total ping

Tampilkan postingan dengan label Film Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Festival. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

'Melihat' Australia di Australia on Screen 2011

Penikmat film Jakarta akhirnya dapat dipuaskan dengan festival film pertama di awal tahun ini. Australia on Screen resmi digelar dari tanggal 26 - 28 Januari 2011 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Tujuh film Australia yang sukses 'wara-wiri' di berbagai penghargaan film bergengsi hadir dalam acara ini. Tidak hanya membawa film terbarunya Bran Nue Dae yang mendapat perhatian internasional sepanjang tahun 2010 kemarin, beberapa film yang rilis di akhir tahun '90-an dan awal tahun 2000 juga ikut diputar disini.


Australia on Screen digelar untuk menyambut Hari Nasional yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2011. Festival ini dibuka oleh artis sekaligus produser kenamaan Indonesia, Christine Hakim, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty. Pemilihan Christine Hakim juga merupakan bentuk apresiasi terhadap prestasi beliau yang berhasil menerima penghargaan Asia Pacific Screen Awards 2010 FIAPF Award for Outstanding Achievement in Film yang diselenggarakan di Australia akhir Desember lalu. 

Australia on Screen 2011 disponsori oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia bekerjasama dengan Australia International Cultural Council dan Screen Australia dengan dukungan Pemerintah Australia Barat. Dalam pemutaran film pembuka Australia on Screen, Bran Nue Dae, turut hadir Robyn Kershaw selaku produser dari film musikal tersebut dan Rocky McKenzie sebagai aktor penduduk asli Astralia. Rencananya mereka berdua akan ambil bagian dalam sejumlah lokakarya dengan pekerja film dan mahasiswa film Indonesia untuk merefleksikan budaya yang berbeda melalui media film.

Setelah Perancis secara khusus dan Eropa secara umum rutin menggelar festival film sebagai media pertukaran budaya nampaknya Australia juga mulai melirik cara ini untuk menggambarkan derajat ke-multikultural.  Dilihat dari bangku studio yang dipenuhi penonton rasanya masyarakat cukup antusias untuk melihat film karya sineas Australia sekaligus memperdalam khasanah budaya mereka tentang negara Kangguru ini. Untuk debutnya kali ini Australia on Screen terbilang sukses merebut hati penikmat film Jakarta dan berhasil memperkenalkan budaya multikultural mereka. Tujuh film yang diputar, Bran Nue Dae (2009), Jindabyne (2006), Radiance (1998), Lantana (2001), Mary and Max (2009), Looking for Alibrandi (2000), dan Ned Kelly (2003) semuanya berhasil membawa misi Australia on Screen 2011. 

Film andalan untuk Australia on Screen kali ini tentunya adalah Bran Nue Dae. Film musikal berlatar tahun 1960 ini bercerita tentang pelarian Willie (Rocky McKenzie) dari sekolah kepasturan. Dalam perjalanan pulang Willie bertemu dengan banyak orang yang membawanya ke berbagai petualangan. Pencarian jati diri Willie dalam perjalanan pulang kerumah ini disajikan dengan rentetan lagu dan koreografi yang membuat film terasa begitu segar dan menyenangkan untuk diikuti. 


Nue Dae trailer


Australia on Screen juga menyuguhkan film animasi untuk memperlihatkan keragaman perkembangan film yang telah berjalan. Mary and Max adalah adalah pilihan yang tidak main-main karena film ini telah berhasil menjadi film pembuka Sundance Film Festival tahun 2009. Lewat clay animation, sutradara Adam Elliot menyuguhkan hubungan surat-menyurat dua orang yang sama sekali berbeda diantara dua negara. Mary Dinkle berusia 8 tahun dan tinggal di pinggiran kota Melbourne. Dia kekurang kasih sayang dari kedua orangtuanya, tidak memiliki teman di lingkungannya, dan tidak terlalu percaya diri. Sedangkan Max Horovitz  berusia 44 tahun dan tinggal di kekacauan kota New York. Max menderita sindrom Asperger sehingga dia kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya. Kesepian, itulah kesamaan Mary dan Max yang membuat persahabat unik yang tersaji selama 92 menit ini mampu menjungkirbalikkan perasaan yang melihatnya.


Mary and Max trailer


Sebagai penutup Australia on Screen juga lagi-lagi tidak salah memilih film. Ned Kelly adalah film yang diangkat dari kisah nyata dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Australia itu sendiri. Sederet bintang sekelas Heath Ledger, Orlando Bloom, Goffrey Rush dan Naomi Watts memenuhi layar selama 110 menit. Andai semua film western yang khas dengan dunia gangster, sheriff, kuda, dan tanah tandus dapat tampil seciamik ini pasti Hollywood dapat mengeruk keuntungan super besar darinya. Sejarah dan film western, dua hal yang seringnya menghasilkan film super membosankan ternyata tidak berlaku untuk Ned Kelly. Siapa yang menyangka mempelajari sejarah dapat menjadi demikian menyenangkan dan aksi tembak-tembakan di atas kuda ternyata cukup menegangkan?


Ned Kelly trailer 


Sepertinya tiga hari dengan tujuh film Australia masih terasa kurang bagi penikmat film yang jarang melihat film Australia. Tidak banyak koreksi untuk event ini, hanya mungkin pelengkap English subtitle dapat tetap dimasukkan dalam film karena pada prakteknya lebih mudah untuk 'reading' daripada 'listening'. Semoga kedepannya Australia on Screen dapat menjadi event tahunan sehingga pertukaran budaya itu pun dapat terus terjadi. 

Minggu, 05 Desember 2010

Euforia JIFFest Yang Memudar


Akhirnya pecinta film tanah air dapat bernapas lega karena 12th Jakarta International Film Festival (JIFFest) tetap dilaksanakan. Perhelatan JIFFest ke-12 ini memang terhadang masalah finansial, panitia kesulitan mengumpulkan dana dan sempat menggalang dana dari masyarakat lewat gerakan SaveJIFFest. Sempat terdengar isu jika dana yang terkumpul tetap tidak mencukupi maka pelaksanaan JIFFest akan diundur sampai tahun depan. Terimakasih untuk Nokia sebagai sponsor utama, paling tidak denyut nadi JIFFest dapat diselamatkan kali ini.

JIFFest digelar dari tanggal 25 November - 5 Desember 2010 dan memutar 91 film dari 33 negara. Venue acara dibagi dalam tiga tempat, Blitz Megaplex Pacific Place, Kineforum, dan Binus International University. Pendiri JIFFest, Shanty Harmayn dalam konfrensi pers Save Our JIFFest memang sempat menyatakan kemegahan JIFFest mungkin akan dikurangi sehubungan dengan minimnya dana. Jumlah film dan event memang dikurangi, tetapi kualitasnya tetap dipertahankan.

Film yang mendapat kehormatan untuk membuka layar JIFFest kali ini adalah Waiting For Superman, sebuah film dokumenter asal negeri Paman Sam yang memperlihatkan perjuangan anak-anak untuk mendapat pendidikan. Film ini dinilai cukup mewakili pelaksanaan JIFFest yang menghadapi ancaman serius akibat kurangnya dana. 'Meskipun selalu dihadang hambatan, kami percaya bahwa festival ini harus terus diadakan untuk membuat kota Jakarta menjadi kota yang nyaman dan penuh dengan keragaman budaya', ungkap co-director JIFFest Lalu Roisamri.

Beberapa film yang merajai Cannes 2010 turut diputar disini, diantaranya Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (Thailand) yang memenangkan Palme D'or, Biutiful (Spanyol/Meksiko) dimana Javier Berdem dinobatkan sebagai aktor terbaik, dan film dokumenter Armadillo (Denmark) yang meraih Critics Week Grand Prix. Film fantasi Scott Pilgrim vs The World diharapkan dapat mengulang kesuksesan (500) Days Of Summer yang diputar di JIFFest 2009.

Setiap tahun JIFFest menggelar Indonesian Feature Film Competition untuk memilih film Indonesia terbaik, sutradara terbaik dan film terfavorit. Adapun delapan film yang akan berkompetisi adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Benni Setiawan), Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar), Emak Ingin Naik Haji (Aditya Gumay), Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria), Rumah Dara (Mo Brothers), Sang Pemimpi (Riri Riza), Sang Pencerah (Hanung Bramantyo), dan Tanah Air Beta(Ari Sihasale).

Mengambil tema "And JIFFest For All", kali ini JIFFest terlihat begitu muram. Jika tahun lalu lagu Sweet Disposition yang dijadikan theme official trailer JIFFest ke-11 berhasil menghentak semangat penonton dalam euforia JIFFest, maka tahun ini official trailer JIFFest yang hanya ditemani ilustrasi musik terasa begitu suram dan sedih. JIFFest bahkan tidak memanfaatkan Twitter secara maksimal sebagai media promosi dan perbincangan dengan followersnya. Sangat disayangkan, apalagi jika mengingat INAFFF yang berhasil menciptakan euforia tersendiri sehingga followersnya begitu bersemangat untuk menyambut festival film fantasi ini.


Official Trailer JIFFest 2009


Official Trailer JIFFest 2010

Pelaksanaan JIFFest 2010 memang terlihat sangat terseok. Blitz Megaplex Pacific Place sebagai main venue hanya membuka dua layar saja untuk public screening dan studio yang digunakan pun tidak terlalu besar. Kineforum sebagai tempat alternatif pemutaran film hanya memiliki satu studio dengan kapasitas 45 kursi saja dan Binus International University hanya difungsikan untuk kegiatan workshop dan seminar. Semua tiket pemutaran film di Blitz dijual seharga Rp. 25. 000 dan cukup donasi Rp. 10.000 untuk screening di Kineforum. Khusus untuk film Indonesia yang masuk dalam Indonesian Feature Film Competition diputar secara free screening.

Saat pelaksanaannya, beberapa rundown acara terlihat berantakan. Contohnya saat pemutaran The Blue Mansion yang dihadiri oleh sutradaranya Glen Goei. Karena panitia yang kurang sigap, akhirnya penonton banyak yang meninggalkan studio sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Pintu studio seringkali belum dibuka walau beberapa menit lagi film segera dimulai. Setelah masuk dalam studio pun penonton masih harus menunggu film diputar dengan rangkaian iklan promosi dan official trailer JIFFest 2010, kemudian 'bleb' lampu menyala kembali karena panitia belum memberikan sambutannya, setelah itu lampu diredupkan kembali dan akhirnya film diputar. Minimal dibutuhkan waktu 15 menit untuk semua 'pernak-pernik' ini sebelum penonton dapat menikmati film yang diputar. Tentu pentonton tidak keberatan dengan semua itu asalkan film tetap diputar sesuai dengan jadwal yang tertera.

Kendala teknis juga terlihat saat pemutaran film. Premier Belkibolang harus mengalami musibah gambar macet di beberapa scene, bahkan saat pemutaran Sang Pencerah film mendadak terhenti dan lampu studio kembali dinyalakan. Lucunya, dua dari tiga film yang diputar dalam Indonesian Feature Film Competition tidak menyertakan subtitle dalam bahasa Inggris. Mengingat ini adalah festival film bertaraf internasional dan juri yang menilai pun bukanlah orang Indonesia, rasanya setiap film Indonesia yang diputar perlu menyertakan subtitle. Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab untuk insiden-insiden tersebut, rasanya kesalahan seperti ini harusnya sudah dapat diminimalisir. Terlebih jika mengingat JIFFest sudah memasuki tahun pelaksanaannya yang ke-12.

Walau JIFFest mulai mengalami kendala dana sejak tahun 2009 dan hanya membuka empat layar di Blitz Megaplex Grand Indonesia namun kemegahan dan semangatnya masih terasa. Tahun lalu semangat JIFFest terlihat jelas oleh antusiasme pengunjung untuk menonton sebanyak-banyaknya film berkualitas yang tidak mungkin diputar di bioskop lokal, apalagi tahun kemarin beberapa film dokumenter dan film dari Asia Tenggara ikut diputar secara free screening. Euforia bercampur semangat kompetisi begitu terasa di atmosfir Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Mungkin, daripada memilih Kineforum sebagai tempat alternatif pemutaran film, JIFFest bisa memilih beberapa kedutaan besar yang turut bekerja sama. Mereka pasti memiliki aula dengan kapasitas yang lebih besar sehingga pengunjung tidak perlu takut kehabisan tiket dan tidak sia-sia datang ke venue acara. Media promosi pun tidak perlu mengandalkan publisitas dengan biaya super mahal, twitter dapat menjadi sarana promosi yang tidak kalah hebatnya jika digunakan secara maksimal.

Publik pasti maklum jika pelaksanaan JIFFest kali ini diadakan dengan skala yang lebih kecil. Publik pun bersedia membeli tiket dengan harga normal dan mengerti jika pemutaran free screening tidak dapat diadakan sebanyak tahun sebelumnya. Hanya saja publik kecewa dengan ikut hilangnya semangat dan euforia yang selalu menyertai JIFFest. Bukankah JIFFest bisa terus ada karena publik yang selalu mendukungnya?

'Mari kita buat festival tahun ini menjadi festival yang paling berkesan!'
Ah, rasanya harapan co-directors JIFFest Lalu Roisamri ini sulit untuk diwujudkan. JIFFest kali ini terlalu tidak berkesan untuk menjadi yang paling berkesan.

So, see you in JIFFest 2011? Well, hopefully.

Rabu, 01 Desember 2010

Science Film Festival Indonesia Sepi Pengunjung

Science? Ergh, rasanya langsung malas kalau mendengar kata tersebut. Walaupun bentuknya hadir dalam format sebuah festival film tetap saja hati ini tidak tergerak untuk mendatanginya. Science? Duh, kuping rasanya langsung panas dan kepala ikutan cenut-cenut. Tapi apa iya akan selalu seperti itu?

Science Film Festival pertama kali diselenggarakan di Bangkok tahun 2005 dengan tujuan mendorong kaum muda untuk memiliki minat dan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. Festival ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa proses belajar dan hiburan dapat dikombinasikan secara efektif lewat media film dan televisi. Tahun ini untuk pertama kalinya Science Film Festival akan diadakan secara serentak di Thailand, Kamboja, Indonesia, Laos dan Filipina.

Venue Science Film Festival Indonesia dibagi ke dalam empat tempat: Blitz Megaplex Pacific Place, Universitas Paramadina, PPIPTEK TMII, dan Goethe-Institut. Dari tanggal 16 - 30 November digelar berbagai film dan acara televisi dari 11 belahan negara secara free screening. Semua film telah disulih suarakan dalam bahasa Indonesia jadi tidak perlu ragu mengajak adik atau keponakan kecil kita yang belum lancar membaca teks. Seluruh film juga diikuti dengan percobaan dan kuis, tentunya ada hadiah menarik untuk peserta yang berani menjawab.

Mengangkat tema Keanekaragaman Hayati, Science Film Festival Indonesia mencoba menumbuhkan kecintaan pada lingkungan kepada anak-anak. The Blue Wonder - The Island World of Raja Ampat menampilkan kekayaan varietas hewan laut di Pulau Raja Ampat, Papua Nugini. Pertama penonton dimanjakan dengan pemandangan bawah laut yang eksotis dan warna-warni berbagai binatang laut yang mempesona. Kemudian film ini menyorot kebudayaan masyarakat adat yang menangkap ikan hanya untuk kebutuhan keluarganya, sebuah tradisi dan adat lama yang secara tidak langsung bertujuan untuk menjaga ekosistem laut. Sebagai penutup ditampilkan ancaman-ancaman yang dihadapi ekosistem laut Raja Ampat karena penangkapan ikan besar-besaran dengan tujuan komersial dan beberapa upaya yang dilakukan untuk mencegahnya.

Science Film Festival memang mencoba mendobrak paradigma science adalah sebuah hal yang membosankan dengan menampilkan film yang cerdas tapi tetap menghibur. Beberapa film memang berhasil mengusung misi tersebut dan beberapa lainnya gagal. Untuk sasaran penonton anak-anak usia 9-16 tahun, beberapa film yang diputar terlalu berat untuk dicerna sehingga penonton beralih ke kegiatan lain yang lebih menyenangkan: mengobrol atau tidur. 

 Science Film Festival

KidsFfest

Tampilan poster Science Film Festival terlihat kaku dan jauh dari kesan fun. Coba bandingkan dengan poster KidFest yang menggambarkan keceriaan dan semangat anak-anak. Jika anak-anak disuruh memilih diantara dua poster tersebut (diluar tema film yang disajikan kedua festival tersebut), mereka sepertinya lebih tertarik datang ke KidsFfest yang posternya terlihat lebih playful. Selain itu, walau digelar secara free screening namun terlihat masih banyak kursi kosong dalam studio. Sangat disayangkan karena festival film berskala Internasional ini belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Seharusnya anak-anak tidak perlu takut lagi dengan kata science karena science tampil  dengan bentuk yang lebih menyenangkan. Beberapa kendala yang terlihat dalam pelaksanaan perdana tentu masih bisa ditolerir dan dijadikan pembelajaran untuk pelaksanaan di tahun berikutnya sehingga Science Film Festival dapat hadir tidak hanya cerdas, tapi juga menyenangkan.

Senin, 29 November 2010

INAFFF10 Closing Film: The Girl Who Kicked The Hornest' Nest

Bayangkan jika Anda menonton The Lord Of The Ring: Return Of The King tanpa menonton dua film pendahulunya; The Fellowship Of The Ring dan The Two Tower. Atau bayangkan jika Anda menonton trilogi The Matrix langsung di film ketiga, lagi-lagi melewatkan dua film sebelumnya. Bagaimana rasanya? Pusing, bingung, tidak mengerti jalan ceritanya. Itulah yang terlintas di kepala saya saat menonton INAFFF closing film.

The Millenium Trilogy Novel Version

The Girl Who Kicked The Hornest' Nest menjadi film yang menutup rangkaian INAFFF10 di Jakarta. Diangkat dari trilogi novel laris karangan Stieg Larsson, The Millennium Trilogy terdiri dari The Girl With The Dragon Tatto, The Girl Who Played With Fire, dan The Girl Who Kicked The Hornest' Nest. Penulisnya sendiri tutup usia di umur 50 tahun setelah menyelesaikan trilogi novel detektifnya dan tidak sempat menyaksikan ketiga novelnya diadaptasi ke dalam film. 

The Millenium Trilogy berputar pada cerita dua tokoh utamanya, Lisbeth Salander dan Mikael Blomkvist. Lisbeth adalah seorang hacker eksentrik yang antisosial sedangkan Mikael adalah jurnalis dari majalah investigasi Millenium. Keduanya dipertemukan atas permintaan Henrick Vanger untuk mencari keberadaan Harriet Vanger, keponakan yang telah dianggap anak sendiri. Harriet hilang sejak tahun 1966 dan diperkirakan telah tewas.

The Girl With The Dragon Tatto membuka cerita Millenium Trilogy dengan memperkenalkan Lisbeth dan Mikael serta temuan mereka tentang kasus yang dihadapi. Hasil penyelidikan Lisbeth dan Mikael mengarah pada serangkaian besar kasus pembunuhan yang dilakukan keluarga Vanger dan keluarga Vanger akan berusaha mati-matian untuk memastikan rahasia mereka tetap aman.

Cerita berlanjut ke film kedua, The Girl Who Played With Fire. Disini masa lalu Lisbeth dipaparkan dengan gamblang. Lisbeth membakar ayahnya di usia 12 sebagai usaha membela ibunya, masuk dalam RSJ di usia muda karena dianggap menderita gangguan jiwa, dan harus mengalami pelecehan seksual yang dilakukan walinya sendiri. Tidak cukup sampai disitu, Lisbeth juga dituduh atas tiga kasus pembunuhan.

Dalam penutup, Mikael berusaha membuktikan Lisbeth tidak bersalah. Lewat Millenium, Mikael mengumpulkan semua bukti untuk dapat membebaskan Lisbeth dari segala tuduhan sekaligus menjebloskan semua pihak terkait ke dalam penjara.

Oh well, kalau melihat film ketiga ceritanya memang cukup happy ending. Tapi inti cerita tidak terletak disitu, Stieg Larsson ingin mengangkat tema kekerasan seksual karena pernah merasa tidak berdaya menolong seorang gadis yang mengalami pemerkosaan. Bukan kebetulan jika nama gadis tersebut adalah Lisbeth yang akhirnya dipakai sebagai nama tokoh utama perempuan dalam The Millenium Trilogy.

Harus saya akui, ini bukan salah satu review film yang saya tulis dengan baik. Sulit untuk mereview sebuah rentetan film yang ditonton secara terpisah. The Millenium Trilogy adalah trilogi hebat asal Swedia, salahkan saya yang tidak dapat menulisnya dengan baik. Untuk yang menonton keseluruhan filmnya, ada tantangan tersendiri untuk menghubungkan semua keping informasi yang diberikan di setiap episodenya. Teror yang dilakukan kepada Mikael, Lisbeth dan orang-orang di sekitar mereka mampu mencekam penonton untuk terus mengikuti jalannya cerita.

Walau tidak menonton dua film sebelumnya, The Girl Who Kicked The Hornest' Nest mampu membuat saya terus berpikir dan mengaitkan serpihan informasi dari film pertama dan kedua yang ditampilkan secara sepintas. Tidak ada waktu untuk rasa kantuk atau bosan karena tidak mengerti jalan cerita, yang ada adalah rentetan pertanyaan dan rasa penasaran untuk dapat mengerti cerita yang disajikan. Film ini membuat saya tidak sadar telah menghabiskan waktu 2 jam lebih untuk menontonnya.

The Millenium Trilogy akan di-remake versi Hollywood. Saya tidak banyak berharap dengan hasilnya apalagi setelah menonton versi Swedia yang demikian mencengangkan. Pesan saya jika Anda akan menonton The Millenium Trilogy: tonton semua film secara utuh dan berurutan. Jangan ganggu orang di sebelah Anda dengan pertanyaan-pertanyaan karena Anda tidak menonton film sebelumnya (lirik Exort).

See you in INAFFF11 :)

Rabu, 17 November 2010

INAFFF10 Minus Film Indonesia


Film dapat dilihat sebagai sebuah karya seni atau sebagai barang dagangan. Karya seni disini tentu bukan merupakan seni murni (fine art), tetapi lebih sebagai seni terapan atau seni modern sehingga masyarakat awam masih bisa menerima dan mencernanya. Di sisi lain, film hanya dipandang sebagai barang dagangan yang dibuat untuk menghasilkan keuntungan. Film tak lebih dari sebuah komoditas yang dibuat dengan pertimbangan untung rugi. Semakin banyak penonton film tersebut maka semakin besar keuntungan yang akan diraup.

Adalah mungkin untuk membuat sebuah film seni yang komersil, sayangnya kebanyakan produser film Indonesia lebih mengutamakan keuntungan dibanding cita rasa seni. Mereka membuat film dengan satu formula, khusus untuk film horor formula andalan yang digunakan adalah cerita horor yang ternyata lebih banyak mengumbar adegan syur, bintang utama wanita dengan baju kurang bahan, dan yang sedang intens dilakukan adalah memakai bintang film porno luar negeri. Semua ini tentu dilakukan untuk menarik sebanyak mungkin penonton yang berkorelasi positif dengan keuntungan yang dihasilkan.

Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) adalah festival film yang mengkhususkan diri pada genre fantasi seperti horor, thriller, science fiction, dan animasi. Indonesia patut bangga karena INAFFF menjadi festival film pertama bergenre fantasi di Asia Tenggara dan yang kedua di Asia setelah Puchon Film Festival di Korea. Indonesia juga patut bangga karena dua tahun berturut-turut INAFFF dibuka oleh film lokal buatan sineas dalam negeri; Takut (Fear) sebagai opening film INAFFF08 dan Macabre (Rumah Dara) membuka layar INAFFF di tahun 2009. Namun Indonesia harus berbesar hati karena tahun ini tidak satu pun film lokal berhasil masuk dalam layar INAFFF.

Rusli Eddy selaku Festival Director INAFFF menyatakan kesulitan mencari film horor lokal yang dapat diputar di INAFFF. Pilihan yang ada sekarang hanya berkisar di cerita kuntilanak merintih atau setan yang datang bulan. Produser Sheila Timothy juga menyayangkan kualitas film horor Indonesia saat ini, padahal kalau dibuat dengan serius film horor berkesempatan membawa Indonesia ke kancah perfilman internasional.

Mau tidak mau harus diakui, kualitas film horor Indonesia memang disetir kepentingan komersil pembuatnya. Tambahkan saja pemeran panas wanita dan baju kurang bahan, pasti masyarakat berbondong-bondong menonton. Selera masyarakat juga yang membuat film semacam ini terus eksis di setiap bioskop Indonesia. Produser menganggap ide cerita yang melenceng dari formula andalan yang telah dibuat akan mematikan penghasilan mereka selama ini.

Memang memprihatinkan melihat kondisi seperti ini dan INAFFF menolak untuk tinggal diam. Setelah berhasil membuat festival film bergenre fantasi dan membawa puluhan film dengan genre tersebut kepada movie buzz, maka INAFFF membuat sebuah terobosan baru untuk memajukan kualitas film fantasi Indonesia. Hampir senada dengan saudara dekatnya JIFFest, INAFFF sedang mempersiapkan ajang Kompetisi Film Pendek untuk genre fantasi (horor, thriller, sci-fi) di pertengahan 2011. 

Kompetisi ini membuka kesempatan bagi umum, baik yang bergelut di dunia film maupun yang belum pernah membuat film sekalipun, untuk menyerahkan sinopsis mereka. Akan dipilih 25 tim terbaik untuk mengikuti workshop selama tiga hari yang akan membekali para pemenang tentang pengetahuan dalam pembuatan film dan pemasarannya. Sepuluh film pendek terbaik akan ditayangkan di INAFFF11 dan akan dipilih satu film terbaik. 

Berita yang terakhir ini tentu akan membuat semua movie buzz menahan napasnya: film terbaik akan diproduseri oleh LifeLike Pictures dan disejajarkan dengan tiga sutradara: Joko Anwar (Pintu Terlarang), Gareth Evans (Merantau), dan Timo Tjahjanto (Rumah Dara). Omnibus 4 film pendek ini akan diputar di seluruh bioskop nasional dan diikutsertakan ke berbagai festival mancanegara.

Mengusung semangat ini, maka INAFFF memutar Monsters (UK, 2010) sebagai opening film. Film besutan Gareth Edwards ini merupakan low budget movie yang menuai banyak kritikan positif. Hanya dengan dana 15.000 USD (sekitar 130juta), Gareth berhasil menampilkan kondisi Meksiko yang terinfeksi makhluk asing, menangkap kemiskinan khas negara dunia ketiga, dan menyentil halus kondisi politik Amerika - Meksiko. Gareth hanya menggunakan satu kamera selama pembuatan Monsters, bergerilya selama enam pekan di Meksiko dan (lagi-lagi) hanya memakai dua pemeran utama saja. Seluruh special effect yang ditampilkan dalam film pun hanya diolah dalam laptop sang sutradara. 

Terbukti, film berkualitas tidak melulu memerlukan dana super besar dan kreativitas tidak perlu mati di tangan para produser dengan formula andalan mereka. Banyak ide brilian sineas muda namun harus terbentur masalah dana dan sponsor, produser menolak cerita mereka karena terlalu melenceng dari formula yang selama ini dipakai. Sekarang saatnya mendobrak paradigma ini. Dengan kreativitas dan kecintaan akan film bertema fantasi, sebuah film memukau dapat dihasilkan. 

Jadi, siap untuk berpartisipasi dalam Fantastic Indonesian Short Film Competition 2011 dan ikut memajukan kualitas film Indonesia?

Spesial thanks to INAFFF for opening and closing invitation :)
Does he looked familiar?

Kamis, 11 November 2010

Mencicipi Animasi Ala Eropa

Satu hal yang selalu saya lakukan sebelum menonton film dalam sebuah film festival: lihat trailernya di YouTube. Biasanya festival film hanya mencantumkan jadwal, venue, dan sinopsis film, minus trailer. Jangan hanya mengandalkan sinopsis yang menarik karena tak jarang cara penerjemahan cerita dalam bentuk audio-visual  membuat film tersebut tidak semenarik sinopsis ceritanya. Alur cerita, akting pemain, cara bertutur cerita, sampai ilustrasi musik dapat dilihat lewat sebuah trailer film.

Perlu diingat juga, sinopsis film yang tidak menarik bukan berarti film tersebut membosankan. Synopsis do the crime :) Tidak jarang sinopsis yang kurang menarik dan tidak dijagokan dalam festival film justru memiliki cara bertutur yang sangat cantik. Ada kepuasan tersendiri jika menemukan film seperti ini dalam sebuah festival film, saya tidak hanya berkesempatan menonton film berkualitas yang tidak mungkin diputar di bioskop Indonesia, jumlah peminat film ini juga lebih sedikit dibanding film andalan jadi tidak perlu takut kehabisan tiket.

Festival film tentunya membawa beragam film dari berbagai belahan dunia dan setiap film memiliki cara bertutur khas sesuai negaranya masing-masing. Bagi saya yang selalu dicekoki cara bertutur drama tiga babak khas Hollywood (perkenalan tokoh utama – klimaks – penyelesaian) tentu butuh usaha ekstra untuk mencerna pesan yang ingin disampaikan lewat film non-Hollywood. Disni trailer film berperan besar agar saya dapat mempersiapkan diri untuk mencerna film akan ditonton plus menghindari film ‘berat’ yang berimbas kepada migrain mendadak.

The Secret of Kells adalah salah satu film yang saya ‘temukan’ dengan bantuan trailer di YouTube. Sinopsis yang ditulis dalam buku program sama sekali tidak memancing rasa tertarik, belum lagi The Secret of Kells masuk dalam kategori animasi, ‘Aihh... Anak kecil sekali’ pikir saya. Film ini langsung keluar dari ‘daftar film wajib nonton’ yang saya buat. Namun setelah melihat ini:


The Secret of Kells berhasil mencuri hati saya dan segera menduduki peringkat 1 ‘daftar film wajib nonton’.

Bercerita tentang Brendan, seorang calon biarawan berusia 12 tahun. Brendan tinggal dengan pamannya Abbot Cellach yang sibuk membangun tembok pertahanan untuk melindungi biara Kells dari serangan bangsa viking. Sebagaimana anak seusianya, Brendan selalu tertarik dengan hal-hal baru dan penasaran dengan semua yang terjadi di luar tembok biara. Brendan lebih suka bermain dalam scriptorium (studio tempat menulis naskah) bersama para scriptoria (penulis naskah) dibanding membantu pamannya.

Suatu hari datang Brother Aidan membawa Books of Iona yang belum rampung ke Kells. Pulau Iona sudah musnah karena serangan bangsa viking dan Brother Aidan hanya membawa Books of Iona sebagai satu-satunya harta berharga dari pulau tersebut. Konon buku ini dapat menyelamatkan sebuah peradaban. Melihat rasa ingin tahu Brendan yang demikian besar, Brother Aidan menunjukkan Brendan keindahan seni dan mendorong Brendan untuk berani mengeksplorasi dunia di luar tembok pertahanan; sebuah hutan misterius dengan berbagai mahkluk gaibnya. Ditemani Pangur Ban kucing kesayangan Brother Aidan, Brendan menjelajahi hutan dan bertemu seorang peri hutan bernama Aisling.


Aisling: 'And this is my forest'. (I L.O.V.E the scene)


Aisling song yang mengubah Pangur Ban menjadi sesosok roh untuk dapat menyelamatkan Brendan.

Umh, ceritanya terlihat begitu simpel dan ringan. Tetapi saya tidak mendapat 'hubungan' antara serangan bangsa Viking, sebuah buku, dan arti menyelamatkan peradaban. Saya kira ketika Brendan berhasil menyelesaikan Book of Kells maka buku tersebut memiliki kekuatan untuk mengalahkan bangsa Viking sehingga biara Kells tetap aman terlindungi. Ergh, sangat terlihat bahwa saya terlalu banyak mengkonsumsi animasi Jepang dan Hollywood.

Setelah browsing ke beberapa tempat, saya makin kagum dengan animasi ini. Siapa sangka ternyata The Book of Kells dibuat berdasarkan sejarah Irlandia di abad ke sembilan. Pada masa itu kerajaan Romawi hancur dan memasuki masa kegelapan (dark ages) dimana tingkat kriminalitas meningkat, pemerintahan dan hukum berhenti, masyarakat buta huruf dan buta akan ilmu pengetahuan. Di masa kegelapan ini agama memiliki peranan penting, biara menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
The Secret of Kells memberi gambaran betapa masyarakat di era kegelapan lebih memilih untuk mempertahankan diri dari belitan ekonomi dan kejahatan. Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang mewah dan hanya dimiliki oleh segelintir orang. Inilah mengapa Abbot Cellach lebih memilih bekerja keras membangun tembok demi melindungi biara dan masyarakatnya. Books of Kells merupakan simbol ilmu pengetahuan dan Brendan terus berjuang menyelesaikan buku tersebut agar ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya dapat terus disebarkan ke semua orang. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang dapat menyelamatkan dan mengembangkan sebuah peradaban.

Tidak banyak yang tahu kalau The Secret of Kells berhasil masuk dalam nominasi Best Animated Feature Film Academy Award 2010. Apa yang membedakan The Secret Of Kells dengan animasi sejenis? Jika animasi Jepang memiliki kekhasan dengan tokoh kartun bermata besar dan animasi Hollywood menggambarkan tokoh laki-laki dengan sosok oh-so-superhero dan tokoh perempuan oh-so-supermodel, maka animasi Eropa tampil seperti lukisan yang dijadikan sebuah gambar bergerak. Setiap adegan dipenuhi ilustrasi menakjubkan yang berdiri sendiri-sendiri, walau demikian terdapat kesamaan makna sehingga tidak terjadi benturan antara gambar inti dan dekorasi ilustrasi.







The Secret of Kells tidak hanya memanjakan mata saat melihatnya; setiap ilustrasi rasanya dibuat dengan imajinasi bebas tanpa batas, namun The Secret of Kells juga membawa pesan pentingnya ilmu pengetahuan tanpa terasa menggurui. Seperti kata Aisling 'I have seen the book. The book that turned darkness into light'.

Referensi:
http://hanifah-azzahra.blogspot.com/2009/04/sejarah-desain-naskah-abad-pertengahan.html
http://www.flickmagazine.net/review/305-the-secret-of-kells.html

Jumat, 05 November 2010

Europe On Screen Opening Night

Memasuki tahun keempatnya, Festival Film Eropa atau lebih dikenal dengan Europe On Screen kembali hadir di Indonesia. Acara ini digelar dari tanggal 29 Oktober - 30 November 2010 di 7 kota besar Indonesia. Kali ini Europe On Screen berkolaborasi dengan sineas Indonesia dengan menayangkan 40 film dari 29 negara belahan Eropa berdampingan dengan 25 film pendek karya sineas dalam negeri.

Tema yang diangkat dari penyelenggaraan Europe On Screen tahun ini adalah Europe in Motion; Eropa yang bergerak. Tujuannya untuk menggambarkan kedinamisan dan keanekaragaman budaya Eropa dan untuk menunjukkan bahwa Eropa terus berupaya untuk bergerak maju di dalam batas-batas negaranya dan dalam menjalin hubungan dengan dunia yang lebih luas. Melalui media audio-visual, diharapkan masyarakat dapat memahami dan mempelajari kebudayaan Eropa. Film Indonesia yang turut diputar selama festival juga merupakan sebuah simbol pertukaran budaya Eropa - Indonesia. 'Kebudayaan secara umum dan film secara khusus adalah piranti penting untuk lebih mengapresiasi kekayaan dalam perbedaan dan untuk mendorong saling pemahaman', ungkap Christiaan Tanghe, duta besar Belgia untuk Indonesia.


Film yang diputar dalam Europe On Screen dapat dikotakkan dalam enam kelompok besar: Europe laugh untuk film komedi, family affairs mengeksplorasi makna dari sebuah keluarga, Europe on screen shorts menampilkan film pendek kolaborasi sineas Eropa dan Indonesia, life lessons berbagi cerita tentang pelajaran dari perjalanan hidup, paths of glory untuk menampilkan sejarah Eropa, dan youth section yang memperlihatkan imajinasi khas anak-anak. Semua film diputar dengan sistem free screening, tiket akan diberikan secara free 45 menit sebelum film digelar. 

Yogyakarta menjadi tuan rumah pertama dari pemutaran Europe On Screen. Di Jakarta,  festival film ini diputar dari tanggal 5 - 12 November 2010. Hampir semua festival film membuka opening dan closing film hanya untuk undangan (invitation only), begitu juga dengan Europe On Screen. Sampai akhirnya 7 jam sebelum malam pembukaan, panitia mengundang publik turut hadir untuk menonton bersama film pembuka. Dan disanalah saya, bermodalkan nekat dan kecintaan pada film yang demikian besar, ikut hadir untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Keputusan mendadak panitia mengundang publik menonton film pembuka membuat saya tidak sempat mempersiapkan apapun untuk menghadiri acara ini: batik lecek karena sudah dipakai seharian, dandanan berantakan karena sepulang kerja saya langsung pergi ke Erasmus Huis, dan sepatu datar yang warnanya mulai kusam. Ugh kalau bukan demi melihat film pembuka dan merasakan suasana malam pembukaan, mana mau saya hadir dengan penampilan seperti itu. Satu hal yang paling disesalkan adalah saya tidak membawa digital camera, jadilah saya hanya mengandalkan kamera HP dengan kapasitas 2MP-nya. Inilah maksud dari kalimat 'Hanya bermodalkan nekat dan cinta kepada film yang besar'.

Penampilan paling maksimal -____-'

Mendatangi Erasmus Huis yang menjadi tempat berlangsungnya acara seperti terlempar ke sebuah tempat yang tidak saya kenali. Penuh dengan manusia berperawakan tinggi-pucat-blond-mata-biru dan bahasa yang asing di telinga. Makanan ringan dan berbotol-botol minuman 'berwarna' dibagikan dengan royalnya.


Lucu juga melihat benturan budaya yang terjadi di malam pembukaan Europe On Screen: warga Eropa yang mengobrol santai dan masing-masing memegang gelas cantik berisi minuman berwarna kuning-keemasan atau ungu tua, warga Indonesia yang sudah menerima globalisasi juga mengobrol dengan rekan-rekannya ditemani minuman dengan gelas cantik plus rokok, nyaris kalap karena berprinsip 'Kapan lagi bisa minum banyak secara gratis', warga Indonesia labil yang malu-malu dan canggung mengambil gelas cantik berisi minuman tersebut dan menyesapnya sedikit-sedikit, dan warga Indonesia yang setia dengan gelas lurus berisi soda, sambil sesekali melihat isi gelas cantik dengan rasa penasaran 'Coba ngga ya... Coba ngga ya...'.


Saat registrasi peserta, panitia menunjukkan saya tempat pemutaran film: sebuah tenda di lapangan terbuka dengan proyektor dan layar putih, 'Berasa nonton layar tancep', bisik teman saya. Untuk yang memiliki undangan resmi silahkan langsung naik ke lantai 2. Saya sendiri tidak mempersalahkan lokasi pemutaran film, bisa menonton salah satu film dari Belgia saja saya sudah puas. Bonusnya, bisa berkenalan dan mengobrol dengan Esca, produser siaran pagi Trax FM (CMIIW, saya lupa-lupa-inget nama dia). Yay, selalu menyenangkan bisa mengobrol dengan orang-orang yang bekerja di dunia media, broadcasting terutama. Malam itu Esca bertugas menyampaikan live report pembukaan Europe On Screen dan berkesempatan mewawancarai Veronika Kusumayarti (film programmer Europe On Screen). 



Selesai wawancara, 

'Kalian ngga ke lantai 2?'.

'Huff...ngga punya undangan'.

'Emang darimana sih?'.

'Heee... ngga dari mana-mana. Dateng karena emang cinta film dan pengen 'melihat' Eropa aja'.

'Ohh.. kalo gitu pake undangan gue aja. Gue udah musti cabut ke FX, ada acara lagi disana'.



See.... selalu menyenangkan berkenalan dan mengobrol dengan orang baru. Walau akhirnya tiket tersebut tidak dipergunakan dan saya tetap setia menonton di tenda. Tidak kalah menyenangkan kok dengan menonton dalam ruangan.


Film pembuka yang diputar adalah Dagen Zonder Lief (With Friends Like These). Lewat film ini diperlihatkan bagaimana cara orang Belgia berinteraksi, bersama teman menemukan tempat mereka dalam hubungannya dengan orang lain, juga dengan diri sendiri. Tidak hanya bisa mengenal budaya Belgia, film ini juga mengajak penontonnya untuk melihat kota Belgia dan keindahan alam Perancis.

Selesai film, dibagikan goodie bag yang cukup berat oleh panitia. Isinya cukup membuat saya menjerit tertahan saat membukanya dalam perjalanan pulang: brosur promosi, program book for Europe On Screen, pin dengan bendera Indonesia dan Uni Eropa, majalah MAXX-M, Total Film, dan Cinemags. 




Bisa merasakan ambiance malam pembukaan Europe On Screen, meresapi bagaimana dua budaya yang berbeda disatukan dalam sebuah tempat, berkenalan dengan orang baru, 'melihat' Belgia lewat sebuah film, dapet bonus goodie bag. Ini semua melebihi harapan dan bayangan yang ada di kepala saat saya memutuskan untuk menonton film pembuka Europe On Screen.

Europe On Screen diputar di:
Yogyakarta: 29 - 30 Oktober
Bandung: 1 - 2 November
Jakarta: 5 - 12 November
Surabaya: 13 - 14 November
Denpasar: 20 - 21 November
Semarang: 24 - 25 November
Banda Aceh: 26 - 30 November

Info jadwal, lokasi acara dan review film bisa dilihat di www.europeonscreen.org

Notes: Nobar yu, email saya ya :)

Special thanks: Rimadhani Syafei yang menemani saya menghadiri acara ini, plus jadi juru foto dadakan juga.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Save JIFFest: Giliran Publik Ikut Berpartisipasi


Save JIFFest. Saya kaget membaca topik ini di twitter. Ada apa dengan JIFFest? Mengapa sampai ada gerakan ini? Rasanya perhelatan festival film internasional pertama di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara ini selalu menuai sukses dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Cukup miris, ternyata festival film sekaliber JIFFest pun menghadapi masalah klasik krisis pendanaan.

Rencananya JIFFest yang memasuki tahun ke-12 akan diselenggarakan pada tanggal 27 November - 3 Desember 2010, tetapi hingga saat ini panitia masih kekurangan dana. Untuk menggelar sebuah perhelatan film akbar sebenarnya diperlukan dana minimal 5M, tetapi panitia mencoba menekannya hingga ke angka 2M. Angka ini ternyata belum juga dapat dipenuhi karena panitia masih membutuhkan kucuran dana 1.5M dari seluruh total dana yang diperlukan. Jika sampai awal November dana tidak terkumpul, siap-siap mengucapkan selamat tinggal untuk JIFFest tahun ini.

Selama ini sumber pendanaan utama JIFFest berasal dari bantuan donor asing. Bantuan ini harus berhenti di tahun ke-10 sehingga JIFFest harus mengandalkan bantuan pemerintah dan sponsor lokal. Fakta ini cukup menjelaskan mengapa JIFFest tahun kemarin hanya terpusat di satu bioskop dan hanya membuka 4 layar saja. Berbeda jauh dengan tahun awal kemunculan JIFFest yang mampu membuka sampai 11 layar di berbagai titik sentral kota Jakarta

Sejak awal penyelenggaraannya, JIFFest telah membawa tak kurang dari 1500 judul film berkualitas dari 40 negara dan dihadiri oleh lebih dari 350 ribu orang. JIFFest tak hanya memuaskan penikmat film yang jenuh dengan drama tiga babak khas Hollywood atau penonton yang muak dengan film Indonesia bergenre komedi-horor-seks, JIFFest juga membuka cakrawala akan keragaman budaya, ide, gagasan, dan terobosan baru dari berbagai belahan dunia

Tak hanya mengkhususkan diri memutar film dari penjuru dunia, JIFFest juga menggelar Kompetisi Film Panjang Indonesia sejak tahun 2006 untuk mencari bibit-bibit baru yang kompeten di dunia perfilman Indonesia. Kategori Sutradara Terbaik dan Film Terbaik yang diperebutkan setiap tahunnya ini juga merupakan bentuk apresiasi JIFFest terhadap sineas Indonesia. Kompetisi ini diharapkan dapat memacu sineas lain untuk menciptakan lebih banyak lagi film Indonesia yang berkualitas.

JIFFest pun loyal menggelar diskusi, workshop, dan master class dengan pembicara yang kompeten di bidangnya. Tak tanggung-tanggung, beberapa tamu khusus JIFFest juga didatangkan dari luar negeri untuk turut berpartisipasi dalam diskusi panel maupun master class. Tak heran rasanya jika kemudian JIFFest berhasil mencetak nama-nama seperti Salman Aristo (penulis skenario, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku) dan Lucky Kuswandi (sutradara, Madame X) yang mengawali karya mereka lewat festival film ini.

Biaya terbesar JIFFest dialokasikan untuk meminjam dan mendatangkan film dari luar negeri. Ini tidak diimbangi dengan pemasukan yang diperoleh dari penjualan tiket. Harga tiket JIFFest memang dijual di bawah harga pasaran bioskop umum, beberapa malah digelar secara free screening. Hal ini ditujukan agar publik dapat mengakses berbagai film bermutu dari berbagai negara, publik tidak akan mampu mengaksesnya jika harga tiket dijual sesuai dengan harga film yang diputar. 

Idealnya pendanaan JIFFest disokong melalui 30% sumbangan pemerintah, 30% dari Pemda, dan sisanya dari swasta. Pendiri JIFFest, Shanty Harmyn menyatakan selama 11 tahun JIFFest berlangsung nyaris tidak ada bantuan dana dari pemerintah. 'Pemerintah melihat JIFFest sebagai beban, bukan sebagai kesempatan', ungkapnya. Lebih lanjut, dalam jumpa pers 'Save Our JIFFest' di Galeri Cipta III TIM, Kamis (14/10) lalu, Shanty mengajak publik untuk berjuang bersama menyelamatkan JIFFest. Menggalang dana dari masyarakat berapa pun nominalnya agar festival ini dapat terselenggara.

Mari kita selamatkan JIFFest. Anda tidak perlu menjadi seorang pecinta film untuk ikut tergerak menyumbang. Anda tidak perlu bersikap acuh karena belum pernah menghadiri event ini. Anda hanya perlu sadar, bahwa JIFFest merupakan sebuah kegiatan budaya yang mendorong pemahaman terhadap keragaman dan perbedaan manusia. Bahwa Indonesia memiliki JIFFest yang dapat disejajarkan dengan berbagai festival film internasional lainnya.

Mari selamatkan JIFFest dan tunjukkan kepada pemerintah pentingnya event ini untuk Indonesia. Sebuah festival film bergengsi yang dijadikan ajang bertemunya filmmaker dari berbagai belahan negara, dimana para sineas Indonesia berbakat dapat menunjukkan denyut nadi perfilman Indonesia yang walau lemah tapi masih dapat bersaing di kancah internasional. Betapa publik selalu mengharapkan kehadiran JIFFest setiap tahunnya dan bagaimana JIFFest telah ikut serta dalam memajukan kualitas perfilman Indonesia.

Sebuah festival bisa bertahan lebih dari satu dekade berkat dukungan para penonton dan pendukung setianya, yaitu Anda semua. Dengan menyelamatkan JIFFest, Anda telah berperan serta dalam menyelamatkan Jakarta sebagai kota tempat kita semua hidup bersama untuk merayakan keragaman budaya dan manusianya. Untuk Anda yang tinggal di luar Jakarta tidak perlu berkecil hati karena ada JIFFest Traveling yang digelar di 6 kota besar di Indonesia. 

Informasi lebih lanjut dapat mengirimkan email ke info@jiffest.org atau jiffest@gmail.com. Donasi dapat disumbangkan melalui:
Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia
BCA Percetakan Negara
No Rekening 7420030091
Bukti pembayaran dapat Anda kirimkan melalui alamat email di atas, atau fax ke 021-31925360.

Untuk mengikuti perkembangan Save JIFFest dan menunjukkan dukungan, Anda dapat memantaunya lewat twitter dengan hashtag #savejiffest. Perlu diingat, yang dibutuhkan saat ini bukanlah dukungan atau retweet semata, bukan pula cecaran yang menyalahkan pemerintah, tetapi donasi yang Anda berikan.

JIFFest adalah milik kita bersama
Save Our JIFFest

Notes: Beberapa data diambil dari Press Release 'Save Our JIFFest' yang diselenggarakan di Galeri Cipta TIM hari Kamis (14/10) dan artikel terkait.

Minggu, 09 Mei 2010

Turkish Film Festival (+kopdar)

Untuk pertama kalinya Festival Film Turki diputar di Jakarta. Acara ini berlangsung dari tanggal 7 - 9 Mei 2010 di Blitz Megaplex GI dan memutar 5 film. Saya sendiri hanya dapat mengunjungi event ini di hari terakhir dan hanya menonton 1 film. 

Bundaran HI dari dalam bus TransJakarta

Berhubung film diputar sore hari, saya bisa menjelajah GI dulu. Entah sudah berapa kali berkunjung kesini tapi tidak pernah sempat melihat shopping town ini secara utuh. Penyebab utamanya mungkin karena saya terlalu lama menghabiskan waktu di Blitz :p Secara umum, mungkin GI sama dengan mall bintang 5 lainnya. Tak ada yang spesial. Tapi GI punya dancing fountain dan akhirnya saya berkesempatan menontonnya. Yippie... :D


Dancing fountain dibuka dengan lagu New York New York, ampuh sebagai pembuka pertunjukkan dan memukau semua pengunjung yang ada. Lalu berturut-turut disambung beberapa lagu lain dan ditutup dengan Don't Cry For Me Argentina. Saat pertunjukan akan berakhir, keluar gelembung-gelembung sabun yang  tadinya saya kira hanya efek 3D, dan penonton dikejutkan dengan ledakan dan semburan pita warna-warni. Gawd, I love the show!!! Jadi inget pas nonton Song of The Sea di Sentosa Island.

Abis nonton Dancing Fountain langsung ke Blitz dan ketemu Exort :D Akhirnya ketemuan juga!!! Hahaha... Manusia satu ini emang sibuk berat dan syusyah minta ampun buat diajak kopdaran. But too bad, karena (lagi-lagi) Exort ada janji sama temannya, jadi kita ngga sempet ngobrol banyak dan saya ngga sempet otak-atik kamera barunya Exort, ngga sempet bernarsis ria dengan kamera tersebut, bodohnya lagi ngga sempet foto bareng Exort. Haha, udah kaya artis aja pake acara foto bareng.


Saya nonton film I Saw The Sun. Bercerita tentang dua keluarga Turki yang harus mengungsi karena perang. Satu keluarga ingin pergi ke Norwegia sebagai imigran gelap dan satu lagi menetap di Istambul. Mereka harus bertahan hidup di tempat baru dengan konflik keluarga yang begitu beragam. Film ini memang menyoroti banyak hal, mulai dari kelompok gay yang didiskriminasikan dan mendapat perlakuan semena-mena, ras gender dimana setiap wanita berkewajiban melahirkan seorang anak laki-laki, sampai masalah human trafficking.

I Saw The Sun memang terasa datar dan membosankan di bagian awal. Alurnya berjalan lambat dan terlalu banyak tokoh yang diperkenalkan, tak heran karena keluarga Turki merupakan keluarga besar dimana kakek, nenek, ayah, ibu, dan anak tinggal dalam satu rumah. Di pertengahan film konflik keluarga mulai memuncak dan beberapa isu yang cukup sensitif dilontarkan. Emosi penonton juga baru dipermainkan di bagian akhir cerita. 

Untuk film Turki pertama yang ditonton, I Saw The Sun dapat membuka mata saya akan masalah sosial yang terjadi di negara itu. Semoga Festival Film Turki bisa dijadikan agenda tahunan Blitz :)

Sabtu, 12 Desember 2009

11th Jakarta International Film Festival (JIFFest)

Yeaaayyy...for the first time in my life, I attended the biggest film festival in Indonesia (kemana aja neng....) ahahahaha....dulu kan blm ngerti Jakarta, jadi nga berani jalan sendiri, nga  punya uang sendiri juga (malu ah minta sm ortu mulu), nga ngerti sistem JIFFest itu sendiri gmn (at least skrg mah lebih pinter), dan yang paling utama adalah...nga punya temen yang satu selera untuk nonton acara kaya gini (and now I've found one).

Kali ini JIFFest digelar dari tanggal 4-12 Desember 2009 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Di tahunnya yang ke sebelas, JIFFest menghadirkan 15 film Indonesia: 3 Doa 3 Cinta, Babi Buta yang Ingin Terbang, Bukan Cinta Biasa, Cin(t)a, Garuda di Dadaku, Get Married 2, Identitas, Jermal, Kado Hari Jadi, Keramat, King, Merantau, Pintu Terlarang, Romeo Juliet, dan Under The Tree. Dan yang lebih membanggakan, untuk pertama kalinya JIFFest dibuka dengan film Indonesia, Sang Pemimpi. Aaaahhh....senang rasanya negeri sendiri dapat membuktikan eksistensinya di kancah perfilman dunia dan bersaing dengan film2 asing.

Sistem penayangan film JIFFest dibagi menjadi 5 bagian, premiere (by invitation only), free screening, world cinema (tiket Rp 25.ooo), world cinema documentary + madani (tiket Rp 15.ooo), dan Panels/JIFFest Events (registration required). Karena saya bukan artis dan bukan orang penting di dunia perfilman, maka tidak mungkin saya bisa menonton film premiere ( Sang Pemimpi dan New York I Love You).*crap*. Jadi saya mengincar film2 world cinema, dokumenter, madani, dan yang pasti free screening. Untuk free screening sendiri tiket akan dibagikan 1jam sebelum film diputar.

Hmmm...pengennya sih bisa ambil cuti satu minggu penuh dan dengan setia nongkrong di Blitz. Tapi karena saya hanya pegawai kantoran yang masih membutuhkan uang, jadi keinginan itu pun harus dikubur dalam-dalam.*sigh*. Saya cuma bisa meluangkan waktu di akhir pekan, jadi rencananya saya akan datang ke JIFFest di tanggal 5, 6, dan 12 Desember. Mau ambil cuti juga rasanya nga mungkin, lagi tanggal sibuk, akhir tahun pula. Hukhuks nasibkuuuuu......




5 Desember 2009

Dateng ke JIFFest bareng my partner in crime, Sagita. Beberapa hari sebelumnya kita udah ngobrolin film2 apa yang mau ditonton plus ngatur jamnya, jadi dalam satu hari bisa nonton sebanyak mungkin. Sialnya adalah, film-film yang diputer tanggal 5 itu masuk dalam daftar "must see movies" semua dan kita agak sedikit kebingungan untuk memutuskan akan nonton yang mana. Contohnya, Three Monkeys (Uc maymun, Turkey), Love and Rage , dan Swiss Shorts (kumpulan 9 film pendek asal Switzerland) diputer barengan, dan parahnya kita kekurangan resensi mengenai film2 tersebut. Akhirnya, bermodal Youtube saya coba-coba untuk cari thrillernya. Dari situ akhirnya kami memutuskan untuk nonton Love and Rage, 15 Malaysia, dan Burma VJ.



Love and Rage (Vanvittig Forelsket). Denmark. Dir: Morten Giese

Kisah klasik tentang cinta dan kecemburuan. Daniel adalah seorang pelajar di bidang musik yang jatuh cinta kepada Sofie. Rasa cintanya yang besar diikuti juga oleh tumbuhnya  rasa cemburu yang berlebihan kepada Sofie. Kecurigaannya mulai tidak terkendali dan memunculkan kepribadian lain dalam diri Daniel.

Hmm....sebenernya saya nga terlalu suka dan ngerti dengan ending film ini. "ko cuma gitu doang sih endingnya", itu yg terlintas di kepala saya setelah nonton film ini. But afterall, permainan piano David (Cyron Melville) hebat banget, dia bahkan menjadi Best Actor di Montreal World Film Festival 2009 berkat perannya di film ini. Sara Hjort Ditlevsen juga mampu membawakan karakter Sofie sebagai wanita yang ingin membawakan musik klasik dengan cara yang lebih modern.


15 Malaysia. Malaysia. Dir: Yasmin Ahmad, Khairil M, Bahar, Tan Chui Mui, Linus Chung, Yuhang Ho, Johan John, James Lee, Amir Muhammad, Namron, Desmond Ng, Kamal Sabran, Liew Seng Tat, Mussadique Sulaeman.
15Malaysia adalah sebuah proyek kumpulan film pendek yang terdiri dari 15 film pendek oleh 15 pembuat film. Film-film ini tidak hanya berkutat pada isu sosial politik saja, beberapa diantaranya juga termasuk para aktor, musisi, dan pemimpin politik terkenal. 

15 film yang mampu membuat kita lebih mengenal Malaysia, sebuah negara yang begitu dekat dengan negara sendiri. Seperti melihat kembaran Indonesia, unsur kekerabatan yang begitu dekat, bahasa melayu yang akrab di telinga, dan budaya yang dekat dengan negara sendiri.
Melalui film pendek ini, saya mengenal sosok Yasmin Ahmad, seorang genius untuk dunia perfilman Malaysia yang baru saja tutup usia di tahun ini. Beberapa film Malaysia yang diputar di JIFFest bahkan didedikasikan untuk mengenangnya.
Dari 15film yang diputar, ada dua film yang benar-benar membekas di ingatan saya, halal dan potong saga. Film ini mampu membuat saya ketawa ngakak sampe sakit perut. nga bisa ngomong banyak, lebih baik buka link nya dan silahkan berkomentar sendiri :D

Burma VJ: Reporting from a Closed Country. Denmark. Dir: Anders Ostergaard.

Hidup dalam rezim militer yang menutup diri dari media asing, kehidupan sengsara masyarakat Burma selalu luput dari perhatian dunia internasional. Sekelompok VJ yang dipimpin Joshua merekam realita kehidupan sehari-hari rakyat Burma. Video-video berisi kebrutalan polisi dan tindakan-tindakan HAM kini tersedia untuk penonton di seluruh dunia. Anders Ostergaard menyatukan video-video tersebut menjadi satu cerita tentang bagaimana warga negara Burma diperlakukan oleh pemerintahnya sendiri.

 

Melihat film dokumenter ini seperti melihat wajah Indonesia tahun 1998, ketika rezim orde baru berusaha digulingkan oleh mahasiswa. Banyak orang menghilang, entah diculik, dibunuh, atau diasingkan karena dianggap berbahaya oleh pemerintah. Di film dokumenter ini juga terekam detik-detik ketika Kenji Nagai, jurnalis asal Jepang, terbunuh oleh militer Burma saat meliput aksi unjukrasa.




Hari minggu tanggal 6 Desember saya nga dateng ki JIFFest, padahal pengen nonton A Road to Mecca dan Hold Me Tight, Let Me Go. Jadwal kedua film ini malem banget, padahal besok harus bangun pagi dan berangkat kerja (huff....nasib jadi pegawai). Yasudahlah, rencananya saya dan Sagi mau ke JIFFest hari Jumat setelah pulang kerja, dan sabtu.
Iseng-iseng hari rabu kemaren saya minta izin cuti, dan ternyata dikasih.wuuuaaahhh senangnyaaa....langsung aja nghubungin Sagi dan ngerancang jadwal untuk hari Jumat dan Sabtu nanti. Rencananya hari Jumat mau nonton Bukan Cinta Biasa, Muallaf, Departures, dan (500) Days Of Summer, sedangkan hari Sabtu giliran Little Soldiers dan Everlasting Moments.


Jumat, 11 Desember

Berangkat dari rumah dengan semangat menyala, asik bisa nonton banyak film keren hari ini. Tapiiiii....oh my....kapan sih Jakarta itu nga maceeett???ukh, sampe Grand Indonesia udah mepet banget dan keabisan tiket free screening Bukan Cinta Biasa. ukh...antri tiket aja deh. Ini percakapan saya dan penjual tiket:
"Siang mba, mau nonton film apa?", penjual tiket menyapa ramah.
"Muallaf dong", jawab saya dengan senyum manis.
"Muallaf nya udah penuh mba" jawab penjual tiket santai.
"Penuh? Departures aja deh", saya masih berusaha optimis.
"Wah, depaturesnya udah sold out", penjual tiket menjawab dengan sangat yakin tanpa melihat layar lagi.
"Hah???!!! (500) days of summer?" Saya udah hampir nangis.
"Sudah habis mba", penjual tiket menjawab prihatin.
"................................." saya nga bisa ngomong.
Lemesss rasanya lutut saya. Waduh, sia-sia amat saya ambil cuti. Saya coba hubungin Sagi, tapi sulit karena dia masih kerja. Akhirnya setelah menenangkan diri dan melihat jadwal JIFFest ulang, saya menyusun film-film lain yang akan ditonton hari itu. Iseng-iseng saya tanya ke bagian informasi, tiket untuk besok bisa dipesan hari ini nga, ternyata bisa dan saya berniat untuk memesan tiket besok sekarang juga, supaya peristiwa menyebalkan ini nga terulang lagi. Dengan wajah gembira saya kembali antri dan memesan tiket.
"Mas, saya mau pesen tiket untuk besok dong" nada suara saya terdengar sangat ceria.
"Bisa mba, mau film apa?" tanya penjaga tiket sambil membuka layar untuk jadwal film esok hari.
"Departures" saya hampir bersorak gembira karena yakin bisa mendapat tiket.
"Wah, udah penuh mba" menjawab yakin tanpa perlu membuka layar, sepertinya sudah beberapa ratus kali menghadapi pelanggan bernasib seperti saya.
"Penuh??? Everlasting Moments nya?" saya masih berusaha optimis.
Petugas tiket membuka layar sebentar, dan dia pun tak perlu menjawab pertanyaan saya, karena layar di depan saya menunjukkan seat yang penuh.
.........................................
GREAT!!!! saya cuma bisa terhenyak. Momen setahun sekali ini akan segera berakhir dan saya nga bisa nonton film-film itu??? Itu kan "must see movies" semua. yaaahhh...memang salah saya sih yang nga tau dan nga ngerti sistem pembelian tiket di Blitzmegaplex. Akhirnya hari itu kami memutuskan untuk nonton Calimucho, Gubra, dan The Damned United. Sedangkan untuk hari sabtu? yaaahh...kami memutuskan untuk nga dateng ajalaaahhh.... :(

Calimucho. Netherlands. Dir: Eugenie Jansen.
Sebuah keluarga rombongan sirkus sedang menghadapi kesulitan keuangan. Putri kepala sirkus tersebutlah yang menjalankan usaha sirkus ini. Namun di saat ia masih menjalin hubungan dengan pekerja asal Maroko, maka keutuhan keluarga sirkus tersebut akan semakin retak.

Hahahaha....hal paling konyol waktu nonton film ini adalah orang di kanan kiri saya dengan suksesnya tertidur (sagi included). To be honest, filmnya emang ngebosenin banget. Alurnya lambat, nga terbangun emosi dalam pemainnya, pengambilan gambarnya acak-acakan, banyak adegan nga perlu dan nga berhubungan dengan cerita inti. Yang membedakan film ini adalah narasinya dibawakan oleh sebuah anggota band, yang entah mereka masuk dalam anggota sirkus atau tidak. Satu lagi, saya melihat sendiri salah satu kebudayaan Belanda yang sangat kental, cipika-cipiki tiga kali. Oh dear.....


Gubra (anxiety). Malaysia. Dir: Yasmin Ahmad.
Orked menikah dengan Arif, seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya. Ketika Orked sedang menjaga ayahnya di rumah sakit, ia bertemu dengan Alan, kakak Jason. Kenangan indahnya bersama Jason muncul kembali, apalagi setelah ia mengetahui bahwa arif berselingkuh dengan perempuan lain.


Sebenarnya Gubra adalah bagian dari trilogi (Sepet, Rabun, dan Gubra). Tapi saya cukup mengerti isi film ini walau tidak menonton dua film sebelumnya. Film ini benar-benar hebat, saya makin mengagumi sosok Yasmin Ahmad, dia sungguh seorang genius. Satu studio sampai tertawa ngakak.
Tidak hanya komedi, film ini juga menggugah perasaan, ada saat dimana saya tercenung, bahkan menangis. Film ini tidak hanya terpusat pada kisah cinta Orked, tapi orang-orang di sekitarnya, dan orang-orang di luar lingkaran tersebut. Hampir mirip Love Actually dimana dalam satu kota terdapat beberapa kisah cinta, namun orang-orang di dalamnya tidak saling berhubungan. Banyak adegan yang membuat saya tersenyum makna dan hanya mampu mengucapkan kata "so sweet". Ya, Yasmin Ahmad memang sukses membangun mood film ini dan mood tersebut sampai kepada orang yang melihat film tersebut.
Free screening ini juga dihadiri oleh adik Yasmin Ahmad (maaf...saya lupa namanya) dan panitia mengadakan diskusi singkat tentang film ini. Sungguh sebuah momen yang hanya bisa ditemukan di JIFFest.

The Damned United. UK. Dir: Tom Hooper.
Dibuat berdasarkan novel laris karya David Pearce, film ini menceritakan tentang Brian clough, mantan manager Derby Country yang disewa oleh Leeds United sebagai manajer baru. Sebelumnya Brian merupakan kritikus terbesar akan gaya permainan Leeds United, tapi sekarang dia harus mengangani tim yang dibencinya.


Sejak kapan saya suka sepak bola dan bela-belain nonton film seperti ini? Nonton film ini tergolong kecelakaan. Saya sebenernya beli tiket untuk The Beaches of Agnes, sebuah film Perancis aliran New Wave. Tapi tak disangka, ketika akan masuk studio, panitia mengungumkan film tersebut diganti dengan The Damned United. Yaaahhh...tambah kacau lah acara nonton saya hari ini, tapi karena sudah tanggung, ya saya tonton sajalah.
Berhubung film ini berbahasa Inggris, maka tak ada subtitles, dan saya harus mengandalkan indra pendengaran agar mengerti jalan ceritanya. Sulit, karena bahasa Inggris yang dipakai berlogat British. Heu...brasa lagi nonton Harry Potter. Alur cerita juga maju-mundur, dari tahun sekian loncat ke tahun sekian. Setting cerita diantara tahun 1960-1970, lengkap dengan rekaman gambar ala tahun segitu. Tambah membosankanlah film ini dan kembali orang-orang di kanan dan kiri saya tertidur nyenyak. Tapi, ending film ini cukup menarik dan semua orang dalam bioskop terbangun dari tidur nyenyak mereka untuk menonton dan tertawa bersama. Benar-benar 97 menit yang sangat menyiksa.


JIFFest...
sebuah ajang edukasi dan apresiasi film-film dari berbagai penjuru dunia.
bagaimana sebuah film dapat membuka mata dan menambah wawasan akan dunia ini.
Dimulai dari Belitong dengan Sang Pemimpi, dan berakhir di New York dengan New York I Love You. Di tengah-tengah dua belahan dunia ini ada 25 negara lain yg layak dikunjungi dgn film-film pilihan.