total ping

Tampilkan postingan dengan label Radio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radio. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

Europe On Screen Opening Night

Memasuki tahun keempatnya, Festival Film Eropa atau lebih dikenal dengan Europe On Screen kembali hadir di Indonesia. Acara ini digelar dari tanggal 29 Oktober - 30 November 2010 di 7 kota besar Indonesia. Kali ini Europe On Screen berkolaborasi dengan sineas Indonesia dengan menayangkan 40 film dari 29 negara belahan Eropa berdampingan dengan 25 film pendek karya sineas dalam negeri.

Tema yang diangkat dari penyelenggaraan Europe On Screen tahun ini adalah Europe in Motion; Eropa yang bergerak. Tujuannya untuk menggambarkan kedinamisan dan keanekaragaman budaya Eropa dan untuk menunjukkan bahwa Eropa terus berupaya untuk bergerak maju di dalam batas-batas negaranya dan dalam menjalin hubungan dengan dunia yang lebih luas. Melalui media audio-visual, diharapkan masyarakat dapat memahami dan mempelajari kebudayaan Eropa. Film Indonesia yang turut diputar selama festival juga merupakan sebuah simbol pertukaran budaya Eropa - Indonesia. 'Kebudayaan secara umum dan film secara khusus adalah piranti penting untuk lebih mengapresiasi kekayaan dalam perbedaan dan untuk mendorong saling pemahaman', ungkap Christiaan Tanghe, duta besar Belgia untuk Indonesia.


Film yang diputar dalam Europe On Screen dapat dikotakkan dalam enam kelompok besar: Europe laugh untuk film komedi, family affairs mengeksplorasi makna dari sebuah keluarga, Europe on screen shorts menampilkan film pendek kolaborasi sineas Eropa dan Indonesia, life lessons berbagi cerita tentang pelajaran dari perjalanan hidup, paths of glory untuk menampilkan sejarah Eropa, dan youth section yang memperlihatkan imajinasi khas anak-anak. Semua film diputar dengan sistem free screening, tiket akan diberikan secara free 45 menit sebelum film digelar. 

Yogyakarta menjadi tuan rumah pertama dari pemutaran Europe On Screen. Di Jakarta,  festival film ini diputar dari tanggal 5 - 12 November 2010. Hampir semua festival film membuka opening dan closing film hanya untuk undangan (invitation only), begitu juga dengan Europe On Screen. Sampai akhirnya 7 jam sebelum malam pembukaan, panitia mengundang publik turut hadir untuk menonton bersama film pembuka. Dan disanalah saya, bermodalkan nekat dan kecintaan pada film yang demikian besar, ikut hadir untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Keputusan mendadak panitia mengundang publik menonton film pembuka membuat saya tidak sempat mempersiapkan apapun untuk menghadiri acara ini: batik lecek karena sudah dipakai seharian, dandanan berantakan karena sepulang kerja saya langsung pergi ke Erasmus Huis, dan sepatu datar yang warnanya mulai kusam. Ugh kalau bukan demi melihat film pembuka dan merasakan suasana malam pembukaan, mana mau saya hadir dengan penampilan seperti itu. Satu hal yang paling disesalkan adalah saya tidak membawa digital camera, jadilah saya hanya mengandalkan kamera HP dengan kapasitas 2MP-nya. Inilah maksud dari kalimat 'Hanya bermodalkan nekat dan cinta kepada film yang besar'.

Penampilan paling maksimal -____-'

Mendatangi Erasmus Huis yang menjadi tempat berlangsungnya acara seperti terlempar ke sebuah tempat yang tidak saya kenali. Penuh dengan manusia berperawakan tinggi-pucat-blond-mata-biru dan bahasa yang asing di telinga. Makanan ringan dan berbotol-botol minuman 'berwarna' dibagikan dengan royalnya.


Lucu juga melihat benturan budaya yang terjadi di malam pembukaan Europe On Screen: warga Eropa yang mengobrol santai dan masing-masing memegang gelas cantik berisi minuman berwarna kuning-keemasan atau ungu tua, warga Indonesia yang sudah menerima globalisasi juga mengobrol dengan rekan-rekannya ditemani minuman dengan gelas cantik plus rokok, nyaris kalap karena berprinsip 'Kapan lagi bisa minum banyak secara gratis', warga Indonesia labil yang malu-malu dan canggung mengambil gelas cantik berisi minuman tersebut dan menyesapnya sedikit-sedikit, dan warga Indonesia yang setia dengan gelas lurus berisi soda, sambil sesekali melihat isi gelas cantik dengan rasa penasaran 'Coba ngga ya... Coba ngga ya...'.


Saat registrasi peserta, panitia menunjukkan saya tempat pemutaran film: sebuah tenda di lapangan terbuka dengan proyektor dan layar putih, 'Berasa nonton layar tancep', bisik teman saya. Untuk yang memiliki undangan resmi silahkan langsung naik ke lantai 2. Saya sendiri tidak mempersalahkan lokasi pemutaran film, bisa menonton salah satu film dari Belgia saja saya sudah puas. Bonusnya, bisa berkenalan dan mengobrol dengan Esca, produser siaran pagi Trax FM (CMIIW, saya lupa-lupa-inget nama dia). Yay, selalu menyenangkan bisa mengobrol dengan orang-orang yang bekerja di dunia media, broadcasting terutama. Malam itu Esca bertugas menyampaikan live report pembukaan Europe On Screen dan berkesempatan mewawancarai Veronika Kusumayarti (film programmer Europe On Screen). 



Selesai wawancara, 

'Kalian ngga ke lantai 2?'.

'Huff...ngga punya undangan'.

'Emang darimana sih?'.

'Heee... ngga dari mana-mana. Dateng karena emang cinta film dan pengen 'melihat' Eropa aja'.

'Ohh.. kalo gitu pake undangan gue aja. Gue udah musti cabut ke FX, ada acara lagi disana'.



See.... selalu menyenangkan berkenalan dan mengobrol dengan orang baru. Walau akhirnya tiket tersebut tidak dipergunakan dan saya tetap setia menonton di tenda. Tidak kalah menyenangkan kok dengan menonton dalam ruangan.


Film pembuka yang diputar adalah Dagen Zonder Lief (With Friends Like These). Lewat film ini diperlihatkan bagaimana cara orang Belgia berinteraksi, bersama teman menemukan tempat mereka dalam hubungannya dengan orang lain, juga dengan diri sendiri. Tidak hanya bisa mengenal budaya Belgia, film ini juga mengajak penontonnya untuk melihat kota Belgia dan keindahan alam Perancis.

Selesai film, dibagikan goodie bag yang cukup berat oleh panitia. Isinya cukup membuat saya menjerit tertahan saat membukanya dalam perjalanan pulang: brosur promosi, program book for Europe On Screen, pin dengan bendera Indonesia dan Uni Eropa, majalah MAXX-M, Total Film, dan Cinemags. 




Bisa merasakan ambiance malam pembukaan Europe On Screen, meresapi bagaimana dua budaya yang berbeda disatukan dalam sebuah tempat, berkenalan dengan orang baru, 'melihat' Belgia lewat sebuah film, dapet bonus goodie bag. Ini semua melebihi harapan dan bayangan yang ada di kepala saat saya memutuskan untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Europe On Screen diputar di:
Yogyakarta: 29 - 30 Oktober
Bandung: 1 - 2 November
Jakarta: 5 - 12 November
Surabaya: 13 - 14 November
Denpasar: 20 - 21 November
Semarang: 24 - 25 November
Banda Aceh: 26 - 30 November

Info jadwal, lokasi acara dan review film bisa dilihat di www.europeonscreen.org

Notes: Nobar yu, email saya ya :)

Special thanks: Rimadhani Syafei yang menemani saya menghadiri acara ini, plus jadi juru foto dadakan juga.

Minggu, 15 Agustus 2010

Radio Play, Prambors, dan Honda Jazz

Radio play atau sandiwara radio adalah sebuah bentuk penceritaan siaran audio di radio tanpa komponen visual. Sandiwara radio tergantung pada dialog, musik, dan efek suara, untuk membantu pendengar membayangkan cerita yang sedang disampaikan (Wikipedia).

Prambors dan Radio Play
Sejauh ingatan saya yang berumur 24 tahun ini, radio play pertama yang mengudara di Indonesia, diminati oleh hampir semua orang tua kita, dan masih melekat kuat di ingatan adalah Catatan si Boy yang digawangi Prambors di tahun 1984. Radio play ini terbilang sukses sehingga dibuat versi layar lebarnya tahun 1987 dengan  bintang utama Onky Alexander.

Sepertinya sejak kejayaan Catatan si Boy, belum ada radio play lain yang mampu mengimbangi. Nasib radio play pun jadi mati suri dan orang mulai melupakannya. Di tahun 2004, Prambors menggebrak lagi dunia siaran dengan kembali membuat radio play berjudul Balada Cinta Ramadhan (BCR). Remaja sekarang tentu asing dengan sandiwara radio seperti ini dan penasaran untuk mendengarnya, termasuk saya yang waktu itu masih usia remaja (ehem).

Saya masih ingat, waktu itu saya kuliah tingkat 2 dan harus kost karena jarak rumah yang jauh. Dengan segala keterbatasan anak kost, maka radio adalah pelarian utama. Jam 5 sore, hampir semua anak masuk kamar masing-masing untuk mendengar BCR, lebih menyenangkan dibanding menonton sinetron Ramadhan yang ceritanya monoton. Saya sendiri mendengar radio sambil memeluk bantal, berkonsentrasi penuh, membayangkan adegan demi adegan di kepala, dan memandangi radio seakan muncul visualisasi gambar dari sana.

Balada Cinta Ramadhan sendiri bercerita tentang cinta segitiga Todi, Gio, dan Indi. Gio dan Todi adalah kakak beradik dengan karakter berbeda. Gio ditampilkan sebagai lelaki sempurna, cerdas, tampan, dan memiliki pacar sempurna bernama Indi. Sedangkan Todi, si adik, adalah tipe remaja cuek namun tetap perhatian dan dekat dengan keluarga. Saat Gio harus berangkat ke luar negeri untuk kuliah, Gio berpesan kepada Todi untuk menjaga Indi selama Gio tidak ada. Todi yang melaksanakan amanat sang kakak ternyata malah jatuh hati kepada Indi, begitu juga dengan Indi.

Ceritanya klise memang, tapi terasa berbeda karena dibawakan dengan format radio play. Mood pendengar ikut larut di setiap cerita, tidak hanya terbukti dari respon SMS yang masuk ke Prambors, tapi juga dari topik obrolan yang paling sering dibahas antara sesama teman kuliah (bahasa Twitternya sih BCR jadi trending topic di kampus saat itu). Format BCR memang ditujukan untuk cerita Ramadhan, tapi tidak melulu setiap episode menampilkan nasihat atau petuah. Anak muda mana mau dinasihati dengan cara seperti itu, dan BCR dengan cerdik menyelipkan pesan-pesan bermakna tanpa bermaksud menggurui.

BCR berhasil menghidupkan kembali napas radio play di Indonesia dan juga kembali diminati banyak orang. Bulan Ramadhan selanjutnya BCR tahap 2 dibuat dan akhirnya Prambors secara konsisten membuat radio play khusus Ramadhan setiap tahunnya sampai saat ini. Radio play Prambors terbaru di bulan ini adalah Kompilasi Kisah Kamu (KKK) disiarkan setiap 30 menit menjelang waktu berbuka. Jadwal dan frekuensi Prambors di kota masing-masing bisa dilihat di www.pramborsfm.com

Honda Jazz Radio Play: 3 Cinta
Honda Prospect Motor dengan Honda Jazznya memang membidik pasar dengan segmentasi anak muda. Terlihat dari desain city car yang mungil, lincah, irit bahan bakar, dan stylish dengan warna mobil yang centil. Honda Jazz juga membuat iklan tak kalah kreatif untuk terus menarik perhatian pasarnya, salah satunya adalah ini:

Siapa yang tidak langsung jatuh cinta setelah melihat iklan ini? Lagu RAN yang ceria dengan lirik 'kurasa ku tlah jatuh cinta...', anak muda dengan segala aktivitas mereka, senyum dan tawa lepas yang ditampilkan para model, warna-warni gambar bergantian muncul dan tervisualisasi, dan tagline 'Jazz up your life' ditampilkan sebagai penutup. Iklan berdurasi satu menit ini terus terngiang dan teringat bahkan setelah iklan lama selesai.

Tidak berhenti sampai disitu, Honda menggandeng Prambors untuk membuat Radio Play berjudul 3 Cinta sebagai bentuk lain media iklan dan promosi Honda Jazz. Cara yang brilian menurut saya karena belum ada satu produk pun yang menggarap iklan dalam format radio play secara serius. Selama ini kebanyakan  produsen menilai media yang paling ampuh untuk menyampaikan iklan adalah televisi karena mampu menampilkan bentuk audiovisual secara utuh. Honda juga cerdas memilih Prambors sebagai radio rekanan karena Prambors sudah lama berkecimpung membuat puluhan episode radio play, selain itu Prambors memiliki anak cabang di delapan kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Medan, dan Makassar) yang memungkinkan siaran bersama sehingga pangsa pasar anak muda yang dibidik lebih besar dan luas.

Mulai tanggal 24 Mei 2010, radio play 3 Cinta yang naskahnya ditulis mantan penyiar Prambors, Sesa Nasution dan Iman Hendarto mulai mengudara. Secara garis besar 3 Cinta menceritakan kisah percintaan tiga pasang anak muda dengan segala permasalahan yang mereka temui. Hubungan pasangan Vano dan Sarah terganjal oleh kisah lama antara ayah Vano dan Ibu Sarah yang ternyata adalah mantan kekasih. Sementara Rendy dan Fiona adalah sepasang anak muda yang persahabatannya diuji oleh tumbuhnya perasaan cinta di antara mereka. Sedangkan pasangan Fajar dan Gaby terganjal kenyataan bahwa Gaby ternyata sudah pernah menikah dan punya seorang anak. Cinta siapakah yang akan bertahan, dan cinta siapa yang harus menyerah pada keadaan, ataukah akan terjadi saling-silang kisah cinta di antara mereka?

Trailer 3 Cinta diluncurkan tanggal 12 Juni 2010. Trailer berdurasi 3 menit ini merupakan trailer berdurasi paling lama yang pernah ditayangkan di TV swasta nasional. Beberapa orang yang belum pernah mendengar radio play 3 Cinta di Prambors tentu bingung dengan trailer ini, 'Iklan Honda Jazz yang baru itu cuplikan film pendek ya?' komentar seorang teman. Saya yang jarang nonton TV tentu bingung dengan iklan yang dimaksud, tambah bingung lagi saat melihat iklan bersangkutan, tetapi langsung ngeh saat di ending trailer terdapat logo manusia kribo khas Prambors. 'Ah, ulah Prambors ternyata. No wonder', batin saya dalam hati. 

Beberapa tahun ini saya memang absen mendengar Prambors sehingga tidak tahu menahu tentang radio play 3 Cinta. Jadi saya langsung browsing dan mendapat link untuk mendownload episode 3 Cinta di www.hondaisme.com/3cinta/ Disana terdapat edisi lengkap 3 Cinta season 1 dan season 2, masing-masing season terdiri dari 20 episode. Untunglah, ternyata saya masih sempat mengikuti beberapa episode 3 Cinta season 2 yang mulai disiarkan sejak 5 Juli 2010.

Secara keseluruhan, radio play ini worth it untuk diikuti. Cerita percintaan dan persahabatan yang ringan dan dekat dengan anak muda ditambah dengan lagu-lagu pilihan yang cocok mendukung mood cerita, membuat saya selalu ketagihan mendengat kelanjutan cerita yang berdurasi sekitar 15 menit per episodenya ini. Tidak ada ruginya jika kalian juga ikut mendengarkan 3 Cinta (free download di www.hondaisme.com/3cinta/) sekaligus merasakan pengalaman mendengar sebuah sandiwara radio.

Copycat di Dunia Broadcasting
Saat saya sedang berpindah-pindah saluran radio, tidak sengaja saya mendengar Gen FM yang juga sedang memutar radio play. Disponsori oleh IM3, maka radio play ini menceritakan sebuah geng bernama geng IM3 yang sedang merencanakan liburan ke Bali, namun persahabatan mereka sendiri terancam bubar karena terdapat cinta di dalamnya. 

Oh please, walaupun radio play memang dibuat untuk mengiklankan sebuah produk tapi tidak perlu nama produk tersebut secara gamblang selalu disebutkan di setiap episode. Seakan menegaskan, 'Ini adalah iklan, ayo kamu juga pakai provider ini'. Sungguh bukan sebuah cara elegan untuk beriklan. 3 Cinta juga merupakan iklan, tapi tidak melulu menyebut Honda Jazz sepanjang episode. Dengan kalimat 'Acara ini dipersembahkan oleh Honda Jazz' juga sudah cukup membuat pendengar ngeh dengan produk tersebut. Selain itu radio play di Gen FM terkesan dibuat secara terburu-buru dengan skenario yang lemah, cerita yang cheesy, dan akting pengisi suara yang seperti sedang membaca naskah. Lucunya, radio play ini kadang disiarkan bersamaan dengan 3 Cinta.

Well, Gen FM benar-benar memilih rival yang salah untuk masalah radio play.

Rabu, 16 Juni 2010

Visiting U FM

Pagi ini saya mengunjungi U FM untuk mengambil voucher menginap di Bali. Yeay, saya menang kuis lagi dari radio ini :) Selain memiliki siaran menarik, penyiar hebat, dan lagu bervariatif, U FM memang royal menggelar kuis dan membagi-bagikan hadiah untuk penggemarnya. Saat ini U FM sedang membagi-bagikan tiket gratis nobar Toy Story 3 di Mall Emporium Pluit. Kalau berminat, U FM bisa didengar di frekuensi 94.7 atau live streaming melalui www.u-fm.com. Jangan lupa ajak saya ya kalau kalian menang tiketnya ;)

U FM bermarkas di Menara Imperium Kuningan lantai 33.

Posisi U FM yang berada di pojokan gedung dan kurang eye catching membuat saya sedikit kesulitan untuk menemukannya.

Suasana U FM masih sepi, mungkin karena saya datang pagi hari sebelum berangkat kerja. Hanya ada beberapa orang yang sedang bertugas dan mereka memperkenalkan saya dengan "orang-orang penting" di balik siaran U FM. Siapa sangka, Yuma Maharani, produser siaran pagi yang jadwalnya sibuk bukan main ternyata orangnya kecil mungil dan imut-imut. Dan Tony Thamrin yang selama ini saya kira tinggi besar, ternyata jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan. Suara seseorang memang tidak bisa menjamin penampilan aslinya ya :p

Walau sibuk, Yuma menyempatkan diri untuk mengobrol sedikit dan mengajak berkeliling. Karena kantor di Menara Imperium hanya digunakan untuk siaran, maka ukurannya tidak terlalu besar dan hanya ada beberapa ruangan privat.

 Ruang siaran

 Jadwal siaran (eerr...tadi dibolehin foto ini ngga ya)

 Ruangan Imam Wibowo sebagai Program Director

 Lobby?

 Whole area from lobby perspective

Tempat yang paling saya suka di U FM? Tentu saja ruangan Music Director. Beberapa lemari dipenuhi keping CD musik aneka jaman dengan beragam genre. Pengen banget punya ruangan seperti itu di rumah, tapi mungkin isinya akan saya mix dengan film ya.



Kunjungan saya hanya sebentar. Tak enak berlama-lama disana karena semua orang sedang sibuk bekerja. Lagipula saya juga harus cepat-cepat melanjutkan perjalanan ke kantor. Thanks U FM, untuk voucher dan kunjungan menyenangkan di pagi hari.

Tiket PP Jakarta - Bali yang saya beli bulan Mei lalu sekarang sudah punya pasangannya: voucher menginap di Tune Hotels Bali selama 3 hari 2 malam. Can't hardly wait for another vacation. Desember cepatlah dataaaang... Kalau menurut hitungan Daisypath saya sih "It is 5 month, 3 weeks & 1 day until Bali".


Anyone join?

Selasa, 08 Juni 2010

Life For Passion

Salah satu hal penting yang saya tangkap dari film Julie and Julia adalah life for passion. Di film itu Julie berusaha menekuni passion dalam hidupnya, memasak dan menulis, di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai petugas call center. Dengan menjalankan passion, Julie merasa lebih hidup dan bersemangat dalam menjalani hari dan menghadapi pekerjaannya yang menyebalkan.

 

Berbicara tentang passion, ada tiga hal di dunia ini yang mampu mengembalikan semangat dan merefresh otak saya: film, musik, dan buku. Seperti pendeskripsian saya di halaman muka blog ini, I’m movie freak, music holic, and books worm. Travel juga masuk dalam daftar passion saya, hanya saja travel membutuhkan perencanaan, waktu dan biaya lebih, jadi tidak bisa saya lakukan semaunya saja. Ketika sebagian besar wanita memasukkan belanja dalam passion hidup mereka, saya hanya menganggap belanja sebagai ‘pelarian’. Bagaimana dengan blogging, hmm kegiatan ini sudah masuk dalam kategori pengaktualisasian diri, dan bagi saya kedudukannya lebih tinggi dibanding passion.

Passion pertama dalam hidup saya: film. Cukup cari saya di bioskop pada hari libur, saya pasti beredar disana untuk menonton film terbaru. Jika tidak ada film yang menarik, maka saya akan berada di kamar, sibuk memutar keping DVD berbagai genre film.


Dengan sebuah film, baik fiksi maupun kisah nyata, saya dapat melihat kisah hidup seseorang, mencoba memahami perasaan mereka, belajar tentang kebudayaan negara lain, plus dimanjakan dengan visualisasi melalui setting sebuah film. Berhubung jenis film di Indonesia kebanyakan didominasi film produksi Hollywood, jadi saya selalu menantikan dan menikmati berbagai festival film. Sangat menyenangkan dapat menjelajahi berbagai tempat di dunia ini dan mempelajari kebudayaannya melalui sebuah film.

Passion saya pada musik sejalan dengan kecintaan saya dengan radio. Sejak SMP saya bercita-cita menjadi penyiar radio. Pasti menyenangkan jika dapat mengetahui perkembangan musik terbaru, setiap hari bisa memutar musik favorit, dan bekerja sesuai minat, begitu pikir saya. Tidak mudah memang menjadi penyiar, tapi saya beruntung dapat mencicipi pengalaman itu di bangku kuliah. Bagi saya, tidak ada pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain bekerja sesuai passion yang dimiliki.

Setiap musik memiliki sebuah cerita hidup dan kenangan di dalamnya. Melalui sebuah musik, saya dapat menyusun garis waktu dan bercerita banyak dari memori yang secara langsung terputar ulang. Saat mendengar lagu Sheila on 7 misalnya, saya langsung teringat masa-masa SMU dan kekonyolan teman-teman yang mengidolakan personilnya. Jadi jangan salahkan saya jika sering senyum-senyum sendiri atau tiba-tiba termenung saat mendengarkan sebuah musik.


Musik dapat mempengaruhi mood dengan hebatnya. Sejenuh dan sebosan apapun, saya cukup mendengarkan musik kesukaan, ikut menyanyikan beberapa lirik, tersenyum saat mengingat beberapa cerita hidup yang bermunculan, dan beberapa menit kemudian perasaan menjadi lebih baik. Karena itu, saya selalu mengawali hari dengan mendengarkan radio, cara ampuh menyemangati diri sendiri untuk bekerja seharian.

Saya cinta buku, hanya saja saya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Belum lagi sifat saya yang detail oriented dan perfeksionis ikut mempengaruhi. Saya ingin mempunyai waktu khusus untuk membaca, tanpa gangguan. Mood saya juga harus bagus, jadi saya dapat merasakan mood yang ingin disampaikan dari buku tersebut. Belum lagi saya ingin membaca kata per kata dari sebuah buku, tidak cukup rasanya kalau membaca cepat atau skimming saja. Hal-hal kecil dan tidak penting ini akhirnya membuat beberapa buku menjadi tertunda untuk dibaca.  


Banyaknya kalimat yang dibaca dalam sebuah buku membuat otak saya terasa hidup kembali. Saya sudah teramat bosan dihadapkan dengan deretan angka dari Senin - Jumat, jadi saya butuh limpahan kalimat untuk menyeimbangkannya. Penggunaan kata dan kalimat yang ditulis dalam buku memperkaya kosa kata saya saat menulis blog. Sayangnya beberapa bulan ini saya belum membaca satu buku pun, jadi pilihan kata saya di blog sedikit monoton dan membosankan :(


Tiga passion dalam hidup saya dan membuat hari-hari lebih berwarna, bermakna, dan menyenangkan. Apa passion kalian? Share sama saya ya :)

Senin, 15 Maret 2010

U Fm, Nobar, dan Kalap Belanja

"Hari gini denger radio?" Kata teman kantor saya. 
"Perasaan terakhir kali gw denger radio itu pas jaman SMA deh, sejak itu ngga pernah lagi" lanjut dia

Memang sih, jaman sekarang pasti kedudukan radio sudah bergeser dengan penemuan iPod yang dapat menyimpan ribuan lagu. Tapi saya lebih cinta mendengarkan radio dibanding iPod yang lagunya cuma itu-itu lagi. Saya merasa memiliki teman sepanjang perjalanan (PP rumah - kantor memakan waktu selama 5 jam) saat mendengarkan radio. Tidak hanya memutar lagu, radio juga menghadirkan penyiar yang memberi info traffic, gosip, film terbaru, dan banyolan segar yang membuat saya harus menahan tawa (malu diliatin satu bus kalo ketawa ngakak). Saya juga sering mendapat kejutan melalui lagu yang diputar. Siapa sangka, hari ini saya bisa mendengarkan lagu kenangan bareng si mantan, atau lagu perpisahan waktu SMU, atau lagu yang mengingatkan saya dengan TTM nun jauh disana :) Setiap lagu pasti memiliki kenangan tersendiri, dan kenangan-kenangan itu dihadirkan secara mengejutkan oleh penyiar radio untuk pendengarnya.

Saya sempat mengalami krisis identitas saat lulus dari bangku kuliah. Radio pilihan saya dari jaman SMU sampai kuliah adalah Prambors, tetapi saat memasuki dunia kerja saya merasa terlalu tua untuk mendengar Prambors. Saya pun mulai searching line siaran yang dapat menampilkan citra pribadi saya: muda, baru masuk dunia kerja, sedang mencari jati diri, dan ingin menikmati hidup di usia yang sekarang. Pertama saya mencoba mendengar Gen FM dan merasa mual setelah 2 jam mendengarkan (lagunya kurang variatif, dalam waktu 2 jam sebuah lagu yang sama bisa diputar sebanyak tiga kali, dan penyiar tidak komunikatif dengan pendengar), Jak FM pun bernasib sama (ngga heran, Gen FM dan Jak FM berdiri di bawah satu bendera). Track FM? Hhmm, ngga beda jauh dengan Prambors, segmentasinya untuk anak SMU. Delta FM atau Kiss FM? Fiuuhh...saya belum setua itu. Sampai akhirnya, saya membaca label U FM di majalah langganan saya, Cita Cinta.


Pertama kali mampir di U FM, saya mendengar siaran pagi Imam Wibowo (ex-Prambors) dan Claudia Odit Lengkey. Gaya siaran yang fun, ledekan segar antara Imam dan Odit, resensi film, event acara, traffic Jakarta, dan lagu-lagu baru plus lagu lama jaman saya SMU diputar disini. Saya langsung merasa klop dan jatuh cinta dengan radio ini, sekarang U FM menjadi teman perjalanan yang paling setia. U FM bisa didengarkan di frekuensi 94,7 atau live streaming di www.u-fm.com untuk teman blogger yang berada di luar kota.

 Imam and Odit on 'Let Us Scramble Your Morning"

Satu hal lagi yang membuat saya tambah sayang dengan radio ini, U FM royal membagikan tiket nonton bareng. Saya beruntung pernah mendapat 2 tiket nonton New Moon di Setiabudi 21, dan hari sabtu kemarin saya dapat 4 tiket nonton It's Complicated di PS. Tadinya mau ngajak Cipu dan Exort nonton bareng sekalian kopi darat, tapi Cipu udah berangkat ke Vietnam dan saya ngga punya YM Exort, lagipula film ini terlalu 'cewek' dan ngga tepat untuk ditonton bareng mereka. Next time ya guys :p

Saya nobar It's Complicated bareng geng Singapore Ceria plus Sarah (she was my roommate in college too, like Sagi). Saya sendiri sempat heran, ko tumben U FM ngajak nonton film ini, sepertinya terlalu 'tua' untuk segmentasi pendengar U FM, selain itu bioskop yang dipilih terlalu besar. Dan pertanyaan saya terjawab saat melakukan registrasi: bukan cuma pendengan U FM yang ikutan nobar, tapi juga pembaca majalah Pesona dan Femina. Panteeeesss yang nonton kebanyakan Ibu-ibu :p

Saya, Sarah, Nenes, Sagi.

Berbeda dengan ambience nobar New Moon yang dihadiri U FM crew, nobar kali ini rasanya flat, bahkan sepertinya ngga ada kru U FM yang hadir (huks...padahal pengen bikin Sarah yang ngefans abis sama Imam histeris). Saya masih ingat dengan games seru yang diadakan U FM sebelum mulai nobar New Moon, salah satunya bergaya mirip poster New Moon dan para peserta dikerjain abis-abisan sama Imam. Belum lagi celetukan-celetukan khas kru U FM yang bertaburan sepanjang New Moon diputar, sukses bikin film yang seharusnya sedih berubah kocak sejadi-jadinya.
"Waduh, potong rambut kenapa sih. Cupu banget." Komentar Imam untuk rambut Jacob yang masih panjang.
"Wiiiiww...badannya keren bangeeett...Mauuu....." Ini kata Fifi Karamoy ngeliat badan Jacob topless nunjukin perut sixpacknya. Mupeng banget ya Fi :)

Imam Wibowo (He was played in Ruma Maida too)

Antrian saat nobar New Moon

Bergaya ala Edward, Bella, dan Jacob

Dan keputusan saya untuk ngga ngajak Cipu dan Exort nonton It's Complicated sangat tepat. Film ini lebih cocok ditonton geng cewek atau bareng mama tersayang (nyesel juga sih ngga maksa mama untuk ikut nonton). Dibintangi Meryl Streep, Steve Martin, dan Alec Baldwin film ini sukses bikin saya ketawa ngakak. Awalnya memang terasa datar dan membosankan, tetapi komplikasi hubungan Jane Adler dengan mantan suaminya, Jake, dan pacar baru Jane, Alec, membuat film ini penuh dengan berbagai adegan konyol. It's Complicated juga menampilkan manisnya hubungan sebuah keluarga yang telah bercerai, hubungan mantan suami-istri, hubungan kakak-adik, dan tidak ada yang salah dengan memulai kembali sebuah hubungan yang baru, berapa pun usianya. 

Tidak ada gunanya melihat ke belakang dan mencoba memperbaiki hal yang telah terjadi, lebih baik maju ke depan dan memulai sesuatu lebih baik lagi, karena kita telah memiliki satu pengalaman di masa lalu (this notes specially made by me and for me, and for all of you who need that).

Went to Sensi

I just love this pict :)

Selesai nonton ngasih testimoni untuk U FM. Sering-sering ngasih tiket gratis ya :)
Thank you U FM and Universal Pictures
We Love You, mmuahh...

Nobar ini memang sukses membuat saya berkumpul kembali dengan teman kuliah. Memang, mereka paling semangat kalau ada sesuatu dengan embel-embel "gratis". Dan walau acara nobar kemarin berlangsung jam 9 pagi, ngga ada yang komplain akan jam tidur yang harus terpotong. Dasar. Geng Singapore Ceria plus Sarah pun merubah nama menjadi geng Thailand and JIFFest wannabe (padahal kedua acara ini masih lama banget) dan menuju Senayan City. Coba tebak, apa yang terjadi jika teman-teman lama berkumpul (semuanya perempuan), ditambah mall, dikuadratkan dengan diskon gede-gedean di Debenhams?

Relax, I just bought 2 bags and 4 pair of shoes :D

Quite heavy actually :(

My newest shoes :D

Gosh...semoga saya sanggup membaca billing statement bulan depan :p