total ping

Tampilkan postingan dengan label LOKAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOKAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

DAFTAR PEMENANG FFI 2010













Film Terbaik:

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Alangkah Lucunya Negeri Ini

I Know What You Did On Facebook

Minggu Pagi di Victoria Park


Pemeran Utama Pria Terbaik:

Edo Borne (I Know What You Did On Facebook)

Lukman Sardi (Red Cobex)

Oka Antara (Hari Untuk Amanda)

Reza Rahardian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Reza Rahardian (Alangkah Lucunya Negeri Ini)


Pemeran Utama Wanita Terbaik:

Fanny Fabriana (Hari Untuk Amanda)

Jajang C. Noer (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)

Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Tika Bravani (Alangkah Lucunya Negeri Ini)


Sinematografi Terbaik:

Roby Herby (I Know What You Did On Facebook)

Roy Lolang (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Suadu Utama (Heart-Break.Com)

Yadi Sugandi (Minggu Pagi di Victoria Park)

Yudi Datau (Alangkah Lucunya Negeri Ini)


Penata Artistik Terbaik:

Anes (Cinta 2 Hati)

Djulfikar Thaib (Hari Untuk Amanda)

Goetheng Iku Ahkin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Oscar Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Windu Arifin (I Know What You Did On Facebook)


Pemeran Pendukung Wanita Terbaik:

Ella Hamid (Minggu Pagi di Victoria Park)

Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Henidar Amroe (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Intan Kieflie (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Kimmy Jayanti (I Know What You Did On Facebook)


Pemeran Pendukung Pria Terbaik:

Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Tio Pakusadewo (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Jaja Mihardja (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Dedy Mizwar (Cinta 2 Hati)

Asrul Dahlan (Alangkah Lucunya Negeri Ini)


Sutradara Terbaik:

Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda)

Awi Suryadi (I Know What You Did On Facebook)

Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)


Penulis Skenario Terbaik:

Alberthiene Endah (I Know What You Did On Facebook)

Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

(Skenario Adaptasi Terbaik)

Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

(Skenario Asli Terbaik)

Robby Ertanto Soediskam (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Salman Aristo, Ginanti S. Noer (Hari Untuk Amanda)

Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park)


Penyunting Terbaik:

Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)

Andhy Pulung (Hari Untuk Amanda)

Ramantyo Wicaksono (I Know What You Did On Facebook)

Tito Kurnianto (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Wawan I. Wibowo (Red Cobex)


Penata Suara Terbaik:

Adiatyawan Susanto & Novi Dwi R Nugroho (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Adityawan Susanto & Djoko Setiadi (Hari Untuk Amanda)

Hadi Ilfat & Satrio Budioni (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Khikmawan Santosa (I Know What You Did On Facebook)

Khikmawan Santosa (Heart-Break.Com)


Penata Musik Terbaik:

Andhika Triyadi (Hari Untuk Amanda)

Ian Antono & Thoersi Argeswara (Alangkah Lucunya Negeri ini)

Nathanael (7 hati 7 Cinta 7 Wanita)

Ricky Lionardi (I Know What You Did On Facebook)

Thoersi Argeswara (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)


*Kira-kira 'Sang Pencerah' di-umpet-in dimana yaa?*

:)

Jumat, 17 September 2010

REVIEW: SANG PENCERAH




























"Sebuah biopik tentang KH Ahmad Dahlan"

Kalau sedang membicarakan tentang sutradara berkualitas di Indonesia, nama Hanung Bramantyo pasti masuk kedalam obrolan. Sebut saja Catatan Akhir Sekolah (2005), Jomblo (2006), Get Married (2007), Doa yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Get Married 2 (2009), Menembus Impian (2010), dan masih banyak lagi. Kali ini Hanung memilih untuk mengangkat kisah hidup dari KH Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah. Sang Pencerah juga ditayangkan bertepatan dengan momen lebaran tahun ini, sehingga nuansanya terasa sangat pas. Film ini juga memboyong para aktor dan aktris ternama dalam negeri seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Sudjiwo Tejo, Ikranegara, Yati Surachman, Dennis Adiswara, dan Zaskia Mecca. Ada juga dua orang penyanyi yang mencoba peruntungan dalam dunia seni peran yaitu Giring 'Nidji' dan Ikhsan 'Idol'. Perlu diketahui, film ini menghabiskan dana sebesar Rp. 12 Miliar!

Berlatar belakang di Jogja, kisah KH Ahmad Dahlan disini diceritakan sejak ia remaja dan masih memakai nama Muhammad Darwis (Ikhsan 'Idol'). Sejak muda Dahlan sudah memiliki jalan pemikiran yang berbeda dari orang lain. Ia ingin melakukan sebuah perubahan yang signifikan dalam agama Islam pada masa itu yang masih percaya tahayul dan menyembah sesajen. Sampai akhirnya Dahlan muda berkesempatan untuk pergi ke Mekkah untuk berhaji dan mendalami ajaran Islam. Setelah lima tahun berada di Mekkah, ia kembali ke kampung halamannya dan memulai perubahan demi perubahan yang menurutnya benar. Tentu saja perubahan yang dibawa Dahlan (Lukman Sardi) tidak segampang itu diterapkan, para penghulu di Masjid Gede Jogja gusar dibuatnya. Makian demi makian mulai dilontarkan kepada Dahlan, bahkan banyak yang menyebutnya 'kafir'. Namun Dahlan tetap memiliki lima orang murid yang setia dan turut andil dalam upayanya mendirikan organisasi Muhammadiyah.

Kalau tentang sejarah agama Islam dan Muhammadiyah saya sama sekali tidak tahu menahu, jadi apakah film ini sesuai dengan kenyataannya saya kurang bisa memberikan komentar. Namun, meskipun Sang Pencerah merupakan sebuah film biopik yang sarat dengan unsur Islami, sebagai non-Muslim saya masih bisa menikmati. Memang pada awalnya saya kurang tertarik dengan film ini, akan tetapi beberapa teman yang sudah menyaksikan membuat saya penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mencoba menonton. Ternyata filmnya tidak menggurui dan banyak dialog-dialog bagus yang berisi pesan moral didalamnya. Saya juga merasa Hanung secara tidak langsung sepertinya mencoba untuk menyelipkan beberapa adegan yang 'menyindir' keadaan di negara kita saat ini. Good job! Tokoh Ahmad Dahlan yang diperankan oleh Lukman Sardi menurut saya juga sangat cocok sekali. Ada juga dua nama yang tadinya saya pikir akan jadi lelucon malah menunjukkan performa akting yang baik, yaitu Giring 'Nidji' dan Ikhsan 'Idol'. Secara keseluruhan film ini memiliki nilai produksi diatas rata-rata; skrip, tata gambar, dan pemilihan para pemain sangat baik, begitu juga dengan scoring hasil aransemen Tya Subiakto yang menggugah sepanjang film.





Rabu, 08 September 2010

REVIEW: DARAH GARUDA


















"Film kedua dari Trilogi Merah Putih"


Trilogi Merah Putih adalah sebuah proyek film yang bisa dikatakan ambisius. Bukan hanya dalam hal biaya, segala hal sepertinya diperhitungkan dengan baik, mulai dari deretan pemain, sutradara, sampai kru-kru yang melibatkan beberapa sineas luar negeri yang sudah pernah menangani film Hollywood. Nama Yadi Sugandi yang duduk di bangku sutradara sudah terkenal di kalangan perfilman sebagai salah satu sinematografer kebanggaan Indonesia. Ia sudah pernah menangani beberapa film dalam negeri yang berkualitas seperti sebut saja Kuldesak (1999), Petualangan Sherina (2000), Pasir Berbisik (2001), Eliana, Eliana (2002), 3 Hari untuk Selamanya (2007), The Photograph (2007), Lost in Love (2008), Laskar Pelangi (2008), dan Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Pada tahun 2009, debut pertamanya sebagai sutradara dalam Merah Putih mendapat sambutan yang sangat baik meski filmnya sendiri belum bisa dikatakan sempurna. Namun, saya termasuk menyukai film tersebut. Kali ini film kedua Trilogi tentang perang kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dibantu lagi dengan hadirnya sutradara tambahan, Conor Allyn.

Masih merupakan kelanjutan dari film pertamanya, Merah Putih, film ini berlatar belakang masa Indonesia di tahun 1947 dan bercerita tentang nasib keempat tentara gerilya yang berhasil selamat saat berusaha menyerang tentara Belanda. Mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya), dan Dayan (T. Rifnu Wikana). Mereka nekat menyerang markas Belanda untuk menyelamatkan ketiga wanita yang mereka cintai, Lastri (Atiqah Hasiholan), Senja (Rahayu Saraswati), dan Melati (Astri Nurdin). Tidak tahan dengan perlakuan Belanda yang seenaknya, perjalanan tentu tidak terhenti sampai disitu saja, mereka memutuskan untuk bergabung dengan para tentara Jendral Sudirman dan pada akhirnya diberikan sebuah tugas rahasia guna melawan Jendral Van Mook (Rudy Wowor) yang keji. Banyak halangan yang mereka temui selama perjalanan, bukan hanya dari tentara Belanda namun juga dari para tentara lokal yang tidak terlalu berpihak kepada mereka.

Darah Garuda dimulai dengan tempo cerita yang lambat dan sedikit membosankan menurut saya. Sampai ke pertengahan film saya merasa tidak ada greget pada saat menonton film ini. Bahasa yang dipergunakan juga sangat baku sehingga skrip dan jalan cerita yang baik sangat diperlukan agar penonton tidak dibuat jenuh. Beruntung mulai dari pertengahan sampai akhir, film ini mampu membangun suasana tegang dan penuh aksi. Special effects yang digunakan juga terlihat lebih halus dibandingkan dengan Merah Putih yang notabene sudah bagus sekali untuk ukuran film Indonesia. Akting para pemain terlihat biasa-biasa saja, ada pula pemain-pemain baru yang kali ini turut membantu film ini seperti Ario Bayu, Alex Komang, dan bintang cilik pendatang baru, Aldy Zulfikar. Diantara semuanya, T. Rifnu Wikana menurut saya menunjukkan performa akting yang paling baik. Ada satu adegan yang merupakan favorit saya, yaitu pada saat ia ditahan dan diinterograsi oleh Belanda. Mimik wajah dan emosi yang dipancarkan sungguh meyakinkan. Tidak ada peningkatan signifikan dari film kedua Trilogi Merah Putih ini, segi cerita masih perlu dibenahi. Saya berharap film ketiganya nanti, Hati Merdeka, akan lebih baik. Namun secara keseluruhan, Darah Garuda merupakan sebuah tontonan yang amat sangat jauh lebih baik dari film-film lokal 'asal jadi' yang sering ada di bioskop kita.





Senin, 24 Mei 2010

REVIEW: RATU KOSTmopolitan




























"Cantik.. Jagoan.. Ngekost tetep ngutang!"

Hari ini saya berkesempatan untuk menyaksikan gala premiere film Ratu KOSTmopolitan. Film ini disutradarai oleh Ody C. Harahap yang sudah pernah menyutradarai beberapa film Indonesia seperti Alexandria (2005), Selamanya (2007), Kawin Kontrak (2008), Kawin Kontrak Lagi (2008), dan Punk in Love (2009). Sebelumnya saya belum pernah menyaksikan film besutannya sama sekali. Maka ini adalah film pertamanya yang saya tonton. Saya sebetulnya kurang tertarik dengan film ini, malah saya tidak terlalu 'ngeh' akan adanya film ini. Maklum, saya memang jarang mengikuti perkembangan film Indonesia karena lebih sering dikecewakan. Akhir-akhir ini film Indonesia kebanyakan menjual aurat tubuh dan hantu asal-asalan dibanding kualitas cerita dan akting pemain. Tapi karena gratisan saya pun tidak menolak untuk mencoba menonton film ini. :)

Ratu KOSTmopolitan bercerita tentang tiga anak kost di Jakarta yang masing-masing berasal dari daerah berbeda, ada Gina (Luna Maya), Tari (Tyas Mirasih), dan Zizi (Imey Liem). Gina bekerja sambilan sebagai seorang wartawan, Tari sebagai guru aerobik, lalu Zizi sebagai seniman tattoo. Mereka bertiga banting tulang bekerja di Jakarta. Kehidupan di Jakarta memang keras, untuk membayar uang kost saja mereka sering telat. Untungnya, ibu kost mereka, Ibu Laksmi (Yatti Surachman) adalah ibu kost yang baik. Mereka boleh mengutang, bayar seadanya dulu, bahkan masih disediakan makanan. Mereka bertiga juga punya gebetan bernama Seno (Fathir Mochtar) yang tinggal tidak jauh dari kost. Suatu hari datang segerombolan preman yang diketuai Rido (Reza Pahlevi) yang mengganggu ketenangan daerah tempat kost mereka. Atas perintah bosnya yang kaya, Rido juga mengatakan bahwa warga disana harus menjual rumah mereka atau kalau mereka tidak mau, mereka terpaksa harus digusur paksa. Tiga anak kost ini tidak tinggal diam, mereka lalu membuat rencana konyol melawan para preman tersebut agar tempat yang mereka itu tidak diganggu lagi.

Cerita film ini sebetulnya tidak istimewa dan gampang tertebak, namun beruntung film ini dibintangi oleh para pemain yang 'bisa akting' dan sedap dipandang mata. Para pemeran utama film ini seperti Luna Maya, Tyas Mirasih, Imey Liem, Fathir Mochtar, dan Reza Pahlevi menjalankan perannya dengan sangat baik. Mereka semua jelas bisa berakting. Meskipun Tyas Mirasih lebih sering mengambil peran-peran yang memamerkan keindahan tubuh, akan tetapi aktingnya disini bisa dibilang baik. Imey Liem yang notabene pendatang baru malah berhasil mencuri perhatian dengan tingkah dan tampangnya yang nyeleneh. Luna Maya yang sudah bisa dibilang lebih 'senior' dari yang lainnya juga berhasil kembali bermain baik disini. Para aktor dan aktris senior dalam film ini juga patut diacungi jempol. Sang ibu kost, Yatti Surachman, sangat cocok sekali dengan karakter yang dimainkan. Secara keseluruhan saya lumayan terhibur dengan film ini. Memang ada beberapa bagian yang terkesan 'maksa', tapi itu bisa termaafkan karena saya tertawa menontonnya. Selain itu, film ini juga mengangkat isu sosial yang marak terjadi di Indonesia, disertai keanekaragaman suku yang berhasil diangkat kedalam film. Kalau pengen nonton yang ringan bisa coba tonton film ini.

Ratu KOSTmopolitan tayang mulai tanggal 27 Mei 2010.

Jumat, 16 April 2010

NOMINASI DAN PREDIKSI INDONESIAN MOVIE AWARDS (IMA) 2010

Pemeran Utama Pria Terbaik:
Didi Petet (Jermal)
Mamiek Prakoso (King)
Mathias Muchus (Sang Pemimpi)
Oka Antara (Hari Untuk Amanda)
Tio Pakusadewo (Identitas)

Pemeran Utama Wanita Terbaik:
Atiqah Hasiholan (Jamila dan Sang Presiden)
Aty Kanser (Emak Ingin Naik Haji)
Fanny Fabriana (Hari Untuk Amanda)
Leony V. H. (Identitas)
Tika Putri (Queen Bee)

Pemeran Pembantu Pria Terbaik:
Deddy Mizwar (Ketika Cinta Bertasbih 2)
Dwi Sasono (Wakil Rakyat)
Oka Antara (Queen Bee)
Verdi Solaiman (Ruma Maida)
Yayu A. W. Unru (Jermal)

Pemeran Pembantu Wanita Terbaik:
Ayu Pratiwi (Emak Ingin Naik Haji)
Christine Hakim (Merantau)
Fanny Fabriana (Serigala Terakhir)
Meriam Bellina (Get Married 2)
Niniek L. Karim (Ketka Cinta Bertasbih 2)

Pendatang Baru Pria Terbaik:
Chairil A. Dalimunthe (Jermal)
Iko Uwais (Merantau)
Kholidi Asadil Alam (Ketika Cinta Bertasbih 1)
Nazril Ilham (Sang Pemimpi)
Yayan Ruhian (Merantau)

Pendatang Baru Wanita Terbaik:
Meyda Sefira (Ketika Cinta Bertasbih 1)
Oki Setiana Dewi (Ketika Cinta Bertasbih 1)
Olivia Lubis Jensen (Bukan Cinta Biasa)
Rahmi Nurullina (Ketika Cinta Bertasbih 1)

Pasangan Terbaik:
Didi Petet dan Iqbal S. Manurung (Jermal)
Oka Antara dan Fanny Fabriana (Hari Untuk Amanda)
Tio Pakusadewo dan Rachel Amanda (Kata Maaf Terakhir)
Vino G. Bastian dan Reza Pahlevi (Serigala Terakhir)
Yama Carlos dan Atiqah Hasiholan (Jamila dan Sang Presiden)

Pemeran Anak-Anak Terbaik:
Aldo Tansani (Garuda di Dadaku)
Amir Mahira (Garuda di Dadaku)
Iqbal S. Manurung (Jermal)
Amanda (Kata Maaf Terakhir)
Rangga Aditya (King)

Soundtrack Terfavorit:
Bukan Cinta Biasa (Afgan)
Garuda di Dadaku (Netral)
Ketika Cinta Bertasbih (Melly dan Amee)
Main Serong (The Changcuters)
Sang Pemimpi (GIGI)

Film Terfavorit:
Emak Ingin Naik Haji
King
Garuda di Dadaku
Get Married
Identitas
Jamila dan Sang Presiden
Jermal
Ketika Cinta Bertasbih
Ruma Maida
Sang Pemimpi
merah = prediksi Jagoan Movies