total ping

Tampilkan postingan dengan label CRIME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CRIME. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: FAST FIVE















































"You only live once, lets do this!"

Perlu diakui kalau franchise film ini memang selalu menarik untuk dijadikan tontonan hiburan. Para lelaki terhibur dengan mobil-mobil keren dan para wanita cantik nan sexy yang selalu hadir disini. Lalu wanita juga tentunya terhibur dengan para pria macho yang hobi ngebut. Belum lagi ditambah soundtrack yang selalu bersemangat dan asik untuk didengar. Saya pribadi paling suka dengan film pertama yakni The Fast and The Furious (2001). Waktu itu yang ada dalam benak saya, 'Filmnya keren banget!'. Selanjutnya 2 Fast 2 Furious, ohh well..tidak ada Vin Diesel dalam jajaran cast, tentu saja penonton kecewa, filmnya sendiri pun menurut saya memang mengecewakan. Berlanjut lagi dengan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) yang memangkas semua para pemain lama, digantikan dengan pemain baru. Kali ini menurut saya lumayan saja, namun kehadiran sosok Han yang diperankan oleh aktor Korea; Sung Kang, cukup mencuri perhatian. Terakhir Fast & Furious (2009) boleh ditonton, jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Namun, siapa sangka kalau Fast Five kali ini merupakan yang terbaik dari semua yang ada, at least ini menurut pendapat saya.

Fast Five bercerita tentang Brian O'Connor (Paul Walker) dan pacarnya yang juga adik Dom, Mia (Jordana Brewster) sedang berada di Rio de Janiero, Brazil, untuk bertemu dengan teman lama mereka, Vince (Matt Schulze). Disana juga akhirnya mereka bertemu lagi dengan Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru melarikan diri dan berstatus buronan. Mereka bertiga akhirnya setuju dengan tugas baru yang diberikan oleh Vince, yakni membantu mafia no.1 di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida). Namun ada sesuatu yang janggal dalam misi itu, sampai akhirnya Dom memutuskan untuk melakukan misi 'bunuh diri' yang apabila berhasil dapat merubah hidup mereka semua. Untuk merealisasikan misi ini mereka tidak bisa hanya bertiga saja, mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama untuk membantu dan nantinya hasil yang didapatkan akan dibagi rata. Tentu saja jumlah yang mereka incar sangat amat besar, namun itu juga dibarengi dengan konsekuensi yang luar biasa besar pula. Apalagi Dom dan kawan-kawan sedang dicari FBI yang mengutus orang terbaik mereka, Luke Hobbs (Dwayne Johnson).

Apa sebenarnya alasan saya berani mengatakan kalau Fast Five adalah film terbaik dari keseluruhan franchise ini? Senang sekali rasanya melihat para pemain yang berkesan muncul dan reuni bersama dalam film ini. Jalan cerita yang ditawarkan kali ini memang bisa dibilang tidak istimewa, namun selipan humor yang ada sangat menghibur! Kehadiran 'The Rock' dalam film ini juga membuat keseluruhan isi film semakin meriah. Fast Five hadir pure sebagai entertainment movie, tidak perlu berfikir pada saat menonton, nikmati saja aliran adegan aksi yang ada. Banyak dialog yang membuat penonton tertawa, ini juga semakin menambah nilai plus. Mungkin ada beberapa orang, terutama para pria pecinta otomotif yang kecewa karena dalam Fast Five kali ini tidak menyajikan mobil-mobil super keren seperti sebelumnya. Namun bagi orang yang memang tidak terlalu mempermasalah itu, Fast Five benar-benar sebuah tontonan yang memuaskan apalagi jika disaksikan dalam layar lebar. Jadi tidak sabar menunggu sekuel selanjutnya, kabarnya Eva Mendes akan kembali bergabung, begitu juga dengan karakter Letty yang diperankan oleh Michelle Rodriguez yang sepertinya akan diceritakan ternyata belum atau tidak jadi mati. Well, we'll see..











Minggu, 13 Februari 2011

REVIEW: THE GREEN HORNET
























Kato: I was born in Shanghai. You know Shanghai?

Britt Reid: Yeah, I love Japan.

Setelah beberapa kali penundaan dan masalah pada saat produksi akhirnya The Green Hornet dirilis juga awal 2011 ini. Green Hornet sendiri adalah karakter superhero klasik yang terkenal pada tahun 1960-an mulai dari radio hingga diangkat ke serial televisi, kala itu karakter sidekick Green Hornet diperankan oleh icon martial-arts Bruce Lee. Kali ini sang sutradara, Michel Gondry, paling dikenal lewat filmnya Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), ada juga film-film lainnya seperti Be Kind Rewind (2008) dan Tokyo! (2008). Kali ini Seth Rogen yang juga menjadi co-writer film ini bersama Evan Goldberg, berperan menjadi sang superhero Green Hornet. Penyanyi kawakan asal Taiwan, Jay Chou menggantikan posisi Bruce Lee memerankan tokoh Kato.

Britt Reid (Seth Rogen) adalah anak tunggal dari James Reid (Tom Wilkinson), pemilik surat kabar lokal 'The Daily Sentinel'. Britt tumbuh menjadi seorang playboy yang memiliki gaya hidup mewah serta gemar pesta pora, hal ini disebabkan oleh renggangnya hubungan dengan sang ayah. Ketika tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, mau tidak mau Britt harus mewarisi 'kerajaan' surat kabar milik ayahnya tersebut. Tidak sengaja ia bertemu dengan Kato (Jay Chou) yang ternyata adalah montir ayahnya dan juga orang yang selama ini membuatkan kopi nikmat untuknya setiap pagi. Britt sangat terkesan dengan kemampuan Kato dengan mesin, ia mampu membuat mesin pembuat kopi canggih, mobil dengan senjata, dll. Tidak disangka, Kato juga mahir bela diri, ia juga memiliki suatu kelebihan dimana ia bisa melihat segala sesuatu dengan perlahan. Britt lalu menemukan sebuah ide gila yaitu menjadi superhero, Kato pun menyutujui dan akhirnya mereka sepakat menjadi 'The Green Hornet'. Ternyata kehadiran pahlawan misterius ini membuat gusar ketua gangster Chudnofsky (Christoph Waltz) dan memerintahkan semua bawahannya untuk membunuh 'The Green Hornet'.

Saya benar-benar tidak berekspektasi apapun ketika menyaksikan film ini, malahan saya mengira kalau filmnya akan mengecewakan. Tapi ternyata tidak seburuk yang saya kira, film ini lumayan menghibur meskipun ada beberapa yang sedikit mengesalkan juga. Karakter Seth Rogen disini lumayan annoying kalau menurut saya, hehe.. Lalu akting Jay Chou masih terlihat sedikit kaku meskipun aksi bela diri yang ditampilkan sudah luwes dan sangat baik. Mungkin hal ini turut dipengaruhi oleh bahasa Inggris Jay Chou yang masih belum terlalu lancar. Tapi secara keseluruhan menurut saya Jay Chou cocok dengan peran Kato. Chemistry antara Seth Rogen dan Jay Chou untungnya terjalin dengan baik, karena film ini sangat mengutamakan hubungan pertemanan yang kuat antara Britt dan Kato. Saya suka dengan kehadiran Christoph Waltz disini, menghibur! Cameron Diaz sayangnya kurang pas bermain disini, entahlah menurut saya mungkin sudah terlalu berumur jika dibandingkan dengan Rogen dan Chou. But I like her anyway! Intinya ini bukan film action, tapi film komedi. Lumayan lah untuk hiburan awal tahun. Jangan lewatkan penampilan konyol sekilas dari James Franco di awal film yaa! Saran: lebih baik nonton versi 2D, katanya 3D-nya kurang 'maknyusss'.. :)






Selasa, 18 Januari 2011

REVIEW: THE AMERICAN
























"Don't make any friends, Jack."

Poster film ini memang menipu! Anda pasti akan mengira bahwa ini sebuah film action dengan adegan baku tembak yang menegangkan sepanjang film. Ternyata bukan, ini bisa dibilang sebuah drama yang diberikan sedikit bumbu aksi. Tidak ada suasana yang terlalu intens dalam filmnya. Dialog pun minim, musik juga terasa mendayu-dayu. Jadi apabila anda mengharapkan sebuah film action pastinya akan kecewa.

Ini juga bukan film yang bisa dinikmati semua orang. Sebagian akan suka sekali dengan film ini, sebagian lagi akan mencaci maki karena tidak mengerti dan bosan setengah mati. Anda termasuk bagian yang mana? Menurut saya, kalau anda tidak suka dengan film ber-plot lambat atau memang sedang ingin menikmati film action super seru, ada baiknya lewatkan saja film ini.

Jack (George Clooney) adalah seorang pembunuh dan pembuat senjata professional yang mempunyai nama samaran Edward atau Eduardo. Selama ini ia terbiasa hidup menyendiri. Setelah tugasnya di Swedia selesai dan berakhir tragis, ia mendapatkan sebuah tugas 'terakhir' dari sang atasan, Pavel (Johan Leysen), untuk membuatkan senjata kepada seorang wanita misterius bernama Mathilde (Thekla Reuten) di daerah pedalaman Italia. Jack pun selalu diingatkan oleh Pavel untuk tidak berteman dengan siapa pun, karena kondisinya yang memang tidak memungkinkan untuk bersosialiasi. Namun, di tempatnya kali ini Jack malah berteman dengan seorang pastor bernama Father Benedetto (Paolo Bonacelli) dan menjalin hubungan asmara dengan seorang pekerja seks lokal, Clara (Violante Placido). Saat Jack merasa ia telah siap untuk keluar dari pekerjaan gelap yang dijalaninya saat ini, ia malah dihadapkan pada situasi menegangkan yang dapat mempertaruhkan nyawanya.

'The American' memiliki sinematografi yang luar biasa indah. Hal ini mungkin didapat dari gaya sang sutradara Anton Corbijn yang memang adalah seorang top photographer. Semua sudut pengambilan gambar terasa sangat detil dan artistik dari mulai awal sampai akhir film. Belum lagi ditambah suasana pemandangan pedalaman Italia yang menurut saya sangat eksotis. Para pria tentunya juga akan menikmati pemandangan lain yaitu wanita-wanita sexy Italia yang di ekspos habis-habisan disini.

Penampilan George Clooney disini juga menurut saya merupakan salah satu penampilan terbaiknya selama ini. Aktingnya terasa sangat matang dan meyakinkan. Menurut saya Clooney memiliki banyak kelebihan dari wajah tampannya yang semakin tua malah semakin sedap dipandang mata, di satu sisi ia bisa terlihat konyol dan lucu, namun di sisi lain ia bisa juga terlihat seperti agen FBI atau mafia kelas kakap, sisi lainnya lagi ia juga bisa menjadi seorang yang kesepian dan menderita seperti dalam film ini. Wajah Clooney menyimpan berbagai macam karakteristik.

Meskipun judulnya bernuansa Amerika, namun nuansa Eropa, terutama Italia, malah yang sangat terasa dalam film ini. Sebagian pemainnya adalah para pemain asal Italia, lokasi pengambilan gambar juga di Italia. Maka tidak heran kalau saya yang memang menyukai film-film Eropa juga langsung menyukai 'The American'. Bagi yang sudah terbiasa menonton film-film Eropa pasti tidak akan kaget, malah akan menikmati plot cerita yang berjalan lamban tapi emosional ini. Selamat menonton! :)





Senin, 06 Desember 2010

12th JIFFEST 2010 - SHORT REVIEWS: INCENDIES & OUTRAGE (AUTOREIJI)


















Incendies - Canada


Sejak kematian ibu mereka (Lubna Azabel), pasangan anak kembar; Jeanne (Melissa Desormeaux-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) menerima amanat terakhir ibunya melalui sang pengacara, Jean Lebel (Remy Girard). Amanat tersebut sangat mengagetkan, karena mereka diharuskan mencari ayah mereka yang selama ini mereka fikir sudah meninggal dunia dan kakak lelaki mereka yang tidak pernah mereka ketahui keberadaannya sama sekali. Ada dua surat yang sudah ditinggalkan sang Ibu; Nawal Marwan, untuk diberikan masing-masing kepada ayah dan kakak lelaki mereka. Untuk melaksanakan amanat ini, mereka harus terbang jauh ke Timur Tengah guna menelusuri perjalanan hidup sang ibu. Perjalanan ini secara tidak langsung menjadi pembelajaran dan juga penemuan kenyataan pahit tentang kisah kelahiran mereka yang selama ini tidak pernah diceritakan.


>>> Sebuah film drama hasil karya Denis Villeneuve yang sangat intens dan dramatis. Meskipun memiliki alur cerita yang lambat, namun saya tidak bosan sama sekali karena akting para pemainnya yang jempolan. Melihat aksi Jeanne dan Simon berusaha memenuhi permintaan terakhir ibunya dengan mengoyak kebenaran-kebenaran mencengangkan yang selama ini tidak diketahui terus terang membuat pikiran saya seakan ikut masuk kedalam adegan demi adegan dalam film ini. Denis menggambarkan dengan baik dan halus bagaimana masa lalu sang ibu juga kegetiran yang dialami. Twist dramatis di akhir film ini pastinya akan membuat semua orang terkejut dan mendiskusikannya setelah menonton. Ending yang sangat mengejutkan. Film ini bercerita dengan cara yang amat filosofis tentang nasib manusia, perdamaian dan perang, cinta dan benci, dendam dan pengampunan. Cinematografi dalam film ini juga digarap sangat baik, terlebih dengan potongan lantunan lagu dari Radiohead yang turut mengungkap kegelapan masa lalu sang ibu.



♥♥♥


Outrage (Autoreiji) - Japan


Alur cerita film ini berkisah tentang kekejaman para geng Yakuza yang berusaha mati-matian untuk merebut kekuasaan tertinggi. Para bos mafia ini bersaing dengan menggunakan metode dan intrik yang sedemikian rupa untuk memperluas 'kerajaan' mereka. Bertindak dengan kejam tanpa pikir panjang lagi bukanlah hal yang aneh dalam dunia para Yakuza. Masing-masing individu juga menginginkan kedudukan tertinggi, maka tidak heran kalau tidak ada istilah teman diantara mereka. Demi kedudukan itu mereka pun rela saling bunuh. Film dibuka dengan adegan dimana para Yakuza yang rata-rata mengendarai Mercedez Benz hitam berkumpul di rumah 'bos besar' yang disebut Mr.Chairman (Kitamura Soichiro). Sang bos mengeluarkan perintah, lalu para gangster kembali ke wilayah masing-masing, kecuali Ikemoto (Jun Kunimura) yang diberikan omelan lebih. Sang bos besar menduga kalau klan lain; Murase, telah mengambil jatah narkoba klan Sannokai miliknya. Ikemoto lalu meminta rekannya Otomo (Takeshi Kitano) untuk membantunya menangani masalah tersebut. Otomo mencoba mengirim 'pesan' kepada Murase, namun dari situ masalah malah menjadi lepas kendali.


>>> Apa yang terlintas di pikiran anda ketika seseorang menyebutkan 'Yakuza'? Apakah itu sesuatu yang suram dan gelap? Itulah rupanya yang ingin disampaikan oleh Takeshi Kitano melalui film Outrage. Usahanya untuk menyajikan refleksi dari dunia gelap Yakuza di Jepang saya acungi dua jempol. Apalagi adegan-adegan sadis disini juga diperlihatkan dengan gamblang. Bayangkan saja bagaimana rasanya bila anda melihat wajah seseorang disilang menggunakan cutter, telinga ditusuk menggunakan sumpit, jari tangan dipotong, mulut di bor, lalu leher diikat dan diseret dengan mobil yang melaju cepat. Sebuah film gangster dengan tempo cepat yang benar-benar hebat. Akting Takeshi Kitano disini luar biasa, apalagi ia juga duduk sebagai sutradara dan penulis dalam film ini. Meski tadinya saya hanya iseng membeli tiket film ini, ternyata tidak disangka-sangka Outrage malah menjadi film terfavorit saya di JiFFest 2010! :)




♥♥♥

Minggu, 21 November 2010

REVIEW: THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO






















"Based on the worldwide bestseller."


The Girl with the Dragon Tattoo diangkat dari novel best seller karangan Stieg Larssons, seorang pengarang dan jurnalis asal Swedia. Ini merupakan novel pertama dari trilogi Millennium yang ditulisnya. Niels Arden Oplevs mengangkat film yang berjudul asli 'Män som hatar kvinnor' dalam bahasa Swedia ini dengan sangat baik. Awalnya saya kurang tertarik menyaksikan film ini karena saya sendiri belum membaca novelnya, lagipula pemainnya saya tidak kenal semua. Apalagi ditambah dengan dialog dalam bahasa Swedia yang masih asing di telinga. Akan tetapi, keisengan saya menonton berbuah sebuah kepuasan. The Girl with the Dragon Tattoo sangat seru untuk dinikmati. Plot cerita dijabarkan dengan sangat apik lengkap dengan misteri yang membuat penonton penasaran. Sangat recommended untuk yang menyukai film ala detektif dengan sentuhan thriller.


Empat puluh tahun yang lalu, Harriet Vanger menghilang dari tempat tinggalnya. Jasadnya tidak pernah diketemukan, sehingga membuat keluarganya besar Vanger yang kaya raya bertanya-tanya apakah Harriet sudah meninggal atau belum. Sang paman, Hanrik Vanger (Sven-Bertil Taube), yakin kalau Harriet telah dibunuh, selama bertahun-tahun ia sudah mengandalkan segala macam cara untuk menemukan pembunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Lalu ia menyewa seorang jurnalis yang sedang terlibat masalah hukum, Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist). Mikael lalu dibantu oleh seorang hacker wanita berpenampilan sangar, Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Mereka berdua lalu berusaha memecahkan teka-teki yang sudah ada berpuluh-puluh tahun ini. Usaha mereka tidak berjalan mulus karena ternyata sang pembunuh masih merupakan bagian dari keluarga besar Vanger.


Cinematografi film ini digarap dengan sangat baik. Sang aktris utama, Noomi Rapace juga menunjukkan performa yang kuat dan luar biasa. Begitu juga dengan akting Michael Nyqvist sebagai Mikael Blomkvist dan Sven-Bertil Taube sebagai Hanrik Vanger yang juga bermain baik dengan karakternya masing-masing, sehingga penonton bisa percaya dengan apa yang mereka mainkan. Plot cerita film ini sendiri menurut saya cukup menarik dan membuat penasaran, ini dari sudut pandang saya, seseorang yang belum membaca novelnya. Durasi 2,5 jam memang cukup panjang namun saya tidak merasa bosan sama sekali. Saya tidak sabar untuk menyaksikan film kedua dan ketiganya; The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornet's Nest. Hanya tayang di bioskop Blitzmegaplex. :)





Rabu, 13 Oktober 2010

REVIEW: THE OTHER GUYS




























"I'm like a peacock, you gotta let me fly!"

The Other Guys tidak disangka-sangka berhasil menjadi sebuah tontonan yang menghibur saya. Tadinya saya tidak berniat menonton film ini, akan tetapi dikarenakan tidak mendapatkan tiket Step Up 3D, akhirnya saya pun memilih film arahan Adam McKay ini. Review-review yang telah ada sebenarnya lumayan baik, banyak yang menyatakan kalau mereka terhibur. Namun, saya memang tidak terlalu excited dengan film-film Will Farrell, jadi faktor itulah yang mungkin membuat saya jadi kurang tertarik juga untuk menyaksikan The Other Guys. Beruntung Will disandingkan dengan Mark Wahlberg disini, paling tidak saya masih lumayan menyukai Wahlberg. Setelah menonton, saya tidak menyesal. Filmnya ringan dan menghibur. Sejauh yang sudah saya tonton, mungkin inilah penampilan terbaik Will Farrell.

Film ini bercerita tentang dua orang Detektif NYPD, Christopher Danson (Dwayne Johnson) dan P.K. Highsmith (Samuel L. Jackson), yang sangat terkenal dan dicintai warga. Di lain tempat, dalam kantor polisi, ada juga Detektif Allen Gamble (Will Ferrell) dan Detektif Terry Hoitz (Mark Wahlberg). Dalam sebuah foto Danson dan Highsmith, kita bisa melihat Gamble dan Hoitz di kejauhan, blur dan tidak fokus. Mereka berdua bukan siapa-siapa, mereka hanya 'the other guys'. Di kantor pun, Gamble lebih sering membuat laporan tertulis ketimbang ke lokasi kejadian. Begitu juga dengan Hoitz yang jadi bulan-bulanan di kantor polisi karena kasusnya dulu yang pernah menembak kaki seorang atlit dengan tidak sengaja. Kerja sama antara Gamble dan Hoitz berangsur-angsur mulai membaik dan mereka berusaha mengungkap sebuah kasus yang disebut sebagai kejahatan terbesar di New York.

Awalnya saya merasa aneh melihat nama Will Farrell dan Mark Wahlberg disandingkan dalam satu film, akan tetapi ternyata chemistry mereka dalam film ini terasa begitu unik dan seru. Kalimat-kalimat humor yang dilontarkan oleh Mark Wahlberg dengan mimik muka datar sangat menghibur! Will Ferrel pun menurut saya bermain sangat baik disini, apalagi ia dan sang sutradara, Adam McKay, sepertinya memang cocok satu sama lain dan sudah sering berkolaborasi. Pada pertengahan film memang terasa sedikit bertele-tele, akan tetapi hal tersebut tidak terlalu fatal. Secara keseluruhan, The Other Guys memang mampu membuat saya tertawa dan melepaskan penat yang ada. Para pria juga pasti senang melihat kehadiran Eva Mendes yang 'super-hot' dalam film ini, sayang ia hanya muncul sebentar saja. Scene favorit saya? Tentu saja opening scene yang disuguhkan Dwayne 'The Rock' Johnson dan Samuel L. Jackson! Woohoo!





Jumat, 28 Mei 2010

REVIEW: THE LOSERS




















"Anyone else would be dead by now"

Sutradara yang bisa dibilang 'pendatang baru', Sylvain White, menurut saya kali ini lumayan berhasil menggarap The Losers. Paling tidak film ini masih jauhhh lebih baik dibanding keempat filmnya yang terdahulu seperti Stomp the Yard (2007), I'll Always Know What You Did Last Summer (2006), Trois 3: The Escort (2004), dan Quite (2003). Kalau dilihat dari hasil karyanya sejauh ini, The Losers memang yang paling baik, sisanya parah. Jadi kalau menilik dari kemampuan sutradaranya dalam mengolah film, menurut saya The Losers termasuk oke. Saya sendiri tidak berekspektasi terlalu tinggi pada saat akan menyaksikan film ini, saya malah mengira kalau filmnya akan mengecewakan. Saya memutuskan untuk menonton film ini di layar lebar hanya karena ingin melihat Chris Evans. Tapi ternyata, The Losers tidak mengecewakan. Malah saya merasa lumayan terhibur.

The Losers bercerita tentang sekelompok agen CIA yang menamakan tim mereka 'The Losers'. Tim ini terdiri dari sang pimpinan operasi - Clay (Jeffrey Dean Morgan), sang ahli komputer dan teknologi - Jensen (Chris Evans), sang ahli transportasi dan alat berat - Pooch (Columbus Short), sang penyusun taktik - Rogue (Idris Elba), dan sang penembak jarak jauh - Cougar (Óscar Jaenada). Mereka berlima dikirim ke Bolivia untuk membunuh seorang target. Sesampai di tempat target mereka kaget karena maelihat puluhan anak kecil menjadi sandera. Lalu mereka pun memutuskan untuk membatalkan dulu operasi tersebut, namun sayang ternyata atasan mereka tidak menyetujui hal tersebut. Malah dari kejadian di Bolivia tersebut mereka mengetahui kalau mereka berlima juga menjadi target pembunuhan. Di Bolivia mereka didatangi oleh Aisha (Zoe Saldana), seorang wanita yang menawarkan bantuan untuk mengembalikan mereka ke Amerika dengan syarat mereka harus membantunya membunuh Max (Jason Patric), dalang dari semua kejadian itu. Akhirnya tim 'The Losers' dan Aisha menggunakan berbagai cara untuk memburu Max beserta komplotannya. Tapi pertanyaannya, apa Aisha betul-betul bisa dipercaya?

Film ini sebetulnya tidak menawarkan sesuatu yang baru sama sekali. Plot cerita termasuk mudah ditebak dan biasa-biasa saja. Memang ada beberapa twists didalamnya, tapi kesannya malah jadi twists yang tidak berkelas. Adegan action terasa 'nanggung'. Komedi yang diselipkan kedalam film juga terkesan kurang 'nampol'. Filmnya sendiri malah jadi seperti kehilangan jati diri untuk memutuskan lebih ke action atau ke komedi. Karena faktor-faktor diatas lah yang membuat The Losers jadi serba tidak maksimal. Tapi memang harus diakui kalau penampilan Chris Evans berhasil menjadi magnet dan nilai tambah disini. Adegan ketika ia bernyanyi dalam suatu scene betul-betul membuahkan tawa seisi bioskop. Great! Saya tidak akan spoiler, silahkan tonton sendiri. Begitu juga dengan penampilan Zoe Saldana, setelah berperan sebagai Neytiri di Avatar sepertinya Zoe kembali menunjukkan pada Hollywood kalau ia adalah salah satu kandidat pemeran utama wanita terbaik di tahun ini. Overall, The Losers sebetulnya juga tidak bisa dikatakan jelek. Mungkin jauh dari kata sempurna, tapi film ini menghibur! Apalagi bagi penggemar Chris Evans dan Zoe Saldana, kalian pasti tidak akan banyak mengkritik film ini, karena penampilan mereka berdua memang baik sekali disini. Mumpung sedang long weekend, tidak ada salahnya menonton The Losers di bioskop. Have a great weekend guys! :)





Minggu, 16 Mei 2010

REVIEW: KICK-ASS




























"KICK-ASS really kicked-ass!"

Akhirnya film yang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu tayang juga di Indonesia. Kick-Ass sempat diragukan untuk tayang di Indonesia karena kabarnya ada sedikit halangan di lembaga sensor, akan tetapi sepertinya masalah itu sudah terselesaikan dengan baik. Begitu tahu kalau kemarin Kick-Ass sudah tayang di midnight show, saya langsung sangat amat excited! Saya pun langsung bergegas membeli tiket, mengantri yang panjangnya minta ampun -karena memang bertepatan dengan long weekend-, lalu saya juga cemas kalau-kalau tidak mendapat spot tempat duduk yang enak. Ternyata belum terlalu banyak orang yang membeli tiket Kick-Ass, orang-orang yang mengantri lebih memilih menonton Robin Hood dan Ip Man 2 yang tiketnya memang sudah sold out lebih dulu. Well..memang mungkin belum banyak yang tahu tentang Kick-Ass di Indonesia. Tapi saran saya, you should watch it! :)

Kick-Ass is definitely the best movie of 2010 I've seen so far!!! Saya betul-betul menyukai film ini. Meskipun saya belum membaca komiknya, namun saya seolah terhipnotis oleh pesona unik Kick-Ass. Ini adalah film bertema superhero yang sesungguhnya, lupakan sejenak Batman, Superman, Spiderman, dan yang lainnya, sekarang sudah saatnya kita beralih ke Kick-Ass. Semua orang pasti punya keinginan dalam hati kecilnya untuk menjadi seorang superhero bukan? Dapat membantu orang lain meskipun tidak memiliki kekuatan super apapun. Namun kenapa tidak ada yang mulai melakukan hal tersebut? Karena sepertinya hal ini terlalu naif untuk dilakukan pada kehidupan nyata. Tapi tidak bagi seorang Dave Lizewski...


















Dave Lizewski (Aaron Johnson) adalah seorang remaja nerd yang tinggal bersama ayahnya dan berpenampilan biasa-biasa saja. Di sekolah ia tidak populer diantara para teman wanita maupun teman pria sekalipun. Ia hanya akrab dengan dua sahabatnya yang sama-sama pecinta buku komik, Marty (Clark Duke) dan Todd (Evan Peters). Suatu hari terbesit sebuah ide yang terinspirasi dari buku komik yang selama ini dibacanya, yaitu menjadi seorang superhero! Gila memang, tapi Dave serius melakukan hal ini. Ia memilih nama Kick-Ass, membuat akun myspace, membeli seragam, sampai memilih senjata yang akan digunakan. Tidak ada yang tahu tentang kegilaannya ini. Namun ternyata bukan hanya Dave satu-satunya superhero berkostum yang ada. Ia bertemu dengan pasangan ayah dan anak berkelakuan brutal, Big Daddy (Nicholas Cage) dan Hit Girl (Chloe Moretz). Ditambah lagi dengan kehadiran superhero lain yang menamakan dirinya Red Mist (Christopher Mintz-Plasse).


















Kick-Ass memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Mulai dari plot, dialog-dialog menghibur, adegan sadis nan konyol ala Quentin Tarantino, action scenes yang keren, akting para pemainnya yang luar biasa, sampai deretan soundtrack yang super cool! Biasanya film tipe seperti ini tidak membuat penonton klimaks, tapi Kick-Ass betul-betul berhasil. Rogert Ebert memberikan film ini satu bintang, well..he's old anyway. Old people don't like this kind of movies. Ebert seingat saya juga tidak menyukai Fight Club, tapi saya suka film itu. Review saya memang tidak berpatokan pada review siapapun, even itu Roger Ebert sekalipun. Saya sungguh tidak perduli, asalkan saya menyukai filmnya pasti akan saya puji. Kalau selama ini anda berselera sama dengan tulisan dalam blog ini, then trust me you'll love KICK-ASS!

















Chloe Moretz berhasil menjadi bintang dalam Kick-Ass. Her acting and character can definitely kick your ass! Gemas rasanya melihat seorang gadis cilik cantik membunuh orang dengan kejam namun keren. Apalagi ditambah kata-kata kasar yang selalu keluar dari bibirnya saat bicara. Tapi itulah uniknya Kick-Ass. Saya yakin Chloe Moretz akan masuk dalam calon bintang paling bersinar Hollywood selanjutnya. We'll see.. Aktor senior Nicholas Cage juga kembali bermain baik dalam film ini setelah sebelumnya juga mencuri perhatian dalam Bad Lieutenant (2009). Film ini juga membuat saya jatuh hati pada sang pemeran utama, Aaron Johnson! Secara keseluruhan Kick-Ass adalah sebuah film yang dekat dengan kehidupan remaja dan dapat membuat penonton tegang dan tertawa pada waktu yang bersamaan. Saya yakin memang tidak semua orang bisa menikmati film seperti Kick-Ass, but for me it's still my highest rated movie of 2010 so far!

Ps: Don't bring your kids to see Kick-Ass! :p