total ping

Tampilkan postingan dengan label PhotosPict. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PhotosPict. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 September 2010

Foto Berbicara: Office


Menjadi blogger secara tidak langsung dapat menyalurkan mimpi saya menjadi reporter. Tidak jarang dalam berbagai event di kantor saya berperan sebagai seksi dokumentasi. Lucunya saya lebih suka mengambil foto dari event non-formal, alias mengamati kejadian yang menurut beberapa orang tidak terlalu penting sehingga hasil jepretan saya hanya masuk dalam file pribadi, bukan untuk disebarkan lewat media internal kantor. Tidak masalah, justru saya bisa bercerita banyak dari 'foto tidak penting' tersebut, karena setiap tempat (termasuk kantor) memiliki kebiasaan dan budaya yang berbeda bukan.

Selamat Ulang Tahun
Tradisi minta ditraktir oleh teman yang sedang berulang tahun sih bukan hal yang aneh. Akan menjadi hal yang berbeda kalau ini terjadi di kantor saya, hukum mentraktir rekan satu ruangan (kira-kira 30 orang) adalah wajib dan harus dilakukan. Untuk membuat yang berulang tahun mau mengeluarkan budjet lebih untuk membeli makan siang ekstra dilakukanlah trik tertentu, mulai dari yang paling biasa (sekedar mengingatkan atau menyindir secara halus) sampai yang paling ektrim:



Selebaran berisikan info (terkadang plus foto) yang berulang tahun akan bertebaran di seluruh sudut ruangan: meja setiap orang, mading, tempat absen, mesin fotokopi, di dekat jam dinding, pintu masuk, tidak ada yang luput dari serangan selebaran ini. Kalau super apes selebaran bisa mampir ke ruangan divisi lain, yang artinya kuota orang yang harus ditraktir bertambah banyak. Mau melepaskan sendiri semua selebaran adalah usaha yang sia-sia, karena tetap akan bermunculan sampai traktiran diberikan. Kalau traktiran sudah tersedia, otomatis selebaran akan dibersihkan dengan sukarela.

Sampai hari ini, yang selalu mendapat teror seperti ini adalah kaum adam. Alasannya sudah pasti karena mereka paling sulit diminta jatah traktiran. Kalau kaum hawa sih biasanya sudah mengantisipasi kejadian ini dengan membawa makanan atau membelikan jatah makan siang.

Dilarang Makan Disini
Saya: 'Pus, sejak kapan ada larangan itu disini?'.

Pusti: 'Larangan apa?'.

Saya: 'Itu....'.


Pusti: 'Haaahh.... sejak kapan? Gue baru liat deh'.

Saya: 'Makanya gue nanya karena gue juga ngga tau dodol'.

Pusti: 'Eh, tapi kan kita emang ngga boleh makan di meja kerja. Kayak sarapan ato makan siang gitu kan di pantry'.

Saya: 'Terus, cemilan apa nasibnya dong?'.

Pusti: 'Iya ya.....'.

suram

Pusti: 'Tapi ko peringatannya mojok gitu sih? Kenapa ngga dipasang di pintu masuk aja'.

Saya: 'Yeey... kalo dipasang di pintu masuk sih sekalian aja tulisannya diganti 'Dilarang memberi makan kepada staff dalam ruangan ini'. Lo kira kita kebon binatang apa'.

Sindrom Pasca Lebaran
Tidak perlu khawatir kalau lebaran kemarin tidak kebagian jatah cuti dan tidak bisa pulang kampung karena oleh-oleh dari rekan yang beruntung bisa mudik akan mengalir lancar. 

Awalnya seperti prasmanan, lebih esklusif. Makanan khas lebaran seperti tape uli dan kue-kue lebaran masih tersedia.



Lama-kelamaan lebih sering bertebaran berbagai keripik, kerupuk, dan makanan kering khas daerah masing-masing. Ada kerupuk kemplang dari Lampung, kerupuk ikan dari Palembang, kacang disko dan kacang koro dari Bali, keripik nangka dari Malang, dan berbagai makanan kering lain yang saya tidak tahu asalnya numplek di salah satu meja kerja yang kosong. Karena divisi saya  banyak berhubungan dengan berbagai divisi maka setiap hari ada saja cemilan baru yang diberikan divisi lain. Inilah penyebab utama mengapa berat badan dengan mudahnya naik setelah lebaran.



Akhirnya, dengan sekian banyak cemilan dan tidak sedikit yang belum habis, tumpukan makanan ini terlihat mengganggu dan mengundang berbagai binatang pengganggu. Hingga akhirnya atasan menegur dan menyuruh kami membereskan semuanya. Kalau sudah begini baru deh mikir, mungkin peringatan yang saya bahas sebelumnya memang sebaiknya diterapkan ya.

Rabu, 14 Juli 2010

Blythe Doll

Saat surfing di Flickr beberapa waktu lalu, saya menemukan foto boneka super cute. Berbeda dengan Barbie yang tinggi semampai, kurus, selalu tersenyum, girly, mewah, namun terlihat bodoh, Blythe adalah boneka dengan ukuran cukup tinggi (28cm) dengan kepala dan mata besar yang khas. Terlihat lebih cukup gizi dibanding Barbie. Yang lebih membedakan lagi, warna mata Blyhte dapat diganti dan dapat diarahkan ke berbagai posisi sehingga lebih ekspresif.



Blythe diciptakan tahun 1972 dan hanya dijual selama satu tahun oleh perusahaan mainan Kenner. Tahun 2000, buku This is Blythe diterbitkan dan tahun 2001 perusahaan mainan Jepang, Takara, mulai memproduksi edisi baru boneka Blythe. Boneka Blythe dikenal juga sesuai nama dagangnya, Kenner atau Takara. Di Inonesia sendiri boneka Blythe belum cukup dikenal dan sulit dicari. Pemesanan dapat dilakukan secara online di www.thisisblythe.com

Harga sebuah boneka Blythe terbilang mahal, berkisar antara $135 - $200. Belum lagi berbagai aksesorisnya; baju ($18 - $46), sepatu ($7 - $16), kornea mata ($4,75), wig ($18), sunglasses ($16 - $42).



Hobi mendandani boneka Blythe biasanya sejalan dengan hobi menjahit atau fotografi. Pemilik Blythe seringkali mendandani bonekanya dengan baju rancangan sendiri, tak terlihat aneh karena pemilik Barbie juga melakukan hal yang serupa. Yang menarik adalah mereka menjadikan bonekanya sebagai objek foto dan pencitraan diri. Boneka Blythe memang lebih ekspresif sehingga cocok dijadikan objek foto, dan cara pemiliknya mendandani Blythe masing-masing dapat mencerminkan kepribadian mereka. Terdapat beberapa komunitas Blythe yang saling berbagi foto dan mengupdate secara berkala perkembangan boneka masing-masing. Salah satunya saya temui di Flickr.



Kalau saya lebih suka bernarsis ria di depan kamera, maka pemilik Blythe lebih senang boneka mereka yang diabadikan dalam foto. 



Kecenderungan khas orang Indonesia (termasuk saya) saat bepergian adalah foto di tempat-tempat yang merupakan icon dari kota tersebut. Tetapi, jika pemilik Blythe yang bepergian, maka hasilnya akan seperti ini.


Saya sih iri aja gitu sama yang terakhir ini. Kalau saya yang ke Paris, mana mau bela-belain take great photos of my blythe, mending saya sendiri yang foto bareng Eiffel.

Minggu, 27 Juni 2010

After Graduation

Sudah 3 tahun sejak terakhir kita bersama di bangku kuliah.

Dan sekarang, kita hanya bisa menyempatkan diri berkumpul di acara pernikahan teman yang satu persatu melepas masa lajang.

Acara pernikahan selalu menjadi ajang 'pamer pencapaian': pekerjaan baru, gaji baru, gadget baru, dan pasangan hidup baru.

"Ocha kenalin...ini suami gue. Kemaren ngga dateng ke nikahan gue ya?" seorang teman menyapa saya.

"Eh iya Cha....kenalin ini suami gue" kata teman lain sambil menarik suaminya.

"Heran, ko orang-orang bawa suami masing-masing ya. Suami gue mana? Suami.... Suami.... Kamu ngumpet dimana sayang?" saya nelangsa nyariin suami calon suami :)


Pencapaian yang paling jelas terlihat tentu saja terlihat dari fisik yang semakin subur-makmur-sejahtera-sentosa.

Satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaan kami pada dunia foto memfoto.



Tentu saja, tali persahabatan yang terjalin sejak awal masa perkuliahan tidak akan pernah putus.


Dan pertanyaan khas sebelum masing-masing pulang, 

"Nanti ngumpul lagi di nikahan siapa?"

akan dijawab dengan semangat membara

"GUE!!!"

Tetep yakin dan PD walau belum ketemu Mr. Right. Yaahh, yang namanya jodoh siapa yang tau kan *menghibur-diri-sendiri*.

Sabtu, 19 Juni 2010

KameraKu Sayaaaang...

Digital camera saya jatuh kemarin. Terbanting cukup keras sehingga lecet lumayan parah. Dan yang paling membuat saya sedih, sepertinya lensa kamera rusak karena guncangan yang hebat itu. Lensa tidak bisa fokus, bodi kamera rusak, dan saya tidak bisa marah kepada siapapun. Kesal? Itu pasti. Sedih? Saya menangis semalaman.

Sekarang pun saya masih kepikiran. Mungkin kalian heran, kenapa saya segitunya menghadapi itu semua, tinggal diservis dan semua akan beres. Tidak, tidak semudah itu. Harga servis hampir setengah dari harga kamera baru. Setelah diservis juga kamera saya masih carut-marut. Lecet-lecet itu tidak mungkin hilang kan? Just wondering and hoping ada ketok magic khusus kamera digital.

Yang membuat hati saya luka karena kamera ini merupakan kamera pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Uang hasil jerih payah saya. Setelah sekian lama browsing mencari kamera yang tepat, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada dia, si tipis Olympus berwarna merah. Warna favorit saya. Dia yang selalu setia menemani saya kemanapun. Mengabadikan semua momen dalam hidup saya. Dia juga menjadi kesayangan teman-teman karena hasil gambarnya yang cantik dan dapat diandalkan dalam berbagai kondisi. 

Sekarang saya harus kehilangan dia?
.......
.......
.......

Sepulangnya ke rumah saya langsung mengadu kepada mama. Dengan tangis sesengukan saya bercerita.
"Maaaa.....kamera aku rusak. Jatoh kebanting. Hiks...."
"Yah teh, terus gimana dong?"
"Hiks...hiks....beliin aku DSLR maaaaa...." (nangis makin kenceng supaya dibeliin)



*Beberapa momen foto bareng si merah. Ngga ada foto kamera saya yang sudah jatuh dan rusak. Saya ngga tega memfoto dan mempublikasikannya disini*

Rabu, 16 Juni 2010

Visiting U FM

Pagi ini saya mengunjungi U FM untuk mengambil voucher menginap di Bali. Yeay, saya menang kuis lagi dari radio ini :) Selain memiliki siaran menarik, penyiar hebat, dan lagu bervariatif, U FM memang royal menggelar kuis dan membagi-bagikan hadiah untuk penggemarnya. Saat ini U FM sedang membagi-bagikan tiket gratis nobar Toy Story 3 di Mall Emporium Pluit. Kalau berminat, U FM bisa didengar di frekuensi 94.7 atau live streaming melalui www.u-fm.com. Jangan lupa ajak saya ya kalau kalian menang tiketnya ;)

U FM bermarkas di Menara Imperium Kuningan lantai 33.

Posisi U FM yang berada di pojokan gedung dan kurang eye catching membuat saya sedikit kesulitan untuk menemukannya.

Suasana U FM masih sepi, mungkin karena saya datang pagi hari sebelum berangkat kerja. Hanya ada beberapa orang yang sedang bertugas dan mereka memperkenalkan saya dengan "orang-orang penting" di balik siaran U FM. Siapa sangka, Yuma Maharani, produser siaran pagi yang jadwalnya sibuk bukan main ternyata orangnya kecil mungil dan imut-imut. Dan Tony Thamrin yang selama ini saya kira tinggi besar, ternyata jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan. Suara seseorang memang tidak bisa menjamin penampilan aslinya ya :p

Walau sibuk, Yuma menyempatkan diri untuk mengobrol sedikit dan mengajak berkeliling. Karena kantor di Menara Imperium hanya digunakan untuk siaran, maka ukurannya tidak terlalu besar dan hanya ada beberapa ruangan privat.

 Ruang siaran

 Jadwal siaran (eerr...tadi dibolehin foto ini ngga ya)

 Ruangan Imam Wibowo sebagai Program Director

 Lobby?

 Whole area from lobby perspective

Tempat yang paling saya suka di U FM? Tentu saja ruangan Music Director. Beberapa lemari dipenuhi keping CD musik aneka jaman dengan beragam genre. Pengen banget punya ruangan seperti itu di rumah, tapi mungkin isinya akan saya mix dengan film ya.



Kunjungan saya hanya sebentar. Tak enak berlama-lama disana karena semua orang sedang sibuk bekerja. Lagipula saya juga harus cepat-cepat melanjutkan perjalanan ke kantor. Thanks U FM, untuk voucher dan kunjungan menyenangkan di pagi hari.

Tiket PP Jakarta - Bali yang saya beli bulan Mei lalu sekarang sudah punya pasangannya: voucher menginap di Tune Hotels Bali selama 3 hari 2 malam. Can't hardly wait for another vacation. Desember cepatlah dataaaang... Kalau menurut hitungan Daisypath saya sih "It is 5 month, 3 weeks & 1 day until Bali".


Anyone join?

Minggu, 16 Mei 2010

Preferred Circle

Kantor baru, berarti banyak tempat baru yang bisa dikunjungi. Berhubung kantor sekarang merupakan cabang pusat, terdapat fasilitas Preferred Circle untuk prime costumer. Penasaran, ada apa sih di ruangan Preferred Circle. Kesannya esklusif banget, sampai dibuatkan satu ruangan khusus, terpisah dari nasabah lainnya. Lucky me, saya punya kenalan di bagian Preferred Circle, jadi ruangan ini bisa disinggahi. Mingle dengan divisi lain memang selalu menyenangkan dan menguntungkan :)


Pertama masuk ke ruangan ini suhu langsung anjlok beberapa derajat. Hooo... ruang Preferred Circle ternyata di-set lebih dingin dibanding ruang banking hall. Wangi, comfy, dan nyaman, itu kesan pertama yang didapat. Meeter Greeter yang bertugas langsung menyambut di ruang depan dan tim marketing siap membantu kebutuhan perbankan nasabah. Prime costumer tidak perlu berlama-lama antri, karena semua transaksi dapat langsung dikerjakan bagian back office.

Selagi menunggu, prime costumer bisa membaca majalah Investor, 

atau harian Bisnis Indonesia.

Dan tersedia camilan lengkap dengan berbagai pilihan minuman.

Jika bosan, nasabah prime dapat menonton TV dengan jaringan Indovision,

di sofa yang super nyaman.

Enaknyaaa jadi prime costumer... Saldo minimun yang harus mengendap di tabungan untuk dapat menikmati semua fasilitas ini dan menjadi nasabah Preferred Circle hanya Rp. 500juta saja. Kalau ada yang berminat, silahkan bergabung :)


Lumayan, sehari 10 menit bisa merasakan pengalaman jadi nasabah prime :D 

Selasa, 11 Mei 2010

BTS


Have you watched Bangkok Traffic (Love) Story? Its a Thailand great movie indeed :D

Highly recommended.

Senin, 22 Februari 2010

Hi! I'm back.

Kangennya dengan blogspot, baru ditinggal empat hari udah ketinggalan berita tentang temen-temen blogger, huhuhu....Well, I'm already back, but still tired to shared all of the stories (post holiday sindrom kalau kata Trinity). 



So, for now, can you guess where I was gone from the pict? I'll shared the stories on the weekend (promise that).


 

 












I luv (and missing) u soooo much all.

 

 

XOXO