total ping

Tampilkan postingan dengan label ROMANCE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROMANCE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2011

REVIEW: SOMETHING BORROWED















































"I thought guy like you would never like girl like me."

Something Borrowed diangkat dari sebuah novel percintaan karya Emily Giffin dengan judul yang sama. Layaknya sebuah film romantic comedy yang ringan, Something Borrowed juga tidak bermodalkan script luar biasa ataupun twist yang rumit, melainkan hanya menjadi sebuah tontonan yang manis. Saya pribadi sangat menyukai film ini, saya rasa para wanita lainnya juga akan menikmati alur cerita yang disuguhkan. Simple story, predictable ending, but very sweet and touching at the same time! Kehadiran Kate Hudson dan John Krasinski dengan kualitas akting mereka yang jempolan dalam film ini juga sangat membantu menambah poin plus pada keseluruhan film. Saya yang belum pernah membaca novelnya malah jadi ingin segera beli! :)

Rachel (Ginnifer Goodwin), seorang wanita yang biasa-biasa saja. Saat kuliah di jurusan hukum ia bertemu dengan seorang pria tampan bernama Dex (Colin Egglesfield). Mereka akrab satu sama lain dan diam-diam Rachel memendam perasaannya terhadap Dex. Akibat tidak percaya diri, Rachel hanya bisa pasrah ketika Dex 'direbut' oleh sahabatnya yang cantik dan sexy, Darcy (Kate Hudson). Sampai pada saat Dex dan Darcy sudah akan mempersiapkan pernikahan, Rachel malah tidak sengaja mengungkapkan perasaannya kepada Dex. Tidak disangka, Dex juga merasakan hal yang sama. Namun, Rachel berada pada keputusan yang sulit, apa ia harus memilih untuk memperjuangkan pria yang dicintainya namun menyakiti sahabat terbaiknya atau mundur agar sahabatnya bahagia namun dirinya lah yang menderita?

Beruntung Rachel memiliki sahabat yang baik dan sangat perduli dengannya. Ethan (John Krasinski) selalu memberikan masukan dan motivasi kepada Rachel, ia berharap kalau Rachel dapat mendorong Dex untuk membuat pilihan secepatnya karena Ethan tidak suka melihat sahabatnya seperti dipermainkan perasaannya oleh Dex. Namun, situasi yang terjadi memang rumit. Apalagi Rachel dan Darcy sudah bersahabat sejak kecil, meskipun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang tapi mereka sudah jelas sayang satu sama lain. Sulit memang ketika harus memilih antara cinta atau persahabatan.

Something Borrowed ternyata berhasil menjadi sebuah film romcom yang jauh lebih baik dari bayangan saya. Setiap karakter yang ada dalam film ini dimainkan dengan pas sekali oleh para aktor dan aktris yang ada. Saya sangat menikmati menonton film ini. Menurut saya cerita yang disajikan terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit apabila kita membayangkan ada di posisi sang pemeran utama. Secara keseluruhan menurut saya film ini lumayan berhasil menyajikan sebuah tontonan yang mudah dicerna namun tidak menjadi sebuah tontonan 'sampah'. Sisi komedi dan romantis didalamnya tersaji dengan seimbang. Satu hal lagi yang penting, John Krasinski semakin membuktikan kalau ia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Two tumbs up untuk aktingnya dalam film ini! Ohh well, mungkin saya tidak akan mengingat film ini sampai jangka waktu yang lama, namun saya tidak perduli karena saya sangat terkesan ketika selesai menontonnya. I enjoyed it so much! :)











Selasa, 14 Juni 2011

REVIEW: BEASTLY
























"You have a year to make someone love you, or stay like this forever."

Beastly adalah sebuah cerita modern dari dongeng klasik 'Beauty and the Beast'. Sayangnya, kalau anda mengharapkan film ini seindah kartun versi Disney, anda akan kecewa. Sebetulnya ketika tahu bahwa kisah si cantik dan si buruk rupa ini akan dibuat versi live-action modern saya agak skeptis, satu hal yang tetap membuat saya penasaran ingin menonton film ini hanya Alex Pettyfer. Hehe.. Namun menurut saya para remaja mungkin masih akan terhibur dengan film ini, karena film ini termasuk ringan apalagi menyangkut cinta-cintaan remaja. Saya sendiri lumayan terhibur dengan adanya deretan soundtrack-nya yang memang bagus-bagus dan tentu saja lelucon Neil Patrick Harris, meskipun itu semua tidak terlalu membantu memberikan poin lebih pada keseluruhan film ini.

Kyle (Alex Pettyfer) adalah seorang pemuda yang tampan, kaya, dan populer, namun ia juga sombong dan banyak mengganggu anak-anak di sekolahnya. Ketika si penyihir, Kendra (Mary-Kate Olsen), merasa tersinggung dengan ejekan dari Kyle, ia akhirnnya menaruh mantra jahat pada Kyle yang membuatnya menjadi buruk rupa. Satu-satunya cara agak ketampanannya kembali seperti semula adalah menemukan cinta sejati dalam waktu satu tahun. Jika Kyle tidak dapat menemukan perempuan yang betul-betul menerima dan mencintainya apa adanya dalam kurun waktu tersebut, ia akan selamanya menjadi buruk rupa.

Ketika sang ayah tahu kalau wajah anaknya menjadi seperti itu dan malu kalau sampai diketahui orang lain akhirnya Kyle diasingkan ke sebuah rumah terpencil bersama seorang guru privat yang buta (Neil Patrick Harris) dan pembantu rumah tersebut (Lisa Gay Hamilton). Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan Lindy (Vanessa Hudgens), teman sekelasnya yang tidak populer. Lindy yang mempunyai masalah keluarga kemudian mulai menarik perhatian Kyle dan perlahan Kyle mulai jatuh cinta padanya. Lindy sebetulnya juga mempunyai perasaan khusus pada Kyle. namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Lindy mau menerima Kyle yang buruk rupa seperti sekarang?

Beastly sebetulnya memang dibuat Daniel Barnz sesuai dengan cerita dongengnya, lengkap dengan nuansa modern dan soundtrack anak muda yang 'in'. Namun entah kenapa script film ini sangat biasa. Alex Pettyfer sebagai salah satu aktor yang namanya sedang cemerlang di kancah Hollywood memang bermain lumayan baik dalam film ini, namun sayang tidak adanya chemistry dengan Vanessa Hudgens menjadi masalah utama film ini. Film bergenre romance ini memang semestinya menceritakan sebuah cerita cinta klasik adaptasi dongeng fantasi, namun apa yang dihasilkan Beastly terasa kurang romantis karena tidak adanya chemistry antara pasangan pemeran utamanya itu. Satu hal lagi, Alex Pettyfer didandani jelek seperti itu saja masih tetap terlihat keren tuh! Haha.. Kalau sekedar untuk menonton iseng karena tidak ada lagi film bagus di bioskop atau mau melihat Alex Pettyfer/Vanessa Hudgens di layar lebar yaa tidak masalah, tapi menurut saya nonton di DVD juga sudah cukup. :)






Rabu, 27 April 2011

REVIEW: EASY A
























"I had a horrible reputation."

Masih ingat dengan Mean Girls (2004)? Film remaja yang tergolong sukses itu dibintangi oleh Lindsay Lohan yang kala itu disebut-sebut sebagai 'the Hollywood rising star'. Mean Girls mengangkat tema di kalangan sekolah menengah atas dan segala permasalahannya, menurut saya film tersebut memang lucu, menghibur, dan yang paling penting 'jujur'. Kali ini Easy A hadir dengan menggandeng Emma Stone yang saat ini sedang naik daun dalam karirnya (Zombieland, Superbad, The House Bunny), mengambil tema yang hampir serupa dengan Mean Girls namun diceritakan dengan cara yang lebih agresif.

Emma Stone berperan sebagai Olive, seorang cewek 'biasa' di sekolahnya yang sama sekali tidak dilirik oleh lelaki, bahkan teman wanita pun sangat sedikit. Ia melakukan semua hal sendiri dan dibawah radar. Olive sudah pasti bukan cewek yang populer di sekolah, namun ia juga bukan the-biggest-loser disana. Ia hanya 'biasa'. Suatu hari, temannya Rhiannon (Alyson Michalka) mulai bertanya pada Olive tentang hubungan percintaannya dan tentu saja mengenai hubungan sex. Karena merasa terdesak, Olive berbohong dengan mengatakan kalau ia baru saja melakukan hubungan sex dengan seorang cowok kuliahan yang tampan. Sayang, Marianne (Amanda Bynes) tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan langsung menyebarkan gosip ke seantero sekolah. Sejak itu, Olive menjadi lumayan terkenal dan mulai dibicarakan orang.

Awalnya, Olive menyukai ketenaran yang mendadak itu, ia merasa senang karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal dirinya. Ia pun mulai merubah penampilannya menjadi lebih hot. Namun tidak disangka banyak teman pria di sekolahnya yang minta bantuan padanya untuk berpura-pura sudah berhubungan sex dengan mereka. Ada juga seorang gay yang ingin image-nya berubah dan akhirnya meminta bantuan Olive. Tentu saja semua tidak gratis, Olive meminta imbalan yang tidak muluk yaitu hanya sebuah gift card. Alhasil, banyak orang yang ingin meminta bantuan Olive secara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan keadaan semakin memanas dan Olive pun sudah mulai 'gerah' dengan hujatan teman-teman di sekolah tentang dirinya, bahkan Rhiannon pun mulai membencinya. Ia harus segera memutar otak dan berfikir bagaimana caranya agar keadaan kembali tenang seperti sedia kala.

Emma Stone terlihat sangat bersinar dalam film ini. Semua adegan yang diperankannya terlihat sangat total dan pas. Ia banyak menggunakan ekspresi-ekspresi pada wajahnya pada adegan komedi dan hal tersebut berhasil menghibur. Sepertinya Emma sangat paham bagaimana caranya membuat sebuah mimik yang tepat dengan perasaan dan pikirannya dalam film ini. Saya yakin sekali kalau Emma Stone akan menjadi aktris besar someday, asal ia tidak mengikuti jejak Lindsay Lohan. Hehe.. Apalagi Emma sebentar lagi akan bermain dalam film Spider-Man (2012) terbaru bersama Andrew Garfield dan berperan sebagai Gwen Stacy. Selain Emma, para pemeran pembantu seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Lisa Kudrow, dll juga semakin membuat film ini meriah dengan totalitas akting mereka masing-masing.

Keberhasilan Easy A sebagai sebuah film komedi bukan hanya dari sang pemeran utama saja melainkan dari script atau jalan cerita film ini sendiri. Dialog-dialog yang to-the-point dan agresif sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu sehingga sangat cocok dan terasa sangat modern ditonton oleh para remaja jaman sekarang. Saya pribadi merasa terhibur menonton film ini, jalan ceritanya terbilang unik, walau dengan dibumbui unsur sex namun tidak menjadi film esek-esek seperti film lokal kita. Silahkan hunting DVD-nya selagi film-film Hollywood sedang tidak masuk ke Indonesia. Lumayan untuk menghabiskan waktu di sore hari sambil ketawa-ketawa lihat si cantik Emma Stone. Para cewek jangan khawatir karena disini ada Penn Badgley (Gossip Girl) juga lho! :)






Sabtu, 09 April 2011

REVIEW: LOVE & OTHER DRUGS
























"You meet thousands of people and none of them really touch you. And then you meet one person and your life is changed forever."

Love & Other Drugs disutradarai oleh Edward Zwick. Salah satu film karya Zwick sebelumnya yang saya suka adalah Blood Diamond (2006), diperankan Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou. Selain itu, Zwick juga pernah menyutradai film The Last Samurai (2003) dan Defiance (2008). Sepertinya kali ini Edward Zwick putar haluan dan memilih untuk menggarap film bergenre komedi romantis. Menggandeng pasangan Hollywood yang sedap dipandang mata dan sedang naik daun, Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway. Pilihan yang tepat sekali menurut saya. Sewaktu pertama kali melihat promo film ini; poster dan trailer, saya langsung menyimpulkan dengan tiga kata: 'Hot. Hot. Hot.'!

Ya, Love & Other Drugs memang menyuguhkan banyak adegan seks, bahkan Anne Hathaway pun tampil nude beberapa kali dalam film ini. Saya sendiri sudah tidak heran dengan penampilan 'polos' Anne, karena sebelumnya memang ia sudah sering begitu. Tapi, trust my words girls; Jake Gylenhaal kelihatan ganteng banget disini! Beda! Adil sekali, para cowok bisa puas cuci mata melihat Anne Hathaway yang super sexy, cewek pun puas lihat si charming Jake Gylenhaal. Semua senang. Hehe.. Tapi dibalik semua unsur-unsur yang menonjolkan sisi vulgar, sebetulnya film ini memang bagus juga untuk ukuran sebuah romantic comedy. Tidak istimewa sih, tapi lumayan sebagai tontonan waktu luang. Sweet. Sexy.

Jamie Randall (Jake Gylenhaal) adalah seorang playboy yang baru saja pindah pekerjaan dari seorang sales di toko elektronik menjadi sales obat Viagra keluaran perusahaan farmasi besar, Pfizer. Bermodalkan ketampanan dan kharismanya tentu saja Jamie dengan mudah merayu para perawat di rumah sakit agar mengizinkannya menaruh sample obat. Ia bahkan berhasil membujuk Dr. Stan Knight (Hank Azaria) agar mau membantunya. Tidak disengaja pada saat menemani Dr. Knight praktek, Jamie bertemu dengan Maggie Murdock (Anne Hathaway). Maggie adalah gadis muda cantik yang menderita penyakit parkinson stage I. Jamie pun langsung suka pada Maggie dan mengejarnya mati-matian. Sebelumnya, menggaet wanita bukanlah hal sulit bagi Jamie, bahkan para wanita gampang saja diajaknya 'tidur'. Mendekati Maggie tidak mudah, namun dengan sedikit usaha akhirnya mereka pun berujung di 'ranjang'.

Awalnya hubungan Jamie dan Maggie murni hanya sebatas partner seks saja, mereka berdua pun telah menyepakati hal itu. Namun lambat laun perasaan mulai timbul di hati Jamie, ia yang selama ini tidak pernah perduli dengan siapapun merasa terlanjur perduli dengan Maggie, ia jatuh cinta pada gadis itu. Maggie yang tidak percaya diri karena penyakit parkinson yang dideritanya ketakutan ketika tahu kalau Jamie mulai jatuh cinta padanya, ia malah bertingkah aneh dan menjauh. Sebelumnya memang Maggie pernah punya pengalaman buruk dalam percintaan, jadi bisa dibilang ia takut untuk memulai lagi. Jamie tentu tidak putus asa, rasa yang sudah terlanjur ada dalam hatinya tidak mungkin ia hapus begitu saja. Ia pun berusaha mengambil hati Maggie dan menyakinkannya kalau ia menerima Maggie apa adanya, meski Maggie sakit sekalipun.

Kalau membaca sinopsisnya memang terkesan klise, tapi Love & Other Drugs beruntung punya Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway yang bermain lepas tanpa beban. Adegan-adegan intim dalam film ini pun mereka lewati dengan chemistry yang terjalin dengan sangat baik, tidak kaku sama sekali. Para pemeran lainnya seperti Hank Azaria, Josh Gad, Oliver Platt, dll juga bermain baik. Beberapa komedi yang diselipkan pada scenes kakak beradik Jamie dan Josh Randall juga sangat lucu dan membuat saya tertawa. Saya tidak membanggakan jalan ceritanya, menurut saya terlalu biasa. Tapi saya lumayan senang dengan penggarapan film ini yang menurut saya 'unik', menggabungkan sebuah sisi romantisme dengan erotisme tapi tanpa terkesan menjijikkan atau murahan. Hal ini berhubungan dengan poin yang tadi telah saya sebutkan, pemeran utama dalam film ini memang jempolan. Tidak ada salahnya menonton film ini sebagai hiburan semata, atau paling tidak cuci mata. :p






Senin, 04 April 2011

REVIEW: MORNING GLORY
























"Breakfast TV Just Got Interesting"

Roger Michell terkenal dengan salah satu karya komedi romantis terbaiknya pada tahun 1999 yang dibintangi Hugh Grant dan Julia Roberts, berjudul Notting Hill. Kali ini Morning Glory menggandeng nama-nama besar Hollywood seperti Harrison Ford, Diane Keaton, Rachel McAdams, Patrick Wilson, dan Jeff Goldblum. Tetap berada di jalur komedi romantis namun berlatarbelakang industri pertelevisian, bagi saya pribadi hal tersebut sangat menarik. Penulis film ini, Aline Brosh McKenna merupakan penulis skenario The Devil Wears Prada (2006) dan juga menulis cerita dalam film 27 Dresses (2008), jadi wajar kalau saya menaruh harapan lebih pada Morning Glory. Ternyata dugaan saya tepat, Morning Glory memang merupakan sebuah film yang menghibur dan berada pas pada jalurnya.

Setelah dipecat dari pekerjaannya sebagai produser acara berita pagi di New Jersey, Becky Fuller (Rachel McAdams) menjadi kebingungan tak tentu arah. Sejak kecil ia memang selalu bermimpi untuk bekerja di industri pertelevisian. Ia lalu mengirimkan banyak lamaran guna mendapatkan pekerjaan baru. Sayang, program yang didapatkannya bukanlah program acara impiannya, The Today Show. Bukan juga Good Morning America. Akan tetapi Daybreak, sebuah program acara pagi di stasiun TV IBS yang ratingnya sudah turun dan berada di rangking ke-4. Mau tidak mau ia pun menjadi produser acara tersebut, belum lagi tekanan dari atasannya (Jeff Goldblum) yang mengharuskan rating Daybreak naik, atau acara itu harus dihentikan.

Pembawa acara di Daybreak adalah Colleen Peck (Diane Keaton), seorang pembaca berita veteran dan berlagak seperti diva. Pasangan Colleen langsung dipecat oleh Becky pada hari pertamanya bekerja karena tingkahnya yang menyebalkan. Mau tidak mau Becky harus mencari pasangan baru bagi Colleen dan akhirnya ia menemukan Mike Pomeroy (Harrison Ford). Tidak gampang membuat Mike yang adalah seorang jurnalis senior bergabung kedalam acara berita pagi. Bagi Mike, acara pagi sama saja dengan acara infotainment yang tidak berbobot. Namun itulah tugas Becky, bagaimana cara agar ia bisa membuat seorang Mike Pomeroy mau menjadi pembaca berita di Daybreak dan juga bagaimana agar rating acara itu segera membaik.

Salah satu hal yang membuat Morning Glory lumayan menonjol adalah deretan para pemainnya yang jempolan. Rachel McAdams bermain sangat baik dalam film ini, ia terlihat bersemangat, pekerja keras, dan juga memikat dalam waktu bersamaan. Aktor dan aktris senior, Harrison Ford dan Diane Keaton tentu saja bermain sempurna sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Terlebih Harrison Ford yang mampu mengubah emosi dan karakteristik dari Mike Pomeroy dengan sangat pelan tapi pasti. Kalau saya boleh jujur, sebetulnya kisah cinta dalam film ini malah tidak terlalu menarik. Chemistry antara Rachel McAdams dan Patrick Wilson rasanya kurang terjalin dengan baik. Saya lebih menganggap kalau ini film komedi saja, memang tetap ada unsur romantis didalamnya, tapi tidak terlalu signifikan.

Untungnya ditangan Roger Michell dan Aline Brosh McKenna, Morning Glory tidak lantas menjadi film 'rom-com murahan'. Film ini memang sama sekali tidak menyajikan banyak hal baru, standar saja seperti film dengan genre sejenis, tetapi paling tidak perjalanan anda dalam menyaksikan film ini akan menyenangkan. Ada salah satu bagian dalam film ini yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Bahkan sewaktu menulis review ini saya jadi ingin tertawa lagi. Secara keseluruhan menurut saya Morning Glory adalah sebuah film yang optimis. Melihat karakter Becky Fuller yang ceria, semangat tinggi, dan pantang menyerah tentu secara otomatis juga memompa semangat orang yang sedang menonton. Happy watching guys! :)






Selasa, 22 Maret 2011

REVIEW: BLUE VALENTINE
























"Tell me how I should be? Just tell me."

Poster film ini terlihat begitu romantis, apalagi ketika membaca tagline yang bertuliskan 'A LOVE STORY'. Namun percayalah, ini bukan kisah cinta romantis yang penonton harapkan. Film ini depresif, sebuah potret kisah pernikahan yang di visualisasikan dengan gamblang dan jujur. Mungkin lebih tepat kalau saya mengatakan kisah cinta di Blue Valentine, tragis. Menonton film ini membuat emosi campur aduk. Beberapa scene membuat saya tersenyum sangking manisnya, tetapi lebih banyak lagi scene yang membuat saya galau sangking dituturkan dengan jujur. Banyak yang menganggap film ini memiliki unsur provokatif, saya sedikit setuju, karena setelah saya menonton pun jadi bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hal-hal yang menjadi pertanyaan dalam film ini. Tentang kehidupan pernikahan dan segala drama didalamnya.

Film dibuka dengan keadaan pasangan ini sekarang. Dean (Ryan Gosling) terlihat akrab dengan anak perempuannya, Frankie (Faith Wladyka). Ia termasuk seorang ayah yang baik. Namun keretakan rumah tangga mereka mulai terlihat ketika penonton diperlihatkan bagaimana Dean dan istrinya Cindy (Michelle Williams) bertingkah satu sama lain. Penonton lalu dibawa pada saat kurang lebih lima sampai enam tahun yang lalu, dimana Dean dan Cindy baru mengenal satu sama lain. Film lalu berlanjut terus seperti ini, memperlihatkan awal dan akhir pernikahan mereka. Manis – Pahit. Manis – Pahit. Begitu seterusnya.

Pada awal perkenalan mereka, kita diperlihatkan Dean dan Cindy yang sebenarnya, sebelum stress dan kelelahan dalam perkawinan mereka. Dean adalah seorang pemuda yang ceria dan optimis, ia juga pandai bernyanyi dan main musik. Namun Dean lebih memilih untuk bekerja sebagai kuli panggul sebuah jasa pemindahan barang. Cindy, pada saat itu baru saja putus dari kekasihnya Bobby (Mike Vogel) dan sedang sekolah tentang obat-obatan. Ia juga memiliki trauma tentang sebuah hubungan percintaan dikarenakan rumah tangga kedua orangtuanya yang berantakan. Ketidaksengajaan mempertemukan Dean dan Cindy, sampai akhirnya Dean memutuskan untuk mengenal Cindy lebih jauh.

Sutradara film ini, Derek Cianfrance, pintar sekali menyelipkan adegan-adegan flashback yang semakin mempermainkan emosi penonton. Di satu sisi kita diperlihatkan indahnya hubungan awal mereka, namun di sisi lain kita dibuat bergumam sendiri bahwa pernikahan mereka sudah tidak ada harapan lagi. Menjelang akhir film, saya dibuat meringis karena ending yang tidak klise dan jujur pada kenyataan yang ada. Blue Valentine memiliki lumayan banyak adegan seksual yang vulgar, sehingga pada awalnya memang terjadi kontroversi dimana MPAA memberikan rating NC-17 pada film ini. Menurut saya adegan seksual disini tidak eksploitatif, adegan tersebut bukan menjadi menu utama dalam film ini, hanya bumbu pelengkap yang memang penting untuk berada pada tempatnya.

Meski dengan budget minim, Blue Valentine merupakan sebuah film yang berhasil memikat hati penonton (well, at least hati saya). Walaupun pada kenyataannya banyak orang yang lebih suka menonton kisah happy ending, Blue Valentine mampu menyuguhkan sebuah kisah yang benar-benar 'manusia' tanpa ada sentuhan yang dibuat-buat. Akting jempolan dari Ryan Gosling dan Michelle Williams tentu juga menjadi esensi penting dalam film ini. Apalagi mereka sampai menaikkan dan menurunkan berat badan demi kilas balik karakter yang mereka perankan. Soundtrack yang ada dalam film ini juga terasa sangat pas. Salah satu hal yang saya tarik dari film ini adalah dongeng manis yang biasanya kita baca tidak selalu sama dengan kenyataan. Hidup lebih pahit. Lebih berliku. Apa yang kita kira berjalan dengan baik, belum tentu akan seterusnya begitu. Manusia bisa berubah. Perasaan bisa berubah. Itu kehidupan.






Rabu, 02 Maret 2011

REVIEW: THE LITTLE COMEDIAN / บ้านฉัน..ตลกไว้ก่อน (พ่อสอนไว้)
























"Will you love me, if I am not funny?"

Setelah film-film 'besar' Hollywood memutuskan untuk menarik diri dari Indonesia, mau tidak mau saya pun ikut pusing. Karena saya banyak menghabiskan waktu di bioskop, seminggu bisa dua sampai tiga kali saya nonton. Kalau keadaan seperti ini terus, bagaimana nasib hobi saya itu? Saya sih ogah kalau harus nonton film 'jenglot' 'pocong' 'genderuwo' plus cewek-cewek berbikini buatan dalam negri. Kalau film lokal yang bagus, tentunya saya nonton, tapi tahu sendiri khan bagaimana perbandingan kualitas film bagus dan film 'ngasal' buatan Indonesia? Beruntung bioskop Blitzmegaplex masih menyajikan film-film independent, ada juga film Bollywood, dan tentu saja film Thailand tidak ketinggalan. :)

The Little Comedian bercerita tentang Tock, bocah berusia 13 tahun yang hidup dengan penuh tekanan dalam dirinya. Ia terlahir di keluarga yang sudah turun temurun merupakan para pelawak, mulai dari sang kakek sampai ayahnya yang mempunyai grup lawak Pa-Plern. Sejak kecil sang ayah sudah sangat yakin kalau Tock akan menuruni bakatnya melawak dan menjadi seorang pelawak terkenal. Akan tetapi, pada show perdana Tock ketika ia masih kecil, Tock malah tidak berhasil membuat penonton tertawa sedikitpun. Tock tidak lucu. Sejak saat itu sang ayah tidak pernah lagi mengajaknya ikut naik ke atas pentas bersama Pa-Plern. Sampai pada saat Tock remaja, ia diajak sekali lagi naik keatas pentas, namun lagi-lagi penonton tidak ada yang tertawa, malah adik Tock, Salmon, membuat penonton tertawa terbahak-bahak!

Tock diam-diam menyimpan perasaan tertekan itu dalam hatinya, ia takut kalau ia tidak mempunyai bakat melawak, ayahnya tidak akan sayang padanya. Namun suatu saat ia mendapatkan keasikan baru ketika membuntuti temannya ke tempat dokter kulit dan saat itu juga ia langsung terpesona pada kecantikan Dokter Ice. Ia pun menggunakan berbagai cara agar wajahnya ditumbuhi jerawat. Ketika jerawat yang diharapkannya muncul, ia langsung pergi berobat kepada Dokter Ice. Tidak disangka dokter cantik itu menyukai lelucon-lelucon Tock dan mengatakan kalau ia lucu. Sedangkan selama ini tidak ada seorang pun yang pernah bilang kalau dirinya lucu! Ia langsung merasa kalau dirinya jatuh cinta dengan wanita yang lebih tua 12 tahun darinya itu. Tock pun mencari cara untuk menarik perhatian Dokter Ice.

Awalnya saya hanya terpaksa saja menonton film ini, karena sedang iseng dan tidak tahu harus menonton film apa. Ternyata filmnya menghibur dan bagus. Yaa..tidak sampai luar biasa bagus, tapi lumayan bisa dinikmati. Film ini lebih mengangkat tema komedi, tapi ada juga selipan drama romantis didalamnya. Sisi yang mengangkat ikatan dalam keluarga juga sangat kental dalam film ini. Pemeran utama dalam film ini masih bocah, tetapi terus terang saya suka dengan aktingnya sebagai Tock, wajahnya pun tidak terlalu kekanakan sehingga masih bisa dimaklumi kalau dalam cerita ia jatuh cinta pada wanita yang jauh lebih tua. Hehe.. Overall, silahkan ditonton karena lumayan menghibur. Daripada bosan dengan film yang masih sama itu-itu saja dari beberapa minggu terakhir ini. Saya berharap film Hollywood bisa tayang lagi di Indonesia mengingat sebentar lagi banyak film-film bagus yang akan beredar! Saya tidak mau ketinggalan Kung Fu Panda 2, The Hangover 2, dll donggg!