total ping

Tampilkan postingan dengan label Komuter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komuter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 September 2010

Buka Puasa ala Komuter

Ampun deh, besok udah lebaran tapi baru bikin postingan ini sekarang. Apa daya, tenaga dan waktu saya benar-benar terkuras di bulan maha suci ini. Jangankan untuk menunaikan tarawih, di waktu sahur saja saya masih sering tertidur di meja makan. Baru kali ini saya merasa kesulitan mengatur waktu kerja dan waktu pribadi. Jangankan untuk menulis satu postingan baru atau blogwalking, membuka layar laptop saja rasanya tidak sanggup. Saya mohon maaf, beberapa waktu ini belum sempat berkunjung balik ke tempat teman blogger lain.

Kembali ke judul dari tulisan ini, hampir semua kantor rasanya memajukan jam pulang agar para karyawan dapat berbuka puasa dengan keluarga. Kantor saya mempercepat jam pulang setengah jam lebih awal, jadi pukul 16.30 karyawan sudah bisa pulang. Sayangnya, bagi komuter seperti saya pencepatan jam pulang ini tidak memiliki dampak yang cukup berarti. Tetap saja saya tidak bisa berbuka puasa di rumah karena terhambat masalah klasik khas Ibukota Jakarta. Pilihannya ada dua, berbuka puasa di kantor atau di jalan.

Buka Puasa di Kantor
Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal: pekerjaan belum selesai, jalan terlalu macet atau hujan deras. Di kantor lama, biasanya menjelang magrib saya bersama beberapa teman keluar kantor untuk mencari tajil. Mendekati waktu berbuka, kami semua berkumpul di banking hall. Semua personil komplit, mulai dari teller, costumer service, back office, sampai para suvervisor kemudian berbuka puasa bersama, makan bersama, dan salat berjamaah. Rekan kerja non muslim juga ikut larut dalam suasana berbuka puasa, mereka ikut menyantap tajil dan mengobrol bersama kami. Walau tidak bisa berbuka puasa di rumah, tapi rasanya hati ini jadi tentram karena memiliki keluarga kedua di kantor dengan ikatan yang demikian solid.

 Pemandangan jam dinding dari meja saya. 20 menit lagi menuju waktu berbuka.

Sebetulnya saya lumayan dimanjakan jika berbuka puasa di kantor yang sekarang. Office boy sudah menyediakan teh manis hangat dan tajil seadanya untuk membatalkan puasa. Hanya saja, suasana buka puasa terasa hambar dan pedih untuk saya. Kebanyakan teman sudah pulang ke rumah masing-masing, yang tersisa hanya segelintir orang, itupun mayoritas non muslim dan mereka tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saya berbuka puasa sendiri, di meja kerja, dengan meja yang masih penuh dengan tumpukan transaksi. Kalau sudah begini rasa kangen rumah bisa timbul berlipat ganda, pasti menyenangkan jika bisa berbuka dengan keluarga, berdoa bersama kemudian menyantap tajil buatan mama diselingi obrolan hangat.

 Kurang lebih, seperti inilah suasana berbuka puasa di kantor.

Fakta: Setiap orang di kantor membutuhkan minimal dua gelas teh untuk berbuka puasa.

Buka Puasa di Jalan
Ini adalah pilihan yang tidak bisa dihindari dan baru saya alami di ramadhan tahun ini . Biasanya saya lebih memilih berbuka puasa di kantor daripada di jalan, tapi suasana kantor yang dingin membuat saya ingin cepat-cepat sampai di rumah. 

Untuk berbuka puasa di jalan, diperlukan amunisi lengkap untuk berbuka puasa. Biasanya saya bekal teh manis hangat dalam tempat minum. Untuk tajil, beda lagi ceritanya. Karena berbuka puasa di atas bus, maka keinginan untuk menyantap kolak atau es buah harus dikubur dalam-dalam. Kecuali siap dengan resiko baju ketumpahan kuah kolak atau es buah. Jadilah selama bulan puasa ini saya setia dengan menu lontong dan gorengan untuk mengganjal perut sampai di rumah. Aih, padahal saya selalu menghindari gorengan di bulan biasa. Darimana saya bisa mendengar adzan dan mengetahui waktu berbuka? Tidak mungkin dari pengamen pastinya, maka radio menjadi sahabat terbaik saya. Pilihan jatuh ke Prambors yang menyiarkan sandiwara radio 30 menit menjelang waktu berbuka. 

Saat adzan berkumandang, saya mencolek teman sebelah untuk memberitahu waktu berbuka telah tiba. Info ini biasanya akan menyebar ke seantero bus. Lalu terjadilah solidaritas antar komuter, setiap orang menawarkan bekal berbuka puasanya. Ada yang niat membawa kurma dalam tempat makan, membawa aqua gelas dalam jumlah banyak kalau-kalau ada penumpang yang lupa membeli minum, dan yang paling umum adalah membawa beberapa potong roti untuk dibagikan. Semua orang berlomba-lomba untuk berbagi dan memastikan yang berpuasa memiliki cukup makanan dan minuman untuk disantap. 

Lagi-lagi, pengamen menjadi musuh utama saya. Dengan genjrang-genjreng gitar mereka yang berisik, rasanya suara adzan kehilangan maknanya. Belum lagi pengamen datang silih berganti, menyanyikan lagu berbeda dengan tingkat keributan yang sama. Sangat memerlukan kesabaran ekstra. Paling ngenes melihat teman komuter yang tidak kebagian duduk. Mereka harus berdiri sambil berbuka puasa, kemudian melanjutkan perjuangan hari itu dengan berdiri selama 2 jam sampai ke tempat tujuan. Disini, tingkat kesabaran benar-benar diuji. Karena sudah membatalkan puasa, rasanya kemarahan begitu mudah dipancing. Penyebabnya antara lain pengamen yang kekeuh mengamen di kepadatan bus atau kondektur yang memaksa terus mengisi bus dengan manusia.

Di atas bus yang melaju kencang, suara adzan yang berkumandang syahdu di telinga, teman-teman komuter senasib sependeritaan dan makanan seadanya, hati ini terasa tergetar karena saya memiliki pengalaman berbuka puasa yang lain. Langit Jakarta mulai berubah, dari terang menjadi jingga untuk kemudian gelap pekat. Jalanan juga mulai dipadati kendaraan dan bus mulai melambat untuk kemudian berhenti sama sekali dalam kemacetan. Rumah rasanya masih sangat jauh, tapi saya merasa bersyukur dengan segala rejeki dariNya dan merasa beruntung dapat merasakan pengalaman ini.

Semoga teman-teman blogger juga mendapat pengalaman berharga selama bulan ramadhan tahun ini.

Selamat hari raya Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.

Regards,      
Merry go Round

Rabu, 11 Agustus 2010

Being a Commuter

Beberapa waktu kemarin, masalah kemacetan Jakarta menjadi headline di berbagai media cetak dan elektronik. Metro TV memperkirakan tahun 2015 Jakarta akan macet total. Total dalam artian tidak akan ada lagi kendaraan yang bisa bergerak karena pertumbuhan luas jalan Jakarta hanya 0,01 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan pengguna mobil mencapai 10 persen per tahun, dan motor hingga 15 persen per tahun.

Tenang, saya tidak akan membahas peningkatan penggunaan mobil atau motor pribadi, juga tidak menyinggung banyaknya mall yang dibangun sehingga lahan hijau banyak dibabat dan rencana pelebaran jalan raya harus dikorbankan. Sepertinya semua orang sudah cukup lelah dan sumpek dengan fakta tersebut. Saya ingin membagi pengalaman tentang komuter yang harus menaklukkan kemacetan Jakarta setiap harinya.

Menurut Wikipedia, komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari. Dalam bahasa Jawa istilah komuter tenar dengan nama 'penglaju'. Komuter Jakarta kebanyakan berdomisili di daerah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Setiap hari mereka menempuh jarak puluhan atau ratusan kilometer ke tempat kerja, untuk kemudian pulang ke tempat tinggal masing-masing. Pilihan ini diambil karena Ibukota seringkali tidak menyediakan tempat tinggal yang cukup nyaman, aman, dan terjangkau untuk ditinggali. Tingginya biaya hidup di Ibukota juga merupakan suatu kendala.

Saya adalah seorang komuter. Rumah di kabupaten Bogor dan kantor di Jakarta Pusat. Di hari kerja, saya harus bangun jam 04.30 dan berangkat kerja jam 05.35. Pulang kantor sekitar jam 18.15 dan tiba di rumah jam 20.30. Pergi subuh, pulang larut malam. Jarak rumah - kantor yang jauh membuat saya harus menghabiskan banyak waktu di jalan. Total waktu yang diperlukan untuk perjalanan setiap harinya adalah 5 jam dalam kondisi 'normal', tapi jika macet sudah demikian parah maka lebih banyak lagi waktu yang akan terbuang. Sejauh ini rekornya adalah 8 jam.

Kemacetan Jakarta sudah merupakan 'santapan' sehari-hari bagi komuter. Kami sudah ada pada titik tidak bisa mengeluh dan hanya bisa pasrah menerima keadaan. Entah apa lagi yang harus dilakukan agar kemacetan ini bisa berkurang. Rencana pemerintah hanya jalan di tempat sementara kami harus berangkat kerja setiap hari. Beberapa orang yang baru kenal saya pasti kagum, 'Rumahnya jauh banget, nggak cape tuh?'. Cape sudah tidak ada dalam kamus saya. Untungnya kata 'gampang sakit' juga ikut menghilang dari badan saya.

Menjadi komuter yang menghabiskan banyak waktu di jalan membuat saya harus kreatif mencari cara untuk mengusir rasa bosan. Pilihannya adalah membaca buku, mengobrol dengan teman perjalanan, mendengarkan musik, atau tidur. Tentu saja saya lebih memilih untuk tidur. Durasi perjalanan dan pekerjaan di kantor membuat jam tidur saya banyak berkurang. Benda wajib yang harus selalu ada di dalam tas saya adalah earphone, ampuh untuk menyampaikan pesan 'Saya tidak ingin diganggu' atau 'Saya tidak ingin mengobrol' kepada orang yang duduk di bangku sebelah, juga merupakan cara halus untuk menolak memberi recehan kepada pengamen.

Penggangu utama yang selalu hadir dalam perjalanan seorang komuter tentu saja pengamen. Bukannya saya sinis terhadap pengamen, tapi siapa yang tidak jengah jika dalam sehari harus bertemu minimal 5 pengamen dengan suara pas-pasan, nyanyi nyaris berteriak-teriak, lagu tidak jelas, dan paksaan untuk memberi uang dengan kalimat 'Memberi uang seribu atau dua ribu rupiah tidak akan membuat Anda miskin'. Yang paling menyebalkan adalah sebagian besar pendapatan harian pengamen digunakan untuk membeli rokok. Sekali lagi, tidak bermaksud sinis, hanya saja penghasilan bulanan saya tidak cukup besar untuk menanggung biaya kesehatan di hari tua jika saya terkena kanker atau penyakit jantung, oleh karena itu sebisa mungkin saya menghindari rokok. Jadi, saya menganggap para pengamen yang menghabiskan pendapatannya untuk merokok, sudah cukup mampu untuk menanggung biaya hidupnya sendiri.

Selain masalah kemacetan, masalah klasik lain yang harus dihadapi komuter adalah transportasi umum. Bukan rahasia lagi kalau angkutan umum Jakarta kebanyakan sudah tidak layak jalan, belum lagi supir yang ugal-ugalan dan brutal saat menyetir. Setiap hari, sebelum naik kendaraan seperti ini, saya selalu berdoa, 'Tuhan, lindungi saya. Semoga tidak ada hal yang buruk saat saya menaiki kendaraan ini'. Kondisi kendaraan buruk ditambah supir ugal-ugalan selalu membuat saya parno dengan keselamatan diri sendiri. 

Banyaknya jumlah pekerja Jakarta tidak berkorelasi positif dengan jumlah tempat duduk di angkutan umum. Saya yang menempuh jarak paling jauh tentu tidak mau berdiri sepanjang perjalanan. Untuk urusan rebutan tempat duduk, setiap orang mendahulukan kepentingan pribadi, jangankan istilah ladies first, ibu hamil saja sering tidak dapat tempat duduk dan tidak ada satu orang pun yang sudi memberikan tempat duduknya. 

Masalah langkanya tempat duduk ini membuat penumpang dan supir menjadi kreatif. Mesin bus yang terletak di samping supir diberi alas berupa karpet atau busa sehingga dapat ditempati, hanya saja harus tahan panas untuk bisa duduk disini. Dashboard bus yang lumayan luas juga jadi pilihan halal sebagai tempat duduk alternatif. Untuk yang terakhir ini sih tantangannya beda, punggung nempel dengan kaca depan dan pintu bus terbuka lebar di salah satu bagian. Dengan supir yang ugal-ugalan, kondisi yang paling apes adalah sebagai berikut: 1. Bus menabrak kendaraan di depannya, otomatis kaca akan pecah berhamburan menusuk seluruh bagian punggung, atau 2. Terbanting ke arah pintu yang terbuka dan terjun bebas ke jalan raya. 

Banyaknya komuter yang senasib sependeritaan dan selalu bertemu di transportasi umum yang sama, memungkinkan mereka untuk saling flirting. Sayangnya, flirting yang berujung pada love stuck ataupun love sucks sama-sama tidak mengenakkan. Love stuck: siapa yang tahu kalau ternyata dia sudah memiliki pacar, istri, atau mungkin..... anak. Love sucks: ini akan membuat sebagian besar komuter harus merubah rute perjalanannya demi menghindar dari orang yang bersangkutan. 

Lalu, kenapa saya tidak memilih untuk kost saja? Karena saya memiliki orangtua yang selalu menunggu kepulangan saya. Melihat senyum mama dan papa yang lega karena anaknya selamat sampai di rumah  adalah obat paling manjur untuk menghilangkan keletihan setelah bekerja seharian.

Kamis, 24 Juni 2010

Dodol Pangkat Tiga

Entah ada apa dengan hari ini. Rasanya saya sial terus sepanjang hari. 10 jam lebih waktu dihabiskan di kantor dan cukup membuat kepala mumet serta perasaan naik turun. Mungkin otak saya terlalu banyak diforsir untuk bekerja sehingga melakukan kedodolan tiga kali berturut-turut.

Saya biasa nebeng dengan mba Y setiap pulang kerja. Tadi saya bertemu dia di mushola. Dengan muka kusut dan rambut awut-awutan, mba Y langsung menebak kalau saya bermasalah lagi dengan orang-orang kantor. Kerjaan mba Y sudah selesai dan saya tinggal mematikan komputer saja. Biasanya mba Y akan menjemput ke ruangan saya, jadi saya menunggu dia sambil menonton TV. 10 menit berlalu, saya melihat ruangan mba Y masih menyala. Oh, belum selesai mungkin, begitu pikir saya. 15 menit kemudian saya mulai merasa aneh dan ketika masuk ke ruangan mba Y, TARRRAAA.... mba Y sudah pulang. Panik, saya buka HP, ternyata mba Y sudah berkali-kali menelpon, mencari keberadaan saya. Mba Y kira saya sudah pulang duluan karena tidak ada di ruangan, padahal saya ada di ruangan sebelah, sedang menonton TV. Bodohnya saya, kenapa tidak menyusul mba Y ke ruangan dia dan malah menonton TV. Kenapa juga HP saya simpan di tas sehingga tidak terdengar bunyi deringnya. Hilanglah tebengan saya untuk malam ini.

Cepat-cepat saya berlari ke halte busway, berharap bisa mengejar bus arah Cibinong yang terakhir. Di dalam busway, otak saya sibuk terus berputar menghitung jarak dan waktu antara busway yang sedang dinaiki dan bus Cibinong yang akan segera datang. Tiba di halte tujuan, saya langsung turun, bergegas keluar dari halte, siap-siap berlari, dan saya baru sadar...... Ini kan halte Karet, bukan Bendungan Hilir. Maniiisss, saya turun satu halte lebih cepat. Mau tidak mau akhirnya saya berbalik, membeli tiket lagi, masuk ke dalam halte lagi, dan mengantri lagi. Wajah saya rasanya panas dihujani tatapan aneh dari penjual tiket, penjaga pintu busway, dan penumpang lain.

Bundaran HI Jakarta. Still crowded in 9:13 pm.
 
Sampai di halte Bendungan Hilir, saya langsung berlari-lari menuju Komdak, tempat bus arah Cibinong biasa lewat. Di sepanjang jalan, saya melihat beberapa perempuan berpenampilan khas pekerja Jakarta (rok selutut, kemeja tangan pendek, sandal teplek), juga sedang menunggu bus pulang. Ah, ada juga yang bernasib sama seperti saya, baru pulang semalam ini. Batin saya pun menjawab, "Iya, banyak yang seperti saya. Tapi yang sedodol saya ya cuma saya sendiri".

Tak sampai 5 menit menunggu di Komdak, bus akhirnya tiba. Alhamdulillah, Tuhan masih baik sama saya. Ketika akan memasuki tol, kenek bus berteriak "Cileungsi Cileungsi....". WHAT!!!!! Ini bukan bus arah Cibinong, tapi arah Cileungsi. OMAAIGOOOTT....!!! Saya salah naek bus (lagi).  Samar-samar saya ingat, tadi saya tidak sempat membaca rute bus, hanya membaca nomor bus, 70A, dan saya baru sadar bus Cibinong itu kan nomornya 70 saja. Hih, kenapa bikin nama bus kurang kreatif gitu sih. Gusti... dosa apa saya hari ini sampai bikin kesalahan tiga kali berturut-turut. Rute pulang saya akhirnya jadi makin jauh, makin lama dan makin ruwet. 

Memasuki daerah Cibubur, hujan turun dengan derasnya dan setia menemani saya sampai ke rumah. Di rumah, bukannya cepat-cepat mandi dan siap-siap tidur, saya malah online untuk menulis disini. Padahal sebentar lagi tengah malam, dan besok saya harus bangun jam setengah lima pagi, berangkat kerja jam setengah enam pagi, kembali bekerja lagi, dan besok tanggal gajian, dan besok kerjaan pasti numpuk banget. Ergh, haruskah judul postingan ini saya ubah menjadi Dodol Pangkat Empat ???

Jumat, 18 Desember 2009

Oh Taksi.....

Maaf ya jika postingan kali ini menyebut nama dagang/usaha. Saya tidak bermaksud promosi atau menjatuhkan suatu nama dagang.

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan moda transportasi yang satu ini. Sebenarnya siiihh,kalau nga butuh-butuh banget atau kepepet banget, pasti saya akan mikir sampe tiga kali untuk naek taksi :) Berhubung sekarang sudah punya pendapatan sendiri, sepertinya tidak masalah mengeluarkan uang lebih besar untuk sebuah kenyamanan (tapi saya tetap memprioritaskan naik taksi sebagai pilihan terakhir).

Yang bikin saya bingung. mayoritas taksi di Jakarta itu kok warnanya biru. Saya sempat mencibir juga
"Huuu...mentang-mentang Blue Bird udah punya nama dan tempat di masyarakat terus semua taksi jadi di cat warna biru".
Tapiiii....setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata si biru ini memakai stiker Blue Bird Group di kaca depan mereka, padahal nama taksinya bukan Blue Bird. Sumpah saya bingung.

Pengalaman pertama naek taksi.
Pulang outing dari Bandung, belum malem banget sih, masih jam9 malem, kalau maksain diri bisa nekat cari bis atau omprengan untuk pulang ke rumah. Tapiiiii hal ini saya urungkan karena:
1. Kalap belanja di Bandung dan akhirnya kantong belanjaan saya menumpuk. Belum lagi tas besar yang berisi keperluan outing. Mana sanggup saya membawa semua itu sendiri.
2. Bis ke arah Cibinong sudah diboikot dan nga bisa ngetem di UKI lagi. Waduh, padahal saya diturunkan dari bus wisata di daerah Halim.
3. Memakai baju khas liburan. Yea....sebut aja hot pants dan tank top. Nga mungkin saya nekat naik bus dengan pakaian seperti ini. Bisa-bisa saya dianggap turis nyasar dan ditatap mata jelalatan para lelaki (yaiks.....).
Kebetulan bis menurunkan saya tepat di pangkalan taksi Blue Bird. Saya langsung naik dan menyebutkan tujuan. Supirnya ramah, saya juga nga deg-degan melihat argo, karena argo berjalan "normal" (normal dalam kamus saya adalah harga yang tertera di argometer berjalan sesuai ritme kendaraan, tidak melonjak terlalu cepat). Saya puas menggunakan jasa Blue Bird saat itu, jarak Halim - rumah (rumah saya di daerah Cibinong) bisa dicapai dalam waktu kurang dari satu jam, ongkong yang saya keluarkan juga hanya Rp. 80.000 (sudah plus tips dan ongkos tol). Murah, aman, nyaman. Itu kesimpulan saya.

Pengalaman kedua naik taksi
Jakarta macet total. Banjir di beberapa tempat yang menyebabkan jalanan jadi semakin semrawut, Saya memutuskan naik taksi karena:
1. Bis terakhir ke arah Cibinong sudah lewat 20menit yang lalu (saya harus mengejar bis itu atau saya nga bisa pulang).
2. Minus ojek (ojek di Jakarta teramat sangat laris dalam kondisi ini. Sepertinya yang harus mengejar bis terakhir bukan saya saja).
3. Hujan turun semakin deras.
Akhirnya saya menyetop taksi, Blue Bird lagi. Saya naik ke taksi dan menyebutkan tujuan Cempaka Putih. Sepanjang jalan saya berharap-harap cemas bisa mendahului bis tersebut dengan taksi ini. Tapi ternyataaaa....taksi saya terjebak macet TOTAL. Sumpah saya deg-degan banget, karena:
- Uang di dompet saya cuma Rp 100.000, sedangkan ATM minus saldo (tanggal tua cekak beneeerrr....)
- Hujan tambah deras, dan mau nga mau saya harus berdiam diri di taksi
- Tidak ada tanda-tanda dari bis yang saya kejar, sepertinya saya sudah tertinggal jauh.
Jarak 1.5km ditempuh taksi dalam waktu 1jam, dan argo sudah bergerak ke angka Rp 35.000 Waduuuhh...saya nga mungkin di dalam taksi terus. Akhirnya saya nekat turun di tengah hujan (di tengah jalan juga) dan mencari ojek. Akhir cerita saya berhasil mengejar bis menggunakan ojek dan sampai ke rumah dengan selamat.
Ongkos taksinya mahal banget, nyesel udah nekat pake taksi. Itu kesan saya yang kedua.


Pengalaman ketiga
Acara nonton bareng di Setiabudi 21. Saya lupa gedung itu ada dimana, kata teman sih deket halte Karet. Ketika saya sampai di halte Karet, dengan PD nya saya keluar shelter dan celingak-celinguk kesana-sini. Eh, ko ada menara Mayapada sih? Ampuuuunnn....saya di halte Karet yang salah, mustinya saya turun di halte Karet Kuningan. Karena waktu sudah mepet, akhirnya saya menyetop si biru dan meluncur ke Kuningan. Sepanjang jalan saya sibuk meng-update Facebook dan tidak memperhatikan jalan. Sewaktu taksi agak berguncang, saya baru ngeh, ternyata si Bapak supir nga lewat Dukuh Atas, tapi putar balik dan masuk ke Kuningan lewat belakang. Sumpah saya nga tau ada dimana, mulai was-was plus deg-degan. Sampai akhirnya Bapak pengemudi bertanya
"Dari sini kemana ya mba?"
"Haduuuuhhh paaaa....saya belum pernah lewat sini, kenapa tadi nga ngikutin jalur busway aja sih?"
Dan akhirnya Bapak supir itu turun dari taksi dan menanyakan arah. Akhirnya saya sampai di Setiabudi building juga, dengan perasaan gondok. Bayangin aja, dari Sudirman - Kuningan menghabiskan waktu 40menit lebih, ongkos yang saya keluarkan saat itu Rp 25.000. Mahal bagi saya, soalnya jaraknya itu dekat, andai nga pake nyasar dan muter-muter dulu.
Kesan saya saat itu: kok supir taksi nga ngerti jalan sih? Sepertinya saya ditipu.

Pengalaman keempat
Berangkat ke JIFFest bareng temen, berdua aja. Rencananya begini, kami naik bus TransJakarta dari tempat masing-masing, ketemu di halte dukuh atas, baru dari situ kami naik taksi. Alasan naik taksi kali ini:
1. Sama-sama belum pernah maen ke GI (haiiaaahhh....norak banget) dan bingung pintu masuknya dimana (hiiiiihhh...tambah norak).
2. Kita berdua sama-sama sadar dan tau banget, nga ada mikrolet, bus, ato kopaja yang lewat GI. Dari halte busway terdekat juga jalannya lumayan jauh.
Syusyaaahhh banget nyari taksi di daerah Sudirman. Dapet Blue Bird lagi. Dari Dukuh atas ke GI cuma kena Rp 7000.
Pulang dari JIFFest sekitar jam 23.30. Mall udah gelap, semua toko udah tutup, pintu keluar juga banyak yang dikunci, cuma bisa keluar lewat lobi utama. Ternyata banyak yang bernasib seperti kami, dan mereka semua menunggu taksi. Hahaha...baru kali ini saya berebutan taksi sama bule :D Sebenernya banyak taksi yang ngetem, tapi kami takut memilih taksi itu, soalnya taksinya kurang terkenal dan kacanya itu gelap bangeeeetttt. Kalau diculik nga bisa minta tolong sama orang yang di luar, wong dari luar nga bisa ngeliat apa-apa yang ada di dalem.
Akhirnya saya nemu taksi Express, langsung lari-lari ke arah taksi itu supaya nga diserobot bule lagi. Dari GI saya numpang sampe Pelangi. Ongkosnya Rp 13.500. Hmmm....saya lebih suka naik express sebenarnya dibanding dengan Blue Bird, harganya lebih murah, pelayanannya juga nga kalah dengan taksi nomor satu di Jakarta.
Ini rute perjalanan pulang saya malam itu:
GI - Pelangi: taksi express, Rp. 13.500
Pelangi - UKI: Bis mayasari, Rp. 2.500 (bahkan di malam selarut itu masih banyak bis mayasari dan penuh dengan penumpang. Kota ini memang tidak pernah tidur bukan?)
UKI - Cibubur: Angkutan umum (saya nga tau namanya apa), Rp. 6000
Cibubur - rumah: Blue bird.
Ok...biar saya jelaskan rute ini. Tadinya saya mau naik taksi dari Pelangi sampe rumah, tapi masih banyak bis bertebaran, ya saya nekat saja. Perkiraan saya di UKI nga ada angkutan ke Cibinong lagi, dan ketika mencari taksi di daerah UKI, ternyata masih ada angkutan ke Cibubur. Lumayan, saya bisa mengirit ongkos taksi dari UKI ke Cibubur. Dasar nga mau rugi, hahahaha....
Di Cibubur saya agak ragu bisa menemukan Blue Bird, memang disana banyak taksi, tapi taksi dengan kriteria yang membuat saya takut untuk menaikinya. Lucky me...sebuah taksi dengan penampilan yang meyakinkan lewat, langsung saya stop, naik, tutup pintu, dan baru sadar ketika melihat argo....Rp 6.000, ooohhh saya naik Blue Bird yaaa...tapi kok penampilannya beda ya.
Supir saya kali ini memacu taksinya cepat sekali, argo juga dengan cepat naik, meloncat-loncat melewati beberapa tingkatan angka. Hmm...saya merasa argonya sedikit tidak normal. Ongkos yang saya keluarkan Rp 40.000, belum termasuk tips. Wuaaaahhh...mahal banget.


Sebenarnya ada beberapa pengalaman lain ketika saya naik taksi. Tapi hanya ini yang saya ingat dengan baik dan sangat membekas. Oia, setelah pengalaman naik taksi terakhir, saya iseng memperhatikan semua taksi yang berwarna biru. Ternyata kebanyakan taksi berwarna biru itu berada di bawah nama Blue Bird, hanya logo dan nama saja yang berbeda. Ada pusaka, pusaka biru, cendrawasih, montero, dan beberapa nama lain. Hmmmm....nga heran Jakarta dipenuhi taksi berwarna biru, bukan karena mereka ikut-ikutan, tapi karena di bawah perusahaan yang sama.
Saya juga agak pilih-pilih untuk naik taksi, prioritas saya Express dan Blue Bird. Apalagi kalau di malam hari, saya cuma mau naik dua nama ini saja. Well, nga ada salahnya kan pilih-pilih taksi. Sekarang modus kejahatan di taksi makin banyak, contohnya perampokan, penculikan, pemerkosaan, sampai pembubuhan. Apalagi pelakunya kebanyakan mengincar perempuan. Kalau pulang malam sebaiknya memilih taksi yang bisa dipercaya, walau mahal sedikit yang penting bisa pulang sampe rumah dengan selamat.