total ping

Tampilkan postingan dengan label College. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label College. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2011

Sepenggal Kenangan Masa Kuliah

Saya masih semester 2 dan bersiap menghadapi UAS. Beberapa nilai UTS baru dibagikan seminggu menjelang UAS, tidak terlalu memuaskan sih tapi saya tidak terlalu memusingkannya. Toh masih bisa mengejar nilai saat UAS kan. Reaksi yang sama sekali berbeda muncul hasil ujian Fisika keluar, nilai saya berada di kisaran D! Butuh poin yang cukup besar agar bisa lulus mata kuliah ini. 'Mati gue!!!', cuma itu yang terlintas di kepala.

Kampus saya mengharuskan mahasiswa tingkat awal untuk tinggal di asrama. Selama satu tahun penuh kami tinggal dalam kamar kecil berisi empat orang, beradaptasi dengan dunia perkuliahan dan mengulang semua pelajaran dasar di bangku SMU. Mungkin karena baru kali ini tinggal berjauhan dari orangtua maka beberapa anak termasuk saya tidak terlalu peduli dengan urusan akademis. Lagipula kami hanya mengulang pelajaran masa SMU, apa sih sulitnya? Masa awal kuliah lebih banyak dihabiskan dengan bermain dan keluar hingga larut malam. Kami lebih memilih untuk bersenang-senang daripada belajar. Selain itu kondisi asrama juga kurang kondusif untuk belajar. Empat orang dalam satu kamar dengan gaya belajar yang berbeda-beda? Sulit.

Nilai saya tergolong pas-pasan saat semester 1 berlalu. Lagi-lagi saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya lulus walau pas-pasan. Lalu kenapa? Yang penting lulus. Dan saya kembali menikmati masa-masa indah di bangku kuliah dan asrama. Sejelek apapun hasil UTS saya pasti bisa memperbaikinya di UAS. Tapi saya tidak berkutik sama sekali saat berhadapan dengan Fisika. I'm sucks in physics. Saya dan Fisika memang tidak pernah akur. Saya sudah membenci Fisika saat pertama kali berkenalan dengannya di bangku SMP. Sekarang dia muncul lagi dalam hidup saya, membayang-bayangi masa awal perkuliahan saya, berjanji akan merusak semua kebahagiaan yang saya dapat di bangku kuliah. Nilai Fisika saya kecil, sangat kecil. Saya harus mendapat nilai minimal B saat UAS agar dapat lulus dan terlepas dari mata kuliah ini. Dan itu sangat tidak mungkin. Saya tahu itu tidak mungkin.

Saya panik. Seumur hidup saya belum pernah gagal di bidang akademis. Nilai saya tidak pernah jelek, rapor tidak pernah dihiasi angka merah dan saya selalu menjadi anak baik-baik dan menjadi kebanggaan orangtua. Saya tidak pernah gagal dan kegagalan itu sekarang di depan mata, menunggu untuk jadi kenyataan. Saya takut. Saya tidak mau mengecewakan orangtua. Saya malu jika tidak lulus dalam satu mata kuliah. Malu terhadap orang tua, teman, dan diri sendiri. Teman-teman pasti mencibir jika saya tidak bisa lulus di mata kuliah Fisika.

Saya tidak berani cerita tapi saya butuh butuh dukungan. Saat tidak tahu harus berbuat apa tiba-tiba saya kangen mama. Sudah berapa lama saya dan mama tidak mengobrol dan bertukar kabar. Saya terlalu terhanyut dengan euforia perkuliahan dan melupakan orang rumah. Setelah memberanikan diri akhirnya saya menelpon ke rumah. Di ujung telpon terdengar suara mama menanyakan kabar dan tangis saya langsung meledak. Selama 5 menit awal saya tidak mampu berkata apa-apa, saya hanya menangis di telpon sementara mama semakin kebingungan, 'Kamu kenapa?' tanya beliau. Dengan suara yang bercampur dengan isakan, saya menceritakan keadaan saya.

Setelah pikiran sedikit tenang dan otak mulai jernih, saya mulai menyusun rencana untuk mengejar nilai Fisika. Walau kemungkinan untuk tidak lulus terlihat begitu besar tapi saya memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Semua usaha akan dilakukan demi bisa lulus dari mata kuliah ini. Saya mulai mendatangi teman senasib untuk belajar bersama bahkan menginap di kamarnya, begadang semalaman untuk menghapal semua rumus sampai lingkaran di bawah mata mulai terlihat menghitam. Paling tidak saya bisa memberi sedikit perlawanan saat menghadapi soal di UAS nanti.

Sehari setelah telepon terakhir kerumah seseorang mengetuk pintu kamar dan mengabarkan orangtua saya menunggu di kantin asrama. Saya kaget, tidak biasanya mereka mengunjungi saya tanpa mengabari terlebih dahulu. Waktu itu jam setengah sembilan malam, papa masih memakai seragam kerja dan mama terlihat hanya berdandan seadanya. Ternyata papa mengajak mama menjenguk saya sepulangnya papa bekerja. Beliau menyetir mobil sendiri, menempuh jarak yang cukup jauh, menembus kemacetan, dan membawakan makanan untuk saya dan teman sekamar. Saya tidak menyangka, mereka begitu mengkhawatirkan keadaan saya.

Papa menanyakan kabar saya sedangkan mama lebih banyak diam. Dengan polos papa bertanya, 'Memang kalau kamu ngga lulus Fisika terus kamu dikeluarin dari kampus?'. Tidak papa sayang, saya tidak akan dikeluarkan dari kampus hanya karena nilai Fisika saya D. Tapi saya tidak mau nilai itu menghiasi transkrip atau harus mengulang mata kuliah ini untuk memperbaiki nilai. Papa terlihat lega, dia bilang tidak apa-apa kalau saya mendapat nilai D, papa dan mama tidak akan marah. Lagipula saya masih bisa memperbaikinya di semester lain jika mau. Papa yang tidak sempat merasakan bangku kuliah berusaha keras mengerti keadaan saya dan memberi nasehat untuk menyemangati saya.

Kunjungan itu tidak lama karena tepat pukul sembilan malam jam malam asrama habis. Sebelum pulang mama memberikan selembar surat untuk saya. Inilah kebiasaan saya dan mama, kami lebih leluasa mengeluarkan perasaan masing-masing melalui tulisan dibanding perkataan. Di kamar, diantara riuh teman-teman yang ribut menjarah makanan hantaran, saya membaca surat mama. Tidak banyak yang mama tulis disitu, beliau hanya menyampaikan bahwa dia bangga dengan semua yang telah saya raih sampai hari ini. Mama tidak menuntut banyak dari saya karena dia tahu saya selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu dan itu yang terpenting. Mama tidak mengerti arti dari angka ataupun huruf di transkrip, tapi mama melihat semua hal yang saya lakukan untuk meraihnya. Walau gagal, mama bangga karena saya tak letih untuk berusaha. Mungkin peribahasanya 'yang penting itu terletak pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya'.

Kejadian ini menjadi titik balik saya di masa kuliah. Saya berjanji tidak akan bermain-main lagi menghadapi masa kuliah. Masa depan ada di tangan saya dan hanya saya yang mampu mengubahnya. Walau transkrip nilai semester 1 dan 2 dipenuhi rantai karbon, saya bertekad untuk membalas semua kekalahan ini. Lulus kuliah dengan predikat Cum Laude pastinya sangat tidak mungkin, tapi saya mengejar kelulusan dengan predikat Sangat Memuaskan dengan IPK diatas 3. Hadiah untuk mama dan papa.

Dan saya berhasil...

Mama dan papa mungkin tidak sempat merasakan bangku kuliah tapi mereka adalah motivator saya nomor satu. Semua yang saya lakukan pada akhirnya ditujukan untuk membuat mereka bangga.

Tulisan ini dibuat untuk adik saya yang tengah berjuang menyelesaikan kuliahnya di Semarang. Kami selalu bangga dengan semua yang telah kamu lakukan. Dan untuk Nenes, cita-cita kita tercapai. Terimakasih karena selalu mengingatkan saya akan sebuah janji yang kita ucapkan di salah satu kamar asrama itu.

Dan kabar nilai Fisika saya? Yah, saya hanya kekurangan 1 poin untuk dapat lulus. Untungnya saya dapat mengikuti ujian ulangan dan lulus. Itu adalah terakhir kalinya saya bertemu dengan Fisika :)

Minggu, 27 Juni 2010

After Graduation

Sudah 3 tahun sejak terakhir kita bersama di bangku kuliah.

Dan sekarang, kita hanya bisa menyempatkan diri berkumpul di acara pernikahan teman yang satu persatu melepas masa lajang.

Acara pernikahan selalu menjadi ajang 'pamer pencapaian': pekerjaan baru, gaji baru, gadget baru, dan pasangan hidup baru.

"Ocha kenalin...ini suami gue. Kemaren ngga dateng ke nikahan gue ya?" seorang teman menyapa saya.

"Eh iya Cha....kenalin ini suami gue" kata teman lain sambil menarik suaminya.

"Heran, ko orang-orang bawa suami masing-masing ya. Suami gue mana? Suami.... Suami.... Kamu ngumpet dimana sayang?" saya nelangsa nyariin suami calon suami :)


Pencapaian yang paling jelas terlihat tentu saja terlihat dari fisik yang semakin subur-makmur-sejahtera-sentosa.

Satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaan kami pada dunia foto memfoto.



Tentu saja, tali persahabatan yang terjalin sejak awal masa perkuliahan tidak akan pernah putus.


Dan pertanyaan khas sebelum masing-masing pulang, 

"Nanti ngumpul lagi di nikahan siapa?"

akan dijawab dengan semangat membara

"GUE!!!"

Tetep yakin dan PD walau belum ketemu Mr. Right. Yaahh, yang namanya jodoh siapa yang tau kan *menghibur-diri-sendiri*.

Selasa, 08 Juni 2010

Life For Passion

Salah satu hal penting yang saya tangkap dari film Julie and Julia adalah life for passion. Di film itu Julie berusaha menekuni passion dalam hidupnya, memasak dan menulis, di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai petugas call center. Dengan menjalankan passion, Julie merasa lebih hidup dan bersemangat dalam menjalani hari dan menghadapi pekerjaannya yang menyebalkan.

 

Berbicara tentang passion, ada tiga hal di dunia ini yang mampu mengembalikan semangat dan merefresh otak saya: film, musik, dan buku. Seperti pendeskripsian saya di halaman muka blog ini, I’m movie freak, music holic, and books worm. Travel juga masuk dalam daftar passion saya, hanya saja travel membutuhkan perencanaan, waktu dan biaya lebih, jadi tidak bisa saya lakukan semaunya saja. Ketika sebagian besar wanita memasukkan belanja dalam passion hidup mereka, saya hanya menganggap belanja sebagai ‘pelarian’. Bagaimana dengan blogging, hmm kegiatan ini sudah masuk dalam kategori pengaktualisasian diri, dan bagi saya kedudukannya lebih tinggi dibanding passion.

Passion pertama dalam hidup saya: film. Cukup cari saya di bioskop pada hari libur, saya pasti beredar disana untuk menonton film terbaru. Jika tidak ada film yang menarik, maka saya akan berada di kamar, sibuk memutar keping DVD berbagai genre film.


Dengan sebuah film, baik fiksi maupun kisah nyata, saya dapat melihat kisah hidup seseorang, mencoba memahami perasaan mereka, belajar tentang kebudayaan negara lain, plus dimanjakan dengan visualisasi melalui setting sebuah film. Berhubung jenis film di Indonesia kebanyakan didominasi film produksi Hollywood, jadi saya selalu menantikan dan menikmati berbagai festival film. Sangat menyenangkan dapat menjelajahi berbagai tempat di dunia ini dan mempelajari kebudayaannya melalui sebuah film.

Passion saya pada musik sejalan dengan kecintaan saya dengan radio. Sejak SMP saya bercita-cita menjadi penyiar radio. Pasti menyenangkan jika dapat mengetahui perkembangan musik terbaru, setiap hari bisa memutar musik favorit, dan bekerja sesuai minat, begitu pikir saya. Tidak mudah memang menjadi penyiar, tapi saya beruntung dapat mencicipi pengalaman itu di bangku kuliah. Bagi saya, tidak ada pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain bekerja sesuai passion yang dimiliki.

Setiap musik memiliki sebuah cerita hidup dan kenangan di dalamnya. Melalui sebuah musik, saya dapat menyusun garis waktu dan bercerita banyak dari memori yang secara langsung terputar ulang. Saat mendengar lagu Sheila on 7 misalnya, saya langsung teringat masa-masa SMU dan kekonyolan teman-teman yang mengidolakan personilnya. Jadi jangan salahkan saya jika sering senyum-senyum sendiri atau tiba-tiba termenung saat mendengarkan sebuah musik.


Musik dapat mempengaruhi mood dengan hebatnya. Sejenuh dan sebosan apapun, saya cukup mendengarkan musik kesukaan, ikut menyanyikan beberapa lirik, tersenyum saat mengingat beberapa cerita hidup yang bermunculan, dan beberapa menit kemudian perasaan menjadi lebih baik. Karena itu, saya selalu mengawali hari dengan mendengarkan radio, cara ampuh menyemangati diri sendiri untuk bekerja seharian.

Saya cinta buku, hanya saja saya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Belum lagi sifat saya yang detail oriented dan perfeksionis ikut mempengaruhi. Saya ingin mempunyai waktu khusus untuk membaca, tanpa gangguan. Mood saya juga harus bagus, jadi saya dapat merasakan mood yang ingin disampaikan dari buku tersebut. Belum lagi saya ingin membaca kata per kata dari sebuah buku, tidak cukup rasanya kalau membaca cepat atau skimming saja. Hal-hal kecil dan tidak penting ini akhirnya membuat beberapa buku menjadi tertunda untuk dibaca.  


Banyaknya kalimat yang dibaca dalam sebuah buku membuat otak saya terasa hidup kembali. Saya sudah teramat bosan dihadapkan dengan deretan angka dari Senin - Jumat, jadi saya butuh limpahan kalimat untuk menyeimbangkannya. Penggunaan kata dan kalimat yang ditulis dalam buku memperkaya kosa kata saya saat menulis blog. Sayangnya beberapa bulan ini saya belum membaca satu buku pun, jadi pilihan kata saya di blog sedikit monoton dan membosankan :(


Tiga passion dalam hidup saya dan membuat hari-hari lebih berwarna, bermakna, dan menyenangkan. Apa passion kalian? Share sama saya ya :)

Rabu, 12 Mei 2010

12 Mei

Tanggal 12 Mei memiliki kenangan tersendiri untuk saya. Sekeras apapun usaha saya untuk tidak mengidahkannya, namun sepertinya kepala ini secara otomatis mengulang semua memori yang tersimpan selama 4 tahun. Sebuah kenangan akan seseorang yang telah melekat erat di kepala ini.

 

Dua tahun telah berlalu semenjak kisah kami selesai untuk selamanya. Tapi hati ini masih terasa sakit jika saya melihat berbagai hal yang berkaitan dengan dirinya. Saya berani berkata kalau saya sudah selesai dengan rasa sakit hati, penyesalan, dan pengharapan. Saya juga sudah merelakan kepergian dia. Hanya saja saya tidak cukup kuat untuk menghadapi kenangan dari masa lalu.

Selama empat tahun saya selalu merayakan 12 Mei sebagai hari jadi, dan dua tahun berikutnya saya harus mati-matian menghindar dari seluruh kenangan yang muncul secara bersamaan di tanggal ini. Ahh, kenapa hati ini masih terasa melankolis jika menghadapi 12 Mei. Salahkah saya jika masih meneteskan air mata di tanggal ini. Dosakah saya jika terus bertanya kepada Tuhan kenapa semua ini harus terjadi.

Tuhan, maafkanlah saya yang selalu menggugatMu setiap tanggal 12 Mei. Ampunilah saya yang terus menyalahkan skenario hidup yang telah Kau buat untukku. Tuhan, apakah Kau bosan mendengar cerita dan keluhan yang sama selama dua tahun ini?








Dan dalam doaku malam ini, aku hanya mampu berbisik

Tuhan, bahagiakanlah dia...

Selasa, 06 April 2010

Pohon Hujan

Di siang terik karena cuaca kota hujan ini semakin hangat
Kita berjalan bersama di bawah keteduhan pohon yang menaungi kampus
Saling bercerita dan berbagi kisah hidup masing-masing
Tertawa berderai, menikmati waktu yang dapat kita habiskan berdua
Hanya berdua

Lalu angin pun berhembus...
Meniup dedaunan sang pohon
Tiba-tiba aku terhenyak
Menyaksikan lukisan alam yang terhampar di hadapan mata

Pohon itu
Dengan daunnya yang panjang, tajam, ramping dan menghujam bumi
Menari mesra bersama sang angin
Meliuk indah mengikuti alunan angin
Dan seolah menciptakan hujan deras yang tidak pernah sampai ke bumi
Karena titik hujan tersebut tertambat di batang sang pohon

Aku terpana...
Terlonjak gembira melihat pemandangan itu
Tertawa lepas dan berkata
"Pohon ini terlihat seperti pohon hujan dari mata minusku
Mulai sekarang pohon ini jadi pohon kesayanganku"
Dan aku pun menatap kamu tepat di bola mata
Memberikan sebentuk senyum paling cantik dari wajah ini

Kamu hanya membalas senyumku
Mencoba memahami jalan pikiranku
Mencerna semua ocehanku dalam kepalamu
Dan kamu menggandeng tanganku
Melewati kampus hijau ini
Dan melalui keriaan masa muda kita berdua














Ahh kenangan....
Haruskah saya menghapusnya dari ingatan ini

Untuk melupakan kamu.

Kamis, 25 Februari 2010

SG: The Beginning

Where's to start? Hmm..akan saya awali dengan memperkenalkan travel mate dalam perjalanan kemarin. Lets meet Sagi and Nenes. Mereka adalah teman saya semasa kuliah. Sagi jurusan Biologi dan kami menempati kamar yang sama di asrama putri selama satu tahun. Sedangkan Nenes teman satu jurusan yang berjuang bersama saya selama empat tahun untuk mencapai cita-cita yang kami tetapkan bersama sejak tingkat 1 kuliah: IPK di atas 3 dan lulus dengan predikat sangat memuaskan (berhubung nilai kami banyak rantai karbon sehingga tidak mungkin lulus Cum Laude). And we did it.

 
Foto jadul saya dan Nenes

Me and Sagi jaman kuliah

Sagi dan saya satu selera, sama-sama suka nonton (dan bela-belain bolos kerja untuk dateng ke JIFFest), music holic, dan yang pasti sama-sama cinta travel. We're definitely partner in crime. Hanya sayang, sampai lulus kuliah kami belum pernah melakukan perjalanan bersama. Beda kasus dengan Nenes, dia adalah orang yang tepat untuk diajak belanja dan hangout bareng. Pilihan baju, sepatu, bahkan sampai warna lipstick saya mirip dengan milik Nenes. Kami memang satu pikiran untuk masalah penampilan. 

Bagaimana dengan gaya bepergian kami? Saya dan Sagi adalah pecinta buku traveling, apalagi yang bertema backpackers. Let say, we want to be Trinity in The Naked Traveler, to be Elok on Backpacking Hemat ke Aussie, like Marina when she went to Europe with 1000 Dollar, or like Andrei Budiman in Travellous. Kami selalu bermimpi tinggal di hostel dan bertemu dengan backpackers dari negara lain, mengunjungi banyak negara dengan budget seminimal mungkin, dengan ransel yang tersanding di bahu. Sedangkan Nenes adalah tipe traveler sejati, dia hanya akan menginap di hotel yang nyaman dan bersih, bahkan kalau perlu menggunakan jasa biro perjalanan untuk mengatur acara selama di negara tujuan.

 
Three of us in one frame

Tiga kepala dengan selera berbeda, hasilnya? Ini adalah kutipan dari rencana kepergian kami:
"Nes, gw dan Sagi pengennya nginep di hostel" saya berusaha menjelaskan tipe petualangan saya dan Sagi kepada Nenes.
"Oh, ngga apa-apa kok di hostel juga"
"Lo tau ngga hostel itu kaya gimana" tanya Sagi
"Mmmhhh.....engga...."
"Hostel itu beda dengan hotel sayang...dalam satu kamar itu ada beberapa ranjang, dan kemungkinan kita akan satu kamar dengan orang lain" saya berusaha menjelaskan sehati-hati mungkin
"HAH"
"Yup" jawab saya dan Sagi berbarengan
"Justru itu fun-nya Nes, kita jadi bisa ketemu dan kenal dengan backpackers dari negara lain, bisa ngobrol dan tukeran informasi. Seru kan" Sagi berusaha meyakinkan Nenes
"Iiiihhh....itu kan ngga aman" Nenes mulai stress membayangkan kami tinggal di hostel.
"Ngga kok, aman, lagian harganya juga lebih murah" bela saya
"Hiiiiyyyy...ngga deeehhh....udaaahhh kita di hotel aja ya. Gw yang cari deh hotel yang murah" jawab Nenes dengan mutlak.

Saya dan Sagi pun nyerah, tidak memaksakan kehendak kami. Masalahnya, diantara kami bertiga hanya Nenes yang pernah pergi ke luar negeri, saya dan Sagi masih "buta" sama sekali (yaaa...kan baru bisa punya uang dari hasil keringat sendirinya sekarang. Jaman kuliah dulu mana sanggup ke LN pake uang saku dari orang tua), akhirnya kami memutuskan untuk ikut keputusan Nenes dan belajar sebanyak mungkin dari perjalanan pertama ini. Saya dan Sagi pun mengucapkan janji: traveling selanjutnya murni backpacker, dan kami akan tidur di hostel. Titik.

Somewhere out there

Akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat ke Singapura tanggal 20-22 Februari. Berangkat dari Jakarta dengan penerbangan pagi 07.20 dan sampai Singapura jam 10.00. Sisa waktu yang tersedia untuk hari pertama cukup banyak dan kami bisa berkeliling di Singapura. Untuk pulang kami memilih penerbangan sore jam 16.00 sehingga kami masih memiliki banyak waktu untuk mengeksplor negara ini di hari terakhir. Pemesanan tiket dilakukan bulan Agustus, dan kami baru menyusun itinerary 3 minggu sebelum keberangkatan. Inilah yang terjadi:

....Google map engine...
Alamat hotel: Lorong 6 Geylang
"Gila...jauhh banget hotelnya dari pusat kota"
"Dari stasiun MRT juga jauh"
hhhmmm...suram

...Kok gitu sih?...
"Hari ketiga kita kesini kesini dan kesini ya" Sagi.
"Ngga mungkin deh, pesawat kita kan jam2, dan minimal 2jam sebelumnya kita musti udah ada di bandara, jadi jam 12 siang kita musti berangkat ke Changi" Nenes.
"WHAT??? Pesawat kita kan jam 4" saya dan Sagi kompak.
"Gw di telp sama maskapainya, penerbangan buat jam segitu ngga ada, jadi pilihannya mau dimajuin ke jam 2 atau mundur ke jam10 malem, ya gw pilih jam2 lah, kan besoknya kita kerja" jawab Nenes.
"YAAHH...kenapa ngga pilih ke jam 10 malem? Kita kan bisa jalan-jalan di Singapura lebih lama lagi" Sagi.
"Adududuhh...ngga bisa, kan besoknya kita kerja" Nenes.
"Gw sih udah ambil cuti 2hari, jadi pulang dari travel gw masih punya waktu buat istirahat, malah Sagi ambil cuti 4hari" kata saya.
"Yah, kan gw anak baru di tempat kerja yang sekarang, jadi ngga enak klo gw kebanyakan bolos" Nenes.
Hhhhmmmm....yang memesan tiket dan hotel adalah Nenes, otomatis semua info mengenai perjalanan akan disampaikan ke dia. Yang saya dan Sagi sesalkan adalah Nenes tidak mengkonfirmasi berita tersebut kepada kami sebelum mengambil keputusan. 

Planning itinerary with cup of coffee

Sungguh, perjalanan kemarin membutuhkan kesabaran ekstra. Dari awal perencanaan dan pembuatan itinerary saja sudah banyak perbedaan dan konflik yang muncul, belum lagi selama perjalanan. Tapi taruhannya adalah persahabatan diantara kami bertiga, daripada persahabatan hancur lebih baik saya bersabar lebih banyak.

 
and finally we hit the road

Selasa, 12 Januari 2010

Kampus Sejuta Kenangan

Ada satu tempat yang paling saya hindari di dunia ini dan sudah hampir 2 tahun lamanya saya tidak menjejakkan kaki kesana. Tempat itu adalah kampus saya sendiri, sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota Bogor yang terletak jauh dari keramaian pusat kota. Dan minggu kemarin, akhirnya saya harus kembali ke tempat itu untuk menghadiri pernikahan seorang teman kuliah.

Kenapa saya takut kembali ke tempat ini? Karena disana tersimpan jutaan kenangan masa kuliah. Lalu, apa salahnya dengan kenangan masa kuliah? Bukankah menyenangkan untuk menyelami memori masa kuliah dengan teman seperjuangan? Karena selama empat tahun saya berkuliah disana, memori itu merekam perjalanan hidup kami berdua.

Saya berkenalan dengan dia saat semester 2. Perkenalan yang singkat namun berkesan, dalam waktu 3 bulan kami jadian. Saya tumbuh dewasa bersama dia, melewati berbagai tekanan dan keceriaan masa kuliah. Setiap jengkal di kampus itu merekam kenangan kami berdua; tempat jadian, tempat makan favorit, tempat rental komputer dan internet langganan, gymnasium tempat saya menyemangati dia saat bertanding futsal, kost-kostan yang ditinggali selama tiga tahun, dan masih banyak hal lain.

Empat tahun kami berdua bertahan menghadapi semua cobaan yang menghantam hubungan ini. Dan saat itu pun tiba, saat dimana kami berdua harus menyusun skripsi, sidang, lulus kuliah, wisuda, untuk kemudian menghadapi dunia yang sebenarnya. Saya selalu pesimis membayangkan hal ini, dan dia selalu menguatkan saya. Saya tidak pernah percaya dengan long distance relationship, saya tidak cukup kuat untuk itu. Ketika dia mulai memasuki dunia kerja, sementara saya masih bingung menentukan pilihan untuk bekerja dimana, ego ini semakin menjadi. Saya meminta perhatian lebih, yang tentu saja tidak dapat dia berikan, saya terus uring-uringan, sering ngambek, aaahh anak kecil sekali sikap saya waktu itu. Sering saya mengucapkan kata putus, tapi dia selalu mencoba mempertahankan hubungan kami. Sampai pada suatu hari, kata putus saya di-amin-i olehnya.

Saya tak pernah menyangka, ternyata hubungan kami bisa kandas juga. Tapi inilah hidup, tidak ada satu orang pun yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di depan sana. Saat itu hidup saya kacau, saya benar-benar merasa kehilangan dia. You dont know what your missing until you lose it. Tak habis-habisnya saya mengutuki kebodohan diri ini.

Hidup terus berjalan, saya juga tahu, saya harus maju dan melupakan dia, dan saya berhasil. Saya bisa tertawa kembali, menghargai dan mencintai diri sendiri, tidak lagi menyalahkan diri ini atas apa yang telah terjadi di masa lampau. Tapi saya yakin, saya tidak mungkin kembali ke kampus. Terlalu banyak kenangan disana, daripada luka ini terbuka kembali, lebih baik saya menghindari tempat itu.

Ternyata jalan hidup saya hanya berputar, dan saya kembali ke kampus, ke tempat dengan sejuta kenangan itu. Tidak banyak yang berubah, hanya diri ini yang berubah mengikuti alur waktu. Tempat itu masih sama, sejuta kenangan itu juga masih tersimpan disana, tidak akan lapuk dimakan waktu. Tetapi saya memandang semua tempat itu dengan sebuah senyum, bukan titik air mata. Saya tersenyum mengingat masa kuliah, kenaifan masa remaja, saya bisa tersenyum menghadapi semua kenangan tentang kami berdua. Tempat itu mungkin tidak akan berubah, tapi perasaan ini yang tidak sama lagi. Saya benar-benar telah merelakan kamu. Saya bahagia untuk kamu.

Saya juga lebih tegar menghadapi pertanyaan teman-teman kuliah di acara pernikahan tersebut. Pertanyaan sama yang sudah saya berikan jawabannya dari 2 tahun yang lalu kepada mereka. Saya tidak menyalahkan mereka yang menanyakan kelanjutan hubungan kami berdua, mungkin mereka juga terbawa suasana masa kuliah dahulu.

Sepulangnya dari kampus, saya menjumpai beberapa mahasiswa dengan pakaian khas mereka: polo shirt, celana jeans, plus sneakers atau flat shoes. Tapi lihatlah saya sekarang: casual dress, clucth bag dan high heels.


Penampilan baru saya dan teman-teman kuliah

Kita hanya bisa berjalan mengiringi waktu yang terus maju. Dengan segala perubahan yang ada, saya yakin Tuhan memilihkan jalan yang terbaik untuk kami berdua.

Untuk kamu yang tidak mungkin membaca tulisan ini: Terimakasih untuk 4 tahun yang begitu berwarna.

Senin, 30 November 2009

Tentang blog

Hmmm.....klo diinget2 pertama kali saya nulis blog itu waktu Friendster lagi booming, dan akhirnya berhenti sama sekali setelah putus sama mantan pacar (ahahahaha....nga penting bgt). It's been a long 2 years and I haven't write anything about my whole life in my own blog. Mengenaskan krn sejak SMP saya suka banget cerita tentang hari2 saya di dalam buku diary (yeaaa....sekarang mah diary udah kaga jaman, makanya saya milih ngblog).

Untuk apa sih sekarang saya memutuskan untuk nulis lagi? Saya juga nga tau pasti, bahkan saya juga nga yakin mau nulis apa di blog ini. Hei...saya nga ikut2n ngblog krn akhir2 ini banyak penulis yg berhasil menerbitkan buku berdasarkan blog mrk, sebut aja Andrei Budiman dengan buku Travellous atau  Trinity dengan Naked Travelernya, hohoho...saya nga sehebat mrk dalam menulis (nyadar diri bgt ko.....). Well, saya cuma ingin menuliskan smua hal yang telah terjadi dalam hidup saya, supaya saya selalu mengingatnya, menjadikan pelajaran, atau mungkin menginspirasi orang lain (yang terakhir terlalu muluk deh kayanya).

Lalu...pertanyaan lain pun muncul. Saya harus menggunakan kata ganti 'saya' atau 'gw'? Post blog pertama saya di blogspot, Bittersweet of luv, definitely makes me laugh. Ahahaha...bukan saya banget (bahkan saya malu sampe pengen muntah baca postingan itu). Mau dihapus tapi rasanya sayang banget, itu kan curahan perasaan saya yang sebenarnya (wualaaahhh....jd pengen muntah beneran). Sedangkan blog pertama di Friendster, Just me nobody else,  menggunakan kata ganti 'gw', hmm...rasanya lebih bebas menggunakan kata ganti tersebut. Tapi saya ingat2 kembali, dulu waktu masih eksis sbg penyiar di radio kampus Agri FM, saya diharuskan menggunakan kata ganti 'saya' yang susahnya setengah mati (anak kampus umur 20 taun siaran dgn kata ganti 'saya' dan 'anda'?), tapi akhirnya saya berhasil dan merasa nyaman dengan kata ganti tersebut. Jadi, saya pun mencoba untuk menulis dengan kata ganti yg sama sekali berbeda dengan blog terdahulu (nga janji sampe kapan).


Hhmmm....untuk sekarang saya cuma ingin menulis dan berbagi. Jangan muntah baca blog saya ya ;) huehehehehehe......

Minggu, 29 November 2009

BitterSweet of Luv

Tuhan..... we've just met!!!! Couple hours ago. Dan rasanya saat ini dia masih ada disini, dekat dengan saya, bahkan hangat dirinya pun masih bisa dirasakan.


Aaaahhh...kalau sudah seperti ini rasanya serba salah. Rasa bahagia yang mematikan. Rasa bahagia yang berujung pada kepedihan. Rasa bersalah yang terus menyerang. Kenapa hubungan kami harus berjalan seperti ini? Hubungan tanpa kejelasan, tanpa ada akhir karena memang tidak pernah ada awalnya. Dulu, saya memang mengharapkan hubungan seperti ini, hubungan tanpa ikatan. Dan sekarang, ketika hubungan itu telah terjalin, kenapa ada sebuah perasaan yang mengganjal? Apakah saya akan cukup kuat untuk melepasnya suatu hari nanti? Apakah saya yakin tidak akan pernah melibatkan hati dalam permainan ini?


Baiklah, mungkin kalian menilai hati ini telah ikut bermain. Tapi itu hak saya bukan? Tidak ada seorang pun yang berhak melarang saya untuk benar2 menyayanginya, bahkan dirinya sekalipun. Tidak mengapa kalau dia tidak akan pernah merasakan apa yang saya rasakan sekarang, itu hak dia, saya pun tidak akan memaksa dan berusaha untuk membuatnya benar2 mencintai saya. Saya cukup bahagia dengan apa yang kami miliki sekarang.


Saya tidak mau (dan tidak berani) untuk memikirkan kelanjutan hubungan ini. Biarlah semua mengalir alami. Biar Tuhan yang menunjukkan jalanNya untuk kami.


Apapun itu...saya bahagia, pernah memiliki dan menjadi bagian dari hidupnya.