total ping

Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

The Naked Traveler Fever

Hm, kalau ditanya buku apa yang pertama kali memperkenalkan (plus meracuni) saya kepada dunia traveling jawabannya pasti The Naked Traveler (TNT). Trinity membuka mata dan wawasan saya akan dunia traveling, membuat saya iri dan ikut gatal ingin merasakan pengalaman jalan-jalan dengan low budget, dan yang paling penting membawa saya kepada pengalaman traveling yang rasanya seperti candu; nagih dan selalu ingin mengulanginya lagi.

Kebanyakan buku traveling seperti Lonely Planet atau DK hanya menjelaskan tentang negara, kota, atraksi wisata, akomodasi, transportasi dan berbagai tips berguna yang dapat diterapkan. Tentu ditambah jepretan foto profesional agar pembaca tambah mupeng untuk mengunjungi negara yang di-review. Iya sih, mupeng udah pasti. Tapi kebanyakan informasi tersebut hanya berguna saat melakukan perencanaan perjalanan dan saat perjalanan dilakukan (dengan catatan niat bawa Lonely Planet yang lumayan tebel dan rela bolak-balik baca halamannya saat ada di negara destinasi). Berbeda dengan Trinity, lewat TNT dia bercerita pengalaman dan pelajaran yang diambil dari kegiatan traveling. Trinity mengenalkan masyarakat Indonesia seni dari traveling dan meracuni pembacanya untuk mengikuti jejaknya.

'It's not about the destination, it's about the journey' salah satu quotes yang Trinity gunakan di TNT2. Mau travel kemana pun, dalam atau luar negeri, bukan negara tujuannya yang menjadi topik utama tapi pengalaman dan pelajaran yang diambil dari perjalanan tersebut. Banyak pelajaran yang saya ambil dari TNT, bukan hanya sekedar tips dan trik selama travel atau cerita konyol khas Trinity yang kocak abis, tapi TNT juga mengajarkan saya untuk selalu memaknai setiap perjalanan yang dilakukan. Jalan-jalan bukan sekedar ajang pamer (eh, gue baru dari Eropa nih) atau untuk berfoto narsis di luar negeri. Tetapi jalan-jalan dapat memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang tidak akan didapatkan dari sekolah formal.

Setelah kesuksesan dua buku sebelumnya, hari Sabtu 7 Mei 2011 kemarin akhirnya Trinity meluncurkan TNT3. Padatnya Level One Grand Indonesia sebagai venue acara cukup memperlihatkan besarnya animo pembaca terhadap seri terbaru dari buku The Naked Traveler. Di acara launching ini pengunjung bisa mendapatkan buku TNT3 yang belum beredar di toko buku mana pun dengan diskon 10% plus tanda tangan dari Trinity. Buku TNT3 baru akan beredar minggu depan di toko buku Jabodetabek dan secara bertahap di minggu selanjutnya ke berbagai daerah di Indonesia.

The Naked Traveler 3 in orange 

Ki-Ka: Riyani Djangkaru (MC), Trinity (TNT author), Salman Faridi (Bentang CEO).

Untuk saya dan pengunjung lain yang sering mengikuti cerita Trinity lewat buku sebelumnya maupun blog www.naked-traveler.com pasti sudah tidak asing dengan gaya Trinity yang 'urat malunya sudah putus'. Berbeda dengan beberapa teman yang baru kenal Trinity lewat acara ini, mereka super salut dan super kagum dengan segala pengalaman dan kenekatan Trinity selama traveling. Hanya dengan beberapa potongan cerita yang sempat terlintas lewat sesi tanya jawab mereka langsung berminat untuk membaca TNT dan berkenalan lebih jauh dengan sosok Trinity.

In this pict: Saya dan Nenes udah kena virusnya Trinity, yang dua lagi segera menyusul

Acara bagi-bagi hadiah dalam acara seperti ini sih hukumnya wajib. Untuk pembaca TNT yang pernah mendatangi acara launching buku sebelumnya pasti familiar dengan pertanyaan favorit Trinity saat akan membagikan hadiah. 'Berapa berat badan saya?' tanya Trinity. Sontak seluruh pengunjung berebut menyebutkan angka. Sssttt... rata-rata menebak di kisaran angka di atas 75 kg. Riyani Djangkaru yang menjadi MC cuma geleng-geleng kepala dan super heran, 'Kayaknya nggak ada penulis lain yang ngejadiin berat badan sebagai bahan pertanyaan'. Setelahnya muncul ide iseng Riyani untuk pertanyaan selanjutnya, 'Berapa ukuran beha Trinity?'.

Super salut sama mereka yang niat bawa buku-buku Trinity yang lain untuk ditandatangani.

Trinity diserbu

Butuh perjuangan untuk dapet tanda tangan Trinity

Yah, saya memang termasuk golongan orang yang terlambat teracuni virus traveling. Saya tidak pernah bergabung dalam komunitas traveling, baru mulai jalan-jalan setelah punya penghasilan sendiri, bahkan baru tahu dunia backpacking dari buku The Naked Traveler. Tapi rasanya sah-sah saja untuk memulai kegiatan menyenangkan bernama traveling ini di umur berapapun. Try once and you would never stop.

Sedikit curcol, jam terbang saya di dunia jalan-jalan tuh masih minim banget. Seringkali saya mendadak jadi orang yang pendiam saat berkumpul dengan sesama traveler dalam suatu kegiatan. Yeah, pengalaman mereka di 'jalan' jauh lebih banyak dibanding saya yang masih newbie ini. Kecil hati, sakit hati, dan merasa jadi orang paling malang di dunia. Bagusnya hal ini memacu saya untuk terus menabung dan menyusun berbagai rencana jalan-jalan untuk diwujudkan. Ah, semoga Tuhan masih berbaik hati memberikan umur panjang dan rejeki berlimpah agar saya punya banyak kesempatan untuk menjalani passion bernama jalan-jalan ini *bilang Amin kenceng-kenceng*.

Minggu, 25 Juli 2010

Raditya Dika?

Siapa yang tidak kenal Raditya Dika. Saya yakin semua warga Indonesia pasti kenal makhluk absurb satu ini, paling tidak pernah mendengar namanya. Tapi siapa yang tidak tahu hebatnya tulisan-tulisan Radith? Well, saya salah satunya. Siapa yang tidak tertarik membaca bukunya sampai selesai kecuali tidak ada bacaan lain? Hm, itu saya. Siapa yang tidak mengakui kalau Radith adalah penulis kocak yang mampu membuat pembacanya tertawa dan setia menanti buku-buku dia yang selanjutnya? Ya, itu saya lagi.

Mari kita bicara tentang Kambingjantan, buku pertama Radith. Sejak pertama kali launching, buku ini memenuhi rak di toko buku ternama, termasuk di bagian Bestseller. Ok, saya mulai membaca profile Radita Dika dan pikiran yang pertama tercetus di kepala saya adalah; "Hm, blogger ya. Baiklah... Beruntung banget dia, bisa nerbitin buku yang diangkat dari blog. Mungkin karena sekarang belum banyak yang pake blog, terus Radith itu orang yang aktif nulis di blog, tulisannya dinilai lucu, konsep blog diangkat jadi buku juga belum pernah kejadian di Indonesia, akhirnya blog dia dipilih buat diterbitin dalam bentuk buku deh. Ah, kalau sekarang sudah banyak blogger juga belum tentu Radith bisa membukukan kisah hidupnya. He's just a lucky guy". Kemudian saya mulai membaca Kambingjantan secara random.

Cerita pertama yang saya baca adalah saat Radith memasukkan usus ayam yang kelindes mobil atau apa gitu, kembali ke tubuh si ayam. Hoo... teriakan CIAAAPPP si ayam cukup membuat saya ngenes. Lalu saya loncat ke halaman lain dan membaca cerita saat Radith memburu tikus dengan pembantunya. Cerita si tikus berakhir setelah disemprot pakai parfum karena dia bau, lalu dibakar. Duduuuhh... ini orang punya masalah sama binatang kali ya.

Kambingjantan memang laris manis dan banyak diomongin orang-orang, termasuk temen kuliah saya. Saat itu seorang teman dengan semangat menggebu bilang gini, "Cha, lo udah baca Kambingjantan belom? Ih, itu lucu banget ya. Ternyata temen gw itu temennya Radith. Itutuh, nama penulisnya. Kemaren gw dikenalin sama dia, dan si Radith itu beneran lucu banget. Gila deh anaknya. Keren juga sih Cha, dia bolak-balik Aussie-Indonesia gitu, kan dia kuliah disana. Terus...bla.. bla... bla...". Yea, temen itu nyerocos terus tanpa memberi saya kesempatan untuk bicara. Saya cuma manggut-manggut-marmut, pura-pura tertarik dan antusias dengan semua yang dia omongin. Dalem hati saya cuma bisa nanggepin, "Whatever, kaya gw tertarik sama Kambingjantan ato si Radith penulisnya itu".

Saya kira Radith akan seperti penulis kacangan lain yang hanya mampu menerbitkan satu karya kemudian mati tenggelam. Tapi keberuntungan dia sepertinya tidak berhenti sampai Kambingjantan saja. Buku karya Raditya Dika selanjutnya terbit bertubi-tubi (Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot) secara konsisten hampir setiap tahunnya. "Pasti penulis ini memiliki basis fans yang cukup besar sehingga mampu menerbitkan buku lagi dan tetap laris di pasaran". Paling tidak itulah penjelasan logis yang sayangnya cukup jahat yang diberikan otak saya.

Setahun yang lalu, saya bergabung dengan blogspot. Sebagai newbie blogger, kewajiban utama saya tentu saja blogwalking. Hampir semua blog yang saya kunjungi memasang link ke blog Raditya Dika. Yah, saya juga seperti merasa berkewajiban mampir ke tempat yang sudah meracuni pikiran banyak orang untuk ikut ngeblog ini, Radith semacam mbah di dunia perbloggingan menurut saya. Sebenarnya ada satu alasan lagi dan ini adalah alasan terkuat: saya penasaran, siapa sih Raditya Dika itu?

Sebenarnya cukup gampang menjawab pertanyaan ini. Saya tinggal browsing dan berderet-deret informasi dan artikel tentang Raditya Dika akan bermunculan. Bukan itu yang saya butuhkan. Saya perlu tahu, kenapa dia sedemikian menginspirasinya, kenapa bukunya selalu masuk dalam bestseller, kenapa dia jadi panutan beberapa penulis yang baru memulai karirnya, dan yang paling terpenting, sehebat apa tulisannya. Ya saya tahu, mustinya saya mulai membaca semua buku Radith jika mau semua pertanyaan itu terjawab. Tapi kesan pertama saya terhadap Kambingjantan membuat saya enggan untuk membaca karya Radith yang lain. Mungkin tulisannya di blog dapat memberi saya persepsi lain tentang seorang Raditya Dika.

Postingan Radith yang pertama saya baca di radityadika.com menceritakan beberapa hal yang telah dan belum sempat tercapai di tahun 2009. Hoo.. lagi-lagi pikiran jahat saya muncul 'Gila, ni anak beruntung banget. Let me see: film Kambingjantan, pacaran sama Sherina, punya segmen tetap di TV'. Yap, I still don't get the point who is Raditya Dika. Di mata saya dia hanyalah seseorang yang super-duper-beruntung. Setelah kunjungan tersebut saya sibuk mengelola Merry go Round dan pertanyaan besar di kepala tentang Raditya Dika sedikit terkesampingkan.

Kegiatan blogwalking tak jarang membuat saya mampir kembali ke blog Raditya Dika. Dari beberapa kunjungan tersebut, Radith hanya menulis kesibukannya dalam menerbitkan buku terbarunya, dan tetap saja, pertanyaan utama saya tidak terjawab. Seorang teman saya begitu tergila-gila dengan Radith, dia rela ikutan sebuah workshop karena Radith adalah pembicaranya. Dia membawa semua buku Radith, lengkap, disampul plastik, dan meminta Radith menandatanganinya. Mengobrol sedikit dengan Radith, dan tambah menggila-gilainya.

"Lo ngapain ikutan workshop begituan? Sejak kapan lo tertarik sama blog" tanya saya penasaran.

Dengan ketawa ngikik-ngikik-kegirangan-karena-baru-ketemu-Raditya-Dika, dia jawab nyaring "Soalnya Radith jadi pembicaranyaaaa....."

"Teruuuss... emang setelah ikutan workshop itu lo mau ikutan jadi blogger gitu? Ngikutin jejaknya Radith?" saya skeptis ngelontarin pertanyaan ini ke dia.

"Ya engga siiihh... Tapi ya gw seneng aja gitu Cha. Gw. Ketemu. Raditya Dika."

Still, I don't get the point.

Kemudian buku terbaru Raditya Dika, Marmut Merah Jambu (MMJ) terbit. Topik ini memang cukup menghangat, betapa semua penggemar Radith telah menantikan buku ini 2 tahun lamanya. Teman saya yang sangat-tergila-gila-Raditya-Dika ini memesan khusus di toko buku agar dia tidak kehabisan MMJ dan bisa mendapat cetakan pertama. Oke, disini saya tidak mengerti pentingnya mendapat cetakan pertama dari sebuah buku. Selesai membaca MMJ, dia mengupdate status Facebooknya:

This book is killing me... Berasa ditabokin baca buku ini.. 

Hoo... Sedikit menyeramkan, buku bisa membunuh dan nabokin orang. What is the maksud? Dan penjelasan dia adalah "Bukunya baguuuuuuuuuuuuuuuuuuusss bgt Chaa, banyak ngena nya di gw. Huhuhu, makanya berasa ditampar berkali-kali gw baca tuh buku. Hehehe". Eerr, sepertinya saya bisa ngerasa bagaimana bagusnya buku itu dengan banyaknya huruf U yang digunakan.

Saya masih tidak tergerak untuk membaca buku Raditya Dika sampai kunjungan saya beberapa minggu kemarin ke sebuah toko buku. Disana MMJ memenuhi hampir seperempat bagian toko; bagian buku laris, buku pendatang baru, di belakang kasir, intinya di semua titik nadi dari sebuah toko buku. Seketika euforia di dalam toko buku tersebut menjadi euforia MMJ. Semua pengunjung yang datang langsung disodori pemandangan Radith bergaya marmut, lalu mengobrol santai tentang buku-buku Radith sambil memegang MMJ, buka-buka beberapa halaman MMJ, dan akhirnya membawa buku tersebut ke kasir. Saya? Masih tidak tertarik dan sibuk mencari buku yang cocok untuk menemani di hari minggu ini. Selesai mencari, saat kaki akan melangkah keluar dari toko, saya tergelitik untuk membaca MMJ sedikit. Sekedar penasaran dengan cerita Radith-Sherina yang dia tulis disitu.

Buku langsung saya buka di bagian daftar isi, mencari-cari judul yang tepat, dan pergi ke halaman yang dituju. Rileks, tarik napas, and here we go... Baiklah, saya suka dengan cara menulisnya, ringan, personal, menggunakan perumpamaan yang berbeda dengan pasaran. Hm, lumayan. Balik ke halaman berikutnya, disini Radith mengambil contoh pertemuan seseorang di sebuah adegan sinetron dan saya mulai menahan tawa dan menggigit-gigit bibir agar tawa ini tidak meledak. Satu cerita selesai. Respon saya? Hmm, mungkin kata menarik dapat mewakili. Saya suka cara Radith menyampaikan ide 'semesta berkonspirasi saat mempertemukan kita dengan seseorang'. Saya bahkan belum pernah memikirkan konsep ini secara mendalam sebelumnya. Cerita yang cukup manis, tapi tidak berlebihan.

Satu cerita mungkin sudah cukup. Tapi cerita selanjutnya berjudul 'Buku Harian Alfa' membuat saya ingin membaca MMJ lebih jauh. Untuk cerita ini, walau bibir sudah digigit sekencang mungkin, walau napas sudah ditahan sedalam mungkin, saya tetap tidak bisa menahan tawa yang meluncur manis dari bibir ini. Saya menyerah, berjalan menuju kasir, dan membawa MMJ untuk diajak pulang.

Seorang teman blogger mengatakan, inti terpenting saat kita menulis adalah 'untuk apa?' Untuk apa sih kita nulis, apa yang akan kita sampaikan ke pembaca, paling tidak selesai membaca sebuah tulisan ,seseorang bisa mendapatkan sesuatu dari sana. Harus ada pesan yang jelas saat kita menulis, ini akan menjadikan tulisan kita lebih bermakna dan berbobot. Untuk apa nulis panjang-lebar-kali-tinggi kalau intinya cuma 'Hari ini gw ditraktir temen makan bakso dan gw seneng banget'. Itu sih ngga perlu niat nulis di blog, update aja di Facebook atau Twitter. 

Sedikit banyak hal inilah yang saya harapkan dari MMJ, dari seorang Raditya Dika. Apakah dia mampu memberikan tujuan 'untuk apa' dalam bukunya atau isi MMJ hanya tulisan tidak bermutu yang cuma ditujukan untuk membuat orang tertawa. Rasa skeptis itu masih menempel di kepala saya.

Cerita pertama: Orang Yang Jatuh Cinta Diam-diam. Kisah cinta Dika di SMP dimana dia hanya bisa mengagumi orang yang dicintai tanpa berani mendekati dan menyampaikan perasaannya. Konsep yang sederhana, tapi Radith meraciknya dengan cara yang benar-benar berbeda sehingga menghasilkan cara penyampaian yang berbeda pula. Kepolosan anak SMP, gap sosial antara geng populer dan geng cupu, naksir-naksiran, semua yang mengalami masa SMP pasti tau bagaimana rasanya. Itu dia, semua orang pernah merasakan apa yang Radith tuliskan sehingga setiap cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, kekuatan utama dari buku ini karena pengalaman personal pembuatnya. Tidak ada yang lebih mengerti bagaimana rasanya cinta terpendam, ditolak, sampai jadian selain diri sendiri. Novel lain yang bercerita tentang seorang cewek nyomblangin sahabatnya dengan seorang cowok, kemudian mereka nikah, padahal cowok ini adalah selingkuhan cewek ini, dan dia nyatuin selingkuhan dan sahabatnya dalam ikatan pernikahan supaya suaminya ngga curiga (sebuah cerita rumit untuk dipilih) terlihat tidak terlalu masuk akal dan pasti tidak semua orang pernah mengalaminya (ada gitu yang ngalamin kejadian kaya gini di dunia nyata). Penulisnya juga mungkin hanya merangkai sebuah cerita tanpa pernah merasakan perasaan yang sesungguhnya tertuang di dalam buku (atau mungkin itu memang pengalaman pribadi dia?). Yah, itu lah intinya. Ngerti kan? Saya juga lumayan bingung sih (kenapa saya jadi dodol gini ya).

Sama persis dengan teman-saya-yang-ngefans-abis-sama-Raditya-Dika bilang, saya juga ngerasa ditamparin pas baca buku ini. Plus ngos-ngosan juga sih. Cerita Radith mungkin biasa, endingnya juga paling ketebak, tapi cara dia menulis, menyampaikan perasaannya, mengungkapkan apa yang dia rasakan, bikin saya lupa bagaimana caranya bernapas. Saya ngga pernah bisa menduga apalagi yang akan Radith rasakan, cerita seperti apa yang akan terjalin setelah hubungan ini, dan konsep apalagi yang akan Radith gunakan untuk tulisan selanjutnya. 

Satu hal yang tidak saya harapkan dari MMJ. Radith menuliskan beberapa permainan psikologis antara laki-laki dan perempuan, menggambarkan dengan sederhana bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda, dan bagaimana cara menghadapinya. MMJ juga membuat saya mengerti, bagaimana laki-laki memandang dan menyikapi cinta, melihat arti cinta dari sudut pandang laki-laki. Tulisan seperti ini membuat seri lengkap buku Mars vs Venus yang ngejelimet terasa tidak ada artinya. Bravo Radith!

Kebanyakan inti cerita, ide, konsep, atau apa yang teman blogger saya sebut 'untuk apa' terletak di akhir cerita. Dengan kata lain, punching line diletakkan di akhir dan membuat cerita berasa lebih 'nendang'. Loh, kalau gitu mustinya saya ngerasa ditendangin dong setelah baca MMJ, bukan ditamparin. Tapi arti punching itu sendiri kan meninju. Yah, sepertinya kata ditamparin lebih bisa diterima daripada ditendang atau ditinju. Harap diinget ya, ini konteksnya saat membaca sebuah cerita atau buku, bukan di kehidupan nyata. Saya jelas-jelas menolak semua bentuk kekerasan yang terjadi di dunia nyata (halah).

Lalu pertanyaan itu akan kembali ke saya, untuk apa saya nulis segini panjang tentang Raditya Dika. Akan saya jawab. Tulisan ini saya buat untuk mengapreasiasi seorang Raditya Dika. Lewat MMJ, pertanyaan saya selama ini tentang 'siapa sih Raditya Dika' akhirnya terjawab. Saya dapat mengerti mengapa seorang Raditya Dika begitu menginspirasi, saya bisa lihat hebatnya tulisan dia sehingga tak heran buku Radith betah nongkrong di rak bestseller. Kemudian saya membaca ulang blog Radith dan menemukan petuah bijak tentang menulis, salah satu yang selalu saya pegang dari pesan di tulisan itu adalah KISS, Keep It Simple Stupid. 

Saya juga merasa harus meminta maaf atas semua pikiran negatif saya terhadap Raditya Dika sejak Kambingjantan terbit melalui tulisan ini. Memang, Radith tidak akan membaca tulisan ini, dia juga tidak pernah tahu kan kalau saya pernah memiliki pikiran segitu jeleknya tentang dia, tapi saya merasa perlu untuk membuat satu tulisan khusus Raditya Dika. Mungkin ada orang lain di luar sana yang masih memiliki pemikiran seperti saya dulu, atau skeptis dengan buku ringan seperti MMJ, atau merasa tidak level baca buku sejenis MMJ. Saya tidak mau berkomentar banyak. Hanya coba saja dulu baca, mungkin pikiran kalian akan berubah :)


Foto jijaybajay saya sama MMJ:
- Mata beler karena mulai baca tengah malem dan ngga bisa berenti sampe jam 3 pagi.
- Baju tidur gambar beruang dan lope-lope (sori, saya masuk angin kalo pake lingerie doang).
- Kacamata minus yang tebel banget karena mata udah kering ditempelin softlense seharian.
- Kamar berantakan, lengkap dengan sebuah boneka tak berdosa yang ngga sengaja saya dudukin.

Trust me, butuh keberanian besar untuk memasang foto ini disini.

Selasa, 08 Juni 2010

Life For Passion

Salah satu hal penting yang saya tangkap dari film Julie and Julia adalah life for passion. Di film itu Julie berusaha menekuni passion dalam hidupnya, memasak dan menulis, di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai petugas call center. Dengan menjalankan passion, Julie merasa lebih hidup dan bersemangat dalam menjalani hari dan menghadapi pekerjaannya yang menyebalkan.

 

Berbicara tentang passion, ada tiga hal di dunia ini yang mampu mengembalikan semangat dan merefresh otak saya: film, musik, dan buku. Seperti pendeskripsian saya di halaman muka blog ini, I’m movie freak, music holic, and books worm. Travel juga masuk dalam daftar passion saya, hanya saja travel membutuhkan perencanaan, waktu dan biaya lebih, jadi tidak bisa saya lakukan semaunya saja. Ketika sebagian besar wanita memasukkan belanja dalam passion hidup mereka, saya hanya menganggap belanja sebagai ‘pelarian’. Bagaimana dengan blogging, hmm kegiatan ini sudah masuk dalam kategori pengaktualisasian diri, dan bagi saya kedudukannya lebih tinggi dibanding passion.

Passion pertama dalam hidup saya: film. Cukup cari saya di bioskop pada hari libur, saya pasti beredar disana untuk menonton film terbaru. Jika tidak ada film yang menarik, maka saya akan berada di kamar, sibuk memutar keping DVD berbagai genre film.


Dengan sebuah film, baik fiksi maupun kisah nyata, saya dapat melihat kisah hidup seseorang, mencoba memahami perasaan mereka, belajar tentang kebudayaan negara lain, plus dimanjakan dengan visualisasi melalui setting sebuah film. Berhubung jenis film di Indonesia kebanyakan didominasi film produksi Hollywood, jadi saya selalu menantikan dan menikmati berbagai festival film. Sangat menyenangkan dapat menjelajahi berbagai tempat di dunia ini dan mempelajari kebudayaannya melalui sebuah film.

Passion saya pada musik sejalan dengan kecintaan saya dengan radio. Sejak SMP saya bercita-cita menjadi penyiar radio. Pasti menyenangkan jika dapat mengetahui perkembangan musik terbaru, setiap hari bisa memutar musik favorit, dan bekerja sesuai minat, begitu pikir saya. Tidak mudah memang menjadi penyiar, tapi saya beruntung dapat mencicipi pengalaman itu di bangku kuliah. Bagi saya, tidak ada pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain bekerja sesuai passion yang dimiliki.

Setiap musik memiliki sebuah cerita hidup dan kenangan di dalamnya. Melalui sebuah musik, saya dapat menyusun garis waktu dan bercerita banyak dari memori yang secara langsung terputar ulang. Saat mendengar lagu Sheila on 7 misalnya, saya langsung teringat masa-masa SMU dan kekonyolan teman-teman yang mengidolakan personilnya. Jadi jangan salahkan saya jika sering senyum-senyum sendiri atau tiba-tiba termenung saat mendengarkan sebuah musik.


Musik dapat mempengaruhi mood dengan hebatnya. Sejenuh dan sebosan apapun, saya cukup mendengarkan musik kesukaan, ikut menyanyikan beberapa lirik, tersenyum saat mengingat beberapa cerita hidup yang bermunculan, dan beberapa menit kemudian perasaan menjadi lebih baik. Karena itu, saya selalu mengawali hari dengan mendengarkan radio, cara ampuh menyemangati diri sendiri untuk bekerja seharian.

Saya cinta buku, hanya saja saya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca. Belum lagi sifat saya yang detail oriented dan perfeksionis ikut mempengaruhi. Saya ingin mempunyai waktu khusus untuk membaca, tanpa gangguan. Mood saya juga harus bagus, jadi saya dapat merasakan mood yang ingin disampaikan dari buku tersebut. Belum lagi saya ingin membaca kata per kata dari sebuah buku, tidak cukup rasanya kalau membaca cepat atau skimming saja. Hal-hal kecil dan tidak penting ini akhirnya membuat beberapa buku menjadi tertunda untuk dibaca.  


Banyaknya kalimat yang dibaca dalam sebuah buku membuat otak saya terasa hidup kembali. Saya sudah teramat bosan dihadapkan dengan deretan angka dari Senin - Jumat, jadi saya butuh limpahan kalimat untuk menyeimbangkannya. Penggunaan kata dan kalimat yang ditulis dalam buku memperkaya kosa kata saya saat menulis blog. Sayangnya beberapa bulan ini saya belum membaca satu buku pun, jadi pilihan kata saya di blog sedikit monoton dan membosankan :(


Tiga passion dalam hidup saya dan membuat hari-hari lebih berwarna, bermakna, dan menyenangkan. Apa passion kalian? Share sama saya ya :)

Sabtu, 16 Januari 2010

Prihatin Dengan Kualitas Film Indonesia

Tahun 2010 baru berjalan 17 hari dan produksi film dalam negeri sudah mulai membanjir. To be honest, saya agak sedikit malas menonton film dalam negeri, kecuali film produksi Hanung dan Miles. Bukannya saya tidak cinta produk dalam negeri, saya hanya muak dengan film Indonesia yang didominasi tema horor, komedi seks, dan cinta-cintaan yang terlalu dramatis. Belum lagi kebanyakan tema film Indonesia hanya mengikuti trend, saat film Islami booming, maka rumah produksi yang lain akan membuat film dengan tema serupa. Huh, tak kreatif.

Salah satu moment menonton film Indonesia yang membuat saya bangga dengan negeri ini adalah saat saya menghadiri JIFFest tahun kemarin. Saat itu 15 film Indonesia diputar dengan berbagai genre, menunjukkan betapa beragamnya cerita yang dapat diinterpretasi dalam sebuah film. Dengan originalitas dan kreativitas para pembuatnya, film-film tersebut tidak kalah hebat dengan film dari negeri seberang. Bangga rasanya saat film dari negeri sendiri dihargai dan diapresiasi oleh masyarakat dari negeri tetangga. Dengan banyaknya orang asing yang menonton film Indonesia saat JIIFest kemarin, saya berharap mereka dapat membuka mata bahwa produksi film Indonesia juga dapat bersaing secara internasional.

Tetapi awal tahun ini saya kembali miris. Hari untuk Amanda yang notabene jauh lebih bermutu dibanding Suster Keramas dan Ssstt Jadikan Aku Simpanan malah sudah terdepak dari studio-studio besar di Bogor, padahal film ini baru dirilis minggu kemarin. Yang lebih menyebalkan, film ini sama sekali tidak masuk dalam jaringan XXI, hanya bisa dinikmati lewat jalur 21. Dari tiga film Indonesia yang saya sebutkan di atas, malah Ssstt Jadikan Aku Simpanan yang masuk ke XXI. Satu pertanyaan saya: What the hell was Acha Septriasa thinking when she decided to accept that movie? Suster Keramas yang sudah tiga minggu beredar di seluruh bioskop kota Bogor sampai saat ini juga belum terdepak.

Saya sempat mengungkapkan kekesalan ini melalui status Facebook, semua yang mengomentari status saya adalah laki-laki. Rata-rata mereka mengatakan hal tersebut dikarenakan selera masyarakat Indonesia yang lebih menggemari film komedi seks. Ya, saya setuju dengan hal tersebut, selera masyarakat negeri ini memang menjurus ke arah sana, tetapi menurut saya rumah produksi juga memiliki kontibusi terhadap situasi ini.

Rumah produksi hanya memprioritaskan keuntungan yang akan diraih dengan membuat sebuah film, tanpa memikirkan esensi dari film tersebut, mendidik atau tidak. Akhirnya mereka membuat film dengan tema yang pasti diminati sebagian besar masyarakat Indonesia: horor dan komedi seks. Padahal masih banyak film dengan tema lain yang diminati masyarakat, seperti film untuk anak-anak (yang pasti akan ditonton satu keluarga lengkap: Petualangan Sherina, King, Garuda di Dadaku), film bertema persahabatan (Mengejar Matahari, Pencarian Terakhir) atau film bertema nasionalisme (Soe Hok Gie, Ruma Maida, Jamila dan Sang Presiden).

Aaahhh... sebal sekali rasanya jika sebuah film bermutu harus kalah bersaing dengan film ecek-ecek yang hanya mengedepankan keseksian para pemainnya semata. Lalu, apa yang bisa saya lakukan agar produksi film dalam negeri ini bisa meningkat dari segi kualitas? Huff... sampai sekarang saya belum tahu jawabannya (mungkin kalian bisa bantu), saat ini saya hanya bisa mengkritik film ecek-ecek tersebut melalui blog dan facebook, rajin mengikuti berbagai festival film untuk menunjukkan apresiasi saya, dan menulis resensi film yang berkualitas disini (dengan harapan yang membaca tulisan saya juga dapat tergerak menonton dan mengapresiasi). Semoga usaha kecil dari saya ini dapat berguna.

Untuk review minggu ini, saya hanya sempat menonton Hari Untuk Amanda dan membaca dua buku terbitan dalam negeri (maaf...saya nggak bisa nonton banyak film minggu ini. Alasannya ada dua: cekak, dan nggak ada film menarik lain di Bogor).

Hari Untuk Amanda
Pertama kali lihat thrillernya saya langsung bilang "Saya harus nonton film ini". Thrillernya catchy plus lagu soundtracknya match banget. Must be a good film I guess. Dan ternyata tebakan saya benar, muka saya sembab banget waktu keluar dari studio.



Sepuluh hari lagi Amanda (Fanny Fabriana) akan menikah dengan Dody (Reza Rahardian), tetapi Amanda masih dibayang-bayangi masa lalunya bersama Hari (Oka Antara). Hari masih sering mengirim sms berisi kata-kata mesra untuk Amanda, puncaknya adalah ketika Hari mengirim kotak yang berisi seluruh kenangan selama delapan tahun mereka berpacaran.  Amanda memutuskan untuk menghadapi masa lalunya dan menemui Hari. Tak disangka, ternyata satu hari yang dihabiskan Amanda bersama Hari membuat Amanda bingung dengan keputusannya. Apakah Amanda akan tetap bersama Dody yang sibuk namun memiliki masa depan pasti, atau memilih Hari yang santai, spontan, dengan slogan khasnya "Hidup ini santai kaya di pantai, slow kaya di pulaw".

Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko ini mengambil tempat di Jakarta yang khas dengan segala keunikannya: macet, panas, pengamen, busway, tempat makan di Blok S, sampai ke pasar Mayestik. Yang menarik, film ini hanya berfokus di satu hari, dari pagi sampai malam, dari Amanda yang jutek abis terhadap Hari sampai akhirnya sikap Hari meluluhkan Amanda. Hari juga dengan setia menemani Amanda melakukan berbagai persiapan pernikahan yang seharusnya dilakukan bersama Dody, mulai dari mengantar surat undangan sampai fitting baju pengantin. Satu lagi, lagu-lagu sountrack film yang didominasi oleh Alexa dan Pure Saturday sangat mendukung mood film.

Curhat colongan: masih ingat tulisan saya tentang Kampus Sejuta Kenangan? Kurang lebih film ini mengingatkan saya dengan mantan. Seseorang yang telah menemani saya selama empat tahun, mengajarkan begitu banyak hal, namun jalan kita memang berbeda. Sampai kapan pun kamu akan menjadi seseorang yang spesial untuk saya, kita hanya tidak ditakdirkan untuk bersama. Cheers for your new life dear.

Surat Kecil Untuk Tuhan
Menceritakan perjuangan hidup Gita Sessa Wanda Cantika (keke) yang mengidap kanker jaringan lunak di daerah mata. Kanker yang dialami termasuk jenis kanker langka dan jarang ditemui dalam dunia kedokteran. Dokter menyarankan operasi dengan kompensasi sebagian wajah keke akan diangkat, namun hal tersebut ditolak keluarga. Ayah keke mengupayakan pengobatan alternatif namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya keke menjalani rangkaian proses kemoterapi untuk membunuh kanker tersebut.

Keajaiban terjadi, setelah melewati kemoterapi selama enam sesi, kanker di wajah keke menghilang. Namun kebahagiaan tersebut hanya bertahan selama empat bulan, kanker itu datang lagi dan menyerang mata kanan keke. Keke tidak menyerah, dia tetap berjuang agar kembali memenangkan pertempurannya melawan kanker. Proses kemoterapi kembali dia jalani, tetapi karena jarak antara kemoterapi sebelumnya dan yang sekarang sedang dilakukan terlalu dekat maka tubuh keke bereaksi menolak obat yang dimasukkan. Seluruh tubuh Keke biru-biru akibat suntikan obat kemoterapi sehingga tidak ada tempat lagi untuk memasukkan obat tersebut. Tidak ada pilihan lain, obat diberikan melalui selang yang dimasukkan melalui hidung, langsung ke paru-paru (sumpah, saya mual waktu baca bagian ini). Cara pengobatan ini dilakukan selama tiga sesi kemoterapi. Tuhan, keke masih 14 tahun waktu itu. Sayangnya, setelah kemoterapi selesai dilakukan, kanker tetap bercokol dan tidak mau hilang, dokter pun sudah angkat tangan. Akhirnya keke meninggal di usia 15 tahun.

Kisah keke pernah diulas di acara Kick Andy. Sebuah kisah perjuangan hidup yang menginspirasi, mengajarkan kita agar tidak mudah menyerah terhadap keadaan. Saya hanya kecewa dengan cara penginterpretasian kisah keke oleh Agnes Danovar. Buku ini hambar, dialog yang ditulis terasa kaku dan tidak mengalir, belum lagi pilihan kata yang "ganggu" banget bagi saya, seperti sobat (untuk menyebut para pembaca) dan kekasihku (aaiiihh...hare gene kekasih???). Beberapa bagian cerita juga mengganggu mood yang sudah terbangun, contohnya ketika keke jalan-jalan bersama sahabatnya ke Bandung dan dia menulis pengalaman tersebut di mading, nggak penting dan nggak berhubungan dengan inti cerita. Well, saya tidak terlalu merekomendasikan bukunya, tetapi kalau kalian mau beramal, silahkan beli buku ini, karena sebagian hasil dari penjualan akan disumbangkan.

Boulevard de Clichy (Agonia Cinta Monyet) 
Berhubung pengarangnya, Remy Sylado, salah satu sastrawan Indonesia, maka buku ini "berat" banget. Berat dalam arti kata sesungguhnya, 672 halaman, dan berat dari pilihan kata yang digunakan. Prosa, sastra, peribahasa, perumpamaan, semuanya bertaburan dari halaman awal sampai akhir. Saya berasa belajar bahasa Indonesia lagi. Terkadang saya nggak sanggup baca buku ini karena di beberapa bagian bahasa yang digunakan sedikit vulgar dan kotor.

Nunuk dan Budiman saling jatuh cinta, cinta monyet, sangking monyetnya cinta itu maka berlanjut ke tempat tidur. Nunuk hamil, namun orangtua Budiman tidak menyetujui pernikahan mereka berdua. Mengapa? Karena Nunuk berasal dari keluarga miskin dan Budiman keluarga kaya raya (aaahh.. Klise banget). Akhirnya Nunuk memutuskan untuk pergi ke Belanda, belajar ilmu akting dan melahirkan bayinya disana. Nunuk mendapat tawaran menari dan menyanyi di sebuah teater populer Paris, di Boulevard de Clichy. Apakah teater populer itu? Sebuah bentuk seni menyanyi, menari, dan telanjang. Ternyata Budiman juga pergi ke Paris untuk kuliah, tetapi mereka berdua tidak pernah bertemu. Sampai suatu ketika Nunuk melihat Budiman yang menghadiri pementasannya,tetapi Budiman tidak mengenali Nunuk karena dipengaruhi oleh jampi-jampi (yeah, masih pake ilmu perdukunan di buku ini). Lalu bagaimana kelanjutan kisah Nunuk dan Budiman? Hhhmm...rasanya nga adil kalau saya beberkan disini. Kalau ada yang minat baca buku ini, hubungi saya saja, dengan senang hati saya pinjamkan.

That's all for this week guys... Thanks for reading :D

Sabtu, 09 Januari 2010

The Secret of Sherlock Holmes and Alvin and The Chipmunks2

Hohoho....bukaaannn, saya bukannya tau rahasia tentang film Sherlock Holmes dan Alvin and The Chipmunks 2. Saya cuma mau me-review buku The Secret dan kedua film tadi, plus satu tambahan upcoming movie: Hachiko.

The Secret by Rhonda Byrne.
Jujur, saya penasaran dengan buku ini. Heran, di Amerika sana kok heboh banget ngebahas The Secret, bahkan Oprah juga berkali-kali membahas plus memboyong para penulisnya dalam talk show beliau. Karena waktu itu bukunya belum terbit di Indonesia, saya lumayan bingung ngikutin obrolan tante Oprah.

Hmm...agak sedikit syusyah dan berat siihh ngebahas buku ini. Butuh waktu yang cukup lama sampai saya selesai membaca plus meresapi teori-teorinya. Esensi dasar dari The Secret adalah adanya hukum tarik menarik di alam semesta. Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda, ditarik oleh diri Anda sendiri ke dalam hidup ini. Hukum tarik menarik juga mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke dalam diri Anda.

Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi. Ketika kita memikirkan pikiran-pikiran, maka pikiran-pikiran itu dikirim ke alam semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu akan kembali ke sumbernya, Anda. Pikiran yang sedang Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai kehidupan Anda.

Haaa...saya yakin, kepala pasti langsung nyut-nyutan baca ringkasan The Secret di atas. For simple, saya menginterpretasikan statement di atas seperti ini: saya adalah apa yang saya pikirkan. Jika saya memikirkan sesuatu hal yang buruk atau jelek, maka segala hal yang buruk akan datang kepada saya (kemiripan menarik kemiripan), begitupun sebaliknya, jika saya memikirkan hal yang baik, maka alam semesta akan merespon dan mendatangkan semua hal baik ke dalam hidup saya. Hukum tarik menarik The Secret menurut saya lebih mirip dengan hukum sebab akibat, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai, apa yang kita berikan kepada lingkungan, maka lingkungan akan merespon hal yang sama dengan yang kita lakukan.

I Hate Monday, pasti semua orang pernah mengeluarkan statement seperti itu. Tapi sebenarnya, hal ini disebabkan karena pikiran kita sendiri. Kita selalu membayangkan Senin sebagai hari yang menyebalkan, mengawali hari dengan malas bangun tidur, menghadapi kemacetan ibukota, dan setumpuk pekerjaan yang telah menanti. Tanpa disadari, alam semesta merespon semua pikiran ini dan terciptalah semua hal-hal menyebalkan tersebut. Coba kalau kita mengawali hari dengan senyum cerah dan optimis. Hasilnya? Alam semesta akan memberikan apa yang kita pikirkan dan hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Begitulah pikiran bersifat magnetis bekerja.

Buku ini juga membahas cara menggunakan rahasia untuk membantu kita menciptakan apa yang kita inginkan melalui tiga langkah sederhana: meminta, percaya, dan menerima. Pertama: meminta apa yang kita inginkan kepada alam semesta adalah kesempatan untuk menjelaskan apa yang kita inginkan kepada diri sendiri. Kedua: percaya melibatkan bertindak, berbicara, dan berpikir seakan-akan kita sudah menerima apa yang kita minta. Ketiga: menerima melibatkan perasaan seperti yang kita rasakan ketika permintaan kita terwujud.

Percaya atau tidak dengan teori di atas? Itu tergantung pribadi Anda. Saya memang tipe pemimpi yang menginginkan banyak hal, tetapi saya sadar untuk meraih semua itu diperlukan usaha dan kerja keras. Saya juga melihat hukum-hukum dalam The Secret nga jauh beda dengan kekuatan berpikir positif. Jika kita selalu positive thinking, maka lingkungan akan merespon seperti demikian. Satu hal lagi yang diajarkan buku ini dan mungkin terlupakan oleh kita: selalu bersyukur, karena hal tersebut akan mendatangkan lebih banyak kebaikan dalam kehidupan ini.

Sherlock Holmes.
Salah satu film yang saya tunggu-tunggu dari tahun 2009 kemarin. Saya yakin, film ini akan menyedot perhatian pecinta film dan penggila cerita detektif. Bersetting London akhir abad 19, film besutan Guy Ritchie ini menampilkan sosok Sherlock Holmes yang sangat berbeda. Disini Holmes, diperankan oleh Robert Downey Jr, terkesan tidak pedulian, bahkan jorok, sering teler saat bosan, dan bermain biola. Holmes juga ditampilkan sebagai seorang petarung. Pengambilan gambar saat Holmes sedang bertarung benar-benar mencengangkan, pertama rekaan pukulan dan tendangan Holmes direkam dalam gerak lambat, plus dijelaskan dampak dari serangan tersebut, kemudian gerakan tersebut ditampilkan kembali dalam gerakan cepat.

Holmes bersama dr. Watson (Jude Law) menggagalkan upaya pengurbanan gadis yang dilakukan oleh Lord Blackwood (Mark Strong). Blackwood yang dihukum mati ternyata bangkit dari kubur dan menciptakan teror kepada masyarakat. Teror ini sengaja digunakan agar Blackwood dapat menguasai Inggris. Penyingkapan misteri Blackwood yang dilakukan Holmes dan dr. Watson diganggu oleh kehadiran Irene Adler (Rachel McAdams). Adler sendiri bekerja atas permintaan seseorang yang dalam karangan Doyle akan menjadi lawan berat Holmes.

Seperti cerita detektif lain, kita akan disuguhi potongan-potongan gambar yang  di akhir cerita menjelaskan seluruh misteri di dalam film. Analisis Holmes yang menggunakan pendekatan rasional akhirnya mematahkan semua cerita takhayul yang sengaja Blackwood ciptakan.

Alvin and The Chipmunk: The Squeakquel.
Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik menonton film ini, Alvin and The Chipmunks yang pertama saja tidak sempat saya lihat. Lalu, apa yang membuat saya tergerak untuk melihat film ini? Lagu-lagu populer dinyanyikan dengan suara tupai plus gaya menari mereka, totally fun!!!

Dalam Alvin adn The Chipmunks2, Dave (Ayah Alvin dkk) mengalami kecelakaan dan harus dirawat di RS. Alvin dkk akhirnya harus dirawat Toby (Zachary Levi) dan menjalani kehidupan sekolah. Konflik dimulai ketika Alvin diterima dalam tim football dan melupakan dua saudaranya, Simon dan Theodore. Sementara itu, Ian (David Cross) yang masih menyimpan dendam terhadap The Chipmunks membentuk band tupai wanita, The Chipettes. The Chipmunks dan The Chipettes akhirnya bertanding untuk mewakili sekolah dalam kegiatan pengumpulan dana.

So far, filmnya biasa saja menurut saya. Humor yang ditampilkan kurang menghibur. Tetapi, seperti saya katakan sebelumnya, lagu-lagu yang ditawarkan keren-keren. Saya paling suka saat The Chipettes menyanyikan lagu Single Ladies dan bergaya ala Beyonce. Satu hal yang mengejutkan, film ini menampilkan Charice Pempengco yang membawakan lagu No One nya Alicia Keys.

Sedikit tentang Charice Pempengco.
Gadis berusia 16 tahun asal Filipina ini "ditemukan" oleh Oprah melalui YouTube. Setelah tampil di Oprah, dia tampil bernyanyi bersama Celine Dion dan "diasuh" secara langsung oleh David Foster.

Suaranya benar-benar hebat. Dan ternyata, ada kisah sedih di balik suara indah Charice. Dia berasal dari keluarga broken home yang melihat langsung saat sang Ibu ditembak oleh Ayahnya sendiri. Sejak itu, Charice mengikuti kontes menyanyi dengan tujuan mendapatkan uang untuk makan. Hmm, saya jadi ingat kisah serupa pemenang American Idol, Kelly Clarkson yang juga berasal dari keluarga broken home.

Film yang saya tunggu: Hachiko.
Diambil dari kisah nyata, Hachiko akan segera tampil di layar lebar. Saya hanya menyayangkan kenapa tidak bersetting di Jepang, negara asal cerita ini.

Hachi selalu mengantar majikannya, Profesor Ueno, ke stasiun shibuya untuk berangkat ke kampus, dan menjemput kembali ketika sore menjelang. Suatu hari Prof Uneo meninggal di kampus, tetapi Hachi yang tidak mengetahui dan tidak mengerti tetap menjemput majikannya ke stasiun Shibuya.

Setelah kepergian Prof Ueno, Hachi tidak terurus dan berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan yang lain. Rumah majikan Hachi yang terakhir berdekatan dengan stasiun Shibuya, dan di jam-jam Prof Ueno pulang, hachi tetap setia menunggunya di stasiun. Hachiko menginggal di usia 13 tahun, tidak jauh dari stasiun. Kisah Hachiko ini menggugah para penduduk Jepang, dan pematung Teru Ando membuat patung Hachiko. Patung tersebut saat ini berdiri di halaman stasiun Shibuya, dengan setia menyambut para penduduk Jepang yang keluar dari stasiun.

Saya nga yakin bakalan kuat nonton film ini, saya paling cengeng kalau nonton film bertema binatang. Tapi ini adalah kisah persahabatan manusia dan anjing yang paling saya sukai, cant wait for the movie.

Sabtu, 02 Januari 2010

Buku Minggu Ini.

Ada dua hal yang saya lakukan untuk me-refresh diri selama long weekend kali ini. Pertama, maraton nonton film bioskop gratisan di TV yang naujubile-iklannya-lama-bin-banyak-banget. Dan yang kedua, sudah pasti untuk membaca. Berhubung film-film yang diputar di TV termasuk kategori film lama yang saya yakin sudah ditonton berulang kali, jadi saya memutuskan untuk membahas beberapa buku yang berhasil saya selesaikan selama 3hari ini.

UTUKKI. Sayap Para Dewa.
Perkenalan saya dengan karya Clara Ng berawal dari cerpen bersambung Tea for Two di Kompas. Saya hanya sempat membaca koran di hari sabtu dan minggu, sehingga saya tidak mengikuti ceritanya secara utuh. Walau demikian, dari cerita yang sepotong-sepotong itu saya sudah terpikat dengan cara Clara Ng bertutur dan berkisah.

Mengambil setting pada jaman Mesopotamia 5000SM dan Jakarta tahun 2000, Utukki menceritakan kisah cinta antara Thomas dan Celia di kota Jakarta. Kemudian alur mundur ke Mesopotamia 5000SM dimana Nannia (Utukki ke delapan) jatuh cinta dengan Enka, pemuda kelahiran manusia biasa. Karena Nannia keturunan dewa, maka hubungan mereka berdua tidak direstui oleh Dewa Anu (Dewa langit sekaligus ayah Nannia). Keadaan bertambah rumit ketika Dewi Ishtar (dewi cinta dan perang) juga jatuh cinta dengan Enka. Akhirnya Dewa Anu memutuskan cinta Nannia dan Enka harus diuji ribuan tahun lamanya, jika mereka berhasil membuktikan keteguhan cinta masing-masing, maka mereka akan bersatu, tetapi jika tidak, maka Enka akan menjadi milik Ishtar. Di masa depan, Nannia bereinkarnasi manjadi Thomas, dan Enka menjadi Celia. Ishtar menculik Celia ke kerajaan dewa-dewi, dan Thomas harus berjuang membebaskan Celia sekaligus membuktikan kesungguhan cinta mereka berdua.

Novel terbitan tahun 2006 ini saya temukan terdampar di tumpukan buku diskon dan saya beli hanya dengan harga Rp. 15.000. Saya tidak pernah skeptis menilai isi dari sebuah buku diskon. Saya yakin, pasti ada alasan mengapa sebuah buku bisa dibandrol dengan harga sedemikian murah. Secara keseluruhan, dapat saya katakan novel ini agak sedikit membosankan. Walau demikian, saya tetap nga rela melepas buku ini sebelum selasai membaca sampai halaman terakhir. Cara bertutur Clara Ng selalu memikat sehingga lembar demi lembar halaman berlalu tanpa terasa. Betapa briliannya imaji seorang Clara Ng sehingga dia bisa menciptakan tokoh fiksi dunia dewa-dewi dan mengaitkannya dengan dunia mahkluk hidup. Flash back yang ditampilkan juga berjalan dengan mulus dan tidak mengganggu alur cerita. Mitos, dongeng, fantasi, dan legenda, semuanya tercampur baur menjadi satu dalam buku ini.

My Stupid Boss
Buku terbitan tahun 2009 ini pasti sudah tidak asing lagi. Sayangnya saya baru sempat membaca sekarang, jadi mungkin review kali ini akan terlihat membosankan.
Berawal dari curhatan pribadi penulisnya di blog http://chaosatwork.blogspot.com maka Gradien Mediatama (sebuah line penerbitan baru yang juga menerbitkan Anak Kos Dodol) mencetak My Stupid Boss dalam bentuk sebuah buku. Nama penulis aslinya sampai saat ini masih dirahasiakan, biasa dipanggil Kerani (dalam bahasa Malaysia artinya admin, karena dia memang bekerja sebagai kepala admin) atau Chaos@work. Saat ini Gradien Mediatama sudah menerbitkan My Stupis Boss 2, dan sedang mengumpulkan naskah dari kita-kita untuk dimuat dalam My Stupid Boss Fans Stories, jadi kalau kalian minat untuk menceritakan kedodolan boss masing-masing, bisa mengirim naskahnya ke pestanaskahgradien@yahoo.com paling lambat 11 Januari 2010 dan jika tiada boss yang merintangi buku ini akan terbit 1 April 2010 (April mop). Just check the chaos@work blog Ok.

Yang pasti, selama saya membaca My Stupid Boss, saya nga cuma ketawa ngakak, tapi juga mikir "bisa kena serangan jantung gw klo punya boss kaya gini". Kok ada ya boss sedodol, sepelit, semenyebalkan, se-nga-tau-diri kaya dia. Dan saya merasa boss saya saat ini adalah boss terbaik seluruh dunia. I Luv U so much deh Boss.

Ada cerita lucu lain di balik buku ini. Seorang teman baru membeli My Stupid Boss dan stupidnya dia, buku tersebut DIBAWA ke kantor. Iya sodara-sodara, DIBAWA dan dibaca (plus ketawa ngikik-ngikik) di kantor!!! Tanpa disadari sang boss tersebut melihat buku tersebut. Keesokan harinya:
Boss (sambil melemparkan buku pedoman SOP yang ajegile-tebel-banget): "Nih, baca buku ini, jangan baca buku kaya begituan".
Teman: ........................................
Dan saya pun mengulangi kedodolan yang sama. Ketika buku-buku pesanan datang ke kantor, amplopnya langsung saya buka, dan buku tersebut saya tumpuk rapi di atas meja kerja. And you know what? Buku My Stupid Boss saya simpen di tumpukan paling atas. Aaaahhhh...stupidnya saya.

Merantau + whatever
Saya selalu salut dengan penulis yang berusaha menerbitkan tulisan di blognya, apalagi dengan line penerbitan sendiri. Seperti Andrei Budiman yang menerbitkan buku Travellous dengan line penerbitan Travellous Publishing yang dia buat sendiri. Begitupun buku ini, diangkat dari blog http://merantautheseries.wordpress.com dan mengambil nama Mahakarya Publishing, maka buku ini terbit secara independen.

Buku yang mengangkat pengalaman merantau di negeri orang ini ditulis secara keroyokan oleh 9 orang, dengan 2 bahasa, mengarungi 5 negara dan 7 kota, memuat 82 kisah, dan terbit dengan 2 cover. Sebuah tagline yang sangat menarik. Karena belum terbit di toko buku besar, maka pemesanan hanya bisa dilakukan secara online atau menghubungi langsung contact person. Cukup mengejutkan, ketika saya memesan dan memberikan alamat kantor, Brilliant Yotenega (salah satu penulis plus penerbit) mengatakan kantornya tidak jauh dari kantor saya. Akhirnya kami bertemu dan saya buku saya ditandatangani dia :)

So far...buku ini mengecewakan. Satu-satunya penulis yang benar-benar kompeten hanyalah Wuri Handayani. The others? Cuma numpang lewat doang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, jadi setiap kisah diceritakan dengan dua versi (kecuali Wuri yang selalu menulis dengan bahasa Indonesia). Setiap cerita mencantumkan komentar dari pembacanya, yang menurut saya nga penting banget karena mengganggu mood saat membaca, apalagi komentar dituliskan dalam bahasa Jawa yang notabene nga saya ngerti. Saya merasa di diskriminasikan ketika membaca buku ini, kesannya buku ini memang hanya ditujukan untuk orang Jawa.

Cerita yang dituliskan tidak berurut, misalnya dari setelah kisah tanggal 13 Februari, lalu berlanjut dengan cerita tanggal 4 Februari. Memang dua cerita ini tidak berhubungan, tetapi akan lebih baik jika ditulis secara berurut. Dan hal yang paling parah dari buku ini adalah: belum memiliki ISBN. Waduuuuhhhh....saran untuk para penulis buku Merantau + Whatever, sebaiknya bukunya direvisi besar-besaran sebelum naik cetak lagi, dan dikelola dengan lebih serius. Jangan sampai, karena beberapa independen label menerbitkan buku dengan cara seperti ini masyarakat akan memandang remeh (kembali) dengan buku-buku terbitan independen. Kasihan sama mas Andrei Budiman yang udah mati-matian berusaha membuktikan kalau independen label itu bisa eksis seperti major label.

Dari 82 kisah yang ditulis, saya hanya puas membaca 8 cerita. Tujuh milik wuri, dan satu milik Byotenega. Ini salah satunya:
Merantau + An...jrit!
"Anjrit. AN.....jrit. Annnn...jrit"
"Wo, kamu kenapa?"
"Annnnnjrit.. Annnjriit. Aannnnn jeriiit"
"Woo.. kamu mabuk kah? Kok bicara-bicara sendiri? gak jelas lagi ngomong apa?"
"Anjritt..A..nn...jee...ri..tt. an je rit"
"Wooooo!!!! Heeeyyy??? Helllloowwww?"
"Eh..gak apa-apa, Le. Aku sedang belajar ngumpat cara Jakarta. Kalo Surabaya kan ngumpatnya: c*k gitu kan, lah kalo Jakarta ini lagi ngetrend ngomong: 'An...jee...riit' itu tadi"
"Ohhh..."
"Le, aku ini ya bingung. Anjrit itu maksudnya apa ya? Gak ngerti aku"
"Lahhh anjrittt... itu kan temennya Kucritttt! Seperti Tom en Jeri. Anjrit dan kucritt. Begitu Wo"
"Ooooo...begitukah?"

Drunken Monster
Diangkat dari blog http://pidibaiq.multiply.com/journal Pidi Baiq menceritakan catatan hariannya melalui buku Drunken Monster. Review yang saya baca mengatakan buku ini lucu banget, bisa ketawa sampe guling-gulingan. Tapi ko saya beda ya? Heran. Saya cuma mampu terkekeh atau tersenyum saja. Humor yang ditawarkan buku ini cukup menyentil dan terkadang sinis. Contohnya saat Pidi Baiq mengajak tiga orang tukang becak untuk naik mobil dan menemaninya makan di kafe. Ketiga tukang becak ini merasa mereka tidak pantas berada dalam kafe tersebut, apalagi dengan pakaian kebangsaan mereka. Setelah mereka selesai memesan makanan Pidi ijin ke toilet, padahal dia pindah ke kafe seberang dan memperhatikan ketiga tukang becak ini dari kejauhan. Setengah jam kemudian Pidi kembali ke kafe tersebut dan voila....ketiga tukang becak tersebut belum menyentuh makanan mereka sama sekali.

Pidi cukup berani menulis dengan gaya yang sangat tidak lazim. Berantakan. Kalimat yang disusun juga tidak beraturan. Tapi justru itulah kelebihan dari buku ini. Dan jika diselami lebih dalam, saya rasa buku ini cukup berat, karena saya cukup memutar otak untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan penulisnya.

Selasa, 29 Desember 2009

Can't hardly wait for another long weekend

Oooohhh...look at those books...
I really can't hardly wait for another long weekend.

 Just me...those great books...a cup of tea...some relaxing music...and I'll be in heaven :) 

(Books in this pict: The secret by Rhonda Byrne, Drunken Monster by Pidi Baiq, My Stupid Boss by Chaos@work, Tea for Two by Clara Ng, Merantau+whatever by Byotenega dkk, and my beloved magazine: CitaCinta).