total ping

Tampilkan postingan dengan label HISTORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HISTORY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

REVIEW: THE KING'S SPEECH
























"When God couldn't save The King, The Queen turned to someone who could."

Sejak kemunculan pertamanya dalam Telluride Film Festival pada bulan September tahun lalu, The King's Speech memang sudah diprediksi akan dengan mulus mendapatkan nominasi awards dan memenangkannya. Terbukti, film ini berhasil menjadi Best Motion Picture di ajang Oscar dan juga Colin Firth yang menyandang gelar Best Actor versi Oscar dan Golden Globe tahun ini. Bahkan sang sutradara pun berhasil meraih gelar Best Director Oscar 2011. Masih banyak lagi nominasi dan kemenangan yang didapatkan oleh The King's Speech. Film yang ditulis David Seidler dan disutradarai oleh Tom Hooper ini memang asik untuk dinikmati, didukung juga dengan akting menawan dari para pemain didalamnya.

Diangkat berdasarkan kisah nyata Raja George VI yang berjuang melawan kegagapannya, The King's Speech berhasil dikemas dengan sangat baik dan menghibur. Awalnya, Pangeran Albert (Colin Firth) merasa aman-aman saja dengan gagap yang dimilikinya. Namun, ketika ayahnya, Raja George V meninggal dunia dan melimpahkan tahta kerajaan kepada kakaknya Pangeran Edward (Guy Pearce), Albert mulai ketakutan. Ia tahu bahwa kakaknya sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang janda, dimana hal itu menyalahi aturan kerajaan yang melarang seorang raja menikah dengan janda. Ketakutannya pun terbukti, Edward akhirnya melepaskan tahta dan menurunkannya pada Albert yang menjadi Raja George VI. Albert pun stress dengan beban yang sedang dipikulnya sekarang, yang paling membuatnya pusing tujuh keliling adalah kenyataan bahwa dirinya gagap!

Selama ini Bertie -sapaan akrab Albert- dan istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) sudah sering berobat ke dokter-dokter hebat kerajaan namun penyakit sang suami tak kunjung sembuh. Suatu hari Elizabeth mendatangi seorang ahli pidato asal Australia bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush) dan memintanya untuk menangani kesulitan suaminya dalam berpidato. Meskipun awalnya Bertie sangat tidak yakin dengan Lionel, perlahan terapi unik yang diberikan memberikan kemajuan. Dan pada tahun 1939, dimana Bertie harus mendeklarasikan perang dengan Nazi Jerman kepada seluruh bangsanya, ia memiliki Lionel disampingnya. Ia ingin membuktikan bahwa selain menjadi Raja yang baik ia juga bisa menjadi seorang komunikator yang handal.

Skrip David Seidler ini memang sangat pintar dan lucu, chemistry antara karakter Pangeran Albert dan Lionel terjalin dengan perlahan tapi pasti. Tom Hooper selaku sutradara juga sepertinya tetap membuat segala sesuatu dalam film ini terlihat sederhana namun mampu menggugah setiap orang yang menontonnya. Design kostum sangat mendukung dan membuat karakter yang ada lebih bersinar. Hal yang tidak kalah penting adalah para pemain dalam The King's Speech yang sangat pas. Colin Firth tentu saja memberikan salah satu performa terbaiknya. Begitu juga Helena Bonham Carter dan Geoffrey Rush yang sangat mendalami karakter mereka. Para cameo seperti Guy Pearce dan Michale Gambon juga menambah nilai plus. Sebuah film yang menghibur, menyentuh, dan juga informatif. Selamat untuk segala kemenangan yang diraih! :)






Kamis, 04 November 2010

REVIEW: THE SOCIAL NETWORK





























"A story about the founders of the social-networking website, Facebook."

Sejak mendengar nama David Fincher yang akan duduk di bangku sutradara dalam proyek film ini, saya langsung sangat excited! Fincher merupakan salah satu sutradara favorit saya, sudah banyak film-film berkualitas yang berhasil dihasilkannya, sebut saja Se7en (1995) dan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Tentu saja tidak ketinggalan, Fight Club (1999), yang selalu masuk ke jajaran film kesukaan saya. Kali ini dengan The Social Network, Fincher kembali membuat saya terkesima. Film ini menceritakan biografi Mark Zuckerberg, pembuat website Facebook yang sangat fenomenal itu. Ada juga rekan-rekan Mark dalam mendirikan Facebook dari awal. Seru rasanya melihat visualisasi bagaimana awal terbentuknya sebuah website yang memang membuat para penggunanya yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia menjadi sangat addicted. Perhatian Fincher pada setiap detail dalam film ini patut diacungi dua jempol, sampai-sampai The Social Network disebut-sebut akan menjadi kandidat kuat dalam beberapa nominasi Oscar berikutnya.

Mark Zuckerberg (Jessie Eisenberg) adalah seorang mahasiswa Harvard yang sangat jenius dalam bidang pemograman komputer. Ia telah membuat beberapa website yang memang menjadi heboh di universitas tersebut. Suatu hari ia mendapatkan ide untuk membuat sebuah website social-networking yang awalnya ia beri nama The Facebook. Mark pun mengajak sahabatnya, Eduardo Saverin (Andrew Garfield), untuk memberikan suntikan finansial dan bersama-sama menjalankan proyek yang mereka yakini akan menjadi 'besar' ini. Tidak disangka hanya dalam waktu dua jam sejak peluncuran perdananya, Facebook telah mendapat kunjungan sebanyak 22.000 hits! Namun tentu saja jalan yang mereka tempuh tidak mulus, mulai dari gugatan yang diajukan senior mereka di Harvard karena mereka merasa Mark telah mencuri ide mereka dan juga tawaran bantuan mencurigakan dari Sean Parker (Justin Timberlake); pendiri website Napster. Tentu saja jalan yang ditempuh seorang Mark Zuckerberg untuk menjadi 'the youngest billionaire in history' tidak akan mudah.

Saya terkesan sekali dengan deretan cast yang dipilih David Fincher untuk film ini, mulai dari Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, sampai Justin Timberlake. Mereka semua bermain sangat brilian, tidak terkecuali Timberlake. Terus terang tadinya saya sangat meremehkan kehadiran Timberlake disini, saya pikir ia hanya akan menjadi 'perusak', but hey, saya salah! Justin Timberlake bermain apik disini, ini film pertamanya yang menurut saya berhasil membuat penonton yakin bahwa selain bernyanyi, ia juga bisa berakting. Kalau berbicara tentang Jesse Eisenberg, OH MY GOD, saya tidak tahu harus berkata apa! Siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain Eisenberg? Fincher tahu itu, ia tahu kalau Eisenberg adalah pilihan yang sangat tepat! Mulai dari wajah dan kesan 'geek', sampai kualitas akting yang superb. Dialog-dialog diucapkan Eisenberg dengan sangat meyakinkan dan sempurna tanpa cela. Awesome job! The Social Network bertopang pada skrip yang luar biasa dan akting para pemainnya. Masalah satu-satunya mungkin hanya ada pada ending yang menggantung, tetapi menurut saya memang sebaiknya dibuat seperti itu, jadi penonton bisa menebak-nebak sendiri bagaimana kelanjutannya. Akhirnya ada satu lagi film yang menerobos masuk kedalam list 'Best Movies 2010' versi Jagoan Movies! Woohoo!





Rabu, 05 Mei 2010

REVIEW: IP MAN 2




























"Really great martial-art movie you have to watch!"

Pada Ip Man pertama tahun 2008 yang lalu kita dikenalkan kepada Ip Man, sosok guru dari seorang ahli bela diri Cina legendaris, Bruce Lee. Filmnya bercerita tentang kehidupan Ip Man di Foshan, Cina, dimana pada saat itu Cina sedang dijajah oleh Jepang pada sekitar tahun 1930an. Film ini masuk ke belasan nominasi di Hongkong Film Awards 2009 dan berhasil memenangkan dua diantaranya yaitu kategori Best Film dan Best Choreography. Hal yang wajar, karena menurut saya Ip Man adalah sebuah film martial-art yang memiliki jalan cerita yang menarik untuk diikuti, disertai dengan koreografi dan akting para pemain yang mumpuni. Film ini pun banyak digemari oleh orang-orang di luar negeri, termasuk Indonesia.

Melihat kesuksesan pada film pertama, saya awalnya sedikit skeptis dengan sekuel lanjutannya. Saya bertanya-tanya apakah Ip Man 2 akan lebih baik dari yang pertama? At least bisa menyamai kualitas film pertamanya. Terus terang saya kurang begitu yakin, karena biasanya sekuel dari sebuah film yang laris akan berada selevel dibawah film pertama atau malah akan terpuruk jauh dibawah film pertamanya. Tetapi ternyata saya salah, Ip Man 2 lebih baik dari yang pertama. Kalau saya bisa mengatakan Ip Man adalah sebuah film yang baik, maka Ip Man 2 adalah sebuah film yang lebih baik lagi. Saya termasuk bukan orang yang ngefans dengan film mandarin bertema martial-art, saya hanya sekedar menonton saja, namun tidak pernah memfavoritkannya. Namun tampaknya kedua film Ip Man ini telah mengubah pandangan saya, ternyata sebuah film martial-art mandarin akhirnya bisa juga menjadi favorit saya!

Ip Man 2 berkisah tentang Ip Man (Donnie Yen) dan keluarganya yang memutuskan untuk pindah ke Hongkong setelah selamat dari penjajahan Jepang di Foshan. Pada saat itu Hongkong masih dijajah oleh koloni Inggris. Keadaan ekonomi Ip Man juga sedang terpuruk, ia kesulitan membayar biaya sewa rumah dan uang sekolah anaknya. Bermodalkan kungfu aliran Wing Chun yang amat dikuasainya, ia memutuskan untuk membuka sekolah bela diri. Akan tetapi mengajar bela diri di Hongkong tidak semudah seperti di Foshan dulu. Ia harus berhadapan dengan para ketua dari aliran lain dulu sebelum diperbolehkan mengajar kungfu. Ip Man mau tidak mau harus meladeni tantangan ini, ia pun dihadapkan dengan Master Hung (Sammo Hung) dari aliran Hung Ga. Namun, masalah yang ada pada film ini bukan terjadi antar aliran namun dengan Twister (Darren Syahlavi), seorang jawara tinju yang didatangkan oleh koloni Inggris pada saat kompetisi tinju. Twister menghina dan melukai hati rakyat Cina dengan mengatakan hal yang menyakitkan tentang kungfu. Tentu saja Ip Man dan teman-teman tidak tinggal diam.

Melihat Donnie Yen yang berperan sebagai Ip Man saya tidak bisa membayangkan orang lain lagi. Jackie Chan atau Jet Li sekalipun tampaknya tidak akan terlihat begitu menyatu dengan karakter Ip Man. Donnie Yen seperti sudah ditakdirkan untuk memerankan tokoh Ip Man, ekspresi wajahnya, gerakannya, ketenangannya, semua menampilkan sebuah aura yang begitu kuat. Di Ip Man 2, Donnie kembali menunjukkan performa akting dan keahlian wushu-nya yang luar biasa. Apalagi kali ini aktor senior yang juga ahli wushu, Sammo Hung, ikut bermain dalam film ini. Sammo Hung tadinya hanya menyusun seluruh koreografi dalam film Ip Man, namun sekarang ia ikut bermain sekaligus kembali menyusun adegan koreografi dalam Ip Man 2. Koreografi dalam kedua film Ip Man benar-benar indah dipandang mata. Lalu, siapa bilang orang bertumbuh gemuk tidak bisa kungfu? Tonton aksi Sammo Hung dalam film ini! Meski sudah berumur dan tidak memiliki tubuh ideal, namun gerakan kungfunya masih sangat luwes. Salut!

Ip Man 2 menurut saya merupakan sebuah film martial-art mandarin yang wajib anda tonton. Tidak masalah meskipun anda belum menonton yang pertama, karena film ini memiliki plot cerita yang simple, jadi dijamin anda akan mengerti. Film ini mungkin bisa dikatakan sebuah film martial-art yang mendekati sempurna, karena meskipun bertemakan martial-art, namun film ini dikemas dengan cara penuturan cerita yang tidak 'ngasal' dan juga diselingi humor-humor yang segar. Cerita di Ip Man 2 memang jauh lebih datar dibanding yang pertama, namun masih sangat enjoyable dan mengandung nilai-nilai yang bisa kita pelajari. Nilai-nilai seperti cinta dan menghargai budaya negeri sendiri sangat kental disini. Akting para pemain utama dalam film ini juga patut diacungi dua jempol. Overall, very recommended movie, even though you're not Chinese, try to watch this one! :)





Sabtu, 15 Agustus 2009

REVIEW : MERAH PUTIH




























"Untuk merdeka, mereka bersatu : Trilogi Merah Putih"

MERAH PUTIH adalah sebuah film yang sengaja dibuat untuk memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada hari Senin, 17 Agustus mendatang. Tadinya saya kepengen nonton G.I. Joe atau Orphan dulu tapi ga dapat tiket, yaudah akhirnya pilihan jatuh ke Merah Putih. Tidak disangka, saya cukup suka lho dengan film ini. Kalau disuruh pilih diantara Merantau dan Merah Putih, jujur saya bingung. Dua-duanya bagus sekali untuk ukuran 'film Indonesia', tapi entah kenapa saya lebih suka Merah Putih. Alur ceritanya tidak membuat bosan, ada lucunya, ada tegangnya, pemainnya juga jempolan. Filmnya sendiri sudah pasti sesuai dengan judul dong, bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda pasca kemerdekaan. Film ini bergenre fiksi sejarah yang berkisah tentang perjuangan lima kadet yang mengikuti latihan militer di sebuah kota di Jawa Tengah untuk menjadi prajurit. Mereka, Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), Surono (Zumi Zola), dan Marius (Darius Sinathrya), masing-masing punya latar belakang, suku, dan agama yang berbeda. Suatu ketika, kamp tempat mereka berlatih diserang tentara Belanda. Seluruh kadet kecuali lima sekawan itu dibunuh. Mereka yang berhasil lolos lalu mengatur siasaat agar bisa membalas Belanda walau dengan kekuatan yang minim. Film ini dibesut dalam format seluloid 35 millimeter dengan tim internasional yang terdiri atas ahli special effects dan veteran perfilman Hollywood yakni koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth yang pernah menangani film Saving Private Ryan dan Blackhawk Down, juga melibatkan koordinator stuntman Rocky McDonald yang pernah menangani Mission Imposible II dan The Quite American, make-up dan visual effects oleh Rob Trenton yang pernah menangani film The Dark Knight, konsultan ahli persenjataan adalah John Bowring yang pernah memegang Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins: Wolverine, dan asisten sutradara adalah Mark Knight yang pernah menangani December Boys dan Beautiful. WOW! Banyak sekali yaa campur tangan orang Hollywood disini. Tapi sutradaranya tetap orang Indonesia koq, Yadi Sugandi, yang dikenal sebagai salah satu penata gambar terbaik di tanah air. Merah Putih menurut saya memang masih belum sempurna, jauh dari sempurna, tapi sudah jauh lebih baik dari film Indonesia lainnya. Saya suka film ini! Saya sendiri heran, padahal tidak ada yang istimewa dari tema dan alur ceritanya, malah terkesan klise, tapi entahlah..namanya juga selera. :p Wajib tonton sih menurut saya, apalagi nanti 17 Agustus khan tanggal merah, pada nonton Merah Putih aja, pas banget tohh dengan momennya. Hehe.. Ohh iya, saya jadi suka lihat Donny Alamsyah deh! Terakhir baru aja nontonin dia di Merantau (jadi kakaknya Iko Uwais), nahh disini juga dia main lagi dengan porsi yang lebih banyak. Aktingnya bagus, logat Sulawesinya 'dapet' banget. Darius juga lumayan aktingnya disini, cocok dengan karakter. Lukman Sardi hmm..lumayan aja sih, saya berharap bisa lebih bagus dari ini, soalnya he's one of my favourite! Teuku Rifnu bagus juga, dia khan sering banget dapet peran jadi orang Bali di FTV SCTV, jadi udah ga heran dia jadi orang Bali lagi disini. Trus Zumi Zola, biasa banget, ga istimewa, kesaing tuh sama yang lain! Hehe.. Hampir lupa, endingnya memang sengaja dibuat 'gantung', soalnya film ini akan dibuat dalam bentuk Trilogi, jadi ini masih awal, ada yang kedua dan ketiga lagi nanti. Btw, not based on a true story, 100% fiction. Overall, recommended for this Independence Day! :)



Rabu, 22 Juli 2009

REVIEW : PUBLIC ENEMIES




























"I can hit any bank I want, any time"

Suprisingly, Public Enemies was great! Soalnya beberapa teman saya bilang kalau film ini membosankan dan diluar ekspektasi mereka. Well, saya malah suka sekali sama film ini! Mungkin karena tidak terlalu berharap banyak dari awal, saya hanya tau dan yakin kalau film pasti akan bagus saja, bukan bagus sekali. Ternyata setelah tadi baru nonton, bagus koq filmnya, sesuai dengan tebakan saya dari awal. Hehe.. Ceritanya diangkat dari kisah nyata tahun 1930an, tentang seorang perampok bank handal bernama John Dillinger (Johnny Depp), yang sudah berkali-kali lolos dari tangkapan polisi. John selalu sukses merampok bank bersama para komplotannya. Namun, John Dillinger adalah penjahat yang dicintai oleh masyarakat pada masa itu. Karena konon katanya ia selalu tidak lupa untuk menyumbangkan hasil curiannya kepada orang yang membutuhkan. Di pihak lain, agent FBI Melvin Purvis (Christian Bale) mendapat tugas khusus guna menangkap John Dillinger yang pada saat itu ditetapkan menjadi penjahat no.1 di Amerika. Ajang kejar mengejar dan baku tembak pun terjadi hampir di sepajang film antara John dan Melvin. Apakah Melvin berhasil menangkap penjahar kelas kakap itu? Buruan nonton gihh guys.. Akting Johnny Depp two tumbs up banget deh! Dia cocok sekali meranin tokoh John Dillinger, mungkin kalau peran John bukan dimainkan Johnny Depp hasilnya tidak akan sebagus ini. Kharisma Johnny Depp sebagai penjahat perambok bank professional benar-benar terpancar! Halah.. Haha.. Kalau Christian Bale menurut saya kali ini malah biasa-biasa saja, tapi masih bisa mengimbangi kharisma si Johnny sih, secara kayaknya susah deh ngimbanginnya. Satu lagi yang menurut saya aktingnya bagus adalah aktris Perancis favorit saya, Marion Cottilard yang disini berperan sebagai kekasih John Dillinger, Billie Frechette. She looks really pretty!! Sinematografi film ini juga mantap, 'feel' vintagenya berasa. Kesimpulannya, Public Enemies ini memang tertolong banget sama jajaran castsnya yang memang tidak perlu diragukan lagi kalau masalah akting. Jempolan semua! Great job deh buat sang sutradara, Michael Mann, yang memang pernah sukses membuat Heat tahun 1995 silam. Terbukti memang Mann jagonya bikin film tipe begini. Btw, banyak pihak yang berpendapat kalau duo Johnny Depp - Christian Bale adalah yang paling cocok menjadi the new Al Pacino - Robert De Niro, menurut kamu gimana? :)





Sabtu, 24 Januari 2009

REVIEW : RED CLIFF 2




















Red Cliff salah satu film mandarin yang masuk ke daftar wajib tonton saya! Dengan bertambahnya Red Cliff, John Woo sang sutradara pun pantas menerima predikat sineas Asia paling berbakat saat ini (menurut saya lho). Dengan budget $80juta ia sudah dengan sangat apik mempersembahkan film sejarah perang terbesar di tanah China. Sedikit flashback ke Red Cliff 1, film pertama ini mengisahkan ambisi besar Perdana Menteri Cao Cao yang ingin menyatukan semua daratan China dibawah dinasti Han. Kemudian mulailah ia menyerang kerajaan" Xu di bagian barat dan Wu di bagian selatan. Di Film Red Cliff I Cao Cao berhasil menggempur habis-habisan, Liu Bei dipaksanya untuk melarikan diri ke utara. Atas diplomasi sang ahli strategi perang Zhu ge Liang, kerajaan Wu yang dipimpin oleh Sun Quan berhasil bersekutu dengan Jendral Zhou Yu untuk melawan Cao Cao. Film diakhiri dengan kekalahan Cao Cao menghadapi strategi perang formasi kura-kura Zhu ge Liang dan 2 ribu kapal menuju Red Cliff untuk menggempur habis kerajaan Wu. Di Red Cliff 2 menggambarkan puncak perperangan di karang merah yang merupakan awal dari runtuhnya Dinasti Han sehingga berubahnya sejarah negeri China. Kekuatan Perdana Menteri Cao Cao yang berjumlah 10 kali lebih besar pada akhirnya telak dihancurkan oleh secangkir teh! Hohoho.. Jujur saja saya lebih suka dengan Red Cliff 1! Di film pertama menurut saya penyajian karakternya terasa lebih pas dan adil. Namun di Red Cliff 2 lebih banyak porsi perangnya, bukannya ga keren lho, tapi mungkin karena saya perempuan kali yaa, jadi kurang suka kalau perangnya terlalu banyak menyita sepanjang film. Tapi overall Red Cliff 1 dan 2 masuk kategori recomended chinese movie versi Jagoan Movies deh! Btw, buat yang pengen nonton Red Cliff 2 tapi belum nonton yang pertama, saya saranin buat beli dvdnya dulu aja, soalnya temen saya yang belum nonton versi pertamanya ngaku ga ngerti jalan ceritanya.

Ohh yaa, met weekend yaa guys. . .!