuk look pada seorang model sesuai dengan konsep yang sudah diberikan oleh seorang fashion stylist.

Dari setiap profesi di atas sangat diperlukan kerjasama dan masukkannya agar sebuah pemotretan produk fashion dapat berjalan dengan optimal.



Foto : Karib Photography

Jumat, 11 Juni 2010

Momen sepak bola piala dunia 2010

Pada artikel kali ini saya tidak akan membahas tips memotret sepak bola atau sebangsanya karena mengenai hal ini sudah pernah dibahas di sini.

Saya hanya ingin sekadar berandai-andai, bagaimana jika pada saat ini kita bisa berada di Afrika Selatan lengkap dengan peralatan fotografi yang tepat untuk menangkap keriaan berjuta momen menarik pada perhelatan sepak bola piala dunia 2010 kali ini...

Sementara kita berimajinasi, kita patut bersyukur masih bisa menikmati pertandingan-pertandingannya lewat layar televisi di rumah kita masing-masing. Setidaknya kita jadi tidak ketinggalan berita.

Selamat menikmati dan salam jepret!


Sumber foto

Selasa, 08 Juni 2010

Style fotografi

Berbicara mengenai style fotografi berarti berbicara tentang keunikan dari tiap-tiap fotografer didalam menghasilkan karya mereka.

Mengapa unik? Karena setiap hasil karya foto dari tiap-tiap fotografer itu tidak ada yang sama. Entah itu dari masalah anglenya, cara dia mengarahkan gaya pada modelnya, penerapan pada lightingnya atau olah digitalnya. Semuanya benar-benar berbeda satu dengan yang lain.

Sewaktu masih bekerja di studio foto dulu, rekan-rekan sepekerjaan bisa dengan mudah membedakan yang mana hasil karya si A dan yang mana hasil karya si B hanya dengan melihat beberapa lembar foto saja. Berarti dari sini style atau gaya fotografi mereka sudah terbentuk.

Hal ini memang menjadi sesuatu yang keluar dengan sendirinya disebabkan karena kepribadian yang berbeda-beda dari sang fotografer. Sesuatu yang unik dan personal.

Menemukan atau membentuk style fotografi kita sendiri hendaknya jangan menjadi beban atau sesuatu yang dipaksakan. Memang pada tahap awal belajar kita pasti meniru atau mencontoh style fotografi dari para senior kita atau fotografer yang kita idolakan dan ini lumrah terjadi.

Seiring berjalannya waktu, dengan terus menekuni kegiatan yang kita cintai ini, membebaskan pandangan, berpikiran 'out of the box', menekan tombol rana dengan nyaman, menghasilkan sesuatu yang unik, dan menjadi diri sendiri maka secara alamiah perlahan tapi pasti , style fotografi anda akan terbentuk.

Seorang fotografer senior pernah berkata 'photography is general, but style is personal'. Setuju sekali!



Foto : Tukangpoto

Kamis, 27 Mei 2010

Kenapa cewek suka foto narsis?

Apakah anda suka memperhatikan foto-foto profil yang berseliweran di media social network belakangan ini?

Terutama yang pemilik akunnya adalah cewek-cewek ABG masa kini yang tidak ingin ketinggalan ikut dalam euforia yang sedang in.

Piranti digital favorit yang mereka gunakan untuk membuat foto profil ini adalah kamera ponsel.

Inilah alasan mengapa para cewek-cewek ini suka mengabadikan diri mereka sendiri atau berfoto narsis menggunakan kamera ponsel :

1 . Nggak pede.
2 . Lebih tau angle cantiknya.
3 . Bebas mau take berapa kali.
4 . Nggak harus ke studio foto.
5 . Mudah menghapus yang menurutnya tidak bagus.
6 . Kemudahan meng-upload.
7 . Bebas bergaya seronok.
8 . Bisa berfoto bersama sahabat atau pacar.

Ada sahabat yang bisa menambahkan alasan lain?



Sumber foto

Senin, 24 Mei 2010

Berapa shutter count kamera kita?

Mungkin beberapa dari kita tidak memperhatikan atau biasanya memang tidak ada yang memberi tahu, sampai di mana batas hidup atau istilahnya shutter count dari kamera DSLR yang kita miliki.

Jadi shutter count adalah sampai berapa kali kamera digital kita dapat mengambil gambar.

Sama seperti gadget digital lainnya, semuanya memiliki batas hidup. Seperti ketika tuts keyboard dari PC di rumah kita ada beberapa yang tidak berfungsi karena sudah beberapa tahun dipakai.

Berbeda dengan kamera SLR mekanik dulu, asal kita merawatnya dengan baik dan cara pemakaian yang apik, maka umur penggunaanya pun akan lebih panjang.

Shutter count pada setiap kamera DSLR pun berbeda-beda tergantung pada banyak faktor. Berdasarkan hasil gugling, angka rata-rata shutter count untuk kamera DSLR adalah sekitar 100.000.

Informasi shutter count dari sebuah kamera menjadi sangat penting bagi yang ingin membeli kamera DSLR second. Untuk menceknya, kita bisa menggunakan software yang disediakan oleh masing-masing merk kamera.

Tapi setelah kamera kita mencapai limit shutter count nya, kita tinggal mengganti shutter release kamera tersebut pada authorize service center pemegang merk, hingga kamera kita dapat dioperasikan lagi seperti semula.

Mungkin ada sahabat yang mau menambahkan?



Sumber foto

Kamis, 20 Mei 2010

Gejolak itu..

Jemarinya gemetaran memegang kamera seraya memandang pose wanita di hadapannya.



Fiksi mini ini diikutsertakan dalam Kontes Fiksi Mini
yang diselenggarakan oleh wi3nda

Minggu, 02 Mei 2010

Humor fotografer

Suatu malam, di dalam kamar seorang fotografer pemula yang lugu tapi tekun bekerja dan berdoa, datanglah sang malaikat untuk mengabulkan doa si fotografer tersebut. Ia memberikan sebuah kamera DSLR paling canggih yang pernah ada. "Terima kasih, terima kasih...", tak henti-hentinya fotografer tersebut berucap pada sang malaikat.

Hari-hari si fotografer dihabiskan untuk mempelajari kamera baru tersebut serta mempraktekan ilmu-ilmu fotografi yang tidak bisa ia lakukan jika menggunakan kamera lamanya. Sayang sang malaikat lupa menyertakan buku manualnya sehingga ia bisa mempelajari kameranya dengan lebih optimal lagi.

Beberapa waktu kemudian sang malaikat datang kembali ke tempat fotografer tadi, sang malaikat ingin memberikan hadiah pada si fotografer karena telah rajin dan bekerja keras dalam mempelajari kamera pemberiannya.

"Kupersembahkan padamu seorang gadis cantik yang akan menemani hari-hari sepimu", ujar sang malaikat. Si fotografer pun melongo melihat betapa cantik gadis pemberian sang malaikat kepadanya.

Sadar dari kekagumannya, si fotografer pun berkata pada sang malaikat, "..Oh ya, jangan lupa buku manualnya..".

Sekarang, gantian sang malaikat yang melongo...



Humor fotografer ini diikut sertakan pada acara Liga tertawa nya Pakde Cholik.

Jumat, 30 April 2010

Foto bugil

Fenomena menyebarnya foto bugil di internet saya rasakan euphorianya sejak lima tahun belakangan ini. Foto bugil yang dimaksud adalah bukan foto bugil dari website yang memang berisi gambar-gambar khusus pemirsa dewasa, melainkan foto bugil dari para artis dan elemen masyarakat Indonesia. Saya sendiri mengetahui hal ini setelah beritanya dimuat di media-media cetak, jadi bukan mengetahui langsung secara online, maklum namanya juga pemula di dunia internet.

Sebelum adanya media internet, agak sulit bagi masyarakat awam untuk mengetahui adanya foto bugil atau video dari para artis, anggota dewan, pegawai pemda, anak kuliahan atau anak sekolahan sekalipun. Foto-foto mereka bisa nyangkut di ranah maya juga karena berbagai sebab. Kebanyakan karena diupload oleh orang yang tidak bertanggung jawab, fotografer yang tidak profesional dan lain sebagainya. Banyak foto yang original, tapi banyak juga foto hasil rekayasa orang 'kreatif'. Bahkan sampai ada artis yang harus mengundang pakar telematika untuk mengklarifikasi bahwa foto bugilnya di internet hanyalah hasil rekayasa.

Ketika masyarakat bisa ikut aktif menjadi pewarta atau 'citizen reporter' hampir semua berita atau kejadian, baik dalam bentuk foto atau video yang dapat diupload ke internet dan dapat disaksikan secara realtime oleh para pemirsanya. Hal ini juga sangat ditunjang oleh adanya social networking yang sudah seperti ajang bergaulnya masyarakat modern. Apalagi ponsel canggih yang siap online sudah menjadi standar gadget kebutuhan sehari-hari.

Memang selalu ada sisi negatif dan positif dari setiap kejadian. Tapi dengan berjalannya waktu, saya percaya masyarakat online kita sudah lebih bijaksana untuk memilah mana yang patut dan tidak patut. Ada baiknya kita berhati-hati dengan apa yang kita potret atau rekam dan sadar akan setiap konsekwensinya. Akan sangat menyenangkan jika kita bisa lebih bijaksana ketika online. Salam jepret!