total ping

Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

REVIEW: THE COVE




























"How much do you love dolphins?"

Siapa sih yang tidak suka dengan ikan lumba-lumba? Waktu kecil saya sering diajak ke tempat wisata di daerah Jakarta Utara untuk melihat atraksi lumba-lumba, seperti melihat sebuah sirkus! Disana saya juga pernah difoto oleh ayah saya ketika sedang mencium lumba-lumba, sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Saya yakin diantara para pembaca sekalian pasti ada yang memiliki pengalaman serupa. Akan tetapi dulu saya masih terlalu kecil, saya belum menyadari kalau binatang-binatang sirkus itu diperdaya demi uang. Sekarang saya malah merasa kasihan melihat binatang-binatang dalam sirkus, memang menghibur; apalagi untuk anak kecil, tapi saya tidak berani membayangkan betapa tertekannya mereka karena dipaksa melakukan atraksi yang sebetulnya tidak ingin mereka lakukan. Ternyata ada yang lebih mencengangkan lagi daripada itu, The Cove menguak sebuah pembantaian ikan lumba-lumba yang terjadi di Jepang! :""'(

















Film ini adalah sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Louie Psihoyos. Di awal film kita diperkenalkan kepada Richard O'Barry, seorang mantan pelatih lumba-lumba yang handal, ia juga dikenal karena pernah membintangi serial televisi terkenal tentang lumba-lumba berjudul Flipper pada tahun 1960-an. Ia bukan hanya membintangi film tersebut, tapi juga melatih lima ekor lumba-lumba yang bermain disana dan menampung mereka di danau dekat rumahnya. Ketika seekor dari lumba-lumba itu mati karena stress, Ric pun sadar kalau mengeksploitasi mereka bukan lah hal yang benar. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menjadi seorang aktivis pecinta lumba-lumba. Bertahun-tahun melatih lumba-lumba membuat Ric faham betul gerak-gerik mereka, bahkan sudah seperti ada ikatan batin antara dirinya dengan binatang tersebut. Ia yakin sekali kalau lumba-lumba adalah binatang dengan tingkat kepintaran yang luar biasa.

















Mendengar desas-desus tentang pembantaian lumba-lumba di Jepang, Ric dan para kru memutuskan untuk mencari kebenaran sekaligus menjadikannya sebuah film dokumenter. Daerah yang mereka tuju adalah Taiji. Memasuki kota Taiji seperti memasuki sebuah kota yang berkedok pecinta lumba-lumba. Kota tersebut dihiasi segala pernak-pernik lumba-lumba, mulai dari umbul-umbul, kapal, museum, dan yang lainnya, persis seperti kota wisata lumba-lumba. Akan tetapi ada satu daerah terlarang di pinggir pantai Taiji, sebuah teluk kecil yang sangat dijaga ketat. Sebuah tempat yang sangat mencurigakan. Disanalah Ric dan kawan-kawan akan menguak kebenarannya. Bermodalkan strategi yang matang dan alat-alat bantuan, mereka memulai pengintaian di sekitar teluk. Hal yang tidak mudah dilakukan karena nelayan setempat sangat menjaga dan menutup rapat rahasia besar itu.

















Kalau film dokumenter biasanya membosankan, berbeda dengan The Cove. Dari awal kita disuguhkan dulu informasi tentang lumba-lumba, lalu kita diajak mengikuti Ric dan para kru ke Taiji, kita juga seakan ikut merasakan bagaimana susahnya mereka mendapatkan informasi tentang pembantaian itu, sampai pada akhirnya kita diperlihatkan kekejian yang terjadi dibalik teluk kecil tersebut. Saya sendiri sampai tidak dapat berkata-kata melihat air laut yang tadinya biru menjadi merah karena bercampur darah puluhan lumba-lumba yang dibantai para nelayan setempat. Hal ini terjadi setiap hari! Setiap hari sekelompok lumba-lumba ditangkap dan dibantai, begitu seterusnya. Masyarakat Jepang di daerah lain pun tidak mengetahui tentang adanya pembantaian ini, pemerintah seperti menutup rapat tentang apa yang terjadi dibalik teluk di Taiji. Miris sekali menonton The Cove. Apalagi pada akhir film disajikan sebuah adegan yang betul-betul membuat klimaks film ini sangat tersampaikan. Perasaan saya campur aduk ketika menyaksikan adegan akhir itu; sedih, haru, bangga, dan puas. Selesai menonton film ini, hati anda akan tersentuh. The Cove adalah sebuah film dokumenter yang wajib ditonton. Fakta membuktikan kalau sejak akhir tahun 2009 lalu, sudah sekitar 23.000 ekor lumba-lumba yang dibantai dengan keji, lalu apa yang harus kita perbuat? ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹





Minggu, 13 Juni 2010

REVIEW: BROTHERS




























"I don't know who said 'only the dead have seen the end of war'. I have seen the end of war. The question is: can I live again?"

Melihat nama ketiga pemeran utamanya saja sepertinya sudah cukup untuk membuat sayatertarik menonton Brothers. Menyenangkan sekali karena bioskop Blitzmegaplex menayangkan film ini, meskipun lumayan terlambat. Better late than never. Brothers sebetulnya adalah sebuah remake dari film Denmark berjudul sama, Brødre (2004). Film tersebut lumayan sukses, sehingga sang sutradara Jim Sheridan tertarik untuk menggarap sebuah remake. Memboyong trio Jake Gyllenhaal, Natalie Portman, dan Tobey Maguire menurut saya adalah sebuah langkah cerdas yang dilakukan Jim. Ketiga nama tersebut bisa menjadi magnet yang menarik orang untuk menyaksikan film ini, terlebih film yang dibalut cerita drama bertema perang biasanya tidak terlalu menjadi favorit. Tadinya saya sedikit ragu dengan penampilan Tobey Maguire disini, mengingat perannya di film-film sebelum ini bisa dibilang biasa saja. Apalagi perannya disini sepertinya sangat menantang. Akan tetapi, selesai menonton film ini saya ternganga. Tobey Maguire sungguh bisa berakting! :)


Brothers bercerita tentang kehidupan seorang kapten marinir bernama Sam Cahill (Tobey Maguire) yang sering ditugaskan ke daerah konflik. Ia mempunyai sebuah keluarga yang bahagia dengan kehadiran seorang istri yang cantik dan amat dicintainya, Grace Cahill (Natalie Portman), serta dua orang anak perempuan yang lucu, Isabelle (Bailee Madison) dan Maggie Cahill (Taylor Geare). Sam juga mempunyai seorang adik lelaki semata wayang yang sering keluar masuk penjara, Tommy Cahill (Jake Gyllenhaal). Pada saat hari-hari terakhir ditugaskan ke Afganishtan, pesawat yang ditumpangi Sam mengalami kecelakaan dan ia langsung dikabarkan meninggal. Mendapat kabar duka tersebut, Grace, Tommy, dan anak-anak Sam sangat sedih dan merasa kehilangan. Dalam kesedihan, Tommy berusaha menghibur keluarga kecil tersebut. Namun ternyata anak-anak Sam sangat menyukai Tommy, mengingat sang ayah memang jarang bisa menemani mereka bermain karena lebih sibuk dengan tugas militernya. Lama kelamaan hubungan Grace dan Tommy menjadi semakin dekat, tumbuh perasaan cinta di hati masing-masing. Tidak disangka, Sam ternyata masih hidup! Segalanya menjadi kacau balau karena mental Sam memang masih sedikit terganggu karena trauma yang dialaminya di Afganistan dan tiba-tiba sekarang ia malah berada di situasi menyakitkan karena istri dan adik yang sangat disayanginya berselingkuh. Meskipun keadaan memang sangat rumit bagi mereka semua.


Akting Tobey Maguire patut diacungi dua jempol. Sepertinya Tobey mati-matian membangun karakternya dalam film ini, terlihat dari bentuk fisiknya yang lebih kurus dan pucat. Ekspresi yang ditampilkan juga terlihat sangat mantap, berbeda dengan Tobey yang kita ketahui biasanya. Tobey Maguire sudah menunjukkan taring disaat karir Hollywood-nya semakin redup. Semoga dengan ini karir Tobey tidak lantas tenggelam, karena ia sungguh bisa berakting dan bermain baik. Natalie Portman bermain seperti biasa, baik dan cantik tanpa cela. Begitu juga dengan Jake Gyllenhaal yang kian hari kian memantapkan langkah kakinya di jalur perfilman Hollywood. Beberapa tahun kedepan mungkin nama Jake akan bisa disejajarkan dengan para senior seperti Leonardo DiCaprio, mungkin saja. Brothers sendiri tidak mempunyai plot cerita yang terlalu istimewa, ceritanya sendiri sudah tertebak sejak awal. Akan tetapi emosi kita seakan diajak naik turun seperti rollercoaster ketika menyaksikan film ini. Ini merupakan film yang kelam, film kedua setelah The Road (2009) yang sukses membuat saya sedikit depresi usai menonton tahun ini. Saya sendiri sangat tersentuh dengan akting para pemainnya, apalagi pemain cilik dalam film ini. Hebat sekali mereka!