total ping

Tampilkan postingan dengan label jasa fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jasa fotografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Februari 2011

Meredupnya pamor studio foto

Kurang tau persisnya kapan, tapi kira-kira lima tahun belakangan ini, studio-studio foto, khususnya di Jakarta, satu-persatu berguguran alias menutup usahanya. Kecuali yang memang sudah turun-temurun menjadi usaha keluarga dan sudah eksis semenjak saya masih duduk di taman kanak-kanak seperti King foto atau Tarzan foto.

Mencari penyebabnya persisnya juga agak sulit. Jika ingin mengkambing hitamkan peralihan dari fotografi analog ke fotografi digital, justru banyak studio foto yang malah booming pada saat itu, studio Royal Princess contohnya. Jika ingin beralasan menurunnya kebutuhan masyarakat akan jasa fotografi juga rasanya kurang pas. Karena setiap harinya selalu ada kegiatan yang memerlukan jasa fotografi di dalam penyelenggaraannya. Dari yang hanya sebatas keperluan untuk pas foto sampai dokumentasi pernikahan, dari masyarakat kelas bawah sampai golongan kelas atas.

Dulu sewaktu saya masih aktif bekerja di studio foto, seseorang tidak segan mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah hanya untuk satu paket foto personal saja. Sekarang mereka akan berpikir dua kali jika harus menghabiskan uang dua ratus ribuan hanya untuk sebuah sesi foto.

Walhasil orang baru akan berpikir untuk ke studio foto jika mereka memiliki acara yang memang membutuhkan foto-foto yang lebih serius sebagai sarana dokumentasinya. Misalnya; acara pernikahan, wisuda, foto keluarga, modelling, atau hanya untuk sekedar pas foto.

Kalau boleh sedikit menyimpulkan, hal ini disebabkan karena fotografi sekarang sudah lebih dekat dengan keseharian, tidak lagi eksklusif milik studio foto seperti dulu. Handphone sudah banyak yang berkamera, orang lebih suka memilih suasana outdoor untuk acara foto-foto mereka. Fotografer-fotografer freelance dengan kekuatan promosi onlinenya begitu menjamur. Studio foto yang tidak kuat modalnya dan amburadul marketingnya, dengan sendirinya akan tergulung oleh dinamisnya perubahan di jagad jasa fotografi sekarang ini.



Sumber foto

Kamis, 03 Februari 2011

Fotografer banting harga

Dari jaman fotografi analog dulu sampai dengan yang serba digital seperti sekarang ini memang tidak pernah ada yang namanya rate harga fix yang harus diikuti oleh seorang fotografer didalam menjajakan jasa fotografinya.

Kan nggak mungkin kalo kita mau membandingkan harga jasa fotografi dari sebuah studio bridal kenamaan di Jakarta dengan harga jasanya Mang Ihin yang biasa mendokumentasikan acara sunatan atau pengantin rumahan di kampung.

Semua berpulang kepada tingkat apresiasi tiap individu terhadap bentuk seni fotografi, kebutuhan atau peruntukan dalam menggunakannya, juga kesanggupan didalam membayar daya kreatifitas yang sudah dihasilkan oleh seorang fotografer. Semua itu merupakan faktor eksternal yang menentukan berapa nominal sebuah harga jasa fotografi akan dipatok.

Sempat prihatin juga ketika membaca thread di sebuah komunitas online terbesar; ada fotografer yang menjual jasanya begitu murah. Saya hanya berpikir apa harga yang dia tawarkan tersebut dapat menutupi ongkos produksinya, bagaimana dengan kualitas hasil kerjanya. Dan biasanya alasan mereka jualan murah adalah; biar ada order yang masuk, cari pengalaman, buat nambah portfolio, mengumpulkan relasi dan lain sebagainya.

Tapi akhirnya saya sadar, bahwa masyarakat kita pasti sudah lebih pintar. Mereka lebih tau apa yang mereka butuhkan, sampai di mana kualitasnya, dan berapa mereka sanggup membayarnya. Dan setiap segmen jasa fotografi pasti mempunyai pasarnya masing-masing serta keprofesionalan didalam menjalankannya adalah di atas segalanya.


Foto : tukangpoto

Minggu, 31 Oktober 2010

Kualitas jasa fotografi

"Kok jasa fotografinya mahal sih, pak?"

Sebuah kalimat pertanyaan yang sering didengar oleh telinga para fotografer yang menggantungkan hidupnya dari jasa potret-memotret, sehingga berulang kali pula para fotografer tersebut mengemukakan argumentasi agar harga jasa fotografi yang diajukannya dapat diterima nalar sang calon klien yang bertanya tadi.

Mungkin dalam benak sang calon klien yang polos tadi; wong cuma kerja bidik dan jepret saja kok bisa 'semahal' itu.

Sebenarnya profesi seorang fotografer itu tidak berbeda dari profesi-profesi lainnya. Apakah itu seorang dokter, programmer, aktris, masinis dan lain sebagainya. Semua harus dimulai dengan belajar dari nol. Baik itu fotografer yang belajar secara akademis maupun yang belajar secara otodidak. Pastinya memerlukan investasi biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk bisa menjadi fotografer yang memiliki skill dan berpengalaman seperti sekarang.

Selain skill dan pengalaman, seorang fotografer juga harus memikirkan investasi di bidang peralatan yang akan menunjang pekerjaannya nanti. Seperti kamera, lampu studio, PC untuk editing dan lain-lain. Tanpa kamera seorang fotografer akan menjadi seperti seorang tentara tanpa senjata, dokter tanpa stetoskop. Harga kamera DSLR yang selangit dan umur pemakaian yang pendek serta suku cadang perlengkapan lainnya mau nggak mau harus masuk dalam perhitungan.

Terakhir tapi nggak kalah penting adalah kemampuan seorang fotografer dalam bidang editing foto atau olah digital. Walaupun kerja edit foto ini bisa dikerjakan oleh orang lain tapi seorang fotografer setidaknya harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar dalam hal ini.

Faktor-faktor di atas tentunya akan menjadi pertimbangan seorang fotografer di dalam mematok harga jasa fotografinya. Sebagaimana seorang profesional lainnya, pastilah akan senang jika jasa atau pekerjaannya dihargai sesuai kemampuannya. Sebab jika seorang menginginkan kualitas, pastinya ada harga yang harus dibayar.

Bagaimana dengan pendapat sahabat?



Foto : tukangpoto
Client: INDORENT

Jumat, 17 September 2010

JASA FOTOGRAFI dari Fotografer Jurnal


Kami dari Fotografer Jurnal menyediakan jasa fotografi profesional untuk pemotretan foto produk, foto makanan, foto fashion, foto pre wedding, company profile dan lain-lain. Khusus harga foto produk mulai dari 50rb per item.
Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi : Didit 081381007303 atau diditdof@yahoo.com serta kunjungi galeri kami di FJ GALERI.

Setiap kebutuhan anda akan kami perlakukan dengan special dan sepenuh hati.


Foto : Karib Munajat

Jumat, 30 Juli 2010

WORO-WORO JASA FOTOGRAFI

Bagi anda yang menggunakan jasa fotografi dari Fotografer Jurnal, secara otomatis produk atau jasanya akan direview di blog ini.

Hal ini akan menjadi program pelayanan tambahan dari Fotografer Jurnal agar produk yang menggunakan jasa fotografi kami bisa lebih dikenal lewat medium online.

Jadi bagi para sahabat pembaca diharap tidak harus bingung jika sewaktu-waktu blog ini menampilkan artikel mengenai review dari sebuah produk atau jasa.

Artikel-artikel mengenai fotografi masih akan terus ditingkatkan guna menambah wawasan pemahaman dan pengetahuan kita akan seluk beluk dunia fotografi serta untuk terus mempererat tali silaturahmi yang sudah terjalin selama ini.

Jadi jangan pada ke mana-mana,ya...
Sekian woro-woro dari kami. Salam jepret!

Rabu, 21 April 2010

Harga foto produk

Ketika sedang mencari standar harga foto produk di internet, saya mendapati bermacam harga yang ditawarkan hingga bisa disesuaikan dengan budget yang dimiliki sang calon klien. Ada yang murah, ada yang mahal sampai pada yang dapat ditawar sesuai permintaan atau tingkat kesulitan teknis pemotretan. Saya melakukan survey ini karena diminta seorang sahabat yang ingin mulai menjajakan jasa fotografinya secara online sehingga nantinya sudah memiliki ancer-ancer standar harga foto produk dan di segmen yang mana nanti dia akan bermain.

Berdasarkan hasil browsing saya, harga foto produk tersebut bisa dikategorikan ke dalam segmen :

Yang murah
Saya sampai nggak percaya ketika melihat harga yang ditawarkan pada segmen ini, sampai saya bertanya-tanya apa bisa dengan harga segitu menutupi ongkos produksinya. Tapi mungkin mereka hanya menerima order 'partai besar', sehingga masih bisa menghasilkan keuntungan.

Yang mahal
Ketika rekan saya menawarkan pada kliennya untuk memakai jasa fotografi dengan harga yang lebih miring dari yang biasa dia pakai, sang klien malah menolak karena sangsi apakah hasil fotonya bisa sesuai dengan ekspektasinya. Bukan saya mengatakan bahwa yang murah itu tidak bagus, tapi dengan harga yang agak mahal mereka biasanya memberikan yang lebih secara kualitas.

Yang dapat ditawar
Segmen yang ini yang biasanya paling disukai. Karena order dengan budget pas-pasan pun dapat diterima, order dengan kualitas yang lebih juga dikerjakan. Pokoknya berapapun budget anda asal masih masuk akal sebisa mungkin akan dikerjakan, bahkan jika memungkinkan tawar-menawar bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan asal order tidak lari ke tempat lain.

Mohon anda ingat, yang bagus tidak selalu harus mahal. Jadi apapun keperluan anda, nggak ada salahnya kita melakukan survey terlebih dahulu, agar hasilnya bisa sesuai dengan kemampuan kita.



Foto : tukangpoto