total ping

Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

Balada Es Krim

Prolog. Mengingat-ingat sejenak... Kapan ya terakhir kali saya meng-update blog ini, sudah lama sekali rasanya. Kapan terakhir kali saya blogwalking ke blog teman-teman? Sebelum saya berangkat ke Skandinavia sepertinya. Huff, cukup lama juga saya menelantarkan Merry go Round, bahkan sampai pangling menuangkan tulisan dalam dashboard blog yang mungil ini karena beberapa bulan terakhir saya terus-terusan berkutat dengan Microsoft Word demi membayar hutang liburan ke Skandinavia. Untuk yang selalu bertanya 'Kapan bukunya rilis?' jujur saya tidak tahu jawabannya, draft tulisan saya baru rampung minggu kemarin, setelah dikejar-kejar deadline dan pekerjaan harian akhirnya tulisan saya selesai juga dan bisa diserahkan ke editor. Masih jauh dari kata selesai, masih banyak perbaikan dan penambahan disana-sini untuk menghasilkan sebuah buku yang layak baca dan layak jual, tapi setidaknya saya sudah menyelesaikan satu tahapan untuk penyelesaian buku tersebut, doakan ya teman-teman :) 
Jadi, sementara saya harap-harap-cemas menanti kabar selanjutnya dari editor tercinta saya yang juga sibuk bukan main menangani buku-buku lainnya, saya akan kembali menulis di blog yang telah mengenalkan saya pada banyak hal yang baru. Walau tidak bisa berjanji banyak akan menulis tentang cerita liburan saya di Skandinavia kemarin karena hampir seluruhnya telah saya ceritakan di draft tulisan untuk buku, tapi beberapa cerita akan saya share disini untuk teman-teman yang selalu komplain atas postingan cerita cinta saya yang selalu di-cap bernada galau (melirik tajam kepada Cipu dan Exort). Yap, saya kembali ke ranah blogspot, kembali ber-blogwalking ria, dan dengan senangnya saya berkata "Saya kangen kalian semuaaa..." :)

..................


Göteborg hari kedua, baru saja kemarin saja sampai ke kota terbesar kedua di Swedia ini dan nanti sore saya sudah harus berangkat ke Oslo. Huff, hanya satu setengah hari tersedia untuk saya berkenalan dengan Göteborg, sebuah kota kecil yang tepat berada di bibir perairan Swedia. Kapal-kapal besar berlabuh di dermaga Göteborg dan membongkar muatan mereka, kota ini memang memegang peranan penting dalam lalu-lintas perairan Swedia mengingat posisinya yang cukup sentral. Burung camar terbang rendah dan berkaok-kaok riang meramaikan suasana, bau asin air laut tertiup angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Göteborg terasa lebih tenang dan sepi dibanding Stockholm, apalagi saat akhir pekan seperti ini, seluruh penduduk seperti enggan keluar dari rumah dan membuat kota begitung lengang sehingga nyaris seperti kota mati.

Bachelorette Party di sisi perairan Göteborg

Rumpun bunga liar 

Oscar Fredriks Kyrka, Göteborg

Matahari musim panas mulai bersinar terik dan menggerakkan barometer cuaca ke angka 27 derajat Celcius, angka tertinggi yang pernah diraih semenjak kedatangan saya ke Swedia. Hampir di seluruh tempat dan bangunan sentral di Stockholm maupun Göteborg menuliskan dengan jelas informasi suhu udara di hari itu dalam layar-layar LCD, membuat saya selalu aware dengan cuaca dan dapat mempersiapkan diri dengan pakaian yang memadai jika suhu dirasa terlalu dingin. Ini adalah hari kelima saya di Swedia dan saya sudah cukup merasakan kehangatan sinar matahari Skandinavia yang dapat membuat saya berkeringat dan lumayan semaput untuk menghadapi panasnya udara musim panas. Musim panas di Stockholm maupun Göteborg memang hanya berkisar di angka 21 - 27 derajat Celcius saja namun cukup untuk membuat semua penduduk berbondong-bondong keluar untuk menikmati panas sinar matahari yang hanya bersinar selama beberapa bulan dalam satu tahun, walau begitu saat jarum jam bergerak memasuki jam 7 malam angin yang berhembus mulai terasa dingin dan menusuk, Skandinavia seakan tetap menunjukkan kehebatannya dalam urusan udara dingin!

Patung 5 Perempuan yang melambangkan 5 Benua di dunia 

Göteborg sepi lengang tanpa manusia 

Salah satu sudut Göteborg 

Selain berjemur hal lain yang wajib dilakukan saat musim panas adalah menikmati es krim. Hampir seluruh tempat di spot-spot wisata membuka kedai es krim yang menjual es dengan berbagai rasa dan warna. Menjilati es krim sambil berjalan-jalan menikmati suasana kota di bawah terik matahari memang merupakan kombinasi yang pas, bahkan salah satu website pariwisata Stockholm menampilkan beberapa kedai es krim andalan yang dapat dikunjungi selama berada di Stockholm, menunjukkan pentingnya peranan es krim sebagai salah satu jualan kuliner yang paling dicari selama musim panas. Awalnya saya skeptis dan mencibir dalam hati akan budaya ini, "Dih, di Indonesia saya bisa makan es krim kapanpun saya mau. Panas, dingin, siang, malam, halal-halal aja tuh makan es krim", belum lagi harga es krim yang di atas rata-rata membuat saya tambah hilang selera untuk menikmati es krim di negara mahal ini. Ternyata pikiran skeptis saya ini hanya bertahan di hari pertama saya di Stockholm, hari-hari berikutnya saya mulai memandang iri kepada orang-orang yang berlalu lalang sambil memegang cone es krim di tangannya. Air liur memenuhi rongga mulut, pasti rasanya nikmat banget menikmati sensasi es yang lembut dan dingin yang melumer di lidah, seketika langsung mendinginkan kepala dan tubuh yang kepanasan diterpa terik matahari. Bayangan saya yang berjalan-jalan melihat arsitektur kota yang unik, dinamika penduduk lokal dengan berbagai kegiatannya, ditemani matahari musim panas, dan setangkai es krim di tangan mulai menari-nari di kepala dan menggoda iman atas budget saya yang super terbatas. Glek, saya kepengen makan es krim jugaaa...!!! 

Pencarian saya akan kenikmatan es krim dimulai di lorong sempit Gamla Stan yang menjadi jualan utama pariwisata Stockholm, disana berderet-deret toko dan kedai yang menjual es krim dan berbagai penganan pelengkapnya. Wangi kue hangat yang baru dikeluarkan dari oven terasa menggantung di udara, membuat siapapun yang lewat akan mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber aroma menggoda tersebut, wisatawan keluar-masuk membawa cone es krim beraneka warna dari salah satu kafe, saya ikut menghampiri kafe tersebut untuk mengintip harga yang tertera. Satu scoop es krim dihargai mulai dari 25 SEK (Sweden Krona, 1 SEK = Rp 1.450), tergantung pilihan jenis dan rasa dari es krim tersebut, membeli dua scoop biasanya lebih murah lagi dan dapat dihargai 45 SEK saja. Saat itu juga keinginan saya untuk menikmati es krim langsung menguap seketika, ihik mahal banget, saya harus tetap bertahan pada rencana pengeluaran yang telah dibuat karena hari-hari saya di Swedia masih panjang. Ya ampun, proletar banget sih saya, ngeluarin 45 SEK aja nggak mampu. Yah mau gimana lagi, saya memang berangkat kesini hanya dengan bermodalkan nekat dan doa serta dana super terbatas. Mungkin es krim harus menunggu saat saya kembali ke Indonesia.

Kembali ke Göteborg, dengar-dengar harga di kota ini lebih murah dibanding Stockholm, mungkin disini saya bisa memuaskan hasrat untuk menikmati es krim. Empat jam lagi bus yang akan mengantarkan saya ke Oslo akan berangkat, masih tersedia waktu untuk berburu es krim di Göteborg. Kalau saya kekeuh ingin makan es krim selagi di Skandinavia maka sekarang adalah waktu yang tepat, saya tidak yakin di Norwegia nanti sinar matahari dapat bersinar seterik ini, terlebih saya tidak yakin harga-harga di Norwegia bisa semurah Swedia, di Norwegia nanti saya pasti akan jauh lebih proletar dibanding saat berada di Swedia *mengenaskan*. Ricky, mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia yang baru menyelesaikan studinya berbaik hati menemani saya berkeliling Göteborg, di sisa sore itu saya sudah kehabisan tempat turistik yang dapat dikunjungi dan tidak tahu harus pergi kemana lagi di kota kecil ini, akhirnya Ricky menawarkan saya untuk mampir ke kampusnya. Selain dikenal sebagai kota yang memegang peranan sentral dalam bidang perdagangan antar negara lewat jalur perairannya, Göteborg juga terkenal sebagai rumah dari beberapa universitas ternama Swedia sehingga banyak mahasiswa yang tinggal di kota ini. Salah satu universitas di Göteborg yang terkenal adalah Chalmers University, tempat inilah yang akan menjadi penutup perjalanan saya selama di Göteborg.

Ricky yang baca peta, saya yang sibuk foto-foto ;)

Chalmers University, Göteborg

Suasana kampus besar Chalmers tidak berbeda dengan suasana kota Göteborg, sepi karena hampir seluruh mahasiswa menghabiskan waktu akhir pekan mereka di luar kampus. Setelah lelah berkeliling akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajak Ricky mencari es krim, pasti dia tahu tempat es krim murah meriah di daerah kampus ini. Benar saja, dia mengajak saya ke salah satu toko yang khusus menjual es krim, didalamnya berjejer es krim beraneka rasa dan warna, harganya 15 SEK saja untuk satu scoop es krim dan 25 SEK untuk dua scoop. Horeee, senangnya bisa menemukan es krim murah meriah di Göteborg. Karena harganya tidak terlampau mahal dan budget saya masih cukup tersisa maka saya memaksa untuk membayar jatah es krim Ricky, untuk membalas kebaiknnya yang telah meluangkan waktu untuk menemani saya berkenalan dengan Göteborg. Di sisa sore itu, di salah satu kedai es krim kampus yang lengang oleh mahasiswa, terik matahari tidak hanya tertahan oleh bangunan toko yang mungil tapi juga oleh es krim manis yang melumer di mulut saya.

Kurang dari dua jam lagi saya akan meninggalkan Swedia dan menuju ke Norwegia, meninggalkan Göteborg untuk pergi ke Oslo. Sebelum meninggalkan toko saya menghitung sisa koin Sweden Krona yang ada di dompet, masih ada 25 SEK lagi, masih cukup untuk membeli dua scoop es krim untuk saya nikmati sambil berjalan-jalan di bawah hangat matahari Swedia sebelum saya merasakan dinginnya Norwegia. Sepertinya tidak ada salahnya saya menambah jatah es krim hari ini, toh koin-koin ini nantinya tidak bisa saya tukarkan di money changer kan pikir saya membela diri. Jadilah saya pergi ke meja kasir untuk memesan dua scoop es krim lagi, pelayannya tersenyum-senyum melihat tingkah saya, ah masa bodohlah, saya sudah diperdaya dengan kenikmatan es krim dan sinar matahari Swedia. Walau sebenarnya di Stockholm saya sempat mencicipi es krim saat diundang dinner oleh Andri dan Gunar, walau saya sudah menghabiskan dua scoop es krim di dalam toko ini, tapi saya belum merasa lengkap jika belum merasakan es krim sambil berjalan-jalan menikmati suasana kota, saya ingin menjilati es krim sambil berkeliling kota, berbaur dengan dinamika masyarakat lokal dan mencicipi suasana musim panas di kota ini, sebenarnya hal inilah yang saya cari, hal ini juga yang membuat saya super riang melangkah keluar toko sambil membawa cone es krim saya.

Es krim rasa champagne dan peach seharga 25 SEK

Warna pink rasa peach dan putih rasa champagne menumpuk di atas cone yang saya pegang, perpaduan warna yang cantik dan membuat saya tidak tega untuk menghabiskannya, paling tidak saya harus mengambil foto kalian dulu pikir saya dalam hati. Selesai puas mengabadikan gambar saya bergerak untuk menutup lensa kamera, pasti konyol jika lensa saya terkena tetesan es krim, saya berkonsentrasi menutup lensa dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegangi es krim. Sesaat tangan kiri saya yang miring seperti kehilangan beratnya, dua scoop es krim saya dengan cantiknya meluncur turun dan jatuh. Pluk! Bersamaan dengan lensa kamera saya yang tertutup, es krim saya juga jatuh dengan suksesnya. Saya terpana dan tidak bisa bereaksi apa-apa, Ricky memandangi saya, beberapa orang yang lewat juga memandangi saya, ya ampun komik banget sih kejadian yang saya alami, konyol banget sih, dengan bodohnya saya tetap memegangi cone yang kosong dan cepat-cepat berlari ke halte bus yang kosong untuk bersembunyi. Malu, sebal, sedih, kesal, ya ampuuunnn komik banget sih scene barusan, ya ampuuunn hilang percuma deh 25 SEK saya, dan ya ampuuunnn hilang deh kesempatan saya menikmati es krim di bawah sinar matahari.

Balada es krim sebelum es nya jatuh 

Panas matahari dan aspal yang nampak melepuh dengan cepatnya merubah es krim cantik saya menjadi sebentuk cairan yang tak tentu warnanya. Balada es krim menutup petualangan saya selama di Swedia, entah apa yang menunggu nanti di Norwegia, akankah sinar matahari disana sehangat di Swedia, apakah orang-orangnya seramah masyarakat Swedia, entahlah, tapi saya tidak sabar merasakan semua petualangan baru di Norwegia nanti.

Sabtu, 18 Juni 2011

Dari Satu Jadi Banyak

Senangnya, di Stockholm ternyata ada seorang blogger asal Indonesia juga. Dia adalah Damar, pemilik blog lupaDiri. Ketemu blognya lumayan dadakan, sebulan sebelum berangkat pas saya googling info tentang Stockholm. Dari email-emailan akhirnya ketemuan pas mampir ke Stockholm kemarin. Gaya beneeerr.. Kopdarannya di luar negeri :p

Hari pertama nyampe Eropa, setelah landing dan check in hostel, langsung diajak jalan. Kebetulan lagi ada festival A Taste Of Stockholm. Semua jenis makanan, baik dari Swedia maupun Asia ada disini. Tapi bukan makanannya yang penting, semua penduduk Stockholm tumplek blek di Kungstragarden yang jadi venue acara. Kolam yang biasanya diisi air dikeringkan dan sekarang penuh dengan orang yang makan dan minum-minum sambil menikmati matahari yang bersinar hangat. Yeah, saya yang baru sampai di Eropa sampai takjub. Beginilah kelakuan masyarakat Stockholm kalau ketemu matahari.

Beberapa teman Damar sudah berkumpul di Kungstragarden. Surprisingly semuanya orang Indonesia. Horeee... nambah lagi temen dari Indonesia selama di Stockholm. Rasanya seneeng banget pas ketemu temen 'sekampung' di negara orang. As usual, orang Indonesia selalu lekat dengan keramah-tamahan mereka, apalagi kalau ketemu orang sekampung, pasti bawaannya pengen bantuin aja. Dan akhirnya, mereka nemenin saya di sisa sore itu ke beberapa tempat di sekitar Kungstragarden, sekaligus nawarin saya ngerasain Lakris, permen panjang khas Swedia.

Berawal dari Kungstragarden :)

Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya juga diajak barbeque bareng pas hari minggu. Too bad, saya di Stockholm cuma sampai hari Sabtu dan Minggu sudah ada di Gothenburg, kota terbesar kedua di Swedia setelah Stockholm. Dan inilah hebatnya dari rasa kekeluargaan penduduk Indonesia di negara orang, mereka ngundang saya dinner besok. Horeee... makan malam gratis di negara semahal Swedia? Siapa yang nolak. Alhamdulillah, Tuhan tau aja kalo dana saya selama di Eropa terbatas banget.

Apartemen Andri dan Gunar letaknya lumayan jauh dari Stockholm. Kalau kata Damar sih ini termasuk Stockholm coret karena letaknya yang di ujung Stockholm. Saya sendiri nggak berharap banyak dari tempat tersebut karena cuman konsen dengan makan malam gratis (belum sempet makan layak dari tadi pagi). Ternyata Liljeholmen cantik banget. Daerah pemukiman yang halaman belakangnya adalah garis pantai dalam yang memisahkan Liljeholmen dengan pulau-pulau sekitarnya. Sebelum mulai dinner Andri dan Gunar ngajak saya jalan-jalan ke sekitar apartemen mereka. Saya cuma bisa ternganga dengan keindahan halaman belakang mereka dan iri abis-abisan. Pasti betah ngabisin setiap sore disana.

Pemukiman penduduk di Liljeholmen

Halaman belakang yang fotogenik untuk bernarsis ria

Berasa lagi trekking di hutan

Saya, Andri dan Gunar di halaman belakang apartemen mereka

Kalau udah beneran summer dan air nggak terlalu dingin, halal banget buat berenang disini

Pohon pembawa kapas halus. Bagi saya sih romantis, bagi penduduk annoying karena bikin kotor balkon apartemen.

Etiket untuk menghadiri undangan dinner di Stockholm adalah bawa bunga atau buah. Sebenernya Damar nggak terlalu ambil pusing musti bawa apa ke apartemen Andri dan Gunar, maklum dia udah sering banget main kesitu. Tapi saya nggak mau dateng dengan tangan kosong. Di Stockholm sendiri ada flea market yang buka dari senin - minggu, biasanya mereka jualan bunga dan buah. Yang seru, makin sore mereka makin banting harga supaya jualan mereka laris dan nggak perlu dibawa pulang lagi. Heboh banget deh, setiap kios berlomba-lomba pasang harga paling murah dan ber-'Hej-hej'-ria (sapaan khas Sweden) untuk menyambut pembeli yang datang. Kalau ditanya pilih bawa bunga atau buah, saya jelas pilih buah. Kenapa? Karena bunga nggak bisa saya makan, sedangkan stoberi segar yang saya dan Damar bawa langsung diolah jadi smoothies segar oleh Chef Gunar. Yum!

Fresh flowers

Fresh fruits

Tadaa.. Dari Stoberi berubah jadi smoothies

Makin sore angin Stockholm makin menggigit. Kita semua masuk lagi ke apartemen untuk mulai barbeque. Gunar yang bertugas masak, dia pernah jadi chef di salah satu hotel termewah di Stockholm. Asik, saya dimasakin sama chef. Rasa kangen dan kehilangan karena nggak bisa liat Chef Juna di MasterChef Indonesia bisa terobati deh (lho?). Setiap orang sibuk dengan bagiannya masing-masing; Gunar masak, Damar bakar daging, Andri menata piring dan meja. Saya? Bengong doangan karena seluruh tugas telah diambil alih. Yasudah, saya jadi seksi dokumentasi sajalah sambil main dengan Mii Chan, anggota keluarga nomor tiga di apartemen ini.

Mii Chan

Tiga cowok sibuk di dapur

Nongkrong di balkon apartemen Andri dan Gunar bareng Damar 

 
Ready for dinner?

 Aromanya enak!

Hungry hungry....

And here comes the dinner... Sepotong besar daging sapi, tiga potong daging kambing, salad, manisan mangga dan kentang. Mau nasi juga ada karena Andri tipe orang yang nggak bisa hidup tanpa nasi. Hiihh... piring saya penuh banget. Kenyang. Besok bisa skip sarapan nih (again, masih mikirin budget buat makan besok). Selesai makan mereka langsung kompak beresin meja dan cuci piring. Saya bengong lagi karena semua pekerjaan habis disikat. For the last, mereka nawarin kopi atau teh untuk menemani obrolan santai setelah makan. Tapi akhirnya semangkuk ice cream hadir di depan saya, melengkapi kebahagiaan hari itu. 

My plate :)

Pengalaman super menyenangkan di hari kedua saya di Eropa. Saya kira bakal seorang-diri-sebatang-kara di negara orang. Bisa ketemu temen sekampung yang baik banget rasanya udah berkah banget. Kenalan sama temen sekampung lain dan diundang dinner itu anugerah berlipat ganda. Seneng bisa tambah temen disini, bahagia punya kesempatan melihat bagian lain dari keramaian Stockholm, kenyang ditraktir makan di apartemen mereka. Dan mereka yang membuat saya mupeng untuk memperpanjang kunjungan di Stockholm. "Tiga hari doangan di Stockholm sih kurang", ujar mereka semakin memanas-manasi saya. I wish... Tapi jadwal saya selama dua minggu di Eropa cukup padat. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke tempat ini. Bersama-sama menikmati matahari sore yang hangat di pinggir taman sebelah garis batas laut dalam. 


Untuk semua malaikat-tak-bersayap saya selama di Stockholm. Terimakasih telah menyambut saya dengan keramahan khas Indonesia sehingga saya yakin, saya bisa bertahan di benua ini :)

Minggu, 05 Juni 2011

Eiffel Harus Menunggu

Aku pamit A. Aku pergi untuk mengejar mimpi tergila yang pernah tercetus dalam kepala ini. Mimpi yang mulai tercipta untuk sebuah pembuktian diri.

Kamu selalu dikelilingi orang-orang hebat A. Setiap obrolan pasti didominasi dengan cerita tentang orang – orang hebat ini. Kamu selalu dan selalu membanggakan mereka. Dan seperti biasa aku selalu menjalankan peran sebagai pendengar yang baik. Dalam sunyi perlahan-lahan aku mulai tenggelam, aku hanyalah orang biasa yang tidak mungkin kamu banggakan. Aku hanyalah orang biasa, bukan siapa-siapa.

Lihat aku A, lihat aku.

Aku disini.

Selalu ada di dekatmu.

Kamu yang membuat aku berjanji, suatu hari nanti aku akan membuatmu kagum. Mungkin dengan cara ini kamu bisa melihat aku dengan lebih jeli lagi.

Eropa. Destinasi impian banyak orang, termasuk kamu. Eropa tidak pernah menjadi sedemikian menariknya jika bukan karena ceritamu. Aku tidak akan pernah membayangkan pergi ke Eropa jika bukan karena kamu. Ada sesuatu yang magis dari Eropa sehingga kita betah mengobrolkannya berjam-jam. Pesona Eropa terlalu kuat sehingga aku pun masuk ke dalam pusarannya.

Dan kita pun sama-sama berjuang untuk dapat pergi kesana. Mengambil kesempatan yang ada dan menggunakannya sebaik mungkin. Aku, kamu dan Eropa. Setiap hari Eropa menjadi pembicaraan favorit kita. Aku mulai berbagi imajinasi tentang kita yang bertemu di Paris sebagai kota destinasi terakhir. Menikmati cahaya Eiffel di malam hari, berbagi cerita petualangan selama menjelajah Eropa beberapa hari terakhir sambil duduk bergandengan tangan untuk menghibur diri dari puluhan pasangan mesra yang hilir mudik di sepanjang taman. Saat itu akan menjadi salah satu momen terindah dalam hidupku; Eiffel dan kamu.

Eropa yang telah mendekatkan kita namun dia juga yang membuat hubungan kita menjadi renggang. Perlahan tapi pasti kamu mulai menjaga jarak denganku. Di saat Eropa tinggal selangkah lagi hubungan kita malah memburuk. Semua hal yang berhubungan dengan Eropa selalu ditanggapi dingin olehmu. Aku terpuruk. Aku telah jatuh cinta sedemikian rupa dengan Eropa karenamu. Aku tidak mungkin melepas Eropa, dia telah menjadi mimpiku sebagaimana dia dulu pernah menjadi mimpimu juga. Sekarang semuanya bukan masalah pembuktian diri lagi tetapi mengejar mimpi.

Eropa tidak semenarik dulu ketika kita berencana untuk pergi bersama mengunjunginya. Eropa tidak seromantis saat kita bermimpi melihat Eiffel berdua. Eropa menjadi kata yang menimbulkan perang dingin saat terucap diantara kita. Ini menyakitkan A, hal yang dulu kita cintai malah membuat kita saling menjauh.  Aku kehilangan pegangan A. Tidak ada orang yang mengerti dan mencintai Eropa sebaik dirimu. Aku belajar darimu. Kamu yang menjadi role model aku.

Menyakitkan rasanya saat kamu menghindar dariku, mengacuhkan semua pesan singkat maupun panggilan telepon. Aku butuh kamu A. Ingatkan lagi aku akan pesona Eropa agar semangat ini tidak padam walau aku harus pergi sendirian. Berangkat sendiri ke benua yang jaraknya hampir setengah lingkar bumi, meninggalkan zona nyaman dan tidak tahu pasti apa yang akan ditemui disana membuat aku sulit bernapas dan ingin menyerah kalah.

Kamu bilang Tuhan pasti punya rencana dengan mengirim aku pergi sendirian ke Eropa. Dia ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang mungkin akan luput dari perhatianku jika kita pergi berdua.

Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kita berdua.

Mungkin Eiffel harus menunggu.

Tapi bisakah kita menunggu?
A, saat aku pulang nanti, bisakah kamu melihat aku dengan lebih jeli lagi?

Rabu, 01 Juni 2011

Life Is About Taking Chances and Challenges

Nekat!!! Rasanya kata ini yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang sedang dan akan saya lakukan. Nekat.

Awalnya saya nekat ikutan mengajukan proposal untuk lomba keliling dunia bersama Bentang. Hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, Bentang akan memberikan sejumlah dana untuk mewujudkan proposal tersebut plus catatan perjalanan akan diterbitkan dalam sebuah buku. Niat saya waktu ikutan lomba ini bukan untuk menang tapi agar tidak menyesal di kemudian hari karena tidak pernah mencoba. Menang urusan belakangan, yang penting bikin proposal sebaik mungkin. 

Eropa menjadi pilihan destinasi Bentang kali ini. Peserta bebas memilih pergi ke negara manapun dengan budget yang telah ditentukan. Pilihan saya jatuh ke Norwegia. Alasannya pasti peserta lain cenderung membuat proposal ke negara populer di Eropa Barat seperti Paris, Jerman, Belanda dan lainnya. Otomatis saingan jadi berkurang dong. Hohoo...

Ternyata kenekatan saya harus berlanjut saat proposal ini berlanjut ke tahap babak selanjutnya. "Asik, Eropa nih", pikir saya. Gratis lagi. Saya tambah semangat tancap gas untuk membuat proposal sesuai permintaan juri. Kalaupun saat itu saya tidak menang, rasanya saya sudah jalan-jalan ke Eropa lewat banyaknya artikel yang dibaca dan itinerary yang dibuat selama proses seleksi. Keinginan saya untuk pergi ke Eropa semakin kuat. Semangat saya semakin menggebu-gebu. Saya ingin menang dan mewujudkan proposal ini. 

Dan saya menang....

Horeee.... Eropa di depan mata....

Tapi ternyata menang bukanlah sebuah akhir dari perjuangan. 

Euforia kemenangan hanya bertahan sebentar saja. Saya kemudian disibukkan dengan proses tanda tangan kontrak dengan Bentang. Dari sini semua rasanya menjadi berbeda. Semangat saya yang ingin melihat Eropa secara langsung menjadi hambar. Saya merasa terbebani dengan tanggung jawab profesional untuk membuat tulisan perjalanan sebaik mungkin. Mampukah saya? Ya ampun, saya baru aktif nulis di blog setahun yang lalu. Tulisan saya rasanya nggak bagus-bagus banget. Track record perjalanan saya juga masih minim (banget). Semua pikiran jelek ini menumpuk di kepala dan membuat mental saya drop ke titik yang paling rendah. Belum lagi saat semua pemenang berkumpul untuk pertama kalinya. Ya ampuuunnn... saya yang paling hijau dan paling muda. Tambah jiper. 

"Kayaknya Bentang salah deh milih gue sebagai pemenang. I'm not that good" pikir saya frustasi. Frustasi ditambah persiapan ini itu untuk keberangkatan, tambah stress. Saat datang ke launching TNT3 dan melihat penulis Bentang (plus CEO) berkumpul rasanya jadi mual. "Ya ampun, siapa sih gue? Nggak ada apa-apanya dibanding sama mereka", dan saya pulang ke rumah dengan kepala berat dan sukses pingsan di atas tempat tidur. 

Saat mencoba menulis launching TNT3 untuk mengalihkan pikiran sejenak, tiba-tiba saya stuck dan merasa tidak bisa menulis. "Mati gue, gue nggak bisa nulis. Nulis satu postingan aja susah, apalagi satu buku" dan saya menghabiskan waktu berjam-jam selanjutnya dengan bengong di depan laptop. Tanpa satu kalimat pun terangkai. Saat seperti ini saya butuh teman untuk bicara, tapi dengan siapa? Ngomong dengan orang tua jelas tidak mungkin, yang ada mereka ikutan panik dan saya tambah stress. Ngobrol sama teman juga saya nggak yakin ada yang mengerti kondisi saya yang sebenarnya. Sampai akhirnya seorang malaikat mampir di Gtalk. Dengan dia saya curhat sambil nangis sesengukan dengan ingus yang terus keluar dan merasa lebih baik setelah menangis mendapat dukungan (thanks ya).

Pikiran saya mulai jernih lagi. Saya siap berangkat. Semua persiapan beres, tinggal tunggu visa keluar, beli tiket, tukar uang, berangkat deh ke Eropa. Sepuluh hari menjelang keberangkatan, saat saya pikir semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja, rumah saya kemalingan. Laptop dan SLR yang umurnya belum genap dua bulan raib. Saya lemes waktu dapet kabar ini. Semua data saya hilang. Draft tulisan, proposal, data mentah, foto-foto, hilang. Saya harus mulai dari nol lagi. SLR impian saya juga lenyap. Padahal sudah lama saya memimpikan untuk memiliki dia. Padahal saya khusus membeli dia untuk mengabadikan keindahan Eropa lewat lensanya. Kenapa semuanya harus terjadi sepuluh hari menjelang keberangkatan?

Sedih, tapi saya tidak bisa lama-lama berduka. Mama sangat shock dengan kejadian ini dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Saya harus terlihat kuat demi mama. Awalnya saya ragu, haruskah saya berhenti? Masih belum terlambat untuk mengundurkan diri dan membatalkan kontrak dengan Bentang. 

"Kamu jangan pernah mikir untuk mundur", A yang mendapat kabar ini langsung menghubungi saya. "Suatu saat nanti, kamu akan nyesel banget kenapa dulu mundur. Nggak semua orang bisa berangkat ke Eropa dan menerbitkan bukunya sendiri. Kesempatan ini nggak datang dua kali". Saya hanya bisa membalas dengan sengukan panjang dan mengais napas diantara sesak dada ini. 

Life is about taking chances and challenges. Bukankah itu yang selalu saya katakan. Sekarang saatnya saya menepis semua ketakutan; takut nyasar, takut bagasi hilang, takut nggak bisa ngomong bahasa Inggris dengan baik, takut nggak bisa nulis, takut tulisan ditolak, takut deadline, dan segala macam ketakutan yang hanya akan mengekang langkah saya. Kenekatan itu harus dibayar dengan kenekatan yang lain. Modal utama saya untuk mengambil tantangan dan kesempatan ini hanya nekat. Selanjutnya biarkanlah mengalir dan mengikuti pola yang ada. Jadi, berikanlah saya kesempatan untuk melihat Eropa dengan mata kepala sendiri, untuk menjejakkan kaki disana, untuk melihat lukisanNya seperti yang selalu saya minta saat saya berbicara denganNya. Berikanlah saya kesempatan untuk berkarya. Walaupun berat, walau sulit, saya memutuskan untuk menjawab tantangan ini.


Dan disinilah saya sekarang. Beberapa jam lagi akan mengudara menuju Eropa, menghabiskan waktu hampir seharian menuju benua biru itu, menempuh jarak setengah lingkar bumi demi menjawab tantangan dari kenekatan yang telah saya lakukan. Eropa menanti saya, berbagai petualangan yang tidak saya tau siap mengejutkan saya, udara dingin Scandinavia siap menyapa saat saya menginjakkan kaki di bandara Arlanda, Stockholm.  

Saya pamit. Terimakasih untuk semua dukungan dan semangat yang telah teman-teman berikan. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian. 

Hugs.


* Maaf belum sempat blogwalking dan membuat tulisan yang cukup baik selama beberapa bulan terakhir ini. Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir kesini, membaca tulisan saya, meninggalkan komentar di tulisan atau sapaan di chat box. I do missing you all guys :) *

Minggu, 08 Mei 2011

The Naked Traveler Fever

Hm, kalau ditanya buku apa yang pertama kali memperkenalkan (plus meracuni) saya kepada dunia traveling jawabannya pasti The Naked Traveler (TNT). Trinity membuka mata dan wawasan saya akan dunia traveling, membuat saya iri dan ikut gatal ingin merasakan pengalaman jalan-jalan dengan low budget, dan yang paling penting membawa saya kepada pengalaman traveling yang rasanya seperti candu; nagih dan selalu ingin mengulanginya lagi.

Kebanyakan buku traveling seperti Lonely Planet atau DK hanya menjelaskan tentang negara, kota, atraksi wisata, akomodasi, transportasi dan berbagai tips berguna yang dapat diterapkan. Tentu ditambah jepretan foto profesional agar pembaca tambah mupeng untuk mengunjungi negara yang di-review. Iya sih, mupeng udah pasti. Tapi kebanyakan informasi tersebut hanya berguna saat melakukan perencanaan perjalanan dan saat perjalanan dilakukan (dengan catatan niat bawa Lonely Planet yang lumayan tebel dan rela bolak-balik baca halamannya saat ada di negara destinasi). Berbeda dengan Trinity, lewat TNT dia bercerita pengalaman dan pelajaran yang diambil dari kegiatan traveling. Trinity mengenalkan masyarakat Indonesia seni dari traveling dan meracuni pembacanya untuk mengikuti jejaknya.

'It's not about the destination, it's about the journey' salah satu quotes yang Trinity gunakan di TNT2. Mau travel kemana pun, dalam atau luar negeri, bukan negara tujuannya yang menjadi topik utama tapi pengalaman dan pelajaran yang diambil dari perjalanan tersebut. Banyak pelajaran yang saya ambil dari TNT, bukan hanya sekedar tips dan trik selama travel atau cerita konyol khas Trinity yang kocak abis, tapi TNT juga mengajarkan saya untuk selalu memaknai setiap perjalanan yang dilakukan. Jalan-jalan bukan sekedar ajang pamer (eh, gue baru dari Eropa nih) atau untuk berfoto narsis di luar negeri. Tetapi jalan-jalan dapat memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang tidak akan didapatkan dari sekolah formal.

Setelah kesuksesan dua buku sebelumnya, hari Sabtu 7 Mei 2011 kemarin akhirnya Trinity meluncurkan TNT3. Padatnya Level One Grand Indonesia sebagai venue acara cukup memperlihatkan besarnya animo pembaca terhadap seri terbaru dari buku The Naked Traveler. Di acara launching ini pengunjung bisa mendapatkan buku TNT3 yang belum beredar di toko buku mana pun dengan diskon 10% plus tanda tangan dari Trinity. Buku TNT3 baru akan beredar minggu depan di toko buku Jabodetabek dan secara bertahap di minggu selanjutnya ke berbagai daerah di Indonesia.

The Naked Traveler 3 in orange 

Ki-Ka: Riyani Djangkaru (MC), Trinity (TNT author), Salman Faridi (Bentang CEO).

Untuk saya dan pengunjung lain yang sering mengikuti cerita Trinity lewat buku sebelumnya maupun blog www.naked-traveler.com pasti sudah tidak asing dengan gaya Trinity yang 'urat malunya sudah putus'. Berbeda dengan beberapa teman yang baru kenal Trinity lewat acara ini, mereka super salut dan super kagum dengan segala pengalaman dan kenekatan Trinity selama traveling. Hanya dengan beberapa potongan cerita yang sempat terlintas lewat sesi tanya jawab mereka langsung berminat untuk membaca TNT dan berkenalan lebih jauh dengan sosok Trinity.

In this pict: Saya dan Nenes udah kena virusnya Trinity, yang dua lagi segera menyusul

Acara bagi-bagi hadiah dalam acara seperti ini sih hukumnya wajib. Untuk pembaca TNT yang pernah mendatangi acara launching buku sebelumnya pasti familiar dengan pertanyaan favorit Trinity saat akan membagikan hadiah. 'Berapa berat badan saya?' tanya Trinity. Sontak seluruh pengunjung berebut menyebutkan angka. Sssttt... rata-rata menebak di kisaran angka di atas 75 kg. Riyani Djangkaru yang menjadi MC cuma geleng-geleng kepala dan super heran, 'Kayaknya nggak ada penulis lain yang ngejadiin berat badan sebagai bahan pertanyaan'. Setelahnya muncul ide iseng Riyani untuk pertanyaan selanjutnya, 'Berapa ukuran beha Trinity?'.

Super salut sama mereka yang niat bawa buku-buku Trinity yang lain untuk ditandatangani.

Trinity diserbu

Butuh perjuangan untuk dapet tanda tangan Trinity

Yah, saya memang termasuk golongan orang yang terlambat teracuni virus traveling. Saya tidak pernah bergabung dalam komunitas traveling, baru mulai jalan-jalan setelah punya penghasilan sendiri, bahkan baru tahu dunia backpacking dari buku The Naked Traveler. Tapi rasanya sah-sah saja untuk memulai kegiatan menyenangkan bernama traveling ini di umur berapapun. Try once and you would never stop.

Sedikit curcol, jam terbang saya di dunia jalan-jalan tuh masih minim banget. Seringkali saya mendadak jadi orang yang pendiam saat berkumpul dengan sesama traveler dalam suatu kegiatan. Yeah, pengalaman mereka di 'jalan' jauh lebih banyak dibanding saya yang masih newbie ini. Kecil hati, sakit hati, dan merasa jadi orang paling malang di dunia. Bagusnya hal ini memacu saya untuk terus menabung dan menyusun berbagai rencana jalan-jalan untuk diwujudkan. Ah, semoga Tuhan masih berbaik hati memberikan umur panjang dan rejeki berlimpah agar saya punya banyak kesempatan untuk menjalani passion bernama jalan-jalan ini *bilang Amin kenceng-kenceng*.

Selasa, 25 Januari 2011

MJ Gallery at Sofitel Hotel

Menurut saya Sofitel Hotel adalah hotel ter-'wah' di seluruh Macau. Memang tidak sebesar franchise hotel dari Las Vegas sih, tetapi dengan letaknya yang sedikit terpencil dengan nama yang belum dikenal banyak wisatawan maka Sofitel Hotel memiliki esklusifitas yang tidak dapat disamakan dengan hotel manapun. 

Free shuttle bus yang ditumpangi membawa kami melihat sisi lain kota Macau yang selalu tampil berkilauan. Rute yang diambil sama sekali berbeda dengan rute free shuttle bus dari berbagai kasino yang bergantian kami tumpangi. Bus menyusuri jalan kecil di luar pusat kota, melewati pelabuhan yang kotor dan deretan apartemen kumal dan 'mblusuk. Teman-teman mulai meragukan pilihan saya ketika melihat semua pemandangan yang dilewati, 'Are we in the right track?'. Well, saya tidak perlu mengeluarkan jawaban sedikitpun saat bus mulai memasuki parkiran Sofitel Hotel.

Semua ternganga melihat desain interior dan kemegahan Sofitel Hotel. Lagi-lagi, hotel ini memang tidak semegah dan sebesar hotel bintang lima lainnya tetapi Sofitel Hotel terlihat begitu mewah. Penataan desain interior yang teramat sangat mewah dan mendetail membuat saya tidak habis pikir dengan kegilaan ide perancangnya plus penyandang dananya. Karena berada di pinggir laut maka pemandangan utamanya adalah laut yang terlihat begitu dingin dan suram. Pemandangan lain di sisi sebaliknya adalah apartemen penduduk yang kusam dan 'mblusuk. Jomplang abis! 

Terdampar di pulau emas ;)

 Magnificent chandelier

Nyasar ke ruangan VIP dan dikawal petugas untuk cepet-cepet keluar dari ruangan tersebut.

Sebenarnya alasan utama saya datang ke Sofitel Hotel adalah untuk mengunjungi satu-satunya Michael Jackson Gallery di Asia (for freeee... Yay!). Pernah merasa begitu kagum saat melihat suatu hal yang baru hingga hati berdesir hebat, merinding, sampai-sampai ingin menangis karena over excited? Di Macau saya mengalami perasaan seperti itu sewaktu melihat Ruins of St. Pauls, ketika duduk-duduk di Monte Fortress dan melihat desain taman bergaya Eropa dengan Museu de Macau sebagai bangunan yang mendominasi tepat ditengahnya, dan yang terakhir saat masuk ke dalam kasino untuk pertama kalinya. Semuanya terkalahkan saat saya masuk ke dalam MJ Gallery. 

Seperti namanya, tempat ini memajang berbagai hal yang berkaitan dengan Michael Jackson. Saya sendiri bukan penggemar MJ jadi tidak tahu harus berekspektasi akan melihat apa di dalamnya. MJ Gallery cukup kecil, di dalamnya terdapat toko yang menjual berbagai pernak-pernik King Of Pop. Galerinya sendiri memuat foto MJ dari berbagai tahun yang dijejerkan dalam sebuah wall of fame, kostum yang dipakai untuk video clip Thriller, time tunnel yang memuat judul dan cover album MJ sejak tahun 1958 - 2009, dan siapa yang bisa melupakan sarung tangan plus kaus kaki bling-bling khas Michael Jackson? 







Diantara semua koleksi MJ Gallery, teks asli lagu 'We Are The World' yang mulai menguning membuat bulu kuduk saya tegak berdiri. Saya merinding melihat teks yang dilengkapi dengan notasi nada, pembagian lirik untuk setiap penyanyi plus tanda tangan dari beberapa penyanyi yang terlibat di dalamnya. Rasa merinding tambah memuncak saat saya mencoba mengingat-ingat nada We Are The World dan menyanyikannya berdasarkan teks tersebut.




We Are The World diciptakan oleh Lionel Richie dan Michael Jackson pada tahun 1985 dan ditujukan untuk mengumpulkan dana untuk menanggulangi kelaparan di Ethiopia. Single ini dinyanyikan oleh 45 musisi pop yang menyebut dirinya USA for Africa. We Are The World bahkan dibawakan sebagai lagu penutup dalam upacara kematian Michael Jackson di Staples Center, Los Angeles, 7 Juli 2009. 





Saya speechless saat melihat foto yang dipajang disebelah teks asli We Are The World dan mengingat sebuah tujuan mulia di balik lagu tersebut. Lagu mulia ini diciptakan dan dinyanyikan sebelum saya lahir tapi sampai kini tetap abadi dan dikenal berbagai generasi. Mengunjungi MJ Gallery membuat saya menyadari satu hal penting, Michael Jackson memang telah tiada tetapi dia telah mengukir namanya dalam sejarah permusikan dunia dan membuat semua orang mengingat seorang King Of Pop.

For the last, video clip We Are The World ini mungkin dapat mengingatkan kita kembali akan pesona dan kharisma Michael Jackson. Enjoy :)  

There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it's time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can't go on
Pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of
God's great big family
And the truth, you know love is all we need

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Send them your heart
So they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread
So we all must lend a helping hand

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

When you're down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There's no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me