total ping

Tampilkan postingan dengan label ANIMATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANIMATION. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Desember 2010

REVIEW: TANGLED 3D




























"I know not who you are, nor how I came to find you, but may I just say... Hi. How you doin'?"


Disney's back with their classic CGI animation! Yayyy! Akhirnya Disney kembali membuat film animasi klasik yang sudah dirindukan banyak orang. Tidak hanya anak kecil saja yang menyukai animasi seperti ini, orang dewasa pun pasti akan terhibur dengan jalan cerita unik, kisah yang manis, lelucon-lelucon lucu, gambar nan indah, serta alunan lagu sepanjang film yang enak didengar. Menurut saya Tangled sukses menyembuhkan kerinduan penonton akan film animasi musikal yang dulu sangat diminati seperti Beauty and the Beast, Cinderella, Snow White, dll. Putri Rapunzel mungkin belum seterkenal Putri Salju, tapi saya yakin karakternya akan gampang disukai anak-anak perempuan. Dengan rambut pirang super panjang, serta wajah cantik dan suara indah, pastinya Putri Rapunzel akan menjadi idola baru.


Pada suatu hari, seorang nenek tua jahat bernama Mother Gothel (Donna Murphy) memiliki tanaman ajaib yang dapat membuatnya tetap terlihat awet muda dan cantik. Namun, tanaman tersebut berhasil ditemukan dan digunakan untuk menyembuhkan sang Ratu dan sihir tersebut meresap ke anaknya yang belum lahir. Gothel lalu mencuri bayi tersebut dan mengangkatnya menjadi anaknya sendiri, memanggilnya dengan nama Rapunzel (Mandy Moore) dan menempatkanya dalam sebuah tempat rahasia dan tidak memperbolehkan Rapunzel meninggalkan tempat tersebut sama sekali. Setiap tahun pada hari ulang tahunnya, orang tua Rapunzel selalu menyalakan lentera dan menerbangkannya ke langit. Rapunzel selalu melihat dari kamarnya dan sangat ingin melihat secara langsung. Pada ulang tahun ke-18, ia meminta izin pada Mother Gothel untuk pergi ke dunia luar, namun tidak diizinkan. Tiba-tiba Flynn Rider (Zachary Levi) tidak sengaja menemukan tempat rahasia Rapunzel saat sedang melarikan diri. Mereka pun berteman dan mempunyai kesepakatan untuk saling membantu satu sama lain sampai akhirnya jatuh cinta.


Sebuah animasi yang sangat baik. Saya menonton versi 3D, akan tetapi menurut saya efek 3D-nya tidak terlalu istimewa. Menonton versi 2D-nya pun rasanya sudah bagus karena memang latar belakang pemandangan dan warna dalam animasi ini indah sekali. Terlebih pada adegan lentera terbang, WOW ~ sangat amat indah! Magical moment! Soundtrack disini juga asik untuk dinikmati apalagi didukung dengan suara Mandy Moore yang merdu. Tangled adalah sebuah animasi yang cocok untuk ditonton anak-anak, tentu saja orang dewasa yang memang menyukai animasi boleh menonton film ini. Beberapa lelucon dan karakter disini; seperti si kuda dan si bunglon, sungguh membuat saya terbahak-bahak. Secara keseluruhan, Disney berhasil membawa kembali nuansa animasi klasik yang sepertinya sekarang sudah mulai terlupakan. Great classic musical animation from Disney! :)






Selasa, 02 November 2010

REVIEW: MEGAMIND 3D
























"Happy Metro Man day, Metro City!"


Setelah sukses besar dengan 'How to Train Your Dragon' pada awal tahun 2010, kali ini DreamWorks Animation kembali dengan animasi terakhirnya pada penghujung tahun ini, Megamind. Menggandeng para komedian yang terkenal untuk mengisi suara pada karakternya seperti Will Ferrell, Tina Fey, dan Jonah Hill. Tidak ketinggalan aktor kawakan, Brad Pitt yang turut menyumbangkan suara meskipun hanya muncul beberapa menit saja. Ada pula suara Ben Stiller dan Justin Theroux yang turut meramaikan animasi ini. Sang sutradara sendiri, Tom McGrath adalah sutradara yang telah berhasil membuat Madagascar (2005) dan Madagascar 2 (2008). Menurut saya Megamind lumayan berhasil untuk jadi tontonan yang menghibur, akan tetapi karena tahun ini era animasi sedang heboh-hebohnya, entah apakah Megamind mampu melekat dengan baik di hati penonton?

Megamind (Will Ferrell) adalah penjahat yang sangat ingin menaklukkan sebuah kota bernama Metro City. Namun sayang, Metro City sudah mempunyai seorang pahlawan super yang dipuja warga yaitu Metro Men (Brad Pitt). Metro Men dan Megamind sudah saling mengenal sejak kecil dan tentu saja Metro Men selalu berada jauh diatas Megamind dalam hal apapun. Sekarang pun sama, setiap kali ia mencoba merebut Metro City dari Metro Men, usahanya selalu gagal. Namun siapa sangka kalau tiba-tiba usaha Megamind untuk melenyapkan Metro Men berhasil! Tetapi setelah kepergian Metro Men, Megamind malah merasa bosan dan tidak ada tantangan lagi dalam menjalani hidup. Akhirnya Megamind memutuskan untuk membuat dan melatih seorang superhero baru yang ia beri nama, Titan (Jonah Hill). Megamind berharap kehadiran Titan bisa mengisi kekosongan dan kejenuhan dalam hatinya setelah ditinggal Metro Men.

Saya berkesempatan menyaksikan Megamind 3D lebih dulu pada pemutaran perdananya hari Sabtu kemarin. Seru sekali karena screening tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh superhero seperti Hellboy, Batman, Wonder Woman, Ultraman, dll. Sayang saya tidak membawa kamera sehingga tidak bisa mengabadikan momen tersebut. Faktor 3D yang ada disini tidak terlalu spesial, maka bagi anda yang ingin mengirit ongkos nonton yaa tidak perlu menonton versi 3D-nya. Cerita tentang superhero memang selalu menarik untuk ditonton, apalagi kalau yang bisa diterima oleh segala macam usia. Megamind termasuk salah satunya, menurut saya film ini bisa diterima mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sayang, mulai pertengahan memang intensitas cerita sedikit mengendor dan cenderung dipaksakan sehingga saya merasa bosan dan tidak tertarik lagi untuk mengetahui kelanjutannya. Secara keseluruhan, Megamind tentu bukanlah sebuah animasi yang gagal. Namun jika dibandingkan dengan 'superhero' animasi tahun ini seperti Toy Story 3, Despicable Me, dan How to Train Your Dragon; rasanya Megamind kurang beruntung. :)





Selasa, 05 Oktober 2010

REVIEW: LEGEND OF THE GUARDIANS: THE OWLS OF GA'HOOLE 3D




























"On his way to finding a legend...he will become one."

Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole diangkat dari buku karangan Kathryn Lasky berjudul Guardians of Ga'Hoole. Ini merupakan film pertama dari trilogi yang sudah direncanakan. Saya menonton versi 3D, karena tentu saja 3D merupakan faktor utama yang dijanjikan film ini. Sang sutradara, Zack Snyder, juga termasuk salah satu faktor yang membuat saya penasaran akan bagaimana jadinya sebuah film animasi di tangan sutradara seperti dirinya. Snyder sudah pernah menyutradarai beberapa film yang lumayan saya sukai, sebut saja Dawn of the Dead (2004), 300 (2006), dan Watchmen (2009). Tahun 2011 mendatang akan ada dua proyek Snyder yang juga patut ditunggu, yaitu Sucker Punch dan sekuel lanjutan 300, Xerxes.

Film animasi ini bercerita tentang dua bersaudara Soren (Jim Sturgess) dan Kludd (Ryan Kwanten), burung hantu muda yang sedang belajar terbang. Tidak disengaja mereka yang sedang berlatih di dahan pohon malah terjatuh ke dasar dan tidak bisa naik kembali keatas. Akibatnya, mereka berdua diculik oleh sekawanan burung hantu jahat yang menyebut diri mereka 'Pure Ones'. Mereka dibawa ke sebuah tempat menyeramkan, dimana banyak burung hantu muda lainnya dihipnotis agar mau menjadi budak penguasa disana. Dengan bantuan dari Grimble (Hugo Weaving), Soren dan teman barunya Gylfie (Emily Barclay) berhasil kabur dan menuju ke Ga'Hoole. Konon Ga'Hoole merupakan sebuah tempat berkumpulnya para burung hantu baik, 'The Guardians'. Soren sudah sering mendengar cerita ini dan seakan terobsesi, namuan selama ini ia tidak tahu menahu tentang kenyataannya. Ia dan Gylfie pun lalu nekat terbang menuju Ga'Hoole, sedangkan Kludd lebih memilih menjadi prajurit bagi 'Pure Ones'. Di perjalanan, Soren dan Gylfie berkenalan dengan dua teman baru, Digger (Leigh Whannell) dan Twilight (Anthony LaPaglia). Mereka berempat berusaha menemukan Ga'Hoole guna menemui para penjaga disana dan meminta bantuan.

Seperti yang sudah saya bilang diatas bahwa faktor 3D merupakan faktor utama yang disuguhkan film animasi ini. Jalan ceritanya terbilang lumayan, namun tidak terlalu istimewa. Unsur komedi tidak terlalu terasa, demikian juga adegan pertempuran yang ada. Semua biasa-biasa saja. Namun, semua itu tertolong dengan adanya teknologi 3D yang baik disini. Adegan pertempuran dan beberapa adegan slow-motion terasa begitu indah dan 'eye-popping'. Latar belakang serta suasana pemandangan dalam film ini pun terlihat nyata dan sedap ditonton dibalik kacamata 3D. Penggambaran karakter-karakter burung hantu disini juga terbilang lucu dan mudah disukai penonton. Saran saya, jika ingin menonton film ini pilihlah yang versi 3D. Setidaknya anda bisa menikmati sensasi 3D yang ada. Namun, karena tahun 2010 ini banyak didominasi oleh film-film animasi dengan kualitas diatas rata-rata, tampaknya film animasi burung hantu Ga'Hoole ini tidak akan terlalu membekas di ingatan penonton. :)





Sabtu, 03 Juli 2010

REVIEW: DESPICABLE ME (3D)
























"We are going to steal the MOON!"


Beruntung sekali saya bisa mendapatkan undangan untuk menyaksikan Despicable Me lebih dulu hari ini dalam versi 3D. Animasi ini memiliki 3D terbaik dibandingkan semua film 3D yang pernah saya saksikan, berdampingan dengan Avatar tentunya, bahkan mungkin 3D Despicable Me bisa saya katakan lebih terasa keluar dari layar, eye-popping sekali! Saya sangat menyarankan agar teman-teman menonton versi 3D film ini karena dijamin anda pasti akan puas dan tidak rugi mengeluarkan uang lebih untuk membeli tiket. Film ini adalah animasi pertama yang dibuat oleh Illumination Entertainment yang kemudian didistribusikan oleh Universal Pictures. Menurut saya Illumination berhasil membuat sebuah proyek pertama yang sangat sukses dalam segi cerita maupun teknologi 3D. Jadi tidak sabar untuk menanti proyek animasi mereka selanjutnya, Flanimals dan Hop pada tahun 2011 mendatang. Apa suatu hari nanti bisa menyaingi animasi-animasi buatan 'raksasa' Pixar? We'll see.. Pixar memang masih lebih unggul dalam segi cerita, tapi Illumination tentu sudah punya spesialisasi sendiri yaitu racikan 3D terbaru milik mereka.

Despicable Me dibuka dengan adegan piramid yang telah dicuri oleh seseorang. Media bertanya-tanya siapakah pencuri hebat tersebut? Di tempat lain, Gru (Steve Carrell) adalah seorang pencuri yang telah berhasil mencuri beberapa barang penting seperti layar besar di New York, patung Liberty dan menara Eiffel. Namun bukan ia lah yang mencuri piramid tersebut, melainkan Vector (Jason Segel). Gru dan Vector menjadi saingan ketika ternyata Vector mengganggu misi besar Gru yaitu mencuri bulan! Gru tidak sendirian, ia dibantu oleh segerombolan makluk kuning bernama Minions dan Dr.Nefario (Russell Brand) yang jago membuat robot. Gru juga memanfaatkan tiga orang gadis kecil penjual kue dari panti asuhan untuk melancarkan misinya. Ia pun berpura-pura ke panti asuhan dan meminta izin dari Miss Hattie (Kristen Wiig) agar bisa mengadopsi Margo (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier), dan Agnes (Elsie Fisher). Akan tetapi siapa sangka kalau ketiga anak adopsinya itu malah merubah hidup Gru dari yang tadinya suram menjadi lebih berwarna.

Cerita Despicable Me menurut saya memiliki sebuah cerita yang simple tapi menarik, sehingga bisa diterima segala umur, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Banyak lelucon konyol yang mengocok perut dari awal hingga akhir film. Mulai dari bentuk karakter yang aneh dengan kepala kecil, hidung tajam, dagu panjang, badan besar, kaki kecil, sampai pada para Minions yang sungguh imut dan membuat saya jatuh hati. Bentuk dan suara Minions betul-betul lucu sekali! Karakter Vector yang nerdie juga sangat konyol menurut saya, dengan senjata-senjata andalannya yang tidak kalah konyol, Vector berhasil membuat saya terbahak-bahak di setiap kemunculannya. Agnes dengan wajah, rambut, dan suara yang imut juga dijamin akan membuat penonton langsung menyukainya. Meskipun didukung tiga pengisi suara yang semuanya adalah aktor komedi terkenal Hollywood, namun entah mungkin karena judul yang tidak terlalu menjual atau karakter kartun yang belum dikenal, film ini kurang ditunggu-tunggu oleh para penikmat film. Tapi ini adalah tugas saya untuk meyakinkan para pembaca blog agar mau menonton Despicable Me, ini adalah sebuah contoh animasi 3D yang sangat baik.

Sepertinya tahun 2010 adalah tahunnya animasi. Banyak sekali animasi bagus yang bermunculan sejak awal tahun. Ada tiga judul yang sudah lebih dulu masuk ke daftar 10 besar film favorit saya sampai saat ini adalah How To Train Your Dragon dan Toy Story 3, sekarang giliran Despicable Me yang melesat masuk ke dalam daftar tersebut. Sejauh ini dari 10 film terbaik pilihan saya sudah ada 3 animasi, entah apa akan bertahan sampai akhir tahun. Tapi itu adalah pertanda kalau Despicable Me adalah sebuah animasi yang recommended to watch, especially in 3D. Satu lagi pesan penting dari saya, jangan buru-buru keluar begitu film usai, tunggu saja sampai benar-benar habis. Karena selagi end credit muncul akan ada kejutan-kejutan yang luar biasa eye-popping dari para Minions, seru sekali! Pokoknya menonton film ini anda akan merasa seperti menaiki roller-coaster yang naik turun karena sangking serunya dengan 3D yang ditampilkan. Despicable Me akan tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 9 Juli 2010. :)





Kamis, 17 Juni 2010

REVIEW: TOY STORY 3




























"What are you going to do with these old toys?"

Pixar never ever dissapointed you! Tanpa keraguan, Toy Story 3 sangat amat akan menjadi 3 besar film favorit saya tahun ini. Saya tumbuh dewasa dengan animasi ini, menyaksikan Toy Story (1995) pada waktu saya berumur 7 tahun dan Toy Story 2 (1999) di usia 11 tahun membuat animasi Toy Story menjadi bagian dalam masa kecil saya dan juga merupakan satu-satunya animasi yang menempel lekat dalam ingatan saya. Membayangkan mainan kesayangan kita ternyata bisa 'hidup' dan bermain selama kita tidak ada sangat menyenangkan sekali! Saya berangkat menonton film ini di hari pertama penayangannya dengan ekspektasi yang tinggi, sampai-sampai saya rela membeli tiket lebih mahal di premiere studio agar merasa lebih nyaman. Saya berharap banyak pada sekuel ketiga Woody dan kawan-kawan ini. Menunggu 10 tahun untuk menyaksikan sekuel ketiganya bukanlah waktu yang singkat. Namun penantian itu tidak sia-sia, ekspektasi saya yang tinggi ternyata mampu terpuaskan dan Toy Story 3 was a perfect conclusion to one of the best animation trilogies of all time!













Diceritakan kalau Andy (John Morris) sekarang sudah akan masuk kuliah. Ia juga sudah lama tidak pernah bermain lagi dengan mainan-mainan kesayangannya dulu seperti Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), Mr.Potato Head (Don Rickles), Mrs.Potato Head (Estelle Harris), Rex (Wallace Shawn), dan lainnya. Andy juga harus bersiap untuk pindah ke asrama dan mengosongkan kamarnya yang akan ditempati sang adik. Itu berarti ia juga harus membereskan mainan-mainannya tersebut. Para mainan Andy ini sedih dan bingung apakah mereka akan dibuang atau ditempatkan di loteng. Mereka lebih memilih untuk ditempatkan di loteng, dimana mereka masih tetap bisa bersama dan bermain. Akan tetapi ternyata Andy memilih membawa Woody untuk ikut dengannya dan menempatkan sisanya di loteng. Keadaan menjadi kacau ketika kantung plastik berisi mainan yang akan dibawa ke loteng ternyata tidak sengaja dibuang oleh sang ibu! Woody akhirnya berhasil menyelamatkan teman-temannya, namun semuanya menjadi semakin rumit karena ternyata mereka ngambek dan memilih untuk masuk ke kardus yang akan disumbangkan ke tempat penitipan anak, Sunnyside. Di Sunnyside mereka bertemu dengan teman-teman baru sesama mainan, tempatnya nyaman, dan banyak anak-anak yang akan mengajak mereka bermain. Akan tetapi apakah ternyata Sunnyside lebih baik daripada di rumah Andy?













Animasi buatan Pixar memang selalu indah. Gambarnya berwarna-warni dan sedap dipandang. Karakter-karakternya sangat memorable. Jalan cerita yang disajikan sering penuh dengan kejutan yang tidak pernah kita sangka. Itulah Pixar! Toy Story 3 merupakan sebuah film animasi yang sempurna di mata saya, sempurna sebagai film baru bagi yang pertama menyaksikan dan juga sempurna sebagai sebuah lanjutan dari kedua film terdahulu. Untuk yang mempunyai pengalaman sama seperti saya; tumbuh dewasa bersama karakter Andy dalam film ini, anda pastinya akan merasa seakan-akan anda mengenal semua karakter mainan didalamnya. Meskipun banyak sekali karakter mainan baru yang muncul kali ini, namun semua dapat membaur dengan baik dengan karakter-karakter lama. Barbie (Jodi Benson) dan Ken (Michael Keaton) langsung mencuri perhatian dengan tingkahnya yang konyol dan super-fashionable. Begitu juga dengan tingkah Mr.Potato Head di salah satu scene. Dijamin sangat menghibur!












Pada 15 menit menjelang film usai, emosi anda akan dicampur-aduk. Hebat sekali, emosi kita seakan seperti diajak menaiki rollercoaster yang naik turun sejak awal film dan memuncak klimaks ketika akhir. Scene yang disajikan di akhir ini sangat mengharukan, terlebih juga didukung dengan musik score yang luar biasa pas. Saya menangis terharu menyaksikannya, begitu juga dengan 10 teman saya sesama reviewers lainnya. Padahal mereka semua lelaki, namun itulah hebatnya animasi Pixar. Mungkin jika ini adalah kali pertama anda menyaksikan Toy Story, anda tidak akan seharu itu. Jangan bayangkan adegan sedih, adegan akhir ini lebih mengharukan sekaligus menggembirakan sampai-sampai membuat penonton yang sudah mengikuti film ini dari yang pertama mengeluarkan air mata. Susah menuliskan perasaannya dengan kata-kata, tetapi yang punya ikatan kuat dan tumbuh bersama animasi ini pasti akan mengerti. Trilogi Toy Story ditutup dengan sangat baik bahkan kelewat istimewa. Dengan kembali membawa moral yang baik dalam ceritanya kali ini yaitu ada saatnya kita memang harus melepaskan sesuatu yang kita sayangi, meskipun itu berat tapi mungkin itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Definitely ... A-MUST-SEE!!!





Minggu, 23 Mei 2010

REVIEW: SHREK FOREVER AFTER




























"The Final Chapter"

Shrek pertama: I loved it, what a surprise! Shrek kedua: not as good as the first one but still loved it. Shrek ketiga: hmm..bad sequel. Shrek keempat: well..I really hope this is the final chapter. Saya suka dengan Shrek pertama, lalu yang kedua juga lumayan menghibur. Sampai akhirnya muncul sekuel ketiga yang menurut saya mengecewakan. Tadinya saya berharap yang keempat ini bisa membawa angin segar dalam franchise Shrek, tapi ternyata film ini belum mampu menyamai kualitas yang pertama ataupun yang kedua. Shrek Forever After memang lebih baik dari yang ketiga, namun tetap terasa tidak istimewa. Mungkin sudah saatnya untuk menghentikan produksi Shrek, biarkan ini jadi yang terakhir. Saya sudah merasa agak bosan dan tidak simpatik lagi dengan para Ogre. Film ini tidak jelek, tapi jangan berharap terlalu tinggi. Ajak adik anda yang masih kecil, pasti mereka akan terhibur.

Kali ini Shrek Forever After bercerita tentang kehidupan Shrek (Mike Myers) yang sudah berkeluarga dengan Fiona (Cameron Diaz) dan mempunyai tiga orang anak yang lucu-lucu. Namun Shrek tiba-tiba merasa jenuh dengan rutinitasnya, ia ingin kembali menjadi Ogre yang ditakuti seperti dulu. Sekarang ia tidak nyaman karena seolah dijadikan seperti objek wisata oleh masyarakat sekitar. Sampai suatu hari ia bertemu dengan penyihir licik yang pura-pura baik, Rumpelstiltskin (Walt Dohrn). Rumpelstiltskin menawarkan kerja sama dengan Shrek, yaitu dengan memberikan satu hari penuh untuk Shrek agar dapat merasakan kembali menjadi Ogre yang ditakuti seperti dulu. Namun dengan syarat, Shrek juga harus memberikan satu hari kepadanya. Siapa sangka kalau hari yang diambil oleh Rumpelstiltskin itu malah akan merubah total kehidupan Shrek. Fiona berubah menjadi pribadi yang berbeda, anak-anaknya tak ada lagi, bahkan para sahabatnya seperti Donkey (Eddie Murphy) dan Puss in Boots (Antonio Banderas) juga seperti tidak pernah mengenalnya.

Shrek Forever After cocok ditonton untuk keluarga, para anak-anak pasti akan menyukai film ini. Saya pribadi memang kurang menyukainya, biasa-biasa saja. Namun harus saya akui saya juga sedikit terhibur saat menonton film ini. Bukan karena jalan ceritanya, melainkan soundtrack dari film ini. Karakter Donkey dan Puss in Boots juga menjadi penyelamat karena saya pasti tertawa melihat kehadiran dua karakter itu. Makna film ini juga bagus, yaitu agar kita bersyukur dengan apa yang telah kita miliki sekarang, karena kita baru akan sadar kalau sesuatu itu sangat berarti kalau hal tersebut sudah tidak ada lagi. Overall, masih layak ditonton, tetapi sepertinya cukup ditonton dalam versi 2D.





Selasa, 30 Maret 2010

REVIEW : HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 3D




























"The front runner for the best animated film of the year"

Sepuluh tahun terakhir ini era animasi memang sedang dalam masa keemasannya, sebut saja animasi favorit banyak orang seperti Wall-E, Up, Finding Nemo, Ice Age, Shrek, Monster's Inc, Kung Fu Panda, dan judul yang lainnya. Kali ini giliran How To Train Your Dragon, sebuah animasi terbaru dari DreamWorks Animation yang akan masuk kedalam list favorit itu. Menurut saya pribadi, ini adalah animasi 3D terbaik yang pernah saya tonton sejauh ini. Tadinya saya skeptis dengan film ini, saat menonton trailernya pun saya kurang tertarik. Buktinya, saya sedikit terlambat dalam mereview filmnya disini. Ternyata saya salah, film ini bagus dan wajib anda tonton. Aspek 3D dalam film ini sangat indah dan terasa, didukung juga dengan jalan cerita yang bagus, gambar animasi yang menarik, komedi yang berhasil membuat penonton tertawa dan sebuah pesan baik yang tersimpan didalamnya.

Bercerita tentang Hiccup (Jay Baruchel) yang mempunyai mimpi untuk membunuh naga. Hal ini wajar saja, karena bangsa Viking memang dikenal karena keahliannya memburu naga-naga yang suka mencuri makanan dari desa mereka. Ayah Hiccup, Stoik (Gerard Butler) adalah kepala pembunuh naga yang paling ahli dan terpandang. Akan tetapi sang ayah selalu tidak menanggapi keinginan anaknya tersebut, Stoik selalu mempermasalahkan fisik Hiccup yang kecil dan kurus, padahal pria Viking lainnya bertubuh tegap dan kekar. Hiccup pun semakin menumbuhkan keinginannya itu, karena menurutnya dengan membunuh naga ia akan mendapatkan banyak teman dan juga seorang kekasih. Hiccup tidak tinggal diam, suatu hari ia berusaha untuk memburu naga dan secara tidak sengaja menembak seekor naga yang sedang terbang. Kebetulan naga tersebut adalah Night Fury, seekor naga misterius yang konon paling ditakuti oleh bangsa Viking.

Two tumbs up untuk DreamWorks Animation karena telah berhasil membawa animasi 3D selangkah lebih depan dibanding pesaingnya yang lain. Gambar How To Train Your Dragon sangat indah disaksikan dibalik kacamata 3D, terlihat begitu real dan eye-candy. Tidak hanya dari segi 3D yang mampu dibanggakan, cerita film ini pun sangat manis dan menarik untuk ditonton. Apalagi sang naga pemeran utama bentuknya juga lucu sekali, sekilas kalau dilihat mirip dengan tokoh Stitch dalam animasi Lilo & Stitch. Hehe.. Saya tidak berekspektasi tinggi pada saat menyaksikan film ini, maka saya sangat puas dengan hasil yang disajikan. Bahkan saya akan memasukkan film ini kedalam daftar animasi favorit saya. Durasi yang tidak terlalu panjang menurut saya juga menjadi salah satu faktor keberhasilan film ini, karena ceritanya jadi terasa pas dan tidak bertele-tele. The best 3D animation I've seen so far! :)





Senin, 23 November 2009

REVIEW : A CHRISTMAS CAROL




























"Not quite a Disney Story, dark for young children"

Ga berasa Natal sebentar lagi, so yaa ga mungkin dong kalau saya melewatkan A Christmas Carol. Berharap banget setelah nonton film ini saya bisa merasakan suasana natal yang lebih awal. Dan ternyata saya salah, film ini malah cenderung ke 'dark animation' yang kalau untuk ditonton anak-anak pasti terasa sedikit seram. Saya sendiri belum pernah membaca novel karya Charles Dickens sebelumnya, juga belum pernah menonton A Christmas Carol versi yang lebih terdahulu. Jadi, saya kurang tau juga bagaiman komentar para fans setia Christmas Carol. Bercerita tentang seorang kakek bernama Ebenezer Scrooge (Jim Carrey) yang sangat kikir, sang kakek juga tidak percaya dengan keindahan hari Natal. Baginya merayakan hari Natal sama saja dengan menghabiskan waktu dan uang secara sia-sia. Lalu pada malam Natal, ia kedatangan hantu Marley (Gary Oldman) yang sesama hidup dulu adalah teman baik Scrooge. Marley lalu memberitahukan Scrooge bagaiman menderitanya ia setelah kematian karena selama hidup selalu tamak dan tidak pernah berbuat baik. Lalu ia pun mengirimkan tiga hantu kepada Scrooge yaitu hantu Natal masa lalu, hantu Natal sekarang, dan hantu Natal akan datang. Di setiap waktunya bersama masing-masing hantu tersebut Scrooge lalu menemukan arti Natal yang sesungguhnya. Sebuah pelajaran luar biasa untuk merubah diri ke arah yang lebih baik. Film ini menurut saya membosankan dan tidak seru. Yang bisa dibanggakan dalam film ini hanyalah 'nilai' baik dalam hidup yang patut kita tiru. Selebihnya biasa saja. Namun, saya menyarankan anda untuk menonton versi 3D, saya menyesal tidak menonton versi 3D-nya kemarin. Karena pasti akan seru, dari awal sampai akhir banyak salju dimana-mana lalu adegan terbang dengan tempo cepat, which is akan terlihat keren sekali di 3D. Dari cerita biasa saja, tapi very recommended for the 3D version. Just enjoy the ride, quite good to start your christmas though.. :)