total ping

Tampilkan postingan dengan label 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2010. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

REVIEW: HELLO GHOST / HELLOWOO GOSEUTEU (헬로우 고스트)
























"Laugh and cry at the same time."

Cha Tae Hyun merupakan aktor Korea favorit saya! Memang sih wajahnya memang tidak setampan aktor Korea lainnya, namun justru tampang 'biasa' itulah yang menjadi daya tarik bagi saya. Apalagi kemampuan akting Cha Tae Hyun sudah tidak perlu diragukan lagi. Saya pertama kali mulai menyukai Tae Hyun sejak menonton film My Sassy Girl (2001), disana ia dipasangkan dengan aktris super cantik Korea, Jun Ji Hyun. Setelah itu saya selalu tertarik untuk menonton film-film yang dibintanginya seperti A Prince's First Love (TC Series - 2004), Sad Movie (2005), My Girl and I (2005), dan Speed Scandal (2008). I love this guy!

Melihat poster Hello Ghost saya sudah bisa menerka kalau film ini pasti komedi. Lihat saja wajah hantu-hantu yang lucu itu, tidak menyeramkan sama sekali. Memang rata-rata film yang dibintangi Tae Hyun sangat indentik dengan komedi dan sedikit sentuhan drama di dalamnya. Tipikal film Korea lainnya lah. Namun saya sungguh tidak menyangka kalau ending film ini mampu membuat saya menangis. Jadi siap-siap saja begitu mulai mencapai ending, saran saya siapkan tissue sebelum menonton. :)

Kang Sang Man (Cha Tae Hyun) hidup sendirian. Tidak ada orangtua. Tidak ada saudara. Tidak ada teman. Tidak ada siapapun. Sejauh yang bisa ia ingat, ia memang lahir di panti asuhan. Tidak ada yang mengadopsinya. Sampai ia dewasa seperti sekarang pun ia tetap sendirian, sepi. Ia berfikir kalau ia sudah tidak sanggup lagi dan jalan keluar terbaik dari permasalahannya adalah bunuh diri. Namun, Tuhan mungkin berkehendak lain. Setiap usaha bunuh diri yang dilakukannya pasti tidak berhasil. Ia selalu selamat, entah bagaimana caranya.

Suatu hari ia terbangun di rumah sakit setelah selamat dari pencobaan bunuh diri terakhir yang dilakukannya. Ia merasa ada yang aneh karena dirinya bisa mendengarkan suara-suara hantu. Parahnya lagi, ada 4 orang hantu yang mengikutinya kemanapun! Bahkan sampai pulang ke rumahnya. Hantu-hantu itu meminjam badan Sang Man untuk melakukan aktivitas yang ingin mereka lakukan. Seperti misalnya, hantu kedua seorang bapak-bapak berumur paruh baya yang adalah seorang maniak rokok. Sang Man yang bukan perokok menjadi merokok akibat pengaruh dari hantu yang meminjam fisiknya tersebut.

Tidak mudah bagi Sang Man untuk membantu para hantu itu serta memenuhi semua keinginan mereka. Sang Man merasa menderita. Namun sebenarnya dibalik kesengsaraan yang ia jalani kali ini, ia juga merasa hidupnya lebih berwarna dan seolah memiliki keluarga lengkap yang tidak pernah ia miliki selama ini. Apalagi ia juga mulai merasa jatuh cinta pada seorang perawat rumah sakit bernama Jung Yun Soo (Kang Hye Won).

Saya ingin sekali menceritakan isi film ini secara detail, namun tentu saja saya tidak boleh begitu. Saya ingin anda menonton film ini dan mendapatkan surprise yang saya maksud di akhir film. Percaya deh, kalau anda sudah tahu duluan bagaimana akhirnya, pasti tidak akan seru. I hate spoilers. Film ini membuat saya menangis dan teringat akan almarhum ayah saya. Bisa dibilang saya memang sangat sensitif dengan film yang bertemakan kehilangan dan kematian. Saya tidak bisa menahan emosi apabila menonton film-film seperti itu. Tapi Hello Ghost memang sebuah film yang seimbang. Porsi humor di sepanjang film dan porsi drama yang hanya secuil di akhir terasa sangat seimbang. Ahh..I miss my Dad.. :')






Selasa, 14 Juni 2011

REVIEW: INSIDIOUS
























"Who are you? What do you want?"

Siap-siap!!! Siap-siap ketakutan menonton film ini. Saran saya, persiapkan jantung anda sebelum menonton Insidious. Haha.. Tapi film ini memang sukses membuat saya ketakutan dan kaget setengah mati. Oke, mungkin tidak se-'lebay' itu, tapi Insidious memang merupakan sebuah kejutan bagi saya. Kenapa? Karena jarang, jarang sekali, Hollywood bisa membuat film horror murni atau oldschool horror yang bagus dan ehmm..menakutkan. Mungkin kalau film bergenre thriller atau psychological horror, Hollywood jagonya. Tapi biasanya kalau yang menyangkut 'setan', 'hantu', 'makhluk gaib', dan 'saudara-saudaranya', jarang bisa digarap film-maker Hollywood dengan taraf yang masuk ke taraf menakutkan. Makanya saya tidak menyangka kalau Insidious bisa sebagus ini. Tidak sempurna memang, tapi seperti yang saya tulis tadi, horror ini made in Hollywood, jadi sudah bagus sekali menurut saya.

Kalau bicara tentang sutradara Insidious, James Wan, ia adalah seorang sutradara kelahiran Malaysia yang memang sudah berkarya di Hollywood sejak tahun 2000. Anda pasti tahu salah satu film karyanya yang fenomenal, Saw (2004). Saw pertama yang ditulis oleh Leigh Whannell sukses besar dan akhirnya melahirnya francise berikutnya (bukan lagi disutradarai Wan) sampai panjang daftarnya. Saya akui kalau Saw pertama merupakan sebuah film yang juga merupakan kejutan, karena sangking surprise dengan kengerian dan kesadisan yang ada didalamnya, apalagi jalan ceritanya juga memang bagus. Setelah itu Wan juga menyutradarai Death Sentence (2007), saya juga suka film ini. Kevin Bacon bermain sangat baik dalam film tersebut. Setelah membaca review singkat tentang James Wan, anda pasti tertarik bukan menonton Insidious? Apalagi Insidious juga ditulis oleh Leigh Whannell, jadi duo dibalik suksesnya Saw kembali reuni dalam Insidious. Saya sudah pasti tidak akan melewatkan film Wan selanjutnya, semoga lebih 'surprise'!

Insidious bercerita tentang sebuah keluarga yang baru saja pindah rumah. Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne) mempunyai dua orang putra, Foster (Andrew Astor) dan Dalton (Ty Simpkins). Rumah baru mereka besar dan nyaman, namun keanehan demi keanehan mulai mereka alami sejak menempati rumah tersebut. Mulai dari mendengar suara-suara menyeramkan, melihat bayangan misterius, sampai ke hal-hal yang semakin lama semakin ekstrim dan intens. Apalagi tiba-tiba anak bungsu mereka, Dalton, terjatuh dan koma. Dokter menyatakan bahwa Dalton tidak menderita penyakit apapun, pihak rumah sakit sampai angkat tangan dengan keadaan Dalton karena memang tidak ditemukan keganjilan apapun dalam tubuhnya. Mereka pun memutuskan untuk pindah rumah. Namun setelah pindah tetap saja mereka diganggu oleh hal-hal yang menyeramkan. Ternyata dengan bantuan paranormal bernama Elise (Lin Shaye) mereka baru mengetahui bahwa bukan rumah mereka lah yang dihantui, melainkan Dalton!

Horror klasik yang diusung Insidious mirip dengan Poltergeist (1982), suara-suara yang ada dalam film ini siap mengagetkan anda. Score film ini mantap sekali, semakin membuat kengerian terasa meskipun sosok-sosok hantunya mungkin tidak seseram hantu buatan Asia. Yang membuat film ini semakin menarik adalah jalan ceritanya yang memang bagus dan membuat bulu kuduk anda merinding. Memang sih saya akui kalau sosok hantu yang ada tidak terlalu seram (tetep serem juga sihhh), tapi entah kenapa saya masih ketakutan saja menonton film ini. Mungkin juga karena ekspektasi rendah saya terhadap film ini yang kemudian membuat saya tidak menyangka kalau filmnya bagus. Tapi bagi saya yang bukan pecinta horror, saya tetap berani mengatakan kalau Insidious adalah salah satu film horror yang digarap dengan sangat baik. Apalagi terdapat juga sentuhan komedi sedikit didalamnya, jadi tidak monoton terus-menerus ditakut-takuti seperti horror lainnya. Tumbs up! Go watch it if you dare! Buat yang sudah nonton, please leave your comment.. :)






Rabu, 27 April 2011

REVIEW: EASY A
























"I had a horrible reputation."

Masih ingat dengan Mean Girls (2004)? Film remaja yang tergolong sukses itu dibintangi oleh Lindsay Lohan yang kala itu disebut-sebut sebagai 'the Hollywood rising star'. Mean Girls mengangkat tema di kalangan sekolah menengah atas dan segala permasalahannya, menurut saya film tersebut memang lucu, menghibur, dan yang paling penting 'jujur'. Kali ini Easy A hadir dengan menggandeng Emma Stone yang saat ini sedang naik daun dalam karirnya (Zombieland, Superbad, The House Bunny), mengambil tema yang hampir serupa dengan Mean Girls namun diceritakan dengan cara yang lebih agresif.

Emma Stone berperan sebagai Olive, seorang cewek 'biasa' di sekolahnya yang sama sekali tidak dilirik oleh lelaki, bahkan teman wanita pun sangat sedikit. Ia melakukan semua hal sendiri dan dibawah radar. Olive sudah pasti bukan cewek yang populer di sekolah, namun ia juga bukan the-biggest-loser disana. Ia hanya 'biasa'. Suatu hari, temannya Rhiannon (Alyson Michalka) mulai bertanya pada Olive tentang hubungan percintaannya dan tentu saja mengenai hubungan sex. Karena merasa terdesak, Olive berbohong dengan mengatakan kalau ia baru saja melakukan hubungan sex dengan seorang cowok kuliahan yang tampan. Sayang, Marianne (Amanda Bynes) tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan langsung menyebarkan gosip ke seantero sekolah. Sejak itu, Olive menjadi lumayan terkenal dan mulai dibicarakan orang.

Awalnya, Olive menyukai ketenaran yang mendadak itu, ia merasa senang karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal dirinya. Ia pun mulai merubah penampilannya menjadi lebih hot. Namun tidak disangka banyak teman pria di sekolahnya yang minta bantuan padanya untuk berpura-pura sudah berhubungan sex dengan mereka. Ada juga seorang gay yang ingin image-nya berubah dan akhirnya meminta bantuan Olive. Tentu saja semua tidak gratis, Olive meminta imbalan yang tidak muluk yaitu hanya sebuah gift card. Alhasil, banyak orang yang ingin meminta bantuan Olive secara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan keadaan semakin memanas dan Olive pun sudah mulai 'gerah' dengan hujatan teman-teman di sekolah tentang dirinya, bahkan Rhiannon pun mulai membencinya. Ia harus segera memutar otak dan berfikir bagaimana caranya agar keadaan kembali tenang seperti sedia kala.

Emma Stone terlihat sangat bersinar dalam film ini. Semua adegan yang diperankannya terlihat sangat total dan pas. Ia banyak menggunakan ekspresi-ekspresi pada wajahnya pada adegan komedi dan hal tersebut berhasil menghibur. Sepertinya Emma sangat paham bagaimana caranya membuat sebuah mimik yang tepat dengan perasaan dan pikirannya dalam film ini. Saya yakin sekali kalau Emma Stone akan menjadi aktris besar someday, asal ia tidak mengikuti jejak Lindsay Lohan. Hehe.. Apalagi Emma sebentar lagi akan bermain dalam film Spider-Man (2012) terbaru bersama Andrew Garfield dan berperan sebagai Gwen Stacy. Selain Emma, para pemeran pembantu seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Lisa Kudrow, dll juga semakin membuat film ini meriah dengan totalitas akting mereka masing-masing.

Keberhasilan Easy A sebagai sebuah film komedi bukan hanya dari sang pemeran utama saja melainkan dari script atau jalan cerita film ini sendiri. Dialog-dialog yang to-the-point dan agresif sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu sehingga sangat cocok dan terasa sangat modern ditonton oleh para remaja jaman sekarang. Saya pribadi merasa terhibur menonton film ini, jalan ceritanya terbilang unik, walau dengan dibumbui unsur sex namun tidak menjadi film esek-esek seperti film lokal kita. Silahkan hunting DVD-nya selagi film-film Hollywood sedang tidak masuk ke Indonesia. Lumayan untuk menghabiskan waktu di sore hari sambil ketawa-ketawa lihat si cantik Emma Stone. Para cewek jangan khawatir karena disini ada Penn Badgley (Gossip Girl) juga lho! :)






Sabtu, 09 April 2011

REVIEW: LOVE & OTHER DRUGS
























"You meet thousands of people and none of them really touch you. And then you meet one person and your life is changed forever."

Love & Other Drugs disutradarai oleh Edward Zwick. Salah satu film karya Zwick sebelumnya yang saya suka adalah Blood Diamond (2006), diperankan Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou. Selain itu, Zwick juga pernah menyutradai film The Last Samurai (2003) dan Defiance (2008). Sepertinya kali ini Edward Zwick putar haluan dan memilih untuk menggarap film bergenre komedi romantis. Menggandeng pasangan Hollywood yang sedap dipandang mata dan sedang naik daun, Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway. Pilihan yang tepat sekali menurut saya. Sewaktu pertama kali melihat promo film ini; poster dan trailer, saya langsung menyimpulkan dengan tiga kata: 'Hot. Hot. Hot.'!

Ya, Love & Other Drugs memang menyuguhkan banyak adegan seks, bahkan Anne Hathaway pun tampil nude beberapa kali dalam film ini. Saya sendiri sudah tidak heran dengan penampilan 'polos' Anne, karena sebelumnya memang ia sudah sering begitu. Tapi, trust my words girls; Jake Gylenhaal kelihatan ganteng banget disini! Beda! Adil sekali, para cowok bisa puas cuci mata melihat Anne Hathaway yang super sexy, cewek pun puas lihat si charming Jake Gylenhaal. Semua senang. Hehe.. Tapi dibalik semua unsur-unsur yang menonjolkan sisi vulgar, sebetulnya film ini memang bagus juga untuk ukuran sebuah romantic comedy. Tidak istimewa sih, tapi lumayan sebagai tontonan waktu luang. Sweet. Sexy.

Jamie Randall (Jake Gylenhaal) adalah seorang playboy yang baru saja pindah pekerjaan dari seorang sales di toko elektronik menjadi sales obat Viagra keluaran perusahaan farmasi besar, Pfizer. Bermodalkan ketampanan dan kharismanya tentu saja Jamie dengan mudah merayu para perawat di rumah sakit agar mengizinkannya menaruh sample obat. Ia bahkan berhasil membujuk Dr. Stan Knight (Hank Azaria) agar mau membantunya. Tidak disengaja pada saat menemani Dr. Knight praktek, Jamie bertemu dengan Maggie Murdock (Anne Hathaway). Maggie adalah gadis muda cantik yang menderita penyakit parkinson stage I. Jamie pun langsung suka pada Maggie dan mengejarnya mati-matian. Sebelumnya, menggaet wanita bukanlah hal sulit bagi Jamie, bahkan para wanita gampang saja diajaknya 'tidur'. Mendekati Maggie tidak mudah, namun dengan sedikit usaha akhirnya mereka pun berujung di 'ranjang'.

Awalnya hubungan Jamie dan Maggie murni hanya sebatas partner seks saja, mereka berdua pun telah menyepakati hal itu. Namun lambat laun perasaan mulai timbul di hati Jamie, ia yang selama ini tidak pernah perduli dengan siapapun merasa terlanjur perduli dengan Maggie, ia jatuh cinta pada gadis itu. Maggie yang tidak percaya diri karena penyakit parkinson yang dideritanya ketakutan ketika tahu kalau Jamie mulai jatuh cinta padanya, ia malah bertingkah aneh dan menjauh. Sebelumnya memang Maggie pernah punya pengalaman buruk dalam percintaan, jadi bisa dibilang ia takut untuk memulai lagi. Jamie tentu tidak putus asa, rasa yang sudah terlanjur ada dalam hatinya tidak mungkin ia hapus begitu saja. Ia pun berusaha mengambil hati Maggie dan menyakinkannya kalau ia menerima Maggie apa adanya, meski Maggie sakit sekalipun.

Kalau membaca sinopsisnya memang terkesan klise, tapi Love & Other Drugs beruntung punya Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway yang bermain lepas tanpa beban. Adegan-adegan intim dalam film ini pun mereka lewati dengan chemistry yang terjalin dengan sangat baik, tidak kaku sama sekali. Para pemeran lainnya seperti Hank Azaria, Josh Gad, Oliver Platt, dll juga bermain baik. Beberapa komedi yang diselipkan pada scenes kakak beradik Jamie dan Josh Randall juga sangat lucu dan membuat saya tertawa. Saya tidak membanggakan jalan ceritanya, menurut saya terlalu biasa. Tapi saya lumayan senang dengan penggarapan film ini yang menurut saya 'unik', menggabungkan sebuah sisi romantisme dengan erotisme tapi tanpa terkesan menjijikkan atau murahan. Hal ini berhubungan dengan poin yang tadi telah saya sebutkan, pemeran utama dalam film ini memang jempolan. Tidak ada salahnya menonton film ini sebagai hiburan semata, atau paling tidak cuci mata. :p






Selasa, 22 Maret 2011

REVIEW: BLUE VALENTINE
























"Tell me how I should be? Just tell me."

Poster film ini terlihat begitu romantis, apalagi ketika membaca tagline yang bertuliskan 'A LOVE STORY'. Namun percayalah, ini bukan kisah cinta romantis yang penonton harapkan. Film ini depresif, sebuah potret kisah pernikahan yang di visualisasikan dengan gamblang dan jujur. Mungkin lebih tepat kalau saya mengatakan kisah cinta di Blue Valentine, tragis. Menonton film ini membuat emosi campur aduk. Beberapa scene membuat saya tersenyum sangking manisnya, tetapi lebih banyak lagi scene yang membuat saya galau sangking dituturkan dengan jujur. Banyak yang menganggap film ini memiliki unsur provokatif, saya sedikit setuju, karena setelah saya menonton pun jadi bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hal-hal yang menjadi pertanyaan dalam film ini. Tentang kehidupan pernikahan dan segala drama didalamnya.

Film dibuka dengan keadaan pasangan ini sekarang. Dean (Ryan Gosling) terlihat akrab dengan anak perempuannya, Frankie (Faith Wladyka). Ia termasuk seorang ayah yang baik. Namun keretakan rumah tangga mereka mulai terlihat ketika penonton diperlihatkan bagaimana Dean dan istrinya Cindy (Michelle Williams) bertingkah satu sama lain. Penonton lalu dibawa pada saat kurang lebih lima sampai enam tahun yang lalu, dimana Dean dan Cindy baru mengenal satu sama lain. Film lalu berlanjut terus seperti ini, memperlihatkan awal dan akhir pernikahan mereka. Manis – Pahit. Manis – Pahit. Begitu seterusnya.

Pada awal perkenalan mereka, kita diperlihatkan Dean dan Cindy yang sebenarnya, sebelum stress dan kelelahan dalam perkawinan mereka. Dean adalah seorang pemuda yang ceria dan optimis, ia juga pandai bernyanyi dan main musik. Namun Dean lebih memilih untuk bekerja sebagai kuli panggul sebuah jasa pemindahan barang. Cindy, pada saat itu baru saja putus dari kekasihnya Bobby (Mike Vogel) dan sedang sekolah tentang obat-obatan. Ia juga memiliki trauma tentang sebuah hubungan percintaan dikarenakan rumah tangga kedua orangtuanya yang berantakan. Ketidaksengajaan mempertemukan Dean dan Cindy, sampai akhirnya Dean memutuskan untuk mengenal Cindy lebih jauh.

Sutradara film ini, Derek Cianfrance, pintar sekali menyelipkan adegan-adegan flashback yang semakin mempermainkan emosi penonton. Di satu sisi kita diperlihatkan indahnya hubungan awal mereka, namun di sisi lain kita dibuat bergumam sendiri bahwa pernikahan mereka sudah tidak ada harapan lagi. Menjelang akhir film, saya dibuat meringis karena ending yang tidak klise dan jujur pada kenyataan yang ada. Blue Valentine memiliki lumayan banyak adegan seksual yang vulgar, sehingga pada awalnya memang terjadi kontroversi dimana MPAA memberikan rating NC-17 pada film ini. Menurut saya adegan seksual disini tidak eksploitatif, adegan tersebut bukan menjadi menu utama dalam film ini, hanya bumbu pelengkap yang memang penting untuk berada pada tempatnya.

Meski dengan budget minim, Blue Valentine merupakan sebuah film yang berhasil memikat hati penonton (well, at least hati saya). Walaupun pada kenyataannya banyak orang yang lebih suka menonton kisah happy ending, Blue Valentine mampu menyuguhkan sebuah kisah yang benar-benar 'manusia' tanpa ada sentuhan yang dibuat-buat. Akting jempolan dari Ryan Gosling dan Michelle Williams tentu juga menjadi esensi penting dalam film ini. Apalagi mereka sampai menaikkan dan menurunkan berat badan demi kilas balik karakter yang mereka perankan. Soundtrack yang ada dalam film ini juga terasa sangat pas. Salah satu hal yang saya tarik dari film ini adalah dongeng manis yang biasanya kita baca tidak selalu sama dengan kenyataan. Hidup lebih pahit. Lebih berliku. Apa yang kita kira berjalan dengan baik, belum tentu akan seterusnya begitu. Manusia bisa berubah. Perasaan bisa berubah. Itu kehidupan.






Jumat, 18 Maret 2011

REVIEW: HEREAFTER
























"What happen after we die?"

Ketika Clint Eastwood mengarahkan sebuah film, ia bukan hanya sekedar membuat film, ia membuat karya seni. Ia mempersiapkan strategi khusus pada setiap aspek dalam proses pembuatan filmnya: pemandangan, musik, akting, dan cerita. Ini sangat jelas bahwa setiap detail dirancang dengan seksama. Film terbarunya, Hereafter, mengeksplorasi tentang kematian dan apa yang terjadi setelah kita binasa. Di tangan sutradara lain yang standarnya dibawah Eastwood, mungkin materi film ini akan divisualisasinya menjadi sebuah film yang cheesy. Tapi tidak di tangan Eastwood, meskipun ini merupakan tema baru baginya, film ini menjadi bermakna apalagi didukung kualitas akting aktor sekelas Matt Damon.

Hereafter bercerita tentang tiga individu berbeda yang masing-masing sedang memiliki masalah yang berhubungan dengan kematian. Pertama, George (Matt Damon) yang mampu berbicara dengan orang mati. Mungkin di atas kertas kemampuannya itu terbilang keren, namun cukup sulit bagi George untuk memiliki hubungan normal karena hal itu. Dia sekarang malah memilih untuk menjadi buruh pabrik dengan gaji yang kecil. Dalam pikirannya, pekerjaannya saat ini lebih baik dan tidak membebani dirinya. Ada juga seorang wanita Perancis, Marie Lelay (Cecile de France) yang entah bagaimana terselamatkan dari Tsunami. Ia memiliki 'penglihatan' setelah bencana itu, namun teman kerjanya malah tidak percaya dan menganggapnya gegar otak atau bicara omong kosong. Kita juga diperkenalkan dengan sepasang anak kembar, Marcus dan Jason (Frankie dan George McLaren) yang mencoba untuk menjaga diri mereka sendiri karena ibu mereka pemabuk dan tidak dapat diandalkan.

Ketiganya menceritakan tiga kisah yang berbeda, tetapi benang merahnya adalah kematian. Marie berhasil lolos dari kematian dan semenjak saat itu ia malah melihat hal-hal aneh. Si kembar malah secara langsung melihat kematian karena ibu mereka yang pemabuk. George memiliki karunia berbicara dengan orang mati, atau ia lebih suka menyebutnya, kutukan. Orang selalu mengetuk pintu dan mengganggu dia untuk membacanya. Dia selalu harus memberitahukan pada mereka kalau ia sudah tidak melakukan hal itu lagi. Bagi George, ia ingin hidup normal dengan manusia, bukan dikelilingi oleh banyaknya orang yang sudah mati.

Clint Eastwood berurusan dengan topik berat disini, namun Hereafter tidak terkesan murahan, dipaksakan, atau menggurui. Jika mengangkut kematian, terserah pada individu yang menonton, bagaimana mereka menganggap film ini. Apa yang mereka percayai atau tidak. Meskipun Matt Damon adalah bintang utama dalam film ini, namun secara keseluruhan film ini bukan hanya tentang dirinya. Ini lebih tentang beberapa karakter kuat dalam film dan bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Hereafter lebih minitikberatkan pada karakter-karakter kuat didalamnya, emosi, dan harapan. Jadi jangan berharap anda akan melihat hantu atau menduga-duga kapan hantu-hantu itu akan muncul. Ini bukan film horror, ini drama. Saya pribadi menyukai film ini. Memang tidak lebih bagus dari The Sixth Sense (1999), tapi cukup berhasil jika dibandingkan film sejenis lainnya. Opening scene tentang Tsunami di Thailand berhasil membuat saya sedikit bergidik ngeri.






Kamis, 17 Maret 2011

REVIEW: THE FIGHTER
























"I'm the one who's fighting. Not you."

Banyak film yang mengangkat tema tinju seperti Rocky (1976), Raging Bull (1980), Ali (2001), Million Dollar Baby (2004), Cinderella Man (2005), dan lain-lain. Beberapa contoh yang saya sebutkan tergolong sukses di pasaran, hal ini menandakan kalau film dengan tema tinju masih digemari. Kali ini David O. Russell kembali menyegarkan memori kita dengan film bertema tinju dalam The Fighter. Deretan pemain film Hollywood ternama bermain disini, sebut saja Christian Bale, Mark Wahlberg, Amy Adams, dan Melissa Leo. Berkat bakat dari para pemainnya itulah akhirnya The Fighter sukses berlaga dalam beberapa ajang penghargaan film seperti Golden Globe dan Oscar tahun ini, serta membuahkan piala untuk Christian Bale dan Melissa Leo.

Film ini mengangkat kisah nyata 'Irish' Micky Ward, seorang petinju yang terkenal pada masanya. David O. Russell mengemas kisah ini menjadi sebuah film dengan sangat baik. Christian Bale bermain menjadi Dicky Ecklund, kakak Micky yang kecanduan narkoba dan selalu mengulang-ngulang kisahnya saat mengalahkan Sugar Ray Leonard. Ada crew film yang mengikutinya, yang katanya sedang membuat sebuah reality show tentang kembalinya Dicky dalam ring tinju. Ibu mereka diperankan oleh Melissa Leo yang mempunyai keinginan kuat untuk dapat melihat anak-anaknya tenar, meskipun hal yang ia lakukan menyimpang dari kebenaran. Ia menyangkal kalau Dicky terlibat obat-obatan terlarang, juga merasa paling benar dan paling tahu kebutuhan anak-anaknya.

Lain lagi dengan karakter Mark Wahlberg yang lebih terkesan tenang sebagai Micky Ward. Ia menjalin hubungan cinta dengan Charlene Fleming yang diperankan Amy Adams disini. Mereka berkenalan di sebuah bar dan pada akhirnya Charlene berhasil membuka pikiran Micky dan menjauhkannya dari pengaruh buruk di keluarga, terutama sang ibu dan Micky. Pada awal film ini kita akan diperlihatkan betapa eratnya hubungan kakak beradik Micky dan Dicky. Mulai pertengahan muncul konflik diantara mereka dan juga sang ibu. Pada intinya, film ini menceritakan kisah perjalanan Micky Ward dari mulai sebelum sukses di ring tinju serta lika-liku hubungan dengan keluarganya tercinta.

Beruntung sekali The Fighter memiliki Christian Bale dan Melissa Leo yang memang terlihat paling mendalami karakter masing-masing, wajar saja kalau mereka lah yang mendapatkan piala-piala dengan gelar 'Best Supporting Actor / Actress'. Totalitas Bale semakin terlihat dengan menunjukkan penurunan berat drastis lagi dalam film ini setelah sebelumnya sudah pernah terlihat seperti tengkorang dalam The Machinist (2004) dan kembali sixpack dalam The Dark Knight (2009). Saya pun sampai bingung, sepertinya Bale gampang sekali menaik-turunkan berat badan, meski pada kenyataannya saya yakin hal itu pasti sangat sulit. Sayangnya, Mark Wahlberg yang mengaku selama ini menjaga bentuk tubuhnya agar tetap sixpack supaya lebih pas dengan karaternya pada film ini malah terlihat kurang menunjukkan emosi dan chemistry antara dirinya dengan Amy Adams juga kurang terjalin dengan baik. Namun secara keseluruhan The Fighter memberikan warna baru dalam film dengan tema tinju. David O. Russell mengemas film ini dengan gaya indie / vintage yang simple namun menarik untuk ditonton.