total ping

Tampilkan postingan dengan label MYSTERY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MYSTERY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 2















































"It all ends."

Usai sudah franchise yang luar biasa sukses selama hampir 14 tahun terakhir ini dan disukai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menjadi film Harry Potter ke-8 sekaligus menjadi film penghabisan. Bagi para penggemar setianya, sudah pasti ini membawa kesedihan yang luar biasa. Apalagi bagi mereka yang merasa 'tumbuh' bersama dengan Harry, Ron, dan Hermione. Meskipun saya bukan penggemar fanatik, saya pun merasa sedih karena tahun depan sudah tidak ada lagi hype Harry Potter yang seketika membuat bioskop penuh sesak. Tapi saya juga senang, karena film ini ditutup dengan sedemikian memuaskan oleh David Yates. Big thanks to him! Berhubung saya bukan pembaca novelnya, jadi saya tidak berhak memberikan komentar mengenai adaptasi yang ada, tapi saya puas sekali dengan apa yang saya tonton. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 merupakan salah satu film Harry Potter terbaik dari yang ada.

Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) melanjutkan misi terakhir dan yang paling menentukan guna mengalahkan Lord Voldermort (Ralph Fiennes). Hanya tinggal tiga buah Horcruxes yang belum diketemukan, apabila mereka bisa menemukan sisanya maka sudah pasti rencana akan berjalan lancar. Namun misi mereka menemukan letak Horcruxes diketahui oleh Voldertmort dan tentu saja pertempuran besar pun tak terhindari lagi. seluruh kekuatan dan pendukung Voldermort melawan para pendukung Harry Potter dari Hogwarts bertempur habis-habisan. Namun, yang pada akhirnya dapat mengalahkan Voldertmort hanyalah Harry seorang.

Diantara semua film Harry Potter yang ada, saya berani mengatakan kalau film ini lah yang memiliki visual efek paling jempolan. Luar biasa halus dan memanjakan mata! Part 2 juga merupakan film Harry Potter dengan adegan pertempuran yang paling intens dan menegangkan. Memang plot dari Part 2 ini tidak terlalu istimewa, namun adegan action tanpa henti yang disajikan disini sungguh membuat jantung berdetak lebih cepat, penonton seakan tidak sabar melihat Harry Potter vs. Lord Voldertmort, setelah menunggu sampai delapan film! Fiuhh..finally. Karakter Neville Longbottom (Matthew Lewis) merupakan karakter yang paling saya sukai dari film ini. Begitu juga pada saat terungkapnya asal usul Professor Severus Snape (Alan Rickman), menurut saya scene tersebut digambarkan dengan baik sekali, sangat menyentuh namun tidak cengeng.

Para pemain utama seperti Daniel, Rupert, dan Emma terlihat sekali memberikan performa yang juga 'habis-habisan'. Disamping penampilan mereka yang terlihat lebih mature, kualitas akting yang ada dalam Part 2 juga terasa lebih matang dan prima. Bukan hanya mereka, menurut saya seluruh cast yang terlibat dalam film ini sepertinya memang berusaha mati-matian membuat film ini menjadi film penutup yang baik. Dan mereka berhasil! Apalagi yang penonton harapkan? Ini sudah lebih dari cukup dan menurut saya David Yates sudah mampu memenuhi ekspektasi para penggemar. Saya pribadi sangat puas dengan film ini. Sedih juga rasanya menerima kenyataan kalau film ini akhirnya sudah selesai. Tapiii..well done! Overall, sangat amat memuaskan! :)











Selasa, 07 Juni 2011

REVIEW: SCREAM 4
























“What’s your favourite scary movie?”

Pada tahun 1996, Wes Craven pertama kali membuat Scream dan ternyata menjadi salah satu film thriller yang fenomenal dengan topeng putih panjangnya itu. Setahun kemudian ia membuat Scream 2, namun sayang tidak bisa sebagus yang pertama. Tahun 2000, Craven kembali membuat Scream 3 yang malah lebih hancur lagi dibanding yang sebelumnya. Hampir sebelas tahun sudah terlewati tanpa ada sekuel Scream dari Craven. Namun tahun ini, masih di tangan Wes Craven, Scream 4 kembali muncul dan secara tidak terduga berhasil membuat para fans Scream puas. Memang tidak sebagus yang pertama, tapi ini adalah film Scream yang kualitasnya tepat berada dibawah film pertamanya. Wes Craven tetap setia membawa nuansa ‘Scream’ dalam film ini, rindu para pas sudah pasti akan terobati dengan kehadiran Scream 4 yang memuaskan.

Diceritakan bahwa Sidney Prescott (Neve Campbell) kembali ke kota asalnya di Woodsboro karena sedang ingin mempromosikan buku karangannya. Kedatangannya itu bertepatan dengan peringatan pembunuhan berantai sadis di Woodsboro sepuluh tahun lalu yang kala itu juga berhubungan erat dengan dirinya. Awalnya semua terlihat baik-baik saja, namun tiba-tiba dua remaja terbunuh dengan sadis. Semua semakin buruk ketika keponakan Sidney, Jill (Emma Roberts) dan Kirby (Hayden Panettiere) mendapat ancaman dari telepon misterius. Setelah itu satu persatu pelajar disana mulai terbunuh, hal ini membuat Dewey Riley (David Arquette), Gale Weathers (Courteney Cox), dan Sidney Prescott kembali bersatu mencari dalang dari pembunuhan keji tersebut.

Saya suka sekali dengan opening scene-nya! Menurut saya memang konyol namun sangat menghibur ala Scream. Deretan pemeran utama dalam Scream 4 masih sama seperti dulu, namun para pemeran pendukung bisa dikatakan luar biasa fresh; sebut saja Emma Roberts, Hayden Panettiere, Anna Paquin, Kristen Bell, Marley Shelton, Adam Brody, Lucy Hale, Rory Culkin, Erik Knudsen, Shenae Grimes, dll. Yang paling menarik perhatian adalah Emma Roberts, Hayden Panettiere, dan Rory Culkin. Hayden menurut saya paling baik aktingnya, ada adegan dimana ia menjawab semua pertanyaan si penelepon misterius itu dengan sangat cepat dan jelas, intensitas di mimik wajahnya terlihat sangat emosional. Penampilannya juga sangat berbeda dengan Hayden biasanya. Tumbs up! Rory Culkin juga sukses memerankan nerd. Emma Roberts malah tidak disangka bisa mendapat peran berbeda dalam film ini!

Sejujurnya bagi saya pribadi menganggap film ini biasa-biasa saja, apalagi saya juga merasa kurang puas dengan ending-nya, namun karena saya sudah menonton Scream dari yang pertama sampai yang ketiga kemarin saya memang sudah tahu kalau Scream memang identik seperti itu. Kalau boleh jujur, dialog-dialog dalam film ini termasuk pintar dan banyak menyindir dengan lucu film horror lainnya, maka ini menjadi poin plus lagi bagi Scream 4. Mungkin bagi yang belum pernah menonton Scream sebelumnya akan bilang kalau film ini jelek. Namun seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kalau bagi para fans Scream film ini mengobati rasa kangen dan membawa kepuasan tersendiri karena memang film ini jauh sekali lebih baik dibanding yang kedua dan ketiga. Sudah pasti yang pertama lebih baik karena dalam film ini pun ada quote yang mengatakan: “Don’t f*** with the original!”. Hahaha..





REVIEW: LIMITLESS
























“They say we can only access 20% of our brain. This lets you access all of it.”

Limitless ini diangkat dari sebuah novel berjudul ‘The Dark Fields’ karangan seorang penulis asal Irlandia bernama Alan Glynn. Ide cerita yang ditulis Alan ini menurut saya betul-betul menarik. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, namun film yang disutradarai oleh Neil Burger (The Illusionist) ini semenarik ide ceritanya. Terlebih pilihan Bradley Cooper sebagai pemeran utama yang terlihat sangat cocok sekali dan semakin member daya tarik khusus bagi film ini. Pengemasan filmnya sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa, namun harus diakui kalau Limitless memang sangat menghibur dan kembali lagi ke yang saya tuliskan di awal, ide ceritanya juara. Sebuah pil yang bisa membuat kita mengakses otak kita secara optimal, wow, siapa yang tidak mau NZT?

Eddie Morra (Bradley Cooper) adalah seorang penulis asal New York. Ia bukanlah seorang penulis hebat dan mempunyai buku ‘best seller’, Eddie tinggal di sebuah kamar sewaan yang amat berantakan, Ia bahkan belum menuliskan sepatah kata pun untuk buku yang ingin diselesaikannya. Naasnya lagi, Ia juga baru saja diputus oleh sang pacar, Lindy (Abbie Cornish), yang bekerja sebagai seorang editor. Lindy merasa hidup Eddie sudah terlalu berantakan, apalagi Eddie tidak mempunyai penghasilan sama sekali berhubung bukunya tak kunjung selesai. Hidupnya yang berantakan itu juga tercermin dalam penampilan Eddie sehari-hari; rambut gondrong tidak beraturan, gaya pakaian asal-asalan, wajah kusam.

Suatu hari Eddie secara tidak sengaja bertemu dengan mantan adik iparnya dulu, Vernon (Johnny Whitworth). Mereka duduk santai sambil mengobrol dan Eddie menceritakan tentang kebuntuan ide yang sedang dialaminya. Vernon lalu menawarinya sebuah obat bernama NZT yang ia sebut bisa membuat otak manusia yang tadinya hanya bekerja 20% menjadi 100%. Eddie awalnya menolak, namun karena tahu sebutir obat tersebut harganya mahal dan juga ada rasa penasaran, Ia akhirnya meminum obat tersebut. Sesaat setelah meminum NZT, BAMMM – Eddie langsung merasa menjadi pintar seketika. Bahkan bisa dikatakan genius. Semua yang ia pelajari dapat dengan cepat dikuasai, Eddie betul-betul merasa kalau pengetahuannya menjadi tidak terbatas.

Kegeniusan Eddie membuat berita dengan cepat menyebar, sampai akhirnya seorang pengusaha besar Carl Van Loon (Robert De Niro) mengundang Eddie untuk bertemu dan berniat ingin menjadikannya sebagai asisten guna meraih uang yang lebih banyak lagi. Kehidupan Eddie menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya; Ia membeli apartemen mewah, mendapatkan Lindy kembali, bahkan menggadakan uangnya terasa sangat mudah dalam bidang pasar modal dengan kegeniusannya itu. Namun disaat semua terasa sangat sempurna bagi Eddie, ia mulai merasakan efek samping yang mematikan dari NZT. Belum lagi banyak orang yang ingin merebut NZT dari tangannya.

Bradley Cooper adalah bintang yang bersinar dalam Limitless. Ia berhasil berperan sebagai Eddie Mora yang urakan, jobless, uring-uringan, Ia juga sangat berhasil memerankan Eddie Mora yang rapi, sukses, genius. Transformasi tersebut diekspresikan oleh Bradley Cooper dengan luar biasa meyakinkan; penonton bisa merasakan rasa percaya diri yang seketika datang dalam diri Eddie ketika ia meminum NZT. Bravo, Bradley! Kehadiran Robert De Niro dan Abbie Cornish juga terasa pas sekali. Kehadiran Limitless membuat kita lega karena masih bisa menonton film bagus dan menghibur di layar lebar Indonesia. Dengan ide cerita dan dialog yang pintar, Limitless tentu saja masuk daftar ‘must-watch’ anda.





Kamis, 02 Juni 2011

REVIEW: SOURCE CODE
























“What would you do if you knew you only had one minute to live?”

Setelah istirahat lumayan lama dari kegiatan menulis review di blog dan juga setelah ‘melarikan diri’ selama tiga minggu ke luar kota, akhirnya nafsu menulis saya kembali datang. Bioskop kita memang belum menayangkan film-film Hollywood yang masuk kedalam MPAA, akan tetapi kehadiran Source Code memang seperti angin sejuk dikala film-film kuntilanak berterbaran di layar lebar. Kemalasan meng-update blog sebetulnya juga dikarenakan kekesalan saya dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, semestinya sekarang bioskop lagi ramai dengan antrian sekuel Pirates of the Caribbean, Kung Fu Panda 2, dan The Hangover 2! Belum lagi film-film bagus yang sudah begitu saja terlewatkan seperti I am Number Four dan Fast Five! Saya hanya berharap masalah tersebut bisa cepat mendapatkan jalan keluar supaya kita bisa menonton film yang fresh from the oven lagi. Btw, review Source Code saya kali ini memang lumayan telat, tapi better late than never, right?

Source Code disutradarai oleh Duncan Jones yang sukses dengan debut film indie-nya pada tahun 2009, Moon. Duncan Jones yang juga adalah anak dari musisi terkenal David Bowie sepertinya kali ini kian memantapkan langkahnya sebagai sutradara Hollywood dengan karya terbarunya di tahun 2011. Sepertinya Jones merupakan penggemar berat genre science fiction, karena tidak berbeda dengan film terdahulunya, Source Code juga kurang lebih berada di genre yang sama. Bermodalkan Jake Gylenhaal dan Vera Farmiga yang bermain sangat baik dari film ini, Source Code menjadi sebuah film yang sudah pasti tidak akan membuat para penikmat film sci-fi kecewa.

Kapten Colter Stevens (Jake Gylenhaal) adalah seorang pilot helicopter Angkatan Darat AS yang sedang ditugaskan ke Afganistan. Namun tiba-tiba ia terbangun dan menemukan bahwa dirinya telah menjadi bagian dari percobaan yang dilakukan pemerintah. Ia diminta untuk menyisihkan dulu kebingungannya guna melayani negara dan membantu mencegah bencana. Sebuah bom telah meledak pada pagi itu pada kereta di Chicago dan pembom telah mengancam akan meledakkan bom yang lebih besar lagi di jantung kota. Tidak ada petunjuk siapa yang berada di belakang aksi terorisme ini, sehingga proyek baru dan rahasia yang diberi nama ‘Source Code’ akhirnya diaktifkan.

‘Source Code’ adalah sebuah program yang memungkinkan subjek tes untuk berada pada delapan menit terakhir di kehidupan orang tertentu. Teorinya adalah bahwa setiap orang yang baru meninggal masih memiliki memori jangka pendek yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dalam siklus delapan menit terakhir sebelum kematiannya. Program ini memungkinkan subjek tes untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitar objek, namun itu semua bukanlah realita, bukan juga bayangan, semua terasa nyata ketika dijalani, hanya saja apapun yang terjadi dalam ‘Source Code’ tetap tidak dapat mempengaruhi masa lalu ataupun masa sekarang, subjek tes hanya dapat mencari informasi yang dibutuhkan.

Saya menyukai film ini, akan tetapi memang ada beberapa hal yang terasa kurang logic. Film ini juga tidak menjabarkan secara detail tentang sistem ‘Source Code’ yang dijalankan, mungkin saja itu adalah pilihan terbaik daripada malah membuat penonton pusing nantinya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan tentang logic atau tidaknya film ini, yang pasti nilai orisinalitas menjadi poin utama. Ending film ini juga berhasil membuat penonton bertanya-tanya. Sutradara Duncan Jones sepertinya akan menjadi calon sutradara jenius Hollywood selanjutnya, kita tunggu saja proyek Jones selanjutnya. Begitu juga dengan Jake Gylenhaal yang lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam dalam filmnya kali ini, setelah terakhir ia juga bermain sangat baik dalam Love and Other Drugs (2010). Apalagi dapat bonus penampilan Jake yang good-looking! Overall, Source Code sayang untuk dilewatkan begitu saja. Simply recommended!





Kamis, 13 Januari 2011

REVIEW: LET ME IN
























Owen: Are you a vampire?
Abby:
I need blood to live.

Film ini merupakan sebuah adaptasi dari film horror sukses asal Swedia 'Let The Right One In' (2008) karya Thomas Aldredson. Kali ini sang sutradara Matt Reeves (Cloverfield) dinyatakan banyak pihak berhasil membuat sebuah adaptasi yang baik dan setia pada versi aslinya. Saya sendiri belum menonton 'Let The Right One In', jadi saya tidak bisa berkomentar tentang hal tersebut. Namun, terus terang saja yang awalnya membuat saya sangat tertarik untuk menonton adalah pasangan pemeran utama dalam film ini, Chloe Moretz dan Kodi Smit-McPhee! Saya suka keduanya, menurut saya dua aktor cilik yang beranjak remaja ini karirnya di Hollywood akan bertambah cemerlang tahun demi tahun. Dari segi cerita menurut saya 'Let Me In' bisa dibilang berbeda dari horror kebanyakan. Sisi romantika sangat kental disini, jadi penonton tidak akan terlalu ditakuti tapi disuguhkan sebuah jalan cerita yang lebih berbobot untuk ukuran horror.

Bertempat di sebuah kota kecil di New Mexico pada sekitar tahun 1983. Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah seorang anak laki-laki yang hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah kompleks apartemen sederhana. Ibu dan ayahnya sedang berjuang melalui perceraian yang buruk. Di sekolah nasib Owen lebih buruk, Kenny (Dylan Minnette) dan gerombolannya selalu mengganggu Owen, bahkan dengan cara yang keterlaluan. Mungkin dengan apa yang dialaminya di rumah dan sekolah, Owen tumbuh menjadi bocah yang sedikit 'aneh'. Tiba-tiba Owen kedatangan tetangga di apartemennya, seorang gadis seumurannya bernama Abby (Chloe Moretz) yang pindah ke tempat itu bersama ayahnya (Richard Jenkins). Abby juga tak kalah aneh dengan Owen, ia mempunyai bau khas yang menurut Owen 'lucu', ia juga lebih sering muncul pada malam hari; itu pun tanpa mengenakan alas kaki. Mungkin karena sama-sama 'aneh', dengan cepat Owen dan Abby menjadi akrab satu sama lain. Namun semakin berjalannya waktu, Owen menyadari kalau teman barunya ini bukanlah manusia biasa, ia pun sadar betul kalau perasaannya pada Abby yang sudah mulai bertambah kuat ini sangat mungkin akan mengancam nyawanya.

Tentu bukan spoiler kalau saya mengatakan kalau Abby adalah vampire. Kebanyakan orang pasti ingin menyaksikan 'Let Me In' dengan harapan akan menyaksikan sebuah film horror tentang vampire yang menegangkan. Saya hanya ingin memperjelas, 'Let Me In' memang lumayan menegangkan, tapi ini tidak seperti film horror yang biasanya. Jalan cerita sangat diperhatikan dan sisi romantisme sangat terasa disini, sehingga kalau anda mengharapkan banyak dikagetkan dan akan takut setengah mati pastinya anda akan kecewa. Film seperti ini bukanlah film favorit saya, karena entah kenapa menurut saya tema ceritanya agakcheesy. Tapi saya tetap memberikan jempol kepada dua bintangnya, Moretz dan Smit-McPhee yang tampil sangat baik dalam film ini. Setelah terakhir tampil sangat mengesankan sebagai Hit Girl dalam film 'Kick-Ass' (2010), Moretz tampil apik lagi dalam film ini. Begitu juga dengan Smit-McPhee yang terakhir kalau saya sangat terkesan dengan aktingnya yang luar biasa dalam 'The Road' (2009). Menurut saya mereka adalah kombinasi yang sempurna dalam 'Let Me In', yang berhasil membuat saya sebagai seseorang yang kurang menyukai genre seperti ini pun paling tidak masih bisa menikmati dari awal hingga akhir film. Intinya, film ini bukanlah film vampire biasa. Hehehe..





Minggu, 19 Desember 2010

REVIEW: DEVIL

























"One of these people might be the Devil."

Pada poster Devil kita bisa membaca dengan jelas tulisan 'From the mind of M. Night Shyamalan', hal ini merupakan trik pemasaran yang bisa dibilang tidak terlalu pintar, tapi juga tidak terlalu bodoh. Tidak pintar karena film-film terakhir Shyamalan, seperti The Last Airbender (2010), The Happening (2008), dan Lady in the Water (2006) hancur lebur di pasaran. Tetapi tidak bodoh juga, karena dari Shyamalan lah The Sixth Sense (1999) yang fenomenal itu dihasilkan, seterusnya Unbreakable (2000) dan Signs (2002). Jadi bagaimana dengan Devil? Apa berhasil mengangkat nama Shyamalan lagi? Tidak terlalu. Tapi saya akui kalau ide Shyamalan dalam Devil lumayan bagus, eksekusi John Erick Dowdle selaku sutradara juga terbilang baik. Namun entah kenapa saya tidak terlalu merasa ada yang istimewa dalam film ini. Terror? Iya. Kaget? Iya. Seram? Lumayan. Bagus? Biasa.

Cerita Devil sederhana saja, tentang Tuhan dan iblis. Diceritakan kalau iblis itu ada disekitar kita dan iblis tersebut sedang mendatangi sebuah gedung dan mempunyai rencana jahat didalam sebuah lift. Dalam lift terdapat lima orang, tiga pria dan dua wanita. Sebelum sampai ke lantai yang sedang mereka tuju, lift tersebut tiba-tiba mendapat gangguan dan mati. Awalnya mereka biasa saja menanggapi hal yang memang sudah sering terjadi tersebut, sambil menunggu bantuan dari petugas gedung mereka mengobrol hal-hal ringan satu sama lain. Namun, kejadian aneh mulai terjadi, apalagi pada saat lampu lift tersebut mati. Satu persatu dari mereka mati dibunuh dengan sadis, sisanya tentu saja merasa takut dan was-was karena pembunuhnya pasti berada dalam lift tersebut. Sedangkan lift tak kunjung bisa diperbaiki, malah ketika diperiksa tidak ada yang bermasalah sama sekali. Iblis berada diantara kelima orang tersebut. Penonton dipersilahkan menebak kira-kira yang manakah sang iblis?

Saya lumayan menikmati menonton Devil, akan tetapi menurut saya durasinya terlalu pendek, hanya sekitar 80 menit saja. Namun hal ini mungkin dikarenakan jalan cerita yang memang sangat sederhana, sehingga bingung mau ditambahkan cerita apa lagi. Paling tidak, saya terhibur. Terus terang saya juga beberapa kali berteriak dan kaget akibat kejutan-kejutan yang disuguhkan dalam film ini. Saya juga suka sinematografinya, apalagi pada opening scene dan adegan-adegan dalam lift. Akting para pemain tidak ada yang istimewa, semua biasa-biasa saja. Tapi saya sempat melirik si tampan Logan Marshall-Green yang saya tau melalui peran kecilnya sebagai Trey Atwood dalam serial televisi The O.C. Secara keseluruhan, saya memang menikmati Devil sebagai tontonan akhir pekan saya, tetapi film ini pastinya tidak akan masuk ke daftar favorit saya atau anda. Hanya cukup sebagai tontonan seru-seruan di akhir pekan saja lah.. :)






Sabtu, 11 Desember 2010

REVIEW: BURIED
























"Do not watch if you are a claustrophobic!"

Buried bukanlah film dengan budget besar yang menggunakan teknologi CGI atau 3D canggih, tapi ini merupakan sebuah film yang paling menegangkan tahun ini! Sutradara Rodrigo Cortes, penulis Chris Sparling, dan aktor Ryan Reynolds berhasil menyuguhkan sebuah pengalaman menonton yang amat mendebarkan. Dengan jalan cerita yang sederhana, hanya dengan satu aktor dan satu lokasi saja, menurut saya Buried benar-benar mempunyai sebuah skrip yang luar biasa. Bayangkan saja tentang sebuah film yang berfokus pada satu aktor dimana ia terkubur hidup-hidup didalam peti selama kurang lebih 90 menit, dibekali sebuah telepon genggam dan mancis. What a brilliant script! Jantung kita seperti dipaksa berpacu lebih cepat melihat usaha sang aktor tersebut keluar dari peti yang terkubur jauh dibawah tanah. Di layar hanya ada sang aktor. Di dalam peti. Terkubur.

Film dibuka dengan adegan yang sudah sangat menegangkan, kita bisa melihat Paul Conroy (Ryan Reynolds), seorang supir truk asal Amerika yang sedang berada di Irak sedang kebingungan karena ia terbangun didalam sebuah peti yang terkubur di tanah. Saat ia berhasil melepaskan diri dari ikatan di tangan dan mulutnya, ia pun berusaha mengingat apa yang terjadi dan bagaimana ia bisa sampai pada situasi tersebut. Kepanikan pun melanda, ia berteriak minta tolong sekeras-kerasnya lalu namun ia menyadari bahwa teriakannya tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya ada ia sendiri. Jauh dikubur dibawah tanah. Solusi termudah tampaknya adalah menelepon seseorang melalui telepon genggamnya, namun orang-orang terdekatnya berada jauh di Amerika, lagipula ia pastinya tidak mengingat semua nomor-nomor penting. Paul juga menyadari kalau ia sedang dihadapkan pada masalah persediaan oksigen yang akan semakin menipis, baterai telepon genggam juga tidak akan bertahan lama. Situasi semakin menegangkan bagi Paul (dan penonton tentunya) ketika ia mengetahui bahwa masalah oksigen bukanlah satu-satunya yang sedang ia hadapi.

Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa akting Ryan Reynolds disini sangat amat baik. Ia menjadi satu-satunya pemain dalam film ini selama kurang lebih 90 menit! Jadi bayangkan kalau aktingnya buruk, film ini pastinya akan hancur. Akan tetapi aktingnya dalam film ini luar biasa bagus. Seluruh emosi terpancar jelas dalam wajah Reynolds; histeris, panik, takut, bingung, putus asa. Penonton seolah dibuat merasakan apa yang dirasakannya dalam peti itu. Terus terang saya tidak menyangka kalau Ryan Reynolds yang biasa saya lihat dalam film ringan (Van Wilder, The Proposal) bisa bermain sebaik ini dalam Buried. Efek suara dan pencahayaan dalam film ini memang hemat, namun efisien, justru suara dan cahaya 'hemat' itulah yang membuat ketegangan semakin terasa. Skenario juga merupakan faktor paling penting dalam film ini, karena dari skrip hebat itulah ketegangan tidak pernah putus, simple but very effective. Kamera pun memberikan gambar luar biasa, apalagi mengingat kalau tempatnya sangat terbatas. Film ini tentunya tidak akan mudah apabila ditonton oleh seseorang yang mempunyai claustrophobia (takut akan tempat sempit dan tertutup). Bagi yang mengharapkan film thriller dengan aksi sana-sini juga lebih baik jangan menonton. Buried merupakan salah satu pengalaman unik dalam menonton yang saya rasakan tahun ini, saya tidak pernah menonton sebuah film dan menatap aktor yang sama selama 90 menit penuh. Thank God, it’s Ryan Reynolds, bukan pilihan yang buruk bukan? Saya betah-betah saja kalau disuruh memandangi Reynolds berjam-jam. Well, overall Buried is one of the best thriller this year that will leave you on the edge of your seat!





Minggu, 21 November 2010

REVIEW: THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO






















"Based on the worldwide bestseller."


The Girl with the Dragon Tattoo diangkat dari novel best seller karangan Stieg Larssons, seorang pengarang dan jurnalis asal Swedia. Ini merupakan novel pertama dari trilogi Millennium yang ditulisnya. Niels Arden Oplevs mengangkat film yang berjudul asli 'Män som hatar kvinnor' dalam bahasa Swedia ini dengan sangat baik. Awalnya saya kurang tertarik menyaksikan film ini karena saya sendiri belum membaca novelnya, lagipula pemainnya saya tidak kenal semua. Apalagi ditambah dengan dialog dalam bahasa Swedia yang masih asing di telinga. Akan tetapi, keisengan saya menonton berbuah sebuah kepuasan. The Girl with the Dragon Tattoo sangat seru untuk dinikmati. Plot cerita dijabarkan dengan sangat apik lengkap dengan misteri yang membuat penonton penasaran. Sangat recommended untuk yang menyukai film ala detektif dengan sentuhan thriller.


Empat puluh tahun yang lalu, Harriet Vanger menghilang dari tempat tinggalnya. Jasadnya tidak pernah diketemukan, sehingga membuat keluarganya besar Vanger yang kaya raya bertanya-tanya apakah Harriet sudah meninggal atau belum. Sang paman, Hanrik Vanger (Sven-Bertil Taube), yakin kalau Harriet telah dibunuh, selama bertahun-tahun ia sudah mengandalkan segala macam cara untuk menemukan pembunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Lalu ia menyewa seorang jurnalis yang sedang terlibat masalah hukum, Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist). Mikael lalu dibantu oleh seorang hacker wanita berpenampilan sangar, Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Mereka berdua lalu berusaha memecahkan teka-teki yang sudah ada berpuluh-puluh tahun ini. Usaha mereka tidak berjalan mulus karena ternyata sang pembunuh masih merupakan bagian dari keluarga besar Vanger.


Cinematografi film ini digarap dengan sangat baik. Sang aktris utama, Noomi Rapace juga menunjukkan performa yang kuat dan luar biasa. Begitu juga dengan akting Michael Nyqvist sebagai Mikael Blomkvist dan Sven-Bertil Taube sebagai Hanrik Vanger yang juga bermain baik dengan karakternya masing-masing, sehingga penonton bisa percaya dengan apa yang mereka mainkan. Plot cerita film ini sendiri menurut saya cukup menarik dan membuat penasaran, ini dari sudut pandang saya, seseorang yang belum membaca novelnya. Durasi 2,5 jam memang cukup panjang namun saya tidak merasa bosan sama sekali. Saya tidak sabar untuk menyaksikan film kedua dan ketiganya; The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornet's Nest. Hanya tayang di bioskop Blitzmegaplex. :)





Jumat, 16 Juli 2010

REVIEW: INCEPTION
























Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up we realize that something was actually strange.


Saya bingung harus memulai review ini dengan kalimat apa karena terus terang karya Christopher Nolan kali ini betul-betul jenius. Nolan memang sudah pernah membuat Memento (2000) yang temanya juga mempermainkan pikiran. Tadinya bagi saya Memento sudah merupakan sebuah ide yang jenius sekali, namun kali ini Inception membawa sesuatu yang belum pernah saya tonton sebelumnya; sebuah pengalaman menonton film yang membuat saya berfikir sekaligus tegang dan takjub dari awal hingga akhir. Saya bahkan sulit untuk memindahkan pandangan dari layar bioskop karena memang film ini seperti mempunyai magnet kuat yang membuat saya terkesima. Bukannya mau melebih-lebihkan, akan tetapi Inception rasanya akan menempati posisi nomor 1 dalam daftar film terbaik dan terfavorit versi Jagoan Movies tahun 2010. Kemungkinan ini sudah 95% akan terjadi, kecuali sampai akhir tahun nanti ada film yang lebih gila dari Inception buatan Nolan. Namun sepertinya sulit kalau melihat kandidat-kandidat film yang ada sampai bulan Desember, tidak mudah untuk mengalahkan keistimewaan Inception.

Kali ini saya tidak akan menuliskan plot film ini sama sekali, karena esensi cerita dalam Inception sangat penting. Lebih baik anda tidak tahu terlalu banyak sebelum menonton. Saya sendiri hanya menonton trailer awal Inception, lalu sama sekali tidak mencari tahu lebih detail atau membaca sinopsis sama sekali. Saya hanya tahu kalau Leonardo Dicaprio disini akan berperan sebagai pencuri mimpi. Pencuri mimpi saja kedengarannya sudah sangat keren sekali bukan? Sepertinya para pembaca disini juga hanya perlu mengetahui sampai disini saja apabila belum menonton. Jangan membaca review yang penuh dengan isi film ini karena nantinya akan mengganggu keasikan anda saat menonton. Seperti yang sudah saya tulis diatas kalau Inception bertumpu pada ceritanya yang brilian, jadi the less you know the better. Saran saya, anda jangan terlambat datang ke bioskop, usahakan perhatikan detail cerita dari awal sampai akhir, karena semua berhubungan. Konsentrasi lebih memang diperlukan dalam menonton tipe film seperti ini, anda tidak akan mungkin mengerti film ini kalau misalnya anda menonton sambil sibuk twitter-an atau facebook-an. Saya malah sudah menonton film ini dua kali. :p

Sekarang dengan adanya Inception, saya berani untuk menobatkan Christopher Nolan dengan predikat sebagai seorang sutradara jenius. Inception sudah merupakan sebuah bukti kuat kalau Nolan mampu membuat sebuah karya yang beyond imagination, selebihnya juga tidak kalah hebat; Following (1998), Memento (2000), Insomnia (2002), Batman Begins (2005), The Prestige (2006), dan The Dark Knight (2008). Belum lagi proyek Batman terbaru yang sedang digarapnya dan direncanakan tayang tahun 2012. Dalam Inception, Nolan juga dengan teliti memilih para pemain, hasilnya? Luar biasa! Leonardo DiCaprio, Marion Cottilard, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Ken Watanabe, Tom Hardy, Cillian Murphy; mendengar nama-nama tersebut saja saya sudah menganga dibuatnya. Para pemain tersebut bermain sangat amat baik. Tidak ada yang terlihat lebih menonjol dibanding yang lain, semua bermain pas dengan porsi masing-masing. Ditambah lagi dengan special effects yang tanpa cela dan alunan scoring dari Hans Zimmer yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Beberapa adegan yang tidak bisa saya sebutkan dalam review ini (karena spoilers) benar-benar menempel dalam ingatan! Silahkan menonton dan setelah itu isi kolom komentar kalau ingin sharing tentang pendapat masing-masing. Selamat menikmati sebuah tontonan yang fenomenal! Kalau anda tidak cukup menangkap maksud film ini pada saat pertama menonton, ayo tonton lagi! :)