total ping

Tampilkan postingan dengan label SCI-FI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCI-FI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

REVIEW: TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON
























"Remember this: you may lose your faith in us but never in yourselves."

BOO! Another Transformers movie.. Jujur, saya tidak terlalu bersemangat untuk menonton film ini karena film keduanya Transformers: Revenge of the Fallen (2009) sangat amat mengecewakan bagi saya. Film pertama Transformers (2007) menurut saya lumayan bagus dan tentu saja membuahkan ekspektasi yang tinggi pada film lanjutannya, akan tetapi Michael Bay mengecewakan saya dan juga para penggemar lainnya. Transformers 2 tidak berhasil dalam setiap sisi yang disajikan, setuju?! Maka ketika film ketiga ini muncul saya tidak menaruh ekspektasi apapun, apalagi Megan Fox yang sudah jadi 'icon' Transformers kini juga sudah digantikan dengan karakter baru yang diperankan model sexy Victoria's Secret, Rosie Huntington-Whiteley.

Tidak disangka, saya puas sekali dengan Transformers: Dark of the Moon. Michael Bay memang harus menggarap seperti ini. Ini lah yang diharapkan para penggemar Transformers, well at least saya pribadi berfikir demikian. Tapi saya juga harus mengatakan kalau anda mengharapkan akting yang luar biasa, plot fantastis, atau pendalaman pada tiap karakter mungkin anda akan kecewa. Ini Transformers! Entertaining movie! For me, this one is very entertaining. Saya beruntung bisa menyaksikan lebih awal pada media screening hari Minggu kemari di Senayan City XXI, 3D pula. Puas sekali. Saya keluar bioskop dengan decak kagum pada visual effects-nya yang luar biasa bagus didukung dengan adegan-adegan slow motion yang keren! This is what a Transformers movie should be!

Plot kurang lebih masih berlanjut dari dua film sebelumnya, Autobots dan Decepticons masih berperang melawan satu sama lain. Harapan satu-satunya berada di tangan jagoan kita, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang sekarang bersama pacar baru yang -woohoo- tidak kalah hot dari pacar sebelumnya, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Film dimulai dengan adegan tahun 1960-an dimana ternyata pada masa itu pesawat Autobot pernah kecelakan dan terdampar di bulan. Program Apollo 11 berhasil menemukan pesawat tersebut dan membawa beberapa sample ke bumi dan hal ini tentu saja dirahasiakan dengan sangat ketat. Lalu disisi lain Sam sedang frustasi karena tidak mempunyai pekerjaan. Apalagi pacarnya yang cantik bekerja di showroom mobil antik milik pengusaha tampan dan kaya raya, Dylan (Patrick Dempsey). Selanjutnya dimulai lah adegan-adegan aksi antara Decepticons yang ternyata mencari sisa-sisa pilar yang dulu berada di pesawat Autobot tersebut. Dengan pilar-pilar itu mereka bisa membawa seluruh isi planet Cybertron ke Bumi.

Mulai dari pertengahan film hingga akhir kita akan melihat peperangan special effects yang luar biasa keren. Special Effects dalam film ini merupakan yang terkeren diantara ketiganya. Trust me! Bay juga banyak menyelipkan dialog dan adegan lucu kali ini sehingga membuat penonton tidak merasa bosan melihat peperangan yang terus menerus. Akting Shia LaBeouf rasanya juga lebih total kali ini, namun sayang chemistry antara dirinya dan sang model Victoria's Secret kurang terjalin dengan baik. Hmm..akting Rosie Huntington-Whiteley memang terasa kaku, tapi apa yang anda harapkan dari seorang model lingerie yang baru pertama kali bermain film? Positifnya, saya rasa Rosie cukup berhasil menggantikan posisi Megan Fox dalam film ini. Lagipula kualitas akting Megan Fox juga tidak bagus-bagus amat. Sama-sama cuma bermodalkan wajah cantik dan tubuh sexy saja, lumayan lah daripada para pria melihat robot terus. :p

Intinya, jangan mengharapkan plot yang bagus dari film ini. Seperti yang semua orang tahu jagoan pada akhirnya pasti menang. Nikmati saja sajian special effects yang ada. Sangat jauh lebih baik dibanding film keduanya yang super sucks. Saran saya, tidak perlu juga menonton versi 3D karena tidak terlalu berasa juga. I think 2D is fine. Ribet juga soalnya pakai kacamata 3D, kepala koq rasanya malah pusing. Haha.. Menurut saya Michael Bay cukup berhasil kali ini dengan Transformers 3, at least adegan peperangan Autobots dan Decepticons asik sekali untuk dinikmati. Selipan humor didalamnya beberapa juga mengundang tawa. Jajaran cast juga asik, apalagi ditambah dengan kehadiran dua pemain peraih Oscar; Frances McDormand dan John Malkovich yang semakin meramaikan suasana. Overall, film ini menghibur koq meskipun durasinya lumayan panjang sekitar 157menit, the longest of the three! :)






Rabu, 20 Juli 2011

REVIEW: X-MEN FIRST CLASS
























"Before he was Professor X, he was Charles. Before he was Magneto, he was Erik."

X-Men First Class adalah awal dari semua film X-Men yang ada. Film ini digarap oleh sutradara terbaru favorit saya, Matthew Vaughn! Ini dia calon sutradara yang genius! Walau baru menyutradai empat judul film, tapi semuanya bagus. Kick-Ass (2010) tahun lalu menjadi salah satu film favorit saya. I really loveee that movie! Begitu tau kalau Vaughn yang menyutradarai X-Men dalam versi quasi-reboot (setengah reboot dan setengah prequel), tidak heran kalau saya langsung menaruh ekspektasi yang tinggi. Menunggu dan berharap kalau film ini akan tayang di Indonesia, namun sayang sekali tidak terwujud. Padahal saya sudah membayangkan akan melihat James McAvoy di layar lebar. Arghh! Sekarang saya dan para pecinta film lainnya harus berterima kasih kepada koneksi internet yang cepat dan dvd bajakan yang bikin kita tetap bisa menonton film-film terbaru Hollywood. Nanti kalau dvd original film ini sudah keluar pasti saya beli untuk masuk kedalam koleksi-koleksi saya.

Film ini bercerita tentang Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Leshnerr (Michael Fassbender) saat masih muda. Mereka adalah dua orang mutant yang memiliki kehidupan berbeda. Masa lalu Erik kelam, ketika ia masih kecil ibunya dibunuh didepan matanya oleh Sebastian Shaw (Kevin Bacon) guna memaksa Erik mengeluarkan kekuatan uniknya dalam mengendalikan besi. Erik tumbuh dalam suasana hati yang penuh amarah dan dendam pada Shaw. Berbeda dengan Charles sang telepatis yang tumbuh dengan baik di sebuah rumah besar, pada saat masih kecil ia bertemu dengan Raven (Jennifer Lawrence), seorang mutant yang bisa berubah-rubah bentuk. Mereka tumbuh bersama layaknya kakak beradik.

Setelah Charles menyandang gelar sebagai professor dalam bidang gen manusia, seorang detektif CIA bernama Moira (Rose Byrne) datang mencarinya dan meminta bantuannya mengungkap keanehan yang baru saja terjadi. Ternyata dalang dari masalah ini adalah Shaw, ia ingin mengaktifkan nuklir dan membuat peperangan terjadi. Dari misi ini Charles berkenalan dengan Erik yang sedang ingin membalas dendam pada Shaw. Mereka pun akhirnya akrab dan menjadi teman yang saling menolong. Para mutant muda pun dikumpulkan agar misi ini berjalan dengan sukses, karena Shaw juga didukung oleh para mutant hebat seperti Emma Frost (January Jones) dan Azazel (Jason Flemyng). Lalu mutant-mutant muda ini dilatih agar kekuatan mereka maksimal. Masing-masing juga mencari nama mutant yang cocok. Charles - Professor X, Erik - Magneto, Raven - Mystique, Hank – Beast (Nicholas Hoult), dan lain-lain.

Seru sekali rasanya melihat awal mula X-Men terbentuk. Kita bisa melihat bahwa ternyata sebelum menjadi musuh bebuyutan, Professor X dan Magneto dulunya bersahabat. Saya sudah menonton keempat film sebelumnya dan saya bisa mengatakan kalau X-Men First Class adalah yang terbaik diantara semua. Tidak mudah membuat sebuah reboot, apalagi dalam film besar yang memiliki fanbase dimana-mana seperti X-Men. Tetapi Matthew Vaughn canggih sekali meramu First Class menjadi tontonan 'first class'. Meskipun semua pemainnya bukanlah para pemain lawas X-Men seperti Hugh Jackman, Patrick Stewart, Ian McKellen, Halle Berry, dan Anna Paquin, namun X-Men First Class malah terasa lebih fresh dengan kehadiran pemeran baru yang menurut saya sangat pas dengan karakter yang diperankan. Pemilihan James McAvoy sebagai Professor X dan Michael Fassbender sebagai Magneto muda benar-benar sebuah keputusan yang sempurna. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain lagi yang bisa berperan sebagus dan secocok mereka.

Terus terang saya menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini. Namun siapa sangka kalau X-Men First Class berhasil melaju jauh melampaui ekspektasi saya. Film ini sangat menghibur dan seru! Sayang sekali kita tidak bisa menyaksikan di layar lebar, padahal entertaining movie seperti ini paling pas kalau disaksikan di bioskop. Gaya Vaughn dengan tempo cepat namun alur yang jelas serta selipan humor di sela film sangat asik untuk ditonton. Bahkan bagi yang belum pernah menonton film X-Men sebelumnya saya yakin juga pasti bisa sangat menikmati. Film yang memiliki durasi sekitar 132menit ini sama sekali tidak terasa panjang, mungkin karena saya terlalu excited! Haha.. Ohh yaa..kehadiran Hugh Jackman sebagai cameo dalam film ini lumayan konyol dan mengundang tawa! Saya sudah pasti tidak sabar menunggu film-film Matthew Vaughn selanjutnya. Two tumbs up!






Selasa, 07 Juni 2011

REVIEW: LIMITLESS
























“They say we can only access 20% of our brain. This lets you access all of it.”

Limitless ini diangkat dari sebuah novel berjudul ‘The Dark Fields’ karangan seorang penulis asal Irlandia bernama Alan Glynn. Ide cerita yang ditulis Alan ini menurut saya betul-betul menarik. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, namun film yang disutradarai oleh Neil Burger (The Illusionist) ini semenarik ide ceritanya. Terlebih pilihan Bradley Cooper sebagai pemeran utama yang terlihat sangat cocok sekali dan semakin member daya tarik khusus bagi film ini. Pengemasan filmnya sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa, namun harus diakui kalau Limitless memang sangat menghibur dan kembali lagi ke yang saya tuliskan di awal, ide ceritanya juara. Sebuah pil yang bisa membuat kita mengakses otak kita secara optimal, wow, siapa yang tidak mau NZT?

Eddie Morra (Bradley Cooper) adalah seorang penulis asal New York. Ia bukanlah seorang penulis hebat dan mempunyai buku ‘best seller’, Eddie tinggal di sebuah kamar sewaan yang amat berantakan, Ia bahkan belum menuliskan sepatah kata pun untuk buku yang ingin diselesaikannya. Naasnya lagi, Ia juga baru saja diputus oleh sang pacar, Lindy (Abbie Cornish), yang bekerja sebagai seorang editor. Lindy merasa hidup Eddie sudah terlalu berantakan, apalagi Eddie tidak mempunyai penghasilan sama sekali berhubung bukunya tak kunjung selesai. Hidupnya yang berantakan itu juga tercermin dalam penampilan Eddie sehari-hari; rambut gondrong tidak beraturan, gaya pakaian asal-asalan, wajah kusam.

Suatu hari Eddie secara tidak sengaja bertemu dengan mantan adik iparnya dulu, Vernon (Johnny Whitworth). Mereka duduk santai sambil mengobrol dan Eddie menceritakan tentang kebuntuan ide yang sedang dialaminya. Vernon lalu menawarinya sebuah obat bernama NZT yang ia sebut bisa membuat otak manusia yang tadinya hanya bekerja 20% menjadi 100%. Eddie awalnya menolak, namun karena tahu sebutir obat tersebut harganya mahal dan juga ada rasa penasaran, Ia akhirnya meminum obat tersebut. Sesaat setelah meminum NZT, BAMMM – Eddie langsung merasa menjadi pintar seketika. Bahkan bisa dikatakan genius. Semua yang ia pelajari dapat dengan cepat dikuasai, Eddie betul-betul merasa kalau pengetahuannya menjadi tidak terbatas.

Kegeniusan Eddie membuat berita dengan cepat menyebar, sampai akhirnya seorang pengusaha besar Carl Van Loon (Robert De Niro) mengundang Eddie untuk bertemu dan berniat ingin menjadikannya sebagai asisten guna meraih uang yang lebih banyak lagi. Kehidupan Eddie menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya; Ia membeli apartemen mewah, mendapatkan Lindy kembali, bahkan menggadakan uangnya terasa sangat mudah dalam bidang pasar modal dengan kegeniusannya itu. Namun disaat semua terasa sangat sempurna bagi Eddie, ia mulai merasakan efek samping yang mematikan dari NZT. Belum lagi banyak orang yang ingin merebut NZT dari tangannya.

Bradley Cooper adalah bintang yang bersinar dalam Limitless. Ia berhasil berperan sebagai Eddie Mora yang urakan, jobless, uring-uringan, Ia juga sangat berhasil memerankan Eddie Mora yang rapi, sukses, genius. Transformasi tersebut diekspresikan oleh Bradley Cooper dengan luar biasa meyakinkan; penonton bisa merasakan rasa percaya diri yang seketika datang dalam diri Eddie ketika ia meminum NZT. Bravo, Bradley! Kehadiran Robert De Niro dan Abbie Cornish juga terasa pas sekali. Kehadiran Limitless membuat kita lega karena masih bisa menonton film bagus dan menghibur di layar lebar Indonesia. Dengan ide cerita dan dialog yang pintar, Limitless tentu saja masuk daftar ‘must-watch’ anda.





Kamis, 02 Juni 2011

REVIEW: SOURCE CODE
























“What would you do if you knew you only had one minute to live?”

Setelah istirahat lumayan lama dari kegiatan menulis review di blog dan juga setelah ‘melarikan diri’ selama tiga minggu ke luar kota, akhirnya nafsu menulis saya kembali datang. Bioskop kita memang belum menayangkan film-film Hollywood yang masuk kedalam MPAA, akan tetapi kehadiran Source Code memang seperti angin sejuk dikala film-film kuntilanak berterbaran di layar lebar. Kemalasan meng-update blog sebetulnya juga dikarenakan kekesalan saya dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, semestinya sekarang bioskop lagi ramai dengan antrian sekuel Pirates of the Caribbean, Kung Fu Panda 2, dan The Hangover 2! Belum lagi film-film bagus yang sudah begitu saja terlewatkan seperti I am Number Four dan Fast Five! Saya hanya berharap masalah tersebut bisa cepat mendapatkan jalan keluar supaya kita bisa menonton film yang fresh from the oven lagi. Btw, review Source Code saya kali ini memang lumayan telat, tapi better late than never, right?

Source Code disutradarai oleh Duncan Jones yang sukses dengan debut film indie-nya pada tahun 2009, Moon. Duncan Jones yang juga adalah anak dari musisi terkenal David Bowie sepertinya kali ini kian memantapkan langkahnya sebagai sutradara Hollywood dengan karya terbarunya di tahun 2011. Sepertinya Jones merupakan penggemar berat genre science fiction, karena tidak berbeda dengan film terdahulunya, Source Code juga kurang lebih berada di genre yang sama. Bermodalkan Jake Gylenhaal dan Vera Farmiga yang bermain sangat baik dari film ini, Source Code menjadi sebuah film yang sudah pasti tidak akan membuat para penikmat film sci-fi kecewa.

Kapten Colter Stevens (Jake Gylenhaal) adalah seorang pilot helicopter Angkatan Darat AS yang sedang ditugaskan ke Afganistan. Namun tiba-tiba ia terbangun dan menemukan bahwa dirinya telah menjadi bagian dari percobaan yang dilakukan pemerintah. Ia diminta untuk menyisihkan dulu kebingungannya guna melayani negara dan membantu mencegah bencana. Sebuah bom telah meledak pada pagi itu pada kereta di Chicago dan pembom telah mengancam akan meledakkan bom yang lebih besar lagi di jantung kota. Tidak ada petunjuk siapa yang berada di belakang aksi terorisme ini, sehingga proyek baru dan rahasia yang diberi nama ‘Source Code’ akhirnya diaktifkan.

‘Source Code’ adalah sebuah program yang memungkinkan subjek tes untuk berada pada delapan menit terakhir di kehidupan orang tertentu. Teorinya adalah bahwa setiap orang yang baru meninggal masih memiliki memori jangka pendek yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dalam siklus delapan menit terakhir sebelum kematiannya. Program ini memungkinkan subjek tes untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitar objek, namun itu semua bukanlah realita, bukan juga bayangan, semua terasa nyata ketika dijalani, hanya saja apapun yang terjadi dalam ‘Source Code’ tetap tidak dapat mempengaruhi masa lalu ataupun masa sekarang, subjek tes hanya dapat mencari informasi yang dibutuhkan.

Saya menyukai film ini, akan tetapi memang ada beberapa hal yang terasa kurang logic. Film ini juga tidak menjabarkan secara detail tentang sistem ‘Source Code’ yang dijalankan, mungkin saja itu adalah pilihan terbaik daripada malah membuat penonton pusing nantinya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan tentang logic atau tidaknya film ini, yang pasti nilai orisinalitas menjadi poin utama. Ending film ini juga berhasil membuat penonton bertanya-tanya. Sutradara Duncan Jones sepertinya akan menjadi calon sutradara jenius Hollywood selanjutnya, kita tunggu saja proyek Jones selanjutnya. Begitu juga dengan Jake Gylenhaal yang lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam dalam filmnya kali ini, setelah terakhir ia juga bermain sangat baik dalam Love and Other Drugs (2010). Apalagi dapat bonus penampilan Jake yang good-looking! Overall, Source Code sayang untuk dilewatkan begitu saja. Simply recommended!





Minggu, 19 Desember 2010

REVIEW: TRON: LEGACY 3D
























"The Grid. A digital frontier. Ships, motorcycles. With the circuit like freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see."

TRON: Legacy is a good movie, but not a great one. Biar bagaimana pun saya harus mengakui kalau film ini sangat menghibur dari segi visual efek yang ditawarkan, namun di sisi lain plot ceritanya sangat dangkal. TRON: Legacy adalah sekuel dari sebuah film live-action produksi Disney yang kurang sukses pada tahun 1982 berjudul Tron. Film tersebut mendapatkan hasil Box-Office yang mengecewakan. Peruntungan kembali dicoba dalam sekuel terbaru ini yang tentunya memboyong teknologi visual yang lebih canggih, sepertinya kali ini TRON: Legacy berhasil mencapai angka yang lumayan, buktinya film ini berhasil menduduki peringkat satu dalam tangga Box-Office minggu ini. Terus terang, TRON: Legacy memang masuk ke dalam list 'most anticipated movie 2010' saya, trailernya yang keren pasti membuat semua orang yang melihat menjadi penasaran dan menaruh ekspektasi tinggi, terlebih pada versi 3D-nya. Entah apa karena ekspektasi yang terlalu tinggi, saya merasa kurang puas menonton versi 3D film ini. Tidak ada efek-efek 3D yang 'luar biasa', saya rasa menonton 2D saja sudah cukup keren karena memang setting dalam filmnya sudah dibuat sedemikian futuristik.

Film dibuka pada tahun 1989 dimana kita dikenalkan dulu kepada Sam Flynn, anak dari Kevin Flynn (Jeff Bridges); seorang pemilik perusahaan software komputer: Encom. Tiba-tiba Kevin menghilang dan Sam pun sedih ditinggal sang ayah. Dua puluh tahun telah berlalu, Sam (Garrett Hedlund) yang tadinya diasuh kakek dan neneknya sekarang sudah tinggal sendiri, dengan sisi financial berkecukupan, memiliki motor keren, dan tempat berteduh dengan pemandangan yang indah. Suatu hari kolega sang ayah mendatangi Sam dan berkata kalau ia mendapat pesan dari Kevin pada pager yang ia miliki. Sam pun mendatangi kantor lama ayahnya dan secara tidak sengaja ia tersedot dan masuk kedalam dunia digital hasil ciptaan sang ayah, The Grid. Kebingungan dan tidak tahu apa yang sedang dialaminya, Sam kemudian dipertemukan dengan sosok sang ayah yang masih tetap muda, tidak berubah sama sekali semenjak dua puluh tahun yang lalu. Tapi di sisi lain dalam The Grid, Sam juga bertemu sosok ayahnya yang sudah menua. Ternyata sang ayah juga menciptakan kloning dirinya, dan 'kembarannya' tersebut terlalu mengejar kesempurnaan sehingga bertindak semena-mena. Sam dan Kevin, ditemani Quorra (Olivia Wilde), bersama-sama menuju portal untuk kembali ke dunia manusia dengan waktu yang terbatas. Tentu saja mereka harus melewati dulu halangan dari Clu (kloningan Kevin Flynn) dan anak buahnya.

Kelemahan paling parah dari TRON: Legacy adalah plot dan dialog. Sedangkan nilai lebih datang dari segi visual efek dan soundtrack karya Daft Punk yang futuristik sehingga cocok dengan filmnya. Akting Garrett Hedlund sebagai pendatang utama di film ini lumayan baik, meskipun belum bisa disejajarkan dengan aktor-aktor muda Hollywood yang lain. Setelah ini Hedlund harus pintar memilih film yang akan dibintanginya agar namanya bisa segera menyusul Shia Labeouf dan lain-lain. Jeff Bridges tentu saja bermain baik, tetapi pada sosok Kevin Flynn muda, saya merasa efeknya terlalu 'lebay' sehingga Jeff Bridges malah terlihat seperti kartun, ohh well... Olivia Wilde juga tidak saya sangka bisa sekeren ini dengan perannya sebagai Quorra. Saya juga senang melihat Michael Sheen sekilas dengan peran uniknya sebagai Zuse. Secara keseluruhan, mungkin TRON: Legacy tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang tinggi, namun menonton film ini dan mendapatkan suguhan efek yang modern dengan diiringi musik Daft Punk rasanya plot cerita dangkal bisa sedikit termaafkan. Jika anda mencari tontonan hiburan yang memang sudah anda ketahui hanya mengandalkan stunning visual effects, then go see this movie! Meskipun secara keseluruhan, saya merasa TRON: Legacy tidak akan tinggal lama dalam ingatan saya. :)






Jumat, 16 Juli 2010

REVIEW: INCEPTION
























Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up we realize that something was actually strange.


Saya bingung harus memulai review ini dengan kalimat apa karena terus terang karya Christopher Nolan kali ini betul-betul jenius. Nolan memang sudah pernah membuat Memento (2000) yang temanya juga mempermainkan pikiran. Tadinya bagi saya Memento sudah merupakan sebuah ide yang jenius sekali, namun kali ini Inception membawa sesuatu yang belum pernah saya tonton sebelumnya; sebuah pengalaman menonton film yang membuat saya berfikir sekaligus tegang dan takjub dari awal hingga akhir. Saya bahkan sulit untuk memindahkan pandangan dari layar bioskop karena memang film ini seperti mempunyai magnet kuat yang membuat saya terkesima. Bukannya mau melebih-lebihkan, akan tetapi Inception rasanya akan menempati posisi nomor 1 dalam daftar film terbaik dan terfavorit versi Jagoan Movies tahun 2010. Kemungkinan ini sudah 95% akan terjadi, kecuali sampai akhir tahun nanti ada film yang lebih gila dari Inception buatan Nolan. Namun sepertinya sulit kalau melihat kandidat-kandidat film yang ada sampai bulan Desember, tidak mudah untuk mengalahkan keistimewaan Inception.

Kali ini saya tidak akan menuliskan plot film ini sama sekali, karena esensi cerita dalam Inception sangat penting. Lebih baik anda tidak tahu terlalu banyak sebelum menonton. Saya sendiri hanya menonton trailer awal Inception, lalu sama sekali tidak mencari tahu lebih detail atau membaca sinopsis sama sekali. Saya hanya tahu kalau Leonardo Dicaprio disini akan berperan sebagai pencuri mimpi. Pencuri mimpi saja kedengarannya sudah sangat keren sekali bukan? Sepertinya para pembaca disini juga hanya perlu mengetahui sampai disini saja apabila belum menonton. Jangan membaca review yang penuh dengan isi film ini karena nantinya akan mengganggu keasikan anda saat menonton. Seperti yang sudah saya tulis diatas kalau Inception bertumpu pada ceritanya yang brilian, jadi the less you know the better. Saran saya, anda jangan terlambat datang ke bioskop, usahakan perhatikan detail cerita dari awal sampai akhir, karena semua berhubungan. Konsentrasi lebih memang diperlukan dalam menonton tipe film seperti ini, anda tidak akan mungkin mengerti film ini kalau misalnya anda menonton sambil sibuk twitter-an atau facebook-an. Saya malah sudah menonton film ini dua kali. :p

Sekarang dengan adanya Inception, saya berani untuk menobatkan Christopher Nolan dengan predikat sebagai seorang sutradara jenius. Inception sudah merupakan sebuah bukti kuat kalau Nolan mampu membuat sebuah karya yang beyond imagination, selebihnya juga tidak kalah hebat; Following (1998), Memento (2000), Insomnia (2002), Batman Begins (2005), The Prestige (2006), dan The Dark Knight (2008). Belum lagi proyek Batman terbaru yang sedang digarapnya dan direncanakan tayang tahun 2012. Dalam Inception, Nolan juga dengan teliti memilih para pemain, hasilnya? Luar biasa! Leonardo DiCaprio, Marion Cottilard, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Ken Watanabe, Tom Hardy, Cillian Murphy; mendengar nama-nama tersebut saja saya sudah menganga dibuatnya. Para pemain tersebut bermain sangat amat baik. Tidak ada yang terlihat lebih menonjol dibanding yang lain, semua bermain pas dengan porsi masing-masing. Ditambah lagi dengan special effects yang tanpa cela dan alunan scoring dari Hans Zimmer yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Beberapa adegan yang tidak bisa saya sebutkan dalam review ini (karena spoilers) benar-benar menempel dalam ingatan! Silahkan menonton dan setelah itu isi kolom komentar kalau ingin sharing tentang pendapat masing-masing. Selamat menikmati sebuah tontonan yang fenomenal! Kalau anda tidak cukup menangkap maksud film ini pada saat pertama menonton, ayo tonton lagi! :)





Kamis, 08 Juli 2010

REVIEW: PREDATORS




























"This planet is a game reserve. And we're the game."

Predators bukanlah sebuah reboot melainkan sekuel dari dua film Predators sebelumnya yang rilis pada tahun 1987 dan 1990. Film ini diproduseri oleh Robert Rodriguez dan disutradarai oleh Nimrod Antal yang pernah menyutradarai beberapa film seperti Kontroll (2003), Vacancy (2007), dan Armored (2009). Saya sendiri bukanlah penggemar film Predators, bahkan saya belum pernah menonton dua film sebelumnya. Mungkin hanya AVP: Alien vs. Predator (2004) yang pernah saya tonton dan seingat saya film tersebut mengecewakan. Kali ini saya tertarik menonton Predators karena ada Adrien Brody didalamnya, saya penasaran ingin melihat aksi Brody. Nama Robert Rodriguez yang duduk di bangku produser juga menjadi salah satu faktor menjanjikan. Akan tetapi ternyata filmnya biasa-biasa saja menurut saya.

Tempo film berjalan sangat cepat, dari awal kita sudah disuguhkan beberapa orang yang tiba-tiba terlempar di sebuah planet asing. Masing-masing dari latar belakang yang berbeda, ada Royce (Adrien Brody); seorang tentara bayaran profesional, Isabelle (Alice Braga); tentara wanita yang baru kembali dari tugasnya di Israel, Nicolai (Oleg Taktarov); seorang tentara asal Rusia dengan senjata paling besar, Doctor Edwin (Topher Grace); seorang dokter, Stans (Walton Goggins); narapidana buronan FBI, Hanzo (Louis Ozawa); yakuza asal Jepang, dan beberapa orang lainnya. Mereka semua tidak tahu kenapa bisa berada di hutan yang belakangan diketahui berada di planet lain, yang mereka ingat hanya mereka tidak sadarkan diri dan sadar ketika sedang terbang dengan parasut dan terjatuh di planet tersebut. Di tengah kebingungan tentang apa yang harus diperbuat di tempat asing itu, makhluk-makhluk pemangsa yang ada disana mulai menampakkan diri, menyerang, dan membunuh mereka satu persatu.

Film dibuka dengan sesuatu yang menjanjikan, sepertinya akan seru sekali. Akan tetapi entah kenapa saya malah merasa bosan ketika masuk ke pertengahan. Tidak ada yang istimewa dari adegan kejar-kejaran dengan para Predators. Adegan actionnya tidak istimewa, cenderung membosankan. Satu-satunya yang menghibur hanya melihat aksi Adrien Brody yang biasanya kalem menjadi brutal di film ini, apalagi melihat perkembangan fisiknya yang lebih macho. Akting Adrien Brody saya acungi dua jempol, ternyata ia juga bisa bermain baik dalam film action. Special efek terbilang baik, karena wajah para predators terlihat lebih nyata. Mungkin plot cerita yang tidak jelas bagi saya yang bukan fans lah yang membuat saya kurang menyukai film ini. Endingnya dibuat menggantung karena masih akan ada lagi sekuel selanjutnya, mudah-mudahan Robert Rodriguez saja yang menggarap sekuelnya. Secara keseluruhan film ini tidak bisa dibilang jelek, pecinta film predators mungkin akan sangat menikmati film ini.





Jumat, 14 Mei 2010

REVIEW: DAYBREAKERS




























"The battle between immortality and humanity is on."

Berlatar belakang tahun 2019, dimana hampir seluruh manusia telah berubah menjadi vampir. Hanya tinggal segilintir manusia aja yang tersisa, mereka pun harus berusaha bertahan hidup dan bersembunyi dari para vampir yang ingin menangkap mereka. Seorang hematologist bernama Edward Dalton (Ethan Hawke) yang juga adalah seorang vampir merasa simpatik kepada manusia dan ia berusaha untuk menemukan obat guna mengembalikan para vampir menjadi manusia. Ia pun ingin kembali menjadi manusia. Akan tetapi di lain pihak, sang pimpinan perusahaan tempat Edward berkerja ingin mengumpulkan darah manusia sebanyak-banyaknya karena persediaan sudah semakin menipis seiring dengan semakin sedikit jumlah manusia yang tersisa. Para vampir harus meminum darah manusia agar dapat bertahan hidup, mereka juga tidak dapat terkena sinar matahari. Suatu hari secara tidak sengaja Edward bertemu dengan manusia bernama Audrey Bennett (Claudia Karvan), Audrey pun lalu mengenalkan Edward kepada Elvis (Willem Dafoe) yang ternyata adalah vampir yang telah berhasil berubah kembali menjadi manusia. Audrey dan Elvis mempercayai Edward karena menurut mereka Edward sepertinya adalah seorang vampir yang baik dan dapat mempergunakan rahasia ini untuk hal yang baik pula.

Menurut saya Daybreakers lumayan menghibur. Mungkin review saya akan sedikit subjektif karena saya memang sangat menyukai Ethan Hawke. Tapi selain unsur Ethan Hawke itu, menurut saya film ini memang lumayan. Banyak bagian dengan score yang berhasil membuat saya kaget. Sebagai sutradara yang bisa dikatakan pendatang baru, The Spierig Brothers berhasil menyajikan sebuah film bertema vampir masa depan dengan baik. Memang belum sempurna, karena menurut saya plot cerita kurang dijelaskan dengan baik. Juga ada beberapa hal konyol yang terbesit dalam pikiran saya seperti nama vampir Edward disini sepertinya terinspirasi dari Edward Cullen (Twilight), apalagi Edward Dalton diceritakan juga tidak mau meminum darah manusia. Namun secara keseluruhan saya merasa tidak rugi menonton film ini. Akting Ethan Hawke pas dengan peran yang dibawakan. Namun menurut saya yang mencuri perhatian adalah salah seorang aktor senior Hollywood, Willem Dafoe. Akting Dafoe disini sangat menghibur. Menurut saya ini juga merupakan salah satu kunci dari film ini, karena kalau tidak ada kehadiran Willem Dafoe mungkin film ini akan langsung gatot alias gagal total. :p





REVIEW: HOT TUB TIME MACHINE




























"It's 80's guys. Let's do what we want to do!"

Hot Tub Time Machine bercerita tentang tiga orang sahabat lama, Adam (John Cusack), Lou (Rob Corddry), dan Nick (Craig Robinson), serta keponakan Adam bernama Jacob (Clark Duke) yang memutuskan untuk mengunjungi tempat resort ski yang dulu sering mereka bertiga kunjungi semasa muda dulu. Di resort itu mereka menemukan sebuah jacuzzi dan dengan ajaibnya mereka lalu tiba-tiba terbawa ke tahun 1986! Dalam kebingungan akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan hal-hal yang sama persis dengan yang telah mereka lakukan dulu. Mereka menganggap kalau hal ini bisa membuat mereka kembali ke tahun 2010. Akan tetapi yang mereka rencanakan itu tidak terlalu sesuai dengan kenyataannya, banyak hal-hal yang berubah selama mereka berada di masa lalu. Mau tidak mau mereka harus berusaha mencari cara agar dapat kembali ke masa sekarang.

Film ini menurut saya berpotensi untuk menjadi sebuah film komedi yang sangat lucu, akan tetapi menurut saya Hot Tub Time Machine memiliki unsur komedi yang biasa-biasa saja. Beberapa bagian mampu membuat saya tertawa namun tidak sampai terbahak-bahak. Akting John Cusack juga terasa tidak maksimal. Beruntung Rob Corddry sedikit mencairkan suasana dengan akting dan karakternya yang nyeleneh. Akan tetapi tetap menyenangkan rasanya melihat suasana 80's dalam film ini, mulai dari setting pemandangan, kostum, gaya rambut, dan hal-hal lainnya yang terkenal pada jaman itu. Mungkin bagi beberapa orang akan terasa seperti nostalgia. Kalau anda ingin tontonan yang sekedar menghibur, silahkan tonton film ini di Blitzmegaplex. Meskipun menurut saya menonton di dvd saja rasanya sudah cukup. :)