total ping

Tampilkan postingan dengan label I Love It. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Love It. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Dari Satu Jadi Banyak

Senangnya, di Stockholm ternyata ada seorang blogger asal Indonesia juga. Dia adalah Damar, pemilik blog lupaDiri. Ketemu blognya lumayan dadakan, sebulan sebelum berangkat pas saya googling info tentang Stockholm. Dari email-emailan akhirnya ketemuan pas mampir ke Stockholm kemarin. Gaya beneeerr.. Kopdarannya di luar negeri :p

Hari pertama nyampe Eropa, setelah landing dan check in hostel, langsung diajak jalan. Kebetulan lagi ada festival A Taste Of Stockholm. Semua jenis makanan, baik dari Swedia maupun Asia ada disini. Tapi bukan makanannya yang penting, semua penduduk Stockholm tumplek blek di Kungstragarden yang jadi venue acara. Kolam yang biasanya diisi air dikeringkan dan sekarang penuh dengan orang yang makan dan minum-minum sambil menikmati matahari yang bersinar hangat. Yeah, saya yang baru sampai di Eropa sampai takjub. Beginilah kelakuan masyarakat Stockholm kalau ketemu matahari.

Beberapa teman Damar sudah berkumpul di Kungstragarden. Surprisingly semuanya orang Indonesia. Horeee... nambah lagi temen dari Indonesia selama di Stockholm. Rasanya seneeng banget pas ketemu temen 'sekampung' di negara orang. As usual, orang Indonesia selalu lekat dengan keramah-tamahan mereka, apalagi kalau ketemu orang sekampung, pasti bawaannya pengen bantuin aja. Dan akhirnya, mereka nemenin saya di sisa sore itu ke beberapa tempat di sekitar Kungstragarden, sekaligus nawarin saya ngerasain Lakris, permen panjang khas Swedia.

Berawal dari Kungstragarden :)

Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya juga diajak barbeque bareng pas hari minggu. Too bad, saya di Stockholm cuma sampai hari Sabtu dan Minggu sudah ada di Gothenburg, kota terbesar kedua di Swedia setelah Stockholm. Dan inilah hebatnya dari rasa kekeluargaan penduduk Indonesia di negara orang, mereka ngundang saya dinner besok. Horeee... makan malam gratis di negara semahal Swedia? Siapa yang nolak. Alhamdulillah, Tuhan tau aja kalo dana saya selama di Eropa terbatas banget.

Apartemen Andri dan Gunar letaknya lumayan jauh dari Stockholm. Kalau kata Damar sih ini termasuk Stockholm coret karena letaknya yang di ujung Stockholm. Saya sendiri nggak berharap banyak dari tempat tersebut karena cuman konsen dengan makan malam gratis (belum sempet makan layak dari tadi pagi). Ternyata Liljeholmen cantik banget. Daerah pemukiman yang halaman belakangnya adalah garis pantai dalam yang memisahkan Liljeholmen dengan pulau-pulau sekitarnya. Sebelum mulai dinner Andri dan Gunar ngajak saya jalan-jalan ke sekitar apartemen mereka. Saya cuma bisa ternganga dengan keindahan halaman belakang mereka dan iri abis-abisan. Pasti betah ngabisin setiap sore disana.

Pemukiman penduduk di Liljeholmen

Halaman belakang yang fotogenik untuk bernarsis ria

Berasa lagi trekking di hutan

Saya, Andri dan Gunar di halaman belakang apartemen mereka

Kalau udah beneran summer dan air nggak terlalu dingin, halal banget buat berenang disini

Pohon pembawa kapas halus. Bagi saya sih romantis, bagi penduduk annoying karena bikin kotor balkon apartemen.

Etiket untuk menghadiri undangan dinner di Stockholm adalah bawa bunga atau buah. Sebenernya Damar nggak terlalu ambil pusing musti bawa apa ke apartemen Andri dan Gunar, maklum dia udah sering banget main kesitu. Tapi saya nggak mau dateng dengan tangan kosong. Di Stockholm sendiri ada flea market yang buka dari senin - minggu, biasanya mereka jualan bunga dan buah. Yang seru, makin sore mereka makin banting harga supaya jualan mereka laris dan nggak perlu dibawa pulang lagi. Heboh banget deh, setiap kios berlomba-lomba pasang harga paling murah dan ber-'Hej-hej'-ria (sapaan khas Sweden) untuk menyambut pembeli yang datang. Kalau ditanya pilih bawa bunga atau buah, saya jelas pilih buah. Kenapa? Karena bunga nggak bisa saya makan, sedangkan stoberi segar yang saya dan Damar bawa langsung diolah jadi smoothies segar oleh Chef Gunar. Yum!

Fresh flowers

Fresh fruits

Tadaa.. Dari Stoberi berubah jadi smoothies

Makin sore angin Stockholm makin menggigit. Kita semua masuk lagi ke apartemen untuk mulai barbeque. Gunar yang bertugas masak, dia pernah jadi chef di salah satu hotel termewah di Stockholm. Asik, saya dimasakin sama chef. Rasa kangen dan kehilangan karena nggak bisa liat Chef Juna di MasterChef Indonesia bisa terobati deh (lho?). Setiap orang sibuk dengan bagiannya masing-masing; Gunar masak, Damar bakar daging, Andri menata piring dan meja. Saya? Bengong doangan karena seluruh tugas telah diambil alih. Yasudah, saya jadi seksi dokumentasi sajalah sambil main dengan Mii Chan, anggota keluarga nomor tiga di apartemen ini.

Mii Chan

Tiga cowok sibuk di dapur

Nongkrong di balkon apartemen Andri dan Gunar bareng Damar 

 
Ready for dinner?

 Aromanya enak!

Hungry hungry....

And here comes the dinner... Sepotong besar daging sapi, tiga potong daging kambing, salad, manisan mangga dan kentang. Mau nasi juga ada karena Andri tipe orang yang nggak bisa hidup tanpa nasi. Hiihh... piring saya penuh banget. Kenyang. Besok bisa skip sarapan nih (again, masih mikirin budget buat makan besok). Selesai makan mereka langsung kompak beresin meja dan cuci piring. Saya bengong lagi karena semua pekerjaan habis disikat. For the last, mereka nawarin kopi atau teh untuk menemani obrolan santai setelah makan. Tapi akhirnya semangkuk ice cream hadir di depan saya, melengkapi kebahagiaan hari itu. 

My plate :)

Pengalaman super menyenangkan di hari kedua saya di Eropa. Saya kira bakal seorang-diri-sebatang-kara di negara orang. Bisa ketemu temen sekampung yang baik banget rasanya udah berkah banget. Kenalan sama temen sekampung lain dan diundang dinner itu anugerah berlipat ganda. Seneng bisa tambah temen disini, bahagia punya kesempatan melihat bagian lain dari keramaian Stockholm, kenyang ditraktir makan di apartemen mereka. Dan mereka yang membuat saya mupeng untuk memperpanjang kunjungan di Stockholm. "Tiga hari doangan di Stockholm sih kurang", ujar mereka semakin memanas-manasi saya. I wish... Tapi jadwal saya selama dua minggu di Eropa cukup padat. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke tempat ini. Bersama-sama menikmati matahari sore yang hangat di pinggir taman sebelah garis batas laut dalam. 


Untuk semua malaikat-tak-bersayap saya selama di Stockholm. Terimakasih telah menyambut saya dengan keramahan khas Indonesia sehingga saya yakin, saya bisa bertahan di benua ini :)

Kamis, 17 Februari 2011

I Want

I want this for my birthday present:





A small, lightweight camera with the large imaging sensors found in DSLRs as well as interchangeable lens capability.



Does 'she' looked sooo gorgeous and stylish? Sony Nex 5 definitely become my 'dream camera'.


PS: My birthday is coming :)

Senin, 14 Februari 2011

Aku, Kamu, Kita, Kenangan



Kamu masih ingat video klip ini?
Video klip yang mengilhami cerita Ungu - Violet
Hanya saja yang ini lebih menyentuh
lebih sedih
lebih menyanyat hati
dan lebih menguras air mata
Padahal hanya berdurasi tidak lebih dari 8 menit.

Entah mendapat dorongan darimana sehingga aku mencari kembali video klip ini
Setelah empat tahun yang lalu saat pertama kali kita melihatnya bersama
Dan aku telah menghabiskan satu tahun pertama sejak perpisahan kita demi bisa merasakan perasaan itu kembali
Kemudian aku menyerah

Aku, Kamu, Kita, Kenangan
Aku terlalu takut untuk menyibak tirai kenangan tentang kita
Tidak ingin sedikitpun kenangan dari masa lalu kembali menyakiti hati
Mungkin lebih baik jika semua itu dihapus saja dari memori otak ini

Mengapa aku marah kepada kenangan?
Haruskah aku kecewa pada diri sendiri atau kepadamu?
Atau apakah lebih baik tidak ada 'kita' di masa lalu?

Ah, bukankah dengan menulis ini dan melihat kembali video klip tersebut berarti aku sedang menyusuri kenangan tentang kita
..........
and suddenly, I just missing about 'us'.

Rabu, 02 Februari 2011

'Melihat' Australia di Australia on Screen 2011

Penikmat film Jakarta akhirnya dapat dipuaskan dengan festival film pertama di awal tahun ini. Australia on Screen resmi digelar dari tanggal 26 - 28 Januari 2011 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Tujuh film Australia yang sukses 'wara-wiri' di berbagai penghargaan film bergengsi hadir dalam acara ini. Tidak hanya membawa film terbarunya Bran Nue Dae yang mendapat perhatian internasional sepanjang tahun 2010 kemarin, beberapa film yang rilis di akhir tahun '90-an dan awal tahun 2000 juga ikut diputar disini.


Australia on Screen digelar untuk menyambut Hari Nasional yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2011. Festival ini dibuka oleh artis sekaligus produser kenamaan Indonesia, Christine Hakim, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty. Pemilihan Christine Hakim juga merupakan bentuk apresiasi terhadap prestasi beliau yang berhasil menerima penghargaan Asia Pacific Screen Awards 2010 FIAPF Award for Outstanding Achievement in Film yang diselenggarakan di Australia akhir Desember lalu. 

Australia on Screen 2011 disponsori oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia bekerjasama dengan Australia International Cultural Council dan Screen Australia dengan dukungan Pemerintah Australia Barat. Dalam pemutaran film pembuka Australia on Screen, Bran Nue Dae, turut hadir Robyn Kershaw selaku produser dari film musikal tersebut dan Rocky McKenzie sebagai aktor penduduk asli Astralia. Rencananya mereka berdua akan ambil bagian dalam sejumlah lokakarya dengan pekerja film dan mahasiswa film Indonesia untuk merefleksikan budaya yang berbeda melalui media film.

Setelah Perancis secara khusus dan Eropa secara umum rutin menggelar festival film sebagai media pertukaran budaya nampaknya Australia juga mulai melirik cara ini untuk menggambarkan derajat ke-multikultural.  Dilihat dari bangku studio yang dipenuhi penonton rasanya masyarakat cukup antusias untuk melihat film karya sineas Australia sekaligus memperdalam khasanah budaya mereka tentang negara Kangguru ini. Untuk debutnya kali ini Australia on Screen terbilang sukses merebut hati penikmat film Jakarta dan berhasil memperkenalkan budaya multikultural mereka. Tujuh film yang diputar, Bran Nue Dae (2009), Jindabyne (2006), Radiance (1998), Lantana (2001), Mary and Max (2009), Looking for Alibrandi (2000), dan Ned Kelly (2003) semuanya berhasil membawa misi Australia on Screen 2011. 

Film andalan untuk Australia on Screen kali ini tentunya adalah Bran Nue Dae. Film musikal berlatar tahun 1960 ini bercerita tentang pelarian Willie (Rocky McKenzie) dari sekolah kepasturan. Dalam perjalanan pulang Willie bertemu dengan banyak orang yang membawanya ke berbagai petualangan. Pencarian jati diri Willie dalam perjalanan pulang kerumah ini disajikan dengan rentetan lagu dan koreografi yang membuat film terasa begitu segar dan menyenangkan untuk diikuti. 


Nue Dae trailer


Australia on Screen juga menyuguhkan film animasi untuk memperlihatkan keragaman perkembangan film yang telah berjalan. Mary and Max adalah adalah pilihan yang tidak main-main karena film ini telah berhasil menjadi film pembuka Sundance Film Festival tahun 2009. Lewat clay animation, sutradara Adam Elliot menyuguhkan hubungan surat-menyurat dua orang yang sama sekali berbeda diantara dua negara. Mary Dinkle berusia 8 tahun dan tinggal di pinggiran kota Melbourne. Dia kekurang kasih sayang dari kedua orangtuanya, tidak memiliki teman di lingkungannya, dan tidak terlalu percaya diri. Sedangkan Max Horovitz  berusia 44 tahun dan tinggal di kekacauan kota New York. Max menderita sindrom Asperger sehingga dia kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya. Kesepian, itulah kesamaan Mary dan Max yang membuat persahabat unik yang tersaji selama 92 menit ini mampu menjungkirbalikkan perasaan yang melihatnya.


Mary and Max trailer


Sebagai penutup Australia on Screen juga lagi-lagi tidak salah memilih film. Ned Kelly adalah film yang diangkat dari kisah nyata dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Australia itu sendiri. Sederet bintang sekelas Heath Ledger, Orlando Bloom, Goffrey Rush dan Naomi Watts memenuhi layar selama 110 menit. Andai semua film western yang khas dengan dunia gangster, sheriff, kuda, dan tanah tandus dapat tampil seciamik ini pasti Hollywood dapat mengeruk keuntungan super besar darinya. Sejarah dan film western, dua hal yang seringnya menghasilkan film super membosankan ternyata tidak berlaku untuk Ned Kelly. Siapa yang menyangka mempelajari sejarah dapat menjadi demikian menyenangkan dan aksi tembak-tembakan di atas kuda ternyata cukup menegangkan?


Ned Kelly trailer 


Sepertinya tiga hari dengan tujuh film Australia masih terasa kurang bagi penikmat film yang jarang melihat film Australia. Tidak banyak koreksi untuk event ini, hanya mungkin pelengkap English subtitle dapat tetap dimasukkan dalam film karena pada prakteknya lebih mudah untuk 'reading' daripada 'listening'. Semoga kedepannya Australia on Screen dapat menjadi event tahunan sehingga pertukaran budaya itu pun dapat terus terjadi. 

Senin, 03 Januari 2011

Movies In 2010

I’ve watched 140 movies in 2010

January
1. Sherlock Holmes
2. Alvin and The Chipmunks 2 (eh?)
3. Hari Untuk Amanda
4. Nine
5. Tooth Fairy
6. Rumah Dara
7. The Edge Of The Darkness

February
1. A Moment To Remember
2. My Girls and I
3. (500) Days Of Summer
4. He’s Just Not That Into You
5. From Paris With Love
6. Valentine’s Day
7. Percy Jackson and The Lighting Thief
8. Wolfman
9. Hachiko Monogatari (Japan version)

March
1. It’s Complicated
2. Green Zone (dan sukses tertidur di setengah filmnya)
3. Wall E
4. Re-watch National Treasure 1
5. National Treasure 2
6. The Hangover
7. Eragon
8. The Accidental Husband
9. Ghost Of Girlfriend Past
10. Re-watch Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe
11. Imaginarium Of Doctor Parnassus
12. Alice In The Wonderland
13. My Name Is Khan
14. Marley and Me

April
1. Hachiko (Hollywood version)
2. Bride Wars
3. Arisan
4. The Notebook
5. Before Sunset
6. Four Christmas
7. Re-Watch Golden Compass (Dakota Blue Richards was stunning)
8. How To Train Your Dragon
9. Clash Of The Titans
10. Duplex
11. Slumdog Millionaire
12. Ratatourie
13. The Lake House
14. Pirates Of The Carribean 2
15. When In Rome
16. Remember Me
17. Coyote Ugly
18. Bedtime Stories
19. Pirates Of The Carribean 3

May
1. UP
2. Inglorious Basterds
3. Yes Man
4. Brokeback Mountains
5. Fiksi
6. Alvin and The Chipmunks 1 (eh?)
7. I Saw The Sun (Turkish Film Festival)
8. Vicky Christina Barcelona
9. New In Town
10. The Reader
11. Paris Je t’aime
12. Inkheart
13. Julie and Julia
14. Princess and The Frog
15. Old Dog
16. The Hurt Locker (dan kembali tertidur di setengah film terakhir)
17. The Animal
18. Identitas (dan masih heran kenapa film ini menjadi film terbaik FFI 2009)
19. Shrek 3
20. Pintu Terlarang
21. I Love You Man
22. 3 Doa 3 Cinta
23. Rachel Getting Married
24. Last Change Harvey
25. Mereka Bilang, Saya Monyet

June
1. In Her Shoes
2. Bukan Cinta Biasa
3. Merah Itu Cinta
4. The Edge Of Love
5. How To Lose A Guy In 10 Days
6. Perempuan Punya Cerita
7. Sex and The City 2
8. Hidden Floor
9. I Hate Valentine’s Day
10. Everybody’s Fine
11. Penelope
12. Get Smart
13. Toy Story 3
14. Tanah Air Beta
15. Knight and Days

July
1. Eclipse
2. Despicable Me
3. Sorcerer’s Apprentice
4. Inception
5. The Dreamer

August
1. Avatar The Last Air Bender
2. Salt
3. Re-watch Inception (I Loooove Joseph Gordon Levitt)
4. Love Happens
5. Ocean’s 13
6. Re-watch 13 Going 30 (this movie has good story indeed)

September
1. Cin(t)a
2. Enchanted
3. 27 Dresses
4. Punk In Love
5. Coklat Stoberi
6. All About Steve
7. Dear Frankie
8. The Sixth Sense (one of greatest movie from Mr. Syahlaman I ever seen)
9. Re-watch The Devil Wears Prada (cant you resist Prada, Meryl Streep, and Anne Hathaway in one movie?)
10. 17 Again

October
1. Hello Murderer (Korean Movie Show)
2. Lovers Of 6 Years (Korean Movie Show)
3. 3 Idiots
4. The Blind Side (Bullock’s doing a great job here)
5. The Bounty Hunters
6. The Traveler’s Time Wife

November
1. Monsters (INAFFF)
2. The Girl Who Kick The Hornest Nest (INAFFF)
3. With Friends Like This (Europe On Screen)
4. The Secret Of Kells (Europe On Screen)
5. Mataharis (Europe On Screen)
6. Ruma Maida
7. Intelligent Plants (Science Film Festival)
8. Countdown On The Yantze (Science Film Festival)
9. The Blue Wonder: Raja Ampat (Science Film Festival
10. Unstoppable
11. Harry Potter and Deathly Hallows
12. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (JIFFest)
13. Minggu Pagi Di Victoria Park (JIFFest)
14. Sang Pencerah (JIFFest)
15. BelkiBolang (JIFFest)
16. Incendies (JIFFest)
17. Storm In My Heart (JIFFest)

December
1. Rapunzel
2. The Queen
3. Narnia The Voyage Of The Dawn Treader
4. Evan Almighty
5. I Am Legend
6. Little Miss Sunshine
7. Up In The Air

Umh, have you known that I'm a movie holic?

Marry me, please :)

Jumat, 10 Desember 2010

Got Tangled With Mom

Have watched Tangled (Rapunzel) 3D with mom :)

I'm gonna review the movie in different version. Please, enjoy it :)


Lovely Rapunzel... Kidnapped from her parents and arrested in a tower.

Rapunzel could climb tower's wall by her hair.

Or she use it to helped her painting on the wall.

But it's bothered her a bit when she's doing the housekeeping.

Let's meet Flint, he's a thief and Flint stole the tiara of missing princess (which is Rapunzel tiara).

Flint need to find a place to hide himself and the tiara. Voila, he found a tower over there.

Oops... Flint held captive by Rapunzel.

Rapunzel makes a bargain with Flint: Flint will guide her to see the light that continuously appear on her birthday and take her back to the tower, after that Rapunzel will return the tiara.

Aaahh... Those light comes from the lantern. The kingdom sends floating lanterns into the sky longing for their lost princess to return.

Rapunzel hasn't realizes that she is the lost princess.

And already 'like' Flint.

So...
Whether Rapunzel realize that she is the lost princess?
Will Rapunzel freed from the tower and reunited with her parents?
And how about Rapunzel and Flint love story?

Well, you better watched the movie.
I ran out of the picture to continue the story, besides I don't want to be spoiler here :)

Ah ya, I watched Tangled in 3D version with mom.
Just curious about her opinion and 'reaction' of 3D technology ;)
But she could handle her excitement so well.

In the end of movie, mom told me that she likes the story.
But I'm quite sure mom loves 3D technology better than the story.
Mom loves to see the pictures popping out from screen as if she could touch it with her hand.

'Umh, another 3D movies mom?'.

'Definitely!'.

Minggu, 05 Desember 2010

Euforia JIFFest Yang Memudar


Akhirnya pecinta film tanah air dapat bernapas lega karena 12th Jakarta International Film Festival (JIFFest) tetap dilaksanakan. Perhelatan JIFFest ke-12 ini memang terhadang masalah finansial, panitia kesulitan mengumpulkan dana dan sempat menggalang dana dari masyarakat lewat gerakan SaveJIFFest. Sempat terdengar isu jika dana yang terkumpul tetap tidak mencukupi maka pelaksanaan JIFFest akan diundur sampai tahun depan. Terimakasih untuk Nokia sebagai sponsor utama, paling tidak denyut nadi JIFFest dapat diselamatkan kali ini.

JIFFest digelar dari tanggal 25 November - 5 Desember 2010 dan memutar 91 film dari 33 negara. Venue acara dibagi dalam tiga tempat, Blitz Megaplex Pacific Place, Kineforum, dan Binus International University. Pendiri JIFFest, Shanty Harmayn dalam konfrensi pers Save Our JIFFest memang sempat menyatakan kemegahan JIFFest mungkin akan dikurangi sehubungan dengan minimnya dana. Jumlah film dan event memang dikurangi, tetapi kualitasnya tetap dipertahankan.

Film yang mendapat kehormatan untuk membuka layar JIFFest kali ini adalah Waiting For Superman, sebuah film dokumenter asal negeri Paman Sam yang memperlihatkan perjuangan anak-anak untuk mendapat pendidikan. Film ini dinilai cukup mewakili pelaksanaan JIFFest yang menghadapi ancaman serius akibat kurangnya dana. 'Meskipun selalu dihadang hambatan, kami percaya bahwa festival ini harus terus diadakan untuk membuat kota Jakarta menjadi kota yang nyaman dan penuh dengan keragaman budaya', ungkap co-director JIFFest Lalu Roisamri.

Beberapa film yang merajai Cannes 2010 turut diputar disini, diantaranya Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (Thailand) yang memenangkan Palme D'or, Biutiful (Spanyol/Meksiko) dimana Javier Berdem dinobatkan sebagai aktor terbaik, dan film dokumenter Armadillo (Denmark) yang meraih Critics Week Grand Prix. Film fantasi Scott Pilgrim vs The World diharapkan dapat mengulang kesuksesan (500) Days Of Summer yang diputar di JIFFest 2009.

Setiap tahun JIFFest menggelar Indonesian Feature Film Competition untuk memilih film Indonesia terbaik, sutradara terbaik dan film terfavorit. Adapun delapan film yang akan berkompetisi adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Benni Setiawan), Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar), Emak Ingin Naik Haji (Aditya Gumay), Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria), Rumah Dara (Mo Brothers), Sang Pemimpi (Riri Riza), Sang Pencerah (Hanung Bramantyo), dan Tanah Air Beta(Ari Sihasale).

Mengambil tema "And JIFFest For All", kali ini JIFFest terlihat begitu muram. Jika tahun lalu lagu Sweet Disposition yang dijadikan theme official trailer JIFFest ke-11 berhasil menghentak semangat penonton dalam euforia JIFFest, maka tahun ini official trailer JIFFest yang hanya ditemani ilustrasi musik terasa begitu suram dan sedih. JIFFest bahkan tidak memanfaatkan Twitter secara maksimal sebagai media promosi dan perbincangan dengan followersnya. Sangat disayangkan, apalagi jika mengingat INAFFF yang berhasil menciptakan euforia tersendiri sehingga followersnya begitu bersemangat untuk menyambut festival film fantasi ini.


Official Trailer JIFFest 2009


Official Trailer JIFFest 2010

Pelaksanaan JIFFest 2010 memang terlihat sangat terseok. Blitz Megaplex Pacific Place sebagai main venue hanya membuka dua layar saja untuk public screening dan studio yang digunakan pun tidak terlalu besar. Kineforum sebagai tempat alternatif pemutaran film hanya memiliki satu studio dengan kapasitas 45 kursi saja dan Binus International University hanya difungsikan untuk kegiatan workshop dan seminar. Semua tiket pemutaran film di Blitz dijual seharga Rp. 25. 000 dan cukup donasi Rp. 10.000 untuk screening di Kineforum. Khusus untuk film Indonesia yang masuk dalam Indonesian Feature Film Competition diputar secara free screening.

Saat pelaksanaannya, beberapa rundown acara terlihat berantakan. Contohnya saat pemutaran The Blue Mansion yang dihadiri oleh sutradaranya Glen Goei. Karena panitia yang kurang sigap, akhirnya penonton banyak yang meninggalkan studio sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Pintu studio seringkali belum dibuka walau beberapa menit lagi film segera dimulai. Setelah masuk dalam studio pun penonton masih harus menunggu film diputar dengan rangkaian iklan promosi dan official trailer JIFFest 2010, kemudian 'bleb' lampu menyala kembali karena panitia belum memberikan sambutannya, setelah itu lampu diredupkan kembali dan akhirnya film diputar. Minimal dibutuhkan waktu 15 menit untuk semua 'pernak-pernik' ini sebelum penonton dapat menikmati film yang diputar. Tentu pentonton tidak keberatan dengan semua itu asalkan film tetap diputar sesuai dengan jadwal yang tertera.

Kendala teknis juga terlihat saat pemutaran film. Premier Belkibolang harus mengalami musibah gambar macet di beberapa scene, bahkan saat pemutaran Sang Pencerah film mendadak terhenti dan lampu studio kembali dinyalakan. Lucunya, dua dari tiga film yang diputar dalam Indonesian Feature Film Competition tidak menyertakan subtitle dalam bahasa Inggris. Mengingat ini adalah festival film bertaraf internasional dan juri yang menilai pun bukanlah orang Indonesia, rasanya setiap film Indonesia yang diputar perlu menyertakan subtitle. Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab untuk insiden-insiden tersebut, rasanya kesalahan seperti ini harusnya sudah dapat diminimalisir. Terlebih jika mengingat JIFFest sudah memasuki tahun pelaksanaannya yang ke-12.

Walau JIFFest mulai mengalami kendala dana sejak tahun 2009 dan hanya membuka empat layar di Blitz Megaplex Grand Indonesia namun kemegahan dan semangatnya masih terasa. Tahun lalu semangat JIFFest terlihat jelas oleh antusiasme pengunjung untuk menonton sebanyak-banyaknya film berkualitas yang tidak mungkin diputar di bioskop lokal, apalagi tahun kemarin beberapa film dokumenter dan film dari Asia Tenggara ikut diputar secara free screening. Euforia bercampur semangat kompetisi begitu terasa di atmosfir Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Mungkin, daripada memilih Kineforum sebagai tempat alternatif pemutaran film, JIFFest bisa memilih beberapa kedutaan besar yang turut bekerja sama. Mereka pasti memiliki aula dengan kapasitas yang lebih besar sehingga pengunjung tidak perlu takut kehabisan tiket dan tidak sia-sia datang ke venue acara. Media promosi pun tidak perlu mengandalkan publisitas dengan biaya super mahal, twitter dapat menjadi sarana promosi yang tidak kalah hebatnya jika digunakan secara maksimal.

Publik pasti maklum jika pelaksanaan JIFFest kali ini diadakan dengan skala yang lebih kecil. Publik pun bersedia membeli tiket dengan harga normal dan mengerti jika pemutaran free screening tidak dapat diadakan sebanyak tahun sebelumnya. Hanya saja publik kecewa dengan ikut hilangnya semangat dan euforia yang selalu menyertai JIFFest. Bukankah JIFFest bisa terus ada karena publik yang selalu mendukungnya?

'Mari kita buat festival tahun ini menjadi festival yang paling berkesan!'
Ah, rasanya harapan co-directors JIFFest Lalu Roisamri ini sulit untuk diwujudkan. JIFFest kali ini terlalu tidak berkesan untuk menjadi yang paling berkesan.

So, see you in JIFFest 2011? Well, hopefully.

Rabu, 17 November 2010

INAFFF10 Minus Film Indonesia


Film dapat dilihat sebagai sebuah karya seni atau sebagai barang dagangan. Karya seni disini tentu bukan merupakan seni murni (fine art), tetapi lebih sebagai seni terapan atau seni modern sehingga masyarakat awam masih bisa menerima dan mencernanya. Di sisi lain, film hanya dipandang sebagai barang dagangan yang dibuat untuk menghasilkan keuntungan. Film tak lebih dari sebuah komoditas yang dibuat dengan pertimbangan untung rugi. Semakin banyak penonton film tersebut maka semakin besar keuntungan yang akan diraup.

Adalah mungkin untuk membuat sebuah film seni yang komersil, sayangnya kebanyakan produser film Indonesia lebih mengutamakan keuntungan dibanding cita rasa seni. Mereka membuat film dengan satu formula, khusus untuk film horor formula andalan yang digunakan adalah cerita horor yang ternyata lebih banyak mengumbar adegan syur, bintang utama wanita dengan baju kurang bahan, dan yang sedang intens dilakukan adalah memakai bintang film porno luar negeri. Semua ini tentu dilakukan untuk menarik sebanyak mungkin penonton yang berkorelasi positif dengan keuntungan yang dihasilkan.

Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) adalah festival film yang mengkhususkan diri pada genre fantasi seperti horor, thriller, science fiction, dan animasi. Indonesia patut bangga karena INAFFF menjadi festival film pertama bergenre fantasi di Asia Tenggara dan yang kedua di Asia setelah Puchon Film Festival di Korea. Indonesia juga patut bangga karena dua tahun berturut-turut INAFFF dibuka oleh film lokal buatan sineas dalam negeri; Takut (Fear) sebagai opening film INAFFF08 dan Macabre (Rumah Dara) membuka layar INAFFF di tahun 2009. Namun Indonesia harus berbesar hati karena tahun ini tidak satu pun film lokal berhasil masuk dalam layar INAFFF.

Rusli Eddy selaku Festival Director INAFFF menyatakan kesulitan mencari film horor lokal yang dapat diputar di INAFFF. Pilihan yang ada sekarang hanya berkisar di cerita kuntilanak merintih atau setan yang datang bulan. Produser Sheila Timothy juga menyayangkan kualitas film horor Indonesia saat ini, padahal kalau dibuat dengan serius film horor berkesempatan membawa Indonesia ke kancah perfilman internasional.

Mau tidak mau harus diakui, kualitas film horor Indonesia memang disetir kepentingan komersil pembuatnya. Tambahkan saja pemeran panas wanita dan baju kurang bahan, pasti masyarakat berbondong-bondong menonton. Selera masyarakat juga yang membuat film semacam ini terus eksis di setiap bioskop Indonesia. Produser menganggap ide cerita yang melenceng dari formula andalan yang telah dibuat akan mematikan penghasilan mereka selama ini.

Memang memprihatinkan melihat kondisi seperti ini dan INAFFF menolak untuk tinggal diam. Setelah berhasil membuat festival film bergenre fantasi dan membawa puluhan film dengan genre tersebut kepada movie buzz, maka INAFFF membuat sebuah terobosan baru untuk memajukan kualitas film fantasi Indonesia. Hampir senada dengan saudara dekatnya JIFFest, INAFFF sedang mempersiapkan ajang Kompetisi Film Pendek untuk genre fantasi (horor, thriller, sci-fi) di pertengahan 2011. 

Kompetisi ini membuka kesempatan bagi umum, baik yang bergelut di dunia film maupun yang belum pernah membuat film sekalipun, untuk menyerahkan sinopsis mereka. Akan dipilih 25 tim terbaik untuk mengikuti workshop selama tiga hari yang akan membekali para pemenang tentang pengetahuan dalam pembuatan film dan pemasarannya. Sepuluh film pendek terbaik akan ditayangkan di INAFFF11 dan akan dipilih satu film terbaik. 

Berita yang terakhir ini tentu akan membuat semua movie buzz menahan napasnya: film terbaik akan diproduseri oleh LifeLike Pictures dan disejajarkan dengan tiga sutradara: Joko Anwar (Pintu Terlarang), Gareth Evans (Merantau), dan Timo Tjahjanto (Rumah Dara). Omnibus 4 film pendek ini akan diputar di seluruh bioskop nasional dan diikutsertakan ke berbagai festival mancanegara.

Mengusung semangat ini, maka INAFFF memutar Monsters (UK, 2010) sebagai opening film. Film besutan Gareth Edwards ini merupakan low budget movie yang menuai banyak kritikan positif. Hanya dengan dana 15.000 USD (sekitar 130juta), Gareth berhasil menampilkan kondisi Meksiko yang terinfeksi makhluk asing, menangkap kemiskinan khas negara dunia ketiga, dan menyentil halus kondisi politik Amerika - Meksiko. Gareth hanya menggunakan satu kamera selama pembuatan Monsters, bergerilya selama enam pekan di Meksiko dan (lagi-lagi) hanya memakai dua pemeran utama saja. Seluruh special effect yang ditampilkan dalam film pun hanya diolah dalam laptop sang sutradara. 

Terbukti, film berkualitas tidak melulu memerlukan dana super besar dan kreativitas tidak perlu mati di tangan para produser dengan formula andalan mereka. Banyak ide brilian sineas muda namun harus terbentur masalah dana dan sponsor, produser menolak cerita mereka karena terlalu melenceng dari formula yang selama ini dipakai. Sekarang saatnya mendobrak paradigma ini. Dengan kreativitas dan kecintaan akan film bertema fantasi, sebuah film memukau dapat dihasilkan. 

Jadi, siap untuk berpartisipasi dalam Fantastic Indonesian Short Film Competition 2011 dan ikut memajukan kualitas film Indonesia?

Spesial thanks to INAFFF for opening and closing invitation :)
Does he looked familiar?

Kamis, 11 November 2010

Mencicipi Animasi Ala Eropa

Satu hal yang selalu saya lakukan sebelum menonton film dalam sebuah film festival: lihat trailernya di YouTube. Biasanya festival film hanya mencantumkan jadwal, venue, dan sinopsis film, minus trailer. Jangan hanya mengandalkan sinopsis yang menarik karena tak jarang cara penerjemahan cerita dalam bentuk audio-visual  membuat film tersebut tidak semenarik sinopsis ceritanya. Alur cerita, akting pemain, cara bertutur cerita, sampai ilustrasi musik dapat dilihat lewat sebuah trailer film.

Perlu diingat juga, sinopsis film yang tidak menarik bukan berarti film tersebut membosankan. Synopsis do the crime :) Tidak jarang sinopsis yang kurang menarik dan tidak dijagokan dalam festival film justru memiliki cara bertutur yang sangat cantik. Ada kepuasan tersendiri jika menemukan film seperti ini dalam sebuah festival film, saya tidak hanya berkesempatan menonton film berkualitas yang tidak mungkin diputar di bioskop Indonesia, jumlah peminat film ini juga lebih sedikit dibanding film andalan jadi tidak perlu takut kehabisan tiket.

Festival film tentunya membawa beragam film dari berbagai belahan dunia dan setiap film memiliki cara bertutur khas sesuai negaranya masing-masing. Bagi saya yang selalu dicekoki cara bertutur drama tiga babak khas Hollywood (perkenalan tokoh utama – klimaks – penyelesaian) tentu butuh usaha ekstra untuk mencerna pesan yang ingin disampaikan lewat film non-Hollywood. Disni trailer film berperan besar agar saya dapat mempersiapkan diri untuk mencerna film akan ditonton plus menghindari film ‘berat’ yang berimbas kepada migrain mendadak.

The Secret of Kells adalah salah satu film yang saya ‘temukan’ dengan bantuan trailer di YouTube. Sinopsis yang ditulis dalam buku program sama sekali tidak memancing rasa tertarik, belum lagi The Secret of Kells masuk dalam kategori animasi, ‘Aihh... Anak kecil sekali’ pikir saya. Film ini langsung keluar dari ‘daftar film wajib nonton’ yang saya buat. Namun setelah melihat ini:


The Secret of Kells berhasil mencuri hati saya dan segera menduduki peringkat 1 ‘daftar film wajib nonton’.

Bercerita tentang Brendan, seorang calon biarawan berusia 12 tahun. Brendan tinggal dengan pamannya Abbot Cellach yang sibuk membangun tembok pertahanan untuk melindungi biara Kells dari serangan bangsa viking. Sebagaimana anak seusianya, Brendan selalu tertarik dengan hal-hal baru dan penasaran dengan semua yang terjadi di luar tembok biara. Brendan lebih suka bermain dalam scriptorium (studio tempat menulis naskah) bersama para scriptoria (penulis naskah) dibanding membantu pamannya.

Suatu hari datang Brother Aidan membawa Books of Iona yang belum rampung ke Kells. Pulau Iona sudah musnah karena serangan bangsa viking dan Brother Aidan hanya membawa Books of Iona sebagai satu-satunya harta berharga dari pulau tersebut. Konon buku ini dapat menyelamatkan sebuah peradaban. Melihat rasa ingin tahu Brendan yang demikian besar, Brother Aidan menunjukkan Brendan keindahan seni dan mendorong Brendan untuk berani mengeksplorasi dunia di luar tembok pertahanan; sebuah hutan misterius dengan berbagai mahkluk gaibnya. Ditemani Pangur Ban kucing kesayangan Brother Aidan, Brendan menjelajahi hutan dan bertemu seorang peri hutan bernama Aisling.


Aisling: 'And this is my forest'. (I L.O.V.E the scene)


Aisling song yang mengubah Pangur Ban menjadi sesosok roh untuk dapat menyelamatkan Brendan.

Umh, ceritanya terlihat begitu simpel dan ringan. Tetapi saya tidak mendapat 'hubungan' antara serangan bangsa Viking, sebuah buku, dan arti menyelamatkan peradaban. Saya kira ketika Brendan berhasil menyelesaikan Book of Kells maka buku tersebut memiliki kekuatan untuk mengalahkan bangsa Viking sehingga biara Kells tetap aman terlindungi. Ergh, sangat terlihat bahwa saya terlalu banyak mengkonsumsi animasi Jepang dan Hollywood.

Setelah browsing ke beberapa tempat, saya makin kagum dengan animasi ini. Siapa sangka ternyata The Book of Kells dibuat berdasarkan sejarah Irlandia di abad ke sembilan. Pada masa itu kerajaan Romawi hancur dan memasuki masa kegelapan (dark ages) dimana tingkat kriminalitas meningkat, pemerintahan dan hukum berhenti, masyarakat buta huruf dan buta akan ilmu pengetahuan. Di masa kegelapan ini agama memiliki peranan penting, biara menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
The Secret of Kells memberi gambaran betapa masyarakat di era kegelapan lebih memilih untuk mempertahankan diri dari belitan ekonomi dan kejahatan. Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang mewah dan hanya dimiliki oleh segelintir orang. Inilah mengapa Abbot Cellach lebih memilih bekerja keras membangun tembok demi melindungi biara dan masyarakatnya. Books of Kells merupakan simbol ilmu pengetahuan dan Brendan terus berjuang menyelesaikan buku tersebut agar ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya dapat terus disebarkan ke semua orang. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang dapat menyelamatkan dan mengembangkan sebuah peradaban.

Tidak banyak yang tahu kalau The Secret of Kells berhasil masuk dalam nominasi Best Animated Feature Film Academy Award 2010. Apa yang membedakan The Secret Of Kells dengan animasi sejenis? Jika animasi Jepang memiliki kekhasan dengan tokoh kartun bermata besar dan animasi Hollywood menggambarkan tokoh laki-laki dengan sosok oh-so-superhero dan tokoh perempuan oh-so-supermodel, maka animasi Eropa tampil seperti lukisan yang dijadikan sebuah gambar bergerak. Setiap adegan dipenuhi ilustrasi menakjubkan yang berdiri sendiri-sendiri, walau demikian terdapat kesamaan makna sehingga tidak terjadi benturan antara gambar inti dan dekorasi ilustrasi.







The Secret of Kells tidak hanya memanjakan mata saat melihatnya; setiap ilustrasi rasanya dibuat dengan imajinasi bebas tanpa batas, namun The Secret of Kells juga membawa pesan pentingnya ilmu pengetahuan tanpa terasa menggurui. Seperti kata Aisling 'I have seen the book. The book that turned darkness into light'.

Referensi:
http://hanifah-azzahra.blogspot.com/2009/04/sejarah-desain-naskah-abad-pertengahan.html
http://www.flickmagazine.net/review/305-the-secret-of-kells.html

Jumat, 05 November 2010

Europe On Screen Opening Night

Memasuki tahun keempatnya, Festival Film Eropa atau lebih dikenal dengan Europe On Screen kembali hadir di Indonesia. Acara ini digelar dari tanggal 29 Oktober - 30 November 2010 di 7 kota besar Indonesia. Kali ini Europe On Screen berkolaborasi dengan sineas Indonesia dengan menayangkan 40 film dari 29 negara belahan Eropa berdampingan dengan 25 film pendek karya sineas dalam negeri.

Tema yang diangkat dari penyelenggaraan Europe On Screen tahun ini adalah Europe in Motion; Eropa yang bergerak. Tujuannya untuk menggambarkan kedinamisan dan keanekaragaman budaya Eropa dan untuk menunjukkan bahwa Eropa terus berupaya untuk bergerak maju di dalam batas-batas negaranya dan dalam menjalin hubungan dengan dunia yang lebih luas. Melalui media audio-visual, diharapkan masyarakat dapat memahami dan mempelajari kebudayaan Eropa. Film Indonesia yang turut diputar selama festival juga merupakan sebuah simbol pertukaran budaya Eropa - Indonesia. 'Kebudayaan secara umum dan film secara khusus adalah piranti penting untuk lebih mengapresiasi kekayaan dalam perbedaan dan untuk mendorong saling pemahaman', ungkap Christiaan Tanghe, duta besar Belgia untuk Indonesia.


Film yang diputar dalam Europe On Screen dapat dikotakkan dalam enam kelompok besar: Europe laugh untuk film komedi, family affairs mengeksplorasi makna dari sebuah keluarga, Europe on screen shorts menampilkan film pendek kolaborasi sineas Eropa dan Indonesia, life lessons berbagi cerita tentang pelajaran dari perjalanan hidup, paths of glory untuk menampilkan sejarah Eropa, dan youth section yang memperlihatkan imajinasi khas anak-anak. Semua film diputar dengan sistem free screening, tiket akan diberikan secara free 45 menit sebelum film digelar. 

Yogyakarta menjadi tuan rumah pertama dari pemutaran Europe On Screen. Di Jakarta,  festival film ini diputar dari tanggal 5 - 12 November 2010. Hampir semua festival film membuka opening dan closing film hanya untuk undangan (invitation only), begitu juga dengan Europe On Screen. Sampai akhirnya 7 jam sebelum malam pembukaan, panitia mengundang publik turut hadir untuk menonton bersama film pembuka. Dan disanalah saya, bermodalkan nekat dan kecintaan pada film yang demikian besar, ikut hadir untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Keputusan mendadak panitia mengundang publik menonton film pembuka membuat saya tidak sempat mempersiapkan apapun untuk menghadiri acara ini: batik lecek karena sudah dipakai seharian, dandanan berantakan karena sepulang kerja saya langsung pergi ke Erasmus Huis, dan sepatu datar yang warnanya mulai kusam. Ugh kalau bukan demi melihat film pembuka dan merasakan suasana malam pembukaan, mana mau saya hadir dengan penampilan seperti itu. Satu hal yang paling disesalkan adalah saya tidak membawa digital camera, jadilah saya hanya mengandalkan kamera HP dengan kapasitas 2MP-nya. Inilah maksud dari kalimat 'Hanya bermodalkan nekat dan cinta kepada film yang besar'.

Penampilan paling maksimal -____-'

Mendatangi Erasmus Huis yang menjadi tempat berlangsungnya acara seperti terlempar ke sebuah tempat yang tidak saya kenali. Penuh dengan manusia berperawakan tinggi-pucat-blond-mata-biru dan bahasa yang asing di telinga. Makanan ringan dan berbotol-botol minuman 'berwarna' dibagikan dengan royalnya.


Lucu juga melihat benturan budaya yang terjadi di malam pembukaan Europe On Screen: warga Eropa yang mengobrol santai dan masing-masing memegang gelas cantik berisi minuman berwarna kuning-keemasan atau ungu tua, warga Indonesia yang sudah menerima globalisasi juga mengobrol dengan rekan-rekannya ditemani minuman dengan gelas cantik plus rokok, nyaris kalap karena berprinsip 'Kapan lagi bisa minum banyak secara gratis', warga Indonesia labil yang malu-malu dan canggung mengambil gelas cantik berisi minuman tersebut dan menyesapnya sedikit-sedikit, dan warga Indonesia yang setia dengan gelas lurus berisi soda, sambil sesekali melihat isi gelas cantik dengan rasa penasaran 'Coba ngga ya... Coba ngga ya...'.


Saat registrasi peserta, panitia menunjukkan saya tempat pemutaran film: sebuah tenda di lapangan terbuka dengan proyektor dan layar putih, 'Berasa nonton layar tancep', bisik teman saya. Untuk yang memiliki undangan resmi silahkan langsung naik ke lantai 2. Saya sendiri tidak mempersalahkan lokasi pemutaran film, bisa menonton salah satu film dari Belgia saja saya sudah puas. Bonusnya, bisa berkenalan dan mengobrol dengan Esca, produser siaran pagi Trax FM (CMIIW, saya lupa-lupa-inget nama dia). Yay, selalu menyenangkan bisa mengobrol dengan orang-orang yang bekerja di dunia media, broadcasting terutama. Malam itu Esca bertugas menyampaikan live report pembukaan Europe On Screen dan berkesempatan mewawancarai Veronika Kusumayarti (film programmer Europe On Screen). 



Selesai wawancara, 

'Kalian ngga ke lantai 2?'.

'Huff...ngga punya undangan'.

'Emang darimana sih?'.

'Heee... ngga dari mana-mana. Dateng karena emang cinta film dan pengen 'melihat' Eropa aja'.

'Ohh.. kalo gitu pake undangan gue aja. Gue udah musti cabut ke FX, ada acara lagi disana'.



See.... selalu menyenangkan berkenalan dan mengobrol dengan orang baru. Walau akhirnya tiket tersebut tidak dipergunakan dan saya tetap setia menonton di tenda. Tidak kalah menyenangkan kok dengan menonton dalam ruangan.


Film pembuka yang diputar adalah Dagen Zonder Lief (With Friends Like These). Lewat film ini diperlihatkan bagaimana cara orang Belgia berinteraksi, bersama teman menemukan tempat mereka dalam hubungannya dengan orang lain, juga dengan diri sendiri. Tidak hanya bisa mengenal budaya Belgia, film ini juga mengajak penontonnya untuk melihat kota Belgia dan keindahan alam Perancis.

Selesai film, dibagikan goodie bag yang cukup berat oleh panitia. Isinya cukup membuat saya menjerit tertahan saat membukanya dalam perjalanan pulang: brosur promosi, program book for Europe On Screen, pin dengan bendera Indonesia dan Uni Eropa, majalah MAXX-M, Total Film, dan Cinemags. 




Bisa merasakan ambiance malam pembukaan Europe On Screen, meresapi bagaimana dua budaya yang berbeda disatukan dalam sebuah tempat, berkenalan dengan orang baru, 'melihat' Belgia lewat sebuah film, dapet bonus goodie bag. Ini semua melebihi harapan dan bayangan yang ada di kepala saat saya memutuskan untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Europe On Screen diputar di:
Yogyakarta: 29 - 30 Oktober
Bandung: 1 - 2 November
Jakarta: 5 - 12 November
Surabaya: 13 - 14 November
Denpasar: 20 - 21 November
Semarang: 24 - 25 November
Banda Aceh: 26 - 30 November

Info jadwal, lokasi acara dan review film bisa dilihat di www.europeonscreen.org

Notes: Nobar yu, email saya ya :)

Special thanks: Rimadhani Syafei yang menemani saya menghadiri acara ini, plus jadi juru foto dadakan juga.