total ping

Tampilkan postingan dengan label Studi di Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Studi di Belanda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Mei 2010

Ahh mama...

Berhubung tulisan saya untuk KompetiBlog tidak kunjung rampung, sedang deadline sudah di depan mata, saya memutuskan untuk mengambil cuti. Rencananya saya akan duduk di depan laptop selama jam kerja dan hanya keluar untuk makan siang, persis seperti di kantor. Ini adalah kompetisi blog pertama saya dan saya ingin membuat sebuah tulisan sebaik mungkin. Hmmphh... Sepertinya bukan hanya untuk kompetisi blog, saya ingin semua hal berjalan sesempurna mungkin. Hate being such a perfectionist person.


Mama yang tidak mengerti apa yang sedang saya kejar dan kerjakan nampak senang melihat anaknya mengambil cuti dan menghabiskan waktu di rumah di kamar. Beberapa kali beliau keluar masuk kamar, tapi tak pernah saya hiraukan. Sampai akhirnya beliau duduk dekat saya yang sibuk mengetik, tidak minta diperhatikan, hanya ingin saya mendengar cerita tentang kehidupannya. Saya menyerah, dan akhirnya mengobrol dengan mama, walau pikiran ini masih berada dalam tulisan yang masih setengah jadi. Mama tampak senang dan bercerita dengan semangat. Saya juga bahagia bisa menghabiskan waktu, yang sayangnya hanya sebentar, bersama mama.

Beberapa menit kemudian mama menyudahi obrolan kami, sepertinya maklum dengan kesibukan saya dan tak ingin mengganggu lebih lama lagi. Saya pun kembali sibuk menyelesaikan tulisan. Sampai akhirnya saya menjerit sejadi-jadinya karena file tulisan yang sudah rampung terhapus, tanpa ada back up. Badan saya langsung lemas, rasanya ngga sanggup jika harus mengulang tulisan dari awal, belum lagi besok harus kembali kerja. Mama datang ke kamar saya, bertanya apa yang sedang terjadi, dan hanya bisa memandang saya lalu berkata "Mama ngga bisa bantu apa-apa teh, mama kan ngga ngerti". Saya hanya melempar senyum pahit untuk menanggapi perkataan beliau.

Setelah mengotak-atik panik, akhirnya tulisan saya kembali. Alhamdulillah kerja keras saya bisa terselamatkan. Tinggal dirapihkan sedikit dan siap di publish. Samar-samar dari luar kamar, mama mengajak saya membeli bajigur yang lewat di depan rumah. Minuman berbahan dasar santan dan gula aren ini memang favorit kami sekeluarga saat berkumpul di rumah, lengkap dengan berbagai camilan pendampingnya, papais pisang, getuk, atau ubi rebus. Saya menolak halus tawaran mama, dan beliau keukeuh menawarkan camilan untuk menemani saya merampungkan tulisan. Saya tidak menanggapi sama sekali perkataan mama, terlalu sibuk mengetik. Toh saya juga sudah bilang tidak kan untuk tawaran menikmati bajigur plus cemilan pendampingnya itu.

Mendekati ashar, postingan akhirnya selesai. Saya keluar kamar untuk merenggangkan kaki yang terlalu lama terlipat di depan laptop. Saat melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu Zuhur yang hampir habis, saya melihat gelas kesayangan di atas meja makan. Rasanya saya belum memakai gelas ini dari pagi. Ketika membuka tutupnya, terlihatlah bajigur panas yang mama beli tadi siang sudah menjadi dingin di gelas kesayangan saya. Di meja makan juga tersedia beberapa camilan untuk saya makan sambil menikmati bajigur. Ahh mama... saya merasa sangat berdosa sudah mengacuhkan perhatian mama yang demikian besar.

Mama tau, mama ngga bisa bantu kamu apa-apa. 
Mama juga ngga ngerti apa yang lagi kamu kerjakan. 
Tapi mama hanya ingin kamu tahu, mama selalu mendukung kamu.

Mama ngga perlu mengatakan itu langsung kepada saya. Melihat bentuk perhatiannya saja saya sudah dapat menangkap makna yang ingin beliau sampaikan. Rasa bajigur yang seharusnya manis jadi terasa asin karena bercampur dengan air mata saya yang merebak. Ahh mama... apa yang bisa saya lakukan untuk menunjukkan betapa saya juga sangat menyayangi mama. Apa yang bisa saya lakukan untuk membalas semua perhatian dan kasih sayang yang telah mama beri selama 24 tahun saya hidup di dunia ini?

Aku sayang mama....
Selalu sayang mama.
Maafkanlah semua perilaku diri ini yang telah menyakiti hati mama.


Saya jadi merenung. Mengapa anak kecil sering menangis? Karena mereka meminta perhatian dari sang mama. Mereka ingin dimanja, disayang, diperhatikan. Mereka takut jika mama pergi tanpa mengajak ikut serta, walau mama hanya pergi sebentar. Mereka merasa tidak aman. Sekarang keadaan berbalik, mama yang meminta perhatian dari kita. Mama yang cemas jika sang anak belum tiba di rumah padahal hari semakin larut. Mama menjadi cerewet dengan kehidupan pribadi kita semata-mata karena beliau mengkhawatirkan kita. Dan beberapa kesedihan mama yang tidak terlihat dan tidak terdefinisikan karena dia tidak lagi mengerti dunia sang anak.

Ahh mama.....
Suatu saat nanti saya juga akan merasakan apa yang sekarang mama rasakan ya.

Kamis, 22 April 2010

Kincir Angin: Dulu dan Sekarang


Sebagian orang mungkin mengingat Belanda sebagai bangsa yang dulu pernah menjajah Indonesia (pelajaran sejarah tingkat SD masih melekat dengan sempurna ternyata). Tetapi, jika seseorang menyebutkan kata Belanda kepada saya maka yang muncul di kepala ini adalah sebuah imaji akan negeri cantik dan berbudaya, lengkap dengan ribuan kincir angin di segala penjuru, kanal-kanal yang membelah jalan kota, dilengkapi bunga tulip yang merekah (yep, sejak kecil saya memang sudah melankolis). Berbagai universitas dengan mutu kelas dunia yang berdomisili di Belanda semakin mengukuhkan negara ini sebagai negara yang tidak hanya kaya dari segi budaya, tapi juga cerdas di dunia pendidikan.
Ada alasan tersendiri mengapa Belanda identik dengan kincir angin. Dengan letak daratan di bawah permukaan laut maka saat itu Belanda hanya memiliki sedikit daratan kering. Air memang merupakan musuh utama Belanda. Untuk mengatasi hal ini, digunakanlah kincir angin yang dapat memompa air dari dataran rendah untuk kemudian disalurkan ke sungai atau kanal yang terletak di dataran lebih tinggi. Hasilnya? Masalah air tidak hanya teratasi, tapi Belanda juga berhasil memperluas wilayah negaranya melalui teknologi sederhana ini.

Penggunaan kincir angin terus berkembang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk. Tidak hanya untuk mengeringkan lahan, kincir juga digunakan untuk menggiling hasil panen, irigasi, menggergaji, mengasah kayu, memproduksi kertas, bahkan untuk mengeluarkan minyak dari biji. Perkembangan fungsi kincir ini tentu saja sangat membantu pekerjaan masyarakat, maka tak heran jika populasi kincir membludak mencapai angka 10.000 kincir pada saat itu.

Kincir angin tradisional. Gambar diambil dari sini.

Revormasi industri dengan penemuan mesin uap oleh James Watt mau tidak mau mempengaruhi perkembangan kincir angin di Belanda. Pengeringan lahan menjadi lebih cepat dengan teknologi ini. Penyaluran air menggunakan pemompa air bertenaga mesin uap juga semakin diminati masyarakat. Kincir angin semakin ditinggalkan dan beberapa berubah fungsi menjadi pabrik bermesin uap. Banyak kincir yang tidak berfungsi dan akhirnya dihancurkan sehingga hanya tersisa tidak lebih dari 2500 kincir di akhir abad ke-19.

Belanda, sebagai negara berbudaya yang menghargai sejarah negerinya, tentu saja tidak berdiam diri melihat kondisi tersebut. Beberapa warga yang tergabung dalam asosiasi preservasi kincir angin di tahun 1923 memperjuangkan kelestarian kincir angin dan di tahun 1997 kincir angin berhasil masuk dalam daftar benda bersejarah yang dilindungi Unesco. 

Barisan kincir di Kinderdijk

Walau kincir-kincir ini tidak lagi digunakan seperti masa jayanya dulu, namun mereka memiliki potensi wisata yang bernilai jual tinggi. Saat ini, hanya tersisa 1000 kincir angin di Belanda dan 19 diantaranya berada di Kinderdijk. Setiap tahunnya 90 ribuan wisatawan asing berkunjung ke Kinderdijk untuk menyaksikan kincir angin. Hal ini tentunya semakin mengukuhkan citra Belanda sebagai negeri kincir angin di mata dunia.

Krisis energi yang melanda dunia ternyata menjadi momentum kebangkitan kembali kincir angin. Seperti yang disadari bersama, sumber cadangan minyak dan gas dunia semakin menipis, belum lagi pemanasan global akibat efek emisi karbon membuat bumi ini semakin sekarat. Untuk mengatasi keadaan ini, dicarilah energi alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan. Bagi penduduk Belanda, jawaban akan krisis energi adalah memfungsikan kembali kincir-kincir angin mereka dengan teknologi yang lebih modern namun tetap ramah lingkungan.

Kincir angin modern tidak hanya memenuhi kebutuhan energi mekanis, tetapi telah menjadi sumber energi listrik. Berbeda dengan kincir tradisional, bentuk kincir modern hampir menyerupai sebatang sedotan yang dilengkapi tiga baling-baling baja dan generator untuk mengkonversi tenaga angin menjadi tenaga listrik. Jenis kincir modern ini disebut juga sebagai turbin angin.

Turbin angin

Saat ini, inovasi turbin angin terus berkembang menjadi ladang turbin angin lepas pantai. Wind farm lepas pantai dinilai lebih menguntungkan karena kecepatan angin rata-rata lebih tinggi dibanding ladang angin di daratan, tidak menyita lahan yang cukup luas di darat, dan masyarakat tidak perlu khawatir dengan polusi suara yang dapat ditimbulkan. Turbin angin kini menjadi teknologi yang paling cepat perkembangannya di dunia. Kapasitas instalasi global berkembang dari 2500 megawatt (MW) menjadi 40.000 MW. Hampir tiga perempat kapasitas instalasi energi angin kini berada di Eropa. Sekarang energi ini telah memenuhi kebutuhan listrik 35 juta rumah tangga Eropa.

Belanda memang menghadapi masalah berkepanjangan dengan air. Jika dulu air menggenangi 70% daratan Belanda, sekarang negara ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Di tahun 1850, angka kematian akibat penyakit yang disebabkan kurangnya ketersediaan air bersih (thypoid dan kolera) sangat tinggi. Seiring dibangunnya pengelolaan air bersih, angka kematian tersebut menurun. Hanya saja ketersediaan air tanah di Belanda tidak cukup untuk memebuhi kebutuhan seluruh masyarakatnya.

Beruntunglah Belanda memiliki universitas teknik ternama, TU Delft, yang menciptakan kincir untuk mendestilasi air laut menjadi air yang layak minum. Dengan rangkaian osmosis sederhana, ditambah bantuan angin dan listrik dari kincir, maka setiap rumah di Belanda dapat memasang sendiri kincir ini di halaman rumah mereka dan tidak perlu khawatir kekurangan pasokan air bersih.
 Konsep sederhana dari kincir angin untuk destilasi air laut TU Delft. Gambar diambil disini.

Belanda juga pasti bangga memiliki perusahaan sebrilian Dutch Rainmaker. Perusahaan ini memang mendedikasikan dirinya untuk mencari konsep baru untuk memproduksi air bersih. Baru-baru ini, Dutch Rainmaker membuat terobosan baru: kincir angin sebagai teknologi yang mengubah udara menjadi air minum. Disini turbin angin secara langsung menggerakkan sistem kompresor berpendingin. Udara yang masuk didinginkan di dalam sistem tersebut hingga air dalam udara terkondensasi. Air hasil kondensasi kemudian dikumpulkan dan dapat digunakan sebagai air minum. Udara selalu mengantung sejumlah air sehingga teknologi ini dapat digunakan di seluruh belahan dunia yang menghadapi kirisi air seperti yang dialami Belanda.


Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin sedikit terlambat untuk mengadaptasi teknologi kincir angin sekarang. Di saat Belanda sudah berlari dengan turbin anginnya, kita masih merangkak menyusun rencana pembuatan kincir angin di sepanjang wilayah pantai Surabaya. Negara ini baru memikirkan sejumlah inovasi energi terbarukan ketika bumi makin sekarat. Selama ini kita memang terlena dengan sumber daya alam yang melimpah tanpa pernah memikirkan cara melestarikannya dan apa yang harus dilakukan ketika sumber daya tersebut habis. Tidak pernah terlintas pemikiran untuk menggunakan inovasi energi terbarukan sebagai tenaga cadangan di masa mendatang.

Indonesia bisa, sangat bisa untuk mengadaptasi teknologi kincir. Beberapa proposal dari daerah juga sudah dibuat dan dipublikasikan. Namun entah mengapa hanya sedikit yang terealisasi sisanya hanya berupa wacana. Satu contoh penggunaan teknologi kincir di Indonesia dapat dilihat di Desa Joho, Nganjuk, Jawa Timur. Air minum merupakan benda langka di desa ini, untuk mendapatkannya penduduk harus menuruni tebing sejauh 2 KM lebih. Desa Joho memang terletak di lereng pegunungan sementara sumber air cenderung berada di daratan yang lebih rendah. Awalnya air diperoleh menggunakan sumur bor, kemudian tenaga  angin yang tertangkap baling-baling kincir berfungsi untuk menggerakkan piston pengungkit pompa air. Air kemudian ditampung di hidran umum dan disalurkan ke masyarakat menggunakan pipa jaringan.

Memang teknologi yang digunakan masih sederhana, air yang diperoleh juga hanya dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Joho. Tetapi, bukankah tujuan utama Belanda menggunakan Kincir adalah untuk mengeringkan lahan mereka, dan di kemudian hari kebutuhan tersebut bertambah disertai dengan pengembangan teknologi kincir angin. Mungkin langkah kecil yang dilakukan masyarakat Desa Joho dapat menginspirasi masyarakat lain dan pemerintah untuk terus mengembangkan teknologi ini. Tidak apa berjalan perlahan dan tertatih-tatih, yang penting kita tetap berupaya untuk mencari inovasi sumber energi untuk kelangsungan hidup bersama dan untuk menjaga kelestarian bumi ini.

Pustaka:

Sabtu, 17 April 2010

Menang Itu Bonus


Jumat malam di chat room Yahoo Messenger ditemani siaran langsung Indonesian Idol.

Saya: Congratz ya keterima d Melbourne univ. Ikut seneng dengernya. tapi jadi sedih pas baca km bakal berangkat akhir mei ini. Well, all the best for you. Saya cuma bisa bantu doa.

Teman: Iyah makasih cha

Saya: Idol?

Teman: Oh iya, malem ini yah? 
Ica udah belom?

Saya: Huuu...ica mulu.

Teman: Hehe...abis suaranya bagus.

Pengen banget ikut ini.
Tapi takuuuuuttt. 

Teman: Ikut aja lagi.

Saya: Takut.

Teman: ikut juga toh gak didenda kan kalo gak menang?

Saya: Takuuuutt...
Soalnya itu akan menjadi tolak ukur pribadi

Teman: Oh Ok, selamat takut :)

Saya: Pengen nangis rasanya.
Kesel sama diri sendiri.
Padahal tangan gw udah gatel bgt pengen nulis.
Tapi selalu jiper saat baca tulisan peserta laen.

Teman: Write ur own.
Kenapa tulisan orang lain yang jadi acuan.
Every body has their own style.
And to me, ur writing is easy to read and fun to read.

Saya: Sampe sekarang belum dapet ide segar untuk ikutan kompetisi itu.
Otak gw rasanya mentok.
Makanya gw kesel.
Buntu banget.
Rasanya gw bego banget sampe sekarang belum nemu tema besarnya.

Teman: Jangan paksa nulis kalo emang lagi gak mood.
U have time.
Take time to think.

(Jeda sejenak, saya tidak tahu harus berkata apa).

Teman: dont let others intimidate you

Saya: They are already intimidate me

(Jeda lagi, saya bingung harus berkata apa lagi untuk menjelaskan keadaan saya).

Saya: Temen kuliah gw ada yg ikutan juga.
Postingannya full in English.
Jipeeeeeeeeerrrrrrrr.....

Teman: Hehe...kalo mikir kaya gitu ya gak usah daftar aja.
Kalo seseorang udah takut duluan, gua yakin orang itu gak akan menang.
I would prefer a stupid person who give a shot
than a smart person but do nothing
banyak yang nanya ke gw Cha
"Kok bisa dapet beasiswa sih"
gw cuma punya satu jawaban: karena gw daftar
sama
coba deh tanya pemenangnya: dulu pernah jiper ga??
pasti mereka bilang iya
cuman masalahnya: mereka tidak menjadikan jiper itu sebagai alasan untuk tidak mendaftar.

(Hegh...saya merasa tertohok dengan semua kata-kata yang bermunculan di chat room dan mau tidak mau menjadi panas dan tertantang untuk membuktikan kepada orang yang berada di ruang chat room yang sama ini kalau saya bisa).

Saya: Uufff...
Baiklaaaahhh...
Gw akan ikut KompetiBlog 2010

Teman: Good....
First step is done *yessssssssssss*

Saya: Untuk membuktikan kepada **** bahwa saya bukan seorang pengecut

Teman: nope to me dear
but to yourself.

(Ya, untuk saya dan untuk membuktikan sama kamu juga kalau saya bisa.......)

Saya: bahwa gw punya keberanian untuk mengejar mimpi2 gw

Teman: yeah
You rock
maksudnya rossa pake rok

Saya: hahahaha....

Teman: gitu dong
jangan down duluan.

Saya: gw yakiiiiiiiiiiiinnnnnnnn...
gw bisa bikin tulisan yang bagus
menang itu bonus
yang penting gw udah menantang diri gw sendiri untuk maju lebih jauh

Teman: u learn from experience
gw jiper cha pas tau siapa aja yang dipanggil untuk wawancara beasiswa ini

Saya: but u did it

Teman: yup
coz I dont wanna that feeling block my way
I start to think that I am not an ordinary person 
I am an extra ordinary one
(but not in arrogant way yah)
I know I have something that distinguish me from anybody else

Saya: did I already wrote bout ur extra ordinary in my post?
I know u are an extraordinary one.

k_matari9 offline.


Dan sebelum beranjak tidur setelah menonton Idol (mungkin lebih tepat mendengar idol, karena saya tidak melepaskan tatapan ini sedikitpun dari layar laptop), saya pun mendaftarkan diri untuk ikut kompetisi ini. Menang itu bonus, yang penting saya berani untuk menerima tantangan, dan belajar lebih banyak lagi dari setiap hal yang akan terjadi dari tantangan yang telah kita ambil.

PS: semoga percakapan ini dapat menginspirasi kalian yang mengalami hal yang sama seperti saya. 
Just give it a shot, like he (and I) say :) 

Untuk kamu: terimakasih atas 'pencerahan' dan semangat yang langsung menular seketika ;)