total ping

Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2011

Nonton Java Jazz Bareng Mama :)

'Ma, kan ada Santana di Java Jazz.'

'Masa? Wah pasti bagus.'

'Mama mau nonton? Nanti aku cariin tiketnya ya.' Mama pasti pengen banget nonton Santana, beliau punya selera bagus untuk urusan musik.

'Enggak deh teh, tiketnya pasti mahal', sayangnya mama selalu mengalah dan mendahulukan kesenangan anak-anaknya.

Kantor saya termasuk dalam daftar penerima compliment ticket dari Java Festival Production yang menyelanggarakan hajatan tahunan Java Jazz Festival dan Java Rockin' Land. Divisi saya biasanya kebagian menjalankan transaksi valas yang menjelimet dan menggunung. Mendapat transaksi dari promotor ini artinya adalah pulang malam dan kerja menguras otak, tapi Java Festival selalu berbaik hati memberikan compliment ticket bagi orang-orang yang telah membantu kelancaran setiap acara yang diadakan. 

Compliment ticket Java Rockin' Land 2010 yang tidak sempat saya pakai :(

I'll do my best for Java Festival Production transactions. Keinginan saya untuk bisa mendapat compliment ticket menjadi begitu menggebu-gebu karena ingin mengajak mama menonton konser sekelas Java Jazz. Lebih bagus lagi kalau bisa mewujudkan mimpi beliau melihat aksi Santana secara live. Pulang malam dan kerjaan menumpuk menjadi agenda rutin selama sebulan menjelang perhelatan Java Jazz Festival. Satu-satunya hal yang membuat saya tetap bersemangat (dan menambah dosis kafein dalam jatah kopi harian) adalah bayangan akan menonton konser bersama mama tersayang. 

Mama sendiri mungkin tidak terlalu bersemangat untuk menonton Java Jazz tapi saya ingin mama dapat merasakan sebuah pengalaman menonton konser; bernyanyi dengan ratusan orang lainnya, menggoyangkan badan mengikuti irama yang ada dan larut dalam euforia kegembiraan. Sesuatu yang mungkin belum pernah mama rasakan. Entahlah, beberapa waktu terakhir ini rasanya saya ingin melakukan banyak hal bersama orang tua tercinta, menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka dan mengajak mereka merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan selama hidupnya. Sesuatu yang pasti akan mereka sukai. 

Sayangnya compliment ticket yang tersedia hanyalah daily ticket, untungnya bagian marketing berbaik hati  dengan memberikan saya tiket hari Jumat sehingga masih memungkinkan untuk saya mencari Santana special ticket show dengan dana sendiri. Tiket yang sangat mahal apalagi saat mendekati hari H membuat niat saya untuk mengajak mama menonton Santana harus dikubur dalam-dalam. Saya kecewa, tapi saya lebih takut mama yang lebih kecewa. Oh God, saya hanya ingin mengajak mama bersenang-senang dan lepas dari rutinitas hariannya. 

Sepertinya mama menangkap keinginan saya ini. Beliau mau ikut menonton Java Jazz walau saya sudah memberikan worst case scenario (hall yang penuh banget, berdiri sepanjang show, acara sampai tengah malam). 'Urusan cape itu sih belakangan', mama meyakinkan saya kalau dia mampu mengikuti jalannya acara. Saya juga mewanti-wanti mama untuk memberitahu saya sesegera mungkin jika beliau merasa capek atau hall terlalu penuh sehingga beliau merasa tidak nyaman. Java Jazz, here we come....

Performance artist yang saya incar adalah Glenn Fredly. Sayangnya karena kemacetan Jakarta kami harus melewatkan Glenn. Then what? Saya sendiri nggak tahu mau menonton apa saya mama. Krik krik krik..... Hal ini selalu terjadi karena kurangnya antisipasi untuk menonton konser. Di salah satu hall yang masih kosong The Groove akan tampil kurang dari satu jam lagi. Rasanya hall ini cukup 'aman' untuk didatangi bersama mama. Penonton belum berjubel dan masih bisa duduk santai di dalam hall.

The Groove ternyata memberi penampilan yang luar biasa. Outstanding! Rasanya bener-bener diajak reunian ke beberapa tahun silam dengan lagu-lagu The Groove. Untungnya juga mama kenal baik dengan semua lagu yang dibawakan The Groove malam itu. The Groove was grooving up the audience that night, including me and mom :) 

Berikutnya adalah Tompi. Antrian memasuki hall lumayan mengular. Saya dan mama masuk dari sisi yang lebih kosong. Saat pintu dibuka semua pengunjung merangksek maju, mama dan saya ikut terdorong ke depan. Saat saya mengkhawatirkan keadaan mama, beliau malah mengajak saya berlari masuk ke dalam hall dan mencari posisi enak di tengah hall. Ah mama, ternyata beliau sudah tertulari euforia Java Jazz dan tidak mau kalah bersaing dengan pengunjung yang lebih muda. 

Could you see Tompi in stage? ;)

Penampilan Tompi lebih mencengangkan! Saya salut dengan musikalitas dan kemampuannya menguasai panggung. Terlebih saat Tompi menyanyikan lagu I Know You So Well dengan nuansa jazz yang sangat berbeda. Musik jazz mungkin dirasa terlalu berat sehingga peminatnya tidak sebanyak musik bergenre pop, padahal jazz ringan yang easy listening juga menyenangkan untuk didengar. Seperti film Indonesia yang tidak jelas genrenya (horor lebih mengarah ke seks dewasa), kondisi musik Indonesia pun tidak berbeda nasibnya dengan dimonopoli irama melayu semacam ST12 dan teman-temannya. Lagi-lagi, selera masyarakatlah yang menentukan genre mana yang akan terus berkembang dan bertahan. Jika ingin musik Indonesia terus didominasi irama melayu, maka gila-gilailah musisi yang bergerak dalam jalur tersebut. Tetapi jika ingin musik Indonesia menjadi lebih berkualitas dan berkembang maka hargailah genre musik yang lain. 

Di tengah konser Tompi mama terlihat diam dan kurang menikmati acara. Beliau ijin untuk ke belakang dan duduk di luar hall. Ya, inilah tanda saya harus mengakhiri malam menyenangkan di Java Jazz. Saya tidak akan memaksa mama, jika mama merasa cukup maka itu artinya cukup. Kami sudah cukup bersenang-senang malam ini. Dan saya bisa lihat dari senyum beliau, walau tidak bisa menonton Santana namum musisi dalam negeri mampu memberi penampilan sempurna yang memukau penontonnya. 

'Lebih enak nonton yang dalam negeri ya teh, bisa ikut nyanyi dan ngerti lagu-lagunya', komentar mama ketika kami keluar dari stage Sondre Lerche.

'Jadi nggak nyesel dong nggak bisa nonton Santana ma?' goda saya.

'Nggak sama sekali', jawab mama mantap.

'Tahun depan Java Jazz lagi ya maaa....' :)

PS: Nggak ada foto saya dan mama sama sekali. Alasannya saya cape berat pulang kerja langsung ke Java Jazz sehingga mood foto jadi hilang begitu saja. Selain itu kamera saya (akhirnya) rusak berat. Hm, saatnya membeli DSLR *buka-buka katalog Canon*.

Selasa, 25 Januari 2011

MJ Gallery at Sofitel Hotel

Menurut saya Sofitel Hotel adalah hotel ter-'wah' di seluruh Macau. Memang tidak sebesar franchise hotel dari Las Vegas sih, tetapi dengan letaknya yang sedikit terpencil dengan nama yang belum dikenal banyak wisatawan maka Sofitel Hotel memiliki esklusifitas yang tidak dapat disamakan dengan hotel manapun. 

Free shuttle bus yang ditumpangi membawa kami melihat sisi lain kota Macau yang selalu tampil berkilauan. Rute yang diambil sama sekali berbeda dengan rute free shuttle bus dari berbagai kasino yang bergantian kami tumpangi. Bus menyusuri jalan kecil di luar pusat kota, melewati pelabuhan yang kotor dan deretan apartemen kumal dan 'mblusuk. Teman-teman mulai meragukan pilihan saya ketika melihat semua pemandangan yang dilewati, 'Are we in the right track?'. Well, saya tidak perlu mengeluarkan jawaban sedikitpun saat bus mulai memasuki parkiran Sofitel Hotel.

Semua ternganga melihat desain interior dan kemegahan Sofitel Hotel. Lagi-lagi, hotel ini memang tidak semegah dan sebesar hotel bintang lima lainnya tetapi Sofitel Hotel terlihat begitu mewah. Penataan desain interior yang teramat sangat mewah dan mendetail membuat saya tidak habis pikir dengan kegilaan ide perancangnya plus penyandang dananya. Karena berada di pinggir laut maka pemandangan utamanya adalah laut yang terlihat begitu dingin dan suram. Pemandangan lain di sisi sebaliknya adalah apartemen penduduk yang kusam dan 'mblusuk. Jomplang abis! 

Terdampar di pulau emas ;)

 Magnificent chandelier

Nyasar ke ruangan VIP dan dikawal petugas untuk cepet-cepet keluar dari ruangan tersebut.

Sebenarnya alasan utama saya datang ke Sofitel Hotel adalah untuk mengunjungi satu-satunya Michael Jackson Gallery di Asia (for freeee... Yay!). Pernah merasa begitu kagum saat melihat suatu hal yang baru hingga hati berdesir hebat, merinding, sampai-sampai ingin menangis karena over excited? Di Macau saya mengalami perasaan seperti itu sewaktu melihat Ruins of St. Pauls, ketika duduk-duduk di Monte Fortress dan melihat desain taman bergaya Eropa dengan Museu de Macau sebagai bangunan yang mendominasi tepat ditengahnya, dan yang terakhir saat masuk ke dalam kasino untuk pertama kalinya. Semuanya terkalahkan saat saya masuk ke dalam MJ Gallery. 

Seperti namanya, tempat ini memajang berbagai hal yang berkaitan dengan Michael Jackson. Saya sendiri bukan penggemar MJ jadi tidak tahu harus berekspektasi akan melihat apa di dalamnya. MJ Gallery cukup kecil, di dalamnya terdapat toko yang menjual berbagai pernak-pernik King Of Pop. Galerinya sendiri memuat foto MJ dari berbagai tahun yang dijejerkan dalam sebuah wall of fame, kostum yang dipakai untuk video clip Thriller, time tunnel yang memuat judul dan cover album MJ sejak tahun 1958 - 2009, dan siapa yang bisa melupakan sarung tangan plus kaus kaki bling-bling khas Michael Jackson? 







Diantara semua koleksi MJ Gallery, teks asli lagu 'We Are The World' yang mulai menguning membuat bulu kuduk saya tegak berdiri. Saya merinding melihat teks yang dilengkapi dengan notasi nada, pembagian lirik untuk setiap penyanyi plus tanda tangan dari beberapa penyanyi yang terlibat di dalamnya. Rasa merinding tambah memuncak saat saya mencoba mengingat-ingat nada We Are The World dan menyanyikannya berdasarkan teks tersebut.




We Are The World diciptakan oleh Lionel Richie dan Michael Jackson pada tahun 1985 dan ditujukan untuk mengumpulkan dana untuk menanggulangi kelaparan di Ethiopia. Single ini dinyanyikan oleh 45 musisi pop yang menyebut dirinya USA for Africa. We Are The World bahkan dibawakan sebagai lagu penutup dalam upacara kematian Michael Jackson di Staples Center, Los Angeles, 7 Juli 2009. 





Saya speechless saat melihat foto yang dipajang disebelah teks asli We Are The World dan mengingat sebuah tujuan mulia di balik lagu tersebut. Lagu mulia ini diciptakan dan dinyanyikan sebelum saya lahir tapi sampai kini tetap abadi dan dikenal berbagai generasi. Mengunjungi MJ Gallery membuat saya menyadari satu hal penting, Michael Jackson memang telah tiada tetapi dia telah mengukir namanya dalam sejarah permusikan dunia dan membuat semua orang mengingat seorang King Of Pop.

For the last, video clip We Are The World ini mungkin dapat mengingatkan kita kembali akan pesona dan kharisma Michael Jackson. Enjoy :)  

There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it's time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can't go on
Pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of
God's great big family
And the truth, you know love is all we need

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Send them your heart
So they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread
So we all must lend a helping hand

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

When you're down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There's no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Senin, 31 Mei 2010

Pond's Teen Concert

28 May 2010 19:10

Sabtu, 29mei10. Kumpul di FX jam4. Salat Ashar, Magrib, sama Isa dulu (iman gw lagi tebel), terus nonton konser. Dandan yang cakep, bawa digicam sama cemilan. Jangan telat!!!!

- Ocha nan cantik lucu menggemaskan tapi masih single sampe sekarang -

message sent


Sabtu kemaren dateng ke acara Pond's Teen Concert. Ergh, teen??? Yeah, teen. Rada males juga sih berbaur sama anak ABG buat nonton konser. Usulan saya untuk dateng ke acara ini juga sempet ditolak mentah-mentah sama mereka, "Umur kita kan udah bukan teen lagi Ros". Tapiiii...berhubung Dashboard Confessional maen, jadi mereka ikutan semua. Sebenernya ngga ada yang maniak sama DC sih, cuma karena yang cari info dan tiket kebanyakan dilakonkan oleh saya dan Sagi (iya gi, lo yang ngambil tiketnya di Prambors), jadi semuanya oke-oke saja ikutan. Selama bukan gw yang repot, itu mungkin slogannya (I'm kidding gals, haha).

Acaranya sendiri mulai dari jam 4 sore. Pengalaman saya dan Nenes yang pernah mendatangi konser seperti ini sih acara puncak baru dimulai rada malem, paling yang manggung sore itu cuma band SMU. Jadi kami ngumpul dulu di FX, ngobrol ngalor ngidul, makan ngga jelas, dan nunggu beberapa teman lain.

Masih lengkap: Nenes, Sagi, Saya, Sarah.

Ada satu hal yang tidak pernah kami prediksikan. Setelah makan di Cafe C*rt*l yang rasa pastanya biasa banget tapi harganya naujubile mahal bener, Sagi mual dan menghabiskan waktu cukup lama di toilet. Sepertinya dia keracunan makanan. Saya dan Sarah yang juga makan di cafe itu lumayan emosi, udah mahal, ngga enak, bikin temen jadi sakit lagi (saya sangat tidak merekomendasikan cafe yang terletak di lantai dasar tersebut). Dengan berat hati, Sagi membatalkan rencananya untuk nonton DC. Duh gi, padahal yang sibuk ngambil tiket kan kamu.

Sekitar jam setengah delapan kami pergi ke lapangan D Senayan. Venue lumayan rame, tapi yang bikin serem beberapa Aremania udah ngumpul di Senayan untuk pertandingan melawan Persija hari minggu besok. Hiy, ngga tau kenapa, pikiran saya tentang suporter bola Indonesia itu ngga pernah bagus. Beberapa kerumunan polisi ada di beberapa titik untuk mengamankan acara. Yang menyebalkan, ketika mau masuk ke venue, petugas ticketingnya malah colek-colek untuk mengarahkan, belum lagi beberapa polisi yang menyuruh kami cepat mengeluarkan tiket dan masuk ke dalam venue. Duh Pa, saya tuh mau nonton konser, bukan bikin keributan. Lebay banget pengamanannya.

Venue di dalem udah lumayan crowded, apalagi barisan depan. Untuuuung banget Sarah termasuk golongan orang nekat yang berani nerobos kerumunan orang, saya cuma berani nunduk dan nebelin muka ngikutin dia. Hasilnya, bisa dapet posisi lumayan, pas di tengah-tengah. Notes: selalu ajak Sarah kalau mau nonton konser.

 In the middle of the crowd. Mulai keringetan :p

Jam 8 Nidji mulai manggung, sialnya baru sekali loncat-loncat ngikutin Giring, tali tas saya putus. Hoho...nasibkuuu.... Saya selalu suka dengan konser Nidji, energi dan semangat Giring sangat menular ke penonton. Kalau kalian nonton Indonesian Idol hari minggu kemaren, outfit yang dipake Giring di Pond's Teen Concert itu miriiiippp banget. Guessing, Giring punya banyak stok baju dengan model seperti itu, ataaaauuu dia ngga ganti baju dari Indonesian Idol kemaren ya.

Nidji yang manggung kenapa bendera Slank yang berkibar ya.

DC tampil setelah Nidji, tapi persiapan alat mereka lumayan lama dan penonton dihibur sama MC super garing. Hmm...menurut saya sih konser DC ngga maksimal banget kemaren, sepertinya beberapa alat musik mereka trouble dan Chris lumayan BT dengan teknisinya. Konyolnya, dari 18 lagu yang dibawain DC, saya cuma familiar dengan 4 lagu. Jadilah di 14 lagu lain saya cuma bisa bengong nonton sementara orang sekitar heboh jingkrak-jingkrak dan ikut teriak nyanyi.

Entah siapa yang saya foto di panggung itu

Waktu penampilan DC, saya, Sarah dan Nenes terdorong penonton dari belakang sehingga posisi kami lumayan dekat panggung. Enak sih, bisa liat Chris lebih jelas. Ngga enaknya kena semburan air. Saya sempet heran, konser DC ko disemburin air gitu ya, mirip sama pertunjukan dangdut. Di semburan air yang pertama, saya dan yang lain masih bisa ketawa-ketawa. Yang kedua mulai menyebalkan, yang ketiga dan seterusnya saya sampai harus jongkok untuk menghindari semburan tersebut. Heran, hanya saya dan Nenes saja yang basah kuyup, sementara orang di sekitar tidak ada yang sekuyup kami.

Setelah 4 jam lelah berdiri, loncat-loncat, teriak-teriak nyanyi, akhirnya konser selesai. Saat berkumpul di area parkir barulah kami menertawakan kondisi masing-masing. Rambut awut-awutan (habislah mahakarya blow saya), dandanan ancur dan maskara bleber (siapa suruh dandan total cuma untuk nonton konser), baju bau keringet dan asap rokok (menyebalkan, di konser sepadat itu masih saja ada orang yang cuek merokok), dan tentunya basah kuyup.

After concert: kuyup, acak-acakan, berantakan, tapi tetap cantik mempesona. Lol :)

"Lagian, tau mau nonton konser, niat banget dandan abis-abisan".
"Heyy...we're just bunch of girls who loves wearing make up and dress up from head to toe. So, don't blame us please".