total ping

Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

Pejuang Mimpi

Pejuang mimpi no. 1: Mama

Sekarang mama punya kegiatan baru: belajar ngaji. "HAH.. mamanya Ocha belum bisa ngaji?", pasti itu ya pertanyaan yang langsung terlintas saat membaca kalimat barusan. Iya, mama saya memang belum bisa ngaji. Tapi menurut saya, ibadah seseorang atau hubungan seseorang dengan Tuhan tidak ditentukan dengan kemampuan mengajinya.

Mama tidak sempat mendapat pelajaran mengaji di bangku sekolah. Dulu sekolah beliau masih merupakan sekolah kristen sehinggan pelajaran agama Islam ditiadakan, malah terkadang mama harus ikut berdoa dengan jemaat gereja. Setelah lulus sekolah, menikah, punya anak, dan bla-bla-bla, dengan segala kesibukannya mama semakin tidak punya kesempatan untuk belajar ngaji. Kendala umur yang 'tidak lagi muda' juga menyulitkan beliau untuk mendapat guru ngaji dan metode belajar yang sesuai. Yah, rasanya sudah jamak di masyarakat kita kalau setiap orang Islam pasti bisa mengaji, jadi akan sangat aneh jika orang seusia mama baru belajar mengaji di usianya yang sekarang.

Walau mama tidak bisa mengaji, beliau tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Beliau menekankan pentingnya pendidikan agama dan mewajibkan saya dan adik untuk ikut kelas mengaji setelah jam sekolah. Terkadang mama melihat buku Iqro milik saya atau adik dengan pandangan penasaran dan kerinduan yang mendalam. Mama juga terkadang meminta saya untuk mengajarinya mengaji, tetapi selalu menyerah di tengah jalan karena merasa kesulitan untuk mengingat berbagai huruf arab yang asing di matanya.

Jadi bagaimana cara mama beribadah jika beliau tidak bisa mengaji? Mama menggunakan bacaan latin yang sering dituliskan di bawah tulisan arab. Beliau menghafalkan bermacam surat dan doa lewat bacaan latin tersebut. Mama tidak pernah menceritakan perasaannya karena tidak mampu mengaji, tapi tanpa dia bilang pun saya tahu kalau beliau sedih. Sangat sedih.

Seperti mama yang lain, mama saya juga rajin beribadah. Pagi - siang - malam dia selalu beribadah dan mendoakan kami sekeluarga. Tuhan menjadi temannya yang paling dekat saat mama memiliki masalah, Tuhan menjadi pelariannya saat beliau merasa sedih, Tuhan adalah tempat mama mencurahkan tangis, doa, syukur, dan harapan. Mama memang tidak bisa mengaji, tapi selalu melakukan perintahNya dan berusaha menjadi umat yang taat. Lihatlah saya yang bisa mengaji tetapi sering menunda salat, lalai dalam menjalankan perintahNya, bahkan Al-Quran sepertinya hanya menjadi hiasan di atas rak buku. Apalah gunanya pintar mengaji jika tidak bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Apa hebatnya pintar mengaji jika kemampuan tersebut tidak pernah digunakan?


Mama sekarang belajar mengaji dengan beberapa temannya yang ternyata juga belum bisa mengaji. Buku Iqro kecil menjadi temannya yang paling setia. Malam minggu kemarin, setelah saya pulang bermain dengan teman-teman, mama meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Sembari menyimak pelafalan abjad arab yang masih patah-patah, saya jadi merasa sangat berdosa. Dosa kepada mama karena kurang meluangkan waktu untuk mengurus dan menjaga beliau. Dosa kepada Tuhan karena saya sering melupakanNya, karena saya lebih sering meminta dan meminta daripada bersyukur.

Apa motivasi mama sehingga mau susah payah belajar ngaji? "Supaya pas berangkat haji nanti mama bisa baca ayat-ayat Al-Quran tanpa pakai terjemahan", jawab beliau setelah menyudahi pelajarannya malam itu.

Ya Allah, Kau sudah 'menamparku' dengan cara yang paling halus. Saya malu dengan diri sendiri. Malu sama mama, malu kepadaMu...

Mama tidak perlu malu dengan lingkungan sekitar yang mencemooh ketidakmampuannya mengaji, mama tidak perlu takut pembaca tulisan ini akan menjelek-jelekkan saya dan mama, mama tidak perlu minder karena tidak bisa mengaji. Yang harusnya malu justru saya dan orang-orang yang tidak bisa beribadah sebaik mama, yang tidak atau jarang mengaji padahal memiliki kemampuan membaca tulisan arab. Mama hanya boleh takut dengan Allah.

Untuk mamaku sayang yang sekarang sudah naik ke tingkat 2, terimakasih selalu menjadi inspirasi hidup dalam segala perbuatan dan perkataanmu. Love you mom.

Pejuang mimpi no. 2: Pusti

Manusia konyol yang mampu melumerkan suasana disekitarnya ini sudah menjadi office mate saya sejak dari kantor cabang. Pusti adalah tipe orang yang bisa membuat suasana menjadi meriah. Celetukan segar dan banyolan konyol yang tidak pernah terlintas di kepala saya bisa keluar dari mulutnya. Dia adalah orang yang mudah berbaur dengan lingkungan baru dan disukai banyak orang. Yang paling membuat saya salut, Pusti bisa menjadi orang yang melakukan suatu kecerobohan, ditertawai dan diolok-olok seisi kantor sampai mau mati, tapi tetap bisa tertawa dan bahkan menambahkan olok-olokan tersebut. Suatu kondisi yang tidak akan mampu saya hadapi dengan cara sesantai dia.

Saat ini kantor kami mengadakan kompetisi menyanyi yang melibatkan seluruh grup perusahaan yang tersebar di empat negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapore. Nominal hadiahnya menggiurkan plus kompetisi grand final dan final dilakukan di negara yang berbeda (dengan kata lain bisa jalan-jalan ke negara tetangga gratis). Tahun lalu teman-teman kantor cabang merekomendasikan Pusti untuk ikut mendaftar, sayangnya dia sibuk dengan persiapan pernikahan. Tahun ini, di kantor baru dengan teman-teman yang sama sekali baru, saya merekomendasikan Pusti untuk ikut berkompetisi.

To be honest, saya tidak tahu kalau Pusti bisa menyanyi dengan baik. 'Tantangan' saya agar dia ikut berkompetisi membuat saya mendengarkan salah satu rekaman suaranya. Nggak nyangka, si manusia konyol ini suaranya bagus juga, "You've got the talent Pus, go for the competition" saya makin semangat menyemangati. Sambil nyengir nggak keruan karena berhasil membuat saya terpesona dengan bakat terpendamnya dia menjawab, "Pengen sih, tapi gue nggak PD Cha".

Hah?! Orang seperti Pusti nggak PD-an? Dengan segala kegilaan yang telah dilakukan dia masih kurang PD menghadapi juri dan bernyanyi di depan banyak orang? Mustahil! "Gue belum pernah nyanyi di depan banyak orang" salah satu alasan ini terlontar saat kami istirahat makan siang. "Lagian kan badan gue masih melar abis ngelahirin". Ya ampun, bener-bener bukan Pusti yang saya kenal. Makin gemas dan kesal kalau dia sampai tidak ikut kompetisi ini, "Just try it Pus. Paling nggak lo pernah nyoba. Urusan menang atau kalah sih belakangan, yang penting lo udah berani nyoba". Saya sudah di tahap nekat, kalau Pusti masih kekeuh tidak mau ikutan, maka saya yang akan mengisi formulir atas nama dia dan mengirimkannya.

Ternyata Pusti termakan omongan saya juga. Dua hari sebelum penutupan pendaftaran dia mengirim formulirnya. "Paling nggak gue pernah nyoba", dia mengulang kalimat yang saya ucapkan untuk meneguhkan niat. Just try it. Life is about taking chances and challenges. Make a rhyme on your life, make a splash. Rasanya sia-sia jika masa muda dilewatkan begitu saja dengan hal-hal yang monoton. Buat ritme, cari kegiatan baru, tantang diri untuk melakukan hal yang baru, make a splash on your life.




Hari minggu kemarin kompetisi diselenggarakan. Saya yang bertanggung jawab 'menjerumuskan' pusti merasa perlu untuk menemani dia. Yah, Pusti harus gagal di seleksi kedua, tapi dia menang melawan ketakutan, kepesimisan dan segala pikiran negatif yang menghadang untuk mengikuti kompetisi ini. "Maaf ya Cha gue kalah", ucap Pusti selesai acara. "Nooo, don't feel sorry because you're not win the competition. Lo udah menang melawan diri sendiri lagi dan gue sangat menghargai itu. You must proud of it". Sambil mengemasi barang bawaan tiba-tiba bijaknya saya kumat, "Lagian, kalo nggak pernah nyicipin kalah mana bisa menghargai kemenangan". Yeah, kadang saya bisa amat bijak terhadap orang lain, namun tidak untuk diri sendiri.


Pejuang mimpi no. 3: Saya

Saya. Eerr... Bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa dengan segudang mimpi. Mimpi yang kalau saya bagi dengan orang lain pasti akan mendapat tanggapan "Muluk amat sih mimpi lo". Saya? Saya hanyalah seorang newbie di dunia blogging, menulis dan jalan-jalan. Mimpi saya yang paling gila: jalan-jalan ke Eropa dan nulis buku sendiri. Muluk kan? 

Dengan semua ucapan yang pernah saya keluarkan untuk menyemangati orang lain untuk mengejar mimpinya, ternyata saya seringkali keteteran juga untuk mengisi penuh baterai semangat dalam mengejar mimpi ini. Mimpi bukan sekedar khayalan atau angan-angan belaka, tetapi dia menunggu untuk diwujudkan. Butuh semangat, kerja keras dan usaha pantang menyerah untuk memperjuangkannya. Memperjuangkan mimpi. Apakah kita bersedia berjuang sepenuh hati untuk mewujudkannya atau membiarkan mimpi tersebut selalu menjadi imaji dalam kepala, it's your choice.

Si Muluk

PS: Belum ada ending untuk cerita yang terakhir, orangnya masih berusaha mewujudkan mimpinya :)

Rabu, 06 April 2011

Poporin

Perkenalkan
Haaiii… Kenalkan, namaku Poporin.

 Porin umur 3 bulan, badannya masih kecil banget bahkan untuk digendong dengan tangan saya. 

 

Aku diadopsi keluarga teh Rossa waktu umur tiga bulan. Sebenernya mama papa nggak ngijinin teh Rossa untuk pelihara kucing, tapi mungkin mama papa kasihan juga ngeliat teh Rossa yang belum punya kesibukan baru setelah lulus kuliah (baca: lagi jadi pengangguran) akhirnya mereka ngebolehin aku untuk ikut dibawa pulang deeehh...

Sebenernya teh Rossa pengen adopsi Molly, saudara kembar aku. Molly emang lebih cantik dibanding aku, bulunya warna kuning, gendut, lucuuu banget. Tapi aku nggak mau kalah dong, pas pertama teh Rossa mampir ke kandang aku langsung bermanja-manja dan ngajak dia main. Yaahh... tapi teh Rossa salah tanggep waktu itu, dia malah nganggep aku kucing SKSD... Hiks biarin deh, yang penting usaha. Lagian Molly kan udah dibeli sama orang laen, aku udah denger-denger dari majikan yang sekarang kalau aku yang akan dikasih untuk teh Rossa. Hehehee.. walau baru umur tiga bulan, aku ada bakat jadi intel juga ternyata.

 

Waktu diajak pulang sama teh Rossa aku merengkut di pangkuan dia. Naik mobil itu serem banget, aku pusing lama-lama di dalem mobil. Sabar sabar... Sebentar lagi sampe ke rumah baru. Aku seneng banget pas liat rumah teh Rossa, di depan dan samping rumah ada kavling yang belum diisi jadi tempat main aku lebih lega. Horeee...


Awalnya teh Rossa bingung mau ngasih nama aku apa. Semua nama yang dia coba nggak ada yang sreg di kuping aku dan aku emoh untuk nengok. Sampe suatu hari tiba-tiba dia manggil aku dengan manis ‘Poporiiinnn....’. Aku suka nama itu dan langsung setuju. Tapi lama-lama teh Rossa cuma manggil aku Porin, mama papa malah lebih parah manggil nama aku dengan Poling. Akhir-akhir ini malah aku lebih sering dipanggil Olin, jadi berasa punya nama Caroline.

Aku dan Keluarga
Yang butuh adaptasi di rumah baru ternyata bukan cuma aku, keluarga teh Rossa juga musti adaptasi dengan kehadiran aku. Mama nyediain tempat tidur buat aku di dapur, tapi aku takut tidur di dapur sendirian. Akhirnya aku garuk-garuk pintu dapur semaleman supaya dibolehin tidur di ruang tamu. Teh Rossa juga ngajarin aku untuk poop dan pipis di kotak pasir, cuma kadang aku suka bandel poop nggak di kotak pasir. Akhirnya teh Rossa suka marahin aku. Untung aja aku cepet belajar untuk poop dan pipis di luar rumah jadi nggak ngerepotin orang lain lagi.


Kalau mama harus ngorbanin sofa yang baru dibeli jadi penuh dengan bekas kuku-kuku kecilku. Abis aku kan masih kecil, jadi kalau naik ke kursi nggak bisa sekali loncat. Pasti harus nyangkutin kuku di pinggiran sofa terus ngerayap naik. Maaf ya ma, sofanya jadi nggak cantik lagi. Terus pas aku udah lumayan gede aku sering ngancem bakal nyakar sofa kalo nggak diijinin keluar rumah. Aku seneng keluar rumah pas malem hari. Eits, bukan berarti aku kucing malam seperti si kupu-kupu malam yang tenar itu ya. Malem-malem itu banyak binatang kecil yang keluar, terus bulannya indaaahh banget. Makanya aku betah nongkrong malem-malem di pager rumah sambil ngeliat bulan. Ah, aku memang kucing melankolis.

Waktu teh Rossa mulai sibuk sama kerjaan kantor aku kesepian di rumah. Mau nggak mau aku musti akrab-akrabin diri sama mama papa. Mama sih hatinya gampang direbut, tapi kalo deketin papa musti pake usaha ekstra. Papa yang paling nggak setuju waktu teh Rossa mau pelihara aku. Tapi lama-lama papa lengket juga tuh sama aku, malah jadi orang yang paling sayang sama aku. Hihihi... Oh iya, karena teh Rossa jarang ngabisin waktu sama aku jadi hubungan kita rada renggang, apalagi teh Rossa suka nguyeng-nguyeng aku sangking gemesnya sama badanku yang gendut. Uh, aku jadi musuhan sama dia. Abis kan diuyeng-unyeng itu bikin badan sakit dan kepala pusing.

 
Aku sayang papa :*

Yang lebih nyebelin lagi teh Rossa tuh paling rajin mandiin aku. Sebenernya enak sih dimandiin, badan aku digarukin pake shampoo wangi, terus bulu aku jadi ngembang dan haluuuss banget. Kucing model di bungkus Whiskas sih kalah. Cuma aku sebel waktu bagian ngeringin bulu pake hair dryer, berisik banget! Udah gitu panas lagi. Belom lagi teh Rossa nggak ngebolehin aku keluar rumah abis selesai mandi. Huuuhhh, siksaan batin!

Oh iya, kalo sama Aa Topik aku kurang akrab. Abis dia kan kuliah di Semarang jadi jarang pulang dan main sama aku. Tapi diem-diem dia perhatian looohh sama aku. Aa Topik sering sms mama cuma untuk nanyain kabar aku. Aaahhh too tweett.... Terus kata teh Rossa, Aa Topik bikin album yang isinya foto-foto aku gitu di Facebook nya dia. Bahkan avatar di YM nya juga foto aku. Hihihii, aku memang kucing yang lovable ya. Ini nih beberapa foto dari album Aa Topik di Facebook yang berjudul My Lazzy Cat:




Paling rusuh kalo Aa Topik lagi di rumah. Dia sama teh Rossa sering kompakan ngerjain aku. Pas aku lagi tiduran di kasur mama yang empuk dan luas tiba-tiba mereka dateng dan ikut tidur-tiduran sambil ngejailin aku. Nanti nggak lama mama dateng karena mereka berdua berisik banget, eh mama malah gabung tiduran dan jailin aku. Terus teh Rossa manggil papa untuk gabung. Udah deh, semuanya tumplek jadi satu. Berisik, ribut, iseng, akunya pusing dan stress, tapi seneng. Pokoknya aku sayang banget sama keluarga ini.

Anggota Keluarga Nomor 5 dan Predikat Anak Ketiga
Teh Rossa sering banget bilang kalo aku lebih dari sekedar kucing peliharaan. Derajat aku udah naik jadi anak ketiga dalam keluarga, abisnya aku kelewat manja dan kelewat disayang sama mama papa. Setiap ngobrol-ngobrol pasti mereka ngebahas perilaku aku yang kelewat manja; makan musti ditungguin lah, cemberut waktu ditinggal sendirian di rumah lah, ngejebol atep rumah karena aku terlalu gendut lah, tapi walau gimana mereka tetep sayang sama aku.

Aku sering nemenin mama berkebun. Ini tempat favorit aku, disini banyak taneman, rimbun, teduh dan nyamaaann banget. Biasanya kalau mama lagi sibuk ngerapihin tanaman aku ikut-ikutan sibuk. Bolak-balik hilir mudik di depan mama, mainin rumput yang baru dicabutin, nyenggol-nyenggol mama pake buntut, macem-macem deh. Biasanya mama juga ngajakin aku ngobrol sambil berkebun, padahal mama tau aku nggak bisa jawab tapi tetep aja aku diajak ngobrol. Berasa ngobrol ke anak kali ya.

Jujur nih, tempat yang paling aku hindarin di rumah adalah kamar teh Rossa. Tau sendiri kan hubungan aku sama dia kurang baik. Tapi aku tau kok teh Rossa tuh sayang sama aku, aku juga benci-benci rindu gitu sama dia. Nah, kalo malem-malem pasti pintu kamar dia yang jadi sasaran digaruk sama aku, abis mama papa udah tidur dan nggak bisa dibangunin. Kalo teh Rossa tidurnya malem banget, jadi cuma dia yang bisa diandelin pas malem-malem.

Biasanya teh Rossa cuma buka pintu kamarnya pas aku garuk-garuk pintu dia. Uh, padahal kan aku pengen minta ditemenin makan. Aku nggak suka makan sendirian. Udah tau aku kelaperan tapi dia cuek aja ngetik di depan laptop. Aku udah bunyi ngeong-ngeong dia tetep nggak peduli (FYI, aku termasuk kucing pendiem yang jarang bunyi. Kalo aku udah bunyi itu artinya udah gawat banget). Hhhhh... kalo gini sih satu-satunya cara dapet perhatian dia adalah dengan lompat menerjang laptopnya. Biasanya teh Rossa suka histeris kalo aku udah nerjang laptopnya dan lanjut merepet ngomel-ngomel sambil nemenin aku makan. Yes, misi berhasil!

Ngomong-ngomong, aku memang bukan keturunan ras angora murni. Hidung aku nggak pesek dan muka aku nggak rata seperti kucing angora yang muahal-muahal itu. Tapi keluarga ini sayaaang banget sama aku. Teh Rossa pernah bilang, peliharaan itu bukan gimana keturunan rasnya, cantik atau nggaknya, tapi gimana dia bisa mengisi posisi dalam anggota keluarga. Walau kucing kampung sekalipun, kalau dia bisa menjadi bagian dalam keluarga pasti makna kehadirannya jadi lebih bernilai.

Janji Teh Rossa
Beberapa bulan terakhir ini hubungan aku sama teh Rossa lagi akuurr banget. Nggak kerasa udah tiga tahun aku bergabung dalam keluarga ini. Sejak awal teh Rossa udah berkomitmen akan ngejadiin aku sebagai tanggung jawabnya. Mulai dari makanan, vitamin, vaksin, mandiin, pokoknya semua biaya yang aku perluin bersumber dari dia. Bahkan waktu aku musti di-caesar karena bayiku lahir prematur teh Rossa juga yang bertanggung jawab untuk semua biaya yang dikeluarkan. Sebenernya aku jadi nggak enak sama dia, bonus pertama dari kantornya langsung abis supaya aku bisa sembuh dan sehat lagi.

Karena aku udah umur tiga tahun, rencananya teh Rossa mau rutin bawa aku ke dokter untuk vaksin setiap bulannya. Katanya biar aku sehat dan jauh dari penyakit. Teh Rossa juga kan suka nulis dan foto-foto, dia janji akan bikin tulisan tentang aku dan ngambil foto dengan berbagai pose ajaib seeeebanyak mungkin. Cuma pocket camera teh Rossa yang udah pernah jatoh itu nggak bisa mengambil foto aku dengan baik, abis aku kan nggak bisa diem jadi hasil fotonya keseringan blur. Terus teh Rossa juga nggak mau nulis tanpa hasil foto yang cukup, katanya biar yang baca tulisan tentang aku bisa ngeliat gimana lucu, ngegemesin, dan kurang ajarnya aku. Teh Rossa janji kalo udah punya SLR bakal puas-puasin foto aku dan bikin tulisan dari situ. Janji ya teh...

Ikutan repot waktu saya ngerapihin lemari baju.

Notes: Poporin hilang akhir Maret kemarin. Kami sekeluarga sangat kehilangan dia. Kami bukan hanya kehilangan kucing peliharaan, tapi juga anggota keluarga yang telah memiliki posisi tersendiri di hati ini. Ah Porin, padahal seminggu setelah kamu hilang saya berhasil membeli kamera SLR. Maaf ya, banyak janji yang belum sempat terpenuhi. We love you Porin...

Jumat, 04 Maret 2011

Nonton Java Jazz Bareng Mama :)

'Ma, kan ada Santana di Java Jazz.'

'Masa? Wah pasti bagus.'

'Mama mau nonton? Nanti aku cariin tiketnya ya.' Mama pasti pengen banget nonton Santana, beliau punya selera bagus untuk urusan musik.

'Enggak deh teh, tiketnya pasti mahal', sayangnya mama selalu mengalah dan mendahulukan kesenangan anak-anaknya.

Kantor saya termasuk dalam daftar penerima compliment ticket dari Java Festival Production yang menyelanggarakan hajatan tahunan Java Jazz Festival dan Java Rockin' Land. Divisi saya biasanya kebagian menjalankan transaksi valas yang menjelimet dan menggunung. Mendapat transaksi dari promotor ini artinya adalah pulang malam dan kerja menguras otak, tapi Java Festival selalu berbaik hati memberikan compliment ticket bagi orang-orang yang telah membantu kelancaran setiap acara yang diadakan. 

Compliment ticket Java Rockin' Land 2010 yang tidak sempat saya pakai :(

I'll do my best for Java Festival Production transactions. Keinginan saya untuk bisa mendapat compliment ticket menjadi begitu menggebu-gebu karena ingin mengajak mama menonton konser sekelas Java Jazz. Lebih bagus lagi kalau bisa mewujudkan mimpi beliau melihat aksi Santana secara live. Pulang malam dan kerjaan menumpuk menjadi agenda rutin selama sebulan menjelang perhelatan Java Jazz Festival. Satu-satunya hal yang membuat saya tetap bersemangat (dan menambah dosis kafein dalam jatah kopi harian) adalah bayangan akan menonton konser bersama mama tersayang. 

Mama sendiri mungkin tidak terlalu bersemangat untuk menonton Java Jazz tapi saya ingin mama dapat merasakan sebuah pengalaman menonton konser; bernyanyi dengan ratusan orang lainnya, menggoyangkan badan mengikuti irama yang ada dan larut dalam euforia kegembiraan. Sesuatu yang mungkin belum pernah mama rasakan. Entahlah, beberapa waktu terakhir ini rasanya saya ingin melakukan banyak hal bersama orang tua tercinta, menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka dan mengajak mereka merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan selama hidupnya. Sesuatu yang pasti akan mereka sukai. 

Sayangnya compliment ticket yang tersedia hanyalah daily ticket, untungnya bagian marketing berbaik hati  dengan memberikan saya tiket hari Jumat sehingga masih memungkinkan untuk saya mencari Santana special ticket show dengan dana sendiri. Tiket yang sangat mahal apalagi saat mendekati hari H membuat niat saya untuk mengajak mama menonton Santana harus dikubur dalam-dalam. Saya kecewa, tapi saya lebih takut mama yang lebih kecewa. Oh God, saya hanya ingin mengajak mama bersenang-senang dan lepas dari rutinitas hariannya. 

Sepertinya mama menangkap keinginan saya ini. Beliau mau ikut menonton Java Jazz walau saya sudah memberikan worst case scenario (hall yang penuh banget, berdiri sepanjang show, acara sampai tengah malam). 'Urusan cape itu sih belakangan', mama meyakinkan saya kalau dia mampu mengikuti jalannya acara. Saya juga mewanti-wanti mama untuk memberitahu saya sesegera mungkin jika beliau merasa capek atau hall terlalu penuh sehingga beliau merasa tidak nyaman. Java Jazz, here we come....

Performance artist yang saya incar adalah Glenn Fredly. Sayangnya karena kemacetan Jakarta kami harus melewatkan Glenn. Then what? Saya sendiri nggak tahu mau menonton apa saya mama. Krik krik krik..... Hal ini selalu terjadi karena kurangnya antisipasi untuk menonton konser. Di salah satu hall yang masih kosong The Groove akan tampil kurang dari satu jam lagi. Rasanya hall ini cukup 'aman' untuk didatangi bersama mama. Penonton belum berjubel dan masih bisa duduk santai di dalam hall.

The Groove ternyata memberi penampilan yang luar biasa. Outstanding! Rasanya bener-bener diajak reunian ke beberapa tahun silam dengan lagu-lagu The Groove. Untungnya juga mama kenal baik dengan semua lagu yang dibawakan The Groove malam itu. The Groove was grooving up the audience that night, including me and mom :) 

Berikutnya adalah Tompi. Antrian memasuki hall lumayan mengular. Saya dan mama masuk dari sisi yang lebih kosong. Saat pintu dibuka semua pengunjung merangksek maju, mama dan saya ikut terdorong ke depan. Saat saya mengkhawatirkan keadaan mama, beliau malah mengajak saya berlari masuk ke dalam hall dan mencari posisi enak di tengah hall. Ah mama, ternyata beliau sudah tertulari euforia Java Jazz dan tidak mau kalah bersaing dengan pengunjung yang lebih muda. 

Could you see Tompi in stage? ;)

Penampilan Tompi lebih mencengangkan! Saya salut dengan musikalitas dan kemampuannya menguasai panggung. Terlebih saat Tompi menyanyikan lagu I Know You So Well dengan nuansa jazz yang sangat berbeda. Musik jazz mungkin dirasa terlalu berat sehingga peminatnya tidak sebanyak musik bergenre pop, padahal jazz ringan yang easy listening juga menyenangkan untuk didengar. Seperti film Indonesia yang tidak jelas genrenya (horor lebih mengarah ke seks dewasa), kondisi musik Indonesia pun tidak berbeda nasibnya dengan dimonopoli irama melayu semacam ST12 dan teman-temannya. Lagi-lagi, selera masyarakatlah yang menentukan genre mana yang akan terus berkembang dan bertahan. Jika ingin musik Indonesia terus didominasi irama melayu, maka gila-gilailah musisi yang bergerak dalam jalur tersebut. Tetapi jika ingin musik Indonesia menjadi lebih berkualitas dan berkembang maka hargailah genre musik yang lain. 

Di tengah konser Tompi mama terlihat diam dan kurang menikmati acara. Beliau ijin untuk ke belakang dan duduk di luar hall. Ya, inilah tanda saya harus mengakhiri malam menyenangkan di Java Jazz. Saya tidak akan memaksa mama, jika mama merasa cukup maka itu artinya cukup. Kami sudah cukup bersenang-senang malam ini. Dan saya bisa lihat dari senyum beliau, walau tidak bisa menonton Santana namum musisi dalam negeri mampu memberi penampilan sempurna yang memukau penontonnya. 

'Lebih enak nonton yang dalam negeri ya teh, bisa ikut nyanyi dan ngerti lagu-lagunya', komentar mama ketika kami keluar dari stage Sondre Lerche.

'Jadi nggak nyesel dong nggak bisa nonton Santana ma?' goda saya.

'Nggak sama sekali', jawab mama mantap.

'Tahun depan Java Jazz lagi ya maaa....' :)

PS: Nggak ada foto saya dan mama sama sekali. Alasannya saya cape berat pulang kerja langsung ke Java Jazz sehingga mood foto jadi hilang begitu saja. Selain itu kamera saya (akhirnya) rusak berat. Hm, saatnya membeli DSLR *buka-buka katalog Canon*.

Sabtu, 08 Januari 2011

Sepenggal Kenangan Masa Kuliah

Saya masih semester 2 dan bersiap menghadapi UAS. Beberapa nilai UTS baru dibagikan seminggu menjelang UAS, tidak terlalu memuaskan sih tapi saya tidak terlalu memusingkannya. Toh masih bisa mengejar nilai saat UAS kan. Reaksi yang sama sekali berbeda muncul hasil ujian Fisika keluar, nilai saya berada di kisaran D! Butuh poin yang cukup besar agar bisa lulus mata kuliah ini. 'Mati gue!!!', cuma itu yang terlintas di kepala.

Kampus saya mengharuskan mahasiswa tingkat awal untuk tinggal di asrama. Selama satu tahun penuh kami tinggal dalam kamar kecil berisi empat orang, beradaptasi dengan dunia perkuliahan dan mengulang semua pelajaran dasar di bangku SMU. Mungkin karena baru kali ini tinggal berjauhan dari orangtua maka beberapa anak termasuk saya tidak terlalu peduli dengan urusan akademis. Lagipula kami hanya mengulang pelajaran masa SMU, apa sih sulitnya? Masa awal kuliah lebih banyak dihabiskan dengan bermain dan keluar hingga larut malam. Kami lebih memilih untuk bersenang-senang daripada belajar. Selain itu kondisi asrama juga kurang kondusif untuk belajar. Empat orang dalam satu kamar dengan gaya belajar yang berbeda-beda? Sulit.

Nilai saya tergolong pas-pasan saat semester 1 berlalu. Lagi-lagi saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya lulus walau pas-pasan. Lalu kenapa? Yang penting lulus. Dan saya kembali menikmati masa-masa indah di bangku kuliah dan asrama. Sejelek apapun hasil UTS saya pasti bisa memperbaikinya di UAS. Tapi saya tidak berkutik sama sekali saat berhadapan dengan Fisika. I'm sucks in physics. Saya dan Fisika memang tidak pernah akur. Saya sudah membenci Fisika saat pertama kali berkenalan dengannya di bangku SMP. Sekarang dia muncul lagi dalam hidup saya, membayang-bayangi masa awal perkuliahan saya, berjanji akan merusak semua kebahagiaan yang saya dapat di bangku kuliah. Nilai Fisika saya kecil, sangat kecil. Saya harus mendapat nilai minimal B saat UAS agar dapat lulus dan terlepas dari mata kuliah ini. Dan itu sangat tidak mungkin. Saya tahu itu tidak mungkin.

Saya panik. Seumur hidup saya belum pernah gagal di bidang akademis. Nilai saya tidak pernah jelek, rapor tidak pernah dihiasi angka merah dan saya selalu menjadi anak baik-baik dan menjadi kebanggaan orangtua. Saya tidak pernah gagal dan kegagalan itu sekarang di depan mata, menunggu untuk jadi kenyataan. Saya takut. Saya tidak mau mengecewakan orangtua. Saya malu jika tidak lulus dalam satu mata kuliah. Malu terhadap orang tua, teman, dan diri sendiri. Teman-teman pasti mencibir jika saya tidak bisa lulus di mata kuliah Fisika.

Saya tidak berani cerita tapi saya butuh butuh dukungan. Saat tidak tahu harus berbuat apa tiba-tiba saya kangen mama. Sudah berapa lama saya dan mama tidak mengobrol dan bertukar kabar. Saya terlalu terhanyut dengan euforia perkuliahan dan melupakan orang rumah. Setelah memberanikan diri akhirnya saya menelpon ke rumah. Di ujung telpon terdengar suara mama menanyakan kabar dan tangis saya langsung meledak. Selama 5 menit awal saya tidak mampu berkata apa-apa, saya hanya menangis di telpon sementara mama semakin kebingungan, 'Kamu kenapa?' tanya beliau. Dengan suara yang bercampur dengan isakan, saya menceritakan keadaan saya.

Setelah pikiran sedikit tenang dan otak mulai jernih, saya mulai menyusun rencana untuk mengejar nilai Fisika. Walau kemungkinan untuk tidak lulus terlihat begitu besar tapi saya memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Semua usaha akan dilakukan demi bisa lulus dari mata kuliah ini. Saya mulai mendatangi teman senasib untuk belajar bersama bahkan menginap di kamarnya, begadang semalaman untuk menghapal semua rumus sampai lingkaran di bawah mata mulai terlihat menghitam. Paling tidak saya bisa memberi sedikit perlawanan saat menghadapi soal di UAS nanti.

Sehari setelah telepon terakhir kerumah seseorang mengetuk pintu kamar dan mengabarkan orangtua saya menunggu di kantin asrama. Saya kaget, tidak biasanya mereka mengunjungi saya tanpa mengabari terlebih dahulu. Waktu itu jam setengah sembilan malam, papa masih memakai seragam kerja dan mama terlihat hanya berdandan seadanya. Ternyata papa mengajak mama menjenguk saya sepulangnya papa bekerja. Beliau menyetir mobil sendiri, menempuh jarak yang cukup jauh, menembus kemacetan, dan membawakan makanan untuk saya dan teman sekamar. Saya tidak menyangka, mereka begitu mengkhawatirkan keadaan saya.

Papa menanyakan kabar saya sedangkan mama lebih banyak diam. Dengan polos papa bertanya, 'Memang kalau kamu ngga lulus Fisika terus kamu dikeluarin dari kampus?'. Tidak papa sayang, saya tidak akan dikeluarkan dari kampus hanya karena nilai Fisika saya D. Tapi saya tidak mau nilai itu menghiasi transkrip atau harus mengulang mata kuliah ini untuk memperbaiki nilai. Papa terlihat lega, dia bilang tidak apa-apa kalau saya mendapat nilai D, papa dan mama tidak akan marah. Lagipula saya masih bisa memperbaikinya di semester lain jika mau. Papa yang tidak sempat merasakan bangku kuliah berusaha keras mengerti keadaan saya dan memberi nasehat untuk menyemangati saya.

Kunjungan itu tidak lama karena tepat pukul sembilan malam jam malam asrama habis. Sebelum pulang mama memberikan selembar surat untuk saya. Inilah kebiasaan saya dan mama, kami lebih leluasa mengeluarkan perasaan masing-masing melalui tulisan dibanding perkataan. Di kamar, diantara riuh teman-teman yang ribut menjarah makanan hantaran, saya membaca surat mama. Tidak banyak yang mama tulis disitu, beliau hanya menyampaikan bahwa dia bangga dengan semua yang telah saya raih sampai hari ini. Mama tidak menuntut banyak dari saya karena dia tahu saya selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu dan itu yang terpenting. Mama tidak mengerti arti dari angka ataupun huruf di transkrip, tapi mama melihat semua hal yang saya lakukan untuk meraihnya. Walau gagal, mama bangga karena saya tak letih untuk berusaha. Mungkin peribahasanya 'yang penting itu terletak pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya'.

Kejadian ini menjadi titik balik saya di masa kuliah. Saya berjanji tidak akan bermain-main lagi menghadapi masa kuliah. Masa depan ada di tangan saya dan hanya saya yang mampu mengubahnya. Walau transkrip nilai semester 1 dan 2 dipenuhi rantai karbon, saya bertekad untuk membalas semua kekalahan ini. Lulus kuliah dengan predikat Cum Laude pastinya sangat tidak mungkin, tapi saya mengejar kelulusan dengan predikat Sangat Memuaskan dengan IPK diatas 3. Hadiah untuk mama dan papa.

Dan saya berhasil...

Mama dan papa mungkin tidak sempat merasakan bangku kuliah tapi mereka adalah motivator saya nomor satu. Semua yang saya lakukan pada akhirnya ditujukan untuk membuat mereka bangga.

Tulisan ini dibuat untuk adik saya yang tengah berjuang menyelesaikan kuliahnya di Semarang. Kami selalu bangga dengan semua yang telah kamu lakukan. Dan untuk Nenes, cita-cita kita tercapai. Terimakasih karena selalu mengingatkan saya akan sebuah janji yang kita ucapkan di salah satu kamar asrama itu.

Dan kabar nilai Fisika saya? Yah, saya hanya kekurangan 1 poin untuk dapat lulus. Untungnya saya dapat mengikuti ujian ulangan dan lulus. Itu adalah terakhir kalinya saya bertemu dengan Fisika :)

Jumat, 10 Desember 2010

Got Tangled With Mom

Have watched Tangled (Rapunzel) 3D with mom :)

I'm gonna review the movie in different version. Please, enjoy it :)


Lovely Rapunzel... Kidnapped from her parents and arrested in a tower.

Rapunzel could climb tower's wall by her hair.

Or she use it to helped her painting on the wall.

But it's bothered her a bit when she's doing the housekeeping.

Let's meet Flint, he's a thief and Flint stole the tiara of missing princess (which is Rapunzel tiara).

Flint need to find a place to hide himself and the tiara. Voila, he found a tower over there.

Oops... Flint held captive by Rapunzel.

Rapunzel makes a bargain with Flint: Flint will guide her to see the light that continuously appear on her birthday and take her back to the tower, after that Rapunzel will return the tiara.

Aaahh... Those light comes from the lantern. The kingdom sends floating lanterns into the sky longing for their lost princess to return.

Rapunzel hasn't realizes that she is the lost princess.

And already 'like' Flint.

So...
Whether Rapunzel realize that she is the lost princess?
Will Rapunzel freed from the tower and reunited with her parents?
And how about Rapunzel and Flint love story?

Well, you better watched the movie.
I ran out of the picture to continue the story, besides I don't want to be spoiler here :)

Ah ya, I watched Tangled in 3D version with mom.
Just curious about her opinion and 'reaction' of 3D technology ;)
But she could handle her excitement so well.

In the end of movie, mom told me that she likes the story.
But I'm quite sure mom loves 3D technology better than the story.
Mom loves to see the pictures popping out from screen as if she could touch it with her hand.

'Umh, another 3D movies mom?'.

'Definitely!'.

Sabtu, 11 September 2010

Kami Doyan Ngomong Dan Ngisengin Mama

Lebaran itu terasa hangat karena seluruh anggota keluarga bisa berkumpul bersama. Saya dari Senin - Jumat bolak-balik Jakarta - Bogor dan weekend kebanyakan pergi keluar, Papa juga ngantor dari Senin - Jumat tapi selalu menghabiskan akhir pekan bareng mama, sedangkan adik semata wayang cuma pulang waktu hari raya dan libur semester karena dia kuliah di Semarang. Kasihan juga sama mama, 5 hari dalam seminggu cuma ditemenin kucing peliharaan, itu juga kalau kucingnya lagi absen pacaran sama kucing kampung.

Saat seluruh anggota keluarga lengkap berkumpul, rumah rasanya jadi ramai dan lebih semarak karena kami semua punya hobi yang sama: ngobrol, cerita, dan ngerjain mama. Padahal cuma empat orang yang berkumpul dalam satu atap, tapi ributnya ituuuu....

H-1
Yang paling ribet di dapur tentunya mama. Saya sebagai anak perempuan satu-satunya sih ngga bisa diharapkan untuk bantu-bantu, yang ada malah bikin rusuh.

'Ma, perasaan banyak banget beli buah,' kata saya sambil merhatiin mama yang lagi ngupas apel. 'Di rumah ini kan yang doyan buah cuma aku, mama mau bikin aku overdosis makan buah ya.'

'Mama kan mau bikin asinan buah buat dibawa pas kita kumpul keluarga besok.'

Berhubung kami berdomisili di Bogor, jadi mama berinisiatif membuat asinan khas kota Bogor. Asinan Bogor sendiri terbagi menjadi asinan buah dan asinan sayur. Saya sendiri tidak ingat persis apa saja isi dari asinan buah maupun asinan sayur tersebut. Yang pasti rasanya enak dan selalu ngantri kalau beli di akhir pekan karena harus berebut dengan turis lokal.

'Ko banyak banget buahnya?' tanya saya sambil mengingat-ingat buah apa saja yang dipakai untuk membuat asinan. Di dapur bertebaran nanas, pepaya, bengkoang, dan buah lain yang belum dijamah oleh mama.

'Iya, biar asinan buah mama bervariasi. Bosen ah, kalo asinan cuma pake timun impor.'

'Timun impor?' hebat banget mama, bikin asinan aja bela-belain pake timun impor.

'Iya, itu looohh... Timun luar negri.'

'Timun luar negri?' otak saya masih mandek, kok asinan pake timun luar negri? Asinan macam apakah ini? 'Bukan timun suri ma?' tanya saya penasaran.

'Bukaannn... Timun suri kan untuk es buah. Gimana sih kamu.'

'....................'

'....................'

Timun apa sih yang dimaksud mama.

'.....................'

'Maksud mama timun jepang ya?' tanya saya ragu.

'Iya, timun jepang'

Capeeee deeehhhh..... timun jepang aja dibilang timun impor.

Malam Takbiran
Berhubung hujan (dan males), saya dan mama melewatkan malam takbiran dengan menonton TV. Lalu muncullah sebuah iklan mie instan.

'Ma, mie instan ini mie paling enak sedunia loh ma. Enak banget, mienya lembut, pedesnya berasa lagi' saya berapi-api mempromosikan mie yang sedang diiklankan kepada mama.

'Masa sih teh? Emang ini mie apaan?'

'Mie keriting ma. Enak banget.'

'Oooohhh... Belinya dimana ya teh?' tanya mama polos.

'Yah mama, banyak kali di swalayan gitu. Mama keseringan gaul di pasar tradisional sih.'

'Masa sih teh? Gue kirain belinya di salon.' Tiba-tiba adik saya ikut nimbrung ngobrol.

'Iya teh, kirain mama juga belinya di salon. Abis namanya mie keriting.' Polos, mama mendukung anaknya yang paling bungsu.

'Iya ma, ada mie rebonding, mie smoothing, mie hair extension.' Adik saya malah tambah ngaco.

'Ada juga yang namanya mie botak ma.' Yang terakhir nyambung ini adalah papa saya.

Papa dan adik saya memang ngga mau kalah dalam urusan ngisengin mama.

Lebaran
Tradisi lebaran keluarga besar kami adalah berkumpul di rumah salah seorang kerabat. Lokasi halal bihalal tahun ini bertempat di Jakarta tercinta. Walau hari raya, tetap saja jalanan Jakarta padat merayap. Kalau sudah begini, kami lebih suka mengomentari lingkungan sekitar untuk menghilangkan penat.

'Eh, gedung Antam tuh,' kata saya sambil mencolek si adik. 'Pelototin sana, kali aja lo bisa masuk kesitu pas lulus nanti'.

Dengan nada tidak berminat, adik saya cuma menanggapi 'Hhhmmm.....'.

'Antam apa sih teh?' tanya mama memperhatikan gedung yang dimaksud.

'Ih mama, masa Antam aja ngga tau,' jawab saya acuh. 'Aneka......'

'Aneka Tambak ma,' dengan teganya si adik memotong kalimat saya dan ngibulin mamanya sendiri.

'Oooohh, Aneka Tambak ya,' mama mangut-manggut. 'Berarti yang punya Antam pengusaha ikan bandeng ya'.

'Hhhmmphh...' saya gigit-bibir-nahan-ketawa.

'Iya ma, pengusaha bandeng presto yang di Semarang itu kan impor bandengnya dari sini.' Sambung ade saya lempeng tanpa ekspresi.

'Wah hebat ya'.

Iya ma, hebat. Hebat banget mama punya anak tukang ngibul semua.

Lebaran Hari Kedua
Berkeliling Bogor untuk silaturahmi, dan mengomentari pemudik yang menggunakan motor.

'Anaknya temen papa kemaren meninggal karena kecelakaan motor ma,' kata papa, suram. 'Kenapa ya, kalau anak cakep dan baek itu umurnya ngga panjang.'

'Pa! Aku kan cakep dan baek,' saya horor.

'Papa! Anak-anak kita kan cakep dan baek semua,' mama cemas.

'Kalo gitu aku ngga mau jadi anak cakep dan baek deh pa,' ade saya ikutan ngomong.

Mobil tiba-tiba jadi sunyi.

'Kita ganti topik deh'.

Lanjutan Kisah Sang Asinan
Kelaparan! Obrak-abrik kulkas dan nemu si asinan.

Ko ada wortel ya di asinannya? 'Ma, emang asinan itu pake wortel ya?'.

'Iya teh, emang ada.' Mama tahu persis saya tidak suka wortel, jadi dia mencoba meyakinkan saya, 'Tapi itu sih wortel impor teh, tenang aja'.

'Hmmmhh......' nafsu makan saya hilang.

'Wortel impor teh'.

Mengingat kejadian timun jepang tadi, saya mencoba mencari makna dari wortel impor, dan tidak ketemu sampai sekarang. Ada yang bisa bantu?

Menurut kalian, percakapan di atas jika dibandingkan dengan percakapan ini, dan yang ini, siapa yang paling 'tega' dalam ngejailin dan ngisengin mama? 


Tapi yang pasti, kami sekeluarga sayang mama. 

Ratu di rumah ini. 



*Aku Tuan Putrinya ya ma*

Sabtu, 19 Juni 2010

KameraKu Sayaaaang...

Digital camera saya jatuh kemarin. Terbanting cukup keras sehingga lecet lumayan parah. Dan yang paling membuat saya sedih, sepertinya lensa kamera rusak karena guncangan yang hebat itu. Lensa tidak bisa fokus, bodi kamera rusak, dan saya tidak bisa marah kepada siapapun. Kesal? Itu pasti. Sedih? Saya menangis semalaman.

Sekarang pun saya masih kepikiran. Mungkin kalian heran, kenapa saya segitunya menghadapi itu semua, tinggal diservis dan semua akan beres. Tidak, tidak semudah itu. Harga servis hampir setengah dari harga kamera baru. Setelah diservis juga kamera saya masih carut-marut. Lecet-lecet itu tidak mungkin hilang kan? Just wondering and hoping ada ketok magic khusus kamera digital.

Yang membuat hati saya luka karena kamera ini merupakan kamera pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Uang hasil jerih payah saya. Setelah sekian lama browsing mencari kamera yang tepat, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada dia, si tipis Olympus berwarna merah. Warna favorit saya. Dia yang selalu setia menemani saya kemanapun. Mengabadikan semua momen dalam hidup saya. Dia juga menjadi kesayangan teman-teman karena hasil gambarnya yang cantik dan dapat diandalkan dalam berbagai kondisi. 

Sekarang saya harus kehilangan dia?
.......
.......
.......

Sepulangnya ke rumah saya langsung mengadu kepada mama. Dengan tangis sesengukan saya bercerita.
"Maaaa.....kamera aku rusak. Jatoh kebanting. Hiks...."
"Yah teh, terus gimana dong?"
"Hiks...hiks....beliin aku DSLR maaaaa...." (nangis makin kenceng supaya dibeliin)



*Beberapa momen foto bareng si merah. Ngga ada foto kamera saya yang sudah jatuh dan rusak. Saya ngga tega memfoto dan mempublikasikannya disini*

Kamis, 20 Mei 2010

Ahh mama...

Berhubung tulisan saya untuk KompetiBlog tidak kunjung rampung, sedang deadline sudah di depan mata, saya memutuskan untuk mengambil cuti. Rencananya saya akan duduk di depan laptop selama jam kerja dan hanya keluar untuk makan siang, persis seperti di kantor. Ini adalah kompetisi blog pertama saya dan saya ingin membuat sebuah tulisan sebaik mungkin. Hmmphh... Sepertinya bukan hanya untuk kompetisi blog, saya ingin semua hal berjalan sesempurna mungkin. Hate being such a perfectionist person.


Mama yang tidak mengerti apa yang sedang saya kejar dan kerjakan nampak senang melihat anaknya mengambil cuti dan menghabiskan waktu di rumah di kamar. Beberapa kali beliau keluar masuk kamar, tapi tak pernah saya hiraukan. Sampai akhirnya beliau duduk dekat saya yang sibuk mengetik, tidak minta diperhatikan, hanya ingin saya mendengar cerita tentang kehidupannya. Saya menyerah, dan akhirnya mengobrol dengan mama, walau pikiran ini masih berada dalam tulisan yang masih setengah jadi. Mama tampak senang dan bercerita dengan semangat. Saya juga bahagia bisa menghabiskan waktu, yang sayangnya hanya sebentar, bersama mama.

Beberapa menit kemudian mama menyudahi obrolan kami, sepertinya maklum dengan kesibukan saya dan tak ingin mengganggu lebih lama lagi. Saya pun kembali sibuk menyelesaikan tulisan. Sampai akhirnya saya menjerit sejadi-jadinya karena file tulisan yang sudah rampung terhapus, tanpa ada back up. Badan saya langsung lemas, rasanya ngga sanggup jika harus mengulang tulisan dari awal, belum lagi besok harus kembali kerja. Mama datang ke kamar saya, bertanya apa yang sedang terjadi, dan hanya bisa memandang saya lalu berkata "Mama ngga bisa bantu apa-apa teh, mama kan ngga ngerti". Saya hanya melempar senyum pahit untuk menanggapi perkataan beliau.

Setelah mengotak-atik panik, akhirnya tulisan saya kembali. Alhamdulillah kerja keras saya bisa terselamatkan. Tinggal dirapihkan sedikit dan siap di publish. Samar-samar dari luar kamar, mama mengajak saya membeli bajigur yang lewat di depan rumah. Minuman berbahan dasar santan dan gula aren ini memang favorit kami sekeluarga saat berkumpul di rumah, lengkap dengan berbagai camilan pendampingnya, papais pisang, getuk, atau ubi rebus. Saya menolak halus tawaran mama, dan beliau keukeuh menawarkan camilan untuk menemani saya merampungkan tulisan. Saya tidak menanggapi sama sekali perkataan mama, terlalu sibuk mengetik. Toh saya juga sudah bilang tidak kan untuk tawaran menikmati bajigur plus cemilan pendampingnya itu.

Mendekati ashar, postingan akhirnya selesai. Saya keluar kamar untuk merenggangkan kaki yang terlalu lama terlipat di depan laptop. Saat melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu Zuhur yang hampir habis, saya melihat gelas kesayangan di atas meja makan. Rasanya saya belum memakai gelas ini dari pagi. Ketika membuka tutupnya, terlihatlah bajigur panas yang mama beli tadi siang sudah menjadi dingin di gelas kesayangan saya. Di meja makan juga tersedia beberapa camilan untuk saya makan sambil menikmati bajigur. Ahh mama... saya merasa sangat berdosa sudah mengacuhkan perhatian mama yang demikian besar.

Mama tau, mama ngga bisa bantu kamu apa-apa. 
Mama juga ngga ngerti apa yang lagi kamu kerjakan. 
Tapi mama hanya ingin kamu tahu, mama selalu mendukung kamu.

Mama ngga perlu mengatakan itu langsung kepada saya. Melihat bentuk perhatiannya saja saya sudah dapat menangkap makna yang ingin beliau sampaikan. Rasa bajigur yang seharusnya manis jadi terasa asin karena bercampur dengan air mata saya yang merebak. Ahh mama... apa yang bisa saya lakukan untuk menunjukkan betapa saya juga sangat menyayangi mama. Apa yang bisa saya lakukan untuk membalas semua perhatian dan kasih sayang yang telah mama beri selama 24 tahun saya hidup di dunia ini?

Aku sayang mama....
Selalu sayang mama.
Maafkanlah semua perilaku diri ini yang telah menyakiti hati mama.


Saya jadi merenung. Mengapa anak kecil sering menangis? Karena mereka meminta perhatian dari sang mama. Mereka ingin dimanja, disayang, diperhatikan. Mereka takut jika mama pergi tanpa mengajak ikut serta, walau mama hanya pergi sebentar. Mereka merasa tidak aman. Sekarang keadaan berbalik, mama yang meminta perhatian dari kita. Mama yang cemas jika sang anak belum tiba di rumah padahal hari semakin larut. Mama menjadi cerewet dengan kehidupan pribadi kita semata-mata karena beliau mengkhawatirkan kita. Dan beberapa kesedihan mama yang tidak terlihat dan tidak terdefinisikan karena dia tidak lagi mengerti dunia sang anak.

Ahh mama.....
Suatu saat nanti saya juga akan merasakan apa yang sekarang mama rasakan ya.

Minggu, 04 April 2010

Silver Anniversary

Dearest mom and dad
Happy silver anniversary wedding
5 March 1985 - 5 March 2010


25 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilewati
Pasti banyak canda, tawa, amarah dan air mata sepanjang perjalanan kalian
Tapi kalian berhasil melewati semua rintangan hidup berdua

Bagaimana kami, anak-anakmu ini dapat mengungkapkan
Betapa kami bangga memiliki orangtua seperti kalian
Yang selalu mendukung semua keinginan kami
Memberikan kepercayaan penuh untuk semua keputusan yang kami ambil

Bagi kami, kalian adalah orangtua paling hebat di dunia ini
Tak akan pernah cukup rasanya ucapan sayang, terimakasih dan maaf
Kami sayang kalian
Terimakasih untuk semua yang telah kalian berikan selama 25 tahun ini
Dan maafkanlah kami yang belum bisa melakukan hal-hal besar untuk membalas semua itu

Tapi kalian tidak pernah menuntut itu semua
Kalian selalu bangga dengan semua yang telah kami raih
Bagi kalian, itu adalah kado yang tidak ternilai harganya

Tunggulah...
Sabarlah...
Kami akan terus melakukan semua hal yang akan membuat kalian bangga
Untuk menunjukkan kepada kalian, betapa kami sangat menyanyangi kalian berdua


Selamat ulang tahun pernikahan 

Rabu, 24 Maret 2010

Another Mom's Stories

MamaQuu yang tambah lucu, tambah gaul, dan (pastinya) tambah sayang sama aku :) 
Luv u much mom.

Pasti Filmnya Ngga Bagus
"Teh, Teh, ada film baru ya teh" sangking semangatnya mama nyebut nama saya sampe tiga kali.
"Hm. Film apa ma?" kurang tertarik, perasaan saya paling apdet sama film baru deh.
"Itu teh.....mmmmhh...delapan belas tambah...." jawab mama susah payah menyebutkan sebuah judul film.
"Hah? Delapan belas tambah? Film apaan tuh ma?" tanya saya, mulai tertarik dengan info film dari mama.
"Itu teh, film Indonesia baru. Mmmmhhhh...Delapan belas tambah kan ya teh judulnya? Abis di belakang angka 18 ada simbol tambah, jadi mama bacanya delapan belas tambah" jawab mama polos.
"Aiiiihhhh....itu delapan belas plus (18+) mamaaaaa......".
"Ooohh...delapan belas plus ya teh".
"Iya." Saya mulai kehilangan mood untuk membahas film lama tersebut.
"Pasti filmnya ngga bagus. Masa gambarnya orang-orang ngga pake baju. Ih, film apaan coba gambarnya kaya gitu".
"Hhmpphh....itu pada pake tank top maaaaaa....." jawab saya sambil ngakak.

Poster 18+ yang fenomenal (di mata mama)

Ngga Ada Chemistry
Akhir pekan, menghabiskan waktu dengan membaca buku dan koran bareng mama. Tiba-tiba mama membuka pembicaraan.
"Teh, kamu tuh cantik, manis, baik, sempurna deh pokoknya......".
"Tapi masih jomblo kan sampe sekarang" kata saya acuh memotong kalimat mama.
"Hehehe.....iya teh, mama suka heran deh. Ko sampe sekarang kamu masih sendiri aja ya".
"Hm......." jawab saya datar.
"Ngga apa-apa teh. Mama tau kok, dari semua cowo yang ngedeketin kamu belum ada yang cocok sama hati kamu kan. Mmmhhhhhh....kalau kata Choky di TekHimOt sih belum ada kemistrinya ya teh".
"Chemistry maaaaaa....."
"Iya, Kkkhheemistrrriiiii......."
"Iya, itulah pokoknya"
"Gitu ya teh?"
"Emang Chemistry apa ma?"
"Nga tau teh............"

ZzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZzzzzz.......

Kamu Kan Jarang Olahraga
Duduk-duduk di taman bareng mama selesai lari pagi.
"Iiiiihhh mama.....sepatunya udah rusak tuh".
"Iya nih teh, udah jelek sepatunya. Musti beli yang baru".
"Huuuuu.....mama sih, beli sepatunya yang murah. Kaya aku dooooong, sepatunya mahaaaaalll, belinya di Sport Station, tahan lama, bagus, modelnya keren lagi" saya menyombongkan sepatu olahraga yang baru dibeli.
"Iyalah sepatu kamu masih bagus. Kamu kan olahraganya hari sabtu doang, itu juga musti mama bangunin sampe tujuh kali. Mama olahraganya tiga kali seminggu, jadi wajar klo sepatu mama cepet rusak, mama rajin sih olahraganya".
.....................................................
jleb jleb jleb, saya ngga bisa ngbales omongan mama.

Minggu, 14 Maret 2010

Lagi Rajin Ngikutin Berita

Hal yang saya lakukan saat sampai rumah setelah seharian berada di kantor adalah masuk kamar, nyalain laptop (kalau lagi ngga cape), keluar kamar lagi untuk urusan bersih-bersih badan, dan masuk kamar untuk online sebentar kemudian tidur. Begitu terus selama lima hari dalam seminggu, mama papa juga biasanya langsung beranjak ke kamar setelah anak perempuan satu-satunya yang manis serta cantik jelita ini pulang dengan selamat. Namun 2 minggu kemarin semua rutinitas ini berubah.

Dua minggu kemarin, saat saya pulang, papa lagi nonton Metro TV yang menayangkan kericuhan Sidang Paripurna DPR. Saya cukup terpana melihat berita tersebut dan ikut duduk anteng bareng papa dengan baju kerja yang masih melekat. Shock juga, ternyata sampai saat ini kelakuan anggota DPR masih sama: arogan, tidak memikirkan kepentingan rakyat, dan tidak beretika. Malu rasanya melihat wajah dari sistem kepemimpinan Indonesia melalui Sidang Paripurna DPR yang berlangsung hari itu.

Berhubung badan ini sudah protes minta istirahat, saya hanya mengikuti berita sampai jam 22.30. Lagipula berita yang ditampilkan sudah diputar berulang kali di beberapa stasiun TV. Sebenarnya Metro TV dan TV One menayangkan dialog dengan beberapa tokoh politik, termasuk dengan Marzuki Alie selaku ketua DPR yang berulah hari itu. Tapiiii....karena saya udah lama banget ngga akses sama berita, jadi saya ngga kenal dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam dialog, bahkan sebelumnya saya ngga tau kalau Marzuki Alie itu adalah ketua DPR :p

Keesokan harinya, tiba-tiba saya tergelitik untuk mengetahui berita semalam lebih lanjut. Ada apa sih dengan Sidang Paripurna DPR kemarin? Kenapa jadi sebegitu ricuhnya? Kenapa Marzuki Alie meninggalkan ruangan sidang? Apa sih yang dibahas di sidang kemarin? Dan semua pertanyaan itu mendorong saya untuk membeli koran pagi (biasanya saya cuma baca koran hari sabtu dan minggu). Pilihan jatuh pada koran Media Indonesia, karena saya ingin membaca berita dari sudut Media Group.

Malamnya, sidang paripurna DPR tahap 2 kembali digelar. Saya yang memang bela-belain untuk pulang cepat dari kantor beruntung dapat mengikuti jalannya sidang. Dari debat kusir yang terjadi, saya dapat menangkap kalau sidang sudah berlangsung cukup lama, terdapat beberapa opsi, dan ketua DPR sepertinya lebih kalem menghadapi hujan interupsi. Percaya atau tidak, saya hanya mengikuti berita sampai jam 21.30 malam saja. Kuping ini rasanya pengang dan panas mendengar interupsi dari sana-sini. Kalau interupsinya worth it untuk didengar sih it's-ok-go-ahead, tapi kebanyakan interupsinya ngga penting dan hanya memperlambat jalannya sidang. Belum lagi anggota DPR lain yang berlaku layaknya anak SD, berteriak-teriak "Huuu..." dan mengolok-olok anggota dewan yang sedang membacakan interupsi. Sungguh sangat tidak beretika dan tidak mendukung kelancaran sidang. Tambah malu rasanya saya dengan sistem pemerintahan negara ini.

Keesokan harinya, saya kembali membeli koran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sidang paripurna kemarin malam. Pilihan jatuh pada koran Seputar Indonesia, kali ini saya memang ingin melihat berita dari sudut pandang Sindo. Dari situ saya mengetahui bahwa sidang paripurna DPR memutuskan untuk mengambil opsi C: proses bailout bank Century bermasalah.

Pernah dengar istilah "Satu pengetahuan akan membawa kita kepada pertanyaan yang lain". Manusia memang tidak pernah puas dan selalu ingin tahu (atau itu pribadi saya saja?). Hal itulah yang terjadi kepada saya. Saya yang memang ketinggalan berita jadi penasaran akan permasalahan inti dari kasus Century dan sidang paripurna. Teman-teman kantor tidak luput dari pertanyaan saya. Mereka semua heran dan bertanya "Kok tumben, lo sekarang ngikutin dan pengen tau sama berita".

Entah, rasanya sekarang saya mulai aware dengan berita-berita tentang negeri ini, apalagi yang berkaitan dengan politik. Dulu saya sangat alergi dengan segala hal yang berhubungan dengan politik, tetapi sekarang pola pikir saya mulai terbuka. Saya adalah anak bangsa, apa jadinya bangsa ini jika warganya sendiri tidak mengetahui hal-hal yang sedang, telah, dan akan terjadi. Bukan saatnya lagi saya berpangku tangan dan pura-pura tidak peduli dengan keadaan bangsa ini. Paling tidak, saya tidak ingin kehilangan (lagi) bab-bab bersejarah yang sedang terjadi saat ini. 

Sekarang saya lebih rajin mengikuti berita. Saat akan berangkat kerja, saya minta mama untuk menyalakan TV dan mengencangkan volumenya sehingga bisa terdengar dari kamar, jadi saya bisa mengikuti berita sambil berpakaian, dandan dan sarapan. Pulang kerja juga saya meluangkan waktu beberapa menit di depan TV, untuk mengetahui ada kejadian apa hari ini di Indonesia. Kalau beritanya (menurut saya) penting dan menarik keesokan harinya saya akan membaca koran.

Ada beberapa keuntungan lain dari kebiasaan baru saya ini. Selain saya lebih aware terhadap berita terbaru dan pengetahuan mengenai sistem politik Indonesia jadi bertambah, saya jadi lebih dekat dengan papa. Seringkali saya tidak puas dengan jawaban dari teman-teman kantor, dan (menurut saya) orang yang paling tepat untuk bertanya, berdiskusi, dan bertukar pendapat adalah papa sendiri. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kami mengobrol dan berdebat mengenai suatu hal, dan topik tentang sistem pemerintahan dan politik Indonesia rasanya tidak akan pernah habis untuk dikupas lebih dalam. 

Ah ya, satu lagi keuntungan dari baca berita: ngga malu-maluin waktu ngobrol dengan teman baru. Ini terjadi waktu chat bareng Cipu, iseng saya tanya-tanya kerjaan kakaknya yang politikus. Dia jawab "Kerja di Bawaslu, search aja namanya di Google" dan saya tidak cukup bodoh untuk bertanya "Bawaslu itu apa sih Pu?". Hahahaha.... Well Pu, your sist is a great person. Dedicated with her job, honest, and tought person indeed. You must be very proud of her.