|
|
total ping |
|---|
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 September 2009
Seruan Pontianak
Kami prihatin dengan ketegangan belakangan ini, antara beberapa warga Kalimantan Barat. Sengketa kecil antar perseorangan, dari soal mobil tergores, parkir motor, sekaleng cat hingga pembelaan perempuan, berujung perkelahian besar.Kami sadar Kalimantan Barat adalah kawasan rawan kekerasan. Perubahan sosial besar-besaran, sejak penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia,
Labels:
Nasionalisme
Warga Pontianak Bicara soal Kekerasan di Kalimantan Barat
PONTIANAK Lebih dari 60 aktivis, sarjana, wartawan serta tokoh agama Pontianak menerbitkan sebuah iklan satu halaman di harian Pontianak Post, Tribune Pontianak dan Borneo Tribune Senin pagi ini. Mereka menyerukan kepada warga Kalimantan Barat agar berhati-hati melihat pertengkaran antar perseorangan. Warga sebaiknya tak membawa pertengkaran menjadi persoalan etnik, adat atau agama. Mereka
Labels:
Nasionalisme
Jumat, 24 Juli 2009
Dari Sabang Sampai Merauke
Muzakkir Abdullah, an Acehnese peasant of hamlet Seumirah, Nisam, was found dead in June 2003. Several Indonesian soldiers abducted him earlier that day. His sisters found his dead body. Indonesian military commander Major Gen. Bambang Darmono kicked Reuters photographer Tarmizy Harva, who took this photo, out of Aceh. But who killed Muzzakir?Sebuah Kuburan, Sebuah NamaJames Richardson Logan
Labels:
Nasionalisme
Jumat, 19 Oktober 2007
Saya dalam 15.840 Jam
Oleh SUADI SULAIMANKisah anak muda yang bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka, hampir menewaskan kawan sendiri, dan dituduh mengidap AIDS.DI HUTAN, saat istirahat, kadang-kadang saya menulis catatan harian. Saya ingin mengabadikan banyak peristiwa penting selama perang. Suatu hari catatan ini mungkin berguna bagi anak cucu, pikir saya. Meskipun sebagian orang menganggap menulis catatan harian
Labels:
Nasionalisme
Sebuah Bahasa, Sebuah Komunitas
Oleh LINDA CHRISTANTYPERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.SAYA menjadi akrab dengan Sumpah Pemuda, karena upacara-upacara bendera yang dilaksanakan
Labels:
Nasionalisme
Minggu, 14 Oktober 2007
Polemik Sejarah Pers Indonesia
Kapan hari jadi pers Indonesia? Sebagian orang mempertanyakan kriteria "pers Indonesia," atau kalau pun mau aman, lebih tepat disebut "pers di Indonesia." Ini bisa dimulai oleh surat kabar Bataviasche Nouvelles, yang terbit 1744-1746, di kota Batavia, Pulau Jawa. Kemungkinan besar Bataviasche Nouvelles adalah suratkabar pertama yang terbit di Pulau Jawa zaman Hindia Belanda. Pulau Jawa hari ini
Labels:
Journalism,
Nasionalisme
Jumat, 12 Oktober 2007
Pers, Sejarah dan Rasialisme
Oleh Andreas HarsonoKALAU Anda memperhatikan harian Jurnal Nasional di Jakarta, Anda takkan sulit melihat sebuah logo “Seabad Pers Nasional” di halaman depan. Di dalamnya, Anda akan menemukan logo serupa dan sebuah kolom. Ia setiap hari menyajikan satu sosok organisasi media. Proyek ini diasuh oleh Taufik Rahzen, seorang penasehat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, redaktur senior Jurnal Nasional
Labels:
Journalism,
Nasionalisme
Sabtu, 06 Oktober 2007
Hari (Jadi) Pers Nasional: Meremehkan Peran Surat Kabar Lain
OLEH SURYADITulisan Nasrul Azwar di kolom Padang Ekspres ("Sejarah Pers Sumbar Dialih Orang Lalu" 17-12-2007) menarik perhatian kita karena beberapa kritik yang dilontarkannya, yang selama ini tidak pernah mendapat perhatian kalangan peneliti dan masyarakat pada umumnya. Nasrul menanggapi pernyataan Taufik Rahzen di harian Jurnal Nasional bahwa tahun 2007 adalah peringatan seabad usia pers
Labels:
Journalism,
Nasionalisme
Rabu, 09 Mei 2007
Struktur Federasi Indonesia
Sejak jadi reporter kurcaci pada 1991, saya sering mewawancarai Rahman Tolleng dari Forum Demokrasi. Isunya macam-macam tapi selalu soal politik. Saya perhatikan banyak sekali ramalam dan analisis dia benar. Lama-kelamaan saya dekat dengan "Pak Rahman" maupun kawan-kawannya: Abdurrahman Wahid, Marsillam Simanjuntak dll.Rahman orang Bugis yang kuliah di Bandung pada 1960an. Dia mulai terlibat
Labels:
Nasionalisme
Rabu, 25 April 2007
Nasionalisme dan Jurnalisme
Dear Zen dan Firman,Saya kira argumentasi saya hanya satu. Intinya, jurnalisme itu tak elok bila diupayakan kawin dengan nasionalisme. Tujuan jurnalisme adalah mencari kebenaran. Sedang tujuan nasionalisme adalah menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. Hubungan antar masyarakat dunia hari ini resminya diatur berdasarkan prinsip nation-state.Tujuan jurnalisme karenanya sering bertabrakan dengan
Labels:
Nasionalisme
Selasa, 24 April 2007
Nasionalisme dan Jurnalisme
Untuk Zen di Jogja dan Udin di Semarang,Saya lagi jenuh menghadapi penulisan satu sub bab buku saya, From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, khusus tentang intisari kejahatan Presiden Suharto. Ternyata cukup emosional juga untuk merangkum semua kejahatan Suharto. Dampak kerusakannya besar sekali. Hingga hari ini, tentu saja, kerusakan yang ditimbulkan Suharto masih
Labels:
Nasionalisme
Senin, 23 April 2007
Nasionalisme dan Jurnalisme
Dear Zen Rahmat Sugito,Saya pernah bicara dengan Pramoedya Ananta Toer soal jurnalisme dan nasionalisme. Saya kira ini dua isu dengan domain beda. Dua domain ini sangat luas dan never ending. Ia bukan dua isu yang compatible, yang seakan-akan bisa disatukan. Pramoedya setuju. Kalau dia menyebut Tirto sebagai seorang pemula, ia melakukannya dalam konteks Tirto sebagai seorang aktivis nasionalisme.
Labels:
Nasionalisme
Langganan:
Postingan (Atom)