total ping

Tampilkan postingan dengan label WAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 September 2010

REVIEW: DARAH GARUDA


















"Film kedua dari Trilogi Merah Putih"


Trilogi Merah Putih adalah sebuah proyek film yang bisa dikatakan ambisius. Bukan hanya dalam hal biaya, segala hal sepertinya diperhitungkan dengan baik, mulai dari deretan pemain, sutradara, sampai kru-kru yang melibatkan beberapa sineas luar negeri yang sudah pernah menangani film Hollywood. Nama Yadi Sugandi yang duduk di bangku sutradara sudah terkenal di kalangan perfilman sebagai salah satu sinematografer kebanggaan Indonesia. Ia sudah pernah menangani beberapa film dalam negeri yang berkualitas seperti sebut saja Kuldesak (1999), Petualangan Sherina (2000), Pasir Berbisik (2001), Eliana, Eliana (2002), 3 Hari untuk Selamanya (2007), The Photograph (2007), Lost in Love (2008), Laskar Pelangi (2008), dan Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Pada tahun 2009, debut pertamanya sebagai sutradara dalam Merah Putih mendapat sambutan yang sangat baik meski filmnya sendiri belum bisa dikatakan sempurna. Namun, saya termasuk menyukai film tersebut. Kali ini film kedua Trilogi tentang perang kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dibantu lagi dengan hadirnya sutradara tambahan, Conor Allyn.

Masih merupakan kelanjutan dari film pertamanya, Merah Putih, film ini berlatar belakang masa Indonesia di tahun 1947 dan bercerita tentang nasib keempat tentara gerilya yang berhasil selamat saat berusaha menyerang tentara Belanda. Mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya), dan Dayan (T. Rifnu Wikana). Mereka nekat menyerang markas Belanda untuk menyelamatkan ketiga wanita yang mereka cintai, Lastri (Atiqah Hasiholan), Senja (Rahayu Saraswati), dan Melati (Astri Nurdin). Tidak tahan dengan perlakuan Belanda yang seenaknya, perjalanan tentu tidak terhenti sampai disitu saja, mereka memutuskan untuk bergabung dengan para tentara Jendral Sudirman dan pada akhirnya diberikan sebuah tugas rahasia guna melawan Jendral Van Mook (Rudy Wowor) yang keji. Banyak halangan yang mereka temui selama perjalanan, bukan hanya dari tentara Belanda namun juga dari para tentara lokal yang tidak terlalu berpihak kepada mereka.

Darah Garuda dimulai dengan tempo cerita yang lambat dan sedikit membosankan menurut saya. Sampai ke pertengahan film saya merasa tidak ada greget pada saat menonton film ini. Bahasa yang dipergunakan juga sangat baku sehingga skrip dan jalan cerita yang baik sangat diperlukan agar penonton tidak dibuat jenuh. Beruntung mulai dari pertengahan sampai akhir, film ini mampu membangun suasana tegang dan penuh aksi. Special effects yang digunakan juga terlihat lebih halus dibandingkan dengan Merah Putih yang notabene sudah bagus sekali untuk ukuran film Indonesia. Akting para pemain terlihat biasa-biasa saja, ada pula pemain-pemain baru yang kali ini turut membantu film ini seperti Ario Bayu, Alex Komang, dan bintang cilik pendatang baru, Aldy Zulfikar. Diantara semuanya, T. Rifnu Wikana menurut saya menunjukkan performa akting yang paling baik. Ada satu adegan yang merupakan favorit saya, yaitu pada saat ia ditahan dan diinterograsi oleh Belanda. Mimik wajah dan emosi yang dipancarkan sungguh meyakinkan. Tidak ada peningkatan signifikan dari film kedua Trilogi Merah Putih ini, segi cerita masih perlu dibenahi. Saya berharap film ketiganya nanti, Hati Merdeka, akan lebih baik. Namun secara keseluruhan, Darah Garuda merupakan sebuah tontonan yang amat sangat jauh lebih baik dari film-film lokal 'asal jadi' yang sering ada di bioskop kita.





Minggu, 13 Juni 2010

REVIEW: BROTHERS




























"I don't know who said 'only the dead have seen the end of war'. I have seen the end of war. The question is: can I live again?"

Melihat nama ketiga pemeran utamanya saja sepertinya sudah cukup untuk membuat sayatertarik menonton Brothers. Menyenangkan sekali karena bioskop Blitzmegaplex menayangkan film ini, meskipun lumayan terlambat. Better late than never. Brothers sebetulnya adalah sebuah remake dari film Denmark berjudul sama, Brødre (2004). Film tersebut lumayan sukses, sehingga sang sutradara Jim Sheridan tertarik untuk menggarap sebuah remake. Memboyong trio Jake Gyllenhaal, Natalie Portman, dan Tobey Maguire menurut saya adalah sebuah langkah cerdas yang dilakukan Jim. Ketiga nama tersebut bisa menjadi magnet yang menarik orang untuk menyaksikan film ini, terlebih film yang dibalut cerita drama bertema perang biasanya tidak terlalu menjadi favorit. Tadinya saya sedikit ragu dengan penampilan Tobey Maguire disini, mengingat perannya di film-film sebelum ini bisa dibilang biasa saja. Apalagi perannya disini sepertinya sangat menantang. Akan tetapi, selesai menonton film ini saya ternganga. Tobey Maguire sungguh bisa berakting! :)


Brothers bercerita tentang kehidupan seorang kapten marinir bernama Sam Cahill (Tobey Maguire) yang sering ditugaskan ke daerah konflik. Ia mempunyai sebuah keluarga yang bahagia dengan kehadiran seorang istri yang cantik dan amat dicintainya, Grace Cahill (Natalie Portman), serta dua orang anak perempuan yang lucu, Isabelle (Bailee Madison) dan Maggie Cahill (Taylor Geare). Sam juga mempunyai seorang adik lelaki semata wayang yang sering keluar masuk penjara, Tommy Cahill (Jake Gyllenhaal). Pada saat hari-hari terakhir ditugaskan ke Afganishtan, pesawat yang ditumpangi Sam mengalami kecelakaan dan ia langsung dikabarkan meninggal. Mendapat kabar duka tersebut, Grace, Tommy, dan anak-anak Sam sangat sedih dan merasa kehilangan. Dalam kesedihan, Tommy berusaha menghibur keluarga kecil tersebut. Namun ternyata anak-anak Sam sangat menyukai Tommy, mengingat sang ayah memang jarang bisa menemani mereka bermain karena lebih sibuk dengan tugas militernya. Lama kelamaan hubungan Grace dan Tommy menjadi semakin dekat, tumbuh perasaan cinta di hati masing-masing. Tidak disangka, Sam ternyata masih hidup! Segalanya menjadi kacau balau karena mental Sam memang masih sedikit terganggu karena trauma yang dialaminya di Afganistan dan tiba-tiba sekarang ia malah berada di situasi menyakitkan karena istri dan adik yang sangat disayanginya berselingkuh. Meskipun keadaan memang sangat rumit bagi mereka semua.


Akting Tobey Maguire patut diacungi dua jempol. Sepertinya Tobey mati-matian membangun karakternya dalam film ini, terlihat dari bentuk fisiknya yang lebih kurus dan pucat. Ekspresi yang ditampilkan juga terlihat sangat mantap, berbeda dengan Tobey yang kita ketahui biasanya. Tobey Maguire sudah menunjukkan taring disaat karir Hollywood-nya semakin redup. Semoga dengan ini karir Tobey tidak lantas tenggelam, karena ia sungguh bisa berakting dan bermain baik. Natalie Portman bermain seperti biasa, baik dan cantik tanpa cela. Begitu juga dengan Jake Gyllenhaal yang kian hari kian memantapkan langkah kakinya di jalur perfilman Hollywood. Beberapa tahun kedepan mungkin nama Jake akan bisa disejajarkan dengan para senior seperti Leonardo DiCaprio, mungkin saja. Brothers sendiri tidak mempunyai plot cerita yang terlalu istimewa, ceritanya sendiri sudah tertebak sejak awal. Akan tetapi emosi kita seakan diajak naik turun seperti rollercoaster ketika menyaksikan film ini. Ini merupakan film yang kelam, film kedua setelah The Road (2009) yang sukses membuat saya sedikit depresi usai menonton tahun ini. Saya sendiri sangat tersentuh dengan akting para pemainnya, apalagi pemain cilik dalam film ini. Hebat sekali mereka!






Jumat, 12 Maret 2010

REVIEW : GREEN ZONE




























"Chief Warrant Officer Roy Miller is done following orders"

Di poster Green Zone kita dalam melihat dengan jelas kalimat 'From the director of The Bourne Supremacy and The Bourne Ultimatum', hal ini sudah pasti akan membuat orang penasaran dan bertanya-tanya apakah film ini akan sebagus film yang terkenal dengan karakter Jason Bourne itu? Sebuah strategi marketing yang tepat, karena selain sutradaranya, Paul Greengrass, yang sama dengan kedua film tersebut, sang aktor pemeran utamanya juga ada dalam Green Zone, yaitu Matt Damon. Film ini diangkat dari buku karya Rajiv Chandrasekran berjudul 'Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq's Green Zone' yang bercerita tentang suasana di Irak pasa masa awal perang. Terus terang saya tidak berharap banyak dari film ini, namun ternyata Green Zone mampu menyuguhkan adegan action yang menghibur, terlepas dari jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Matt Damon berperan sebagai Miller, kepala pasukan khusus yang ditugaskan di Irak untuk menemukan dan mengamankan
WMD (Weapons of Mass Destruction) yang diduga tersembunyi disana. Semakin lama sebuah tanda tanya besar mulai timbul di kepala Miller karena selama berada di Irak ia dan anak buahnya tidak pernah sekalipun menemukan sesuatu yang mencurigakan. Setiap kali mendapatkankan perintah dari badan intelijen untuk menyisir sebuah tempat, mereka pasti akan kembali dengan tangan kosong alias tidak menemukan apapun. Miller merasa dipermainkan dan yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan badan intelijen yang terkesan memberikan informasi asal-asalan. Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan dari kepala CIA di Baghdad, Martin Brown (Brendan Gleeson), yang juga mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres disana dan ini semua berkaitan dengan isu politik pemerintahan Amerika. Akhirnya dengan bantuan oleh seorang pemuda lokal Irak bernama Freddy (Khalid Abdalla), Miller dan kelompoknya berusaha menguak misteri yang ada.

Mendengar nama sutradaranya pasti sudah tertebak kalau Green Zone bakal menyajikan adegan laga dalam tempo cepat. Dari awal sampai akhir kita akan disuguhkan adegan action yang menarik dalam balutan kamera hand-held. Hati-hati kalau anda mudah pusing jika melihat gambar yang bergoyang, tapi tidak terlalu parah. Menurut saya penggunaan kamera hand-held pada film ini semakin membuat intensitas adegan action yang ada menjadi terasa lebih nyata dan menegangkan. Segi cerita tidak terlalu istimewa, karena cerita perang Irak dan Amerika memang sudah sangat sering diangkat menjadi sebuah film. Saya sendiri hanya menikmati adegan action dalam film ini dan tidak memperdulikan jalan ceritanya, malah saya kebingungan sendiri dengan bumbu politik yang ada. Beruntung film ini memiliki Matt Damon yang sekali lagi membuktikan kalau dirinya memang cocok bermain dalam film-film bergenre action. Khalid Abdalla juga memegang peran penting dalam film ini, aktingnya bisa dikatakan lumayan baik. Satu hal yang patut dipuji adalah keberhasilan sang sutradara membawa suasana ala Irak yang terlihat meyakinkan dalam filmnya, padahal film ini hanya mengambil gambar di Morocco, Spanyol, dan Inggris. Overall, filmnya layak ditonton jika anda menyukai film action tempo cepat. Ignore the story, just enjoy the action scenes. :)





Minggu, 11 Oktober 2009

REVIEW : INGLORIOUS BASTERDS




























"If You Need Heroes, Send In The Basterds"

TWO TUMBS UP! Keren banget nih Inglorious Basterds!!! Ga nyesel udah bersabar nunggu hampir 2 bulan. Kemarin akhirnya saya nonton midnight film Quentin Tarantino ini. Puas bangeeetttt.. Tadi ada beberapa orang yang keluar bioskop, entah kenapa. Mungkin ga tahan baca dialog yang sebegitu banyaknya dan durasi yang memang lumayan panjang sekitar 2 jam. Tapi saya sama sekali ga berasa, malah pengen nonton lagi! Filmnya dibalut dengan suasana vintage yang kental, diselingi dengan dialog-dialog smart khas Tarantino, sisi komedi yang amat (sangat) berhasil membuat saya tertawa, dan akting para pemainnya yang brilian. Inglorious Basterds bisa dibilang sebagai ajang unjuk giginya Quentin Tarantino setelah Death Proof (2007) yang mendapat sambutan dingin dari para penonton. Dan menurut saya dia berhasil. I definitely loveeeeee..The Basterds! Filmnya sendiri bersetingkan masa pendudukan Nazi Jerman terhadap Perancis yang mengisahkan tentang aksi penyerangan para tentara Nazi untuk mencari dan membunuh para Yahudi di Perancis. Pada awal masa Nazi menduduki Perancis, Shosanna Dreyfus (Melanie Laurent) terpaksa harus menyaksikan keluarganya dibunuh dengan kejam oleh para tentara Nazi dibawah komando Colonel Hans Landa (Christopher Waltz). Untung saja, gadis muda itu berhasil meloloskan diri dan lari ke Paris lalu memalsukan identitas Yahudinya menjadi seorang gadis berkebangsaan Perancis yang memiliki dan mengelola bioskop. Sementara itu, ditempat lainnya, seorang tentara Amerika, Lieutenant Aldo Raine (Brad Pitt), mengumpulkan beberapa orang Yahudi untuk menjadi kelompok pilihannya dalam mengabisi nyawa para Nazi. Kelompok ini dijuluki 'The Basterds' yang terdiri dari Aldo Raine sendiri sebagai pemimpin, Sergeant Donny Donowitz (Eli Roth) dijuluki 'Bear Jew', seorang yang sangat ambisius dan terkenal dengan tongkat pemukulnya, Sergeant Hugo Stiglitz (Til Schweiger) yang merupakan kelahiran asli Jerman, namun memilih memihak kepada Basterds, Cpl. Wilhelm Wicki (Gedeon Burkhard), PFC. Smithson Utivich (B. J. Novak), PFC. Omar Ulmer (Omar Doom), PFC. Gerold Hirschberg (Samm Levine), PFC. Andy Kagan (Paul Rust), PFC. Michael Zimmerman (Michael Bacall), dan PFC. Simon Sakowitz (Carlos Fidel). Bersama, mereka membunuh para tentara Nazi dengan cara yang sadis. Lambat laun nama The Basterds mulai terdengar oleh seluruh tentara Nazi, termasuk pemimpinnya Adolf Hitler (Martin Wuttke). Suatu saat mereka mendapatkan kesempatan emas untuk membunuh Hitler dengan bantuan seorang aktris asal Jerman yang sekaligus seorang mata-mata bernama Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger). Berhasilkah rencana mereka? Silahkan ditonton sendiri guys.. Wajib tonton banget! Brad Pitt bermain bagus disini, dengan logat khasnya. Aktris perancis Melanie Laurent juga bisa mengimbangi dengan baik. Eli Roth sangat berkharisma *halah*, love him! Diane Kruger juga berhasil mencuri perhatian di pertengahan film. Namun yang paling mantap adalah akting Christopher Waltz sebagai SS Colonel Hans Landa a.k.a The Jew Hunter, briliant! Pantas saja kalau ia disematkan Best Actor dalam Cannes Festival. VERY RECOMMENDED!

"My name is Lt. Aldo Raine and I'm putting together a special team, and I need me eight soldiers. When you join my command, you take on debit. A debit you owe me personally. Each and every man under my command owes me one hundred Nazi scalps. And I want my scalps."




Sabtu, 15 Agustus 2009

REVIEW : MERAH PUTIH




























"Untuk merdeka, mereka bersatu : Trilogi Merah Putih"

MERAH PUTIH adalah sebuah film yang sengaja dibuat untuk memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada hari Senin, 17 Agustus mendatang. Tadinya saya kepengen nonton G.I. Joe atau Orphan dulu tapi ga dapat tiket, yaudah akhirnya pilihan jatuh ke Merah Putih. Tidak disangka, saya cukup suka lho dengan film ini. Kalau disuruh pilih diantara Merantau dan Merah Putih, jujur saya bingung. Dua-duanya bagus sekali untuk ukuran 'film Indonesia', tapi entah kenapa saya lebih suka Merah Putih. Alur ceritanya tidak membuat bosan, ada lucunya, ada tegangnya, pemainnya juga jempolan. Filmnya sendiri sudah pasti sesuai dengan judul dong, bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda pasca kemerdekaan. Film ini bergenre fiksi sejarah yang berkisah tentang perjuangan lima kadet yang mengikuti latihan militer di sebuah kota di Jawa Tengah untuk menjadi prajurit. Mereka, Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), Surono (Zumi Zola), dan Marius (Darius Sinathrya), masing-masing punya latar belakang, suku, dan agama yang berbeda. Suatu ketika, kamp tempat mereka berlatih diserang tentara Belanda. Seluruh kadet kecuali lima sekawan itu dibunuh. Mereka yang berhasil lolos lalu mengatur siasaat agar bisa membalas Belanda walau dengan kekuatan yang minim. Film ini dibesut dalam format seluloid 35 millimeter dengan tim internasional yang terdiri atas ahli special effects dan veteran perfilman Hollywood yakni koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth yang pernah menangani film Saving Private Ryan dan Blackhawk Down, juga melibatkan koordinator stuntman Rocky McDonald yang pernah menangani Mission Imposible II dan The Quite American, make-up dan visual effects oleh Rob Trenton yang pernah menangani film The Dark Knight, konsultan ahli persenjataan adalah John Bowring yang pernah memegang Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins: Wolverine, dan asisten sutradara adalah Mark Knight yang pernah menangani December Boys dan Beautiful. WOW! Banyak sekali yaa campur tangan orang Hollywood disini. Tapi sutradaranya tetap orang Indonesia koq, Yadi Sugandi, yang dikenal sebagai salah satu penata gambar terbaik di tanah air. Merah Putih menurut saya memang masih belum sempurna, jauh dari sempurna, tapi sudah jauh lebih baik dari film Indonesia lainnya. Saya suka film ini! Saya sendiri heran, padahal tidak ada yang istimewa dari tema dan alur ceritanya, malah terkesan klise, tapi entahlah..namanya juga selera. :p Wajib tonton sih menurut saya, apalagi nanti 17 Agustus khan tanggal merah, pada nonton Merah Putih aja, pas banget tohh dengan momennya. Hehe.. Ohh iya, saya jadi suka lihat Donny Alamsyah deh! Terakhir baru aja nontonin dia di Merantau (jadi kakaknya Iko Uwais), nahh disini juga dia main lagi dengan porsi yang lebih banyak. Aktingnya bagus, logat Sulawesinya 'dapet' banget. Darius juga lumayan aktingnya disini, cocok dengan karakter. Lukman Sardi hmm..lumayan aja sih, saya berharap bisa lebih bagus dari ini, soalnya he's one of my favourite! Teuku Rifnu bagus juga, dia khan sering banget dapet peran jadi orang Bali di FTV SCTV, jadi udah ga heran dia jadi orang Bali lagi disini. Trus Zumi Zola, biasa banget, ga istimewa, kesaing tuh sama yang lain! Hehe.. Hampir lupa, endingnya memang sengaja dibuat 'gantung', soalnya film ini akan dibuat dalam bentuk Trilogi, jadi ini masih awal, ada yang kedua dan ketiga lagi nanti. Btw, not based on a true story, 100% fiction. Overall, recommended for this Independence Day! :)



Sabtu, 20 Juni 2009

REVIEW : THE HURT LOCKER





























"War is a drug"

Pernahkah kamu membayangkan menjalani hidup sebagai penjinak bom di daerah konflik? Kamu harus mempertaruhkan nyawa dengan resiko tubuh hancur berkeping-keping jika salah memotong kabel bom? Ketegangan inilah yang coba digali dalam film The Hurt Locker. Film ini berkisah tentang perjuangan tim elit penjinak bom Amerika Serikat, Explosive Ordnance Disposal (EOD), saat bertugas di perang Irak. Mereka bertugas menyisir area yang akan dilewati tentara AS dari ranjau yang ditanam tentara Irak. Tugas ini tidaklah mudah karena atasan mereka menjadi korban saat bertugas. Hidup para tentara berubah saat atasan yang baru, Sersan William James (Jeremy Renner) ternyata mengabaikan semua prosedur untuk menjinakkan bom. Film ini disutradarai oleh Kathryn Bigelow, yaa seorang wanita! Hebat yaa, khan jarang cewek yang jadi sutradara film perang. Untuk mendapatkan latar belakang Perang Irak, film ini memilih tempat di Amman, Yordania setelah sebelumnya dipindahkan dari Pangkalan Militer AS di Kuwait karena tidak mendapatkan ijin. Sebelum dibeli oleh Summit Entertainment, sebenarnya The Hurt Locker sudah banyak unjuk gigi pada berbagai festival, pada tahun 2008 film ini berhasil memenangkan Human Rights Film Network Award, SIGNIS Award, Sergio Trasatti Award, dan Young Cinema Award. The Hurt Locker juga ditulis oleh Mark Boal, seorang penulis freelance yang pernah mengikuti tim penjinak bom AS. Tapi entah kenapa film yang dipuji-puji para kritikus film sebagai film perang terbaik sampai saat ini (rumornya sih gitu) malah membuat saya bosan mulai dari pertengahan menuju akhir. Tapi saya mengagumi cara pengambilan gambarnya yang aduhai, saya acungi dua jempol. Usaha sang sutradara mengeksploitasi detail adegan proses melumpuhkan bom, serta mobil-mobil meledak dan hancur terlihat keren. :)



Sabtu, 24 Januari 2009

REVIEW : RED CLIFF 2




















Red Cliff salah satu film mandarin yang masuk ke daftar wajib tonton saya! Dengan bertambahnya Red Cliff, John Woo sang sutradara pun pantas menerima predikat sineas Asia paling berbakat saat ini (menurut saya lho). Dengan budget $80juta ia sudah dengan sangat apik mempersembahkan film sejarah perang terbesar di tanah China. Sedikit flashback ke Red Cliff 1, film pertama ini mengisahkan ambisi besar Perdana Menteri Cao Cao yang ingin menyatukan semua daratan China dibawah dinasti Han. Kemudian mulailah ia menyerang kerajaan" Xu di bagian barat dan Wu di bagian selatan. Di Film Red Cliff I Cao Cao berhasil menggempur habis-habisan, Liu Bei dipaksanya untuk melarikan diri ke utara. Atas diplomasi sang ahli strategi perang Zhu ge Liang, kerajaan Wu yang dipimpin oleh Sun Quan berhasil bersekutu dengan Jendral Zhou Yu untuk melawan Cao Cao. Film diakhiri dengan kekalahan Cao Cao menghadapi strategi perang formasi kura-kura Zhu ge Liang dan 2 ribu kapal menuju Red Cliff untuk menggempur habis kerajaan Wu. Di Red Cliff 2 menggambarkan puncak perperangan di karang merah yang merupakan awal dari runtuhnya Dinasti Han sehingga berubahnya sejarah negeri China. Kekuatan Perdana Menteri Cao Cao yang berjumlah 10 kali lebih besar pada akhirnya telak dihancurkan oleh secangkir teh! Hohoho.. Jujur saja saya lebih suka dengan Red Cliff 1! Di film pertama menurut saya penyajian karakternya terasa lebih pas dan adil. Namun di Red Cliff 2 lebih banyak porsi perangnya, bukannya ga keren lho, tapi mungkin karena saya perempuan kali yaa, jadi kurang suka kalau perangnya terlalu banyak menyita sepanjang film. Tapi overall Red Cliff 1 dan 2 masuk kategori recomended chinese movie versi Jagoan Movies deh! Btw, buat yang pengen nonton Red Cliff 2 tapi belum nonton yang pertama, saya saranin buat beli dvdnya dulu aja, soalnya temen saya yang belum nonton versi pertamanya ngaku ga ngerti jalan ceritanya.

Ohh yaa, met weekend yaa guys. . .!

Minggu, 04 Januari 2009

REVIEW : AUSTRALIA























"Welcome to Australia!"

Seorang aristokrat asal Inggris bernama Lady Sarah Ashley ingin menyelesaikan permasalahan yang membelit Faraway Downs, perternakan milik suaminya di daerah bagian utara Australia. Ditemani Drover, salah satu penggembala kepercayaan suaminya, dia memulai petualangannya di Faraway Downs, mulai dari suaminya yang ternyata ditemukan mati dibunuh oleh salah seorang pekerjanya yang berkhianat, pertemuannya dengan Nullah - bocah blasteran Aborigin yang memiliki keajaiban, hingga persaingannya dengan King Carney - juragan ternak setempat. Awalnya, Sarah merasa bingung kenapa suaminya begitu suka tinggal di Australia. Namun, setelah terlibat dengan kehidupan keras dan perjuangannya membangun Faraway Downs, dia pun mulai mencintainya negeri ini, seperti dirinya yang perlahan mencintai Dover, setelah pria petualang ini berhasil menyelamatkan Faraway Downs dari keterpurukan akibat kecurangan King Carney. Film ini panjang banget hampir sekitar 3 jam! Fiuhhh..pantat saya sampai pegal duduk di bioskop selama itu! Apa mungkin juga karena dapet spot nonton yang ga asik, alhasil selama film saya grasak-grusuk ga karuan.. Hehe.. Keseluruhan sebenarnya film ini lumayan, tapi tidak istimewa. Kalau dibanding dengan Titanic atau Pearl Harbour yang punya jalan cerita hampir sama sih masih jauuuuhhhhhh bangeeeeetttttt dibawahnya! Bukan kenapa", tapi agak terkesan kalau film ini sedikit maksa dalam hal plot cerita. Pas adegan yang menurut saya udah bakal selesai ternyata masih ada lagi, lagi, dan lagi. Jadinya malah nunggu kapan selesainya yaa... =p~ Yang paling menghibur mungkin kecantikan Nicole Kidman di film ini yang luar biasa (cantikkk bangeetttt padahal umur udah ga muda lagi), trus Hugh Jackman juga keren banget disini! Chemistry antara Nicole dan Hugh juga lumayan 'dapet' koq! Pendapat saya, buat orang yang bukan pecinta drama atau film romantis bakal bosen nonton film ini. Kalau saya khan pecinta drama, jadi wajar kalau betah 3 jam dengan alur yang bertele" sekalipun. Pacar saya yang disebelah sih udah nguap ga karuan! Hohoho..

Kamis, 27 November 2008

VALKYRIE : ANOTHER DECEMBER BIG MOVIE!























"Many saw evil. They dared to stop it."

Banyak yang menyebut Valkyrie sebagai proyek terbesar tahun ini. Dengan dana berlimpah dan persiapan yang matang, meski banyak kendala serta tarik ulurnya tanggal rilis, akhirnya Valkyrie siap tayang Desember ini. Valkyrie bersama The Day The Earth Stood Still saya rasa akan menutup akhir tahun 2008 dengan cemerlang. Film ini berseting di era PD II, menggambarkan sosok para pejuang anti Nazi dalam militer Jerman dengan usaha untuk menggulingkan Adolf Hitler (David Bamber). Berbagai macam cara mereka lakukan agar dapat membunuh Hitler, salah satunya dengan Operasi Valkyrie. Stauffenberg (Tom Cruise) adalah seorang perwira Jerman yang memiliki ideologi berbeda dengan rekan" prajurit yang lainnya. Lahir dari keluarga kaya, terhormat, dan penganut Katolik yang taat, fasisme dan ajaran Nazi sangat bertolak belakang dengan agama serta pandangan pribadinya. Sejak tahun 1942 ia secara aktif berperan dalam usaha" pembunuhan Hitler yang selalu berujung kegagalan. Lalu ia kemudian ditimpa musibah besar saat bertugas di Afrika yang membuatnya harus kehilangan mata kiri serta tujuh buah jari tangannya. Namun hal tersebut sama sekali tidak membuatnya putus asa, ia malah merencanakan Operasi Valkyrie. Operasi ini terdiri dua tahap, pertama pembunuhan Hitler dengan menempatkan bom di kakinya, yang kedua mengambil alih pemerintahan serta membubarkan Gestapo dan SS. Rencana pembunuhan Hitler merupakan tugas yang maha sulit karena sang diktaktor selalu dikawal puluhan pengawal, selain itu pergerakannya juga sangat 'unpredictable'. Akhirnya, tanggal 20 Juli kesempatan tersebut datang dan menjadi legenda hingga kini. Buat kamu yang menyukai film" sejarah dan perang disarankan untuk menonton film ini. Well, buat yang ga suka genre seperti itu boleh nonton juga koq, at least pemeran utamanya Tom Cruise. Lumayan khan lihat Tom dengan mata satu dan tiga jari. Hehe. . .

Pemain :
Tom Cruise
David Bamber
Kenneth Branagh
Bill Nighy
Tom Wilkinson
Sutradara :
Bryan Singer
Penulis :
Christopher McQuarrie
Produksi :
United Artists