total ping

Tampilkan postingan dengan label ShopaLover. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ShopaLover. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

Fake Luxury

Pernah membeli barang imitasi? Barang aspal alias asli tapi palsu? Atau yang sedang tren sekarang adalah barang KW, mulai dari KW super, KW1, dan KW2. Kualitas yang disingkat menjadi KW ini biasanya menunjukkan derajat kemiripan barang palsu dengan yang asli, semakin rendah tingkatan KW maka kualitasnya akan semakin jelek dan harganya pun lebih murah. Barang imitasi, aspal, atau KW biasanya menjiplak habis sebuah model dari suatu brand terkenal. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga meng-emboss barang palsu dengan logo dari brand yang dijiplak. Dengan demikian, untuk mata orang awam tidak akan terlihat bedanya, mana yang asli dan palsu.

Rasanya sekarang masyarakat sudah tidak malu lagi memakai barang KW ini, penjualannya pun dilakukan secara terang-terangan. Pemalsuan brand sudah tentu merugikan banyak pihak: pemegang lisensi resmi atas brand yang bersangkutan, designer yang susah payah merancang, dan merugikan negara karena kita tidak membayar pajak atas barang tersebut. Yang pasti, memakai barang KW mencerminkan mental kita sebagai mental pembajak.

Untuk kalangan sosialita, adalah haram hukumnya jika memakai barang palsu. Sekali ketahuan memakai barang KW, maka untuk selamanya dia akan dicap sebagai pemakai barang imitasi. Tidak akan dipercaya lagi walau ia memakai barang asli sekalipun. Tetapi saya, anda, dan kita, bukanlah sosialita dari kalangan jetset. Tetap saja, alasan ini tidak bisa dijadikan pembenaran untuk ikut-ikutan memakai barang KW.

Saya pribadi sudah pasti tidak mampu membeli tas merk LV, Guess, atau Chanel yang harganya berpuluh-ratusan juta. Jika saya memakai tas palsu yang meng-emboss brand tersebut, bukankah saya sudah membohongi diri sendiri? Masyarakat pun bisa menilai kalau karyawan-kantoran-yang-setiap-hari-naik-bus-dan-gajinya-pas-pasan seperti saya tidak mungkin memakai tas dari brand yang asli. Jadi untuk apa saya tetap memakai tas dengan emboss brand terkenal tersebut? Yang pasti, saya malu mengenakan benda yang terang-terangan menempelkan brand super-wah yang pastinya tidak terjangkau kocek saya.

Percaya atau tidak, harga tas dan sepatu KW dengan brand terkenal ini harganya pun tidak murah. Kalau begitu, mengapa tetap mengeluarkan uang banyak untuk sebuah barang palsu? Mengapa tidak membeli barang asli dari brand lain yang tidak kalah bagus tapi tetap terjangkau, dengan begitu kita bisa menghindari pembajakan dan tidak membohongi diri sendiri. Dengan status yang notabenene memang bukan sosialita dan bukan anak dari orangtua super-tajir-melintir-lintir, untuk apa memaksakan diri memakai benda bermerk. Akui saja kalau kita saya memang tidak mampu.

Saya pribadi, sudah menempelkan stigma negatif terhadap orang yang dengan bangganya memakai barang KW tanpa merasa bersalah. Pasti terdengar arogan bagi kalian, kesannya saya orang suci yang tidak pernah memakai barang palsu, selalu membeli barang asli yang lebih mahal dari barang asli, dan tidak mau memakai barang murah. Tidak juga tuh...

Jaman kuliah dulu, saya punya satu tas yang mengemboss sebuah merk terkenal. Sayangnya, tas tersebut tidak sempat go public terlalu lama karena saya malu telah membohongi diri sendiri. Saya juga tahu, 40% siswa di kelas saya termasuk golongan anak-tajir-melintir yang mampu membeli barang dengan merk asli.  Rasanya tidak rela kalau harus dihujani tatapan 'You're wearing the fake one right?'. Lebih baik memakai tas biasa tanpa merk daripada terlihat begitu memaksakan diri untuk tampil 'mewah'.

Sekarang, setelah memiliki penghasilan sendiri, saya memilih untuk memakai produk sebuah brand  dalam negeri dengan model dan kualitas yang tidak kalah dengan brand terkenal (sstt, I recommended Capriasi for alternate). Tapi jangan salah, saya juga cinta berbelanja di Ambassador, sebuah surga belanja bagi karyawan kere untuk mencari outfit kantor yang bagus tapi affordable. Bayangkan, rata-rata sebuah tas dibandrol dengan harga 50ribu saja, tapi saya langsung ilfil begitu melihat berbagai logo brand kelas atas yang menghiasi tas tersebut. Sebagai perempuan normal, saya masih cinta barang bagus dengan harga miring, namun saya lebih memilih barang yang tidak memiliki merk atau bermerk independen. Sekarang saya lebih sadar diri untuk tidak menggunakan barang yang menempelkan logo brand terkenal.

Mau memakai barang asli, palsu, imitasi, atau KW adalah pilihan Anda. Yang pasti, ada berbagai alternatif cara yang bisa diambil untuk menghindari penggunaan barang imitasi. Jangan bangga jika Anda memakai barang imitasi karena Anda sedang membohongi diri sendiri, karena Anda secara tidak langsung mendukung pembajakan hak cipta. Seperti mengutip dari Bazaar Indonesia:


Notes: Judul Fake Luxury diambil dari tema Bazaar Style (diputar di O Channel 12 September 2010) yang juga merupakan kampanye Harper’s Bazaar untuk memerangi merk palsu yang marak beredar.

Senin, 15 Maret 2010

U Fm, Nobar, dan Kalap Belanja

"Hari gini denger radio?" Kata teman kantor saya. 
"Perasaan terakhir kali gw denger radio itu pas jaman SMA deh, sejak itu ngga pernah lagi" lanjut dia

Memang sih, jaman sekarang pasti kedudukan radio sudah bergeser dengan penemuan iPod yang dapat menyimpan ribuan lagu. Tapi saya lebih cinta mendengarkan radio dibanding iPod yang lagunya cuma itu-itu lagi. Saya merasa memiliki teman sepanjang perjalanan (PP rumah - kantor memakan waktu selama 5 jam) saat mendengarkan radio. Tidak hanya memutar lagu, radio juga menghadirkan penyiar yang memberi info traffic, gosip, film terbaru, dan banyolan segar yang membuat saya harus menahan tawa (malu diliatin satu bus kalo ketawa ngakak). Saya juga sering mendapat kejutan melalui lagu yang diputar. Siapa sangka, hari ini saya bisa mendengarkan lagu kenangan bareng si mantan, atau lagu perpisahan waktu SMU, atau lagu yang mengingatkan saya dengan TTM nun jauh disana :) Setiap lagu pasti memiliki kenangan tersendiri, dan kenangan-kenangan itu dihadirkan secara mengejutkan oleh penyiar radio untuk pendengarnya.

Saya sempat mengalami krisis identitas saat lulus dari bangku kuliah. Radio pilihan saya dari jaman SMU sampai kuliah adalah Prambors, tetapi saat memasuki dunia kerja saya merasa terlalu tua untuk mendengar Prambors. Saya pun mulai searching line siaran yang dapat menampilkan citra pribadi saya: muda, baru masuk dunia kerja, sedang mencari jati diri, dan ingin menikmati hidup di usia yang sekarang. Pertama saya mencoba mendengar Gen FM dan merasa mual setelah 2 jam mendengarkan (lagunya kurang variatif, dalam waktu 2 jam sebuah lagu yang sama bisa diputar sebanyak tiga kali, dan penyiar tidak komunikatif dengan pendengar), Jak FM pun bernasib sama (ngga heran, Gen FM dan Jak FM berdiri di bawah satu bendera). Track FM? Hhmm, ngga beda jauh dengan Prambors, segmentasinya untuk anak SMU. Delta FM atau Kiss FM? Fiuuhh...saya belum setua itu. Sampai akhirnya, saya membaca label U FM di majalah langganan saya, Cita Cinta.


Pertama kali mampir di U FM, saya mendengar siaran pagi Imam Wibowo (ex-Prambors) dan Claudia Odit Lengkey. Gaya siaran yang fun, ledekan segar antara Imam dan Odit, resensi film, event acara, traffic Jakarta, dan lagu-lagu baru plus lagu lama jaman saya SMU diputar disini. Saya langsung merasa klop dan jatuh cinta dengan radio ini, sekarang U FM menjadi teman perjalanan yang paling setia. U FM bisa didengarkan di frekuensi 94,7 atau live streaming di www.u-fm.com untuk teman blogger yang berada di luar kota.

 Imam and Odit on 'Let Us Scramble Your Morning"

Satu hal lagi yang membuat saya tambah sayang dengan radio ini, U FM royal membagikan tiket nonton bareng. Saya beruntung pernah mendapat 2 tiket nonton New Moon di Setiabudi 21, dan hari sabtu kemarin saya dapat 4 tiket nonton It's Complicated di PS. Tadinya mau ngajak Cipu dan Exort nonton bareng sekalian kopi darat, tapi Cipu udah berangkat ke Vietnam dan saya ngga punya YM Exort, lagipula film ini terlalu 'cewek' dan ngga tepat untuk ditonton bareng mereka. Next time ya guys :p

Saya nobar It's Complicated bareng geng Singapore Ceria plus Sarah (she was my roommate in college too, like Sagi). Saya sendiri sempat heran, ko tumben U FM ngajak nonton film ini, sepertinya terlalu 'tua' untuk segmentasi pendengar U FM, selain itu bioskop yang dipilih terlalu besar. Dan pertanyaan saya terjawab saat melakukan registrasi: bukan cuma pendengan U FM yang ikutan nobar, tapi juga pembaca majalah Pesona dan Femina. Panteeeesss yang nonton kebanyakan Ibu-ibu :p

Saya, Sarah, Nenes, Sagi.

Berbeda dengan ambience nobar New Moon yang dihadiri U FM crew, nobar kali ini rasanya flat, bahkan sepertinya ngga ada kru U FM yang hadir (huks...padahal pengen bikin Sarah yang ngefans abis sama Imam histeris). Saya masih ingat dengan games seru yang diadakan U FM sebelum mulai nobar New Moon, salah satunya bergaya mirip poster New Moon dan para peserta dikerjain abis-abisan sama Imam. Belum lagi celetukan-celetukan khas kru U FM yang bertaburan sepanjang New Moon diputar, sukses bikin film yang seharusnya sedih berubah kocak sejadi-jadinya.
"Waduh, potong rambut kenapa sih. Cupu banget." Komentar Imam untuk rambut Jacob yang masih panjang.
"Wiiiiww...badannya keren bangeeett...Mauuu....." Ini kata Fifi Karamoy ngeliat badan Jacob topless nunjukin perut sixpacknya. Mupeng banget ya Fi :)

Imam Wibowo (He was played in Ruma Maida too)

Antrian saat nobar New Moon

Bergaya ala Edward, Bella, dan Jacob

Dan keputusan saya untuk ngga ngajak Cipu dan Exort nonton It's Complicated sangat tepat. Film ini lebih cocok ditonton geng cewek atau bareng mama tersayang (nyesel juga sih ngga maksa mama untuk ikut nonton). Dibintangi Meryl Streep, Steve Martin, dan Alec Baldwin film ini sukses bikin saya ketawa ngakak. Awalnya memang terasa datar dan membosankan, tetapi komplikasi hubungan Jane Adler dengan mantan suaminya, Jake, dan pacar baru Jane, Alec, membuat film ini penuh dengan berbagai adegan konyol. It's Complicated juga menampilkan manisnya hubungan sebuah keluarga yang telah bercerai, hubungan mantan suami-istri, hubungan kakak-adik, dan tidak ada yang salah dengan memulai kembali sebuah hubungan yang baru, berapa pun usianya. 

Tidak ada gunanya melihat ke belakang dan mencoba memperbaiki hal yang telah terjadi, lebih baik maju ke depan dan memulai sesuatu lebih baik lagi, karena kita telah memiliki satu pengalaman di masa lalu (this notes specially made by me and for me, and for all of you who need that).

Went to Sensi

I just love this pict :)

Selesai nonton ngasih testimoni untuk U FM. Sering-sering ngasih tiket gratis ya :)
Thank you U FM and Universal Pictures
We Love You, mmuahh...

Nobar ini memang sukses membuat saya berkumpul kembali dengan teman kuliah. Memang, mereka paling semangat kalau ada sesuatu dengan embel-embel "gratis". Dan walau acara nobar kemarin berlangsung jam 9 pagi, ngga ada yang komplain akan jam tidur yang harus terpotong. Dasar. Geng Singapore Ceria plus Sarah pun merubah nama menjadi geng Thailand and JIFFest wannabe (padahal kedua acara ini masih lama banget) dan menuju Senayan City. Coba tebak, apa yang terjadi jika teman-teman lama berkumpul (semuanya perempuan), ditambah mall, dikuadratkan dengan diskon gede-gedean di Debenhams?

Relax, I just bought 2 bags and 4 pair of shoes :D

Quite heavy actually :(

My newest shoes :D

Gosh...semoga saya sanggup membaca billing statement bulan depan :p

Kamis, 11 Maret 2010

SG: Last Day and Miscellaneous

Last Day
Hari terakhir di negara ini. Kami hanya memiliki sisa waktu 3 jam untuk berkeliling. Dengan ransel yang beratnya bertambah beberapa kilo tersanding di bahu, kami melangkahkan kaki menuju Bugis. 

Bye Geylang

Sebagian toko di daerah Bugis Street masih banyak yang tutup, tapi Nenes sudah kembali kalap belanja kaos bergambar Merlion untuk oleh-oleh. Sebagian kaos itu berbunyi “I Love Singapore” dan rasanya saya akan sangat berdosa pada Tanah Air jika tega membeli dan memakai kaos tersebut (haha, rasa nasionalisme sedang di titik puncak). Bugis Street memang menyediakan berbagai souvenir sebagai oleh-oleh, tapi harga yang ditawarkan masih kalah murah dibanding dengan Mustafa Centre. Saya dan Sagi lebih kalap di toko yang menjual berbagai aksesoris, harga yang ditawarkan lumayan miring. Sagi menghabiskan hampir SGD 50 selama di Bugis, saya sendiri (untungnya) masih bisa menahan hasrat berbelanja mengingat ransel yang sudah penuh dan berat. Rasanya saya sudah tidak sanggup menambah beban bawaan lagi.

 Kalap belanja (lagi)

Aroma makanan dari food court yang berjejer di sepanjang Bugis Street mengingatkan kami akan perut yang belum sempat diisi sejak pagi, tapi sayang kehalalan masakannya lumayan diragukan. Tanpa disadari, kaki ini telah melangkah memasuki kawasan Bugis Junction. Kombinasi kaki dan bahu yang pegal plus perut kelaparan membuat kami melakukan kesalahan besar dalam menentukan tempat makan. Sebal rasanya menghabiskan SGD 8 hanya untuk sebuah bento hambar minus air minum.

Masih tersisa satu jam untuk berkeliling, tapi kelelahan yang terakumulasi sejak dua hari terakhir membuat kami tidak berselera untuk kembali menjelajah tempat ini. Akhirnya kami pergi ke stasiun MRT untuk kemudian menuju bandara.
 
 Ngembaliin Singapore Tourist Card (I just love that card)

 
 Straight to airport

Bawaan yang semakin bertambah

Saya hanya terdiam di bandara, meresapi semua kelelahan, keriaan dan pengalaman selama tiga hari di negara ini. Sampai akhirnya panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun membahana di dalam ruang tunggu. Bye SG, thanks for being the first country in my backpacking journey.

Backpacking Miscellaneous

Peta, flyer, tiket

Budgeting
Day 1:
Beli Cemilan di Changi: SGD 1.2
MRT Changi – Kellang: SGD 1.6
MRT Kallang – City Hall: SGD 1
MINT: SGD 15
National Museum of Singapore: SGD 10
Lunch di Makansutra: SGD 5
Minuman dingin di belakang Espalande: SGD 1.2
MRT City Hall – Kallang: SGD 1

Day 2
MRT Kallang – City Hall: SGD 1
Singapore Tourist Pass for one day: SGD 8
Science Centre: SGD 6
Lunch di Little India (Sup tulang merah, roti prata, dan teh tarik) hanya SGD 5.6 saja
Beli oleh-oleh di Mustafa Center: SGD 42.7
Sentosa Express: SGD 3
Song of The Sea: SGD 10
Softdrink sekalian (norak) nyoba mesin penjual minuman: SGD 1

Day 3
MRT Kellang – Bugis: SGD 1
Belanja-belenji di Bugis: SGD 30
Makan ngga enak di Bugis Junction: SGD 8
MRT Bugis – Changi: SGD 1.6

Pengeluaran selama tiga hari: SGD 163.90 (ambil contoh kurs Rp 6.500) = Rp. 1.065.350
Tiket PP plus hotel 3 hari Rp. 850.000
Airport tax Rp. 150.000

Pengeluaran saya yang paling besar adalah untuk membeli oleh-oleh: SGD 72.7 atau sekitar RP. 472.550.
Jadi kalau dihitung-hitung, pengeluaran inti (tiket MRT, bus, museum, makan, minum) hanya SGD 91.20 = Rp. 592.800

Total pengeluaran untuk backpacking pertama: Rp. 2.065.350
Termasuk murah atau mahal? Itu semua tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat.

 Teman sejati selama perjanan: ransel, tas tangan, Singapore Tourist Pass, purple shoes

From Indonesia?
Dari hari pertama menjejakkan kaki di SG, ada saja orang yang bertanya “From Indonesia?” kepada kami. Sebal dan risih rasanya karena saya ngga suka dipandang sebagai turis. Iseng-iseng kami bertanya dengan orang-orang tersebut, darimana bisa menebak negara asal kami.

Tempat: National Museum of Singapore
Saat misuh-misuh cari orang yang bersedia mengambil foto kami bertiga, seorang security menawarkan bantuannya. Setelah selesai kami pun mengucapkan terimakasih dan petugas tersebut bertanya:
“Indonesia?”
“Yes, how do you know that?”
“Kalimat kalian, ‘bagaimana’ kalian sebut ‘gimana’“, jawab petugas dalam bahasa Malay
“Aaahh yaaa.....”
Ternyata dia ngeh dengan bahasa Indonesia non baku yang kami gunakan.

Tempat: Geylang Road
Semangat menggebu-gebu untuk mengeksplor SG di hari pertama dan ditanya sama penduduk lokal:
“From Indonesia?”
“Yes”
Dan dia bisa nebak itu dari wajah khas Indonesia kami.

Tempat: Mustafa Centre
Lagi sibuk milih souvenir, ditanya sama orang India lokal:
“Indonesia right?”
“Yes”
“I know it from your veil. You are a moslem” jawab si India kepada Sagi
Bangga rasanya, Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas muslim disini.

Perjuangan untuk mengambil foto bertiga (kenapa saya selalu jadi bagian dokumentasi sih)

My beloved camera and tripod

Another Little India's Story
Masih inget dong dengan parnonya saya dengan orang India. Parahnya lagi logat India mereka terbawa saat berbicara dalam bahasa Inggris. Mau nga mau saya harus mendengarkan ucapan mereka dengan seksama. Jangan sampai gara-gara salah ngerti petunjuk arah dari mereka saya musti tanya orang India lagi.
Selesai bertanya, saya menyampaikan petunjuk arah yang didapat pada Sagi dan Nenes. Dengan tidak sopannya Sagi berkata:
“Ros, lo nyadar ngga? Orang India itu kalo ngomong kepala ikut goyang-goyang loh”
“Mana gw sadar Sagiiiiiii...... Gw tuh udah stress ngertiin bahasa Inggris logat India. Belom lagi gw parno banget sama mereka. Mana sempet gw merhatiin kepala yang goyang-goyang sambil ngomong”
Bukannya bantuin saya nerjemahin bahasa Inggris yang terdengar aneh di kuping, mereka malah merhatiin bahasa tubuh orang India. Benar-benar tega pangkat lima.

Turis atau backpacker?
Selama perjalanan kemarin, saya hanya membawa satu ransel dan satu tas tangan. Sagi bawa ransel yang bisa didorong plus satu tas tangan, sedangkan Nenes memakai tas selempang dan satu tas tangan. Di hari akhir, barang belanjaan Nenes ngga bisa masuk ke tas dan akhirnya dia harus menenteng satu kantong plastik besar sebagai tambahan.

Biar berat dan ribet yang penting gaya :p

Tujuan utama kami selama di SG adalah museum atau monumen khas negara tersebut dan daerah yang kental dengan budayanya, sedikit mencicipi pengalaman jadi turis dengan mengunjungi Sentosa Island. Tidak terbersit niat sedikitpun untuk belanja gila-gilaan di Orchard, kami hanya khilaf di Little India dan Bugis Street.

Salah seorang teman mempertanyakan seberapa backpacknya perjalanan saya, “Ransel aja ngga ada, bawa tas dorong malah. Masa berani bilang bakcpackeran”, kurang lebih seperti itu dia bilang. Untuk saya tidak penting, apakah sebuah perjalan murni backpack atau tidak. Mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman dari perjalanan ini jauh lebih berharga dibanding menyombongkan diri siapa yang paling berbackpack dan menghabiskan dana paling murah. Dan yang pasti, dari semua perjalanan yang sudah dan akan dilakukan, pada akhirnya akan membuat kita lebih mencintai negeri sendiri. 

In The End.......
Ayoooo nabung lagi :)
 
Mengumpulkan sisa-sisa recehan

And see you again in Thailand for next journey gals (cant wait cant wait).

Minggu, 07 Maret 2010

Round SG Round

"Cha, Gi, mau bangun jam berapa?" tanya Nenes sambil mengeringkan rambutnya.
"Hhhmm...jam 7 ya" jawab saya dengan suara bantal.
"Ini udah jam 7 sayaaaang" kata Nenes tenang.
"WHAT?????" saya dan Sagi langsung terbangun dari mimpi masing-masing
"Ampuuuunn...gw lupa majuin jam. HP gw masih jam 6, makanya gw tenang-tenang aja" saya mulai panik
"Hhmm...yaudah Ros, lo mandi duluan gih" dan Sagi mulai menarik selimut kembali.

Kami memang berencana meninggalkan hotel pukul 09.30 dan kembali menjelajahi negara ini. Tapi perbedaan waktu Indonesia-Singapura yang lupa saya tambahkan pada alarm HP hampir mengacaukan semuanya. Dan entah mengapa, dalam waktu 2 jam kami bertiga dapat menyelesaikan rutinitas mandi-sarapan-dandan dengan suksesnya dan berangkat tepat waktu. Aaahh...I love being on time.

Foto di kamar sebelum berangkat

Tujuan pertama untuk hari ini adalah Science centre, kalau di Indonesia mungkin seperti PP IPTEK. Sebenarnya agak malas kesana, jaraknya jauuuuhhh banget dan harus berganti beberapa MRT. Tapi Sagi meyakinkan kami bahwa Science centre itu keren dan worth it banget untuk dikunjungi. Baiklah, kembali menjalankan itinerary yang telah dibuat.

Untuk hari kedua ini kami akan menjelajahi banyak tempat di Singapura dan (pastinya) akan menggunakan banyak moda transportasi. Untuk menghemat pengeluaran kami sepakat menggunakan Singapore Tourist Pass, tiket ini memungkinkan kami mengelilingi Singapura tanpa harus bayar apa-apa lagi. Harga tiket SGD 8 per hari dan SGD 10 untuk deposit (deposit akan dikembalikan saat mengembalikan kartu). Senangnya menggunakan kartu ini, saya tidak perlu bolak-balik ke mesin penjual tiket untuk membeli dan mengembalikan tiket, ngga ketahuan lagi deh kalau saya ini turis :p

Busnya mirip bus gandeng Trans Jakarta :p

Bukaaann...ini bukan lagi ngantri di Dufan

Inside the bus 

Science centre terletak di daerah Jurong East, dari stasiun MRT naik bis sekali lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Thanks God kami punya Singapore Tourist Pass, ngga bingung lagi musti bayar pake apa waktu naik bis :p

In front of Science Centre

 
Eeeerr...Mathematics everyone?

  
The Mind's Eye

 
Hall Atrium Science Centre

Harga tiket SGD 6 saja, museumnya besar dan dibagi ke dalam beberapa bagian, The Minds Eye, Mathematics Exhibition, DNA, Sound Exhibition, Discovery Zone, The Human Body, World of Energy, Kinetic Garden, dan masih banyak lagi (ngga sanggup untuk ditulis satu-satu disini). Hall pertama yang kami masuki adalah The Minds Eye, quite fun to figure out how our eye can be treat by the pictures. Sedikit mikir, tapi setelah dapet maksud dari alat peraga tersebut rasanya fun banget. Ini diantaranya:

Gambar diatas, jika dibalik menjadi seperti ini:
 
Looks alike eh?

 
Dari hamparan gambar yang abstrak, tertangkap satu refleksi wajah di dalam tiang

Dari The Minds Eye kami berlanjut ke Mathematics Exhibition. To be honest, saya takut memasukinya, I'm not good in math. Tapi desain ruangan yang menarik dan cerah menarik kami untuk melihat bagian ini.

'Lil bit scary :p

Ternyata cukup menyenangkan disini, bahkan kami berlomba untuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Ahahahaha...

 
Phi = .......................(somebody, please answer that)

  
Cara berhitung di segitiga pascal, masih inget?

  
Race to finish the puzzle (and its quite hard I think)

 
Iseng mencoba permainan ini, dan terperangkap ngga bisa membebaskan diri :(

Beranjak ke beberapa bagian lain, dan cukup merinding di bagian Human Body. Hiiiyy...ngga sanggup ngeliat bentuk virus, mikroba dan kawan-kawannya, makanya saya memilih untuk menunggu di luar dan....foto-foto :D

Dinding bergambar Genom dan DNA yang ditampilkan secara menarik

Ukuran bangunan yang besar, koleksi yang lengkap dan menarik, belum lagi ada beberapa peragaan oleh pihak Science Center, membuat kami benar-benar lupa waktu. Jatah waktu 2 jam rasanya belum cukup dan molor sampai 3 jam lebih. Benar-benar tempat yang menyenangkan, tanpa disadari kami telah mengulang berbagai pelajaran dari masa SMP disini.

Penasaran pengen nyelesein soal-soalnya

The demo

Kinetic Garden

Keluar dari Science Center kami sedikit kesulitan menentukan tujuan selanjutnya: Little India, Orchard, atau Chinatown dulu karena ketiga tempat ini cukup berpencar. Dan sekali lagi, kami mengerahkan kemampuan dalam membaca peta Singapura, jalur MRT serta bus, dan flyer dari Visitor Information. Hasilnya, kami akan ke Orchard terlebih dahulu, dari Orchard naik bus ke Little India sekalian makan siang, lalu lanjut ke Chinatown. Bye Science Center, really having a great time in there.

Untuk urusan panas, Jakarta punya saingan

Satu hal yang kami pelajari dari perjalanan ini: karena kami bertiga buta arah dan tidak tahu harus melangkah kemana saat keluar dari MRT, maka kami mengikuti rombongan orang terbayak. Kemana orang-orang berduyun-duyun pergi, disana pasti ada tempat yang menarik. Dan teori ini selalu berhasil ;)

Orchard

Orchard Road. Salah satu top destination di Singapura. Ramai, penuh, hedon, tapi entah, untuk kami bertiga tempat ini doesn't make any sense. Tempat kaya gini sih di Jakarta juga banyak, bahkan masih kalah gede dibanding sama GI. Semua orang hilir mudik keluar masuk mall yang dipenuhi label Pucci, LV, Guess, Mango, dan berbagai label desain kenamaan lain. Kami? Cuma bengong dan ngga tau mau kemana. Masuk mall? Ngapain juga, ngga ada yang dibeli, mahal juga yaaaa.... Jadi, kami hanya menyusuri Orchard Road tersebut, dan mencari halte bus terdekat yang akan mengantar ke Little India.

Gone with the bus :p


Bis dua tingkat ini mengingatkan saya dengan Jakarta tahun 90-an, dari atas bis kami dapat melihat ritme dan dinamika hidup warga Singapura. Tapi kacaunya, ngga ada penunjuk arah dalam bus, bahkan nama halte pun tidak terlihat dari atas bus. Akankah kami nyasar lagi? Walau punya Singapore Tourism Card (ngga masalah nyasar sampe mana juga) tapi itu hanya akan membuang-buang waktu kami yang hanya sedikit ini. Mulailah kami membentangkan peta dan mencocokkan nama jalan di peta dengan yang terlewati (sepertinya kami makin jago dalam urusan ini), dan sampailah di Tekka market daerah Little India.

Aroma rempah dan pemandangan wanita dengan kain sari menyambut kami saat turun dari bus. Kaki ini pun langsung melangkah ke dalam Tekka market, entah apa yang dituju, kami hanya berjalan. Banyak food court di dalam Tekka market, kami pun memutuskan untuk makan siang dulu, paling tidak disini kami tidak kesulitan mencari makanan halal. Saat kebingungan memilih menu makan siang,Sagi mengusulkan ide brilian, sup tulang merah.

 
 Dont judge the food from its look

 

Sup tulang merah, roti prata, dan teh tarik menjadi menu makan siang saat itu.

Setelah perut kenyang, kami kembali menjelajah tempat ini. Tujuan pertama adalah Little India Arcade yang terletak persis di depan Tekka market. Pusat belanja ini tidak terlalu ramai, entah karena tokonya yang sedang tutup atau memang jumlah toko hanya segitu, jalan-jalannya juga tidak dipadati turis. Kebanyakan toko menawarkan untuk tatto henna seharga SGD 5, yey jauh-jauh kesini cuma bikin henna, di Bogor juga banyak. Ngga dapat apa-apa di Little India Arcade, maka kami beranjak ke Mustafa centre.

Musik India mengalun riang sepanjang kami menyusuri daerah ini, duh kalau ada pohon pasti saya udah nari-nari sambil muterin pohon, berhubung cuma ada tiang listrik niat itu saya batalkan. Sudah jauh berjalan, kami tak kunjung menemukan Mustafa Centre, bahkan tidak ada petunjuk sama sekali kemana arah Mustafa Centre, ini artinya kami harus bertanya lagi.

Contoh perawakan orang India di sebelah kiri Sagi

"Ros, ayo dong tanya sama orang Indianya" kata Sagi.
"Hiiiyyy....ngga deeehh...orang Indianya serem-serem" kata saya sambil bergidik.

Untuk urusan menanyakan jalan, Sagi dan Nenes memang khusus menyerahkannya untuk saya. Tapi, ada satu fakta penting, orang-orang India di Lillte India ini syerem-syerem semua. Perawakan mereka tinggi, gede, item, syerem. Ya, mungkin ini stereotipe saya saja, tapi saya ngga berani berhadapan langsung dengan mereka.

"Ayooo dong Cha, tanya sama orang. Gw udah cape jalan nih" kata Nenes.
"Serem gw....takut. Kok ngga ada cewe India ya, daritadi gw nemunya cowo mulu. Serem ah" jawab saya.
"Ayo Rossa, keluarkan kemampuan dan pesonamu untuk bertanya sama mereka" Sagi menyemangati saya.
"Tega lo ya. Emang lo pada ngga serem apa ngeliat mereka?" saya mulai sewot.
"Yaaaa....serem juga sih. Tapi kita udah muter-muter ngga jelas arahnya nih"

Dan saya pun menyerah. Saya memilih orang India yang lagi jalan sendiri, menghadapi satu orang saja saya udah cukup takut, jadi pilihan untuk bertanya pada gerombolan orang India saya buang jauh-jauh.

"Excuse me Sir. Could you tell me where's Mustafa Centre?"
"Oh, right there" jawab si India menunjukkan supaya kita jalan terus
"Nooo....Mustafa centre? It's right there" sambung seseorang (sepertinya backpacker juga) yang jalan di belakang kami dan tak sengaja mencuri dengar.

Saya, Sagi dan Nenes bingung, where sould we go????

"Right there" kata si India
"No, mustafa centre right? Turn left from here" kata si backpacker
"Ok Sir, thank you. Both of you" jawab saya meninggalkan mereka

Sayup-sayup ketika berjalan kami mendengar si India dan si backpacker masih berdebat kemana arah Mustafa Centre. Yah, biarkanlah mereka berantem, kami ngga mau dilibatkan ;) dan kami memilih jalan yang ditunjukkan si backpacker. Sepertinya kami ada di jalan yang benar, karena banyak turis hilir mudik di jalan yang kami lewati (teori pinter-pinteran ala kami bertiga). Sampai akhirnya...

"Duh Ros, kayaknya kita nyasar lagi deh. Tanya sama orang India lagi gih" kata Sagi
"WHAT??????" crap.

Mustafa Centre, us, and the shopping bag

Jika dibandingkan dengan mall, Mustafa Centre lebih mirip supermarket bagi saya. Saya agak shock juga karena bayangan saya tentang Mustafa Centre berbeda jauh dengan kenyataannya. Semua kebutuhan rumah tangga ada disini, mulai dari kebutuhan pokok, makanan, pakaian, alat elektronik, semua numplek jadi satu. Tujuan kami memang untuk mencari oleh-oleh (saya selalu benci bagian ini) dan harga yang ditawarkan di tempat ini lebih murah.

Sagi dan Nenes mulai bersemangat mencari souvenir, saya masih malas-malasan, mereka bingung memilih coklat, saya malah bertanya "Ngapain bawa coklat ke Indonesia". Sagi dan Nenes memang menganggarkan dana khusus untuk oleh-oleh. Di awal saya sudah menyebutkan betapa saya sangat mencintai persamaan kami bertiga dalam menghargai waktu, tapi saat di Mustafa Centre, saya sangat membenci persamaan kami bertiga dalam hal gila belanja. Menghabiskan waktu hampir 2 jam disana hanya untuk mencari oleh-oleh.

Farrer Park shelter, bye Little India.

Dari Mustafa Centre kami berpindah ke Chinatown melalui stasiun MRT terdekat. Barang bawaan terasa semakin berat, Sagi dan Nenes yang menghabiskan lebih dari SGD 60 saat belanja tadi harus menenteng kantong belanjaan mereka yang cukup besar, kantong belanjaan saya sih cukup masuk ke dalam tas. 

Sesampainya di Chinatown, bingung lagi harus kemana. Ini Chinatown kan, bukan Glodok? Kebanyakan isinya mall yang mewarkan barang elektronik. Berhubung masih dalam suasana perayaan imlek, maka tempat ini dihias dengan berbagai ornamen Imlek yang cantik.


 

 

Dari chinatown kami menuju Sentosa Island untuk menonton Song of The Sea. Sepertinya cuaca tidak mendukung niatan kami ini, hujan turun dengan derasnya. Kami hanya gambling, membeli tiket untuk pertunjukan pukul 20.40 dan berharap hujan dapat berhenti.

Ki-ka: Sagi, saya, Nenes (bisa lihat plester di kaki Sagi dan Nenes ngga?)

 
 Waiting for the rain

 
Ticket

Pulang dari Sentosa Island jam 10 malem. Sepanjang perjalanan dari Sentosa ke Kallang suasanya udah sepi banget. No wonder, besok udah hari senin. Time to get back to work. Sigh.

 Sentosa's MRT

 
 Sagi yang udah ngga sanggup pake sepatu

 
Sooooo thirsty.

Malam terakhir kami di SG, dan puas bisa mengelilingi banyak tempat hari ini :)