total ping

Tampilkan postingan dengan label ACTION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACTION. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: FAST FIVE















































"You only live once, lets do this!"

Perlu diakui kalau franchise film ini memang selalu menarik untuk dijadikan tontonan hiburan. Para lelaki terhibur dengan mobil-mobil keren dan para wanita cantik nan sexy yang selalu hadir disini. Lalu wanita juga tentunya terhibur dengan para pria macho yang hobi ngebut. Belum lagi ditambah soundtrack yang selalu bersemangat dan asik untuk didengar. Saya pribadi paling suka dengan film pertama yakni The Fast and The Furious (2001). Waktu itu yang ada dalam benak saya, 'Filmnya keren banget!'. Selanjutnya 2 Fast 2 Furious, ohh well..tidak ada Vin Diesel dalam jajaran cast, tentu saja penonton kecewa, filmnya sendiri pun menurut saya memang mengecewakan. Berlanjut lagi dengan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) yang memangkas semua para pemain lama, digantikan dengan pemain baru. Kali ini menurut saya lumayan saja, namun kehadiran sosok Han yang diperankan oleh aktor Korea; Sung Kang, cukup mencuri perhatian. Terakhir Fast & Furious (2009) boleh ditonton, jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Namun, siapa sangka kalau Fast Five kali ini merupakan yang terbaik dari semua yang ada, at least ini menurut pendapat saya.

Fast Five bercerita tentang Brian O'Connor (Paul Walker) dan pacarnya yang juga adik Dom, Mia (Jordana Brewster) sedang berada di Rio de Janiero, Brazil, untuk bertemu dengan teman lama mereka, Vince (Matt Schulze). Disana juga akhirnya mereka bertemu lagi dengan Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru melarikan diri dan berstatus buronan. Mereka bertiga akhirnya setuju dengan tugas baru yang diberikan oleh Vince, yakni membantu mafia no.1 di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida). Namun ada sesuatu yang janggal dalam misi itu, sampai akhirnya Dom memutuskan untuk melakukan misi 'bunuh diri' yang apabila berhasil dapat merubah hidup mereka semua. Untuk merealisasikan misi ini mereka tidak bisa hanya bertiga saja, mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama untuk membantu dan nantinya hasil yang didapatkan akan dibagi rata. Tentu saja jumlah yang mereka incar sangat amat besar, namun itu juga dibarengi dengan konsekuensi yang luar biasa besar pula. Apalagi Dom dan kawan-kawan sedang dicari FBI yang mengutus orang terbaik mereka, Luke Hobbs (Dwayne Johnson).

Apa sebenarnya alasan saya berani mengatakan kalau Fast Five adalah film terbaik dari keseluruhan franchise ini? Senang sekali rasanya melihat para pemain yang berkesan muncul dan reuni bersama dalam film ini. Jalan cerita yang ditawarkan kali ini memang bisa dibilang tidak istimewa, namun selipan humor yang ada sangat menghibur! Kehadiran 'The Rock' dalam film ini juga membuat keseluruhan isi film semakin meriah. Fast Five hadir pure sebagai entertainment movie, tidak perlu berfikir pada saat menonton, nikmati saja aliran adegan aksi yang ada. Banyak dialog yang membuat penonton tertawa, ini juga semakin menambah nilai plus. Mungkin ada beberapa orang, terutama para pria pecinta otomotif yang kecewa karena dalam Fast Five kali ini tidak menyajikan mobil-mobil super keren seperti sebelumnya. Namun bagi orang yang memang tidak terlalu mempermasalah itu, Fast Five benar-benar sebuah tontonan yang memuaskan apalagi jika disaksikan dalam layar lebar. Jadi tidak sabar menunggu sekuel selanjutnya, kabarnya Eva Mendes akan kembali bergabung, begitu juga dengan karakter Letty yang diperankan oleh Michelle Rodriguez yang sepertinya akan diceritakan ternyata belum atau tidak jadi mati. Well, we'll see..











Selasa, 02 Agustus 2011

REVIEW: TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON
























"Remember this: you may lose your faith in us but never in yourselves."

BOO! Another Transformers movie.. Jujur, saya tidak terlalu bersemangat untuk menonton film ini karena film keduanya Transformers: Revenge of the Fallen (2009) sangat amat mengecewakan bagi saya. Film pertama Transformers (2007) menurut saya lumayan bagus dan tentu saja membuahkan ekspektasi yang tinggi pada film lanjutannya, akan tetapi Michael Bay mengecewakan saya dan juga para penggemar lainnya. Transformers 2 tidak berhasil dalam setiap sisi yang disajikan, setuju?! Maka ketika film ketiga ini muncul saya tidak menaruh ekspektasi apapun, apalagi Megan Fox yang sudah jadi 'icon' Transformers kini juga sudah digantikan dengan karakter baru yang diperankan model sexy Victoria's Secret, Rosie Huntington-Whiteley.

Tidak disangka, saya puas sekali dengan Transformers: Dark of the Moon. Michael Bay memang harus menggarap seperti ini. Ini lah yang diharapkan para penggemar Transformers, well at least saya pribadi berfikir demikian. Tapi saya juga harus mengatakan kalau anda mengharapkan akting yang luar biasa, plot fantastis, atau pendalaman pada tiap karakter mungkin anda akan kecewa. Ini Transformers! Entertaining movie! For me, this one is very entertaining. Saya beruntung bisa menyaksikan lebih awal pada media screening hari Minggu kemari di Senayan City XXI, 3D pula. Puas sekali. Saya keluar bioskop dengan decak kagum pada visual effects-nya yang luar biasa bagus didukung dengan adegan-adegan slow motion yang keren! This is what a Transformers movie should be!

Plot kurang lebih masih berlanjut dari dua film sebelumnya, Autobots dan Decepticons masih berperang melawan satu sama lain. Harapan satu-satunya berada di tangan jagoan kita, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang sekarang bersama pacar baru yang -woohoo- tidak kalah hot dari pacar sebelumnya, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Film dimulai dengan adegan tahun 1960-an dimana ternyata pada masa itu pesawat Autobot pernah kecelakan dan terdampar di bulan. Program Apollo 11 berhasil menemukan pesawat tersebut dan membawa beberapa sample ke bumi dan hal ini tentu saja dirahasiakan dengan sangat ketat. Lalu disisi lain Sam sedang frustasi karena tidak mempunyai pekerjaan. Apalagi pacarnya yang cantik bekerja di showroom mobil antik milik pengusaha tampan dan kaya raya, Dylan (Patrick Dempsey). Selanjutnya dimulai lah adegan-adegan aksi antara Decepticons yang ternyata mencari sisa-sisa pilar yang dulu berada di pesawat Autobot tersebut. Dengan pilar-pilar itu mereka bisa membawa seluruh isi planet Cybertron ke Bumi.

Mulai dari pertengahan film hingga akhir kita akan melihat peperangan special effects yang luar biasa keren. Special Effects dalam film ini merupakan yang terkeren diantara ketiganya. Trust me! Bay juga banyak menyelipkan dialog dan adegan lucu kali ini sehingga membuat penonton tidak merasa bosan melihat peperangan yang terus menerus. Akting Shia LaBeouf rasanya juga lebih total kali ini, namun sayang chemistry antara dirinya dan sang model Victoria's Secret kurang terjalin dengan baik. Hmm..akting Rosie Huntington-Whiteley memang terasa kaku, tapi apa yang anda harapkan dari seorang model lingerie yang baru pertama kali bermain film? Positifnya, saya rasa Rosie cukup berhasil menggantikan posisi Megan Fox dalam film ini. Lagipula kualitas akting Megan Fox juga tidak bagus-bagus amat. Sama-sama cuma bermodalkan wajah cantik dan tubuh sexy saja, lumayan lah daripada para pria melihat robot terus. :p

Intinya, jangan mengharapkan plot yang bagus dari film ini. Seperti yang semua orang tahu jagoan pada akhirnya pasti menang. Nikmati saja sajian special effects yang ada. Sangat jauh lebih baik dibanding film keduanya yang super sucks. Saran saya, tidak perlu juga menonton versi 3D karena tidak terlalu berasa juga. I think 2D is fine. Ribet juga soalnya pakai kacamata 3D, kepala koq rasanya malah pusing. Haha.. Menurut saya Michael Bay cukup berhasil kali ini dengan Transformers 3, at least adegan peperangan Autobots dan Decepticons asik sekali untuk dinikmati. Selipan humor didalamnya beberapa juga mengundang tawa. Jajaran cast juga asik, apalagi ditambah dengan kehadiran dua pemain peraih Oscar; Frances McDormand dan John Malkovich yang semakin meramaikan suasana. Overall, film ini menghibur koq meskipun durasinya lumayan panjang sekitar 157menit, the longest of the three! :)






Rabu, 20 Juli 2011

REVIEW: X-MEN FIRST CLASS
























"Before he was Professor X, he was Charles. Before he was Magneto, he was Erik."

X-Men First Class adalah awal dari semua film X-Men yang ada. Film ini digarap oleh sutradara terbaru favorit saya, Matthew Vaughn! Ini dia calon sutradara yang genius! Walau baru menyutradai empat judul film, tapi semuanya bagus. Kick-Ass (2010) tahun lalu menjadi salah satu film favorit saya. I really loveee that movie! Begitu tau kalau Vaughn yang menyutradarai X-Men dalam versi quasi-reboot (setengah reboot dan setengah prequel), tidak heran kalau saya langsung menaruh ekspektasi yang tinggi. Menunggu dan berharap kalau film ini akan tayang di Indonesia, namun sayang sekali tidak terwujud. Padahal saya sudah membayangkan akan melihat James McAvoy di layar lebar. Arghh! Sekarang saya dan para pecinta film lainnya harus berterima kasih kepada koneksi internet yang cepat dan dvd bajakan yang bikin kita tetap bisa menonton film-film terbaru Hollywood. Nanti kalau dvd original film ini sudah keluar pasti saya beli untuk masuk kedalam koleksi-koleksi saya.

Film ini bercerita tentang Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Leshnerr (Michael Fassbender) saat masih muda. Mereka adalah dua orang mutant yang memiliki kehidupan berbeda. Masa lalu Erik kelam, ketika ia masih kecil ibunya dibunuh didepan matanya oleh Sebastian Shaw (Kevin Bacon) guna memaksa Erik mengeluarkan kekuatan uniknya dalam mengendalikan besi. Erik tumbuh dalam suasana hati yang penuh amarah dan dendam pada Shaw. Berbeda dengan Charles sang telepatis yang tumbuh dengan baik di sebuah rumah besar, pada saat masih kecil ia bertemu dengan Raven (Jennifer Lawrence), seorang mutant yang bisa berubah-rubah bentuk. Mereka tumbuh bersama layaknya kakak beradik.

Setelah Charles menyandang gelar sebagai professor dalam bidang gen manusia, seorang detektif CIA bernama Moira (Rose Byrne) datang mencarinya dan meminta bantuannya mengungkap keanehan yang baru saja terjadi. Ternyata dalang dari masalah ini adalah Shaw, ia ingin mengaktifkan nuklir dan membuat peperangan terjadi. Dari misi ini Charles berkenalan dengan Erik yang sedang ingin membalas dendam pada Shaw. Mereka pun akhirnya akrab dan menjadi teman yang saling menolong. Para mutant muda pun dikumpulkan agar misi ini berjalan dengan sukses, karena Shaw juga didukung oleh para mutant hebat seperti Emma Frost (January Jones) dan Azazel (Jason Flemyng). Lalu mutant-mutant muda ini dilatih agar kekuatan mereka maksimal. Masing-masing juga mencari nama mutant yang cocok. Charles - Professor X, Erik - Magneto, Raven - Mystique, Hank – Beast (Nicholas Hoult), dan lain-lain.

Seru sekali rasanya melihat awal mula X-Men terbentuk. Kita bisa melihat bahwa ternyata sebelum menjadi musuh bebuyutan, Professor X dan Magneto dulunya bersahabat. Saya sudah menonton keempat film sebelumnya dan saya bisa mengatakan kalau X-Men First Class adalah yang terbaik diantara semua. Tidak mudah membuat sebuah reboot, apalagi dalam film besar yang memiliki fanbase dimana-mana seperti X-Men. Tetapi Matthew Vaughn canggih sekali meramu First Class menjadi tontonan 'first class'. Meskipun semua pemainnya bukanlah para pemain lawas X-Men seperti Hugh Jackman, Patrick Stewart, Ian McKellen, Halle Berry, dan Anna Paquin, namun X-Men First Class malah terasa lebih fresh dengan kehadiran pemeran baru yang menurut saya sangat pas dengan karakter yang diperankan. Pemilihan James McAvoy sebagai Professor X dan Michael Fassbender sebagai Magneto muda benar-benar sebuah keputusan yang sempurna. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain lagi yang bisa berperan sebagus dan secocok mereka.

Terus terang saya menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini. Namun siapa sangka kalau X-Men First Class berhasil melaju jauh melampaui ekspektasi saya. Film ini sangat menghibur dan seru! Sayang sekali kita tidak bisa menyaksikan di layar lebar, padahal entertaining movie seperti ini paling pas kalau disaksikan di bioskop. Gaya Vaughn dengan tempo cepat namun alur yang jelas serta selipan humor di sela film sangat asik untuk ditonton. Bahkan bagi yang belum pernah menonton film X-Men sebelumnya saya yakin juga pasti bisa sangat menikmati. Film yang memiliki durasi sekitar 132menit ini sama sekali tidak terasa panjang, mungkin karena saya terlalu excited! Haha.. Ohh yaa..kehadiran Hugh Jackman sebagai cameo dalam film ini lumayan konyol dan mengundang tawa! Saya sudah pasti tidak sabar menunggu film-film Matthew Vaughn selanjutnya. Two tumbs up!






Minggu, 13 Februari 2011

REVIEW: THE GREEN HORNET
























Kato: I was born in Shanghai. You know Shanghai?

Britt Reid: Yeah, I love Japan.

Setelah beberapa kali penundaan dan masalah pada saat produksi akhirnya The Green Hornet dirilis juga awal 2011 ini. Green Hornet sendiri adalah karakter superhero klasik yang terkenal pada tahun 1960-an mulai dari radio hingga diangkat ke serial televisi, kala itu karakter sidekick Green Hornet diperankan oleh icon martial-arts Bruce Lee. Kali ini sang sutradara, Michel Gondry, paling dikenal lewat filmnya Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), ada juga film-film lainnya seperti Be Kind Rewind (2008) dan Tokyo! (2008). Kali ini Seth Rogen yang juga menjadi co-writer film ini bersama Evan Goldberg, berperan menjadi sang superhero Green Hornet. Penyanyi kawakan asal Taiwan, Jay Chou menggantikan posisi Bruce Lee memerankan tokoh Kato.

Britt Reid (Seth Rogen) adalah anak tunggal dari James Reid (Tom Wilkinson), pemilik surat kabar lokal 'The Daily Sentinel'. Britt tumbuh menjadi seorang playboy yang memiliki gaya hidup mewah serta gemar pesta pora, hal ini disebabkan oleh renggangnya hubungan dengan sang ayah. Ketika tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, mau tidak mau Britt harus mewarisi 'kerajaan' surat kabar milik ayahnya tersebut. Tidak sengaja ia bertemu dengan Kato (Jay Chou) yang ternyata adalah montir ayahnya dan juga orang yang selama ini membuatkan kopi nikmat untuknya setiap pagi. Britt sangat terkesan dengan kemampuan Kato dengan mesin, ia mampu membuat mesin pembuat kopi canggih, mobil dengan senjata, dll. Tidak disangka, Kato juga mahir bela diri, ia juga memiliki suatu kelebihan dimana ia bisa melihat segala sesuatu dengan perlahan. Britt lalu menemukan sebuah ide gila yaitu menjadi superhero, Kato pun menyutujui dan akhirnya mereka sepakat menjadi 'The Green Hornet'. Ternyata kehadiran pahlawan misterius ini membuat gusar ketua gangster Chudnofsky (Christoph Waltz) dan memerintahkan semua bawahannya untuk membunuh 'The Green Hornet'.

Saya benar-benar tidak berekspektasi apapun ketika menyaksikan film ini, malahan saya mengira kalau filmnya akan mengecewakan. Tapi ternyata tidak seburuk yang saya kira, film ini lumayan menghibur meskipun ada beberapa yang sedikit mengesalkan juga. Karakter Seth Rogen disini lumayan annoying kalau menurut saya, hehe.. Lalu akting Jay Chou masih terlihat sedikit kaku meskipun aksi bela diri yang ditampilkan sudah luwes dan sangat baik. Mungkin hal ini turut dipengaruhi oleh bahasa Inggris Jay Chou yang masih belum terlalu lancar. Tapi secara keseluruhan menurut saya Jay Chou cocok dengan peran Kato. Chemistry antara Seth Rogen dan Jay Chou untungnya terjalin dengan baik, karena film ini sangat mengutamakan hubungan pertemanan yang kuat antara Britt dan Kato. Saya suka dengan kehadiran Christoph Waltz disini, menghibur! Cameron Diaz sayangnya kurang pas bermain disini, entahlah menurut saya mungkin sudah terlalu berumur jika dibandingkan dengan Rogen dan Chou. But I like her anyway! Intinya ini bukan film action, tapi film komedi. Lumayan lah untuk hiburan awal tahun. Jangan lewatkan penampilan konyol sekilas dari James Franco di awal film yaa! Saran: lebih baik nonton versi 2D, katanya 3D-nya kurang 'maknyusss'.. :)






REVIEW: THE MECHANIC
























"Someone has to fix the problems."

The Mechanic yang disutradarai oleh Simon West (Tomb Raider, Con Air) adalah sebuah remake dari film berjudul sama pada tahun 1972 yang diperankan oleh Charles Bronson dan Jan-Michael Vincent. Disini Jason Statham dipasangkan dengan aktor muda Ben Foster dalam film action bertempo cepat dan tak kunjung henti memacu jantung para penonton dengan adegan demi adegan seru sekaligus brutal didalamnya. Saya belum menonton versi originalnya, tapi terus terang saya sangat menikmati film ini. Meskipun saya juga bukan penggemar Jason Statham, namun harus saya akui kalau kharisma Statham sebagai aktor film laga memang luar biasa, sepertinya untuk masa sekarang ini belum ada yang menyaingi kharismanya. Wajah sangar, badan tegap, suara berat, kepala plontos, kriteria 'preman' apalagi yang kurang dari seorang Statham?

Jason Statham berperan sebagai Arthur Bishop, seorang pembunuh professional yang biasa mempunyai sebutan 'mechanic' karena para pembunuh ini bukan pembunuh sembarangan, dimana mereka harus bisa membuat kejadian itu terlihat seperti sebuah kecelakaan, seolah tak pernah ada kejadian pembunuhan disana. Jadi semua yang dilakukan oleh Arthur sudah terencana dengan detail dan dibuat skenario seperti dalam sebuah film. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah yang bagus namun terpencil. Arthur mempunyai seorang mentor sekaligus teman dekatnya yang bernama Harry McKenna (Donald Sutherland). Suatu hari ia mendapat tugas untuk membunuh Harry karena diduga berkhianat, awalnya Arthur menolak namun pada akhirnya ia harus tetap menjalankan tugasnya secara professional. Ia lalu mendekati anak Harry, Steve McKenna (Ben Foster) yang kemudian ia latih menjadi seorang 'mechanic' seperti dirinya. Masalah belum usai, bagaimana kalau Steve tahu kalau Arthur lah yang membunuh ayahnya?

The Mechanic menurut saya adalah sebuah film layak ditonton bagi para penggemar action movies. Terlebih, Jason Statham sepertinya memang sudah sangat spesialis dengan peran-peran sebagai seorang pembunuh bayaran yang tenang dan terkesan tanpa emosi. Dalam film ini ia memainkan peran andalannya itu dengan sangat baik. Beberapa adegan ada yang lumayan brutal visualisasinya, namun selingan humor yang diberikan sangat membantu mencairkan suasana tegang. Chemistry yang dihasilkan oleh Statham dan Foster sepertinya juga terjalin dengan baik, perbedaan karakter yang dimainkan membuat keduanya mempunyai daya tarik masing-masing untuk ditonton. Kesimpulannya kalau anda penggemar film action, sudah pasti wajib menonton film ini.






Minggu, 06 Februari 2011

REVIEW: SHAOLIN


















“The new version of Shaolin movie.”

Tentu sudah banyak yang mengetahui film ‘The Shaolin Temple’ yang sukses pada tahun 1981. Film tersebut sangat terkenal dan membuat nama Jet Li melejit pesat. Kali ini sutradara veteran, Benny Chan, membuat remake film tersebut namun dengan plot cerita yang telah di modifikasi. Membawa nama-nama besar seperti Andy Lau, Jackie Chan, dan Nicholas Tse. Dalam Shaolin buatan Chan, adegan kungfu yang disajikan tidak terlalu banyak, sepertinya Chan memang lebih fokus pada alur cerita dan kualitas akting serta emosi para pemainnya.

Setting film ini diceritakan pada awal abad ke-20, dimana seorang panglima perang bernama Hou Jie (Andy Lau) tidak pernah memikirkan rakyat dan selalu mementingkan diri sendiri. Ia terobsesi dengan peperangan dan harta karun. Sifatnya angkuh dan sombong. Ia pun sampai berani masuk ke kuil Shaolin dan mengganggu ketenangan disana sewaktu mengejar musuh. Namun semuanya mendadak berubah ketika orang kepercayaannya, Cao Man (Nicholas Tse), malah menghianati dan membunuh anak perempuannya serta membuat sang istri (Fan Bing Bing) pergi meninggalkannya. Dengan bantuan dari juru masak kuil Shaolin (Jackie Chan), Hao Jie disarankan untuk bersembunyi di kuil tersebut untuk sementara waktu. Ia pun mulai bertobat dan berlatih kungfu.

Akting Andy Lau dalam film ini menurut saya sangat bagus, perubahan ekspresi dari ‘keras’ menjadi ‘lemah’ dibawakannya dengan meyakinkan. Akan tetapi, memang harus saya akui kalau dalam segi martial arts, Andy Lau masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Jet Li atau Jackie Chan. Beruntung, adegan kung fu yang dibawakannya dalam film ini hanya sedikit saja. Malah kehadiran Jackie Chan yang hanya sekilas membuat penonton terhibur sekali. Chan yang umurnya sudah tidak muda lagi hanya melakukan aksi kung fu sekilas namun berhasil membuat saya puas. Sedikit kekecewaan saya dapatkan dari Nicholas Tse yang menurut saya aktingnya monoton dari awal hingga akhir.

Shaolin tentu adalah sebuah film yang sayang untuk dilewatkan. Apalagi jajaran nama pemainnya sudah sangat dikenal dan termasuk para pemain yang lovable. Sinematografi dalam film ini juga sangat indah, setting kuil Shaolin juga bagus dengan latar belakang pegunungan dan tebing. Plot cerita memang biasa saja, ending pun menurut saya terlalu klise, namun dengan akting jempolan dari Andy Lau saya rasa hal tersebut tidak jadi masalah. Secara keseluruhan , Shaolin berhasil menjadi tontonan yang menghibur sekaligus memiliki nilai filosofi tinggi.

Anywayyy, Happy Chinese New Year! :)






Senin, 27 Desember 2010

REVIEW: THE TOURIST
























"It all started when he met a woman."

Angelina Jolie dan Johnny Depp dalam satu film? Siapa yang tidak tertarik untuk menonton! Sexiest Man dan Sexiest Woman Alive versi majalah People ini tentu saja membuat banyak orang ingin menyaksikan The Tourist. Di atas kertas, film ini memang sangat menjanjikan. Film bertema romantic thriller ini disutradarai oleh sutradara asal Jerman yang pernah menyutradarai film The Lives of Others (2006), Florian Henckel von Donnersmarck. Skripnya selain ditulis oleh Donnersmarck, ditulis juga oleh Christopher McQuarrie (The Usual Suspects) dan Julian Fellowes (Gosford Park). Terlebih seperti yang sudah saya singgung diatas, The Tourist menampilkan penampilan perdana kedua megastars Hollywood dalam satu frame. Sebelum menonton film ini, saya membayangkan kalau filmnya pasti akan menonjolkan sisi sensual kedua bintang utamanya itu dan ternyata perkiraan saya tepat. Kedua bintang inilah yang menjadi nilai jual utama The Tourist.

Film dimulai di salah satu kota terindah di dunia; Paris, dengan salah satu aktris tercantik Hollywood; Angelina Jolie. Elise Clifton-Ward (Angelina Jolie) sedang berada di Paris dan dimata-matai oleh kawanan intel Scotland Yard yang dikepalai oleh inspektur John Acheson (Paul Bettany). Mereka berharap agar Elise bisa membawa mereka kepada kekasihnya yang merupakan seorang buronan bernama Alexandre Pearce yang terlibat kasus pencurian uang dalam jumlah sangat besar. Sialnya, seorang turis asal Amerika bernama Frank Tupelo (Johnny Depp) yang malah kena batunya. Setelah ia berkenalan dengan Elise dalam perjalanan ke Venice di sebuah kereta, ia malah dikira sebagai Alexandre yang operasi plastik dan dikejar-kejar oleh kawanan intel dan juga bos besar mafia Rusia bernama Reginald Shaw (Steven Berkoff) yang tidak rela uangnya dibawa kabur ratusan juta dollar.

Saya akan mulai dari hal-hal baik dalam film ini. Pertama, saya suka pemandangan dalam film ini; Paris dan Venice bagi saya sangat indah dan romantis. Saya juga suka Johnny Depp, jadi terus terang saya asik saja tadi menonton. Angelina Jolie juga terlihat sangat anggun dan cantik sekaligus menggoda dalam The Tourist. Sisanya? Biasa saja. Plot cerita bisa dikatakan tidak ada yang istimewa, apalagi twist pada ending film yang menurut saya lumayan pasaran. Film ini terlihat sekali hanya menjual nama besar Angelina Jolie dan Johnny Depp, banyak scene yang memang terlihat mengekspos kedua bintang ini. Bukan hal buruk memang, karena kualitas akting Jolie dan Depp tentu sudah tidak perlu diragukan lagi. Sayangnya, chemistry mereka disini tidak maksimal, menurut saya kurang alami dan terlihat seperti dibuat-buat. Saya tidak mengatakan kalau film ini buruk juga, karena saya lumayan terhibur meskipun pastinya tidak akan memorable dalam ingatan. Nuansa Eropa sangat kental dalam film ini, jangan berharap banyak adegan tembak menembak dan action super seru, karena adegan romantis lebih menonjol dibanding action. Well, tidak ada salahnya menonton The Tourist sebagai hiburan, kapan lagi melihat Jolie dan Depp dalam satu film? :)